| KH. Abdullah Sattar Madjid bersama KH. Syukri Zarkasyi ketika Berkunjung di Pondok Modern Darusalam Gontor |
SURABAYA – Di era 1990-an, sebuah gerakan unik lahir dari jantung Kota Pahlawan. Di saat banyak lembaga keagamaan berfokus pada pembangunan fisik rumah ibadah, Jamaah Pengajian Surabaya (JPS) di bawah asuhan KH. A. Sattar Madjid justru melakukan gebrakan yang melampaui sekat-sekat tradisional: mengawinkan teks suci Al-Qur’an dengan teknologi manajemen modern dan pemberdayaan ekonomi pedesaan.
Visi Sang 'Zuamak': Agama sebagai Motor Utama
Kyai Sattar, yang oleh media nasional dijuluki sebagai "Zuamak" (Dedengkot Agama), memiliki pandangan tegas bahwa agama tidak seharusnya menurunkan motivasi kerja. Sebaliknya, agama adalah "motor utama" profesionalisme. Ia menolak keras dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Baginya, puncak ilmu pengetahuan barulah anak tangga pertama menuju ketauhidan.
"Jangan jualan profesi!" tegasnya dalam salah satu
kesempatan. Beliau mendorong setiap profesional—baik dosen, penjahit, hingga
teknisi elektro—untuk menjadikan keahlian mereka sebagai bentuk pengabdian
orisinil kepada Sang Pencipta, bukan sekadar alat mengejar materi.
Astajati: Laboratorium Intelektual dan Pengabdian
Melalui lembaga Astajati (Asta Jati), Kyai Sattar berhasil
merangkul belasan pakar bergelar Doktor dan Profesor dari berbagai kampus
ternama (seperti Unibraw, ITS, dan Unair) untuk turun ke lapangan. Lembaga ini
bukan sekadar wadah riset, melainkan pusat implementasi teknologi tepat guna
yang mencakup:
Pertama, Teknologi Peternakan: Mulai dari inseminasi buatan, deteksi berahi, hingga teknik "kirap ternak" untuk meningkatkan kualitas daging qurban secara ilmiah.
Kedua, Standarisasi Internasional: Mengadopsi prinsip ISO-9000 dalam manajemen "Pasar Bersama" untuk melindungi petani dari jeratan spekulasi pasar.
Ketiga, Gerakan Kembali ke Desa (GKD): Upaya konkret menahan laju urbanisasi dengan membangun pusat ekonomi profesional di pedesaan agar warga desa tidak menjadi "asing di negerinya sendiri."
Kritik Tajam Terhadap Formalisme Agama
Kyai Sattar dikenal dengan gaya komunikasinya yang lugas dan penuh humor melalui kolom "Rujak Cingur" yang rutin dimuat di harian Surabaya Post tahun 1990-an, dengan nama pena "Cak Tang". Ia tak segan melontarkan kritik pedas terhadap tradisi keagamaan yang bersifat seremonial namun memboroskan dana umat. Beliau lebih menekankan agar dana umat dialokasikan untuk pembangunan sekolah dan rumah sakit Islam yang berkualitas, ketimbang habis pada upacara yang "tidak jelas ujung pangkalnya."
Melalui analogi khas Jawa Timuran seperti istilah "tuku krupuk imbuh rambak", Kyai Sattar menyentil fenomena umat yang seringkali lebih antusias mengejar "tambahan" atau tradisi yang tampak mentereng di mata manusia, namun justru melalaikan kewajiban pokok yang diperintahkan oleh Rasulullah. Beliau mengingatkan bahwa ketaatan sejati terletak pada kepatuhan total terhadap syariat, bukan pada kreativitas ritual yang menghabiskan dana jutaan rupiah per panitia sementara fasilitas pendidikan dan kesehatan umat masih dalam kondisi memprihatinkan.
Baginya, agama harus hadir sebagai solusi konkret atas problematika sosial, bukan sekadar pelarian dari kejenuhan kerja atau ajang unjuk kekayaan melalui upacara-upacara besar. Kritik ini sekaligus menjadi ajakan bagi Jamaah Pengajian Surabaya untuk berani melakukan refleksi sosiologis; mendobrak kemapanan tradisi yang tidak produktif demi menghidupkan kembali reputasi Islam melalui kedisiplinan dan keikhlasan dalam membangun peradaban yang berdaya guna tinggi.
Kemitraan Strategis dan Pengakuan Nasional
Keberhasilan model pengembangan ekonomi berbasis pengajian
ini menarik perhatian raksasa industri nasional. Tercatat, PT Astra
International melalui YDBA menjalin kerjasama dengan Astajati dalam
pengembangan agribisnis dan penyediaan instruktur ahli. Bahkan, tokoh nasional
sekelas Hamzah Haz (saat itu Anggota DPR RI) memberikan dukungan penuh bagi
program Urbanitation Development yang digagas Kyas Sattar di Pasirian,
Lumajang.
Sumber Referensi Liputan (Arsip 1994-1996):
Harian Bisnis Suara Indonesia (22 Feb 1996): "Zuamak Pencetak Konglomerat Agama" – Mengenai obsesi Kyai Sattar mencetak pengusaha yang berhati nurani.
Harian Suara Indonesia (Maret 1996): "PT Astra Ingin Wujudkan Kerjasama dengan Astajati" – Liputan audiensi di kantor YDBA Jakarta.
Harian Suara Indonesia (Mei 1996): "Sentuhan ISO-9000 Abdurahman bin Auf" – Sejarah dan penerapan manajemen mutu dalam pengajian.
Kolom 'Rujak Cingur Jawa Timur' (Cak Tang): "Tuku Krupuk Imbuh Rambak" – Kritik terhadap tradisi peringatan yang tidak produktif.
Artikel Opini Astajati: "Agama Tidak Menurunkan
Motivasi Kerja" – Tanggapan Kyai Sattar terhadap kejenuhan dalam bekerja.
Poster Seminar Nasional: "Agrotech Menjelang Abad 21" – Daftar pakar multidisiplin di bawah koordinasi A. Sattar Madjid.
Harian Suara Indonesia: "Urbanitation Development
Program Prioritas Astajati" – Liputan dukungan DPR RI terhadap program GKD
di Pasirian.

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !