Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Mbah Kasiah in Memoriam

Written By Amoe Hirata on Senin, 13 Maret 2017 | 12.04


AKU tidak tahu akan mati kapan. Yang jelas aku minta kepada Allah subhanahu wata'ala agar dimatikan dalam kondisi sembahyang, bukan dalam kondisi sakit. Aku tidak mau merepotkan anak-anakku. Aku berharap anak dan cucuku hidup aman, tentram dan rukun,” demikian memori yang pernah aku dengar sendiri pada tahun 2011 saat beliau masih sugeng dan seger waras.

Jilbab Berbalut Takwa

Written By Amoe Hirata on Senin, 06 Maret 2017 | 13.42

“Mau beli apa ke Tanah Abang?” tanya Puji ketika Dila mengajaknya secara mendadak. Mereka baru selesai mengikuti kajian di bilangan Tebet siang ini.
            “Mungkin mau beli jilbab dan beberapa lembar pakaian. Lo gak ada acara lagi `kan abis ini, anterin ya!” pinta Dila dengan penuh harap. Sejenak Puji berpikir apakah dirinya bisa pergi. “Okelah, ayo..,” Puji kemudian setuju.

Terus Ajarkan al-Qur`an, Walau Dunia Tak Lagi Perhatian

Written By Amoe Hirata on Rabu, 23 November 2016 | 10.45

PAGI itu hawa terasa sejuk. Rumput-rumput bermesraan dengan embun pagi. Semilir angin menerpa wajah dengan sangat lembut. Suara burung bersahutan menyambut fajar. Suasananya begitu indah memesona. Asri menentram jiwa. Dalam kondisi demikian, di pelataran rumah, terlihat sepasang suami istri sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Keduanya merupakan guru ngaji kampung yang tergolong aktif. Di tengah asyiknya bercengkrama, tiba-tiba sang istri bertanya, “Mas bagaimana nanti klo anak kita besar dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi? Sang suami menjawab, “Anak-anak kita sudah ditentukan kadar rezekinya oleh Allah subhanahu wata’ala.”
Mendengar jawaban sang suami, istri pun menimpali, "Bagaimana kalau kita berhenti saja menjadi guru ngaji, kita cari pekerjaan lain agar bisa membantu sekolah anak kita?" Sontak saja sang suami menjawab dengan nada yang agak tinggi, “Apa pun yang terjadi kita akan tetap mengajarkan Al-Qur`an, karena ini adalah pekerjaan terbaik menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku pernah mendengar riwayat, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an serta mengamalkannya.” (HR. Bukhari)
Di sisi lain, Allah subhanahu wata’ala akan memberi yang terbaik untuk kehidupan kita. Seandainya di muka bumi tidak ada seorang pun yang perhatian terhadap al-Qur`an, maka kita berkewajiban mengajarkan al-Qur`an.” Mendengar pemaparan tegas sang suami, istri pun terdiam seketika dan meminta maaf atas kekhilafannya.
Mudah-mudahan dialog sepasang suami istri ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang futur (loyo setelah semangat) dari perjuangan lalu bangkit dan berjuang bersama al-Qur`an. Sebab, banyaknya harta dan honor yang didapatkan oleh seseorang  tidak menjamin baiknya generasi atau keturunannya, tapi yang menjadikan dia baik dan mulia adalah ketika dia menekuni setiap pekerjaan yang menurut Allah subhanahu wata’ala baik yang dalam hal ini ialah mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.
Bukankah tujuan manusia diciptakan oleh Allah untuk ibadah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56) dan bukankah ibadah itu adalah bagaimana membuat Allah itu senang? Kalau engkau membiasakan diri bersama al-Qur`an serta membelanya, maka engkau akan disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala. Jika engkau disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala, maka apa pun yang engkau minta, akan diberi oleh-Nya. Jangankan harta, dunia dan isinya akan diberikan sekiranya Dia menghendaki. Oleh karena itu, terus ajarkan al-Qur`an, walau dunia tak lagi perhatian!. Wallahu a’lam. (Tulisan Sahabat: Ihsan Farid)

Nasihat Menggentarkan untuk Presiden

Written By Amoe Hirata on Senin, 15 Februari 2016 | 10.17

       Ini adalah kata-kata menggentarkan dari ulama besar kepada presiden. Jarang sekali yang mampu menyampaikan kata-kata haq di hadapan penguasa dzalim. Lain halnya dengan Syekh Mutawalli al-Sya`rawi, dengan sangat berani –pada 1996- pasca selamatnya Mubarak dari upaya pembunuhan berencana di Ethiopia, dia menyampaikan nasihat yang begitu mengguncang jiwa penguasa. Berikut ini kata-kata beliau yang sudah diterjemah dari teks aslinya:
______________________________________________________________________________
            
              Sesungguhnya telinga pemimpin jarang siap sedia (mendengar) lisan rakyat. Barang siapa yang dikaruniai Allah telinga pemimpin, maka sampaikan kata-kata yang bagus kepada rakyatnya, dan mohonkan kepada Allah kebaikan untuk mereka. Dengan ‘doa baik’ pemimpin untuk rakyatnya, Allah akan membuat baik (kondisi) banyak makhluknya.
            Saya meminjam (ungkapan) Mutanabbi yang pernah disampaikan kepada Saif al-Daulah: “Aku tidak mengkhususkanmu pada tempat keselamatan dengan ucapan selamat. Jika engkau selamat, maka semua orang pasti selamat.”
            Wahai Presiden aku berhenti di ambang (pintu) duniaku untuk menyambut ajal Allah. Aku tak akan menutup hidupku dengan kemunafikan, dan tidak akan kutonjolkan keberanianku dengan kenekatan. Tapi akan kusampaikan kata ringkas untuk semua umat baik pemerintah maupun partai, oposisi maupun para pemimpin, serta bangsa, maaf jika aku berbicara negatif.
            Aku ingin sebagian mereka tahu bahwa semua kekuasaan (berada) di tangan Allah. Ia berikan pada siapa saja yang dikehendaki. Maka tidak ada konspirasi untuk mengambilnya, dan tidak ada tipu daya untuk sampai padanya. Sesungguhnya ketika Allah menceritakan dialog Ibrahim dengan Namrud, apa yang dikatakan padanya?
“Atau seperti orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya,” –padahal dia kafir-, Allah berfirman, “Allah memberikan kekuasaan padanya,”(QS. Al-Baqarah: 258).
            Ketika kekuasaan diturunkan Allah, Ia berfirman, “Ia memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki,”(baca: Ali Imran: 26) maka tidak ada konspirasi atas Allah terhadap kekuasaan, dan tidak ada tipu daya terhadap Allah terhadap hukum, karena tidak akan ada seorang pun yang menghukum dalam kekuasaan Allah, melainkan dengan kehendakNya. Jika dia adil, maka sungguh ia telah bermanfaat dengan keadilannya, sedangkan jika dia lalim, dan zalim, maka (Allah) akan menjelekkan serta memburukkan kezaliman dalam jiwa semua orang, lalu mereka membenci semua yang berbuat zalim meskipun bukan seorang hakim.
            Karena itu, aku katakan kepada semua kaum, sesungguhnya kita, al-hamdulillah telah jelas kebenaran kalam Allah pada berbagai peristiwa yang terjadi. Bagaimana kita menafsirkan firman Allah, “Mereka membuat makar, maka Allah membuat makar,”(QS. Al-Anfal: 30) bagaimana kita menafsirkan, “ sesungguhnya mereka membuat tipu daya, sedangkan aku(juga) membuat tipu daya,”(QS. At-Thariq: 15-16) Allah ingin menetapkan sifat qoyyumiyah(pengurusan)nya pada makhluknya.
            Aku sarankan pada siapa saja yang terbesit dalam kepalanya (ingin) menjadi hakim(penguasa), supaya tidak memintanya, tapi harus diminta. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “ Barangsiapa diminta (mengurusi) sesuatu, maka dia akan ditolong, sedangkan orang yang meminta sesuatu, maka akan dibebankan padanya.”(Hr. Bukhari, Muslim)[1]
            Wahai Pak Presiden, kata terakhir yang ingin aku sampaikan padamu –mungkin ini adalah akhir pertemuanku denganmu-, “Jika engkau menghargai kami, maka semoga Allah memberi taufik padamu. Jika kami menghargaimu, maka semoga Allah menolongmu dalam menjalankan beban amanah.”
______________________________________________________________________________
NB. untuk menyaksikan secara langsung nasihat beliau, bisa dilihat di alamat berikut: https://www.youtube.com/watch?v=8ToWQoSX05M


[1] Bunyi haditsnya demikian:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan