Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa
Written By Amoe Hirata on Selasa, 28 Agustus 2018 | 10.00
ULAMA di negeri ini, dari masa ke masa, kebanyakan lebih sering dijadikan alat oleh penguasa untuk mewujudkan ambisinya. Kala butuh, ulama dirangkul; ketika hajat sudah terpenuhi, mereka “didengkul”. Ini tak terkecuali, sejak penjajah bercokol, hingga era digital. Ulama menjadi kawan ketika diperlukan dan menjadi lawan saat ambisi telah terealisasikan.
Pimpinan Teladan; Suka Blusukan Tanpa Pencitraan
Written By Amoe Hirata on Selasa, 17 Juli 2018 | 09.00
BLUSUKAN –yang dalam bahasa Jawa berarti masuk ke tempat tertentu untuk mengetahui sesuatu- seringkali dijadikan sebagai komoditi tertentu bagi sebagian pejabat politik. Aktivitas ini kadang dilakukan tidak lebih untuk mendongkrak citranya sebagai tokoh publik yang membutuhkan popularitas tinggi untuk melanggengkan kekuasaan.
Jilbab Berbalut Takwa
Written By Amoe Hirata on Senin, 06 Maret 2017 | 13.42
“Mau beli apa ke Tanah Abang?” tanya Puji ketika
Dila mengajaknya secara mendadak. Mereka baru selesai mengikuti kajian di
bilangan Tebet siang ini.
“Mungkin mau beli jilbab
dan beberapa lembar pakaian. Lo gak ada acara lagi `kan abis ini, anterin ya!”
pinta Dila dengan penuh harap. Sejenak Puji berpikir apakah dirinya bisa pergi.
“Okelah, ayo..,” Puji kemudian setuju.
Pernakah Anda Berfikir?
Written By Amoe Hirata on Kamis, 02 April 2015 | 12.14
PERNAKAH ANDA BERFIKIR? Tiba-tiba kesehatan anda dicabut, kemudian mengalami sakit akut. Anda tidak bisa menikmati apa yang dinikmati orang. Orang bisa berjalan, anda lumpuh di atas dipan; orang bisa makan enak, anda hanya bisa diam terhenyak; orang bisa tertawa, anda bermuram durja; orang bisa bekerja, anda diam dalam sengsara. Itu baru satu nikmat yang dicabut. Bagaimana jika nikmat masa muda, masa lapang, masa kaya, masa sempat juga dicabut? Bisakah anda merasakan sebagai manusia seutuhnya? Hidup dalam tanggungan orang, diri diliputi kesedihan yang panjang.
Adalah Kasiah: seorang nenek yang diberi umur panjang hingga saat ini (89 tahun) mengalami kelumpuhan kedua kaki dan satu tangan. Kelumpuhan ini sudah berlangsung selama satu tahun lebih. Hari-harinya dipenuhi dengan duduk dan berbaring di ranjang. Berawal dari kebiasaan paginya memberi makan ayam, dengan tertatih ia terjatuh. Sejak saat itu, ia tak bisa berdiri. Bayangkan! Nenek yang memiliki semangat tinggi ini harus menjalani takdir Tuhan yang sedang menguji ketahanan mentalnya. Sebagai Muslim waktu masih sehat–selama tidak ada halangan mendesak-, ia tidak pernah luput shalat jama`ah di masjid(lebih jelasnya, baca biografinya di: http://amoehirata.blogspot.com/2014/04/kisah kasih-kasiah.html).
Jangankan shalat wajib, shalat sunnah rawatib beserta sunnah-sunnah yang lain seperti shalat Dhuha dan Tahajjud, tidak pernah absen. Ia merasa shalat sunnah sudah seperti shalat wajib. Sehingga sangat eman sekali meninggalkannya walau satu kali. Ia juga rajin mengaji di masjid al-Mahfud, baik pada malam Rabu maupun Ahad malam. Baginya, dengan ikut mengaji –walau kadang kurang paham- ada semacam energi yang membuat hatinya tercerahkan dan bisa menjadi imun bagi ruhaniahnya. Tak hanya itu, berderma adalah salah satu kebiasaan yang tak pernah luput darinya. Tiap hari Jum`at ia sisakan beberapa uang yang dimiliki, untuk diletakkan di kotak masjid, dan yang lain diberikan pada anak-anak kecil.
“Dermawan tak harus hartawan”. Begitulah barangkali bahasa yang tepat untuk menggambarkan filosofi hidupnya. Dengan berbagi, ia yakin –sesuai dengan pengalaman hidupnya-, manusia tidak akan rugi. Dalam ranah pendidikan, lantaran ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang awam, ia mempunya visi kedepan yang sangat bagus. Dari sejak muda, ia menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak. Ia bekerja keras dengan segenap kemampuannya. Di samping itu, ia mendambakan berdirinya sebuah masjid, sebagai tempat ibadah, wadah pendidikan dan wahana menjalin silaturrahim. Semua mimpinya al-hamdulillah bisa tergapai. Namun di balik itu semua, beliau sedang diuji.
Beliau sudah tidak mampu perge ke masjid seperti sedia kala. Jangankan pergi, untuk urusan mandi, makan, buang air kecil dan besar saja harus dibantu anaknya. Di satu sisi memang ini adalah kesempatan berharga bagi anak-anaknya untuk berbakti. Di sisi lain, ia begitu merindukan, saat-saat masih sehat dan kuat, sehingga bisa menjadi hamba yang taat. Sehari-hari sekarang hanya bisa duduk di kursi. Sunyi, ia berada dalam sepi. Bagi anda yang masih sehat, sempat dan kuat, apa yang akan anda kerjakan untuk mempersiapkan masa sakit, sempit, dan tua? Kalau beliau dengan amalnya saja masih menyesal, ingin lebih berbuat baik ketika sehat. Lalu bagaimana jika anda tidak punya amal apa-apa? Hidup berleha-leha, penuh foya-foya. Banyak sekali orang yang meyakini bahwa mati itu pasti, tapi perilaku mereka kebanyakan meragu-ragukannya seakan hidup abadi. Semoga kita dimasukkan ke dalam hamba-hambaNya yang sadar, sehingga nikmat kesehatan, kesempatan, kekuatan, kemudaan bisa dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya sebelum semunya terenggut, kita pun menjadi kalut. Wallahu a`lam bi al-Shawab.
Gagal Fokus
Salah satu unsur fundamental yang berpengaruh pada kualitas kebahagiaan seseorang ialah rasa ‘fokus’. Al-Qur`an menggambarkan bagaimana keadaan orang Musyrik yang hidupnya tidak fokus: Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.(Qs. Al-Haj: 31). Mempersekutukan Allah adalah indikasi kuat ketidakfokusan. Kondisi mereka digambarkan sebagai orang yang jatuh dari langit, kemudian disambar burung, atau dihempas angin ke tempat yang jauh. Betapa merana orang yang mengalami nasib seperti itu. Ia jatuh dari langit, kehilangan arah, dihinggapi rasa takut. Belum hilang rasa takut, ia disambar burung bahkan dihempas angin ke tempat yang jauh.
Sedangkan orang yang benar-benar beriman, maka mereka adalah orang-orang yang fokus. Mereka ini adalah bagian dari orang-orang yang beruntung(baca: Al-Mu`minun, 1-2). Al-Qur`an pun menceritakan bahwa mereka akan diangkat derajatnya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Qs. Al-Mujadilah: 11). Orang yang beriman itu akan diangkat, bukan dijatuhkan seperti orang musyrik. Ia berpijak di bumi dan fokus terhadap Tuhannya.
Dalam hadits –terkait masalah kefokusan-, ada satu kata yang disebut sebagai ilmu yang pertama kali diangkat(lenyap), yaitu kata: “khusyu`”. Lenyapnya khusyu` adalah tanda fundamental hilangnya rasa fokus. Ada sebuah riwayat:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ذَاتَ يَوْمٍ، فَنَظَرَ فِي السَّمَاءِ، ثُمَّ قَالَ: " هَذَا أَوَانُ الْعِلْمِ أَنْ يُرْفَعَ "، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ زِيَادُ بْنُ لَبِيدٍ: أَيُرْفَعُ الْعِلْمُ يَا رَسُولَ اللهِ وَفِينَا كِتَابُ اللهِ، وَقَدْ عَلَّمْنَاهُ أَبْنَاءَنَا وَنِسَاءَنَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّكَ مِنْ أَفْقَهِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ "، ثُمَّ ذَكَرَ ضَلَالَةَ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ، وَعِنْدَهُمَا مَا عِنْدَهُمَا مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلَقِيَ جُبَيْرُ بْنُ نُفَيْرٍ شَدَّادَ بْنَ أَوْسٍ بِالْمُصَلَّى، فَحَدَّثَهُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ فَقَالَ: صَدَقَ عَوْفٌ، ثُمَّ قَالَ: " وَهَلْ تَدْرِي مَا رَفْعُ الْعِلْمِ؟ " قَالَ: قُلْتُ: لَا أَدْرِي. قَالَ: " ذَهَابُ أَوْعِيَتِهِ ". قَالَ: " وَهَلْ تَدْرِي أَيُّ الْعِلْمِ أَوَّلُ أَنْ يُرْفَعَ؟ " قَالَ: قُلْتُ: لَا أَدْرِي. قَالَ: " الْخُشُوعُ، حَتَّى لَا تَكَادُ تَرَى خَاشِعًا " مسند أحمد ط الرسالة (39 / 417)
Bersumber dari `Auf bin Malik bahwasanya ia berkata: “Pada suatu hari, tatkala kami sedang duduk di samping Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, beliau menatap langit kemudian bersabda, ‘Inilah saatnya ilmu diangkat’. Bertanyalah pada beliau seorang dari kalangan sahabat Anshar, yang dipanggil Ziyad bin Labīd, ‘Wahai Rasulullah, apakah ilmu akan dicabut(diangkat) sedangkan pada kami ada Kitab Allah, sungguh kami telah mengajarkan anak-anak dan isteri-isteri kami?’. Rasul pun menjawab, ‘Aku kira kamu adalah orang yang paling paham agama di antara penduduk Madinah’. Kemudian beliau menyebutkan kesesatan dua Ahli Kitab( Yahudi dan Nashrani). Keduanya sama-sama memiliki kitab dari Allah subhanahu wata`ala. Lalu Jubair bin Nufair menemui Syaddad bin Ausin di mushalla, lalu menceritakan hadits ini dari Auf bin Malik lalu ia berkata, ‘Auf benar’. Kemudian bertanya, ‘Apakah kamu tahu apa yang dimaksud diangkatnya ilmu?’. Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu’. Ia menjawab, ‘(yaitu ketika) tempat penyimpanannya lenyap’. Ia bertanya, ‘Apakah kamu tahu ilmu apa yang pertama kali diangkat(dicabut)’. Ia berkata, ‘aku tidak tahu’. Ia menjawab, ‘(ilmu yang pertama kali dicabut) ialah khusyu`, hingga hampir-hampir kamu tidak melihat(menjumpai orang yang khusyu`(Hr. Imam Ahmad, Musnad Auf bin Malik, 39/417).
Kalau diamati secara mendalam, riwayat tersebut benar adanya. Sekarang khusyu`(fokus) sudah sedemikian langka. Dalam ibadah orang sudah banyak tidak fokus, dalam pendidikan orang sudah tidak fokus, dalam kegiatan sosial, politik, dan lain sebagainya, orang sudah tidak fokus. Bahkan dalam skala negara, presiden pun kadang tidak fokus. Fokus orang kebanyakan malah fokus pada dunia. Dunia menjadi fokus utamanya. Padahal salah satu hal yang dikhawatirkan Nabi Muhammad, ialah ketika pintu dunia dibuka lebar-lebar, kemudian orang Muslim, berlomba-lomba memperebutkannya. Bisa diistilahkan –meminjam bahasa gaul anak sekarang- banyak sekali orang yang ‘gagal fokus’ atau ‘salah kaprah fokus’, sehingga bagaimana mungkin bisa menggapai kebahagiaan sejati, jika tidak bisa fokus, atau fokus pada ranah yang salah. Semoga kita dilindungi oleh Allah dari ketidakfokusan, dan dianugerahi nikmat kefokusan.



