Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Hikmah Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Sejarah. Tampilkan semua postingan

H. ZAINAL ARIFIN ABBAS, ULAMA PECINTA BUKU (SEPARUH GAJI UNTUK BUKU)

Written By Amoe Hirata on Senin, 03 Oktober 2022 | 14.25

Drs. A. Faruq Nasution dalam artikel berjudul "Selimut Putih untuk Almarhum Guruku" (Panjimas, No. 281, XXI: 1979) menceritakan pengalamannya dengan gurunya yang bernama H. Zainal Arifin Abbas (1912-1979). Pada tulisan ini, akan fokus pada kisah terkait buku.

KISAH HOESIN BAFAGIEH INGIN BERGURU KEPADA TUAN A. HASSAN


Jika pembaca sekalian pernah dengar majalah Aliran Baroe, maka tidak bisa dipisahkan dari Tuan Hoesin Bafagieh.

Dua Ulama Nusantara Pengharam Sepak Bola

Written By Amoe Hirata on Kamis, 29 November 2018 | 01.21



            DI nusantara, paling tidak ada dua ulama yang tercatat pernah mengharamkan permainan sepak bola. Pertama, Dr. H. Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka. Kedua, Teungku Muhammad Daud Beureueh.

Rasulullah Pernah Menyuruh Sahabatnya Berdakwah di Nusantara?

Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Oktober 2018 | 06.13

“Cak!” panggil Paino kepada Sarikhuluk, “aku habis baca di bukunya Prof. Naquib Al-Attas, katanya dalam buku ‘Historical Fact and Fiction’ (2011) bahwa pada zaman Rasulullah masih hidup, beliau sudah mengenal wilayah nusantara. Ini berdasarkan ditemukannya ‘Hikayat Raja Pasai’ yang mana di situ ada perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat-sahabatnya agar berdakwah ke negeri yang bernama Samudra.”

Nilai Waktu Bagi Toean A. Hassan

Written By Amoe Hirata on Senin, 29 Mei 2017 | 14.02

DI balik ketenaran A. Hassan sebagai ulama tegas, jago debat, ahli agama baik lisan maupun tulisan, ada rahasia menarik yang menunjang kesuksesan beliau. Sebagaimana ulama-ulama lain, beliau sangat berdisiplin waktu. Ulama kelahiran Singapura 1887 ini adalah sosok yang sangat disiplin dalam mengelolah waktu baik sejak kecil maupun hingga wafatnya.

Tokoh Muslim "Bayaran"

Written By Amoe Hirata on Kamis, 02 Maret 2017 | 19.07

        PADA tonggak perjuangan umat Islam, dalam kondisi kuat, kaum munafik tidak pernah absen menginfiltrasi. Salah satu bukti riilnya, termanivestasi pada tokoh-tokoh muslim yang dengan kepentingan pragmatisnya bisa membela siapa saja dan menjual harga diri asal ada honornya. Sikap demikian tentu menjadi ciri khas orang munafik. Al-Ma`idah [5] ayat 52, secara clear (terang) menggambarkan fenomena ini. Mereka rela bergabung dengan orang kafir, asal kepentingan pribadi tidak terganggu dan bisa terpenuhi.

Pucuk Hayya, Pucuk Hayyi

Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Februari 2017 | 22.32


            Sewaktu aku masih kecil, sekitar kelas 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah), ada dua kucing yang aku pelihara bersama adikku. Kucing itu bersaudara kandung. Yang satu berwarna putih berkelamin betina; sedangkan yang satunya berwarna hitam berkelamin jantan. Kucing jantan aku beri nama Pucuk Hayya, dan yang betina diberi bana Pucuk Hayyi.

Peran Kebangsaan Ulama

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 Februari 2017 | 20.19

KH. Salim sedang menjalankan peran kebangsaan menjadi diplomat Indonesia
            Saya mencoba membayangkan, jika peran ulama pra kemerdekaan hanya berkutat masalah pendidikan, berkecipung pada wacana akademik saja, berkiprah pada ranah transfer ilmu semata, agaknya tidak mungkin kemerdekaan bisa terealisasi.

Cinta di Atas Cinta

Written By Amoe Hirata on Senin, 07 November 2016 | 14.14

           
PADA suatu malam, di bumi hijrah, seorang wanita terbangun dari tidurnya. Ia sangat khawatir dan cemas. Baru saja mimpi buruk menderanya. Dalam mimpi ia melihat, suami yang dicintai selama ini, tenggelam ke dalam lautan yang sangat dalam. Kondisinya sangat memprihatinkan. Air mata pun tak terbendung membasahi pipinya. Ada apa gerangan yang akan terjadi dengan suami tersayang yang sama-sama hijrah dalam ikatan cinta.

Mujahid Via Qalam

Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Agustus 2016 | 14.22

JIHAD via qalam (pena, tulisan) adalah bagian penting yang turut mewarnai dinamika perjuangan Ulama. Di sepanjang sejarah, ada banyak contoh yang membuktikan bahwa mereka adalah seorang mujahid (pejuang) yang sangat intens dalam bidang ini.  Ibnu Jarir At-Thabari misalnya, selain lisan, beliau juga sangat aktif dalam berjihad via tulisan. Hal ini bisa dilihat dari produktivitasnya dalam menulis buku.  Menurut catatan sejarah, bila semua karangannya dikalkulasikan, berjumlah 358 ribu lembar. Ini berarti  dalam sehari ia mampu menulis sebanyak 40 lembar (Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, 43).
Contoh lain yang tidak kalah menarik, Imam Ibnu Jauzi, ulama bermadzah Hanbali ini juga berjihad dalam bidang tulisan. Abdu al-Fattah dalam bukunya menyebutkan bahwa beliau meninggalkan karya sebanyak lima ratus buku (Qīmatu al-Zaman, 56). Bahkan ada yang sangat mengharukan. Syekh Abu Bakar al-Bāqalāni tidak tidur sebelum menulis  35 lembar per-hari (Qīmatu al-Zaman, 86). Ini berarti semangat jihad ulama dalam bidang tulisan tidak diragukan lagi.
Ulama lain seperti Imam al-Gazhali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah, al-Hafidh Ibnu Katsir, Imam al-Dzahabi, Imam al-Suyuthi dan lain sebagainya adalah ulama-ulama yang turut serta meramaikan jagad sejarah jihad umat Islam via tulisan.
Dalam negeri pun, ada banyak  ulama yang berjihad via tulisan. Sebagai contoh - tanpa bermaksud membatasi – misalnya KH. Agus Salim, A. Hassan, M. Natsir dan Buya Hamka. Dalam buku yang berjudul Haji Agus Salim (1884-1954) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, disebutkan bahwa beliau adalah seorang penulis yang kreatif dan produktif. Tulisannya begitu luas cakupannya dan sangat tajam. (Haji Agus Salim [1884-1954] Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Hal: 21).
Ahmad Hassan, seorang ulama yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdebat, ternyata juga menggeluti jihad ini. Menutur penelitan Guillaume Frédéric Pijper dan Tujimah, selain alim dan cerdas, Pendiri Pesantren PERSIS Bangil ini diakui sebagai penulis produktif. (Penelitian tentang agama Islam di Indonesia, 1930-1950, hal: 38). Buku yang berjudul: Soal-Jawab, Tafsir al-Furqan, Islam dan Kebangsaan, Kesopanan Tinggi, ABC Politik, al-Hidayah, Risalah Jum’at, Kitab Tauhid, Adakah Tuhan?,  adalah beberapa contoh karangannya yang mencapai tujuh puluh lebih.
            Mohammad Natsir, yang juga merupakan murid A. Hassan, juga menekuni jihad dalam bidang tulisan. Dalam buku yang berjudul 100 Tahun Mohammad Natsir,  disebutkan bahwa beliau seorang penulis kreatif. Sebagai contoh, di masa penjajahan Belanda, beliau sudah melahirkan karya tulis berbahasa Belanda yang diperhitungkan. Buku yang berjudul Komt tot het Gebed (1931), Mohammad als Proffet (1931), Gouden Regels uit den Quran (1932), dan Het Vasten (1934) beberapa contoh buah tangannya. (100 Tahun Mohammad Natsir, Berdamai dengan Sejarah, hal: 426). Polemik antara dirinya dengan Soekarno via tulisan juga menjadi bukti penting bahwa beliau sangat intens berjihad di medan ini.
            Demikian juga Buya Hamka. Menutut James Roberth Rush, beliau adalah sosok penulis yang cakap, produktif, dan populer. Di akhir tahun 1930-an, karya-karya Hamka sudah bisa didapat di perpustakaan sekolah umum. (A. Suryana Sudrajat, Ulama Pejuang dan Ulama Petualang, hal: 13 dan 14). Karya monumental yang tertoreh dalam jeruji besi seperti Tafsir al-Azhar, adalah salah satu bukti bahwa ulama kharismatik sekaliber beliau juga turut andil dalam berjihad via tulisan.
            Beberapa cerita di atas menunjukkan bahwa jihad via tulisan adalah salah satu bentuk perjuangan jihad ulama muslim di sepanjang sejarah. Dengan menulis, mereka bisa menjaga khazanah keilmuan Islam sekaligus abadi sepanjang masa walau raga sudah bercampur tanah. Ini sesuai dengan peribahasa Latin kuno yang menyatakan, verba volant, scripta manent, yang berarti: apa yang terucap akan berlalu, namun yang tertulis (dibukukan) abadi selamanya.

Keadilan Hukum Islam

Written By Amoe Hirata on Selasa, 05 Januari 2016 | 15.30

Suatu ketika –di zaman kekhilafaan Umar bin Khattab- ada beberapa budak milik Hāthib bin Abi Balta`ah Ra. mencuri seekor unta kepunyaan bani Muzainah. Mereka tidak jadi dikenakan sanksi mencuri lantaran kelaparan. Bahkan Umar menyuruh Hāthib mengganti harga ontanya kepada pemiliknya yang berasal dari bani Muzainah. Di akhir pembicaraan, Khalifah Umar berkomentar: “Demi Allah sekiranya aku tidak tahu bahwa kalian mempekerjakan mereka dan membuat mereka lapar, maka pasti aku potong tangan mereka.”(baca: I`lām al-Muwaqqi`īn `an Rabbi al-`Ālamīn, 3/17).
Beliau tahu betul bahwa pencurian yang sudah mencapai had-nya(seperempat dinar: ahīh Fiqhi al-Sunnah, 4/95) harus dipotong tangannya(sebagaimana Qs. Al-Maidah: 38); ia pun tahu bahwa hukum harus ditegakkan secara adil(sebagaimana Qs. Al-Maidah: 8), tanpa pandang bulu. Namun untuk menetapkannya, tidak boleh serampangan. Harus berdasarkan penelitian. Dalam Fiqih ada dua ketentuan untuk menetapkan pencuri: Pertama, adanya dua orang saksi. Kedua, pengakuan langsung dari pencuri(ahīh Fiqhi al-Sunnah, 4/95). Namun, ketika Khalifah Umar mengetahui pencurian dilakukan karena adanya faktor kelaparan, maka had tidak jadi diberlakukan.
            Dari pengalaman sejarah ini, paling tidak kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting terkait keadilan hukum Islam. Pertama, hukum dalam Islam (dalam kasus ini adalah pencurian) sangat tegas dan tidak pandang bulu. Kedua, pemberlakuan hukum bisa ditetapkan berdasarkan kesaksian dua orang yang melihat dan pengakuan langsung dari pencuri. Ketiga, didasarkan pada penelitian yang detil dan komprehensif sehingga tidak mengalami kesalahan fatal. Keempat, ukuran pencurian yang teranggap ialah seperempat dinar. Kelima, hukum tidak bisa diceraikan dari keadilan, akhlak. Ketika hakim mengetahui bahwa ada pencuri yang terpaksa –berdasarkan penelitian-, maka dengan basis rahmat, ia bisa membebaskan pencuri tersebut.Jika kelima poin tersebut telah terpenuhi, maka hukum harus ditegakkan. Bila tidak, maka penegakan hukum menjadi timpang, keadilan pun terbuang.

Sebagai penutup, ada baiknya kita membuka lembaran emas sejarah. Ketika ada seorang wanita dari klan Makhzumiyah mencuri, pembesar Qurays berusaha meminta amnesti dengan cara meminta Zaid bin Haritsah untuk membujuk Rasulullah. Rasul pun dengan tegas menolak, kemudian berpidato di atas mimbar: “ Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian ialah jika yang mencuri orang mulia mereka mengabaikannya, sedangkan jika yang mencuri orang lemah, mereka tegakkan hukum. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang memotong tangannya.’(Hr. Bukhari dan Muslim).

Mengeja Cinta Rasulullah

Written By Amoe Hirata on Kamis, 21 Mei 2015 | 22.56

            Dalam relung hati manusia ada satu kekuatan dahsyat yang mampu mengubah sesuatu yang terlihat mustahil menjadi riil, yaitu: ‘cinta’. Walau hanya berupa kata yang terdiri dari lima huruf, namun energi yang dihasilkannya bisa membuat bara api angkara redup. Ia ditakdirkan tak berwujud benda, namun bisa dirasa. Ibarat api, maka cinta adalah panasnya. Ibarat angin, maka cinta adalah derunya. Ibarat sungai, cinta adalah arusnya. Ibarat samudera, cinta adalah ombaknya. Ia tak perlu definisi, karena tiada definisi yang mampu menggambarkannya, kecuali fungsi kerja dahsyatnya.
            Di dunia ina ada banyak contoh menarik untuk dijadikan suritauladan dalam masalah cinta. Di antara yang paling menarik dari yang menarik –tentu saja- Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Cintanya menembus ruang dan waktu. Bagai samudra tanpa tepi. Ia ditakdirkan ada sebagai sumber mata air cinta, yang perlu direguk oleh setiap manusia air cintanya supaya lahir kedamaian dan ketentraman di muka bumi. Cintanya sungguh universal, tak tersekat  teritorial. Ia di garda depan sebagai Sang pecinta yang mampu mentransfer cintanya, bukan hanya pada Tuhan, tapi juga untuk seantoro alam.
Tanpa berniat membatasi, sebagai contoh kecil, simak baik-baik riwayat berikut ini: Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah dan dari bapaknya, ia berkata: Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan, berangkat untuk suatu keperluan, kemudian kami melihat seekor ayam bersama dua ekor anaknya, lalu kami mengambil kedua anaknya itu. Kemudian datanglah ayam betina itu (induknya) sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Lalu datanglah Nabi dan berkata, "Siapa yang menyakiti ayam ini dengan anaknya? Kembalikan anak-anaknya kepadanya. " Kemudian kami melihat sekelompok semut yang sangat banyak, maka kami membakarnya. Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam pun bertanya, "Siapa yang membakar ini?" Kami menjawab, "Kami." Beliau kemudian bersabda, "Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan (pencipta) api."
Sungguh luar biasa. Akankah kata-kata, ‘Siapa yang menyakiti ayam ini dengan anaknya? Kembalikan anak-anaknya kepadanya.’ dan ‘Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan (pencipta) api.’ Bisa lahir dari manusia yang hatinya kering dari mata air cinta? Rasa cinta yang mengalir deras dalam muara hari Rasullah, membuatnya tak pernah membedakan –terkait cinta- antara manusia dan hewan. Kalau manusia saja merasa sedih ketika dipisahkan dari anaknya, maka hewan pun juga mempunyai perasaan sedih, karena itu, cinta melarang segala tindakan yang bertentangan dengan cinta. Demikian juga halnya membakar semut. Semut seolah hal remeh dan tak berarti di mata manusia, namun dengan ‘kaca mata cinta’ Rasulullah mampu membahasakan dengan sangat apik bahwa, yang berhak membakarnya adalah Tuhan Pencipta api.
Jasad beliau memang sudah mati, tapi cintanya tak pernah mati. Ia menjadi semacam deru, yang memacu energi positif untuk kemaslahatan manusia. Selama cinta tidak tercerabut dari relung hati manusia, maka keseimbangan dan keasrian peradaban dunia akan tetap terjaga. Bukankah salah satu nama Allah adalah al-Wadūd(Maha Mencintai), lalu adakah bahasa terbaik untuk menyapanya, selain dengan cinta yang tulus dari dalam hati, yang diiringi dengan pengertian dan pengorbanan? Dari Rasulullah kita menemukan contoh terbaik yang memperlakukan cinta sebagaimana porsi dan posisinya, sehingga menjadi pelepas dahaga bagi makhluk yang haus akan cinta. Wallahu a`lam bi al-shawab. Darunnajah, Jaksel, 01 Maret 2015/2254.

Ketika Media Massa di Tangan Penguasa

Written By Amoe Hirata on Jumat, 10 April 2015 | 07.14



            Ketika media dikuasai oleh orang kafir Qurays di Makkah, ada beberapa langkah konkrit yang dilakukan oleh para penguasa dalam mencegah pertumbuhan dakwah Islam, di antaranya: Pertama, meremehkan dan merendahkan Islam dengan cara merusak citra Nabi beserta umatnya. Ada beberapa tuduhan yang disematkan pada beliau. Dengan tanpa dasar kuat beliau dituduh sebagai orang gila(Qs. Al-Hijr: 6, Al-Qalam: 51); sebagai tukang sihir(Qs. Yunus: 2); sebagai penyair(Qs. Al-Anbiya: 5) dan tukang tenung atau dukun(Qs. Al-Hāqqah: 42). Lucunya, mereka sendiri mendustakan tuduhan itu. Simak baik-baik ungkapan bersejarah Walid bin al-Mughirah benggolan penyair Qurays: “Demi Allah ia bukan tukang tenung, dia tidak gila, dia bukan penyair, dia bukan penyihir. Sesungguhnya kata-katanya begitu manis, akarnya adalah kelapangan, cabangnya(bagai) bunga yang tumbuh, dan tidaklah kalian mengarang sesuatu pun yang mirip, melainkan diketahui bahwasanya itu batil.”(Lihat: Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Rahīqi al-Makhtūm, 1/71). Akhirnya, jalan terakhir yang mereka sepakati adalah tuduhan bahwa Muhammad sebagai tukang sihir.
                          Kedua, mendistorsi ajaran-ajaran dan membuat isu-isu miring seputar Nabi Muhammad. Dihembuskanlah berita bohong pada masyarakat sekitar bahwa apa yang diajarkan Nabi Muhammad hanyalah dongengan orang-orang terdahulu(Qs. Al-Furqan: 5); ia juga dituduh sebagai pendusta terhadap ajaran yang dibawa(Qs. Al-Furqan: 4); ia dituduh telah diajari manusia(Qs. An-Nahl: 103); mereka juga tidak segan-segan mencibir Rasul. Dengan bahasa kita sekarang bias diungkapkan dengan kalimat sindiran: “Rasul kok masih makan dan berjalan di pasar seperti kita”(Qs. Al-Furqan: 7). Nadhar bin Harits, gembong Qurays yang sangat memusuhi Nabi, tidak tanggung-tanggung menyewa penyanyi wanita untuk menghalangi orang-orang mendengar cahaya Islam. Ketiga, menggunakan cara-cara halus. Dengan menego Nabi agar tidak mencela Tuhan-Tuhan mereka, memperhalus bahasanya, serta kerjasama dalam ibadah(Qs: al-Kafirun: 1-6). Ketiga, karena semua tidak berhasil, maka digunakanlah pendekatan-pendekatan represif. Amar bin Yasir beserta keluarganya disiksa dengan sadis; sahabat-sahabat yang lemah ditindas; dikucilkan bahkan diisolasi dari pergaulan sosial.
            Apakah mereka berhasil? Nyatanya tidak. Dengan penyebaran isu negatif, membuat gaung Islam semakin tinggi. Islam semakin terkenal di seantero Arab. Orang-orang pada penasaran terhadap Islam. Bahkan tak jarang yang masuk Islam. Thufail bin Amru Ad-Dusi, akhirnya jatuh hati pada Nabi. Banyak orang yang sebelumnya benci kepada Islam berbalik menjadi cinta: anda tau Hamzah bin Abdul Muthallib? Anda tau Umar bin Khattab? Anda tau Khalid bin Walid? Anda tau Amru bin Ash? Anda tau Abu Sufyan? Semuanya tak kuasa menjadi pecinta Islam, meski sebelumnya menjadi pembenci. Kejadian ini mengajarkan kita kaidah penting bahwa: “Cahaya tidak akan bisa dibendung oleh kegelapan”. Sebesar dan secanggih apapun media massa yang digunakan untuk menghalangi gerak lajunya, maka akan menjadi kontraproduktif. Para pembesar Qurays seperti: Walid bin Mughirah, Utbah, Syaibah, Abu Jahal, Abu Lahab, Nadhar bin Harits dan lain sebagainya sebagai penguasa media massa tak mampu mempengaruhi massa. Bahkan kelak anak-anak dan sanak famili mereka, menjadi pemeluk agama Islam yang taat. Ketika di Madinah, saat Nabi dan para sahabat-sahabatnya mulai mempunyai kuasa, mereka berusaha membangun media massa tandingan. Dikenallah pada masanya penyair-penyair ulung sekaliber Ka`ab bin Malik, Abdullah bin Rawahahn dan Hassan bin Tsabit(baca artikel terkait: http://amoehirata.blogspot.com/2014/04/media-cinta-sang-pujangga.html ). Ketika media massa di tangan penguasa pemegang teguh Islam, media massa menjadi oase di tengah sahara kejahiliaan.
            Dari peristiwa tersebut kita mendapat beberapa pelajaran penting: Pertama, ketika media massa di tangan penguasa yang memusuhi Islam. Segenap upaya akan dilakukan. Dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar. Mereka kompak dalam memberangus media-media Islam. Caranya sama: mendistorsi ajaran, menyebar isu-isu miring, memecah-belah, bernegoisasi, menindas, yang pada puncaknya memaka cara-cara kekerasan. Ini juga yang dialami Imam Ahmad, ketika disiksa sedemikian rupa di masa pemerintahan Ma`mun. Meskipun Ma`mun berkuasa dengan media massa yang dimiliki, ia tak kuasa merebut hatinya. Ia hanya mampu menguasai raga mereka dengan siksaan, tapi tidak pernah menguasai hati. Kedua, media massa di tangan penguasa tidak akan efektif kecuali jika: 1. Yang dibawa adalah kebenaran sejati, bukan kebenaran yang dimanipulasi. Ketika yang haq datang, maka kebatilan pasti terbuang(Qs. Al-Isra: 81). 2. Memiliki keteguhan iman. 3. Merapatkan barisan. 4. Membangun media massa yang solid. 5. Menyiapkan kader-kader mumpuni yang andal menguasai media massa. Dengan begitu, media Islam akan menjadi bangkit di tengah gelombang media jahiliah yang sedang melilit. Begitulah ketika media massa dikuasai penguasa. Masalahnya, anda mau penguasa BENAR? Atau TENAR meski tak benar?

Di Balik Produktivitas Karya Tulis Ulama

Written By Amoe Hirata on Minggu, 05 April 2015 | 09.43




           Ketika pasukan Tartar (Mongolia) –yang dipimpin Hulagu Khan- menaklukkan Baghdad(656H/1258 M), kavalerinya membuang buku-buku yang berada di perpustakaan Bagdhad ke sungai Tigris. Buku yang berjumlah banyak tersebut,  dijadikan jembatan penyebrangan dari arah Barat ke Timur (baca: Rāghib al-Sirjāni , Qisshatu al-Tatār min al-Bidāyah ila `Ain Jālūt, 161-162). Bayangkan, luas sungai Tigris yang hampir sama dengan Nil (kedalamannya mencapai 10-11 meter)itu, dipenuhi buku untuk dijadikan jembatan. Anda bisa membayangkan berapa besar jumlah buku yang ada saat itu.
            Ada satu kata kunci untuk memahami cerita tersebut, yaitu: produktivitas tulisan. Banyaknya buku yang tersimpan diperpustakaan Baghdad adalah salah satu bukti prokdutivitas ulama dalam bidang kepenulisan. Dalam sejarah Islam, begitu banyak contoh mengenai produktivitas ulama dalam hal menulis di antaranya: Ibnu Jarir At-Thabari, karangannya berjumlah 358 ribu lembar, dalam sehari ia mampu menulis sebanyak 40 lembar(Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, 43). Imam Ibnu Jauzi meninggalkan karya sebanyak lima ratus buku(Qimatu al-Zaman, 56). Abu Bakar al-Bāqalāni tidak tidur hingga menulis 35 lembar (Qimatu al-Zaman, 86) dan ulama lainnya.
            Itu hanya contoh kecil dari sekian banyak contoh produktivitas ulama dalam bidang tulisan. Yang menjadi pertanyaan kemudian ialah: “Mengapa mereka bisa produktif di zaman yang fasilitas untuk menulis begitu ala kadarnya, hanya tinta dan kertas. Pada zaman itu, untuk menggandakan buku saja harus ditulis ulang secara manual?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini akan dijelaskan secara gambalang –melalui kaca mata historis peradaban Islam- tentang rahasia produktivitas ulama dalam bidang tulisan.
Di antara rahasianya ialah: Pertama, para ulama menulis didasari keikhlasan sebagai investasi akhirat(dakwah). Dalam hadits disebutkan, bahwa mereka adalah pewaris para Nabi(Hr. Bukhari, Abu Daud, dan Turmudzi). Bagi mereka menulis bukan sekadar urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafeta perjuangan para Nabi, maka menulis adalah urusan investasi akhirat.
            Kedua, manajemen waktu yang mantap dan brilian. Mereka sadar betul bahwa waktu adalah nafas kehidupan. Sehingga, memanfaatkannya adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin sukses. Sebagai contoh riil-tanpa bermaksud membatasi-, Ibnu Jarir At-Thabari yang mampu menulis 40 lembar tulisan dalam sehari sangat pandai dalam mengatur waktu. Muridnya sendiri –al-Qadhi Abi Bakar bin Kamil-memberi kesaksian bahwa beliau mempunyai waktu khusus untuk menulis dari ba`da Dzuhur hingga Ashar(baca: Qīmatu al-Zaman, hal. 44). Bahkan, menjelang meninggal pun ia menyempatkan diri untuk mencatat ilmu(hal. 44).
Ibnu Rusyd –dalam sejarah- tidak pernah meninggalkan mala-malamnya, kecuali membaca buku. Beliau selalu begitu, kecuali dua malam saja: Pertama, waktu ayahnya wafat. Kedua, waktu malam kemantin(baca: Kaifa Tushbinu `Āliman, Rāghib al-Sirjāni). Lebih dari itu, ada cerita unik mengenai Tsa`lab al-Nahwi (Ahmad bin Yahya al-Syaibani), di antara sebab wafatnya ialah karena ditabrak kuda ketika membaca buku hingga jatuh ke jurang(baca: wafayātu al-A`yān, Ibnu Khillikan, 1/104).
Kakek Ibnu Taimiyah pun juga sangat bagus dalam manajemen waktu. Ia minta dibacakan buku ketika sedang buang hajat, supaya waktunya tidak sia-sia(baca: Dzailu Thabaqāt al-Hanābilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 2/249). Cerita-cerita tersebut,  menunjukkan bahwa mereka sangan pandai mengatur waktu. Sehingga, wajar kalau mereka sangat produktiv menulis. Bagi siapa saja yang ingin produktiv menulis, maka tak ayal lagi harus menapaktilasi jejak mereka dalam manajemen waktu.
            Ketiga, apresiasi negara yang begitu tinggi. Khalifah Ma`mun –selaku Khalifah Daulah Abbasiyah-misalnya, memberi imbalan emas bagi para penerjemah buku(baca: `Uyūnu al-Anbā`, Ibnu Abi Ushaibah, 2/133). Para penulis pada masa itu sangat didukung dan dihargai oleh negara, sehingga produktivitas menulis sedemikian tinggi. Salah satu bukti produktivitas mereka bisa dilihat dari banyaknya perpustakaan. Pada masa keemasan Islam, perpustakaan sudah menjadi sebuah keniscayaan, baik di rumah, gedung pemerintahan, di desa, kota, di rumah sakit dan lain sebagainya. Waktu itu perpustakaan dibagi menjadi lima bagian: Pertama, perpustakaan akademis. Kedua, pribadi. Ketiga, umum. Keempat, sekolah. Kelima, perpustakaan masjid dan universitas(baca: Rāghib al-Sirjāni, Mādza Qaddama al-Muslimūna li al-`Ālam Ishāmātu al-Muslimīn fī al-Hadhārah al-Insāniyah,hal. 224-225)..
 Di antara contoh perpustakaan besar dalam Islam ialah: Perpustakaan Baghdad(yang jumlahnya sangat banyak, sampai-sampai bisa dibuat jembatan oleh Tartar). Perpustakaan Darul `Ilm Kairo(Setiap bagian berisi 18000 buku)lebih dari tujuh ratus ribu kitab. Perpustakaan Cordova(berisi setengah juta kitab) Perpustakaan Tripoli(baca: Kaifa Tushbihu `Āliman, Raghib al-Sirjani). Ada juga perpustakaan koleksi pribadi. Sebagai contoh, Abu al-Fadhl bin al-`Amīd, ketika dia mau pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia membutuhkan seratus unta untuk mengangkatnya. Al-Shahib bin `Abbād, menurut penuturan Gustav Lobon atau Will Durent : “Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād, pada abad keempat hijriah berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara Eropa.
            Dari paparan di atas, kita bisa mengetahu bahwa ada tiga hal mendasar di balik produktivitas ulama dalam bidang tulisan: Pertama, keikhlasan. Mereka menulis dalam rangka investasi akhirat, bukan mencari sekadar dunia atau sanjungan umat. Kedua, mereka sangat pandai dalam manajemen waktu. Ketiga, adanya apresiasi dan kontribusi negara. Bila ketiga hal tersebut saling bersinergi, maka produktivitas ulama dalam bidang tulisan akan kembali bangkit.
Kalau diamati secara cermat, problem umat Islam sekarang ini, terkait dengan lesuhnya produktivitas ulama dalam bidang tulisan, diakibatkan banyaknya orang menulis bukan dalam rangka investasi akhirat, tapi orientasi keduniaan. Di samping itu, tidak pandai menghargai waktu. Dan yang terpenting, negara sebagai lembaga paling strategis dalam mengembangkan produktivitas, kurang apresiatif dalam menghargai karya-karya penulis.
Mudah-mudahan, dengan mengetahui rahasia produktivitas ulama dalam bidang tulisan, kita sebagai umat Islam, kembali bisa produktiv, sehingga nilai-nilai luhur Islam bisa tersebar ke seantero alam. Bukan saja tersebar secara lisan, namun juga tulisan. Apalagi di era perkembangan  teknologi-informasi seperti sekarang ini, keinginan itu sangat riil, bukan mustahil. Wallahu a`lam bi al-Shawab.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan