Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Sejarah. Tampilkan semua postingan
H. ZAINAL ARIFIN ABBAS, ULAMA PECINTA BUKU (SEPARUH GAJI UNTUK BUKU)
Written By Amoe Hirata on Senin, 03 Oktober 2022 | 14.25
KISAH HOESIN BAFAGIEH INGIN BERGURU KEPADA TUAN A. HASSAN
Jika pembaca sekalian pernah dengar majalah Aliran Baroe, maka tidak bisa dipisahkan dari Tuan Hoesin Bafagieh.
Rasulullah Pernah Menyuruh Sahabatnya Berdakwah di Nusantara?
Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Oktober 2018 | 06.13
“Cak!” panggil Paino kepada Sarikhuluk, “aku habis baca di bukunya Prof. Naquib Al-Attas, katanya dalam buku ‘Historical Fact and Fiction’ (2011) bahwa pada zaman Rasulullah masih hidup, beliau sudah mengenal wilayah nusantara. Ini berdasarkan ditemukannya ‘Hikayat Raja Pasai’ yang mana di situ ada perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat-sahabatnya agar berdakwah ke negeri yang bernama Samudra.”
Nilai Waktu Bagi Toean A. Hassan
Written By Amoe Hirata on Senin, 29 Mei 2017 | 14.02
DI balik ketenaran A. Hassan sebagai ulama tegas,
jago debat, ahli agama baik lisan maupun tulisan, ada rahasia menarik yang
menunjang kesuksesan beliau. Sebagaimana ulama-ulama lain, beliau sangat berdisiplin
waktu. Ulama kelahiran Singapura 1887 ini adalah sosok yang sangat disiplin
dalam mengelolah waktu baik sejak kecil maupun hingga wafatnya.
Tokoh Muslim "Bayaran"
Written By Amoe Hirata on Kamis, 02 Maret 2017 | 19.07
PADA tonggak perjuangan
umat Islam, dalam kondisi kuat, kaum munafik tidak pernah absen menginfiltrasi.
Salah satu bukti riilnya, termanivestasi pada tokoh-tokoh muslim yang dengan
kepentingan pragmatisnya bisa membela siapa saja dan menjual harga diri asal
ada honornya. Sikap demikian tentu menjadi ciri khas orang munafik. Al-Ma`idah
[5] ayat 52, secara clear (terang) menggambarkan fenomena ini. Mereka
rela bergabung dengan orang kafir, asal kepentingan pribadi tidak terganggu dan
bisa terpenuhi.
Pucuk Hayya, Pucuk Hayyi
Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Februari 2017 | 22.32
Sewaktu aku masih kecil,
sekitar kelas 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah), ada dua kucing yang aku pelihara
bersama adikku. Kucing itu bersaudara kandung. Yang satu berwarna putih
berkelamin betina; sedangkan yang satunya berwarna hitam berkelamin jantan.
Kucing jantan aku beri nama Pucuk Hayya, dan yang betina diberi bana Pucuk
Hayyi.
Label:
Cermin,
Hikmah Sejarah,
Motivasi,
Mutiara Hikmah
Peran Kebangsaan Ulama
Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 Februari 2017 | 20.19
![]() |
| KH. Salim sedang menjalankan peran kebangsaan menjadi diplomat Indonesia |
Saya
mencoba membayangkan, jika peran ulama pra kemerdekaan hanya berkutat masalah
pendidikan, berkecipung pada wacana akademik saja, berkiprah pada ranah
transfer ilmu semata, agaknya tidak mungkin kemerdekaan bisa terealisasi.
Cinta di Atas Cinta
Written By Amoe Hirata on Senin, 07 November 2016 | 14.14
PADA suatu malam, di bumi hijrah,
seorang wanita terbangun dari tidurnya. Ia sangat khawatir dan cemas. Baru saja
mimpi buruk menderanya. Dalam mimpi ia melihat, suami yang dicintai selama ini,
tenggelam ke dalam lautan yang sangat dalam. Kondisinya sangat memprihatinkan.
Air mata pun tak terbendung membasahi pipinya. Ada apa gerangan yang akan
terjadi dengan suami tersayang yang sama-sama hijrah dalam ikatan cinta.
Label:
Cermin,
Cerpen,
Hikmah Sejarah,
Mutiara Hikmah,
Mutiara Sejarah
Mujahid Via Qalam
Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Agustus 2016 | 14.22
JIHAD via qalam (pena, tulisan)
adalah bagian penting yang turut mewarnai dinamika perjuangan Ulama. Di
sepanjang sejarah, ada banyak contoh yang membuktikan bahwa mereka adalah
seorang mujahid (pejuang) yang sangat intens dalam bidang ini. Ibnu Jarir At-Thabari misalnya, selain lisan, beliau
juga sangat aktif dalam berjihad via tulisan. Hal ini bisa dilihat dari
produktivitasnya dalam menulis buku. Menurut
catatan sejarah, bila semua karangannya dikalkulasikan, berjumlah 358 ribu
lembar. Ini berarti dalam sehari ia
mampu menulis sebanyak 40 lembar (Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, 43).
Contoh lain yang tidak kalah
menarik, Imam Ibnu Jauzi, ulama bermadzah Hanbali ini juga berjihad dalam
bidang tulisan. Abdu al-Fattah dalam bukunya menyebutkan bahwa beliau meninggalkan
karya sebanyak lima ratus buku (Qīmatu al-Zaman, 56). Bahkan ada yang sangat mengharukan. Syekh Abu
Bakar al-Bāqalāni tidak tidur sebelum menulis 35 lembar per-hari (Qīmatu al-Zaman, 86). Ini berarti semangat jihad ulama dalam
bidang tulisan tidak diragukan lagi.
Ulama lain seperti Imam
al-Gazhali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah,
al-Hafidh Ibnu Katsir, Imam al-Dzahabi, Imam al-Suyuthi dan lain sebagainya
adalah ulama-ulama yang turut serta meramaikan jagad sejarah jihad umat Islam
via tulisan.
Dalam negeri pun, ada banyak ulama yang berjihad via tulisan. Sebagai
contoh - tanpa bermaksud membatasi – misalnya KH. Agus Salim, A. Hassan, M.
Natsir dan Buya Hamka. Dalam buku yang berjudul Haji Agus Salim (1884-1954)
Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, disebutkan bahwa beliau adalah
seorang penulis yang kreatif dan produktif. Tulisannya begitu luas cakupannya
dan sangat tajam. (Haji Agus Salim [1884-1954] Tentang Perang, Jihad, dan
Pluralisme. Hal: 21).
Ahmad Hassan, seorang ulama
yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdebat, ternyata juga menggeluti
jihad ini. Menutur penelitan Guillaume Frédéric Pijper dan Tujimah, selain alim
dan cerdas, Pendiri Pesantren PERSIS Bangil ini diakui sebagai penulis
produktif. (Penelitian tentang agama Islam di Indonesia, 1930-1950, hal:
38). Buku yang berjudul: Soal-Jawab, Tafsir al-Furqan, Islam dan Kebangsaan,
Kesopanan Tinggi, ABC Politik, al-Hidayah, Risalah Jum’at, Kitab Tauhid, Adakah
Tuhan?, adalah beberapa contoh karangannya
yang mencapai tujuh puluh lebih.
Mohammad
Natsir, yang juga merupakan murid A. Hassan, juga menekuni jihad dalam bidang
tulisan. Dalam buku yang berjudul 100 Tahun Mohammad Natsir, disebutkan bahwa beliau seorang penulis
kreatif. Sebagai contoh, di masa penjajahan Belanda, beliau sudah melahirkan
karya tulis berbahasa Belanda yang diperhitungkan. Buku yang berjudul Komt
tot het Gebed (1931), Mohammad als Proffet (1931), Gouden Regels
uit den Quran (1932), dan Het Vasten (1934) beberapa contoh buah
tangannya. (100 Tahun Mohammad Natsir, Berdamai dengan Sejarah, hal:
426). Polemik antara dirinya dengan Soekarno via tulisan juga menjadi bukti
penting bahwa beliau sangat intens berjihad di medan ini.
Demikian
juga Buya Hamka. Menutut James Roberth Rush, beliau adalah sosok penulis yang
cakap, produktif, dan populer. Di akhir tahun 1930-an, karya-karya Hamka sudah
bisa didapat di perpustakaan sekolah umum. (A. Suryana Sudrajat, Ulama
Pejuang dan Ulama Petualang, hal: 13 dan 14). Karya monumental yang
tertoreh dalam jeruji besi seperti Tafsir al-Azhar, adalah salah satu
bukti bahwa ulama kharismatik sekaliber beliau juga turut andil dalam berjihad
via tulisan.
Beberapa
cerita di atas menunjukkan bahwa jihad via tulisan adalah salah satu bentuk
perjuangan jihad ulama muslim di sepanjang sejarah. Dengan menulis, mereka bisa
menjaga khazanah keilmuan Islam sekaligus abadi sepanjang masa walau raga sudah
bercampur tanah. Ini sesuai dengan peribahasa Latin kuno yang menyatakan, verba
volant, scripta manent, yang berarti: apa yang terucap akan berlalu, namun
yang tertulis (dibukukan) abadi selamanya.
Keadilan Hukum Islam
Written By Amoe Hirata on Selasa, 05 Januari 2016 | 15.30
Suatu ketika –di zaman kekhilafaan Umar bin
Khattab- ada beberapa budak milik Hāthib bin Abi Balta`ah Ra. mencuri seekor unta kepunyaan bani Muzainah.
Mereka tidak jadi dikenakan sanksi mencuri lantaran kelaparan. Bahkan Umar
menyuruh Hāthib
mengganti harga ontanya kepada pemiliknya yang berasal dari bani Muzainah. Di
akhir pembicaraan, Khalifah Umar berkomentar: “Demi Allah sekiranya aku tidak
tahu bahwa kalian mempekerjakan mereka dan membuat mereka lapar, maka pasti aku
potong tangan mereka.”(baca: I`lām al-Muwaqqi`īn `an Rabbi al-`Ālamīn, 3/17).
Beliau tahu betul bahwa pencurian yang sudah
mencapai had-nya(seperempat dinar: Ṣahīh Fiqhi al-Sunnah, 4/95) harus dipotong tangannya(sebagaimana
Qs. Al-Maidah: 38); ia pun tahu bahwa hukum harus ditegakkan secara
adil(sebagaimana Qs. Al-Maidah: 8), tanpa pandang bulu. Namun untuk menetapkannya,
tidak boleh serampangan. Harus berdasarkan penelitian. Dalam Fiqih ada dua
ketentuan untuk menetapkan pencuri: Pertama, adanya dua orang saksi. Kedua,
pengakuan langsung dari pencuri(Ṣahīh Fiqhi al-Sunnah, 4/95). Namun, ketika Khalifah Umar mengetahui
pencurian dilakukan karena adanya faktor kelaparan, maka had tidak jadi
diberlakukan.
Dari pengalaman sejarah
ini, paling tidak kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting terkait
keadilan hukum Islam. Pertama, hukum dalam Islam (dalam kasus ini adalah
pencurian) sangat tegas dan tidak pandang bulu. Kedua, pemberlakuan
hukum bisa ditetapkan berdasarkan kesaksian dua orang yang melihat dan
pengakuan langsung dari pencuri. Ketiga, didasarkan pada penelitian yang
detil dan komprehensif sehingga tidak mengalami kesalahan fatal. Keempat, ukuran
pencurian yang teranggap ialah seperempat dinar. Kelima, hukum tidak
bisa diceraikan dari keadilan, akhlak. Ketika hakim mengetahui bahwa ada pencuri
yang terpaksa –berdasarkan penelitian-, maka dengan basis rahmat, ia bisa
membebaskan pencuri tersebut.Jika kelima poin tersebut telah terpenuhi, maka
hukum harus ditegakkan. Bila tidak, maka penegakan hukum menjadi timpang,
keadilan pun terbuang.
Sebagai penutup, ada baiknya kita membuka lembaran
emas sejarah. Ketika ada seorang wanita dari klan Makhzumiyah mencuri, pembesar
Qurays berusaha meminta amnesti dengan cara meminta Zaid bin Haritsah untuk
membujuk Rasulullah. Rasul pun dengan tegas menolak, kemudian berpidato di atas
mimbar: “ Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian ialah
jika yang mencuri orang mulia mereka mengabaikannya, sedangkan jika yang
mencuri orang lemah, mereka tegakkan hukum. Demi Allah, jika Fatimah binti
Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang memotong tangannya.’(Hr. Bukhari
dan Muslim).
Mengeja Cinta Rasulullah
Written By Amoe Hirata on Kamis, 21 Mei 2015 | 22.56
Dalam relung hati manusia ada satu kekuatan dahsyat yang mampu mengubah sesuatu yang terlihat mustahil menjadi riil, yaitu: ‘cinta’. Walau hanya berupa kata yang terdiri dari lima huruf, namun energi yang dihasilkannya bisa membuat bara api angkara redup. Ia ditakdirkan tak berwujud benda, namun bisa dirasa. Ibarat api, maka cinta adalah panasnya. Ibarat angin, maka cinta adalah derunya. Ibarat sungai, cinta adalah arusnya. Ibarat samudera, cinta adalah ombaknya. Ia tak perlu definisi, karena tiada definisi yang mampu menggambarkannya, kecuali fungsi kerja dahsyatnya.
Di dunia ina ada banyak contoh menarik untuk dijadikan suritauladan dalam masalah cinta. Di antara yang paling menarik dari yang menarik –tentu saja- Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Cintanya menembus ruang dan waktu. Bagai samudra tanpa tepi. Ia ditakdirkan ada sebagai sumber mata air cinta, yang perlu direguk oleh setiap manusia air cintanya supaya lahir kedamaian dan ketentraman di muka bumi. Cintanya sungguh universal, tak tersekat teritorial. Ia di garda depan sebagai Sang pecinta yang mampu mentransfer cintanya, bukan hanya pada Tuhan, tapi juga untuk seantoro alam.
Tanpa berniat membatasi, sebagai contoh kecil, simak baik-baik riwayat berikut ini: Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah dan dari bapaknya, ia berkata: Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan, berangkat untuk suatu keperluan, kemudian kami melihat seekor ayam bersama dua ekor anaknya, lalu kami mengambil kedua anaknya itu. Kemudian datanglah ayam betina itu (induknya) sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Lalu datanglah Nabi dan berkata, "Siapa yang menyakiti ayam ini dengan anaknya? Kembalikan anak-anaknya kepadanya. " Kemudian kami melihat sekelompok semut yang sangat banyak, maka kami membakarnya. Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam pun bertanya, "Siapa yang membakar ini?" Kami menjawab, "Kami." Beliau kemudian bersabda, "Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan (pencipta) api."
Sungguh luar biasa. Akankah kata-kata, ‘Siapa yang menyakiti ayam ini dengan anaknya? Kembalikan anak-anaknya kepadanya.’ dan ‘Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan (pencipta) api.’ Bisa lahir dari manusia yang hatinya kering dari mata air cinta? Rasa cinta yang mengalir deras dalam muara hari Rasullah, membuatnya tak pernah membedakan –terkait cinta- antara manusia dan hewan. Kalau manusia saja merasa sedih ketika dipisahkan dari anaknya, maka hewan pun juga mempunyai perasaan sedih, karena itu, cinta melarang segala tindakan yang bertentangan dengan cinta. Demikian juga halnya membakar semut. Semut seolah hal remeh dan tak berarti di mata manusia, namun dengan ‘kaca mata cinta’ Rasulullah mampu membahasakan dengan sangat apik bahwa, yang berhak membakarnya adalah Tuhan Pencipta api.
Jasad beliau memang sudah mati, tapi cintanya tak pernah mati. Ia menjadi semacam deru, yang memacu energi positif untuk kemaslahatan manusia. Selama cinta tidak tercerabut dari relung hati manusia, maka keseimbangan dan keasrian peradaban dunia akan tetap terjaga. Bukankah salah satu nama Allah adalah al-Wadūd(Maha Mencintai), lalu adakah bahasa terbaik untuk menyapanya, selain dengan cinta yang tulus dari dalam hati, yang diiringi dengan pengertian dan pengorbanan? Dari Rasulullah kita menemukan contoh terbaik yang memperlakukan cinta sebagaimana porsi dan posisinya, sehingga menjadi pelepas dahaga bagi makhluk yang haus akan cinta. Wallahu a`lam bi al-shawab. Darunnajah, Jaksel, 01 Maret 2015/2254.
Ketika Media Massa di Tangan Penguasa
Written By Amoe Hirata on Jumat, 10 April 2015 | 07.14
Ketika media
dikuasai oleh orang kafir Qurays di Makkah, ada beberapa langkah konkrit yang
dilakukan oleh para penguasa dalam mencegah pertumbuhan dakwah Islam, di
antaranya: Pertama, meremehkan dan merendahkan Islam dengan cara merusak
citra Nabi beserta umatnya. Ada beberapa tuduhan yang disematkan pada beliau.
Dengan tanpa dasar kuat beliau dituduh sebagai orang gila(Qs. Al-Hijr: 6, Al-Qalam:
51); sebagai tukang sihir(Qs. Yunus: 2); sebagai penyair(Qs. Al-Anbiya: 5) dan
tukang tenung atau dukun(Qs. Al-Hāqqah:
42). Lucunya, mereka sendiri mendustakan tuduhan itu. Simak baik-baik ungkapan
bersejarah Walid bin al-Mughirah benggolan penyair Qurays: “Demi Allah ia bukan
tukang tenung, dia tidak gila, dia bukan penyair, dia bukan penyihir.
Sesungguhnya kata-katanya begitu manis, akarnya adalah kelapangan,
cabangnya(bagai) bunga yang tumbuh, dan tidaklah kalian mengarang sesuatu pun
yang mirip, melainkan diketahui bahwasanya itu batil.”(Lihat: Shafiyyurrahman
al-Mubarakfuri, Rahīqi
al-Makhtūm,
1/71). Akhirnya, jalan terakhir yang mereka sepakati adalah tuduhan bahwa
Muhammad sebagai tukang sihir.
Kedua,
mendistorsi ajaran-ajaran dan membuat isu-isu miring seputar Nabi Muhammad. Dihembuskanlah
berita bohong pada masyarakat sekitar bahwa apa yang diajarkan Nabi Muhammad
hanyalah dongengan orang-orang terdahulu(Qs. Al-Furqan: 5); ia juga dituduh
sebagai pendusta terhadap ajaran yang dibawa(Qs. Al-Furqan: 4); ia dituduh
telah diajari manusia(Qs. An-Nahl: 103); mereka juga tidak segan-segan mencibir
Rasul. Dengan bahasa kita sekarang bias diungkapkan dengan kalimat sindiran: “Rasul
kok masih makan dan berjalan di pasar seperti kita”(Qs. Al-Furqan: 7). Nadhar
bin Harits, gembong Qurays yang sangat memusuhi Nabi, tidak tanggung-tanggung
menyewa penyanyi wanita untuk menghalangi orang-orang mendengar cahaya Islam. Ketiga,
menggunakan cara-cara halus. Dengan menego Nabi agar tidak mencela Tuhan-Tuhan
mereka, memperhalus bahasanya, serta kerjasama dalam ibadah(Qs: al-Kafirun:
1-6). Ketiga, karena semua tidak berhasil, maka digunakanlah
pendekatan-pendekatan represif. Amar bin Yasir beserta keluarganya disiksa
dengan sadis; sahabat-sahabat yang lemah ditindas; dikucilkan bahkan diisolasi
dari pergaulan sosial.
Apakah
mereka berhasil? Nyatanya tidak. Dengan penyebaran isu negatif, membuat gaung Islam semakin tinggi.
Islam semakin terkenal di seantero Arab. Orang-orang pada penasaran terhadap
Islam. Bahkan tak jarang yang masuk
Islam. Thufail bin Amru Ad-Dusi, akhirnya jatuh hati pada Nabi. Banyak orang
yang sebelumnya benci kepada Islam berbalik menjadi cinta: anda tau Hamzah bin
Abdul Muthallib? Anda tau Umar bin Khattab? Anda tau Khalid bin Walid? Anda tau
Amru bin Ash? Anda tau Abu Sufyan? Semuanya tak kuasa menjadi pecinta Islam,
meski sebelumnya menjadi pembenci. Kejadian ini mengajarkan kita kaidah penting
bahwa: “Cahaya tidak akan bisa dibendung oleh kegelapan”. Sebesar dan secanggih
apapun media massa yang digunakan untuk menghalangi gerak lajunya, maka akan
menjadi kontraproduktif. Para pembesar Qurays seperti: Walid bin Mughirah,
Utbah, Syaibah, Abu Jahal, Abu Lahab, Nadhar bin Harits dan lain sebagainya
sebagai penguasa media massa tak mampu mempengaruhi massa. Bahkan kelak
anak-anak dan sanak famili mereka, menjadi pemeluk agama Islam yang taat. Ketika
di Madinah, saat Nabi dan para sahabat-sahabatnya mulai mempunyai kuasa, mereka
berusaha membangun media massa tandingan. Dikenallah pada masanya
penyair-penyair ulung sekaliber Ka`ab bin Malik, Abdullah bin Rawahahn dan Hassan
bin Tsabit(baca artikel terkait: http://amoehirata.blogspot.com/2014/04/media-cinta-sang-pujangga.html
). Ketika media massa di tangan penguasa pemegang teguh Islam, media massa
menjadi oase di tengah sahara kejahiliaan.
Dari peristiwa tersebut
kita mendapat beberapa pelajaran penting: Pertama, ketika media massa di
tangan penguasa yang memusuhi Islam. Segenap upaya akan dilakukan. Dari mulai
yang paling halus hingga yang paling kasar. Mereka kompak dalam memberangus media-media
Islam. Caranya sama: mendistorsi ajaran, menyebar isu-isu miring,
memecah-belah, bernegoisasi, menindas, yang pada puncaknya memaka cara-cara
kekerasan. Ini juga yang dialami Imam Ahmad, ketika disiksa sedemikian rupa di
masa pemerintahan Ma`mun. Meskipun Ma`mun berkuasa dengan media massa yang
dimiliki, ia tak kuasa merebut hatinya. Ia hanya mampu menguasai raga mereka
dengan siksaan, tapi tidak pernah menguasai hati. Kedua, media massa di
tangan penguasa tidak akan efektif kecuali jika: 1. Yang dibawa adalah kebenaran
sejati, bukan kebenaran yang dimanipulasi. Ketika yang haq datang, maka
kebatilan pasti terbuang(Qs. Al-Isra: 81). 2. Memiliki keteguhan iman. 3. Merapatkan
barisan. 4. Membangun media massa yang solid. 5. Menyiapkan kader-kader mumpuni
yang andal menguasai media massa. Dengan begitu, media Islam akan menjadi
bangkit di tengah gelombang media jahiliah yang sedang melilit. Begitulah
ketika media massa dikuasai penguasa. Masalahnya, anda mau penguasa BENAR? Atau
TENAR meski tak benar?
Di Balik Produktivitas Karya Tulis Ulama
Written By Amoe Hirata on Minggu, 05 April 2015 | 09.43
Ada satu kata kunci untuk memahami
cerita tersebut, yaitu: produktivitas tulisan. Banyaknya buku yang tersimpan
diperpustakaan Baghdad adalah salah satu bukti prokdutivitas ulama dalam bidang
kepenulisan. Dalam sejarah Islam, begitu banyak contoh mengenai produktivitas
ulama dalam hal menulis di antaranya: Ibnu Jarir At-Thabari, karangannya
berjumlah 358 ribu lembar, dalam sehari ia mampu menulis sebanyak 40 lembar(Qīmatu
al-Zaman `Inda al-`Ulamā, Abdu al-Fattah
Abu Ghuddah, 43). Imam Ibnu Jauzi meninggalkan karya sebanyak lima ratus buku(Qimatu
al-Zaman, 56). Abu Bakar al-Bāqalāni tidak tidur hingga menulis 35 lembar (Qimatu al-Zaman, 86)
dan ulama lainnya.
Itu hanya contoh kecil dari sekian
banyak contoh produktivitas ulama dalam bidang tulisan. Yang menjadi pertanyaan
kemudian ialah: “Mengapa mereka bisa produktif di zaman yang fasilitas untuk
menulis begitu ala kadarnya, hanya tinta dan kertas. Pada zaman itu, untuk
menggandakan buku saja harus ditulis ulang secara manual?”. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, berikut ini akan dijelaskan secara gambalang –melalui kaca
mata historis peradaban Islam- tentang rahasia produktivitas ulama dalam bidang
tulisan.
Di antara rahasianya ialah: Pertama, para ulama menulis didasari
keikhlasan sebagai investasi akhirat(dakwah). Dalam hadits disebutkan, bahwa
mereka adalah pewaris para Nabi(Hr. Bukhari, Abu Daud, dan Turmudzi). Bagi
mereka menulis bukan sekadar urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafeta
perjuangan para Nabi, maka menulis adalah urusan investasi akhirat.
Kedua, manajemen waktu yang
mantap dan brilian. Mereka sadar betul bahwa waktu adalah nafas kehidupan.
Sehingga, memanfaatkannya adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin
sukses. Sebagai contoh riil-tanpa bermaksud membatasi-, Ibnu Jarir At-Thabari
yang mampu menulis 40 lembar tulisan dalam sehari sangat pandai dalam mengatur
waktu. Muridnya sendiri –al-Qadhi Abi Bakar bin Kamil-memberi kesaksian bahwa
beliau mempunyai waktu khusus untuk menulis dari ba`da Dzuhur hingga
Ashar(baca: Qīmatu al-Zaman, hal. 44). Bahkan, menjelang
meninggal pun ia menyempatkan diri untuk mencatat ilmu(hal. 44).
Ibnu Rusyd –dalam sejarah- tidak pernah meninggalkan mala-malamnya,
kecuali membaca buku. Beliau selalu begitu, kecuali dua malam saja: Pertama,
waktu ayahnya wafat. Kedua, waktu malam kemantin(baca: Kaifa
Tushbinu `Āliman, Rāghib al-Sirjāni). Lebih dari
itu, ada cerita unik mengenai Tsa`lab al-Nahwi (Ahmad bin Yahya al-Syaibani),
di antara sebab wafatnya ialah karena ditabrak kuda ketika membaca buku hingga
jatuh ke jurang(baca: wafayātu al-A`yān, Ibnu Khillikan, 1/104).
Kakek Ibnu Taimiyah pun juga sangat bagus dalam manajemen waktu. Ia minta
dibacakan buku ketika sedang buang hajat, supaya waktunya tidak sia-sia(baca: Dzailu
Thabaqāt al-Hanābilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 2/249). Cerita-cerita
tersebut, menunjukkan bahwa mereka sangan
pandai mengatur waktu. Sehingga, wajar kalau mereka sangat produktiv menulis.
Bagi siapa saja yang ingin produktiv menulis, maka tak ayal lagi harus
menapaktilasi jejak mereka dalam manajemen waktu.
Ketiga, apresiasi negara yang
begitu tinggi. Khalifah Ma`mun –selaku Khalifah Daulah Abbasiyah-misalnya, memberi
imbalan emas bagi para penerjemah buku(baca: `Uyūnu al-Anbā`,
Ibnu Abi Ushaibah, 2/133). Para penulis pada masa itu
sangat didukung dan dihargai oleh negara, sehingga produktivitas menulis
sedemikian tinggi. Salah satu bukti produktivitas mereka bisa dilihat dari
banyaknya perpustakaan. Pada masa keemasan Islam, perpustakaan sudah menjadi
sebuah keniscayaan, baik di rumah, gedung pemerintahan, di desa, kota, di rumah
sakit dan lain sebagainya. Waktu itu perpustakaan dibagi menjadi lima bagian: Pertama,
perpustakaan akademis. Kedua, pribadi. Ketiga, umum. Keempat,
sekolah. Kelima, perpustakaan masjid dan universitas(baca: Rāghib
al-Sirjāni, Mādza Qaddama al-Muslimūna li al-`Ālam Ishāmātu
al-Muslimīn fī al-Hadhārah al-Insāniyah,hal. 224-225)..
Di antara contoh perpustakaan
besar dalam Islam ialah: Perpustakaan Baghdad(yang jumlahnya sangat banyak,
sampai-sampai bisa dibuat jembatan oleh Tartar). Perpustakaan Darul `Ilm
Kairo(Setiap bagian berisi 18000 buku)lebih dari tujuh ratus ribu kitab. Perpustakaan
Cordova(berisi setengah juta kitab) Perpustakaan Tripoli(baca: Kaifa
Tushbihu `Āliman, Raghib al-Sirjani). Ada juga
perpustakaan koleksi pribadi. Sebagai contoh, Abu al-Fadhl bin al-`Amīd, ketika
dia mau pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia membutuhkan seratus unta
untuk mengangkatnya. Al-Shahib bin `Abbād, menurut penuturan Gustav Lobon atau
Will Durent : “Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād, pada abad
keempat hijriah berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara Eropa.
Dari paparan di atas, kita bisa
mengetahu bahwa ada tiga hal mendasar di balik produktivitas ulama dalam bidang
tulisan: Pertama, keikhlasan. Mereka menulis dalam rangka investasi
akhirat, bukan mencari sekadar dunia atau sanjungan umat. Kedua, mereka
sangat pandai dalam manajemen waktu. Ketiga, adanya apresiasi dan
kontribusi negara. Bila ketiga hal tersebut saling bersinergi, maka
produktivitas ulama dalam bidang tulisan akan kembali bangkit.
Kalau diamati secara cermat, problem umat Islam sekarang ini, terkait
dengan lesuhnya produktivitas ulama dalam bidang tulisan, diakibatkan banyaknya
orang menulis bukan dalam rangka investasi akhirat, tapi orientasi keduniaan.
Di samping itu, tidak pandai menghargai waktu. Dan yang terpenting, negara
sebagai lembaga paling strategis dalam mengembangkan produktivitas, kurang
apresiatif dalam menghargai karya-karya penulis.
Mudah-mudahan, dengan mengetahui rahasia produktivitas ulama dalam
bidang tulisan, kita sebagai umat Islam, kembali bisa produktiv, sehingga
nilai-nilai luhur Islam bisa tersebar ke seantero alam. Bukan saja tersebar
secara lisan, namun juga tulisan. Apalagi di era perkembangan teknologi-informasi seperti sekarang ini,
keinginan itu sangat riil, bukan mustahil. Wallahu a`lam bi al-Shawab.












