Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Memperingati “Kelahiran Cahaya”

Written By Amoe Hirata on Selasa, 20 November 2018 | 05.35


Hasil gambar untuk gambar muhammad

Kelahiran Nabi terakhir laksana semburat cahaya
Yang terbit menerpa kegelapan manusia
Yang kala itu sedang di ambang kehancuran
Dari berbagai segi kehidupan

Cinta Berlesung Dua

Written By Amoe Hirata on Selasa, 21 Maret 2017 | 14.23

Cinta Berlesung Dua
Semakin hari
Kaffah menawan hati
Dengan senyum mahal
Indah dan fenomenal

Ibu dari Anak-Anakku

Written By Amoe Hirata on Senin, 13 Maret 2017 | 14.25

Ibu adalah madrasah
Sedang anak adalah siswanya

Kado Gerhana

Written By Amoe Hirata on Rabu, 09 Maret 2016 | 16.19

Bagaimana jika
Kelam gerhana mendinding dunia
Selamanya
Gundah gulana kan menyelimut raga

Bagaimana jika
Gulita gerhana menutupi semesta
Selamanya
Duka cita kan meresah jiwa

Jangan dipikir
Bahwa gerhana sekedar
Peristiwa alam biasa

Jangan dianggap
Bahwa gerhana sekedar
Kejadian dunia lumrah

Di balik peristiwa gerhana
Terdapat peringatan
Tersimpan pelajaran
Terkandung nasihat

Kalau cahaya redup
Bisa apa kita?

Kalau cahaya sirna?
Mau apa kita?

Bukankah aktifitas kita
Beriring cahaya?
Bukankah kegiatan kita
Bersanding cahaya?

Bila tak peduli pada
Peringatan-Nya
Jiwa kan tiada

Bila tak merisau akan
Pelajaran-Nya
Nurani kan mati

Bila tak peduli pada
Nasihat-Nya
Sukma kan musnah

Apa harus menunggu hancur total
Lantas kita tersadar
Dari mimpi dunia

Selendang Bidadari

Written By Amoe Hirata on Rabu, 25 November 2015 | 14.04

             Aku bercermin pada kaca rindu. Tampak indah wajahnya, serupa bidadari surga. Hati bergetar tak karuan, menanti sungging senyuman, sang wanita idaman.
                Apa daya, laksana pepohonan dan bumi, kadang ku bisa menyatu dengan bidadari. Ada pula masa, laksana langit dan bumi, minyak dan air, bidadari tak bersamaku.
          Saat jauh, hanya selendang cinta, yang ku pegang erat. Aroma wanginya, membuat ku bertekad: Aku akan menunggu hingga kau datang mendekat.
       Bidadariku, kalau ada kata yang mampu mewakili kerinduanku, maka tak lain selendang sucimu, yang mengikat cinta kita menjadi halal menyatu. Bidadariku: “I love you.”

Penantian Hati

Written By Amoe Hirata on Minggu, 30 Agustus 2015 | 14.34

Saat hati menanti
Cinta yang sedang pergi
Rindu menyala-nyala
Bunga kehilangan aroma

Bilakah ia kembali
Mengisi hati sunyi
Sedetik serasa seminggu
Rindu mendayu-dayu

Air Mata

Written By Amoe Hirata on Rabu, 26 Agustus 2015 | 14.23

Bila mata bercucur
Bukan berarti
Hati hancur

Kadang ia menetes
Lantaran bahagia,
Bukan stress

Air mata terbit
Dari lubuk hati
Tak berpenyakit

Mata berkaca
Karena jiwa
Bertabur cahaya

Pelabuhan Cinta

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 15 Agustus 2015 | 14.12

Sepoi angin pagi
Membuat hati berderu
Bersama cinta suci
Membuka lembaran baru
Memang akan sarat uji
Laksana ruang berdebu
Dengan 'sapu cinta' fitri
Kan menjadi seelok qalbu
Ke depan masih misteri
Usaha & tawakkal berpadu
Dalam pelabuhan hati
Cinta `kan selalu berlabu

Raja Setengah Siuman

Written By Amoe Hirata on Minggu, 12 April 2015 | 21.22

Dalam biduk sunyi
Ku ayuh sendiri
Dengan kedua tangan
Gerak-gerik sampan

Tibalah raga wadak
Di pulau tak berkehendak
Kabarnya di tanah ini
Gemah ripah loh jinawi

Kayu mati jadi hidup
Lampu mentari tak pernah redup
Katanya : “Tanah surga”
Menjadi rebutan para raja

Betapa kaget ketika
Aku masuk berjumpa
Raja setengah siuman
Dari tidur setengah nyaman

Di sampingnya ada dayang-dayang
Mengipasi dengan bayang-bayang
Ambisi yang tak pernah padam
Selama ini terpendam

Aku kasihan melihat raja
Diam tanpa suara
Ia terlihat bergerak
Namun tanggal dari kehendak

Bagaimana nasib rakyat
Tanah kaya tapi melarat
Mereka tertimpa amnesia
Akibat janji  jadi busa

Lahir terlihat mengantuk
Masalah semakin menumpuk
Ingin sekali tidur nyenyak
Kondisi semakin tak enak

Kemana harapan berlabuh
Jika raja berselingkuh
Dengan dayang-dayang ambisius
Bagai serigala rakus

Sungguh aku kasihan
Sekadar kasih hanya kelemahan
Maka aku tatap wajah langit
Sambil tertatih aku bangkit

Wahai rakyat setengah siuman
Jauhkan lambung dari dipan
Menjadi bangkit setegar gunung
Atau menjadi katak dalam tempurung?

Telah tiba sekarang
Bangun dari tidur panjang
Berjuang menuju harapan,
Atau bahagia dalam angan?

Menuju Pengebirian Pers

Written By Amoe Hirata on Senin, 30 Maret 2015 | 20.43

Di era reformasi
Kebebasan dielu-elu
Media berpartisipasi
Menuju info bermutu


SEKARANG?

Kebebasan menjadi anomali
Ketika media Islam dibelenggu
Kemerdekaan pers dikebiri
Rezim otoriter kembali berlaku

Jangan Terkecoh dengan Ilmu

Written By Amoe Hirata on Kamis, 12 Maret 2015 | 23.33

‘Jangan terkecoh dengan ilmu’
Apalagi pangkat dan titelmu
Ia bisa menjadi bumerang
Bagi siapa saja yang berjuang

‘Jangan terkecoh dengan ilmu’
Setiap orang berpeluang tertipu
Oleh ilmu yang tak diamal
Dari agama diri terpental

Iblis adalah makhluk yang tahu
Keagungan Sang Maha Berilmu
Tapi ia membangkang
Lalu ia pun terbuang

Fir`aunpun tahu
Bahwa ia keliru
Mengaku jadi Tuhan

Lalu ditenggelamkan

Jangan Bosan Menjadi Baik

Sebuah nasihat berharga
Dari Kiai yang penuh karisma
Kiai Syukri Zarkasyi
Sang pendidik sejati

Ia mewanti:
“Jangan bosan jadi baik”
Singkat tapi berarti

Bagi santri yang cerdik

Bunga di Taman Surga

Written By Amoe Hirata on Selasa, 03 Maret 2015 | 05.59

Hati ini terasa sejuk
Bersama orang-orang yang mendapat petunjuk

Jiwa ini terasa nikmat
Bersama orang-orang yang taat

Ya Allah, Ya Tuhan kami
Izinkan kami di sini

Hingga kembali bersemi Indah
Saat kuncup mekar menjadi bunga

Rasul pun bersabda:
"Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgah dan nikmati apa yang di dalamnya." para sahabat pun bertanya:  "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan taman surga?". Rasul menjawab: "lingkaran(perkumpulan) zikir".(Hr. Turmudzi).

Dagelan Calon Presiden

Written By Amoe Hirata on Minggu, 15 Juni 2014 | 23.15


Wahai rakyat...
Pilihlah aku....
Kalian akan pulih....

Wahai rakyat...
Dukunglah aku....
Kalian akan untung....

Wahai rakyat....
Angkatlah aku...
Kalian akan bermartabat...

Wahai rakyat....
Juangkanlah aku...
Kalian akan tenang...

Bangsa Berkarakter Terasi

Written By Amoe Hirata on Kamis, 05 Juni 2014 | 11.01



Siapa yang merasa
Mengaku menjadi bangsa
Indonesia Raya
Yang tak mengenali
Produk dalam negeri
Berupa: TERASI

Dari terasi
Bisa dipelajari
Karakter penduduk negeri
Yang singgah di
Tanah Ibu Pertiwi
(Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Terasi berbau tajam
Di hidung tak nyaman
Nikmat di lisan
Bila dipadukan
Dengan bumbu masakan

Terasi berbau menyengat
Dicium tak enak
Lezat di lidah
Bila diolah
Dengan rempah-rempah

Bangsa NKRI
Adalah bangsa hebat yang tak sadar diri
Mampu mengharmoni
Meski banyak perbedaan yang melatari
(Bineka Tunggal Ika)
Layaknya terasi
Meski tercium bau
Jika berpadu tomat, bawang dan cabai
Lalu menjadi
Sambal yang Lezat

Bangsa lain boleh saja
Menganggap bangsa Indonesia
Sebagai bangsa bau
Yang tak maju-maju
Menindasnya dengan uluk-ulek ambisi
Tapi pada akhirnya mereka tertipu
Bahwa mereka mempu bertahan
Bahkan menyaji kenikmatan

Bangsa yang mampu bertahan
Di tengah perbedaan
Bangsa yang mampu eksis
Di tengah penderitaan
Bangsa yang sanggup tertawa
Di tengah kegalauan
Bangsa yang mampu menyulap
Kesusahan menjadi kebahagian
Bangsa yang mampu merubah
Penderitaan menjadi kenikmatan




Hakikat Usia Bertambah

Written By Amoe Hirata on Rabu, 14 Mei 2014 | 17.06


Bertambahnya usia
Sejatinya
Menumbuhkan
Kesadaran akan
Pentingnya waktu

Bertambahnya usia
Hakikatnya
Menanamkan
Kefahaman akan
Pentingnya masa

Bila umur bertambah
Laku tak berubah
Kelakuan makin parah
Kemudian kehilangan arah
Maka bedebah

Bila umur bertambah
Laku kian berubah
Kelakuan makin indah
Kemudian hidup terarah
Maka berfaedah

Usia bertambah
Syukur melimpah
Umur bertambah
Kesadaran terkerah
Demikianlah hakikat usia bertambah


Sumengko 14 Mei 2014/17:01

Baiklah Nak!

Written By Amoe Hirata on Minggu, 04 Mei 2014 | 19.55


by Mahmud Budi Setiawan on Monday, December 12, 2011 at 11:11am

Baiklah nak!
Jika kau pilih cantiknya
Kelak
Jangan salahkan ibu bila buruk moralnya

Baiklah nak!
Jika kau pilih hartanya
Nanti
Jangan salahkan ibu bila jelek lakunya

Baiklah nak!
Jika kau pilih kedudukanya
Suatu saat
Jangan salahkan ibu bila rusak perangainya

Ibu tak bisa memaksamu
Hanya
Bila moral buruk
Apalah artinya

Ibu tak bisa memaksamu
Hanya
Bila laku jelek
Apalah gunanya


Ibu tak bisa memaksamu
Hanya
Bila perangai rusak
Apalah istimewanya

Pendidikan "Foto Copy"


Yang benar dari guru
Murid wajib menghafal
Meski tak paham

Yang benar dari guru
Murid wajib meniru
Meski tak ngerti

Murid cerdas 
Pandai mengulas
Walau tak cergas

Murid  pintar
Pandai memapar
Walau tak nalar

Kreatifitas tertinggi
Ketika sama
Dengan sabda guru

Inovasi terhebat
Ketika persis
Dengan kata guru

Euforia Tahun Baru

Written By Amoe Hirata on Selasa, 31 Desember 2013 | 07.51

Merasa bahagia
Karena tahun baru
Lantas luap kegembiraan
Berlebihan

Merasa suka
Karena tahun anyar
Lantas luap kesenangan
Berlebihan

Kembang api dibakar
Pesta pora digalakkan
Pada saat itu
Agama disembunyikan
Pada semak-semak
Hawa nafsu

Boleh-boleh saja
Manusia
Meluap kesenangan
Namun,
Jika berlebih
Pasti kan celaka

Sah-sah saja
Orang
Membuncah kegembiraan
Tapi,
Jika berlebih
Pasti kan sengsara

Dalam euforia:
“Tahun Baru”
Harkat dan martabat
Manusia
digadaikan

Cahaya

Written By Amoe Hirata on Minggu, 29 Desember 2013 | 08.01

Allah (Pemberi) cahaya
(kepada) langit dan bumi.
perumpamaan cahaya Allah,
adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus,
yang di dalamnya ada pelita besar.
pelita itu di dalam kaca
(dan) kaca itu seakan-akan bintang
(yang bercahaya) seperti mutiara,
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya,
(yaitu) pohon zaitun
yang tumbuh tidak di sebelah timur
(sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),
yang minyaknya (saja)
Hampir-hampir menerangi,
walaupun tidak disentuh api.
cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya
siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan
bagi manusia,
dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Menurut Firman-firman-Nya
Nur berarti:
Cahaya
Iman
Islam
Qur`an
Petunjuk
Jelas
Taat
Amal Shalih
Semu Selalu positif
Karena bersumber dari
Nur `ala Nur
Cahaya di atas Cahaya

Malaikat selalu positif
Karena ia terbuat dari NUR
Cahaya
Sedang Iblis dan Setan selalu negatif
Terbuat dari NAR
Api
Yang selalu bergejolak
dan tak terukur
Meski tak semua berarti negatif
Sebagaimana Jin Muslim
Yang berasal dari Api

Peradaban manusia
Seharusnya menuju CAHAYA
Bukan menuju API
Namun sekarang
Peradaban manusia
Sedang menuju ‘peradaban api’
Yang menggambarkan
Ketidakpuasan
Selalu haus
ambisius
Akan kehidupan duniawi

Allah ‘Cahaya’ langit dan bumi
Cahaya-Nya di atas cahaya
Muhammad diutus
Laksana cahaya
Dibekali ‘cahaya’
Berupa kitab mulia
Al-Qur`an
Untuk membimbing
Jin dan manusia
Dari kegelapan
Menuju cahaya

Cahaya itu
Semakin pudar
Di hati orang ingkar
Orang ingkar
Berwalikan setan
Dikeluarkan
Dari cahaya menuju
Kegelapan

Cahaya itu
Semakin benderang
Di hati orang iman
Orang beriman
Berwalikan Tuhan
Dikeluarkan
Dari kegelapan
Menuju cahaya

Banyak manusia
Buta
Di tengah terang
Cahaya
Lantaran terlena
Bujuk rayu dunia

Banyak manusia
Melihat
Di tengah kelam
Kegelapan
Lantaran terpesona
Petunjuk cahaya

Manusia berada
Pada dua
Pilihan antara
Menuju cahaya iman
atau
Menuju kekufuran
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan