Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Menjadi Muslim Kaffah
Written By Amoe Hirata on Senin, 01 Agustus 2016 | 11.33
Setiap orang mengaku menjadi Muslim. Masalahnya, Muslim bagaimanakah
yang dikehendaki oleh Allah Ta`ala? Kajian tafsir berikut akan
menjawabnya dengan jelas.
A.
Ayat Kajian : Al-Baqarah(208)
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ
خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨ فَإِن
زَلَلۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡكُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ
عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٠٩
B.
Arti Mufradāt :
ٱلسِّلۡمِ : Islam
كَآفَّةٗ : Keseluruhan
خُطُوَٰتِ : Langkah-langkah
عَدُوّٞ : Musuh
مُّبِينٞ : Nyata
فَإِن
زَلَلۡتُم : Maka jika kalian tergelincir
ٱلۡبَيِّنَٰتُ : Keterangan atau bukti
C.
Arti Ayat :
Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(208) Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti
kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(209)
D.
Sebab Turun :
Diriwayatkan oleh
Ibnu Jarir dari Ikrimah, ia berkata, ‘Abdullah bin Salam, Tsa`labah, Ibnu
Yamin, Asad & Usaid anak Ka`ab, Sa`id bin `Amru, dan Qais bin Zaid
–semuanya berasal dari Yahudi- berkata: “Wahai Rasulullah! Hari Sabtu adalah
hari agung yang biasa kami hormati. Biarkan kami mengagungkannya! Sesungguhnya
Taurat adalah Kitab Allah, maka perkenankan kami berdiri(membacanya) di malam
hari.” Lalu turunlah ayat ini(Al-Baqarah: 208).
E.
Tafsir :
Ayat ini dimulai
dengan ‘panggilan kasih sayang’ dari ar-Rahmān, “Hai orang-orang yang
beriman,”.
Terkait ayat yang diawali dengan ungkapan ini, Abdullah bin Mas`ud berkomentar,
‘Jika kamu mendengar Allah berfirman: {Ya ayyuhalladzīna Āmanu}, maka dengarkan dengan
baik, karena (sesudahnya pasti) ada kebaikan yang diperintah, atau kejelekan
yang dilarang.’
Siapa
saja yang mengaku beriman, maka perhatikan dengan sungguh-sungguh perintah atau
larangan pada ayat ini. Di sini ada satu perintah dan satu larangan.
Perintahnya, ‘masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,”. Masuk Islam
itu harus menyeluruh, tak boleh sepotong-sepotong.
Sebagaimana
sebab turunnya ayat ini, para sahabat yang sebelumnya beragama Yahudi, masih
ingin meminta pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam agar
dibiarkan mengagungkan ritual keagamaan
di hari Sabtu, bahkan membaca kitabnya di malam hari. Namun, ayat ini
menolaknya. Berislam harus total, tidak boleh parsial.
Ketika
Umar ta`jub dengan kitab Taurat, Rasul marah, dan menyebutnya sebagai mutahawwik(orang
bingung). Ini karena, apa yang ada dalam Islam, melalui sumbernya al-Qur`an
sudah cukup. Tidak perlu mengambil lagi dari kitab-kitab lainnya. Cukuplah
Islam dilaksanakan secara kaffah.
Suatu saat Mutsannah bin al-Haritsah(sesepuh suku Syaiban) memberi
penawaran menarik pada Rasulullah. Ia dan sukunya mau membela, mengikutinya
asal di kawasan Arab saja. Rasul pun dengan tegas dan penuh adab menolak,
sembari berujar: “Sesungguhnya agama Allah[Islam] ta`ala tidak akan
ditolong oleh-Nya, melainkan orang yang (mau memperjuangakan) segenap sisinya,”(al-Sirah
al-Nabawiyah wa akhbaru al-Khulafa, Ibnu Hibban, 1/101).
Peristiwa itu mengajarkan pelajaran penting: jika mengaku mengikuti
nabi, memperjuangkan Islam, maka harus pada segenap sisinya.
Mengambilnya sepotong-sepotong hanya akan membuat Islam jadi rancu.
Akibatnya, persatuan umat sulit terwujud. Umat lain pun dengan mudah mengadu
domba umat Islam.
Kemudian, yang dilarang dalam ayat ini ialah, ‘dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan,’. Imam Qatadah dan Sadyu
–sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya-, menyatakan: “Yang dimaksud
dengan langkah-langkah setan ialah setiap (perbuatan) maksiat terhadap Allah ta`ala.”
Dinamika yang terjadi pada kisah Adam, Hawa dan Iblis adalah contoh riil
bagaimana moyangnya setan(Iblis), membuat langkah-langkah yang menggelincirkan
Adam dari ketaatan menuju kemaksiatan.
Langkah Iblis sangat halus, lembut, licin, dan strategis. Adam dan Hawa
dirayu, dibujuk, diyakinkan bahwa pohon yang dilarang malah membuatnya kekal
dan menjadi raja. Di sini yang dirusak Iblis bukan perintah Allah, tapi maksud
dari perintahNya. Sebegitu halusnya sehingga Adam dan Hawa pun terjatuh pada
kemaksiatan. Dewasa ini-bahkan sejak dulu-, cara-cara atau langkah-langkah
Iblis itu ternyata banyak diikuti oleh orang-orang liberal.
Apa hubungan antara perintah berislam secara total dengan larangan
mengikuti langkah setan? Yang gampang dimengerti ialah: Berislam secara total
itu tak gampang. Di sana ada aral merintang buatan setan. Maka, usaha untuk
menjalankan Islam secara total, harus diiringi kesadaran mendalam tentang
langkah-langkah setan yang setiap saat bisa menggelincirkan jika tak hati-hati.
Suatu saat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam –sebagaimana
riwayat Hakim dan Ahmad- membuat garis lurus, dan garis miring di samping kanan
dan kirinya. Garis lurus itu dikatakan sebagai jalan Allah(Islam). Sedangkan
garis miring di sampingnya adalah jalan setan. Maka dengan tegas Allah
berfirman: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”(Qs. Al-An`am: 153).
Ayat
ini dipungkasi dengan penegasan dariNya, “Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu.” Terkait ayat ini, Syaikh al-Maraghi menerangkan: “Yaitu
janganlah kalian mengikuti jalannya setan dalam upaya menyesatkan dan membisiki
manusia berbuat kejelekan dan kekejian. Ia adalah musuh bagi kalian yang jelas
permusuhannya. Setan merupakan penumbuh lintasan pikiran yang jelek, dan
pendorong orang melakukan tindak kriminal serta dosa.”
Mungkin
terbesit pertanyaan di benak pembaca, ‘Bukankah setan adalah mahluk ghaib yang
tak bisa diindra, lalu mengapa dikatakan sebagai musuh yang nyata?’. Ternyata,
yang dimaksud dengan musuh yang nyata –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir-
ialah: nyata permusuhannya. Maksudnya, sejak awal Iblis, saitan dan manusia
sudah dijadikan sebagai musuh.
Karena
itu Allah berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka
anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak
golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal.”(Qs.
Fathir: 6).
Setelah
terang posisi setan adalah musuh nyata, ayat selanjutnya menjelaskan: “Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti
kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Baqarah:
209).
Syaikh
Sa`adi menjelaskan: “Pada ayat ini ada ancaman dan peringatan keras yang dapat
menghindarkan diri dari ketergelinciran(kesalahan). Allah Yang Maha Perkasa dan
Bijaksana, bisa memaksa orang yang bermaksiat dengan kekuatanNya serta menyiksa
pendosa berdasarkan hikmahNya. Di antara bentuk kebijaksanaannya ialah menyiksa
orang yang berbuat maksiat dan pendosa.
Jika
sudah berusaha -tanpa ada unsur kesengajaan-, tapi tetap tergelincir layaknya
Nabi Adam dan Hawa, maka cara yang paling tepat adalah segera bertaubat laiknya
keduanya dengan doa: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(Qs. Al-A`rāf: 23).
Wallahu a`lam bi al-Shawāb
F.
Pelajaran :
1. Wajib menerima Islam
secara utuh
2. Dilarang menjalankan ajaran Islam secara
parsial
3. Setiap (orang) yang
menghalalkan sesuatu yang haram, serta meninggalkan kewajiban adalah pengikut
setan
4. Haram mengikuti langkah-langkah
setan
5. Perlu mengetahui dan
waspada terhadap langkah-langkah setan
6. Setan adalah musuh
yang nyata
7. Kesalahan yang
disengaja(lantaran sudah tahu bukti jelas) akan mengakibatkan siksa
8. Penjelasan tentang
kekuatan dan kebijaksanaan Allah
G.
Rujukan :
1. Lubābu al-Nuqūl, As-Suyuthi
2. Tafsīr al-Qur`ān al-`Aẓīm, Ibnu Katsir
3. Tafsīr al-Marāghi,
4. Aisar al-Tafāsir, Abu Bakar Jabir
al-jazairi
5. Taisīr al-Karīm al-Rahmān, Sa`adi
6. Tafsīr wa Bayān Mufradāti al-Qur`ān, Muhammad Hasan
al-Himshi
7. al-Sīrah al-Nabawiyah
wa Akhbāru al-Khulafā, Ibnu Hibban
8. Mustadrak, Hakim dan Musnad, Ahmad bin Mushtafa al-Maraghi
[Pernah terbit di Majalah: Al-Muslimun, Bangil].
QURBAN: Sebagai Stabilitas Sosial
Written By Amoe Hirata on Kamis, 24 September 2015 | 11.17
Daging-daging
unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,
tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya
kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.(Qs:al-Haj,
37)
Sebelum
Islam, ketika masyarakat Arab jahiliyah melakukan penyembelihan untuk
berhala-berhala. Darah-darah yang mengalir dari sembelihan itu dilumurkan pada
berhala-berhala itu. Seakan-akan mereka berkata: “Kami telah menyembelih
untukmu, inilah darah sembelihan”. Perbuatan ini menunjukkan kepandiran dan
kebodohan mereka. Mengapa demikian? Mereka berpendapat jika berhala-berhala itu
tidak dilumuri darah maka mereka tidak akan tahu kalau sembelihan itu hanya
diperuntukkan berhala.
Disini
Allah memperingatkan pada permasalahan tadi:(”Daging-daging unta dan darahnya
itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah....). Artinya Allah
tidak akan mengambilnya sedikitpun karena pada dasarnya Dia sangat mampu
memberikan kaum faqir --yang kau disuruh memberi kepada mereka -- dan Dia juga
mampu menjadikan mereka bukan faqir sepertimu.
Allah
hanya menginginkan terjadi keseimbangan pada masyarakat yang notabene berbeda
dalam status kaya dan miskin. Masyarakat bukanlah alat mekanik yang berjalan
hanya pada satu irama. Ia merupakan kehidupan manusia. Maka seharusnya berdiri
berlandaskan keperluan dan saling menyempurnakan.
Fenomena
ini mengharuskan terjadinya tingkatan dan perbedaan diantara manusia, kemudian ‘syariat
langit’ ikut serta, lalu diambilah harta dari orang yang kuat untuk orang
lemah, dari orang kaya untuk orang miskin,,,,Dengan demikian disaat itu juga
kita telah melenyapkan perasaan dengki, penyimpangan, kebencian dan
pemberontakan.
Ketika
orang kuat memberi orang lemah dari kekuatanya maka orang lemah itu tidak akan
dengki kepadanya, dan akan selalu didoakan tetap langgeng olehnya, karena
kebaikan yang diperoleh orang kuat akan dikembalika pada orang lemah. Ketika si
kaya mendermakan hartanya pada orang fakir maka hal itu akan mendamaikan
hatinya dan itu dapat memberangus sifat iri dan dengki seraya berdoa:” semoga
Allah melanggenglan nikmat yang diberikan pada si kaya”.
Perbedaan
tingkat ini seharusnya sebagai perwujudan dari sabda rasulullah shallallhu
alaihi wassalam: “Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagaikan
bangunan yang kokoh, yang satu sama lain saling menguatkan”(Muttafaqun
`alaih).
Karena
itulah kita melihat jika orang kaya yang biasa berderma ditimpa bencana
orang-orang lain akan ikut bersedih dan merasa sakit atas bencana yang menimpa
hartanya, ini karena harta dan kebaikannya terlimpah pada mereka. Penduduk desa
hingga saat ini ada kebiasaan dimana seorang yang memiliki sapi atau kerbau
memerah susunya untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga dan orang yang sedang
memerlukanya. Maka tak heran jika mereka mendoakan untuknya agar hartanya
senantiasa diberkati Allah. Jika pemberi itu ditimpa kejelekan maka secara
spontan mereka akan bersedih karenanya.
Jadi:
Jika engkau mendermakan nikmat Allah yang diberikan untukmu pada orang yang
tidak mampu maka hal itu akan menjaga dirimu dari banyaknya rasa iri dan
dengki. Jika engkau tidak melakukan hal itu maka akan terjadi musykilah pada
dirimu.
Allah
berfirman:(”tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...) Bertakwa
kepada Allah berarti mengikuti manhaj-Nya. Ketaatan pada Allah itu diraih
dengan mengikuti manhaj dan tidak bermaksiat, berdzikir tidak lupa, bersyukur
tidak kufur.
Cara
taat itu dengan jalan mengikuti manhaj:” lakukan(perintah)” dan “jangan
lakukan(larangan)” kemudian ia mengingat dan tidak melupakanya; ini karena
terkadang ada hamba yang taat pada Allah dan melaksanakan manhaj-Nya, tapi
nikmat yang diberikan Allah malah menyibukkan dirinya dari mengingat Allah.
Sedangkan manhaj mengajakmu selalu ingat bahwa setiap nikmat yang telah
diberikan oleh-Nya. Jangan sekali-kali kau melupakan nikmat Sang Pemberi nikmat.
Kemudian
Allah berfirman:”( Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya
kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar
gembira kepada orang-muhsinin(orang yang berbuat baik”.) Maksudnya ialah supaya
engkau mengingat dan bersyukur atas segala taufiq yang diberikan oleh-Nya
berupa menjalankan ketaatan hanya untuk-Nya. Maka berilah kabar gembira pada
orang-orang muhsin.
Muhsinin merupakan bentuk plural dari kata muhsin,
sedangkan ihsaan merupakan martabat keimanan yang tertinggi. Ihsan itu ialah
hendaknya engkau berbuat baik melebihi apa yang telah diwajibkan Allah padamu.
Jadi intinya kebaikan yang dilakukan bukan hanya kewajiban tetapi lebih dari
kewajiban dan tetap dalam bingkai manhaj Allah(Disarikan dari Tafsir Sya`rawi).
Menyikapi Bencana Secara Proporsional
Written By Amoe Hirata on Selasa, 15 September 2015 | 04.45
Amoe Hirata
Musibah
jatuhnya crane(alat derek) perluasan masjidil Haram beberapa waktu lalu
–yang memakan korban lebih dua ratus jama`ah haji ketika melaksanakan shalat
Maghrib- oleh umat Islam disikapi berbeda.
Sebagian memandangnya dengan
penuh optimis bahwa itu sudah menjadi takdir Allah, dan tentu saja mereka akan
mendapat pahala mati syahid karena mati dalam keadaan beribadah di tanah suci.
Tak jarang juga yang sinis mencari kambing hitam. Mereka berusaha menyalahkan
pihak kerajaan Saudi Arabia, karena dinilai ceroboh dalam menjaga stabilitas
keamanan dan kenyamanan bagi jama`ah haji.
Terlepas dari penyikapan pro
dan kontra seputar musibah duka tersebut, seyogyanya umat Islam menghadapinya
secara proporsional(sesuai dengan porsi; sebanding; seimbang). Karena pada
hakikatnya, semua musibah yang terjadi di bawah ketentuanNya.
Pada tulisan kali ini, akan
dibahas kajian tafsir yang berjudul: “Menghadapi Musibah Secara Proporsional”.
Semoga umat Islam dalam menghadapi setiap musibah yang terjadi bisa
meletakkannya secara proporsiaonal, dan tidak saling menyalahkan.
I.
Ayat Kajian : Qs. Al-Hadid(22-24)
مَآ
أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ
مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢ لِّكَيۡلَا
تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ
لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ٢٣ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ
وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِۗ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ
ٱلۡحَمِيدُ ٢٤
II.
Arti Mufradat :
مِّن
قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ : Sebelum Kami menciptakannya
يَسِيرٞ : Mudah
تَأۡسَوۡاْ : Kalian berduka cita
عَلَىٰ
مَا فَاتَكُمۡ : Apa yang telah luput atasmu
وَلَا
تَفۡرَحُواْ : Kalian tidak bergembira
مُخۡتَالٖ
فَخُورٍ : Sombong, membanggakan diri
وَمَن
يَتَوَلَّ : Dan barangsiapa berpaling
III.
Arti Ayat :
Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah(22)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri(23)
(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia
berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah)
maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji(24)
IV.
Tafsir Ayat :
Setelah ayat sebelumnya
membahas tentang anjuran bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang seluas
langit dan bumi, pada ayat ini Allah
membicarakan masalah penting yang pasti dialami bumi dan manusia, yakni:
musibah(yang masuk dalam kategori qadla dan qadarNya). Allah berfirman: “Tiada suatu musibah pun
yang menimpa di bumi” seperti kekeringan. “dan
(tidak pula) pada dirimu sendiri” seperti sakit dll. Syaikh Abdurrahman
As-Sa`adi menjelaskan bahwa kata mushibah pada ayat ini bersifat umum(mencakup yang baik dan yang
buruk). Jadi, kurang tepat jika kata
musibah selalu diidentikkan dengan sesuatu yang buruk(sebagaimana anggapan
kebanyakan orang awam).
Semua yang menimpa manusia diterangkan olehNya: “melainkan telah tertulis dalam kitab
(Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” Artinya musibah yang masuk
dalam qadla dan qadarnya sudah tercatat dalam kitab bernama Lauhul Mahfuzh yang
berisi semua apa yang terjadi, sebelum penciptaannya. Nabi bersabda:
قدَّر الله المَقَادِيْرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ
أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah
telah menentukan takdir-takdir sebelum menciptakan langit dan bumi (selama)
lima puluh ribu tahun”(Hr. Ahmad)
“Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. Ya,
meskipun akal manusia tidak sampai, hal demikian sangat mudah bagi Allah.
Bukankah jika Ia berkehendak, maka tinggal mengucapkan kun fa yakun!(Jadilah!
Maka akan terjadi. Baca: Yasin:: 82). Membaca ayat ini, seyogyanya semakin
bertambah keimanan Mu`min, dan semakin tenang karena pada dasarnya segala yang
menimpa telah tertera. Tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa kehendakNya.
Setelah mengetahui bahwa musibah(yang buruk maupun yang
baik) semua telah tercatat di Lauhil Mahfud, mungkin di antara kita akan
bertanya: Apa hikmah di balik penetapannya?
Allah ta`ala berfirman: “(Kami jelaskan yang
demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari
kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya
kepadamu.” Semua itu dijelaskan agar manusia dapat menghadapinya secara
proporsional. Ada sebuah riwayat:
مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ
لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
“Apa saja yang menimpamu bukan untuk menyalahkanmu,
dan apa saja yang menyalahkanmu bukan untuk menimpamu”(Hr. Abu Daud).
Maksudnya, musibah adalah takdir Allah yang patut diterima, bukan dimaksudkan
untuk menyalahkan hamba.
Karena itu, seharusnya kita tidak terlalu berduka cita
ketika ditimpa keburukan, serta tidak terlalu berbangga diri ketika mendapat
kebaikan. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda terkait sikap
Mu`min menghadapi musibah:
عَجَبًا لِأَمْرِ
الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ
إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُصَبَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Begitu mengagumkan keadaan orang beriman. Segala
kondisi baik baginya –dan itu tidak dimiliki seorang pun, melainkan orang
beriman- (yaitu) jika ia ditimpa kegembiraan, ia bersyukur, dan itu baik
baginya. Sedangkan ketika ditimpa bahaya(hal buruk), ia bersabar, maka itu baik
baginya”. Di sini, sabar dan syukur menjadi kunci yang proporsional dalam
menghadapi musibah yang terjadi.
Sikap yang berlebihan dalam menghadapi musibah hanya akan
mendapat kebencian Allah. Misalkan, ada orang yang diberih musibah(diuji)
dengan kesenangan, lantas ia sombong tak mau bersyukur, bahkan berbangga diri,
maka orang tersebut harus ingat: “Dan Allah tidak menyukai setiap
orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
Masih segar dalam ingatan pembaca mengenai kisah
Qorun(Qs. Al-Qoshos: 78). Kesombongan dan kebanggaan dirinya mengenai harta
yang dimiliki(sampai menafikan pemberian Allah), pada akhirnya membuatnya
tenggelam di tanah.
Bagaimana misalnya agar kita selalu bersyukur, terutama dalam masalah
keduniaan? Jawabannya simpel tapi berat, yaitu: Tidak melihat pada orang yang
lebih mampu darinya, tetapi melihat orang yang dibawahnya adalah salah satu
cara jitu yang diajarkan nabi agar Muslim tetap bisa menjaga ritme syukur pada Allah ta`ala sebagaimana sabda
nabi: “Lihatlah orang di
bawah kalian, dan janganlah melihat orang yang di atas kalian. Yang demikian
itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian”(Hr.
Muslim).
Siapakah
orang yang masuk dalam kategori sombong dan membanggakan diri? Allah ta`ala
menjelaskan: “(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.”
Ada dua karakter penting yang menjelaskan kategori sombong dan berbangga
diri. Pertama, kekikiran. Pelit dan merasa berat tangan dalam memberi. Kedua,
menyuruh orang lain berbuat kikir. Ternyata tak cukup dengan dirinya sendiri,
malah memprovokasi orang lain untuk berbuat seperti yang ia lakukan.
Orang seperti ini –meminjam istilah Alquran- bukan saja sebagai orang yang fasid(rusak)
tapi juga mufsid(penebar kerusakan). Lihat! Betapa besar dampak
negatifnya, jika musibah kenikmatan malah hanya membuatnya sombong dan
berbangga diri.
Semua itu sejatinya adalah rambu-rambu dari Allah yang perlu ditaati: “Dan barangsiapa yang berpaling (dari
perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi
Maha Terpuji”. Pilihan ada pada diri kita. Jika berpaling, jangan pernah
berfikir bahwa Allah merasa rugi, atau hina. Justru orang yang berpalinglah
yang akan rugi dan hina.
Kita tentu ingat kisah-kisah orang-orang pongah di sepanjang sejara seperti
Fir`aun, Namrud dll. Mereka sombong dan berpaling dari peringatan para nabi,
akhirnya hidupnya berakhir dengan penderitaan abadi. Akhirnya, semoga kita bisa
mengambil ibrah dari ayat-ayat di atas.
V.
Pelajaran :
1. Ketetapan qadla dan
qadar Allah ta`ala
2. Keimanan pada qadla
dan qadar harus selalu ditanamkan
3. Kepastian adanya
Lauhil Mahfudz
4. Penjelasan tentang
hikmah qadla dan qadar: Tidak berduka dengan musibah buruk, dan tidak terlalu
bergembira dengan musibah baik
5. Anjuran menghadapi
musibah secara proporsional
6. Haramnya sifat:
a. sombong
b. berbangga diri
c. bakhil
d. menyuruh orang
berbuat bakhil
7. Tercelanya berpaling
dari perintah Allah
8. Allah Maha Kaya dan
Terpuji
VI.
Referensi :
1. Tafsir al-Qur`an
al-`Adzim, karya: Ibnu
Katsir
2. Aisar Tafāsīr, karya: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
3. Taisir Karim Rahman, karya: Syaikh
Abdurrahman As-Sa`adi
4. Tafsir wa Bayan
Mufradati al-Qur`an `ala mushhafi al-Tajwid, karya: Dr. Muhammad Hasan al-Himshi
5. Shahih Muslim, karya: Imam Muslim
6. Musnad Ahmad, karya: Imam Ahmad
7. Sunan Abu Daud, karya: Imam Abu Daud
8. `Aunu al-Ma`bud, karya: Syarfu al-Haq al-`Adhim Abadi
Ketika Muslim Bangga dengan Kuantitas
Written By Amoe Hirata on Senin, 03 Agustus 2015 | 04.36
Amoe Hirata
Bagaimana jika umat Islam mulai bangga dengan kuantitas,
lantas mengabaikan kualitas? Apakah mereka akan bangkit dan bangun atau malah
jatuh melamun? Nyatanya, kuantitas (mayoritas) yang tak disertai kualitas hanya
menjadi malapetaka umat.
Betapa banyak jumlah umat Islam saat ini! Namun, mampukah
mereka berkontribusi terhadap umat manusia? Mampukah mereka membantu
saudara-saudaranya yang teraniaya? Mampukah mereka mewujudkan rahmat Islam ke
seantero alam? Jawabannya ada pada tafsir ayat berikut:
I. Ayat Kajian : At-Taubah(25-26)
لَقَدۡ
نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ
أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ
ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ٢٥ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ
سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ
تَرَوۡهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦
II. Arti Mufradat :
نَصَرَكُمُ
ٱللَّهُ : Allah (telah) menolong
kalian
مَوَاطِنَ : 2Tempat-tempat
وَيَوۡمَ
حُنَيۡنٍ : Dan pada (perang) Hunain
أَعۡجَبَتۡكُمۡ : Telah membuat kalian
ta`jub(bangga)
فَلَمۡ
تُغۡنِ عَنكُمۡ : Maka tidak berguna dari kalian
وَضَاقَتۡ : Dan ia telah menjadi sempit
بِمَا
رَحُبَتۡ : Dengan keluasannya
وَلَّيۡتُم
مُّدۡبِرِينَ : Kalian (telah) berpaling ke
belakang (dengan tercerai berai)
سَكِينَتَهُ : Ketenangannya
جُنُودٗا : Tentara-tentara
جَزَآءُ : Balasan, ganjaran
III. Arti Ayat :
25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para
mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain,
yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah
yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas
itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan
bercerai-berai
26. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya
dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang
kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang
kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir
IV.
Asbāb Nuzūl :
أَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ عَنِ الرَّبِيْعِ ابْنِ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً
قَالَ يَوْمَ حُنَيْن لَنْ نُغْلَبْ مِنْ قِلَّةٍ وَكَانُوْا اثْنَي عَشَرَ أَلْفًا
فَشَقَّ ذلِكَ عَلَى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فَأنْزلَ اللهُ "وَيَوْمَ
حُنينٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كثرتُكم" الآية
Diriwayatkan
oleh Baihaqi dari Rabi` bin Anas dalam kitab al-Dalāil bahwa ada seorang
laki-laki berkata pada perang Hunain, ‘Kita tidak akan dikalahkan dari (jumlah)
sedikit’. Pada waktu itu mereka (berjumlah) sepuluh ribu. (Pernyataan orang
itu) membuat Rasulullah berat (hati). Lalu turunlah ayat: وَيَوْمَ حُنينٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كثرتُكم[(ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena
banyaknya jumlah(mu)].
V. Tafsir Ayat :
Tidak diragukan lagi, bagi orang-orang beriman
Allah adalah sebagai penolong atas segenap perjuangan-perjuangan mereka. Pada
ayat ini dinyatakan, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin)(25)”. Dalam al-Qur`an
Allah ta`ala dikatakan sebagai khairu al-Nāshirīn(Sebaik-baik penolong. Lihat: Ali Imran, 150).
Maka sudah sepatutnya, setiap Mu`min hanya memohon
pertolonganNya atas segenap perjuangan yang akan ditorehkan. Dalam sejarah
pertolongan-pertolonganNya sungguh terbukti. Betapa banyak umat Islam dimenangkan
dalam perjuangannya menegakkan nilai-nilai Islam, “di medan peperangan yang
banyak”(25).
Lebih khusus Nabi Muhammad beserta sahabat dan umatnya
kemudian diingatkan pada peristiwa sejarah, “dan (ingatlah) peperangan
Hunain(lembah yang terletak di antara Makkah dan Thaif), yaitu diwaktu kamu
menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu)(25)”. Menarik untuk ditelaah di
sini, kebanyakan kemenangan-kemenangan yang didapat, selalu beriring jumlah
pejuang yang sedikit. Namun pada perang Hunain(perang yang terjadi pada bulan
Syawwal, tahun 8-H pasca Fath Makkah), jumlah mereka menjadi lebih banyak.
Digambarkan dalam sejarah, jumlah mereka saat itu sekitar
sepuluh ribu orang. Jumlah yang banyak ini ternyata menimbulkan penyakit hati
berupa: ujub(terlalu bangga dengan kuantitas, sehingga melupakan kualitas dan
pertolongan Allah). Namun apakah jumlah berefek pada kemenangan dan pertolongan
Allah?
Nyatanya Allah berfirman, “maka jumlah yang banyak itu
tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun”(25). Di sepanjang sejarah memang
demikian. Pejuang-pejuang Muslim sukses justru dengan jumlah yang sedikit.
Perang Badar Kubra, Khandaq, Yarmuk, Qadisiyah, dan lain sebagainya adalah
contoh bahwa mereka menang bukan dengan kuantitas.
Bahkan, dalam al-Qur`an sendiri ditegaskan bahwa betapa
banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak, sebagaimana
yang tergambar dalam kisah Thalut dan Jalut. Allah berfirman:
قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ
أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ
كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٢٤٩
Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui
Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta
orang-orang yang sabar”(Qs. Al-Baqarah: 249).
Meski jumlah pasukan Thalut sedikit, namun mereka di
samping mendapat izin Allah mereka juga memiliki keimanan, kekuatan dan
kesabaran yang luar biasa(ini menggambarkan kualitas). Karena itulah, meski
sedikit, mereka layak mendapat kemenangan. Apalah arti kuantitas jika tak
beriring kualitas. Menurut penuturan sahabat yang bernama Tsauban, suatu saat
nabi mengingatkan :
يُوشِكُ الْأُمَمُ
أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ
وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ
مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ
اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“(Akan datang suatu masa di mana) umat-umat lain akan
memperubutkan kalian sebagaimana hidangan yang (berada) di atas meja makan”.
Lalu ada (sahabat) yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah karena pada waktu
itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Bahkan kalian pada waktu itu
banyak. Akan tetapi kalian ibarat buih di lautan. Allah pasti akan mencabut
kehebatan kalian dari dada musuh kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn pada
hati kalian.” Ada (sahabat) yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah!Apa yang
dimaksud dengan wahn?”. Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati”(Hr.
Abu Daud dan Ahmad).
Peristiwa
di lembah Hunain akan terus terjadi jika umat Islam terlalu membanggakan
kuantitas tanpa memedulikan kualitas. Akibatnya sangat jelas, “dan bumi yang
luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan
bercerai-berai(25)”. Pertama, menjadikan hati sempit. Kedua,
berujung pada kekalahan.
Sebagai contoh –tanpa bermaksud membatasi-, kita bisa
mengetahui betapa Nashir Lidinillah kalah telak dalam perptempuran `Iqab karena
terlalu PD dengan jumlah pasukan yang banyak. Demikian pula perang Balath
Syuhada(di Andalusia), perang
Khandaq(bersama Abdurrahman An-Nashir), yang kesemuanya memiliki kesamaan
dengan subtansi perang Hunain.
Maka dari itu, tidak berlebihan jika suatu ketika Umar
bin Khattab –melalui suratnya- mengingatkan Sa`ad bin Abi Waqash bahwa yang ia
takuti bukan terutama kekuatan musuh(betapapun banyaknya). Yang ia takuti
justru jika para tentara bermaksiat. Karena menurutnya, maksiat bisa
menghancurkan kekuatan tentara Islam (sebanyak apapun jumlahnya). Beliau juga
measihatkan, sebaik-baik bekal adalah takwa pada Allah.
Peristiwa
Hunain tidak melulu memberikan pelajaran tentang bahaya bangga berlebihan atau
ujub terhadap kuantitas, namun juga memberi ruang untuk memperbaiki kesalahan.
Bila umat Islam mau berbenah maka simak dengan baik firman Allah ta`ala,
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada
orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada
melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan
demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir(26).”
Ketika barisan sahabat kocar-kacir, maka Rasulullah
memberi mandat pada Abbas bin Abdul Muthallib untu menyatukan para sahabat yang
centang-perenang dengan suaranya yang keras. Pada akhirnya, keteguhan dan keimanan nabi beserta
sahabat-sahabatnya yang masih kokoh justru memberikan anugerah ilahi. Pertama,
turunnya perasaan tenang. Kedua, diberi bantuan bala tentara yang tak
disangka-sangka(yakni para malaikat dan pasukan lainnya). Ketiga,
mendapat kemenangan setelah kalah.
Di
sepanjang sejarah emas umat Islam, ada banyak perjuangan-perjuangan istimewa
yang perlu digali dan diteladani maknanya dari pejuang-pejuang Muslim
sejati(Spt: Badar Kubra, Ahzab, Fathu Makkah, Qadisiyah, Yarmuk, Ainun Jalut
dll).
Mereka
‘dihadirkan’ Allah ta`ala ke dunia dengan cap istimewa : “sebaik-baik
umat” yang dipersembahkan untuk umat manusia(lihat: Ali Imran: 110). Umat yang
dalam perjalanan sejarah emasnya, mampu menjadi mercusuar dan soko guru
peradaban dunia.
Meski
demikian, yang menjadikan istimewa bukan sekadar kuantitas, mereka justru mampu
menjadi terbaik lantaran berkualitas, meski pada umumnya sedikit. Orang-orang
berkualitas inilah –setelah izin dan pertolongan- yang pada akhirnya mampu
menggapai kesuksesan gemilang. Masihkah kita bangga dengan kuantitas di saat
umat Islam lagi krisis ketaatan dan kualitas?
VI. Pelajaran :
1. Haramnya ujub pada
diri sendiri dan pada amal
2. Ujub faktor
penghalang kesuksesan
3. Keutamaan orang-orang
beriman
4. Pertolangan sejati
hanya berasal dari Allah ta`ala
5.
Pentingnya belajar sejarah sebagai pelajaran untuk
hari ini dan masa depan. Karena sejarah kembali terulang
6. Sifat ujub
(kebanggaan yang berlebihan) melahirkan bencana
7. Ketaatan dan keimanan
mengantar pada pertolongan dan kemenangan
8. Faktor utama
kemenangan bukan dari kuantitas tapi murni dari Allah dan kualitas
9. Ujung dari keimanan
adalah pertolongan dan kemenangan. Sedangkan sikap ujub dan kekafiran berujung
pada penistaan dan kekalahan
10. Keimanan membuat hati
tenang dan lapang
VII.
Referensi :
1. Lubābu al-Nuqūl fī Asbābi al-Nuzūl, karya: Imam Jalaluddin Suyuthi
2. Tafsīr wa Bayān Mufradāt al-Qur`ān `ala Mushafi al-Tajwīd ma`a Asbābi al-Nuzūl li al-Suyūṭi, karya: Dr. Muhammad Hassan al-Himshi
3. Taisīr al-Karīm al-Rahmān, karya: Syaikh Al-Sa`adi
4. Tafsīr al-Qur`ān al-`Aẓim, karya: Imam Ibnu Katsir
5. Tafsīr al-Sya`rawi, karya:
Syaikh Muhammad Mutawalli Sya`rawi
6. Aisaru al-Tafāsīr, karya: Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi
7. Amīru al-Mu`minīn Umar bin al-Khatthab, karya: Muhammad Shallabi
8. Sunan Abu Daud, karya: Imam Abu Daud
9. Dalāil al-Nubuwwah,
karya: Imam Baihaqi
10. Musnad Ahmad, karya: Imam Ahmad bin Hanbal





