Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Ribāth Dalam Al-Qur`an

Written By Amoe Hirata on Rabu, 05 April 2017 | 13.37

DALAM al-Qur’an ada kata rabth dan ribāth. Rabth merupakan fi’il muta’addi (transitif: memerlukan objek) derivasi kata ribāth yang berati mengikat atau menjalin.

Menjadi Muslim Kaffah

Written By Amoe Hirata on Senin, 01 Agustus 2016 | 11.33

      Setiap orang mengaku menjadi Muslim. Masalahnya, Muslim bagaimanakah yang dikehendaki oleh Allah Ta`ala? Kajian tafsir berikut akan menjawabnya dengan jelas.
A.    Ayat Kajian               : Al-Baqarah(208)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨ فَإِن زَلَلۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡكُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٠٩
B.     Arti Mufradāt           :
ٱلسِّلۡمِ           : Islam
كَآفَّةٗ            : Keseluruhan
خُطُوَٰتِ        : Langkah-langkah
عَدُوّٞ             : Musuh
مُّبِينٞ            : Nyata
فَإِن زَلَلۡتُم     : Maka jika kalian tergelincir
ٱلۡبَيِّنَٰتُ        : Keterangan atau bukti



C.    Arti Ayat                    :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(208) Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(209)


D.    Sebab Turun             :
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah, ia berkata, ‘Abdullah bin Salam, Tsa`labah, Ibnu Yamin, Asad & Usaid anak Ka`ab, Sa`id bin `Amru, dan Qais bin Zaid –semuanya berasal dari Yahudi- berkata: “Wahai Rasulullah! Hari Sabtu adalah hari agung yang biasa kami hormati. Biarkan kami mengagungkannya! Sesungguhnya Taurat adalah Kitab Allah, maka perkenankan kami berdiri(membacanya) di malam hari.” Lalu turunlah ayat ini(Al-Baqarah: 208).

E.     Tafsir              :
Ayat ini dimulai dengan ‘panggilan kasih sayang’ dari ar-Rahmān, “Hai orang-orang yang beriman,”. Terkait ayat yang diawali dengan ungkapan ini, Abdullah bin Mas`ud berkomentar, ‘Jika kamu mendengar Allah berfirman: {Ya ayyuhalladzīna Āmanu}, maka dengarkan dengan baik, karena (sesudahnya pasti) ada kebaikan yang diperintah, atau kejelekan yang dilarang.’
Siapa saja yang mengaku beriman, maka perhatikan dengan sungguh-sungguh perintah atau larangan pada ayat ini. Di sini ada satu perintah dan satu larangan. Perintahnya, ‘masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,”. Masuk Islam itu harus menyeluruh, tak boleh sepotong-sepotong.
Sebagaimana sebab turunnya ayat ini, para sahabat yang sebelumnya beragama Yahudi, masih ingin meminta pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam agar dibiarkan  mengagungkan ritual keagamaan di hari Sabtu, bahkan membaca kitabnya di malam hari. Namun, ayat ini menolaknya. Berislam harus total, tidak boleh parsial.
Ketika Umar ta`jub dengan kitab Taurat, Rasul marah, dan menyebutnya sebagai mutahawwik(orang bingung). Ini karena, apa yang ada dalam Islam, melalui sumbernya al-Qur`an sudah cukup. Tidak perlu mengambil lagi dari kitab-kitab lainnya. Cukuplah Islam dilaksanakan secara kaffah.
Suatu saat Mutsannah bin al-Haritsah(sesepuh suku Syaiban) memberi penawaran menarik pada Rasulullah. Ia dan sukunya mau membela, mengikutinya asal di kawasan Arab saja. Rasul pun dengan tegas dan penuh adab menolak, sembari berujar: “Sesungguhnya agama Allah[Islam] ta`ala tidak akan ditolong oleh-Nya, melainkan orang yang (mau memperjuangakan) segenap sisinya,”(al-Sirah al-Nabawiyah wa akhbaru al-Khulafa, Ibnu Hibban, 1/101).
Peristiwa itu mengajarkan pelajaran penting: jika mengaku mengikuti nabi, memperjuangkan Islam, maka harus pada segenap sisinya.
Mengambilnya sepotong-sepotong hanya akan membuat Islam jadi rancu. Akibatnya, persatuan umat sulit terwujud. Umat lain pun dengan mudah mengadu domba umat Islam.
Kemudian, yang dilarang dalam ayat ini ialah, ‘dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan,’. Imam Qatadah dan Sadyu –sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya-, menyatakan: “Yang dimaksud dengan langkah-langkah setan ialah setiap (perbuatan) maksiat terhadap Allah ta`ala.” 
Dinamika yang terjadi pada kisah Adam, Hawa dan Iblis adalah contoh riil bagaimana moyangnya setan(Iblis), membuat langkah-langkah yang menggelincirkan Adam dari ketaatan menuju kemaksiatan.
Langkah Iblis sangat halus, lembut, licin, dan strategis. Adam dan Hawa dirayu, dibujuk, diyakinkan bahwa pohon yang dilarang malah membuatnya kekal dan menjadi raja. Di sini yang dirusak Iblis bukan perintah Allah, tapi maksud dari perintahNya. Sebegitu halusnya sehingga Adam dan Hawa pun terjatuh pada kemaksiatan. Dewasa ini-bahkan sejak dulu-, cara-cara atau langkah-langkah Iblis itu ternyata banyak diikuti oleh orang-orang liberal.
Apa hubungan antara perintah berislam secara total dengan larangan mengikuti langkah setan? Yang gampang dimengerti ialah: Berislam secara total itu tak gampang. Di sana ada aral merintang buatan setan. Maka, usaha untuk menjalankan Islam secara total, harus diiringi kesadaran mendalam tentang langkah-langkah setan yang setiap saat bisa menggelincirkan jika tak hati-hati.
Suatu saat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam –sebagaimana riwayat Hakim dan Ahmad- membuat garis lurus, dan garis miring di samping kanan dan kirinya. Garis lurus itu dikatakan sebagai jalan Allah(Islam). Sedangkan garis miring di sampingnya adalah jalan setan. Maka dengan tegas Allah berfirman: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”(Qs. Al-An`am: 153).
Ayat ini dipungkasi dengan penegasan dariNya, “Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Terkait ayat ini, Syaikh al-Maraghi menerangkan: “Yaitu janganlah kalian mengikuti jalannya setan dalam upaya menyesatkan dan membisiki manusia berbuat kejelekan dan kekejian. Ia adalah musuh bagi kalian yang jelas permusuhannya. Setan merupakan penumbuh lintasan pikiran yang jelek, dan pendorong orang melakukan tindak kriminal serta dosa.”
Mungkin terbesit pertanyaan di benak pembaca, ‘Bukankah setan adalah mahluk ghaib yang tak bisa diindra, lalu mengapa dikatakan sebagai musuh yang nyata?’. Ternyata, yang dimaksud dengan musuh yang nyata –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir- ialah: nyata permusuhannya. Maksudnya, sejak awal Iblis, saitan dan manusia sudah dijadikan sebagai musuh.
Karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal.”(Qs. Fathir: 6).
Setelah terang posisi setan adalah musuh nyata, ayat selanjutnya menjelaskan: “Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Baqarah: 209).
Syaikh Sa`adi menjelaskan: “Pada ayat ini ada ancaman dan peringatan keras yang dapat menghindarkan diri dari ketergelinciran(kesalahan). Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana, bisa memaksa orang yang bermaksiat dengan kekuatanNya serta menyiksa pendosa berdasarkan hikmahNya. Di antara bentuk kebijaksanaannya ialah menyiksa orang yang berbuat maksiat dan pendosa.
Jika sudah berusaha -tanpa ada unsur kesengajaan-, tapi tetap tergelincir layaknya Nabi Adam dan Hawa, maka cara yang paling tepat adalah segera bertaubat laiknya keduanya dengan doa: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(Qs. Al-A`rāf: 23).
Wallahu a`lam bi al-Shawāb

F.     Pelajaran        :

1.      Wajib menerima Islam secara utuh
2.       Dilarang menjalankan ajaran Islam secara parsial
3.      Setiap (orang) yang menghalalkan sesuatu yang haram, serta meninggalkan kewajiban adalah pengikut setan
4.      Haram mengikuti langkah-langkah setan
5.      Perlu mengetahui dan waspada terhadap langkah-langkah setan
6.      Setan adalah musuh yang nyata
7.      Kesalahan yang disengaja(lantaran sudah tahu bukti jelas) akan mengakibatkan siksa
8.      Penjelasan tentang kekuatan dan kebijaksanaan Allah

G.    Rujukan         :
1.      Lubābu al-Nuqūl, As-Suyuthi
2.      Tafsīr al-Qur`ān al-`Aẓīm, Ibnu Katsir
3.      Tafsīr al-Marāghi,
4.      Aisar al-Tafāsir, Abu Bakar Jabir al-jazairi
5.      Taisīr al-Karīm al-Rahmān, Sa`adi
6.      Tafsīr wa Bayān Mufradāti al-Qur`ān, Muhammad Hasan al-Himshi
7.      al-Sīrah al-Nabawiyah wa Akhbāru al-Khulafā, Ibnu Hibban
8.      Mustadrak, Hakim dan Musnad, Ahmad bin Mushtafa al-Maraghi
[Pernah terbit di Majalah: Al-Muslimun, Bangil].

QURBAN: Sebagai Stabilitas Sosial

Written By Amoe Hirata on Kamis, 24 September 2015 | 11.17

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.(Qs:al-Haj, 37)
Sebelum Islam, ketika masyarakat Arab jahiliyah melakukan penyembelihan untuk berhala-berhala. Darah-darah yang mengalir dari sembelihan itu dilumurkan pada berhala-berhala itu. Seakan-akan mereka berkata: “Kami telah menyembelih untukmu, inilah darah sembelihan”. Perbuatan ini menunjukkan kepandiran dan kebodohan mereka. Mengapa demikian? Mereka berpendapat jika berhala-berhala itu tidak dilumuri darah maka mereka tidak akan tahu kalau sembelihan itu hanya diperuntukkan berhala.
Disini Allah memperingatkan pada permasalahan tadi:(”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah....). Artinya Allah tidak akan mengambilnya sedikitpun karena pada dasarnya Dia sangat mampu memberikan kaum faqir --yang kau disuruh memberi kepada mereka -- dan Dia juga mampu menjadikan mereka bukan faqir sepertimu.
Allah hanya menginginkan terjadi keseimbangan pada masyarakat yang notabene berbeda dalam status kaya dan miskin. Masyarakat bukanlah alat mekanik yang berjalan hanya pada satu irama. Ia merupakan kehidupan manusia. Maka seharusnya berdiri berlandaskan keperluan dan saling menyempurnakan.
Fenomena ini mengharuskan terjadinya tingkatan dan perbedaan diantara manusia, kemudian ‘syariat langit’ ikut serta, lalu diambilah harta dari orang yang kuat untuk orang lemah, dari orang kaya untuk orang miskin,,,,Dengan demikian disaat itu juga kita telah melenyapkan perasaan dengki, penyimpangan, kebencian dan pemberontakan.
Ketika orang kuat memberi orang lemah dari kekuatanya maka orang lemah itu tidak akan dengki kepadanya, dan akan selalu didoakan tetap langgeng olehnya, karena kebaikan yang diperoleh orang kuat akan dikembalika pada orang lemah. Ketika si kaya mendermakan hartanya pada orang fakir maka hal itu akan mendamaikan hatinya dan itu dapat memberangus sifat iri dan dengki seraya berdoa:” semoga Allah melanggenglan nikmat yang diberikan pada si kaya”.
Perbedaan tingkat ini seharusnya sebagai perwujudan dari sabda rasulullah shallallhu alaihi wassalam: “Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagaikan bangunan yang kokoh, yang satu sama lain saling menguatkan”(Muttafaqun `alaih).
Karena itulah kita melihat jika orang kaya yang biasa berderma ditimpa bencana orang-orang lain akan ikut bersedih dan merasa sakit atas bencana yang menimpa hartanya, ini karena harta dan kebaikannya terlimpah pada mereka. Penduduk desa hingga saat ini ada kebiasaan dimana seorang yang memiliki sapi atau kerbau memerah susunya untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga dan orang yang sedang memerlukanya. Maka tak heran jika mereka mendoakan untuknya agar hartanya senantiasa diberkati Allah. Jika pemberi itu ditimpa kejelekan maka secara spontan mereka akan bersedih karenanya.
Jadi: Jika engkau mendermakan nikmat Allah yang diberikan untukmu pada orang yang tidak mampu maka hal itu akan menjaga dirimu dari banyaknya rasa iri dan dengki. Jika engkau tidak melakukan hal itu maka akan terjadi musykilah pada dirimu.
Allah berfirman:(”tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...) Bertakwa kepada Allah berarti mengikuti manhaj-Nya. Ketaatan pada Allah itu diraih dengan mengikuti manhaj dan tidak bermaksiat, berdzikir tidak lupa, bersyukur tidak kufur.
Cara taat itu dengan jalan mengikuti manhaj:” lakukan(perintah)” dan “jangan lakukan(larangan)” kemudian ia mengingat dan tidak melupakanya; ini karena terkadang ada hamba yang taat pada Allah dan melaksanakan manhaj-Nya, tapi nikmat yang diberikan Allah malah menyibukkan dirinya dari mengingat Allah. Sedangkan manhaj mengajakmu selalu ingat bahwa setiap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Jangan sekali-kali kau melupakan nikmat Sang Pemberi nikmat.

Kemudian Allah berfirman:”( Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-muhsinin(orang yang berbuat baik”.) Maksudnya ialah supaya engkau mengingat dan bersyukur atas segala taufiq yang diberikan oleh-Nya berupa menjalankan ketaatan hanya untuk-Nya. Maka berilah kabar gembira pada orang-orang muhsin. 
Muhsinin merupakan bentuk plural dari kata muhsin, sedangkan ihsaan merupakan martabat keimanan yang tertinggi. Ihsan itu ialah hendaknya engkau berbuat baik melebihi apa yang telah diwajibkan Allah padamu. Jadi intinya kebaikan yang dilakukan bukan hanya kewajiban tetapi lebih dari kewajiban dan tetap dalam bingkai manhaj Allah(Disarikan dari Tafsir Sya`rawi).

Menyikapi Bencana Secara Proporsional

Written By Amoe Hirata on Selasa, 15 September 2015 | 04.45

Amoe Hirata
            Musibah jatuhnya crane(alat derek)  perluasan masjidil Haram beberapa waktu lalu –yang memakan korban lebih dua ratus jama`ah haji ketika melaksanakan shalat Maghrib- oleh umat Islam disikapi berbeda.
Sebagian memandangnya dengan penuh optimis bahwa itu sudah menjadi takdir Allah, dan tentu saja mereka akan mendapat pahala mati syahid karena mati dalam keadaan beribadah di tanah suci. Tak jarang juga yang sinis mencari kambing hitam. Mereka berusaha menyalahkan pihak kerajaan Saudi Arabia, karena dinilai ceroboh dalam menjaga stabilitas keamanan dan kenyamanan bagi jama`ah haji.
Terlepas dari penyikapan pro dan kontra seputar musibah duka tersebut, seyogyanya umat Islam menghadapinya secara proporsional(sesuai dengan porsi; sebanding; seimbang). Karena pada hakikatnya, semua musibah yang terjadi di bawah ketentuanNya.
Pada tulisan kali ini, akan dibahas kajian tafsir yang berjudul: “Menghadapi Musibah Secara Proporsional”. Semoga umat Islam dalam menghadapi setiap musibah yang terjadi bisa meletakkannya secara proporsiaonal, dan tidak saling menyalahkan.
I.                   Ayat Kajian                     : Qs. Al-Hadid(22-24)

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢ لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ٢٣ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِۗ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ٢٤

II.                Arti Mufradat                 :
مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ        : Sebelum Kami menciptakannya
يَسِيرٞ                           : Mudah
تَأۡسَوۡاْ                          : Kalian berduka cita
عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ             : Apa yang telah luput atasmu
وَلَا تَفۡرَحُواْ                  : Kalian tidak bergembira
مُخۡتَالٖ فَخُورٍ                : Sombong, membanggakan diri
وَمَن يَتَوَلَّ                    Dan barangsiapa berpaling

III.             Arti Ayat                          :
Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah(22)
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri(23)
(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji(24)

IV.             Tafsir Ayat                      :
Setelah ayat sebelumnya membahas tentang anjuran bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang seluas langit dan bumi, pada ayat  ini Allah membicarakan masalah penting yang pasti dialami bumi dan manusia, yakni: musibah(yang masuk dalam kategori qadla dan qadarNya). Allah berfirman: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi” seperti kekeringan.  dan (tidak pula) pada dirimu sendiri” seperti sakit dll. Syaikh Abdurrahman As-Sa`adi menjelaskan bahwa kata mushibah pada ayat ini  bersifat umum(mencakup yang baik dan yang buruk).  Jadi, kurang tepat jika kata musibah selalu diidentikkan dengan sesuatu yang buruk(sebagaimana anggapan kebanyakan orang awam).
Semua yang menimpa manusia diterangkan olehNya:  melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” Artinya musibah yang masuk dalam qadla dan qadarnya sudah tercatat dalam kitab bernama Lauhul Mahfuzh yang berisi semua apa yang terjadi, sebelum penciptaannya. Nabi bersabda:
قدَّر الله المَقَادِيْرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Allah telah menentukan takdir-takdir sebelum menciptakan langit dan bumi (selama) lima puluh ribu tahun”(Hr. Ahmad)
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. Ya, meskipun akal manusia tidak sampai, hal demikian sangat mudah bagi Allah. Bukankah jika Ia berkehendak, maka tinggal mengucapkan kun fa yakun!(Jadilah! Maka akan terjadi. Baca: Yasin:: 82). Membaca ayat ini, seyogyanya semakin bertambah keimanan Mu`min, dan semakin tenang karena pada dasarnya segala yang menimpa telah tertera. Tidak mungkin terjadi sesuatu tanpa kehendakNya.
Setelah mengetahui bahwa musibah(yang buruk maupun yang baik) semua telah tercatat di Lauhil Mahfud, mungkin di antara kita akan bertanya: Apa hikmah di balik penetapannya?
Allah ta`ala berfirman: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Semua itu dijelaskan agar manusia dapat menghadapinya secara proporsional. Ada sebuah riwayat:
مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
Apa saja yang menimpamu bukan untuk menyalahkanmu, dan apa saja yang menyalahkanmu bukan untuk menimpamu”(Hr. Abu Daud). Maksudnya, musibah adalah takdir Allah yang patut diterima, bukan dimaksudkan untuk menyalahkan hamba.
Karena itu, seharusnya kita tidak terlalu berduka cita ketika ditimpa keburukan, serta tidak terlalu berbangga diri ketika mendapat kebaikan. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda terkait sikap Mu`min menghadapi musibah:
           
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُصَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Begitu mengagumkan keadaan orang beriman. Segala kondisi baik baginya –dan itu tidak dimiliki seorang pun, melainkan orang beriman- (yaitu) jika ia ditimpa kegembiraan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Sedangkan ketika ditimpa bahaya(hal buruk), ia bersabar, maka itu baik baginya”. Di sini, sabar dan syukur menjadi kunci yang proporsional dalam menghadapi musibah yang terjadi.
Sikap yang berlebihan dalam menghadapi musibah hanya akan mendapat kebencian Allah. Misalkan, ada orang yang diberih musibah(diuji) dengan kesenangan, lantas ia sombong tak mau bersyukur, bahkan berbangga diri, maka orang tersebut harus ingat: Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
Masih segar dalam ingatan pembaca mengenai kisah Qorun(Qs. Al-Qoshos: 78). Kesombongan dan kebanggaan dirinya mengenai harta yang dimiliki(sampai menafikan pemberian Allah), pada akhirnya membuatnya tenggelam di tanah.
Bagaimana misalnya agar kita selalu bersyukur, terutama dalam masalah keduniaan? Jawabannya simpel tapi berat, yaitu: Tidak melihat pada orang yang lebih mampu darinya, tetapi melihat orang yang dibawahnya adalah salah satu cara jitu yang diajarkan nabi agar Muslim tetap bisa menjaga ritme syukur  pada Allah ta`ala sebagaimana sabda nabi: Lihatlah orang di bawah kalian, dan janganlah melihat orang yang di atas kalian. Yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian”(Hr. Muslim).
Siapakah orang yang masuk dalam kategori sombong dan membanggakan diri? Allah ta`ala menjelaskan: “(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.
Ada dua karakter penting yang menjelaskan kategori sombong dan berbangga diri. Pertama, kekikiran. Pelit dan merasa berat tangan dalam memberi. Kedua, menyuruh orang lain berbuat kikir. Ternyata tak cukup dengan dirinya sendiri, malah memprovokasi orang lain untuk berbuat seperti yang ia lakukan.
Orang seperti ini –meminjam istilah Alquran- bukan saja sebagai orang yang fasid(rusak) tapi juga mufsid(penebar kerusakan). Lihat! Betapa besar dampak negatifnya, jika musibah kenikmatan malah hanya membuatnya sombong dan berbangga diri.
Semua itu sejatinya adalah rambu-rambu dari Allah yang perlu ditaati:  Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Pilihan ada pada diri kita. Jika berpaling, jangan pernah berfikir bahwa Allah merasa rugi, atau hina. Justru orang yang berpalinglah yang akan rugi dan hina.
Kita tentu ingat kisah-kisah orang-orang pongah di sepanjang sejara seperti Fir`aun, Namrud dll. Mereka sombong dan berpaling dari peringatan para nabi, akhirnya hidupnya berakhir dengan penderitaan abadi. Akhirnya, semoga kita bisa mengambil ibrah dari ayat-ayat di atas.

V.                Pelajaran              :
1.      Ketetapan qadla dan qadar Allah ta`ala
2.      Keimanan pada qadla dan qadar harus selalu ditanamkan
3.      Kepastian adanya Lauhil Mahfudz
4.      Penjelasan tentang hikmah qadla dan qadar: Tidak berduka dengan musibah buruk, dan tidak terlalu bergembira dengan musibah baik
5.      Anjuran menghadapi musibah secara proporsional
6.      Haramnya sifat:
a.       sombong
b.      berbangga diri
c.       bakhil
d.      menyuruh orang berbuat bakhil
7.      Tercelanya berpaling dari perintah Allah
8.      Allah Maha Kaya dan Terpuji


VI.              Referensi              :
1.      Tafsir al-Qur`an al-`Adzim, karya: Ibnu Katsir
2.      Aisar Tafāsīr, karya: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
3.       Taisir Karim Rahman, karya: Syaikh Abdurrahman As-Sa`adi
4.      Tafsir wa Bayan Mufradati al-Qur`an `ala mushhafi al-Tajwid, karya: Dr. Muhammad Hasan al-Himshi
5.      Shahih Muslim, karya: Imam Muslim
6.      Musnad Ahmad, karya: Imam Ahmad
7.      Sunan Abu Daud, karya: Imam Abu Daud

8.      `Aunu al-Ma`bud, karya: Syarfu al-Haq al-`Adhim Abadi

Ketika Muslim Bangga dengan Kuantitas

Written By Amoe Hirata on Senin, 03 Agustus 2015 | 04.36

 Amoe Hirata

Bagaimana jika umat Islam mulai bangga dengan kuantitas, lantas mengabaikan kualitas? Apakah mereka akan bangkit dan bangun atau malah jatuh melamun? Nyatanya, kuantitas (mayoritas) yang tak disertai kualitas hanya menjadi malapetaka umat.
Betapa banyak jumlah umat Islam saat ini! Namun, mampukah mereka berkontribusi terhadap umat manusia? Mampukah mereka membantu saudara-saudaranya yang teraniaya? Mampukah mereka mewujudkan rahmat Islam ke seantero alam? Jawabannya ada pada tafsir ayat berikut:

I.       Ayat Kajian               : At-Taubah(25-26)

لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡ‍ٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ٢٥ ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودٗا لَّمۡ تَرَوۡهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦

II.    Arti Mufradat                       :

نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ               : Allah (telah) menolong kalian
مَوَاطِنَ                     : 2Tempat-tempat
وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ                : Dan pada (perang) Hunain
أَعۡجَبَتۡكُمۡ               : Telah membuat kalian ta`jub(bangga)
فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ        : Maka tidak berguna dari kalian
وَضَاقَتۡ                   : Dan ia telah menjadi sempit
بِمَا رَحُبَتۡ                : Dengan keluasannya
وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ            : Kalian (telah) berpaling ke belakang (dengan tercerai berai)
سَكِينَتَهُ                   : Ketenangannya
جُنُودٗا                      : Tentara-tentara
جَزَآءُ                       : Balasan, ganjaran

III. Arti Ayat                    :
25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai
26. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir

IV.  Asbāb Nuzūl               :
أَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ عَنِ الرَّبِيْعِ ابْنِ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ حُنَيْن لَنْ نُغْلَبْ مِنْ قِلَّةٍ وَكَانُوْا اثْنَي عَشَرَ أَلْفًا فَشَقَّ ذلِكَ عَلَى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فَأنْزلَ اللهُ "وَيَوْمَ حُنينٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كثرتُكم" الآية
Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Rabi` bin Anas dalam kitab al-Dalāil bahwa ada seorang laki-laki berkata pada perang Hunain, ‘Kita tidak akan dikalahkan dari (jumlah) sedikit’. Pada waktu itu mereka (berjumlah) sepuluh ribu. (Pernyataan orang itu) membuat Rasulullah berat (hati). Lalu turunlah ayat: وَيَوْمَ حُنينٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كثرتُكم[(ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu)].

V.    Tafsir Ayat                :
Tidak diragukan lagi, bagi orang-orang beriman Allah adalah sebagai penolong atas segenap perjuangan-perjuangan mereka. Pada ayat ini dinyatakan, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin)(25)”. Dalam al-Qur`an Allah ta`ala dikatakan sebagai khairu al-Nāshirīn(Sebaik-baik penolong. Lihat: Ali Imran, 150).
Maka sudah sepatutnya, setiap Mu`min hanya memohon pertolonganNya atas segenap perjuangan yang akan ditorehkan. Dalam sejarah pertolongan-pertolonganNya sungguh terbukti. Betapa banyak umat Islam dimenangkan dalam perjuangannya menegakkan nilai-nilai Islam, “di medan peperangan yang banyak”(25).
Lebih khusus Nabi Muhammad beserta sahabat dan umatnya kemudian diingatkan pada peristiwa sejarah, “dan (ingatlah) peperangan Hunain(lembah yang terletak di antara Makkah dan Thaif), yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu)(25)”. Menarik untuk ditelaah di sini, kebanyakan kemenangan-kemenangan yang didapat, selalu beriring jumlah pejuang yang sedikit. Namun pada perang Hunain(perang yang terjadi pada bulan Syawwal, tahun 8-H pasca Fath Makkah), jumlah mereka menjadi lebih banyak.
Digambarkan dalam sejarah, jumlah mereka saat itu sekitar sepuluh ribu orang. Jumlah yang banyak ini ternyata menimbulkan penyakit hati berupa: ujub(terlalu bangga dengan kuantitas, sehingga melupakan kualitas dan pertolongan Allah). Namun apakah jumlah berefek pada kemenangan dan pertolongan Allah?
Nyatanya Allah berfirman, “maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun”(25). Di sepanjang sejarah memang demikian. Pejuang-pejuang Muslim sukses justru dengan jumlah yang sedikit. Perang Badar Kubra, Khandaq, Yarmuk, Qadisiyah, dan lain sebagainya adalah contoh bahwa mereka menang bukan dengan kuantitas.
Bahkan, dalam al-Qur`an sendiri ditegaskan bahwa betapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak, sebagaimana yang tergambar dalam kisah Thalut dan Jalut. Allah berfirman:
قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ كَم مِّن فِئَةٖ قَلِيلَةٍ غَلَبَتۡ فِئَةٗ كَثِيرَةَۢ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٢٤٩
Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(Qs. Al-Baqarah: 249).
Meski jumlah pasukan Thalut sedikit, namun mereka di samping mendapat izin Allah mereka juga memiliki keimanan, kekuatan dan kesabaran yang luar biasa(ini menggambarkan kualitas). Karena itulah, meski sedikit, mereka layak mendapat kemenangan. Apalah arti kuantitas jika tak beriring kualitas. Menurut penuturan sahabat yang bernama Tsauban, suatu saat nabi mengingatkan :
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
(Akan datang suatu masa di mana) umat-umat lain akan memperubutkan kalian sebagaimana hidangan yang (berada) di atas meja makan”. Lalu ada (sahabat) yang bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah karena pada waktu itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Bahkan kalian pada waktu itu banyak. Akan tetapi kalian ibarat buih di lautan. Allah pasti akan mencabut kehebatan kalian dari dada musuh kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn pada hati kalian.” Ada (sahabat) yang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah!Apa yang dimaksud dengan wahn?”. Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati”(Hr. Abu Daud dan Ahmad).
            Peristiwa di lembah Hunain akan terus terjadi jika umat Islam terlalu membanggakan kuantitas tanpa memedulikan kualitas. Akibatnya sangat jelas, “dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai(25)”. Pertama, menjadikan hati sempit. Kedua, berujung pada kekalahan.
Sebagai contoh –tanpa bermaksud membatasi-, kita bisa mengetahui betapa Nashir Lidinillah kalah telak dalam perptempuran `Iqab karena terlalu PD dengan jumlah pasukan yang banyak. Demikian pula perang Balath Syuhada(di Andalusia),  perang Khandaq(bersama Abdurrahman An-Nashir), yang kesemuanya memiliki kesamaan dengan subtansi perang Hunain.
Maka dari itu, tidak berlebihan jika suatu ketika Umar bin Khattab –melalui suratnya- mengingatkan Sa`ad bin Abi Waqash bahwa yang ia takuti bukan terutama kekuatan musuh(betapapun banyaknya). Yang ia takuti justru jika para tentara bermaksiat. Karena menurutnya, maksiat bisa menghancurkan kekuatan tentara Islam (sebanyak apapun jumlahnya). Beliau juga measihatkan, sebaik-baik bekal adalah takwa pada Allah.
            Peristiwa Hunain tidak melulu memberikan pelajaran tentang bahaya bangga berlebihan atau ujub terhadap kuantitas, namun juga memberi ruang untuk memperbaiki kesalahan. Bila umat Islam mau berbenah maka simak dengan baik firman Allah ta`ala, “Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir(26).”
Ketika barisan sahabat kocar-kacir, maka Rasulullah memberi mandat pada Abbas bin Abdul Muthallib untu menyatukan para sahabat yang centang-perenang dengan suaranya yang keras. Pada akhirnya, keteguhan dan keimanan nabi beserta sahabat-sahabatnya yang masih kokoh justru memberikan anugerah ilahi. Pertama, turunnya perasaan tenang. Kedua, diberi bantuan bala tentara yang tak disangka-sangka(yakni para malaikat dan pasukan lainnya). Ketiga, mendapat kemenangan setelah kalah.
Di sepanjang sejarah emas umat Islam, ada banyak perjuangan-perjuangan istimewa yang perlu digali dan diteladani maknanya dari pejuang-pejuang Muslim sejati(Spt: Badar Kubra, Ahzab, Fathu Makkah, Qadisiyah, Yarmuk, Ainun Jalut dll).
Mereka ‘dihadirkan’ Allah ta`ala ke dunia dengan cap istimewa : “sebaik-baik umat” yang dipersembahkan untuk umat manusia(lihat: Ali Imran: 110). Umat yang dalam perjalanan sejarah emasnya, mampu menjadi mercusuar dan soko guru peradaban dunia.
Meski demikian, yang menjadikan istimewa bukan sekadar kuantitas, mereka justru mampu menjadi terbaik lantaran berkualitas, meski pada umumnya sedikit. Orang-orang berkualitas inilah –setelah izin dan pertolongan- yang pada akhirnya mampu menggapai kesuksesan gemilang. Masihkah kita bangga dengan kuantitas di saat umat Islam lagi krisis ketaatan dan kualitas?

VI. Pelajaran                    :

1.      Haramnya ujub pada diri sendiri dan pada amal
2.      Ujub faktor penghalang kesuksesan
3.      Keutamaan orang-orang beriman
4.      Pertolangan sejati hanya berasal dari Allah ta`ala
5.      Pentingnya belajar sejarah sebagai pelajaran untuk hari ini dan masa depan. Karena sejarah kembali terulang
6.      Sifat ujub (kebanggaan yang berlebihan) melahirkan bencana
7.      Ketaatan dan keimanan mengantar pada pertolongan dan kemenangan
8.      Faktor utama kemenangan bukan dari kuantitas tapi murni dari Allah dan kualitas
9.      Ujung dari keimanan adalah pertolongan dan kemenangan. Sedangkan sikap ujub dan kekafiran berujung pada penistaan dan kekalahan
10.  Keimanan membuat hati tenang dan lapang

VII.                      Referensi        :

1.      Lubābu al-Nuqūl fī Asbābi al-Nuzūl, karya: Imam Jalaluddin Suyuthi
2.      Tafsīr wa Bayān Mufradāt al-Qur`ān `ala Mushafi al-Tajwīd ma`a Asbābi al-Nuzūl li al-Suyūṭi, karya: Dr. Muhammad Hassan al-Himshi
3.      Taisīr al-Karīm al-Rahmān, karya: Syaikh Al-Sa`adi
4.      Tafsīr al-Qur`ān al-`Aim, karya: Imam Ibnu Katsir
5.      Tafsīr al-Sya`rawi, karya: Syaikh Muhammad Mutawalli Sya`rawi
6.      Aisaru al-Tafāsīr, karya: Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi
7.      Amīru al-Mu`minīn Umar bin al-Khatthab, karya: Muhammad Shallabi
8.      Sunan Abu Daud, karya: Imam Abu Daud
9.      Dalāil al-Nubuwwah, karya: Imam Baihaqi

10.  Musnad Ahmad, karya: Imam Ahmad bin Hanbal
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan