Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

SAHABAT

Written By Amoe Hirata on Rabu, 02 September 2015 | 14.50

Ketika aku makmur
Teman terlihat akur
Semua seperti sahabat
Yang kan senantiasa rekat

Nyatanya,
Aku salah sangka
Yang ku sebut sahabat
Hanya kepentingan sesaat

Ketika ku berada
Mereka dekat seketika
Ketika ku papa
Mereka segan menyapa

Apa ini yg dinamai
Sahabat sejati
Laiknya para pengkhidmad
Menyerta Nabi Muhammad

Sahabat bagiku
Akan selalu membantu
Dalam lapang
Maupun malang

Apa aku terlalu berlebihan
Mendefinisi sahabat sarat kepentingan?
Kalau kau anggap 'IYA'
Bisakah gulita menatap surya?

Taman Bunga Ramadhan

Written By Amoe Hirata on Senin, 01 Juni 2015 | 10.06

Pada suatu masa
Aku duduk di kursi cinta
Merasakan desir angin
Sya`ban, sejuk dan dingin

Pikiran mendesak mata
Melihat cakrawala
Hati dipenuhi angin
Jiwa dalam  angan ingin:

“Ramadhan segera tiba
Bagai taman bunga
Yang siap menyambut insan
Yang berbekal iman”

“Jika muaranya adalah takwa
Maka, harus bersih dari dosa
Beramal secara konstan

Merengkuh ridha Tuhan”

Rajab

Written By Amoe Hirata on Rabu, 29 April 2015 | 05.39

Bulan Rajab datang
Ramadhan semakin dekat
Persiapan harus matang
Kedisiplinan diperketat

Bulan Rajab hadir
Ramadhan semakin hampir
Persiapan harus mapan

Kesungguhan dikerahkan

Hukum Tegak

Written By Amoe Hirata on Senin, 27 April 2015 | 07.29

Bagaimana hukum tegak

Jika keadilan diinjak-injak

Hukum dijunjung

Keadilan dipasung

Bayang-bayang Umbu Landu Paranggi

Written By Amoe Hirata on Rabu, 22 April 2015 | 07.56

Semalam
Tanpa sebelumnya mengidam
Sesosok wajah
Teduh sumringah
Mirip Umbu Landu Paranggi
Bertemu dalam semesta sunyi

Masalah politik, agama, sejarah, 
dll, dikupas dengan jelas dan gagah
Seakan berada di depan
Seorang ilmuan multi keahlian
Ia zahid
Filosofi hidupnya: tidak rigid
tpi sarat makna
yang membuat orang ternganga

Jika orang pada umumnya
Pada mengaji ayat-ayat kasat mata
Ia dalam sunyi mengaji alam
Menguak hikmah terdalam
Ia tenang
Tidak dikejar ambisi gesang

"Siapa yang gupuh dengan burung dalam kurungan?"
Tentu yg punya
Maka mengapa kamu tidak yakin
Bahwa Allah akan menjamin
Bukankah burung-burung pagi terbang
Kembali dalam kondisi kenyang

Terlau banyak makna
bisa diukir berlaksa-laksa
Ini hanya bagian kecil
Dari kepribadoannya yg inggil
dalam ruang dan waktu
Semoga kita bisa bertemu

Demikian bayang-bayang Umbu
Sang pengembar ruang dan waktu

Aslim Taslam

Written By Amoe Hirata on Jumat, 17 April 2015 | 19.35

Aslim taslam
Engkau berislam
Sebagai rahmat sekalian alam
Tidak berbuat kejam,
membuat geram,
bahkan menyulut api dendam

Aslim taslam
Keberadaanmu laksana mutiara dalam,
kerang cahaya yg tak kan padam
Menjadi anugerah siang-malam
Membuat hati tentram
Pelipur lara jiwa kelam

Aslim taslam
Kau bekerja dalam diam
Di saat orang pada tenggelam
Dalam dunia yg curam
Semangat tak pernah padam
di depan bahaya mengancam

Aslim taslam
Engkau masuk Islam
atas nama as-Salam
bukan tradisi masa silam
di saat 'kapal manusia' karam
Keselamatan hanya dalam Islam

Lulus Karena Lolos

Written By Amoe Hirata on Kamis, 16 April 2015 | 20.36

Alhamdulillah pak
Lilis tlah lulus
Lolos dari pengawas galak
Lega nafas berhembus

Aduh nak
Bapak dengan tulus
Mendidikmu jujur bertindak
Kok malah mbladus

Begini pak
Orang jujur jadi hangus
Tak jujur berdiri tegak
Para guru tak pernah serius

Aduh, ingatlah nak
Jadilah pelajar tulus
Kalau singa jangan ditulis badak
Kamu ini pelajar apa pemain sirkus?

Bukan BOCORAN Tapi PEMAHAMAN

Anak-anakku,
Para siswa sekalian
Kalian harus belajar, jujur
Ujian di depan mata

Kehadiran ibu
Untuk membagikan
Trik agar mujur
supaya kalian bisa

Kalau kertas di saku
Telah dibagiakan
Konsentrasi dan tafakkur
Mana A, B, C, dan D-nya

Jangan menjadi lugu
Jika kertas di hadapan
Jadilah orang bersyukur
Kemudian segera dicari yg sama

Anak-anakku,
INGAT! ini bukan bocoran
Hanya PEMAHAMAN terstruktur
Jika dilaksanakan, pasti JAYA

-------------------------------------------------

Kalau ini dinamakan guru
Bocoran dianggap pemahaman,
Generasi akan hancur
Pendidikan pun menjadi fatamorgana

Sejak Kapan Presiden Punya Anak?

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 April 2015 | 10.12

Sarikhuluk bingung
Orang-orang kampung
Sedang merumpi
Anak presiden RI

Hatinya bersenandung
Sejak kapan bung
Presiden punya putra
Bukankah hanya jabatan sementara

Laiknya gubernur, bupati, camat, sampai lurah
Itu hanya tahta dan amanah
Jabatan tidak beranak
Manusia yang berkembang-biak

Sharikuluk khawatir
Jabatan akan dieksploitir
Rakyat menjadi salah kaprah
Negara menjadi semakin parah

Rumah Surga

Written By Amoe Hirata on Kamis, 26 Maret 2015 | 11.18


Paino terlihat gulana. Ia tatap lamat-lamat rumah gubuknya. Oh, terlalu banyak kenangan tersimpan. Apa daya, untuk sementara harus merantau. Menelusuri berbagai kemungkinan, menuju kesuksesan. Bagai orang hendak mati, ia berwasiat dengan sepenuh hati. Bila pada akhirnya ia tak berjumpa, mudah-mudahan ini adalah bukti sejarah:

Di rumah ini
Sejarah dimulai
Dari kebersahajaan
Menuju kesuksesan

Dengan bekal cinta
Semua yang ada
Menjadi berkesan
Meski kadang menyakitkan

Rumahku adalah surga
Yang terbangun dengan kasih dan cinta
Memang tak seindah perumahan
Namun menyimpan keindahan

Saat sukses nanti berjumpa
Kami tetap setia
Berteman ketulusan
Beriring kesederhanaan

Ulama Abadi Dengan Tulisan

Bila ulama ibarat lenteraMaka, yang membuatnya bercahayaBukan hanya ilmu, iman, dan ihsanTapi juga tulisan
Walau jasad tlah tiadaTetap terasa adaKarena melalui tulisanNilai-nilai kan menjadi terabadikan

Tetap Shalihah di Ibu Kota

Kalau menjadi shalihah
Di pondok yang biasa terarah
Maka itu biasa
Karena belum tergoda

Namun ketika 
Anda tetap terjaga
Di ibu kota yang sarat masalah
Bagai pedang yang terasah

Emas di Keranjang Sampah

Siapa yang pernah mengira
Di zaman jahiliyah
Yang penuh dengan dosa
Lahir generasi Sang Pencerah

Melalui lentera
Islam yang begitu cerah
Kelam pun diterpa cahaya
Kezaliman dihempas hikmah

Di antara mereka
Dalam sejarah
Terdapat emas-emas berharga
Yang dicintai Allah

Saat Nabi Muhammad tiada
Mereka menjadi pencerah
Menebar cahaya
Pada dunia yang sakit parah

Ma`had Imam Bukhari

Di ma`had ini
Para santri berjejer rapi
Menyimak pelajaran ustadz
Dengan penuh khidmad

Suasana ini
Membuat jiwa kembali
Menyusuri masa sahabat
Yang dijuluki sebagai sebaik-baik umat

Dari halaqah keci seperti ini
Rasulullah dengan hati suci
Mendidik sahabat dengan semangat
Menjadi insan taat

Di kemudian hari
Tanpa pernah dimengerti
Bagaimana mereka menjadi
Soko guru bagi peradaban dunia yang hampir mati

(Ma`had Imam Bukhari, Solo. Kamis 26 Maret 2015. #AmoeHirata)

Kereta Sejarah

Written By Amoe Hirata on Rabu, 25 Maret 2015 | 08.58

Ibarat kereta api
Begitulah sejarah dimulai
Selalu berjalan ke depan
Menuju setasiun masa depan

Bukan berarti
Masa silam  telah pergi
Sehingga tak diperhatikan
Bahkan, dicampakkan

Bila diamati
Perjalanan berputar kembali
Pada stasiun-stasiun tujuan
Yang kembali diinginkan

Sejarah kan berulang kembali
Selama anasir peristiwa terjadi
Karenanya, ia bukanlah bualan
Tapi kompas masa depan



Kamuflase HAM

Written By Amoe Hirata on Selasa, 04 November 2014 | 20.11


Saat umat Islam minoritas
HAM menjadi tak logis
Jika ada yang tertindas
Semua diam tak menggubris

Ketika umat Islam mayoritas
HAM menjadi logis
Umat Islam harus jaga minoritas
Yang tak setuju dianggap tak humanis

Aduh buyung
Logika apa ini
Membuat orang bingung
“Tai dianggap roti”

Kalau HAM hanya diterapkan
Ketika umat Islam mayoritas
Kemudian diabaikan
Ketika umat Islam minoritas

Maka HAM menjadi kamuflase
Seolah membela manusia
Padahal sabotase
Dalam bingkai Persatuan Bangsa-bangsa

Siman, Selasa 04 November 2014/20:08

Suluk Tasyriq

Written By Amoe Hirata on Senin, 06 Oktober 2014 | 16.55


Berawal dari cahaya mentari
Yang terbit dari timur
Muncul nama tasyriq
Berarti penjemuran
Penggaringan

Apa yang dijemur?
Apa yang digaringkan?
Yaitu daging
Yang dikurbankan
Pada 10 Dzulhijjah
Serta hari tasyriq
11, 12 dan 13
(Di bulan yang sama)

Orang bilang
Tasyriq adalah hari
Pendendengan
Membuat daging segar
Menjadi dendeng
Melalui sistem pencahayan
Matahari
Daging tak bisa disebut dendeng
Sebelum dibantu
Oleh cahaya matahari

Kalau manusia ibarat daging
Ia belum bisa menjadi manusia kamil(sempurna)
Meski berasal dari kualitas daging terbaik
Ia bisa menjadi kamil dan mutakamil(paripurna)
Jika ada upaya mencahayai
Diri dengan
Mentari petunjuk
Yang terpancar dari Al-Qur`an dan As-Sunnah

Bila tak ada pencahayaan
Manusia tak ubahnya
Seonggok daging yang bergerak
Kecil manfaat
Besar mudharat
Itulah ‘Suluk Tasyriq’
Proses mencahayai diri
Dengan cahaya petunjuk ilahi

Dari daging mentah
Atau manusia yang sama sekali
Terlepas dari petunjuk ilahi
Menjadi manusia yang “MATANG”
Sehingga mempunyai “MANFAAT SOSIAL” tinggi
Sebaik-baik kamu ialah:
Yang paling bermanfaat bagi yang lainnya

Jalan tasyriq
Memungkinkan manusia
Menuju kematangannya
Matang akalnya
Matang hatinya
Matang pribadinya
Matang sosialnya
Sebagai manusia
Seutuhnya

Bermanfaat bagi diri sendiri
dan lainnya
Yang tentunya
dibimbing
Dengan gelimang
Cahaya rabbani

(Refleksi Tasyariq Setahun Lalu)

Dari Beradab Menuju Biadab

Written By Amoe Hirata on Senin, 08 September 2014 | 23.04


Kalau dulu Nietzsche berkata:
God is dead
“Tuhan telah mati”
Jangan kaget!
Dia memang tidak mengerti

Yang aneh ketika,
Ada ‘mahasiswa terkutuk’
Dari UIN berkata:
 “Tuhan Membusuk”
Tanpa merasa berdosa

Mungkin ada yang tidak terima:
“Maksud kami bukan Tuhan”
“Hanya nilainya”
Pembenaran dipertahankan
Padahal ‘Tuhan’ jelas dihina

Akhirnya,
Inilah gambaran
Jika ilmu tak beriring adab
Yang sakral diangga profan
Dari beradab menuju biadab

Jangan Salah Kaprah


Yang pintar
Hati-hati dengan kepintaran
Bila tak rendah hati akan menjadi kebodohan

Yang cantik
Hati-hati dengan kecantikan
Bila tak rendah hati akan menjadi kejelekan

Yang ganteng
Hati-hati dengan kegantengan
Bila tak rendah hati akan menjadi keburukan

Yang kaya
Hati-hati dengan kekayaan
Bila tidak rendah hati akan menjadi kemiskinan

Pintar
Bukan untuk diumbar
Tapi untuk mencari yang benar

Cantik
Bukan untuk dipamer ke publik
Tapi untuk suami yang baik

Ganteng
Bukan untuk orang dipajang
Tapi untuk istri tersayang

Kaya
Bukan untuk dibangga
Tapi untuk amal yang bermakna

Asyakûr

Written By Amoe Hirata on Jumat, 29 Agustus 2014 | 02.30

Kau Maha Melipatgandakan
Yang kecil menjadi besar
Yang sedikit menjadi banyak
Pemberian dan balasan
Yang Kau beri
Tak pernah habis dan putus

Ya as-Syakûr
Atas pemberian-Mu
Yang berlipat ganda
Dan tak terbatas
Jadikan aku
Panda Mensyukuri
Segala nikmat yang Kau beri
Untuk diarahkan
Pada ketâtan

Hanya kepada-Mu
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan