Sewaktu aku masih kecil,
sekitar kelas 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah), ada dua kucing yang aku pelihara
bersama adikku. Kucing itu bersaudara kandung. Yang satu berwarna putih
berkelamin betina; sedangkan yang satunya berwarna hitam berkelamin jantan.
Kucing jantan aku beri nama Pucuk Hayya, dan yang betina diberi bana Pucuk
Hayyi.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Pucuk Hayya, Pucuk Hayyi
Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Februari 2017 | 22.32
Label:
Cermin,
Hikmah Sejarah,
Motivasi,
Mutiara Hikmah
Mengubah Penyesalan Menjadi Kekuatan
Written By Amoe Hirata on Minggu, 21 Juni 2015 | 06.51
AKU, kamu, kita, dia dan mereka pasti pernah merasakan "penyesalan". Kedatangannya terkadang tidak diperhitungkan, tak kenal waktu dan tempat. Dalam kehidupan nyata kata ini seolah menjadi momok bagi kebanyakan orang. Keberadaanya tidak diinginkan walaupun secara nyata pasti akan dialami dan dirasakan.
Penyesalan lahir akibat kekecewaan yang timbul dari hasil perbuatan, sikap dan perencanaan apapun yang tidak sesuai harapan. Penyesalan ada dua macam: 1. Penyesalan yang disengaja. 2. Penyesalan yang tidak disengaja. Penyesalan yang disengaja ialah penyesalan yang timbul dari kesadaran penuh individu bahwa perbuatan, sikap atau perencanaanya itu bakal menghasilkan hal-hal negatif tetapi masih tetap dilakukan. Penyesalan yang tidak disengaja adalah penyesalan yang timbul dari ketidak sadaran individu bahwa perbuatan, sikap dan perencanaanya akan menimbulkan hal-hal negatif sedang itu terjadi.
Melihat macam penyesalan, yang perlu kita digarisbawahi di sini ialah macam penyesalan yang kedua yaitu penyesalan yang tidak disengaja. Sebagai luapan emosional, macam yang kedua ini bisa mengarahkan jiwa kearah-arah yang positif. Bila pandai menyiasati dan memanfaatkanya ia bisa berubah menjadi semacam letupan energi positif berupa semangat, percaya diri, antusias dan keinginan untuk berubah kearah positif.
Dengan demikian, yang perlu dimenej ialah macam penyesalan yang tidak disengaja. Sedangkankan penyesalan yang disengaja tidak perlu dimenej karena malah hanya menimbulkan sikap-sikap dan tindakan yang negatif berupa kurang PD, malas, dan kemandegan untuk berubah. Jadi, sedapat mungkin kita harus menjauhi dan memangkas macam yang pertama ini.
Supaya penyesalan itu bisa menjadi tenaga yang dapat menggerakkan kita pada perubahan positif maka kita perlu merubah cara pandang kita tentang "penyesalan". Maksudnya, bahwa anggapan "penyesalan itu selalu negatif" harus kita singkirkan jauh-jauh dari benak kita. Kita memandang "penyesalan" itu sebagai sarana yang efektif untuk mengevaluasi diri agar tidak terjatuh kembali pada kesalahan yang sama.
Kalau kita mau melihat sejarah, "Penyesalan" sudah terjadi sejak nenek moyang manusia yaitu Adam. Satu kasus yang sudah umum barangkali kisah penyesalanya berupa diturunkan dari surga akibat melanggar larangan Allah. Rupanya ia tidak berhenti hanya pada kesedihan dan penyesalan, penyesalan itu membuat dirinya melakukan tindakan yang tepat berupa segera bertaubat. Buahnya ialah ia segera mendapatkan ampunan dari Allah.
Berangkat dari "penyesalan" kita melihat dari rentetan sejarah lahir peradaban dan pahlawan-pahlawan agung. Tapi sekali lagi ia bukan sekedar penyesalan biasa. Ia merupkan "penyesalan" yang dimenej untuk dijadikan instropeksi guna melahirkan sikap, perencanaan dan perbuatan positif yang mampu membuat diri siuman dari penyesalan-penyesalan negatif yang membuat diri pingsan, mandeg dan statis.
"7M" Kiat Sukses Ala Al-Fatihah
Written By Amoe Hirata on Kamis, 28 Mei 2015 | 00.14
1.
Menata niat dan menyadari kekurangan diri. Karena itulah harus memulai sesuatu dengan nama Allah
ta`ala. Niat yang jelas dan terarah akan mempengaruhi kinerja. Menyadari
kekurangan membuat orang fokus untuk memperbaiki diri dan tidak sibuk terhadap
kekurangan orang lain.
2.
Mensyukuri potensi diri. Setiap
orang diberi potensi oleh Tuhan. Sebaik-baik orang yang diberi potensi ialah
yang pandai mensyukurinya. Salah satu bentuk konkrit mensyukuri potensi ialah
dengan selalu mengembangkan potensi yang dimiliki.
3.
Memiliki cinta Kasih. Tanpa
bekal cinta kasih, orang akan susah untuk mendapat kesuksesan. Ada dua cinta
kasih yang perlu ada dan harus harmoni: Pertama : Cinta Mencalam(Cinta
Vertikal) yang menggambarkan keintensivan hubungan individu dengan Tuhan.
Kedua: Cinta Meluas(Cinta Horisontal) yang menggambarkan hubungan individu
dengan makhluk Tuhan yang lainnya.
4.
Menguasai Visi. Orang sukses
selalu mempunyai Visi. Visinya melampaui zamannya. Menguasai Visi adalah syarat
kesuksesan. Visi menjadi syarat kesuksesan jika tidak dijadikan sekadar rencana
yang teoritis, tapi diupayakan dan diaplikasikan.
5.
Menfokuskan diri pada tujuan. Jalan
yang dihadapi orang sukses tidaklah mudah. Dengan memfokuskan diri pada tujuan,
perjalanannya menuju kesuksesan akan lebih terarah dan menghemat energi.
6.
Membiasakan doa dan istiqomah. Sejauh
yang manusia bisa ialah usaha, adapun faktor penentu tetap kembali pada Tuhan.
Maka orang yang ingin sukses harus menyertakan doa. Doa dalam pengertian yang
lebih intens berupa berusaha menyapa Allah setiap saat sehingga langkah dan
gerik berada pada kehendak-Nya. Kemudian sebagai syarat lain yang tak kalah
pentingnya ialah istiqamah, orang yang tak mampu istiqamah maka ia akan dijauhi
kesuksesan.
7.
Mengikuti jejak-jejak orang sukses dan menjauhi jejak-jejak orang gagal. Di dunia ini terlalu banyak contoh
yang dapat diambil dari orang-orang sukses dan gagal. Menapaktilasi jejak
orang-orang sukses merupakan kunci meraih kesuksesan.
Semoga dengan inspirasi ini kita
tergugah untuk meraih kesuksesan DUNIA-AKHIRAT.
Menyibak Mutiara "Kesuksesan" dari Kerang "Kegagalan"
Written By Amoe Hirata on Kamis, 18 Desember 2014 | 09.08
Sudah hampir tiga tahun Zulfikar kuliah jurusan Ekonomi. Sampai sekarang entah kenapa tidak lulus-lulus. Ia merasa heran, usaha sudah di kerahkan, masuk kuliah rajin, tugas selalu di kerjakan. Sampai pada puncaknya, suatu saat ia terancam di-DO. Banyak orang mencaci makinya. Bodoh sekalih sih kamu, masak kuliah sudah tiga tahun masih semester satu, dasar tulalit kamu. Ia sungguh terpukul, tak ada seorang pun yang simpati padanya, dalam hati ia mau meluapkan amarahnya, tapi ia sadar memang kenyataanya dia tidak lulus-lulus juga hingga saat ini.
Terbesit dalam hatinya untuk menyudahi hidupnya. Sebab selama ini cita-citanya menjadi Ekonom terkenal tak juga tercapai. Jangankan sampai taraf Ekonom, kuliah saja tidak lulus-lulus. Pas mau bunuh diri ia teringat pesan agama bahwa bunuh diri hanya akan berakibat fatal bagi kita. Ia meng-urungkan niatnya dan mencoba menenangkan diri mencoba bangkit dan mengevaluasi diri. Kira-kira kenapa ya aku kok ga lulus-lulus? Belajar sudah, kuliah rajin, dan selalui ngerjain tugas dari dosen. Secara otak aku juga ga tergolong bodoh. Jangan-jangan barang kali aku salah jurusan.
Ternyata benar, kunci ketidaksuksesanya ialah karena ia tidak mempunyai bakat menjadi Ekonom. Ia terobsesi jadi Ekonom karena ia melihat bahwa Ekonom itu kaya-kaya dan terkenal makanya ia pingin sekali menjadi Ekonom. Di sisi lain teman dan lingkunganya sangat mendukung dirinya menjadi Ekonom. Jadilah ia bersemangat hingga memutuskan untuk masuk pada jurusan Ekonomi. Rupanya keinginan pribadi dan campur tangan orang lain itu malah membuat dia gagal.
Berhari-hari ia membuat evaluasi diri mencari bakat yang ia punya. Sampai pada kesimpulan bahwa ia berbakat menjadi penulis. Hari itu juga ia memutuskan untuk keluar dari kuliah jurusan Ekonomi dan pindah ke jurusan sastra. Ia amat bersemangat dan giat. Di luar jam kuliah ia selalu membaca buku-buku sastra, dari novel, cerpen, puisi dan lain sebagainya. Tak hanya itu, ia juga terus latihan menulis. Jerih payahnya membawa hasil. Pada akhirnya dia menjadi Penulis Besar dan terkenal. Sekarang ia menjadi kaya raya. Mutiara kesuksesanya justru diraih melalui kerang-kerang kegagalan yang menghimpit kehidupanya berupa berkali-kali gagal studi. namun ia tidak menyerah, ia membuat perombakan mendasar hingga akhirnya iadapat menguak bahwa mutiara "kesuksesan" nya ialah menjadi penulis.
Sikap:
-Jangan sampai kita salah dalam menentukan cita-cita. Jadikanlah orang lain sebagai jendela saja jangan lebih dari itu karena sebenarnya anda adalah kunci. Bila campur tangan dan keinginan diri tidak di landasi dengan pengetahuan potensi diri malah akan rentan gagal.
-Segera mencari bakat dan potensi kita karena hal ini dapat mempermudah jalan kesuksesan kita. Mengetahui potensi diri dapat membuat hidup lebih efisien dan produktif.
-Bila gagal jangan lekas putus asa karena pada hakekatnya jika anda cerdas menyikapi akan segera menyulapnya menjadi mutiara "kesuksesan".
Kalahkan Dirimu!
Written By Amoe Hirata on Kamis, 11 September 2014 | 16.53
Salah
satu musuh besar yang bisa menghambat seorang pahlawan dalam meraih
kepahlawanannya ialah ketika terakumulasi kesuksesan-kesuksesan kecil yang
kemudian menumbuhkan virus yang berbahaya, yaitu `ujub(teramat kagum
dengan potensi diri) dan ghurur(terlena dengan potensi diri). `Ujub
dan ghurur adalah ujian terakhir di ambang pintu kesuksesan. Keduanya
sangat tidak kentara, karena itulah banyak yang gagal melampauinya. Ini bisa
menimpa orang pintar, ketika mereka terlalu kagum dan terlena kepada kepintarannya.
Ini juga berlaku kepada setiap manusia yang sedang menghadapi ‘Ujian Akhir
Kesuksesan’ sementaranya. Begitu halus dan lekatnya virus ini, maka setiap orang
yang menginginkan kesuksesan harus mempunyai kesadaran berlipat untuk
mengatasinya. Bila tidak maka mimpi dan cita-cita yang dibangun selama ini akan
sirna begitu saja.
Banyak
orang tertipu bahwa setelah berhasil menghadapi tantangan-tantangan dari luar
dirinya, lalu dia merasa ‘pensiun dini’ menikmati jerih payah yang selama ini
dikerahkan, tanpa sadar bahwa yang namanya ujian internal berupa hawa nafsu
secara konstan akan menjadi musuh tercanggih. Rupanya tanpa gangguan setan pun
manusia diberi potensi yang namanya nafsu ammârotun bi al-sû`(yang
secara intensif banyak menyuruh kepada kejelekan), itulah tadi yang disebut `ujub
dan ghurur salah satu penyakit hati kronis yang perlu segera diatasi
sebelum merusak hati seseorang. Karena itulah prestasi apapun yang didapat
manusia, jangan sampai membuat dirinya kagum dan terlena karena keduanya –sepanjang
sejarah kehidupan manusia- merupakan faktor yang membinasakan atau menghambat
kesuksesan orang.
Kenyataan
itu memngantarkan kita pada pernyataan penting: “musuh terbesar –meskipun itu
dahsyat- sebenarnya bukanlah yang berada di luar dirimu, tapi musuh terbesar
adalah diri sendiri, karena itulah kalahkan dirimu sebelum menjemput
kemenanganmu!”. Mungkin anda bisa menghadapi beratus rintangan yang sifatnya
fisik di depan anda, namun rintangan hati sungguh tak kentara dan sangat licin,
sehingga tak jarang dapat menggelincirkan seseorang. Bagaimana kita menghadapi
musuh yang ada pada diri sendiri? Sebagaimana penyakit atau racun yang ada dalam
badan manusia, maka perlu ada upaya detosifikasi(penawaran atau penetralan
toksin di dalam tubuh). Toksin(racun) berupa ghurur dan `ujub
yang melekat pada diri seseorang harus segera didetoksifikasi dengan akhlak
tawadhlu`. Tawadhlu` merupakan merupakan penawar toksin ghurur dan `ujub
yang mujarab.
Kita
tentu tahu ‘makhluk antagonis’ seperti iblis. Sebelum ia dilaknat oleh Allah ta`ala,
ia adalah termasuk makhluk yang dimuliakan dan tinggal di surga. Faktor penting
yang membuat mereka terusir disamping sombong ialah ia merasa kagum dengan
potensi diri sehingga meremehkan Adam. Ketika disuru ‘sujud penghormatan’
mereka malah berkilah: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan ia engkau ciptakan dari tanah”. Pembangkangan Iblis lantaran sifat `ujub
ini membuatnya terusir dan terlaknat. Kita juga tentu tahu kisah pasukan dari
kaum muslimin yang sempat kalah dari musuh dalam pertempuran Hunain lantaran `ujub
dengan jumlah pasukannya. Demikian juga dalam pertempuran lain seperti Las
Navas de Tolosa(mauqi`ah iqôb) yang dipimpin oleh Nashir Li Dinillah.
Mereka kalah karena dihinggapi virus `ujub.
Demikian
juga pertempuran Tours (balâth syuhadâ) yang dipimpin oleh Abdurrahman
al-Ghôfiqi, para prajurit merasa bangga dengan jumlah, akhirnya mereka kalah.
Menariknya, ini juga berlaku pada non-muslim. Ketika para prajurit sekutu kafir
Qurays hendak melancarkan pertempuran Ahzab (khandaq), mereka merasa berbangga
diri karena jumlah mereka sangat banyak dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin
sewaktu terjadi pengepungan di Madinah. Ternyata jumlah pasukan yang banyak tak
otomatis membuat mereka memenangkan pertempuran. Mereka sudah kalah dan terlena
terlebih dahulu dengan kehebatan diri, akhirnya mereka harus rela menelan hasil
pahit berupa kekalahan. Beberapa kisah tersebut semakin mengukuhkan sebuah
kenyataan penting: “musuh terbesar adalah terletak pada diri sendiri, kalahkan
dirimu –dengan selalu tawadhlu` terhadap segenap potensi yang dimiliki-,
kemudian jemputlah kesuksesanmu!”
Siman, Kamis 11 September 2014/16:41





