Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Berhati-hati dalam Berbahasa

Written By Amoe Hirata on Rabu, 07 Februari 2018 | 14.16

"Apa yang ada di benak kita dengan kata 'pendeta'?" tanya Ahmad Sahida -Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia-Indonesia dalam artikel rubrik 'Bahasa' (Majalah Tempo, 7/10/2012: 49) berjudul "Bahasa Agama Dua Serumpun". Ternyata, bila pemakaian kata 'pendeta' di Indonesia lebih diidentikkan pada pemimpin keagamaan agama Kristen, tapi di negeri Jiran Malaysia misalnya, kata 'pendeta' disematkan kepada Zainul Abidin Ahmad atau Za'ba karena kepiawaiannya dalam bidang bahasa.

Tadarus al-Qur'an Ramadhan Melahirkan Budaya Tadabbur

Written By Amoe Hirata on Jumat, 09 Juni 2017 | 00.25

Tadarus al-Qur`an Ramadhan Melahirkan Budaya Tadabbur
AMALAN yang sudah mentradisi di malam bulan Ramadhan di antaranya adalah: Tadarus al-Qur'an. Pada umumnya, umat Islam menghabiskan waktu malam bulan agung ini dengan membaca al-Qur'an.

Nilai Waktu Bagi Toean A. Hassan

Written By Amoe Hirata on Senin, 29 Mei 2017 | 14.02

DI balik ketenaran A. Hassan sebagai ulama tegas, jago debat, ahli agama baik lisan maupun tulisan, ada rahasia menarik yang menunjang kesuksesan beliau. Sebagaimana ulama-ulama lain, beliau sangat berdisiplin waktu. Ulama kelahiran Singapura 1887 ini adalah sosok yang sangat disiplin dalam mengelolah waktu baik sejak kecil maupun hingga wafatnya.

Ma`idaturrahman Ala AQL Islamic Center

Written By Amoe Hirata on Jumat, 17 Februari 2017 | 14.48

            Saat masih mengenyam pendidikan di Al-Azhar, Kairo, Mesir, ada fenomena menarik setiap kali datang bulan Ramadhan yang menggambarkan betapa dermawannya orang Arab Mesir. Menjelang berbuka, setiap masjid, bahkan tak jarang juga di jalanan, mereka menyiapkan ta’jil (berupa air, kurma bahkan makanan berat seperti nasi dengan aneka lauk ala Mesir) bagi orang yang berpuasa. Kegiatan ini dilakukan secara massif dan kolektif. Budaya tahunan itu populer dengan sebutan “Ma’idaturrahman” yang arti sederhananya “Hidangan dari Allah Yang Maha Pengasih”.

Buka Mata, Buka Hati

Written By Amoe Hirata on Selasa, 31 Januari 2017 | 18.05

SETIAP kajian tadabbur Kamis pagi di AQL Islamic Center Tebet, ada sosok inspiratif yang selalu datang menjajakan dagangan kerupuknya. Aku tidak tahu persis nama, asal, keluarga, dan kediamannya, karena yang penting adalah pelajaran yang bisa diambil darinya. Hanya ciri fisik yang bisa diketahui; seorang yang tidak bisa melihat, membawa tongkat, dan payung yang di bawahnya diletakkan kerupuk-kerupuk yang siap dijual.
            Setiap kali berdagang selalu laris. Entah apa sebabnya. Di antara yang membuat salut ialah dengan kondisinya seperti itu, dia mau tetap bekerja. Berdiri di atas kaki sendiri, tidak meminta-minta ke orang lain. Ia tetap berusahan sebisanya dengan dagangan ala kadarnya.

4 Problem dan 4 Solusi

Written By Amoe Hirata on Kamis, 15 Desember 2016 | 14.42

           
Setiap orang pasti pernah mengalami takut, bersedih, ditipu daya orang, dan (terlalu cinta) dunia. Berikut ini ada empat solusi dari al-Qur`an sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ja’far al-Shadiq, seorang Ahli Bait yang sangat paham dengan rahasia-rahasia al-Qur`an.
            Beliau mengatakan, “Aku heran kepada orang yang takut,” ini adalah problem yang pertama. Solusinya,  “sedang dia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (QS. Ali Imran [3]: 173).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, (QS. Ali Imran [3]: 174).”
            “Aku juga heran kepada orang yang berduka [bersedih],” ini problem yang kedua. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala berikut:
لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiya [21]: 88).”
            “Aku juga heran dengan orang yang ditipu daya,” problem yang ketiga. Solusinya,  “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ
Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir [40]: 44).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ
Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka,” (QS. Ghafir [40]: 45).
“Aku juga heran dengan orang yang mencari dunia dan perhiasannya,” problem yang keempat. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi [18]: 39).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ
Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini).” (QS. Al-Kahfi [18]: 40).”

Menangis di Persidangan

Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 Desember 2016 | 19.24

SYA'BI meriwayatkan, "Aku pernah menyaksikan Syuraih [dalam satu persidangan]. Ia didatangi oleh seorang wanita yang berseteru dengan seorang lelaki. Kedua matanya pun berlinang air mata. Aku pun berkata kepada [Syuraih], "Wahai Abu Umayyah! Saya kira wanita malang ini terdzalimi'. Syuraih pun menjawab, "Waha Sya'bi, sesungguhnya saudara-saudara yusuf juga menangis (QS. Yusuf [12]: 16) [padahal mereka berbohong]." (Akhbar al-Qudhaat: II/221).

عَن الشعبي قال: شهدت شريحاً وجاءته امرأة تخاصم رجلاً فأرسلت عينيها فبكت فقلت: يا أبا أمية ما أظن هذه البائسة إِلَّا مظلومة؛ فقال: يا شعبي: إن إخوة يوسف: جَاؤُواْ أَبَاهُمْ عِشَاء يَبْكُونَ[يوسف:16[
أخبار القضاة (2/ 221(
Pelajaran:

1. Nangis di persidangan tidak menunjukkan kebenaran
2. Di persidangan butuh bukti bukan baper
3. Yang nangis di persidangan "kayak" cewek
4. Yakin benar harus tegar, bukan perasaan diumbar
5. Hakim yang tidak baperan, tidak akan terpengaruh dengan sebuah "drama" tangisan

Wallahu a'lam

Terus Ajarkan al-Qur`an, Walau Dunia Tak Lagi Perhatian

Written By Amoe Hirata on Rabu, 23 November 2016 | 10.45

PAGI itu hawa terasa sejuk. Rumput-rumput bermesraan dengan embun pagi. Semilir angin menerpa wajah dengan sangat lembut. Suara burung bersahutan menyambut fajar. Suasananya begitu indah memesona. Asri menentram jiwa. Dalam kondisi demikian, di pelataran rumah, terlihat sepasang suami istri sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Keduanya merupakan guru ngaji kampung yang tergolong aktif. Di tengah asyiknya bercengkrama, tiba-tiba sang istri bertanya, “Mas bagaimana nanti klo anak kita besar dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi? Sang suami menjawab, “Anak-anak kita sudah ditentukan kadar rezekinya oleh Allah subhanahu wata’ala.”
Mendengar jawaban sang suami, istri pun menimpali, "Bagaimana kalau kita berhenti saja menjadi guru ngaji, kita cari pekerjaan lain agar bisa membantu sekolah anak kita?" Sontak saja sang suami menjawab dengan nada yang agak tinggi, “Apa pun yang terjadi kita akan tetap mengajarkan Al-Qur`an, karena ini adalah pekerjaan terbaik menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku pernah mendengar riwayat, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an serta mengamalkannya.” (HR. Bukhari)
Di sisi lain, Allah subhanahu wata’ala akan memberi yang terbaik untuk kehidupan kita. Seandainya di muka bumi tidak ada seorang pun yang perhatian terhadap al-Qur`an, maka kita berkewajiban mengajarkan al-Qur`an.” Mendengar pemaparan tegas sang suami, istri pun terdiam seketika dan meminta maaf atas kekhilafannya.
Mudah-mudahan dialog sepasang suami istri ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang futur (loyo setelah semangat) dari perjuangan lalu bangkit dan berjuang bersama al-Qur`an. Sebab, banyaknya harta dan honor yang didapatkan oleh seseorang  tidak menjamin baiknya generasi atau keturunannya, tapi yang menjadikan dia baik dan mulia adalah ketika dia menekuni setiap pekerjaan yang menurut Allah subhanahu wata’ala baik yang dalam hal ini ialah mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.
Bukankah tujuan manusia diciptakan oleh Allah untuk ibadah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56) dan bukankah ibadah itu adalah bagaimana membuat Allah itu senang? Kalau engkau membiasakan diri bersama al-Qur`an serta membelanya, maka engkau akan disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala. Jika engkau disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala, maka apa pun yang engkau minta, akan diberi oleh-Nya. Jangankan harta, dunia dan isinya akan diberikan sekiranya Dia menghendaki. Oleh karena itu, terus ajarkan al-Qur`an, walau dunia tak lagi perhatian!. Wallahu a’lam. (Tulisan Sahabat: Ihsan Farid)

Kegigihan Tikus

Written By Amoe Hirata on Selasa, 25 Oktober 2016 | 12.47

            
SIANG hari, dari lubang kecil tembok kayu triplek kos-kosan, keluarlah satu tikus untuk mengais rezeki di dalamnya. Agak geli juga rasanya. Aku kejar, aku gertak, nyalinya pun ciut kemudian dengan terbirit-birit memasuki lubang kecil yang dibuatnya.

Mau Pasangan Ideal? Sadar Diri Dong!

Written By Amoe Hirata on Minggu, 23 Oktober 2016 | 14.47

“ANA siap menikah!” kata Hafiz mantap. Salim mengamini dan menimpali alhamdulillah.
“Antum sudah punya calonnya akhi?” ditanya demikian Hafiz malah cengar-cengir, membuat Salim penasaran dan mencoba menebak arah pembicaraan ini.

Mengetuk Pintu Surga Mertua

Written By Amoe Hirata on Jumat, 21 Oktober 2016 | 05.22

Untung mertua gue udah mati. Jadi gak ribet deh.” “Istighfar Re!” Ami menepuk pundak Rere, sedikit mengagetkan dan membuat Rere segera berujar Astagfirullah.
            “Maksud gue gak sekasar itu. Abis ngedenger ceritanya si Wilda dan mertuanya kaya serem banget,” Kata Rere membela. Wajah Wilda berubah masam dan Rere segera meminta maaf sekiranya ucapannya yang keceplosan itu tidak berkenan di hati Wilda.
            Pagi menjelang siang hari ini mereka sedang duduk-duduk santai di pelataran TK. Matahari menunggu buah hati mereka selesai belajar. Dan sebagaimana ketika ibu-ibu sedang kumpul ada sajalah yang mereka bicarakan. Dimulai dari Wilda yang mengeluhkan kondisi dirinya yang selalu diatur oleh sang ibu mertua.
            “Tapi emang bener serem sih, bayangin aja udah 5 tahun gue nikah dari urusan gue masak apa hari ini buat suami sama anak gue mertua selalu ngatur. Itu baru urusan dapur belum lagi kalau gue lagi ada masalah sama Mas Pram, Mama mertua lebih ikut campur lagi dan pastinya lebih ngebela anaknya ketimbang gue.”

Logika Alif Lam Mim

Written By Amoe Hirata on Selasa, 29 September 2015 | 05.03

Alif Lam Mim merupakan bagian dari huruf muqothtoah yang ada dalam ayat al-Quran. Kita akan membahas kandungan huruf muqottoah itu secara logis. Pada kesempatan kali ini hanya akan dibahas Alif Lam Mim saja karena sudah teranggap mewakili dari kesekian huruf muqatta`ah yang ada.

Alif Lam Mim merupakan nama huruf dari notasi suara Aa, La dan Ma. Perlu diketahui bahwa pengetahuan tentang bunyi huruf itu sama-sama diketahui oleh masing-masing orang, baik yang buta huruf maupun yang tidak buta huruf. 

Pertanyaanya sekarang ialah: "Selama ini nabi dikenal ummi(tidak bisa baca tulis), lalu kenapa dalam huruf-huruf muqottoah beliau membaca dengan nama-nama huruf, sedangkan pengetahuan tentang nama-nama huruf hanya diketahui oleh orang yang belajar?." 

Jadi logikanya, jika nabi seorang ummi dan mampu melakukan kemampuan orang yang bukan ummi berarti ia telah mendengar kata itu dari Allah langsung, ini juga menegaskan kemu`jizatan al-Quran.  



Penalaran matematisnya demikian:


Kenal huruf+Bisa menyebut nama huruf= Biasa
Buta huruf+Bisa menyebut nama huruf= Luar Biasa

Konklusi= Yang bisa membuat orang biasa  menjadi luar biasa hanyalah zat yang maha luar biasa(Allah). Ini mengindikasikan bahwa al-Quran yang dibawa Muhammad adalah benar-benar wahyu dari Allah ta`ala.



wallahu a`lam

Khatam 60 Kali

Written By Amoe Hirata on Kamis, 18 Juni 2015 | 20.27

            Rabi` bin Sulaiman al-Muradi al-Mishri menceritakan: “Imam Syafi`i mengkhatamkan al-Qur`an pada bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali, semuanya (selesai) dalam satu shalat”(Abu Hatim al-Razi, Ādābu al-Syāfi`i wa Manāqibuhu, 327 1/74). Bayangkan! Bagaimana manajemen waktu Imam Syafi`i ketika Ramadhan, sehingga bisa mengatamkan al-Qur`an sebanyak enam puluh kali dalam shalatnya. Merupakan pembelajaran yang luar biasa bagi siapa saja yang hendak lebih intim bersama al-Qur`an di bulan Ramadhan.

Musim Hoax

Written By Amoe Hirata on Kamis, 11 Juni 2015 | 08.09

            BERITA. Ada banyak lapisan-lapisan yang sering tak terjamah. Kadang orang baru udzunul yaqin(denger dari orang) sudah memastikan diri –tanpa ada usaha verifikasi- bahwa itu benar adanya, padahal hoax. Yang ilmal yaqin (tahu berdasarkan teori) pun kadang tak kalah sangar. Sudah berani mengklaim bahwa yang dia pahami pasti benar sedang yang lain salah, padahal hoax. Yang `ainul yaqin(lihat dengan mata kepala sendiri) kadang-kadang hanya bisa melihat kulit-yang juga hoax- berita padahal di baliknya ada berlapis-lapis makna tersembunyi. Lha bagaimana mau mencapai haqqul yaqin (kebenaran sejati) kalau lapisan sebelumnya saja tidak bisa lulus?
            Ada dua hal yang bisa menjelaskan fenomena ini: Pertama, memang benar-benar tidak tahu karena ditipu orang dengan sangat halusnya, sedang perangkat untuk verifikasi tidak dimiliki. Kedua, sengaja menikmati dan menumbuhkembangkan ketidaktahuan, untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang tersimpan dalam jiwanya yang sakit sosial.  Berita hoax sudah menjadi musim di tengah kecanggihan teknologi komunikasi yang kian menjadi-jadi. Bukan tidak mungkin –kalau tidak boleh dikatakan pasti- berita hoax adalah senjata canggih sistem Dajjal yang dijajakan melalui media untuk mengarahkan hati, perasaa, dan pikiran orang menuju kepalsuan.
            Seyogyanya wejangan Kitab Suci bisa dicermati: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”(Qs. Al-Hujurat: 6). Hal yang paling mudah untuk menghadapi berita hoax –sebagaimana nasihat ayat ini- ialah: Pertama, mempertebal keimanan. Iman sejati akan memancarkan rasa aman dan tentram di sekililingnya. Kedua, tak sembarang menerima berita sebelum meneliti dengan benar. Ibarat makanan, dikunyah terlebih dahulu. 

Filosofi TANDHUR

Written By Amoe Hirata on Selasa, 14 April 2015 | 12.46

Tandhur” sebagai sebuah kata, memiliki filosofi yang tidak sederhana. Paling tidak ada beberapa penjelasan yang mewakilinya: Pertama, sebagai kata yang lahir dari bahasa Jawa, ia berarti: menanam. Ada beberapa contoh pribahasa Jawa yang menggunakan kata-kata ini seperti: “Opo seng mbug tandur yo iku bakale seng mbug unduh”(Apa yang kamu tanam, yaitu yang bakal kamu panen). Kedua, dalam bahasa Arab “tandhur” diistilahkan: “zara`”. Karenanya, ada pribahasa: “man zara`a hashada”(barangsiapa menanam, pasti mengetam). Kedua pribahasa ini –baik dari Jawa maupun Arab- menggambarkan bahwa “tandhur” adalah hakikat hidup manusia. Di dalamnya ada usaha serius, perencanaan, penentuan bibit pilihan, pengetahuan mendalam tentang tanah, penguasaan musim, sinergi petani, penguasaan air, dan lain sebagainya. Karena unsur ‘tandhur’ yang begitu kompleks, maka sebagai petani, harus memiliki sifat-sifat luhur: kesabaran, keuletan, ketelatenan, kecepatan, kepekaan dan sifat-sifat lainnya. Ia menghadapi tanaman dan tanah bukan sebaga pengeksploitir, tapi sebagai sahabat. Boleh juga “tandhur” berasal dari kata Arab: تَنْظُرُ tandhur. Artinya memandang sesuatu dengan pemikiran mendalam, bukan parsial, superfisial dan wadak. Dalam bahasa jawa ada hewan bernama undhur-undhur jalannya sangat pelan dan ke belakang. Kalau dikaitkan dengan kata tandhur dalam bahasa Arab, maka ada relevansinya yaitu: memandang sesuatu yang diiringi pemikiran yang mendalam(berasas historis), pelan-pelan, hati-hati supaya menghasilkan konklusi yang benar.
Uniknya, dalam al-Qur`an keberuntungan diistilahkan dengan kata: “al-falāh”. Kata ini pada asalnya berarti: “Membelah”, yang merupakan salah satu proses penting yang dilakukan petani untuk mengolah tanah. Makanya tidak mengherankan pula bahwa, bahasa Arabnya ‘petani’ ialah ‘Fallāhun’. Mungkin kita akan bertanya-tanya, ‘mengapa dalam al-Qur`an keberuntungan diistilahkan dengan petani atau dunia pertanian?’. Bayangkan! Betapa beruntungnya, petani misalkan hanya menanam satu bulir padi, kemudian coba hasilnya berapa? Beratus-ratus padi. Bukankah ini keberuntungan yang luar biasa? Makanya tidak heran jika amal seseorang dilipatgandakan sebagaimana biji tanaman(yang mempunyai daya lipat ganda), sebagaimana ayat berikut:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui(Qs. Al-Baqarah: 261).
            Maka meminjam istilah ‘petani’ atau wong kang tandhur, kita akan bisa menjelaskan filosofi tandhur. Dalam hidup ini, sejatinya manusia sedangan menanam, baik kebaikan maupun keburukan. Namun, sebagai orang Islam, serta manusia pada umumnya –yang masih murni kemanusiaannya-, pasti menanam kebaikan. Dalam sebuah pertanian, ada beberapa unsur penting yang harus ada: petani, tanaman atau bibit, tanah, alat pertanian, dan pengalaman sekaligus ilmu pertanian. Sebagai contoh kecil misalkan: kita mendirikan sebuah organisasi sosial, harus jelas penanamnya siapa, apa yang ditanam, kapan menanam, bagaimana menanam, untuk apa menanam. Semuanya harus jelas. Bila regulasinya salah, maka akan terjadi kesalahan pula terhadap hasil tanaman. Manusia yang tidak menanam bagaimana mungkin akan mendapatkan tanaman. Manusia menanam jauh lebih mulia daripada orang yang berpangku tangan dan hanya menerima tanaman.
Karena pentingnya menanam, sampai-sampai Rasulullah menyuruh umatnya tetap menanam, meskipun kiamat sudah semakin dekat:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمُ الْقِيَامَةُ، وَفِي يَدِهِ فَسِيلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا "

Jika datang hari kiamat dan ditangan salah seorang kalian ada fasiilah (bibit kurma) maka tanamlah.” [HR Ahmad dan Bukhari dalam adabul mufrad. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan sanadnya sahih sesuai syarat Muslim]. Bayangkan! Ketika menjelang kiamat pun, kita jika memiliki kesempatan untuk menanam kebaikan, maka tetaplah menanam. Pada hadits tersebut contohnya adalah bibit kurma. Jadi filosofi penting “tandhur” ialah kesadaran mendalam manusia untuk selalu menanam, bukan sekadar menanam, tetapi menanam kebaikan. Tapi yang namanya penanam, harus tetap sadar bahwa ia hanya bisa menanam. Masalah hasil, paka sepenuhnya hak prerogatif Tuhan. Tidak boleh sok dan sombong terhadap tanaman. Ingat betul-betul kejadian yang terjadi pada pemilik kebun yang dengan PD-nya pasti menanam tanpa melibatkan peran Tuhan, sehingga tanamannya hangus(Qs. Al-Qalam: 18-25); atau seperti pemilik kebun yang bangga dengan perkebunannya sehingga merendahkan orang lain dan merasa PD masuk surga dengan harta yang dimiliki sehingga tanamannya ludes(Qs. Al-Kahfi: 32-44). Di dunia ini kita terus menanam, hasil kita serahkan pada Allah. Itulah filosofi tandhur.

Mereguk Hikmah dari Nenek Bungkuk

Written By Amoe Hirata on Jumat, 13 Februari 2015 | 07.33

            Siang hari, Kamis 12 Februari 2015, sepulang dari workshop pemikiran Islam kontemporer di ITS Surabaya, ada pemandangan miris yang aku jumpai di Jl. Manyar, Sukolilo, Surabaya. Seorang nenek tua –entah siapa namanya- dalam kondisi bungkuk, berjuang sekuat tenaga untuk mengais sesuap nasi. Dari kejauhan dibalik kaca mobil, aku bisa melihat dengan jelas ia sedang menjual kora Jawa Pos. Dengan sangat sabar, telaten, dan semangat tinggi, ia hampiri satu per satu tiap mobil untuk menjajakan dagangannya. Melihat fenomena tersebut, hati terenyuh. Nenek setua itu, masih berjuang sekuat tenaga untuk bekerja.
            Berbagai pertanyaan pun memenuhi otakku. “Kenapa pada usia setua itu, ia bekerja? Di mana keluarganya? Bagaimana sikap pemerintah setempat ketika melihat kejadian itu?” Uniknya, ia tidak menjadi pengemis walau sebenarnya ia sangat layak mengemis. Ia memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dari auranya terlihat ketegaran, kekuatan, ketahanan yang sangat sulit –kalau tidak boleh dikatakan mustahil- ditiru oleh anak-anak jaman sekarang yang manja, alay dan lebay. Di usia yang semestinya pensiun, dan istirahat di rumah, ia malah berjibaku dengan keadaan, untuk bertahan hidup di luar. Merupakan cambukan luar biasa baik bagi aku pribadi, masyarakat bahkan pemerintah.
            Aku berpikir sejenak, menembus lorong waktu. Apa jadinya jika pemandangan seperti ini dilihat oleh Khalifah Umar bin Khattab?  Pada zamannya saja –tanpa disuruh- ia rajin melakukan blusukan di malam hari untuk memeriksa kondisi rakyatnya yang masih dalam kondisi melarat, apalagi jika melihat kondisi yang sedemikian terang seperti yang aku lihat hari ini? Di mana nurani manusia modern tersimpan, ketika melihat kejadian seperti ini?  Ah, semakin tidak aku pahami saja logika orang modern. Padahal secara normatif, Nabi pernah mengingatkan: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak memuliakam orang tua renta”. Ini menjadi semacam nasihat bagi setiap jiwa yang masih hidup nuraninya, untuk segera membantunya.

            Aku tak berdaya di hadapannya. Aku hanya bisa terenyuh, tanpa bisa membantu; hanya bisa kasihan, tanpa ada bantuan; hanya bisa meratapi, tanpa ada solusi. Sejauh yang aku bisa untuk sementara ini, hanyalah mereguk hikmah dari sekilas perjalanannya. Pertama, kondisi sesulit apapun bukan alasan untuk menyerah dan berpangku tangan. Kedua, hidup melarat tapi mandiri, jauh lebih mulia dari pada hidup mewah, tapi bergantung pada orang tua. Dalam Islam, ada ajaran: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Sebuah ajaran luar biasa yang menempa orang untuk memberi, daripada meminta-minta. Ketiga, selama manusia berusaha dengan keras, Allah pasti menunjukkan jalannya. Keempat, sebagai kritik sosial. Adanya orang seperti ini, tanpa ada peran nyata dari pemerintah, maka sesukses apapun pembangunan negara, akan sia-sia jika dibangun tanpa nurani. Kelima, jangan sampai kita membiarkan orang tua kita dalam kondisi seperti itu. Minimal dimulai dari keluarga, kemudian orang lain.

            Bila hati tak terenyuh dengan kejadian ini, maka masihkah tersisa dalam benak anda rahma Tuhan? Jadikanlah ini sebagai peringatan. Karena pada dasarnya, pertolongan Allah kebanyakan muncul dari orang-orang lemah sepertinya. Wallahu a`lam bi al-shawab.

Kakek Teladan di Masjid Al-Azhar

Written By Amoe Hirata on Senin, 05 Januari 2015 | 22.27

Ketika masih di Mesir(November 28, 2010 at 8:39pm), aku teringat pada seorang kakek tua renta duduk tenang bersila di serambi masjid al-Azhar. Setiap kali orang lalu lalang di depannya, ia sapa dengan senyuman dan aura wajah persahabatan. Tak hanya itu, ia juga membawa roti `is dan tho`miyah yang sengaja dibagikan selepas shalat Dzuhur bagi siapa saja yang menghendaki. Pertama kali aku melihatnya mungkin kurang begitu menarik perhatian. Lama-lama kuperhatikan dari bilik jendela kayu, ada kesan haru dan simpati. Betapa keikhlasan dan kedermawanannya sanggup mengalahkan rasa sakit yang dideritanya. Sewaktu berdiri ia sempoyongan berusaha mencari sandaran. Betapa aura keikhlasan terpancar dari wajahnya. Meski sakit ia tidak menjerit. Meski susah ia tidak marah. Benar-benar kakek teladan. 

Tragedi Penundaan

Written By Amoe Hirata on Minggu, 30 November 2014 | 00.23

            Salah satu ciri yang sangat inheren pada orang-orang besar ialah kesanggupan untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Bagi mereka, penundaan adalah tragedi. Apa jadinya jika Rasul menunda dakwahnya hingga semua keluarganya masuk Islam, apa jadinya jika Abu Bakar menangguhkan Usamah bin Zaid ke negeri Syam, apa jadinya jika Shalahudin Al-Ayyubi menunda misi sucinya membebaskan Al-Quds, apa jadinya jika Soekarno-Hatta menunda proklamasi kemerdekaan Indonesia, apa jadinya jika para pahlawan nasional berleha-leha menunda perjuangan untuk merebut kemerdekaan? Satu detik waktu yang tersia, sangat berpengaruh terhadap kesuksesan yang didamba. Karena itulah, penundaan sekecil apapun akan berdampak buruk bagi kesuksesan.

Penundaan berdampak buruk bukan terletak pada besar kecilnya pekerjaan, tapi pada cara pandang yang salah terhadap pekerjaan. Pekerjaan yang semestinya harus diselesaikan tepat waktu, kemudian diselesaikan seperti yang dimau. Inilah mengapa dalam al-Qur`an ada ungkapan: Faidza faraghta fanshab(maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain). Ayat ini sangat jelas tidak memberi ruang untuk penundaan, meskipun tidak menafikan jeda untuk istirahat. Pada ayat lain digambarkan betapa penundaan selalu berbuah penyesalan. Sering disebutkan kata ‘ya laitani’ sebagai gambaran penyesalan yang sangat luar biasa ketika gagal di akhirat. Mereka menyesal karena sewaktu di dunia tidak melakukan amal dengan sebaik-baiknya. Orang yang masuk surga saja menyesal karena tidak maksimal beramal, apa lagi yang masuk neraka, pasti penyesalannya berkali-kali lipat. So, penundaan adalah tragedi, bagi yang tidak mau menyesal di kemudian hari, maka mulai detik ini segera melakukan sesuatu yang berarti.

Tanpa Sadar Berfikir Sekuler

Written By Amoe Hirata on Jumat, 28 November 2014 | 19.35

            Pernahkah anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut: “Ini masjid, kalau mau pacaran di luar masjid saja. Jangan  mengotori masjid dengan perbuatan maksiat”. “Ini bulan Ramadhan, jangan sekali-kali berkata kotor”. “Ini masjid bukan pasar. Kalau mau berpolitik di luar masjid saja”. “Kalau dana pribadi sih tidak apa-apa, ini dana umat maka dhalim kalau sampai menyia-nyiakan dana umat”. Pernyataan-pernyataan tadi sekilas benar, namun setelah dicermati ada kejanggalan-kejanggalan ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: “Kalau pacaran memang haram, memang apa hanya haram ketika di masjid? Perbuatan maksiat memangnya hanya dilarang ketika di masjid”. “Emang boleh berkata kotor di luar bulan Ramadhan?”. “Emang Rasul memisah-misahkan antara urusan masjid dan negara. Padahal menurut sejarahnya masjid menjadi pusat kegiatan?”. “Emang kalau dana pribadi tidak dhalim kalau disia-siakan?”. Itu hanya sekadar contoh. Karena masih banyak lagi contoh dari pernyataan berpola fikir sekuler. Maka jangan heran jika didapati orang yang ber­-casing muslim, tapi cara pandangnya sekuler. Ini sangat halus, tapi jarang yang bisa lolos.

Bila Tak Ikhlas Tak Bakal Jadi Daging

            Di depan terminal bus Ponorogo, saat menunggu bus jurusan Surabaya, ada seorang duduk di sampingku. Dilihat dari gaya pakaiannya, terlihat seperti guru. Ia tiba-tiba berbicara menyoal kenaikan tarif angkutan yang sangat melambung tinggi, padahal BBM hanya naik dua ribu rupiah. Biasanya ongkos dari Ponorogo ke Madiun hanya delapan ribu, sekarang naik jadi tiga belas ribu. Di sela-sela obrolan itulah dia berkata: “Bila orang yang bayar tak ikhlas, maka tak akan jadi daging”. Apa yang diucapkan orang ini seakan terdengar sederhana, namun ketika diresapi secara mendalam, sangat sarat makna. Dari ucapannya tergambar suatu sikap religius. Ia sangat peduli akan makna yang terkandung dalam agama, yaitu makna keberkahan. Makna yang kian hari makin tercerabut dari orang-orang Indonesia. Nilai perdagangan liberal telah menceraikan manusia dari akhlak. Keuntungan menjadi muara tujuan. Akibatnya jelas, betapapun besar keuntungan yang didapat –karena dihasilkan dengan cara mengeksploitasi orang lain-, maka hasil didapatkan tidak akan berkah. “Tidak akan jadi daging” adalah gambaran nyata dari perbuatan yang anti nilai, dan mendewakan keuntungan materi sehingga apa yang dihasilkan tidak akan berkah dan berarti.


 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan