Latest Post

Benarkah kita merdeka.

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 September 2010 | 10.36

Benarkah kita merdeka….
Sepenuh jiwa dan raga…..
Sejatinya, tidak demikian adanya….
Tepatnya, menuju penjajahan berikutnya….

Budaya kita terjajah….
Ideologi kita terjajah…..
Sebut berbagai lini dari hidup kita…
Disitu kita kan menemukan penjajah…

Penjajahan yang tidak kentara….
Begitu halus hingga sulit di terka…
Sampai kesulitan untuk membeda….
Kita hanya merasakan sengsara…..

Korban tidak individu saja…..
Menyebar kesegenap lapisan bangsa…
Keluarga, masyarakat, negara hingga agama…
Kita terinjak-injak, tapi sekali lagi tidak merasa….

Malah bersenang-senang dalam euforia…
Tertidur pulas dengan mimpi sementara….
Bilakah kita terjaga…..
Dari penjajahan yang sudah lama merajalela…..

Arti Kebersamaan


Mungkin bagi sementara orang kata”kebersamaan” terdengar akrab dan familier. Kemudian, sudah berapa jauhkah mereka mengetahui arti, esensi daripada kata “kebersamaan”? apa itu hanya sekedar simbol, slogan, jargon atau apa? Atau memiliki signifikansi dan urgensitas tersendiri dalam melancarkan roda kedinamisan suatu organisasi? Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan diatas, penulis merasa perlu membahas tema arti “kebersamaan”.

“Kebersamaan” berarti :”perihal bersama”. Sedang “bersama” sendiri berarti:”Berbareng, serentak, semua, sekalian dan seiring dengan,,,.(baca: Kamus Besar Bahasa Indonesia)” Jadi kebersamaan berarti :”sebuah kondisi yang sengaja di ciptakan secara berbarengan untuk menghasilkan sikap serentak yang dilakukan oleh semua individu agar memperoleh sekalian tujuan/harapan seiring dengan visi dan misi yang ingin dicapai”. Sedangkan esensi “kebersamaan” ialah berkumpulnya individu dalam suatu kondisi apapun untuk meraih tujuan tertentu”.

Kebersamaan laksana kertas putih yang tak bertuliskan apapun. Jadi, yang menentukan baik tidaknya “kebersamaan” ialah sang penulis yang dalam hal ini, bila diterjemahkan dalam suatu organisasi yaitu:” ketua/pengurus dan sinergi dari anggota”. Ketua/pengurus dan anggota mempunyai peran besar dalam membingkai kebersamaan dan menciptakan muaranya, apakah positif atau negatif.

Masalahnya sekarang ialah “kebersamaan” yang masih samar ini mau dibawa kemana? Apa dibawah kearah positif atau negatif? Jawaban yang paling memungkinkan ialah positif. Namun, apa bentuk riil dari positif itu sendiri? Karena saya yakin masing-masing mempunyai pengertian sendiri tentang positif. Maka dalam hal ini subjektifitas mempunyai andil besar dalam menerjemahkan positif. Dengan demikian perlu dikerahkan usaha yang luarbiasa dan sungguh-sungguh untuk mengetahui arah positif dari kebersamaan yang di ciptakan.

Kebersamaan yang diharapkan ialah kebersamaan yang di kerahkan kearah positif dimana mampu mengarah pada kerja-kerja yang kreatif, aktif dan produktif yang mampu menjaga dinamika organisasi.

Kebersamaan yang tidak diharapkan ialah kebersamaan semu, formalitas dan palsu yang meskipun ada sejatinya tiada, yang kelihatan bersama tetapi hatinya berbeda-beda. Kebersamaan demikian hanya akan menghambat daya kreatif, produktif dan kedinamisan organisasi.

Kebersamaan merupakan bagian fundamental dalam persatuan. Tanpa kebersamaan, persatuan tak akan terealisasikan. Walaupun kebersamaan tidak selalu menunjukkan pada persatuan. Karena pada kenyataanya ada yang bersama tapi tidak menyatu.

Kebersamaan bukan berarti mengharuskan kita selalu bersama setiap waktu sehingga mengurangi hak-hak privasi kita. Kebersamaan dan hak privasi memiliki porsinya tersendiri.

Kebersamaan tidak menafikan/menghilangkan perbedaan, karena perbedaan merupakan fitrah sekaligus penentu bagi kedinamisan, kreatifitas dan keharmonisan manusia. Masalahnya sekarang ialah tinggal pada hal apa saja kita boleh berbeda? Dan pada hal apa saja kita tidak boleh berbeda? Kalau hal-hal itu bisa di mengerti maka kebersamaan dan perbedaan tidak perlu di pertentangkan lagi.

Kebersamaan tak selalu berbentuk fisik tapi juga perlu kebersamaan maknawi. Artinya, walaupun secara jasmani berpisah namun rasa kebersamaan dalam jiwa masih ada dengan selalu menjaga komunikasi sosial yang intensif dan harmonis.

Filosofi “kebersamaan” mengacu pada “keterbatasan”. Karena manusia mahluk yang terbatas, maka untuk mengatasi keterbatasan harus dilakukan usaha bersama. Dari sisi ini kita mengetahui betapa pentingnya kebersamaan.

Sekarang mari kita lihat, sejauh ini “kebersamaan” dalam tubuh kifayah sudah tercipta dengan bagus apa tidak? Lalu, jika sudah tercipta, kearah mana kebersamaan selama ini terarah? Kalau positif, apa wujud riil dalam dunia nyata? Apakah “kebersamaan” di Kifayah sudah sangat signifikan sehingga efektifitas organisasi berjalan dengan baik dan bermanfaat? Atau jangan-jangan “kebersamaan” hanya sekedar buah bibir saja yang tak mempunyai wujud nyata? Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut saya serahkan kepada para pembaca yang budiman sebagai bahan evaluasi bersama.

Organisasi Kifayah milik kita bersama. Untuk mensukseskanya perlu kebersamaan kita. Kebersamaan sejati bukan palsu, yang mampu mengubah keterbatasan-keterbatasan kita menjadi tenaga positif yang di arahkan kearah positif untuk menghasilkan hal-hal positif yang semuanya terbingkai dalam tema “KEBERSAMAAN. Akhirnya, semoga ketua Kifayah baik sekarang maupun yang akan datang beserta jajaran pengurus dan anggota mampu menunjukkan secara konkrit kebersamaan Kifayah. Amiin Ya Rabbal `Alaminn.

Wallahu `Alam Bis Shawab.

Bahtera Cinta

Hati tak mampu mengeja....
Untaian sayang yang terlukis dalam simponi cinta...
Begitu halusnya....
Hingga kalbu tak sadar hembusnya...

Dimensi cinta melambai-lambai memperdaya....
Seakan menaut suka cita...
Glombang mahabbah bergerak dengan penuh kencangnya....
Denyut nadi berdentum keras membahana.....

Bahtera cinta berlabuh pada jiwa....
Penuh kasih, sayang dan asa...
Cemas, rindu mendayu-dayu mengelana...
Membuncah amat menggelora....

Setia tak kan berpaling selamanya.....
Selalu, kan mencinta hingga tiada...
Begitulah goresan rasa terbaca...
Dalam ukiran cinta yang kan abadi selamanya....

Alur-alur Angan

Halau-halau rintang menawan pandang….
Petik kecapi indah lestari…
Alun notasi menerpa sunyi..
Warnai sepi senyap kosong…

Sendu sedih sedang…
Haru lalu senang…
Lenggok sana lenggok sini…
Suguh segan tak peduli…

Ruas jalan makin jelas sajikan…
Alur-alur angan terlihat nampak terang…
Untuk kesana haruskah gopoh tertatih…
Pelan lalu-lalang titi jerih…

“Berfikir” dalam al-Quran



A.Ayat-ayat al-Quran tentang “Berfikir”.

1.fakkara:
انه فكّر وقدّر(18)فقتل كيف قدّر(19)
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), (al-Muddtsir:18)
2.Tatafakkaru:
قل انما أعظكم بواحدة أن تقومو لله مثني و فرادي ثم تتفكروا ما بصاحبكم من جنة ان هو الاّنذير
لكم بين يدي عذاب شديد(46)

”Katakanlah: "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”(Saba`:46)

3.Tatafakkarun:
- يسئلونك عن الخمر والميصر قل فيهما اثم كبير ومنافع للناس و اثمهم أكبر من نفعهما ويسئلونك ماذا ينفقون قل العفو كذلك يين الله لكم الآيت لعلكم تتفكرون(219)
-Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir(al-Baqara:219)

- أيودّ أحدكم أن تكون له جنة من نخيل وأعناب تجري من تحتها الأنهارله فيها من كل الثمرات وأصابه الكبر وله ذرّية ضعفاء فأصابها اعصار فيه نار فاحترقت كذلك يبين الله لكم الآيِت لعلكم تتفكرون(266)
-Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya(al-Baqara:266)

- قل لا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم اني ملك ان أتبع الا ما يوحي اليّ قل هل يستوي الأعمي والبصير أفلا تتفكرون(50)
-Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"(al-`Anam:50).


4.Yatafakkaruu:

أولم يتفكروا ما بصاحبكم من جنة ان هو الا نذير مبين(184)
-Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.(al-A`raf:184).

- أولم يتفكروا في أنفسهم ما خلق ااه السماوات والأرض وما بين هما الا بالحق وأجل مسمي وان كثير من الناس بلقاء ربهم لكافرون(8)
-Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.(al-Rum:8)

5.Wa Yatafakkaruun:

- ان في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل و النهار لأيت لأولي الألباب(190) الذين يذكرون الله قياما وقعودا و علي جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار(191)
-Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ali Imran;190).(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(ali Imran:191).


6.La`allahum Yatafakkaruun:

- ولو شئنا لرفعناه بها ولكنه أخلد الي الأرض واتّبع هواه فمثله كمثل الكلب ان تحمل عليه يلحث أو تتركه يلهث ذلك مثل القوم الذين كذبو بآياتنا فاقصص القصص لعلهم يتفكرون(176)
-Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(al-A`raf:176).

- وأنزلنا اليك الذكر لتبين للناس ما نزّل اليهم ولعلهم يتفكرون(44)
-…..Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan(An-nahl:44).


- لو أنزلنا هذا القرآن علي جبل لرأيته خاشعا متصدّعا من خشية الله وتلك الأمثال نضربها للناس لعلهم يتفكرون(21)
- Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.(al-Hasyr:21)


7.Liqaumi Yatafakkaruun:

- انما مثل الحيوة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض مما يأكل الناس و الأنعام حتي اذا أخذت الأرض زخرفها وازّيذنت و ظنّ أهلها أنّهم قادرون عليها أتاها أمرنا ليلا أو نهارا فجعلناها حصيدا كأن لم تغن بالأمس كذلك نفصّل الآيت لقوم يتفكرون(24)
-Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir(Yunus:24)

-وهو الذي مدّ الأرض وجعل فيها رواسي وأنهارا ومن كل الثمرات جعل فيها زوجين اثنين يشي اليل النهار ان في ذلك لآيت لقوم يتفكرون(3)
-Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan(Aa-Ra`d:3)

- ينبت لكم به الزرع والزيتون و النخيل والأعناب ومن كل الثمرات ان في ذلك لآية لقوم يتفكرون(11)
-Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan(an-Nahl:11).

- ثمّ كل الثمرات فاسلكي سبل ربك ذللا يخرج من بطونها شراب مختلف ألوانه فيه شفاء للناس انّ في ذلك لآ ية لقوم يتفكّرون(69)
-kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan(an-Nahl:69).



- ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودّة و رحمة ان في ذلك لآيت لقوم يتفكرون(21)
-Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir(Ar-rum:21).



-الله يتوفي الأنفس حين موتها والتي لم تمت في منامها فيمسك التي قضى عليها الموت ويرسل الأخرى الي أجل

مسمى ان في ذلك لآيت لقوم يتفكرون(42)

-Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir(Az-Zumar:42)

-وسخّر لكم ما في السماوات وما فى الأرض جميعا منه ان في ذلك لآيت لقوم يتفكرون(13)
-Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir(al-Jaatsiyah:13).

B.Definisi “Berfikir”:

-Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘berpikir” merupakan kata kerja yang di derivasi dari kata “pikir” yang berarti:”Menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu’’, atau “menimbang-nimbang dalam ingatan”.

-Dalam al-Quran kata “berpikir” menggunakan kata”Fakkara” dan “Tafakkara” yang berarti demikian:
1.Fakkara: suatu usaha yang berlebih dan ekstra dalam menggunakan akal dan menyusun beberapa hal yang di ketahui untuk memperoleh sesuatu yang belum di ketahui” .
2.Tafakkara: menggunakan akal pikirnya . Kata “Tafakkara” berasal dari timbangan “Tafa`ala” yang mengandung takalluf(yaitu mengusahakan sesuatu dengan susah payah hingga menjadikanya sebagai karakter diri pribadi) dengan demikian tafakkar merupakan sebuah upaya mengolah dan mengaktualisasikan pikiran yang di lakukan dengan keras hingga menjadikanya karakter diri pribadi.wallahu a`lam.

-Drs. Toto Tasmara mendefinisikan berpikir sebagai berikut: “Berpikir adalah proses untuk menyimpan, mengingat, menganalisis, dan menyimpulkan berbagai informasi yang ada di dalam dan di luar kita, sehingga menjadi sebuah konsep gagasan(ide) yang akan menjadi dorongan dan tindakan” .

C.Urgensi Berfikir.

Pikiran merupakan anugerah besar yang di berikan oleh Allah kepada manusia. Salah satu hal yang membedakan manusia dari hewan ialah terletak pada pikirannya. Pendayagunaan pikiran dengan baik akan membuat utuh esensi kemanusianya, namun jika sebaliknya, maka esensi kemanusianya akan teredusir(terkurangi) atau bahkan terseret pada level hewani dimana melandasi setiap sikap dan langkahnya hanya berdasarkan insting semata. Berpikir merupakan suatu bentuk terrefleksikanya(tercerminnya) rasa syukur seorang hamba kepada Tuhanya, orang yang tidak menggunakan pikiranya dengan baik dan benar maka ia telah mengkufuri nikmat Allah Shubhanahu wata`ala. Dengan membiasakan diri untuk berpikir maka dapat meningkatkan nikmat dari Allah, karena Allah akan menambahkan nikmat-Nya bagi siapa saja yang menyukurinya. Dalam al-Quran kata berpikir disebutkan sebanyak delapan belas kali, ini mengindikasikan bahwa betapa pentingnya berpikir bagi kehidupan manusia. Berpikir merupakan perangkat lunak yang di gunakan untuk mengatasi dan memecahkan problematika yang di hadapi manusia. Bagi orang yang menginginkan kesuksesan baik dunia maupun akhirat, dia harus menggunakan pikiranya dengan baik.

D.Manfaat berpikir

Berikut ini merupakan beberapa manfaat berpikir yang di sadur berdasarkan kontemplasi ayat-ayat tentang ” berpikir” dalam al-Quran:

1.Berpikir sangat urgen sekali dalam suatu perencanaan(planning)(terlepas dari baik atau tidaknya rencana, yang jelas jika menginginkan kesuksesan dalam setiap rencana harus berpikir dengan baik dan matang).

Ini berdasarkan ayat yang artinya:” Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), (al-Muddtsir:18). Ayat ini diturunkan mengenai seorang kafir Mekah, pemimpin Quraisy bernama Al Walid bin Mughirah. Dia merupakan pemuka Quryais yang mengadakan perkumpulan dengan masyarakat Quryais untuk membuat konsensus agar tidak terpecah-pecah dengan maksud menemukan solusi dalam menghalangi laju dakwah Muhammad Shallalahu `alaihi wassallam setelah berpikir panjang dan cukup alot akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad adalah tukang sihir dan apa apa yang dibawanya merupakan murni karya manusia. Ini artinya bahwa berpikir sangat urgen sekali dalam menentukan perencanaan.

2.Untuk mengetahui sejauh mana kebenaran statemen.

Hal ini berdasarkan ayat yang artinya:….kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”(Saba`:46). Dan:” -Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.(al-A`raf:184).Kedu ayat di atas menyatakan secara implisit bahwa kalau orang-orang kafir Qurays mau menggunakan pikiranya dengan baik niscaya meraka akan mengetahui bahwa Muhammad bukanlah orang gila, dia hanya bertugas sebagai pemberi peringatan bagi mereka. Dari situ nyatalah bahwa kebenaranya adalah dia bukanlah orang gila, karena mereka mengetahui dengan pasti siapa Muhammad dan mereka tidak mendapati selama bergaul denganya ada indikasi-indikasi kegilaan yang menderanya. Dengan demikian berpikir dapat mengatahui sejauh mana kebenaran statement.

3.Dapat menimbang kadar kemaslahatan dan bahaya sesuatu serta mengetahui proporsionilatasnya.

Ini berlandaskan pada ayat yang artinya:” -Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir(al-Baqara:219), pertama bahwa orang yang berfikir akan mampu untuk mengetahui kadar kemaslahatan dan bahaya sesuatu, pada ungkapan ayat tersebut menggunakan metafor khamar dan judi. Bila orang jeli dalam menggunakan pikiranya ia akan mampu mengatahui kadar bahaya dan manfaat judi, yang dalam konteks ini keduanya lebih banyak bahayanya karena itulah keduanya diharamkan dalam Islam. Kedua dengan berpikir kita akan mengetahui proporsionalitas sesuatu yang mana dalam ayat tersebut di jelaskan bahwa yang di nafkahkan adalah yang lebih dari keperluan. Artinya bahwa dengan berpikir anda mampu mengetahu berapa porsi sesuatu yang harus dikeluarkan sehingga tidak terlampau kurang atau berlebihan.

4.Mampu menangkap fenomena yang ada untuk dijadikan pelajaran.

Ini berdasarkan ayat yang artinya: -Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya(al-Baqara:266)
Ayat diatas menjelaskan tentang perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya karena riya, membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain, dan menyakiti hati orang. Orang yang mau berpikir akan mampu menangkap metafor(permisalan)pada ayat tersebut bahwa orang yang riya usahanya akan siya-siya belaka tak ada arti dan manfaatnya sama sekali dalam hal ini digambarkan bagaikan kebun kurma yang indah dimana ketika pemiliknya tua kebun itu hancur di terpa yang mengandung api.

5.Dengan berpikir bisa mengetahui apakah seseorang menggunakan pikiranya apa tidak.

Ini berdasarkan ayat yang artinya:”Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"(al-`Anam:50). Artinya bahwa dengan berpikir akan mampu mengetahui apakah seseorang itu menggunakan pikiranya apa tidak, orang yang menggunakan pikiranya bak seorang yang melihat sedangkan yang tidak menggunakanya bagaikan orang buta.

6.Berpikir merupakan indikasi “Ulil Albab” .

Ini berdasarkan ayat yang artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ali Imran;190).(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(ali Imran:191). Diantara ciri ulil albab ialah orang yang selalu berpikir.
7.Berpikir dapat meninggikan derajat seseorang.ini berdasarkan ayat yang artinya:” Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(al-A`raf:176). Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berpikir tentang aya-ayat Allah akan di tinggikan derajatnya.

E.Metode al-Quran dalam mendorong orang untuk berpikir

Betapapun banyaknya manfaat dari berpikir, namun pada realitanya, kebanyakan orang merasa malas untuk menggunakan potensi pikiranya, seolah berpikir hanya di nikmati oleh kalangan elit saja, budaya berpikir seakan hanya dimiliki oleh intelektual saja, padahal berpikir merupakan hak setiap orang karena sama-sama mempunyai potensi untuk itu. Masalahnya sekarang ialah, bagaimana cara menumbuhkan dan mensugesti seseorang agar berpikir?.Dalam al-Quran ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk merangsang orang agar menggunakan pikiranya, paling tidak ada tiga metode yang disodorkan didalamnya diantaranya adalah sebagai berikut:

1.Dengan menceritakan kisah(sejarah).

Cerita merupakan metode yang cukup jitu untuk menumbuhkan bahkan miningkatkan tradisi berpikir pada setiap orang, karena kisah memiliki daya tariknya tersendiri untuk merangsang daya pikir seseorang. Allah berfirman dalam al-Quran: Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(al-A`raf:176).Dalam ayat ini ada kata perintah berupa” menceritakan cerita” yang pada akhirnya diharapkan agar bisa membuat orang untuk berpikir. Mengapa cerita? Kalau diamati secara saksama cerita memiliki keunikan serta keistimewaan tersendiri, cerita merupakan refleksi kejadian masa lampau, sekarang dan yang akan datang yang dapat dijadikan cermin oleh sesorang dalam menapaki kehidupanya. Cerita(sejarah) dapat merangsang sel-sel saraf untuk berpikir, hal ini karena didalamnya menyimpan banyak pelajaran dan ibrah ,disamping itu dalam penyajianya tidak banyak mengeluarkan energi karena itulah tak heran jika banyak orang yang suka cerita. Dalam al-Quran hampir sepertiga isinya merupakan kisah ini menunjukkan betapa penting dan berpengaruhnya kisah bagi kehidupan seseorang untuk diambil pelajaran. Bedanya dengan cerita-cerita yang lain, al-Quran memiliki kekhasan tersendiri dalam setiap sajian ceritanya. Cerita didalamnya memang benar-benar realistis dan mempunyai maksud yang sangat jelas yaitu supaya diambil pelajaranya, karena itulah cerita didalamnya bukan sekedar hiburan semata yang tidak membuat orang untuk berpikir akan tetapi di segenap ceritanya merupakan realita yang merangsang orang untuk berpikir dan mengambil pelajaran darinya.

2. Membaca, merenungi, dan menganalisa al-Qurqan

Al-Quran merupakan kitab suci yang menganjurkan seseorang untuk menggunakan pikiranya, al-Quran tidak hanya menyentuh perasaan seseorang saja tetapi sekaligus juga menyentuh pikiranya. Dengan membaca, merenungi, menganalisa al-Quran orang akan merasa terdorong untuk berpikir. Allah ta`ala berfirman:
-…..Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan(An-nahl:44). Ayat ini jelas-jelas menegaskan bahwa al-Quran di turun kan itu untuk di jelaskan kepada manusia sekaligus agar mereka berpikir.

3.Membuat perumpamaan(metafor)
Membuat perumpamaan memiliki daya tarik untuk mendorong orang agar berpikir. Allah berfirman:” . Dan perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.(al-Hasyr:21) Dengan membikin perumpaan orang akan merasa terlibat dalam perumpamaan tersebut, otaknya akan bekerja mecerna, menganalisis isi perumpamaan itu sehingga menimbulkan konklusi berpikir. Kalau kita amati dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang mengungkap permisalan, yang mengindikasikan betapa pentingnya untuk mendorong orang agar berpikir.

F.Kesimpulan

Berdasarkan tulisan di atas InsyaAllah anda mampu menyimpulkan bagaimana kedudukan berpikir dalam al-Qura`an.

Wallahu a`lam

Syahadat Kultural

Banyak orang yang mengaku telah bersyahadat padahal dalam waktu yang bersamaan juga ia telah mengkhianati syahadatnya. Syahadat yang dilafalkan hanya sebatas ungkapan lisan yang tidak berbekas pada hati dan perbuatan. Ia lahir dari warisan orang tua yang memang terlahir dalam lingkungan syahadat. Dengan demikian kesan syahadat kurang mengena dalam konteks sosial. Ia hanya sebagai baju normatif yang digunakan untuk pemberitahuan identitas pribadi saja. Maka tidaklah mengherankan jika banyak terjadi sikap ambivalen pada diri orang yang bersyahadat.

Syahadat Kultural ialah syahadat yang lahir dari warisan budaya yang hanya sebatas lisan, tidak mengakar dalam hati dan tidak berpengaruh pada sikap dan tindakan. Bila kita melihat dunia nyata banyak sekali fenomena-fenomena yang tidak sedap dipandang. Ada pensyahadat yang koruptor, pensyahadat yang penipu, pensyahadat yang pencuri dan lain sebagainya. Ini sangat lumrah karena pengetahuan dan pengamalan syahadat tidak dipahami dengan begitu baik ditambah lagi syahadat dianggap formalitas saja.

Dalam Islam nilai syahadat sangatlah luhur. Bahkan ia merupakan tiang fundamental dalam bangunan Islam. Jika ia roboh maka Islam secara otomatis akan roboh. Kesalahpahaman dan penyepelean syahadat hanya akan membuat nama Islam tercoreng dan buruk di mata pemeluk agama lain. Salah satu penyebabnya ialah karena syahadatnya hanya sebatas kultur atau budaya saja. Ia tidak mampu diterjemahkan dan diaplikasikan pada kehidupan nyata.

Secara terminologi syahadat berarti pengakuan verbal yang diiringi dengan hati yang yakin dan di buktikan dengan amalan nyata. Bila orang bersyahadat(bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah utusanya) maka secara sadar ia mengetahui bahwa dia telah bersaksi dengan nama Allah dan Rasulullah. Kesaksian secara sadar ini kemudian menghunjam dalam hati dan selanjutnya aura yang ditebarkan dalam kehidupan nyata ialah kedamaian, kejujuran, kesejahteraan dan nilai-nilai positif lainya.

Kita wajib mempertanyakan pada diri kita masing-masing apakah kita benar-benar mengamalkan syahadat yang sesungguhnya? Apakah selama ini syahadat yang kita lafalkan merupakan warisan budaya belaka? Pertanyaan ini sangat penting karena dapat membebaskan syahadat kita dari formalitas dan kultural. Kalau kita mau mengamati dalam tahiyyat shalat wajib kita selalu membaca syahadat dan kalau dihitung semuanya berjumlah sembilan kali ini belum ditambah dengan shalat sunnah dan doa-doa yang mengandung kata syahadat.

Salah satu hikmah yang dapat dipetik ialah kita harus selalu menyadarkan diri dalam kehidupan nyata bahwa kita telah bersyahadat. Syahadat yang dilandasi dengan pemahaman yang bagus diiringin dengan keyakinan hati yang mendalam dan diaplikasikan dalam kenyataan. Syahadat demikianlah yang akan mampu menegakkan tiang Islam. Perlu kiranya kita merevitalisasi syahadat kita agar kita selalu sadar bahwa kita telah bersyahadat. Jangan sampai yang bersyahadat malah lebih buruk dari pada yang tidak. Syahadat bukan sekedar pengakuan, lebih dari itu ia membutuhkan pembuktian.

"Sudahkah kita bersyahadat?"
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan