Latest Post

Kebersamaan Sejati

Written By Amoe Hirata on Kamis, 14 Juli 2011 | 03.20

Sendiri tak lagi sanggup bertitah….
Membahana sunyi terdawai pelan …
Aneka jiwa-jiwa menyatu jerih….
Mencipta rasa damai pun aman….

Rajutan benang-benang sayang terkasih….
Berkelindan pintal kebersamaan…
Tenun asa tergambar indah…..
Mendendang simponi sedu sedan…..

Sedalam rindu kalbu terenyuh…..
Sepasti qadla qadar Tuhan…..
Bilakah……
Benih-benih persatuan terjalin….

Mulupa segenap salah….
Membangun persaudaraan…..
Merapat kokoh…..
Kebersamaan sejati yang kan abadi bertahan.....

Ketika Nafas Berhembus

Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Juni 2011 | 03.24

Ketika nafas terhembus lirih....
Pelipur lara terasa kian dekat maknai....
Arti kesunyian yang selama ini sirnah....
Terluntah-luntah oleh kelemahan ini...

Ketika nafas terhembus sedang......
Jiwa terasa normal membuncah....
Seolah tiada lagi aral merintang.....
Menunggu harap-harap hati yang slama ini menagih...

Ketika nafas terhembus kencang....
Keluh kesah seakan tiba gelayuti....
Tak peduli dengan sesal sial yang kan datang....
Meski terpelanting jauh bawah sadar lampaui...

Berpikirlah!

Written By Amoe Hirata on Jumat, 20 Mei 2011 | 10.37



Bagusmu tercanang gamblang…
Dalam olahan lihai memikir…
Apalah berarti tegap, elok, pikir menghilang..
Terlelap habis oleh kebodohan pikir…

Harga diri tergadai terang…
Merasa tak berharga hingga menyingkir…
Amboi…rupanya kau pergi nun jauh memberang…
Seolah menjauh dari suratan takdir…

Semudah itu kah asa melekang…?
Bukankah masih ada peluang untuk mengukir…
Detik-detik waktu menyapa hangat datangkan peluang…
Berpikirlah, bedamu dengan hewan adalah pikir…

Berpikirlah! Maka kehidupanmu kan gilang-gemilang…
Baik dalam menggapai cita maupuin karir…
Terkadang berjuta angan dan lamunan tergalang…
Namun sadarmu berujar:” aku dibatasi takdir”…

Sehebat apapun otakmu cemerlang…
Masih kan terbatas oleh tabir…
Tabir kebodohan, tabir kecerobohan yang kan slalu menghalang…
Dalam keterbatasan tak semua hal terpikir…

Berpikirlah sebatas ciptaan sang Maha Penyayang…
Jangan terlampau jauh karena kau kan terjungkir..
Berpikir dapat mengangkat derajat seseorang…
Jika berlebih, dari kebenaran kau kan tersingkir…

Bila Sebatang Rokok" Dijadikan Objek "Berpikir""

Written By Amoe Hirata on Jumat, 15 April 2011 | 10.46


Saya tidak hendak berbicara rokok dari segi hukum. Disamping karena masalah tersebut masih debateable masalah ini juga sudah banyak di bicarakan pada buku-buku tertentu. Jadi bagi yang mau mengetahui hukum lebih jauh saya sarankan membaca lebih lanjut pada literatur yang mengupas tentang hukum rokok. Di sisi lain saya juga tidak hendak mengaffirmasi atau mendorong orang-orang untuk merokok. Merokok atau tidak ini sangat berkaitan erat dengan privasi masing-masing.

Saya melihat rokok dari sudut pandang bagaimana kita mampu menjadikan sebatang rokok itu sebagai perangsang bagi penalaran atau daya pikir kita. Mungkin tujuan itu tidak akan pernah tercapai jika merokok hanya di jadikan rutinitas belaka tanpa melibatkan secara langsung pikiran kita. Maka tak usah jauh-jauh mempelajari metode-metode berpikir. Cukup dengan sebatang rokok saja, anda akan mampu memikirkan diri anda pribadi, masyarakat, dan negara baik dalam skala lokal, regional hingga dunia sekalipun.

Coba ketika anda merokok iseng-iseng bikinlah pertanyaan-pertanyaan seputarnya sampai anda sendiri sudah tidak menemukan lagi bentuk pertanyaan. Kemudian setelah anda membikin pertanyaan-pertanyaan itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur dan sampai selesai hingga anda sendiri berhenti dan tidak mampu lagi menjawabnya. Jadi dalam proses berpikir tentang sebatang rokok ini anda bisa mengembangkan penalaran dalam bentuk tesa, sintesa dan antitesa.

Salah satu contoh: "Dari sebatang rokok itu anda bisa berpikir bagaimana secara historis rokok lahir. Secara budaya, bagaimana rokok bisa begitu dinikmati sampai menjadi budaya pada masyarakat tertentu. Dari sisi kesehatan, benarkah rokok merugikan kesehatan? Bagaimana data-data sosial tentang kesehatan perokok?

Dari sisi industri, seberapa besar daya finansial yang di hasilkan dari produksi rokok? Bagaimana proses pembuatanya? Adakah kecurangan-kecurangan pada gaji karyawan? Apakah selama ini industri rokok sudah sangat berkontribusi baik dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat atau dalam menambah incum negara. Dari sisi komunikasi sosial, seberapa efektifkah rokok dalam menjaga hubungan interaksi social? Atau malah menjadi perusak hubungan sosia karena pihak yang tidak merokok merasa terganggul? .

Dari sisi ekonomi, benarkah rokok membuat orang hidup dalam budaya boros? Adakah rokok membuat ekonomi pribadi menjadi timpang?. Dari sisi Inspiratif, bagaimana rokok bisa menjadi inspirasi bagi seseorang. Dari sisi estetis, bisakah kita menyibak keindahan orang merokok?. Dari sisi Psikologis, benarkah rokok dapat menenangkan jiwa? Dan masih banyak yang lainya bisa anda kembangkan sendiri.

Coba anda bayangkan hanya dari sebatang rokok saja anda mampu memikirkan sedemikian banyak masalah dari historis, budaya, kesehatan, industri, komunikasi sosial, ekonomi, inspirasi, estetika hingga psikologis. Begitu luas sekali cakrawala anda jika mampu menggunakan nalar untuk berpikir dari sebatang rokok. Karena itu sangat di sayangkan kalau hanya dijadikan rutinitas tanpa makna. Alangkah lebih produktif dan kreatifnya jika melibatkan pikiran kita untuk menemani aktivitas itu.

Mungkin bagi sebagian orang pikiran ini dianggap aneh dan kurang kerjaan. Merokok kok mikir, ya dinikmati lah. Begitu barangkali. Tapi, sangatlah disayangkan jika itu terlewat begitu saja. Sebab bisa jadi, dari sebatang rokok itu anda mendapat ilmu, kebijakan dan kearifan yang mungkin tidak anda dapatkan pada pendidikan formal sekalipun.

Saya memang bukan perokok, tapi saya mengandai seandainya saya jadi perokok mungkin lebih menarik jika itu di iringi dengan berpikir dan merenung. Ini bukan menggurui perokok atau apa, karena saya yakin yang merokok lebih berpengalaman. Masalahnya teramat sayang jika hanya di jadikan rutinitas sedangkan rokok jadi teman hidup kita. Anda berhak menentukan sikap.

Bagi yang tidak merokok jangan kecil hati. Anda bisa berpikir dengan fenomena apa saja yang anda jumpai walaupun itu sederhana. Yang jelas anda bisa melakukan kapan dan dimanapun, tidak perlu bayar bahkan kalau itu sudah menjadi tradisi, anda akan menjadi pemikir, dan tentu saja anda akan mendapat banyak keuntungan.

Bila Mentari Terbit Membarat

Written By Amoe Hirata on Kamis, 10 Maret 2011 | 11.42


Mentari pagi nampak padang bersinar...
Amat indah terburai tanpa sengat...
Sepoi angin pagi ubah hangat jadi segar...
Menandai panorama Dhuha yang teranjur shalat...

Berlaksa-laksa makhluk Tuhan bertasbih dan berdzikir...
Tak henti-hentinya laksana titah dan penuh taat...
Tak malukah insan tertidur pulas menggelepar...
Lalai tak peduli seolah hidup terus dan kuat.....

Cahya menyapa senggang laku bergulir....
Menutur halus hamba-hamba lalai membelot...
Seolah ia bergumam lirih menyindir...
"Bilakah kau tersadar? Hingga hari kiamat?"

Janganlah menunggu, karena tak seorang pun tahu takdir...
Selagi luang gunakan lah sempat....
Selagi sehat seringlah berdzikir...
Bila mentari terbit membarat, tiada lagi harap dan taubat....

Dialog Ikhtilath

Written By Amoe Hirata on Selasa, 15 Februari 2011 | 17.54

Bagong: Mar! Melem malem gini enaknya ngapain ya?

Semar : Apa ya? Ngopi udah, makan udah, nrgumpi udah....emmmm...gimana kalau kita dialog aja?

Bagong: Boleh juga. Emang mo dialog apaan?

Semar: tentang dampak ikhtilath.

Bagong: opo iku Mar? dapet bahasa dari mana kamu? perasaan itu bukan bahasa Indonesia?

Semar : Walah Gong...gong...makanya jangan tidur tok kalo di sekolah.

Bagong: Loh sapa yang tidur tok, aku kan rajin dengerin omongan guru.

Semar : Alah ngeles...buktinya Ikhilath aja ga tau.

Bagong: Hee...ya udah apa artinya entar ga jadi-jadi dialognya.

Semar:Itu memang bukan bahasa indonesia. Itu bahasa Arab arti gampanganya campur aduk antara cowok dan cewek yang bukan mahram.

Bagong: ooo...gitu toh. Emang mau dialog dari sisi apanya?

Semar: dari segenap sisi deh gmn?

Bagong: ok....kita mulai dari sisi agama.

Semar: yo wes...karena agama kita Islam aku mau melihat dari kacamata Islam. Kalo menurut Islam sih campur aduk antara cowok cewek yang bukan mahram itu dilarang.

Bagong: Kok bisa? emang dampak negatifnya apa?
Semar:banyak sih. Diantaranya:memicu terjadinya perzinaan, akibat dari perzinaan iu banyak anak-anak yg lahir diluar nikah, kadang digugurin sebelum lahir, dan intinya dapat menimbulkan akhlak yang tercela.

Bagong: Menurutku tergantung orangnya sih. Kalau orangnya ga nafsu ga bakal terjadi zina. Wong terkadang pada tradisi tertentu hal itu dianggap wajar-wajar saja dan ga sampe nimbulin zina.

Semar: Memang sih ada yang biasa. Tapi masalahnya ini dah larangan agama. Kalau agama ngelarang sudah pasti ada hikmanya. Kalau kita melanggar kan dosa.

Bagong:Aku setuju kalau tentang hukum itu. Cuman analisamu terlalu lemah dan bisa di patahkan. Yang kau bicarakan tentang dampak tadi itu bagiku sangat relatif, ga bisa dijadikan acuan utama. Kalau itu di jadikan acuan entar kalau ada yang nanya" gimana kalau tidak nafsu atau zina?" terus jadi boleh ikhtilath gitu?

Semar: Ya ga sih, aku kan cuma bilang tentang efek yang terjadi.

Bagong: kalau aku sih lebih memandang pada larangan. Sekali dilarang berarti harus ku tinggalkan. Entah apapun hikmah yang terkandung didalamnya. Terkadang larangan agama itu tidak bisa di pecahkan oleh arus logika yang kuat sekalipun. Dan kalau hikmah yang di jadikan sandaran entar berpengaruh pada hukum itu sendiri.

Semar: Terus kalau menurutmu Ikhtilath gimana? boleh?

Bagong: Kan dah ku bilang itu jelas dilarang. Adapun hikmah kenapa itu dilarang kita hanya bisa meraba-raba sejauh kapasitas kita. Makanya sepekulasi hikmah hendaknya di jadikan faktor dinamis yang mengokohkan ketaatan untuk menjauhi larangan itu, bukan di jadikan permanen hingga membahayakan status hukum tersebut.

Semar: Ngomong opo to gong...gong...aku orah mudeng...bahasamu ketinggian.

Bagong: Intinya gini Mar, Apapun yang di perintah atau dilarang taati aja tanpa reserve. Yang jelas itu baik bagi kita. Karena perintah dan larangan agama pasti bermanfaat bagi kita. Masalah hikmah jangan di ambil pusing. Jadikan semacam motivasi aja untuk memperkokoh ketaatanmu.

Semar: ooo...gitu toh.....boleh juga tuh.

{BAGONG....GONG.......gong....}

Bagong: Iya bu, da apa?

Ibu: Pulang dulu, bantu ibu.

Bagong: Iya bu sebentar. dialognya kita lanjut kapan-kapan ya ibuku manggilmanggil tuh.

Semar: ok dah Pek jumpa lagi. Ati-ati ya....salam ma bapakmu.

Bagong: Sip, Assalamualaikum

Semar: wa`alaikum salam.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan