Latest Post

Kamuflase Ramadhan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 21 September 2011 | 03.09

Bulan agung sedang di gandrung....
Oleh, tua-muda, besar-kecil, cowok-cewek, berpasang hingga lajang.....
Yang tak berjilbab mulai berkerudung.....
Yang tak pernah shalat mulai sembahyang.....

Benarkah, mereka betul-betul menjunjung....
Atau sekedar cari untung.....
Kita pun tak tahu Bung!....
Yang jelas arah ke situ cendrung.....

Ada yang bertanya lantang....
Apa keikhlasan arah pertama mereka datang.....
Atau hanya sekedar kepentingan yang tak berujung...
Menuruti nafsu diri yang tak terbendung.....

Biarlah, kita tak usah bingung....
Tuhan lebih tahu, siapa saja yang benar-benar berjuang....
Pasti mendapatkan untung....
Di kala insan-insan lain sedih lagi bimbang....

Realisme Vs Pragmatisme

Written By Amoe Hirata on Selasa, 16 Agustus 2011 | 03.15

Arus logika tak mampu lagi menjamah.....
Matematika realitas yang begitu komplek....
Kejernihan intuisi tak lagi membenah....
Korelasi vertikal horizontal dalam dialek....

Dekrit-dekrit emosi terultimatum sungguh....
Oleh gelimang arus estetik....
Getaran-getaran transendental begitu cepat berubah....
Mengikut arus angin multikritik......

Bilakah........
Kesenjangan-kesenjangan ini terelak.......
Bukankah......
Sinyal-sinyal utopia terus menelisik......

Apakah relisme perlu di kerah......
Tak terbatas hingga menembus dimensi puncak....
Atau pragmatisme di aplikasi dengan jerih.....
Walau romantika interaksi pelan-pelan menghenyak......

Kebersamaan Sejati

Written By Amoe Hirata on Kamis, 14 Juli 2011 | 03.20

Sendiri tak lagi sanggup bertitah….
Membahana sunyi terdawai pelan …
Aneka jiwa-jiwa menyatu jerih….
Mencipta rasa damai pun aman….

Rajutan benang-benang sayang terkasih….
Berkelindan pintal kebersamaan…
Tenun asa tergambar indah…..
Mendendang simponi sedu sedan…..

Sedalam rindu kalbu terenyuh…..
Sepasti qadla qadar Tuhan…..
Bilakah……
Benih-benih persatuan terjalin….

Mulupa segenap salah….
Membangun persaudaraan…..
Merapat kokoh…..
Kebersamaan sejati yang kan abadi bertahan.....

Ketika Nafas Berhembus

Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Juni 2011 | 03.24

Ketika nafas terhembus lirih....
Pelipur lara terasa kian dekat maknai....
Arti kesunyian yang selama ini sirnah....
Terluntah-luntah oleh kelemahan ini...

Ketika nafas terhembus sedang......
Jiwa terasa normal membuncah....
Seolah tiada lagi aral merintang.....
Menunggu harap-harap hati yang slama ini menagih...

Ketika nafas terhembus kencang....
Keluh kesah seakan tiba gelayuti....
Tak peduli dengan sesal sial yang kan datang....
Meski terpelanting jauh bawah sadar lampaui...

Berpikirlah!

Written By Amoe Hirata on Jumat, 20 Mei 2011 | 10.37



Bagusmu tercanang gamblang…
Dalam olahan lihai memikir…
Apalah berarti tegap, elok, pikir menghilang..
Terlelap habis oleh kebodohan pikir…

Harga diri tergadai terang…
Merasa tak berharga hingga menyingkir…
Amboi…rupanya kau pergi nun jauh memberang…
Seolah menjauh dari suratan takdir…

Semudah itu kah asa melekang…?
Bukankah masih ada peluang untuk mengukir…
Detik-detik waktu menyapa hangat datangkan peluang…
Berpikirlah, bedamu dengan hewan adalah pikir…

Berpikirlah! Maka kehidupanmu kan gilang-gemilang…
Baik dalam menggapai cita maupuin karir…
Terkadang berjuta angan dan lamunan tergalang…
Namun sadarmu berujar:” aku dibatasi takdir”…

Sehebat apapun otakmu cemerlang…
Masih kan terbatas oleh tabir…
Tabir kebodohan, tabir kecerobohan yang kan slalu menghalang…
Dalam keterbatasan tak semua hal terpikir…

Berpikirlah sebatas ciptaan sang Maha Penyayang…
Jangan terlampau jauh karena kau kan terjungkir..
Berpikir dapat mengangkat derajat seseorang…
Jika berlebih, dari kebenaran kau kan tersingkir…

Bila Sebatang Rokok" Dijadikan Objek "Berpikir""

Written By Amoe Hirata on Jumat, 15 April 2011 | 10.46


Saya tidak hendak berbicara rokok dari segi hukum. Disamping karena masalah tersebut masih debateable masalah ini juga sudah banyak di bicarakan pada buku-buku tertentu. Jadi bagi yang mau mengetahui hukum lebih jauh saya sarankan membaca lebih lanjut pada literatur yang mengupas tentang hukum rokok. Di sisi lain saya juga tidak hendak mengaffirmasi atau mendorong orang-orang untuk merokok. Merokok atau tidak ini sangat berkaitan erat dengan privasi masing-masing.

Saya melihat rokok dari sudut pandang bagaimana kita mampu menjadikan sebatang rokok itu sebagai perangsang bagi penalaran atau daya pikir kita. Mungkin tujuan itu tidak akan pernah tercapai jika merokok hanya di jadikan rutinitas belaka tanpa melibatkan secara langsung pikiran kita. Maka tak usah jauh-jauh mempelajari metode-metode berpikir. Cukup dengan sebatang rokok saja, anda akan mampu memikirkan diri anda pribadi, masyarakat, dan negara baik dalam skala lokal, regional hingga dunia sekalipun.

Coba ketika anda merokok iseng-iseng bikinlah pertanyaan-pertanyaan seputarnya sampai anda sendiri sudah tidak menemukan lagi bentuk pertanyaan. Kemudian setelah anda membikin pertanyaan-pertanyaan itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur dan sampai selesai hingga anda sendiri berhenti dan tidak mampu lagi menjawabnya. Jadi dalam proses berpikir tentang sebatang rokok ini anda bisa mengembangkan penalaran dalam bentuk tesa, sintesa dan antitesa.

Salah satu contoh: "Dari sebatang rokok itu anda bisa berpikir bagaimana secara historis rokok lahir. Secara budaya, bagaimana rokok bisa begitu dinikmati sampai menjadi budaya pada masyarakat tertentu. Dari sisi kesehatan, benarkah rokok merugikan kesehatan? Bagaimana data-data sosial tentang kesehatan perokok?

Dari sisi industri, seberapa besar daya finansial yang di hasilkan dari produksi rokok? Bagaimana proses pembuatanya? Adakah kecurangan-kecurangan pada gaji karyawan? Apakah selama ini industri rokok sudah sangat berkontribusi baik dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat atau dalam menambah incum negara. Dari sisi komunikasi sosial, seberapa efektifkah rokok dalam menjaga hubungan interaksi social? Atau malah menjadi perusak hubungan sosia karena pihak yang tidak merokok merasa terganggul? .

Dari sisi ekonomi, benarkah rokok membuat orang hidup dalam budaya boros? Adakah rokok membuat ekonomi pribadi menjadi timpang?. Dari sisi Inspiratif, bagaimana rokok bisa menjadi inspirasi bagi seseorang. Dari sisi estetis, bisakah kita menyibak keindahan orang merokok?. Dari sisi Psikologis, benarkah rokok dapat menenangkan jiwa? Dan masih banyak yang lainya bisa anda kembangkan sendiri.

Coba anda bayangkan hanya dari sebatang rokok saja anda mampu memikirkan sedemikian banyak masalah dari historis, budaya, kesehatan, industri, komunikasi sosial, ekonomi, inspirasi, estetika hingga psikologis. Begitu luas sekali cakrawala anda jika mampu menggunakan nalar untuk berpikir dari sebatang rokok. Karena itu sangat di sayangkan kalau hanya dijadikan rutinitas tanpa makna. Alangkah lebih produktif dan kreatifnya jika melibatkan pikiran kita untuk menemani aktivitas itu.

Mungkin bagi sebagian orang pikiran ini dianggap aneh dan kurang kerjaan. Merokok kok mikir, ya dinikmati lah. Begitu barangkali. Tapi, sangatlah disayangkan jika itu terlewat begitu saja. Sebab bisa jadi, dari sebatang rokok itu anda mendapat ilmu, kebijakan dan kearifan yang mungkin tidak anda dapatkan pada pendidikan formal sekalipun.

Saya memang bukan perokok, tapi saya mengandai seandainya saya jadi perokok mungkin lebih menarik jika itu di iringi dengan berpikir dan merenung. Ini bukan menggurui perokok atau apa, karena saya yakin yang merokok lebih berpengalaman. Masalahnya teramat sayang jika hanya di jadikan rutinitas sedangkan rokok jadi teman hidup kita. Anda berhak menentukan sikap.

Bagi yang tidak merokok jangan kecil hati. Anda bisa berpikir dengan fenomena apa saja yang anda jumpai walaupun itu sederhana. Yang jelas anda bisa melakukan kapan dan dimanapun, tidak perlu bayar bahkan kalau itu sudah menjadi tradisi, anda akan menjadi pemikir, dan tentu saja anda akan mendapat banyak keuntungan.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan