Latest Post

SERIAL "WANITA MUSLIMAH TELADAN" Bag: I

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 Februari 2012 | 12.42

* PROLOG:


Dalam tulisan “Serial Wanita Muslimah Teladan” ini akan dikupas tentang wanita-wanita muslimah hebat sepanjang masa. Mereka dikatakan hebat karena, di samping menjadi wanita shalihah, mereka juga mempunyai kontribusi(sumbangsih) besar dalam dakwah islamiyah. Tak hanya itu, mereka juga sukses dalam menjalankan tugas sebagai pendidik anak-anaknya. Mereka ini diibaratkan sebagai pilar dalam menentukan jatuh bangunya generasi suatu komunitas. Karena itulah tidak berlebihan jika kelangkaan mereka merupakan kehancuran bagi suatu generasi.



Bag I: “KHADIJAH” Wanita Agung Sang Teladan.

Sajian perdana pertama kali ini ialah tentang wanita hebat yang pertama kali masuk Islam; pertama kali membenarkan risalah nabi -ketika seluruh penduduk Makkah kala itu mendustakan beliau-; pertama kali melaksanakan shalat bersama Nabi; kekayaannya disumbangkan untuk perjuangan dakwah Islam; seorang istri yang selalu menjadi pelipur lara ketika Nabi dilanda gulana; menjadi penentram jiwa di kala susah; menjadi penyejuk hati di saat ujian kian bertubi.


I. Nasab dan Profil:

Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil `Uzzah bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiah. Nama ibunya ialah, Fathimah binti Zaa`idah al-Aamiriyah; Khadijah adalah Ibu dari anak-anak Rasulullah shallahu`alaihi wasallam; wanita yang pertama kali membenarkan dan beriman padanya sebelum siapapun; wanita yang menenangkan kegelisahan hatinya dengan mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal; Ia termasuk wanita sempurna menyamai laki-laki; bijaksana(rasionil), mulia, terjaga kehormatanya; termasuk wanita penduduk surga; Nabi selalu memuji dan mengutamakanya dari istri-istri lainya; bahkan melebihkanya dari lainya sampai-sampai Aisyah berkomentar, “Aku tidak pernah cemburu pada wanita seperti kecemburuanku pada Khadijah karena Nabi sering menyebutnya”(Hr. Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

Sebelum menikah dengan Rasulullah di masa Jahiliyah ia sudah pernah menikah. Suami pertama Khadijah ialah Abu Haalah bin Zuraara at-Tamimi[1], kemudian sepeninggalnya, beliau dinikahi `Atiiq bin `Aabid bin Abdillah bin Amru bin Makhzum. Setelah itu Khadijah tidak menikah lagi meski banyak yang melamarnya hingga kemudian bertemu Rasulullah dan tertarik padanya. Ia dinikahi Rasulullah, waktu itu ia berumur 40 tahun sedang Rasulullah 25 tahun jadi jarak antara keduanya ialah 15 tahun.

Khadijah adalah seorang janda kaya raya. Suatu ketika ia menawarkan pada Nabi untuk menjajakan daganganya ke Syam bersama maulanya, Maisarah. Sekembalinya dari Syam, beliau mendapat untung besar, kemudian Khadija melamarnya dan disetujui Rasulullah . Waktu itu Rasul memberi mahar 20 ekor[2] unta muuda. Jubair bin Muth`im meriwayatkan bahwa `Amru bin Asad, paman Khadijah menikahkannya dengan Nabi Saw. bapaknya mati sebelum perang Fijar[3] . Rasul menikahinya ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah mempunyai anak sebagai berikut: Qaasim, Thayyib(abdullah), Thahir, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fatimah.

Mengapa Rasulullah menikahi Khadijah, padahal waktu itu usia Khadijah 15 tahun lebih tua daripadanya? Jawabanya ialah: “Pernikahan antara Rasulullah dengan Khadijah merupakan kehendak langsung Allah ta`ala dalam (rangka) persiapan ilahiyah untuk risalah Muhammad s.a.w. Sesungguhnya laki-laki normal berusia 25 tahun tidak mungkin menikahi wanita janda berusia jauh diatasnya yang memungkinkan ialah menikah dengan perempuan yang lebih muda dari usianya, tetapi di sini Allah menghendaki lain dan menciptakan kondisi dimana beliau bisa menikahi Khadijah. (Diantara rahasianya ialah)Rasulullah lebih membutuhkan wanita yang matang untuk meneguhkannya dalam mengemban amanat risalah, ini jauh berbeda jika yang dinikahi ialah wanita muda yang belum matang besar kemungkinan akan menambah kegalauan beliau[4]”.

Dalam buku “Fiqhus Siirah”, Muhammad al-Ghazali berkomentar, “Khadijah adalah contoh yang bagus bagi wanita yang (ingin) menyempurnakan kehidupan orang besar. Para pengemban risalah memiliki hati yang sedemikian peka(sensitif); banyak mengalami tipu daya dari realita yang hendak dirubah; menanggung beban berat jihad yang amat besar dalam rangka untuk jalan kebaikan yang ingin diraihnya. (Karena itulah) mereka sangat butuh pada seorang wanita yang mampu menguatkan(meneguhkan) kehidupan mereka secara khusus dengan keramahan(kelemahlembutan) dan hiburan, di samping itu juga pengertian dan bantuan. Sedang Khadijah adalah seorang wanita yang terdepan dalam masalah ini dimana dia memiliki perangai tersebut, Ia juga punya pengaruh yang baik dalam kehidupan Muhammad S.a.w”[5].



II. Alqaab(Julukan-Julukan) Khadijah.

1. At-Thaahirah[6](Yang Suci).

2. Sayyidah Nisaa` al-Quraiys[7](Penghulu Wanita Qurays).

3. Ummul Mu`minin[8](Ibunya kaum muslimin).

4. Sayyidatun Nisaa`il `Aalamiin[9](Penghulu Wanita Dunia).


III. Keutamaan-Keutamaan Khadijah binti Khuwailid:



Diantara keistimewaanya secara global ialah: Wanita yang pertama kali menjadi istri Nabi; Melahirkan anak untuk Rasulullah; Tidak pernah dimadu semasa hidupnya; Hartanya diinfakkan untuk perjuangan Islam; Rasulullah pernah menjadi karyawan bisnis dagangnya; Allah pernah menyuruh Nabi memberi kabar gembira pada Khadijah bahwa ia akan dibangunkan rumah(istana) dari mutiara di surga, tidak akan mendengar kebisingan suara dan tidak akan penat(Hr. Bukhari, Muslim).

Adapun secara rinci ialah sebagai berikut[10]:

1. Memiliki nasab yang paling utama dan mulia diantara wanita Quraiys lain pada jamanya.

2. Menjadi istri pertama Rasullah Saw. sedang waktu itu dia janda.

3. Orang yang pertama kali beriman dan masuk Islam[11].

4. Mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril[12].

5. Rasulullah tidak menikahi siapapun semasa hidupnya dan Rasulullah menyuapi Khadijah dengan anggur dari Surga.

6. Diberi kabar gembira oleh Nabi berupa rumah(istana) di surga[13].

7. Nabi sering sekali memujinya(Hingga suatu ketika Aisyah pernah cemburu padanya).

8. Nabi selalu berbuat baik terhadap famili dan teman-teman Khadijah meski Khadijah telah wafat.

9. Wanita yang paling mulia(utama) diantara wanita-wanita penghuni surga[14].

10. Termasuk dari wanita yang terbaik di dunia[15].



IV. Wafatnya:


Ketika tahun kesepuluh kenabian Khadijah meninggal dunia. Hari itu diabadikan sejarah dengan nama `Aamul Huzni(Tahun Duka Cita). Kata al-huzn setidaknya menggambarkan betapa Rasulullah amat berduka terhadap orang yang menjadi tulang punggung psikisnya; terhadap penyejuk hatinya yang selama ini menemani perjuangan beliau dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Ia wafat sebelum diwajibkannya shalat dan dikebumikan di Hajun(gunung di Makkah tempat pemakaman keluarganya).


V. Pelajaran-Pelajaran:

1. Wanita shalihah ialah wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya(Kita ambil pelajaran ini dari kisah Khadijah yang dijuluki sebagai Wanita Suci sejak mudanya).

2. Wanita shalihah harus bisa menjadi pelipur lara, penenang hati bagi suaminya(pelajaran dari kisah Khadijah ketika menenangkan kegelisahan Nabi setelah menerima wahyu). Hal ini sejalan dengan tujuan nikah yaitu untuk menggapai dan menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.

3. Wanita shalihah ialah wanita yang bisa dijadikan partner dakwah(Pelajaran dari kisah perjuangan Khadijah bersama nabi dalam memperjuangkan Islam).

4. Wanita shalihah itu mandiri dan tidak cengeng(pelajaran dari profesi Khadijah yang menjadi pebisnis dan ketegarannya dalam menemani perjuangan dakwah Nabi).

5. Wanita shalihah adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik(pelajaran ini diambil dari kisah Khadija dimana atas didikanya, semua anaknya masuk Islam semuanya bahkan anaknya yang bernama Fatimah termasuk wanita-wanita terbaik sepanjang masa menurut penuturan Rasulullah Saw).

6. Wanita shalihah teguh pendirian dan sabar dalam menghadapi rintangan dan ujian yang menimpa(Diambil dari kisah Rasul bersama Khadijah, dimana Khadija teguh pendirianya dalam mempercayai kebenaran Islam, meskipun pada realitanya banyak ditimpa halangan dan ujian hingga pada puncaknya ialah ikut mengungsi ke lembah ketika diboikot sama orang-orang Qurays).

7. Diantara kriteria yang dijadikan acuan wanita shalihah dalam memilih calon suaminya ialah sebagai berikut berikut: 1. Jujur 2. Amanat dan 3. Berakhlak mulia 4. Profesional(Diambil dari kisah Khadijah ketika beliau tertarik pada nabi karena kejujuran, amanat dan akhlaknya yang mulia).

8. Diantara indikator wanita shalihah ialah rajin beribadah(Sebagaimana yang dicontohkan Khadijah binti Khuwailid).

9. Wanita shalihah adalah wanita yang ta`at pada suami(Tentu saja dalam hal kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khadijah).

10. Ganjaran bagi wanita shalihah adalah surga(Dalam hadits nabi ditegaskan bahwa Khadijah akan masuk Surga, diantaranya ialah karena beliau adalah wanita yang shalihah).


VI. Referensi:

1. Siyarul A`lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi

2. Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami.

3. Fiqhus Sirah, Muhammad al-Ghazali

4. Fataawan Nisaa`, Sya`rawi

5. Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi

6. Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah, Anjugu.

7. Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal, Ahmad bin Ali al-Maqrezi.

8. Ar-Rahiiqu al-Makhtuum, Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri.

9. miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal.

10. As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi.
_________________________________________________________________________________

[1] . Dari pernikahanya dengan Abu Haalah ini beliau mempunyai putra bernama Hindun(Sumber: Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi, hal: 111).
[2] . Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah(Anjugu, hal:6).- Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal(Ahmad bin Ali al-Maqrezi, Juz:6, hal: 25). –Ar-Rahiiqu al-Makhtuum(Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri, hal: 46). - As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi, juz:1, hal: 83.
[3] . Perang antara Quraisy dan pendukungnya dari suku Kinanah dengan suku Qais `Iilan. Dinamakan Fijar karena perang dilakukan pada bulan Muharram yang berarti menodai kemuliaan bulan Muharram.
[4] . Disarikan dari kitab, Fataawan Nisaa` karya Imam Sya`rawi, hal: 115.
[5] . Muhammad al-Ghazali, Fiqhus Sirah, hal:67, Cet: Daarud Da`wah.
[6]. Ummul mu`miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Karya: Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, hal: 12.
[7] . ibid hal: 13
[8] . ibid, hal: 14
[9] . Ibid, hal: 15
[10] . Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami, hal: 115.
[11] . Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa ketika Rasulullah menyebut/mengingat Khadijah, beliau tidak pernah putus asa(berhenti) memuji dan meminta ampun untuknya. Suatu hari beliau menyebut Khadijah dan membuatku cemburu lantas aku berkata: Engkau telah diberi ganti Allah(yang lebih baik) dari istri yang tua renta( kemudian diganti yang masih muda), mendengar perkataanku beliau marah bukan main, hatiku merasa sedih seraya berkata: Ya Allah jika Engkau hilangkan amarah Rasulullah padaku maka aku tidak akan menyebut kejelekan lagi pada Khadijah, ketika nabi mendengar ucapanku nabi berkata: , ”Apa yang kamu katakan? Ia beriman padaku ketika orang-orang mendustakanku, dan memberi perlindungan padaku ketika orang-orang menolakku, dan aku dianugerahi anak darinya sedang dari kalian tidak” Aisyah berkata: Setelah peristiwa itu Rasulullah pergi dariku selama sebulan(al-Ishaabah: ibnu Hajar al-Asqalani).
[12] . Bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata: (suatu hari) Jibril mendatangi Nabi Saw. lantas berkata, ”itu Khadijah sedang datang membewakan untukmu makanan dan minuman, jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dariku, dan berikan kabar gembira padanya bahwa ia akan mendapat istana di surga dari permata, yang tidak terdengar kebisingan dan tidak capek(Hr. Bukhari, Muslim).
[13] . Ibid.
[14] . Anas meriwayatkan bahwa sebaik-baik wanita di dunia ialah Maryam, Asia, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah. Bahkan menurut riwayat Abdul Barqi dalam kitab al-Istii`aab mengatakan bahwa penghulu para wanita di surga setelah Maryam ialah Fatimah, Khadijah dan istri Firaun, Asia.
[15] . ibid.

Yusuf Kontemporer

Written By Amoe Hirata on Selasa, 17 Januari 2012 | 20.20

          

            Apa yang ada dibenak anda ketika disebut nama “Yusuf”? Mungkin di antara anda ada yang menjawab: Ooo itu nama Nabi. Kemudian kalau saya kembangkan pertanyaan: apa yang paling anda ingat mengenai Nabi Yusuf? Mungkin anda juga akan menjawab: Ooo ketampanannya. Apa ada yang salah dengan jawaban ini? Tentu saja tidak. Memang Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya.  Namun yang menjadi kurang obyektif ialah ketika kita hanya terpaku pada ketampanannya saja. Karena apa gunanya ketampanan jika tak takwa?; apa gunanya kegantengan jika tak taat?;apa gunanya kerupawanan jika tak beriman?. Jika kita mengingat Nabi Yusuf, justru yang utama ialah bukan sekedar ketampanan fisik, namun lebih dari itu bahwa dia juga memiliki ketampanan batin yang patut diteladani. Apa gunanya ketampanan fisik jika tak diiringi dengan ketampanan batin? Bukankah Allah tidak melihat pada bentuk dan jasad kita, tapi melihat pada ketakwaan kita?
            Ketampanan fisik hanya sekedar bentuk wadag lahiriah yang bisa sirna dan tiada, akan tetapi ketampanan batin akan senantiasa bernilai dan abadi meski fisik telah hancur binasa. Dari kisah Nabi Yusuf seharusnya kita bukan saja mengenang ketampanan dan kerupawanannya, kita harus meneladani bagaimana Yusuf kecil yang begitu sabar ketika dicampakkan di sumur hingga dijual ke negeri Kinanah Mesir; bagaimana Yusuf begitu kuat memegang rahasia mimpinya sewaktu kecil; bagaimana Yusuf bisa memiliki keimanan yang tinggi; bagaimana Yusuf lebih memilih penjara daripada melayani rayuan wanita; bagaimana kesyukuran Yusuf ketika mendapat anugerah Allah; bagaiman semangat Yusuf yang begitu tinggi dalam berdakwah meskipun sedang dipenjara; bagaimana ketawadlu`an Yusuf ketika mengatakan bahwa semua yang ia kuasai tentang tafsir mimpi adalah dari Allah; bagaimana keamanahan Yusuf ketika menjadi bendahara kerajaan; dan lebih dari itu semua ialah bagaimana Yusuf mempunyai kebesaran hati dan kelapangan jiwa sehingga mau memaafkan semua saudaranya yang bersekongkol mencampakkan Yusuf.
            Ada dua kata yang bisa mewakili kebesaran Nabi Yusuf: Pertama: Syukur dan Kedua: Sabar. Dengan sifat syukur dia mampu memanfaatkan setiap anugerah Allah untuk ditransformasikan menjadi energi positif yang mampu memacu dan mendorong dirinya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ta`ala. Dengan sifat sabar dia mampu menahan, mampu bertahan dari segenap ujian dan cobaan yang silih berganti. Pada akhirnya sifat syukur dan sabar ini, atas izin Allah ia mampu mendapatkan happy ending(akhir yang manis). Bukankah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam pernah bersabda: (sungguh) mengagumkan keadaan orang mukmin, segala keadaannya itu baik, jika ia mendapat kebaikan maka ia bersyukur, dan jika ditimpa keburukan ia bersabar. Coba perhatikan betapa dahsyatnya sifat sabar dan syukur dalam mengkondisikan dan mengkontrol diri seseorang supaya tetap setabil. Bahkan ibnu Qayyim dalam kita `Uddatu as-Shoobirin mengatakan bahwa syukur dan sabar merupakan bagian paling mendasar dari keimanan. Separuh iman ialah syukur dan separuhnya lagi ialah sabar. Kalau kita cermati betul-betul sifat syukur dan sabar akan kita dapati dari sosok Nabi Yusuf.
            Yusuf sebagai sosok manusia tampan secara fisik memang telah tiada berabad-abad yang lalu tetapi Yusuf sebagai esensi nilai akan senantiasa ada hingga kiamat nanti. Sebagai esensi nilai ia tidak akan musnah karena ada yang meneladani. Orang-orang tampan yang mampu mensyukuri ketampanannya dengan senantiasa berjuang, berkorban, beribadah ikhlas mengharab ridha Allah maka ia telah meneladani Yusuf. Coba buka kembali lembaran emas sejarah kehidupan para sahabat Nabi, akan kita temukan esensi nilai itu. Suatu saat Umar bin Khathab berkata: Yusuf umat ini ialah Jarir bin Abdillah al-Bajli. Kalau kita perhatikan betul-betul pernyataan Umar ini maka akan kita temukan kebenaran faktualnya. Dalam lembaran sejarah emas Jarir bin Abdullah kita temukan bahwa Rasulullah pernah mengatakan bahwa wajah Jarir ada mushatul malaaikah(percikan keindahan malaikat). Ia merupakan sahabat yang tampan dan rupawan. Tak hanya itu, ia juga berjuang, berkorban, dan bersabar. Waktu memerangi penduduk Hamdan matanya terkenah panah namun dia mampu bersabar dan mengharap ridha Allah. Ia juga termasuk sahabat yang pandai dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Ia mampu teguh tegar memegang Islam meski kebanyakan dari sukunya murtad. Maka benarlah kata Umar jika Jarir bin Abdillah adalah Yusuf umat ini. Karena ketampanan yang dimiliki mampu disyukuri dengan amalan-amalan positif, dan mampu memercikkan kesabaran dari hatinya sehangga tabah dalam menghadapi segala cobaan, sampai akhirnya ia meninggal di bumi Syam.
            Sebagaimana Nabi Muhammad, Nabi Yusuf secara fisik memang telah tiada, namun keteladanan mereka berdua akan senantiasa ada menyertai kita jika kita mau meneladaninya. Untuk menjadi Yusuf secara esensial tentunya kesabaran dan kesyukuran harus senantiasa melekat dalam benak kita, karena itu bagian inti dari keimanan. Namun sekali lagi meneladani bukan perkara yang mudah. Perlu usaha ekstra untuk mampu merealisasikan nilai yang dicontohkannya. Kita dapat pelajaran besar bahwa yang terutama bukan ketampanan fisik tapi batin. Kalaupun kita dianugerahkan ketampanan maka itu perlu disyukuri dengan senantiasa berjuang dan berkorban untuk menggapai ridha Allah. Kita tahu betapa Yusuf tidak terlalu mempedulikan ketampanannya tapi ia semangat berjuang dan bersabar. Wal `Aaaqibatu lil Muttaqin(akhir yang baik pasti dimiliki orang –orang bertakwa). Ketampanan yang tak beriring syukur dan sabar adalah ketampanan yang menipu dan menjerumuskan. Meski tak tampan namun beriring sabar dan syukur maka ketampanan batin Yusuf otomatis bisa diteladani. Maukah anda menjadi Yusuf kontemporer?

Buramnya Cita

Written By Amoe Hirata on Jumat, 09 Desember 2011 | 03.24

Dalam silamnya waktu cita terukir
Terlihat besar laksana gunung menjulang
Detik-detik waktu berjalan menuju akhir
Nyatanya Cita menjauh pergi bahkan semakin hilang
Jiwapun terheran dalam tanya dan pikir
Wahai Cita! kemana kau kan bertualang?
Jiwa terasa sepi senyap tatkala engkau menyingkir
Cita bersambut:"Apalah guna singgah dalam terawang"
"Pergi nan jauh tuk kembali lahir"
Begitulah lantunan Cita dalam bayang
Apalah indahmu bila rantaumu buat jiwa terjungkir?
Kedalam samudra penyesalan dan bimbang.
Tanpa jawaban jiwapun menghilir
sembari berujar:"Andai Cita kembali pulang"
Ku kan menyambutnya dengan hangat tampa tabir
Citapun tak bergeming laksana wayang tak berdalang
Buram....buram....buram...., Cita makin meminggir
Jiwa terlihat sayu, pilu ba` redup bintang gemintang
Meraba-raba suratan takdir
Yang terlampir dalam lembaran Sang Maha Penyayang.

RekayasaTuhan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 30 November 2011 | 04.03

Hati bertitah tuk terus melangkah....
Menyudahi ratapan-ratapan semu yang selama ini menjamur.....
Pada dogma-dogma nafsu serakah.....
Menguasa laku luka tak beratur.....

Benteng jiwa mulai bersusah.....
Menahan serang badai mushibah tak berukur.....
Tetap saja nafsu merintih payah.....
Akibat gesekan masalah yang tak kunjung lebur....

Semua memang sudah terkerah......
Sampai benak mencapai puncak tafakkur....
Tapi bukan selesai tambah banyak masalah....
MungkinTuhan sedang merekayasa alur....

Kehidupan,yang mungkin jauh....
Dari iradah sang Maha sabar.....
Sekarang memang harus berubah....
Agar tidak terjatuh dalam rimba nestapa belukar.....



Meminta Perlindungan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 05 Oktober 2011 | 15.08

            MANUSIA adalah makhluk lemah. Makanya, dalam menjalani hidup di dunia, dia memohon perlindungan. Yang dimohon perlindungan tentu adalah Zat Yang Maha Menciptakan. Karena, sekuat-kuat makhluk, selama dia itu “diciptakan”, maka masih mengandung kelemahan. Buat apa berlindung kepada yang lemah, kalau yang Maha Kuat siap setiap saat membantu.

Kamuflase Ramadhan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 21 September 2011 | 03.09

Bulan agung sedang di gandrung....
Oleh, tua-muda, besar-kecil, cowok-cewek, berpasang hingga lajang.....
Yang tak berjilbab mulai berkerudung.....
Yang tak pernah shalat mulai sembahyang.....

Benarkah, mereka betul-betul menjunjung....
Atau sekedar cari untung.....
Kita pun tak tahu Bung!....
Yang jelas arah ke situ cendrung.....

Ada yang bertanya lantang....
Apa keikhlasan arah pertama mereka datang.....
Atau hanya sekedar kepentingan yang tak berujung...
Menuruti nafsu diri yang tak terbendung.....

Biarlah, kita tak usah bingung....
Tuhan lebih tahu, siapa saja yang benar-benar berjuang....
Pasti mendapatkan untung....
Di kala insan-insan lain sedih lagi bimbang....
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan