Latest Post

Wow Wow Surga

Written By Amoe Hirata on Rabu, 14 Maret 2012 | 19.28


            Salah satu kata yang bisa menjelaskan tentang kegigihan dan ketegaran sahabat yang begitu luar biasa dalam memperjuangkan Islam ialah, “SURGA”. Kata “surga” yang bahasa al-Qur`annya adalah jannah menjadi magnet yang menarik hati sahabat melakukan  perjuangan yang begitu besar. Tak jarang di banyak kesempatan, Rasulullah memotivasi para sahabatnya dengan kata “surga”. Bahkan secara tegas Rasulullah memberikan rekomendasi dan kesaksian langsung bahwa diantara mereka pasti masuk surga. Misal saja secara kolektif ada istilah al-Asyratu al-Mubassyaruuna bi al-Jannah (sepuluh orang yang diberi kabar gembiri masuk surga). Sepuluh orang itu ialah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin `Auf, Sa`ad bin Abi Waqash, Sa`id bin Zaid dan Abu `Ubaidah bin al-Jarraah. Ada juga yang secar personal seperti: Bilal, Ukaasyah, `Umair bin al-Humaam dan lain sebagainya.
            Begitu dahsyatnya kekuatan kata “surga” hingga membuat orang seperti, Bilal, Ummu Haaritsah, Sumayya, Yasir begitu sabar menghadapi penyiksaan dan kesusahan yang ditimpakan oran-orang kafir. Kata “surga” menjadikan sahabat seperti Umair bin al-Humaam, Umair bin Abi al-Waqash, Saad bin Khaitsamah, dan Haritsah bin Suroqoh seolah memiliki semangat ganda dalam berjuang karena termotivasi. Kata “surga” seakan menjadi surplus keimanan para sahabat hingga membuat mereka tak gentar dalam berjuang.  Bahkan kata “surga” dapat membuat sahabat melakukan hal yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
            Apa salah menginginkan surga? Keinginan demikian tentu sama sekali tak salah. Tapi tetap saja yang dijadikan acuan utama dalam beramal adalah ridha Allah. Karena mereka menginginkan ridha Allah, dan Allah menjanjikan surga maka di sini titik temu antara keinginan mereka mendapatkan ridha Allah dan surga. Bias-bias egoisme pribadi, ambisi-ambisi individu yang superfisial dan meterialistik lebur pada keinginan mereka mendapat ridha Allah. Jadi antara keinginan mendapat surga dengan idealismu untuk berjuang mendapat ridha Allah sama sekali tak bertentangan, karena surga sejatinya sebagai balasan bagi mereka yang berjuang dengan ikhlas menggapai ridha Allah.
            Ketika perang Badar sedang berkecamuk, Rasulullah bersabda: “bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi” Mendengar sabda Rasulullah, Umair bin al-Humaam merasa kagum dan penuh keheranan: “benarkah luasnya surga seperti langit dan bumi?” Rasul menjawab: “ya”. Umair makin kagum penasaran sembari mengucap bakh bakh(ungkapan takjub seperti  wow, aduhai). “Mengapa engkau berkata begitu?” tanya Rasulullah. Umair langsung menjawab: aku berkata begitu karena sangat berharap mendapatkannya” Rasul bersabda: “engkau termasuk penghuninya”. Mendengar kata itu Umair langsung membuang kurma yang ada di tangannya kemudian berkata: jika aku hidup sampai aku memakan kurmaku ini maka itu merupakan kehidupan yang lama(sebagai gambaran akan keinginan yang begitu kuat terhadap surga hingga waktu beberapa detik makan kurma dianggap sangat lama). Tak lama setelah itu ia berjuang di medan laga hingga wafat tercatat sebagai syahid.
            Alangkah indahnya bila kita mendapat jaminan  masuk surga sebagaimana Umair bin al-Humaam dan sahabat-sahabat lainnya. Namun jaminan itu bukanlah diperoleh dengan harga yang murah. Mereka rela sengsara, susah, nelongsho, sakit demi memperjuangkan kebenaran Islam. Dalam bahasa Arab ada ungkapan: al-jazaa` min jinsi al-amal (balasan itu seimbang dengan amal yang dilakukan) artinya semakin besar perjuangan dan pengorbanan maka makin besar balasan yang akan diterima. Apalah artinya kemewahan-kemewahan dunia dibanding dengan surga yang luasnya bak langit dan bumi. Namun sekali lagi itu tak mudah. Semakin kita berkeinginan keras mendapatkan surga, maka semakin kita dituntut berjuang dengan keras dan penuh pengorbanan. Semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula peluang menuju surga. Bila sudah demikian, surgapun kan merindukan kita.

Cinta Tak Kunjung Menjawab

            Di sepertiga malam yang sunyi, beratus-ratus gemintang terlihat indah semburat. Angin sepoi-sepoi. Suasana begitu sepi. Di tengah sepi itu Yang ada hanya suara jangkrik dan kelelawawar yang sedang menikmati buah jambu yang matang. Malam itu, di samping sungai desa Mambang Legi terlihat sorot remang-remang lampu kamar yang sedang  menyala.Tepatnya, di rumah Bapak Kh. Ahmad Sunardi selaku abah dari Puspita Sari.
Ketika itu, Puspita Sari sedang asyik bermunajat menunaikan shalat Tahajjud. Besok adalah hari ke tujuh dimana Dino berjanji akan melamarnya. Perasaanya tidak karuan senangnya. Rasa bahagia dan kengen seolah menyelimuti hatinya. Mungkin ia baru mengalami apa yang namanya cinta. Seharian itu wajahnya cerah dan banyak senyum. Abah dan Uminya sampai merasa heran, ada apa gerangan dengan anak ke tiganya ini kok tingkahnya tidak seperti biasanya.
            Dalam munajatnya itu ia berdoa:" Ya Allah ampunilah hamba yang penuh khilaf dan dosa ini. Aku memohon kepada-Mu ridhailah hubunganku dengan Dino jika itu memang yang terbaik buat kami. Jagalah kami. Lindungi kami dari hal-hal yang buruk. Kami sudah ingin menjalin hubungan yang suci ya Allah agar terhindar dari makshiyat kepada-Mu.  Kabulkan permintanku ya Allah. (Dengan sangat optimis ia menutup doanya dengan Amiiiin).
Pagi sudah menjelang. Tepatnya pukul 09.00 pagi Dino berjanji akan melamar Puspita Sari. Jantung Puspita sari berdegup kencang menunggu datangnya hari penting itu. Sedari pagi ia sudah menyiapkan segalanya. Abah dan Uminya semakin heran karena memang keduanya tidak tahu apa yang bakal terjadi. Puspita sengaja merahasiakannya sebagai kejutan untuk Abi Uminya tercinta.
            Jam menunjukkan pukul 10.00. Dino tidak kunjung datang. Perasaan khawatir dan cemas segera datang menghantui benak Puspita. Ia bingung. Dino tidak bisa di hubungi, hpnya tidak aktif sms juga tidak dibalas. Ia berusaha untuk menghibur dirinya dengan ungkapan:"Sabar....sabar...barangkali mas Dino masih ada acara". Hingga pukul 11.00 nampaknya Dino belum datang juga. Kesabaran baja Puspita semakin terkikis oleh resah dan bimbang yang menjadi-jadi.
            Di tengah kegalauan itu tiba-tiba terdengar dari depan rumahnya suara mobil berbunyi. Segera ia lari menuju ruang tamu melihat siapa yang datang. Barang kali mobil itu adalah Dino dengan pa kal-Kindi. Perasaan itu menjadi buyar ketika yang keluar ternyata bukan Dino. Ketika itu yang datang adalah temanya sendiri yang bernama Shinta Aulia bersama lelaki yang tidak di kenal puspita.
            Diketoklah pintu rumah dengan lembut oleh Shinta(...tok..tok..tok..) “Assalamualaikum..Wa'alaikum salam....hai Sin apa kabar?Baik-baik saja kan?”. “Kok ga ngbari sih kalau mau kesini? Tau gitu kan aku bisa siap-siap bikin jamuan untukmu. Oh ya aku kangen banget lhoh ma kamu soalnya hampir dah sebulan lebih kita ga ketemu. Oh iya ngomong-ngomong kamu lanjut kuliah dimana?”
            “Maaf  deh Sar, ku sengaja bikin kejutan nih, aku baik-baik aja kok, aku juga kangen ma kamu, aku jadi kuliah di UGM ngambil jurusan Komunikasi”. “Oooo...gitu toh....oh iya sampai lupa...mari-mari silahkan duduk(sambut Puspita)”. “Sar, kenalkan ni sepupu saya namanya Aji kurniawan sedang menjalani progam S2 di universitas Madinah”.
            “Sar, abi dan umi kamu ada di rumah ga?”. “Oh ada...emang kenapa Sin?”. “emmm..ga Cuma pingin ngobrol sebentar”. “..ok bentar ya bentar ku panggil mereka sambil ku bikin minuman buat kalian”. “Abi..Umiii....ada tamu nih...temen Puspita pingin ketemu abah dan umi”. Keluarlah keduanya keruang tamu menyambut kedatangan mereka.
            Begini pak maksud kedatangan saya, ingin mengantar sepupu saya ini namanya Aji Kurniawan calon MA di Universitas Madinah.  Ia sekarang lagi liburan, jadi menyempatkan diri untuk pulang. Nah, tujuan kepulanganya ini ingin mencaricalon istri jadi saya tunjukkan kemari, maaf ya pak kalau kurang berkenan.
            Dak usah sungkan-sungkan dek, Bapak malah seneng lho kedatangan tamu, apa lagi jauh-jauh dari Madinah. Bapak sama Ibu sebenarnya setuju-setuju aja apalagi dapat anak shaleh seperti dek Aji. Cuman Bapak harus menanyakan dulu ke Puspita tentang rencana ini. Setahu Bapak sih Puspita belum ada calon.
“Hayoo...lagi ngomongin apa nih kayaknya seru banget....mari-mari silahkan diminum jus mangganya seger banget lho” saji Puspita. “Begini nak kita bisa ngomong sebentar didalam? Ada masalah penting yang mau abah umi bicarakan sama kamu. Baik bah silahkan. Jadi begini, kamu tahu ndak cowok berkopyah di depan tadi? Iya bah itu sepupu Shinta calon S2 Universitas  Madinah. Tujuan dia kemari ingin melamarmu. Dimana menurutmu?. Anaknya baik, tampan dan shalih lhoh, kalau bisa segera jawab.soalnya moment kaya begini sangat langkah. Kamu sendiri kan belum ada calon kan?”.
Puspita merasa sangat bingung mau menjawab apa.Sedang dia sudah terikat janji sama Dino. Disisi lain ia sangat cinta Dino.Masalahnya itu tidak di ketahui oleh abah dan uminya. Dino juga tidak datang-datang. Mau menolak ia tidak tega sama abah uminya karena selama ini keduanya tidak pernah sampai meminta dengan mendesak seperti ini.
Dalam kondisi pelik ini tiba-tiba ia mendapatkan sms dari Dino yang isinya:" Assalamualaikum...Puspita, sebelumya aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang kerumahmu...aku sedang dilanda masalah besar...aku harap kamu tidak kecewa...beri kesempatan tiga hari lagi...aku masih ingin menyelesaikan maslahku ini...wsslm".

Ketika Cinta Harus Memilih

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 Februari 2012 | 13.45

Senja hari itu langit begitu hitam pekat, tertutup kepulan asap yang sudah siap menurunkan air hujan.  Petir dan geledek bergemuruh dengan penuh bisingnya. Dalam kondisi demikian di sudut desa Jembar Sari rumah keluarga Bpk al-Kindi terjadi pertengkaran hebat. Bermula dari musyawarah keluarga hingga akhirnya terjadi konflik.
Dino putra bpk al-Kindi sedang menghadapi posisi sulit. Di senja petang itu ia diminta ketegasan oleh Bapaknya untuk memilih. Dino merasa kebingungan menjawabnya. Dalam hati ia berandai: "Andai aku bisa mendapat keduanya". Dua pilihan rumit itu ialah antara meneruskan studi kuliahnya  ke Jerman dengan menikah dengan Puspita Sari.
            Melanjutkan studi ke Jerman sudah menjadi cita-citanya sejak SMA. Setelah lulus SMA ia mencoba mengikuti tes beasiswa studi ke Jerman. Tak disangka ia lulus tes  dan mendapat nomor urut satu dari dua rIbu siswa tanah air yang mengikuti tes. Ia begitu gembira dan langsung sujud syukur. Mendengar berita itu pak al-Kindi senang bukan main, ia langsung memeluk anak semata wayangnya itu sambil menangis bahagia. Tak lama beberapa hari setelah itu ia mengadakan syukuran atas kelulusannya. Teman-teman SMA nya ia undang semua. Pada momen itu juga ia mau mengenalkan kekasihnya yang bernama Puspita Sari kepada Bapaknya.
            Berlangsunglah acara itu dengan lancar dan meriah. Di saat-saat acara berlangsung    ia memanggil Bapaknya. “Pak, maaf Dino mau berbicara sebentar”. “Oh iya silahkan nak”. “Jadi begini pak kalau Bapak tidak keberatan saya ingin mengenalkan kekasih Dino”. “Apaaaa!!! Astaghfirllah naaak, kekasih katakamu? Kamu pacaran ya? Istighfarrr naak, dari dulu Bapak sudah mengajarimu pelajaran agama kenapa kau melakukan tindakan yang a moral itu?”.
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu membuat Dino sedikit takut dan gemetaran. “Eeeem....bukan begitu maksud Dino pak, Dino tidak pacaran Cuma hanya ingin mengenalkan calon istri Dino. Namanya Puspita Sari. Anaknya alim, baik dan shalihah. Meskipun ia sekolah di SMA ia tetap memakai jilbab. Di kelas ia menjadi idaman siswa. Sampai pada suatu ketika setelah kelulusan saya merasa tertarik dan ingin mempunyai hubungan serius denganya. Saya meminta bantuan Lina(Sepupu Dino), untuk menyampaikan niat saya pada Puspita....al-Hamdulillah ia menerima saya”.
“Baik Din, sekarang begini saja, kamu kenalkan saja anak itu pada Bapak. Masalah setuju atau tidak kita musyawarahkan saja nanti sore setelah acara selesai”. Di kenalkanlah Puspita pada Bapak al-Kindi. Tak ada sepatah katapun yang diucapkannya kecuali hanya buraian senyum khasnya.
            Acara sudah selesai. Dengan tergopoh Dino segera mencari Bapaknya. Setelah dicari, ternyata Bapak al-Kindi sedang khusyu di atas ranjang kamarnya memandangi photo mendiang istrinya. Dino merasa haru, ia melihat mata Bapaknya berkaca-kaca, seolah menyimpan kesedihan. “Bapak...kenapa menangis? Kangen sama Ibu ya?”. “Oh tidak kok Din. Bapak hanya teringat washiat mendiang Ibumu, bahwa kamu jangan menikah dulu sebelum mensukseskan studi dan sudah memiliki hidup mapan. Sebenarnya Bapak bukanya tidak setuju, hubungan kamu dengan Puspita, cuman kamu harus melaksanakan washiat Ibumu”.
            “Saya bukannya tidak mau melaksanakan washiat Ibu pak. Masalahnya, saya sudah mengikat hubungan dengan Puspita dan saya berjanji akan segera menikahinya. Ia merupakan gadis langkah yang pernah saya jumpai dan cintai pak. Seumur-umur baru dia yang bisa membuat saya jatuh cinta. Mungkin tindakan saya ini terkesan terburu-buru. Namun, jujur pak saya sungguh mencintainya. Seminggu lagi saya harus segera melamarnya. Kalau tidak, ia akan segera menuruti saran abahnya untuk ikut pondok Tahfidz al-Quran di pondok al-Karimah”.
            “Maaf Din, Bapak tetap tidak setuju. Aku ingin  kamu menuruti washiat Ibumu. Sekarang kamu fokus saja untuk persiapan studi ke Jerman. Kan tinggal satu bulan lagi. Aku tidak mau konsentrasimu pecah. Keputusan Bapak sudah bulat”. Dino diam tak bergeming mendengar jawaban ayahnya. Matanya merah, menahan air mata kesedihan. Dengan lantang ia berbicara:" Apakah Bapak tega jika nanti di Jerman aku terjerumus pada jurang maksiat? Aku ingin menikah dengan dia supaya aku tidak terjerumus pak. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun sama Bapak. Kenapa, di saat aku meminta sesuatu Bapak menolaknya?”. Suara yang keras dan lantang itu ternyata membuat pak al-Kindi tersingung berat. Secara reflek tangan pak al-Kindi menampar pipi Dino. “Jadi hanya karena seorang gadis itu kamu berani berkata lantang? Kenapa kamu jadi berani membantah sama orang tua? Sekali lagi camkan baik-baik, Bapak tidak akan mengubah keputusan, sekarang terserah kamu, pilih terus lanjut studi ke Jerman atau gadis itu? Kalau kamu lebih memilih gadis itu pergi dari rumah ini”.
            Dino duduk lemas mendengar sikap keras ayahnya. Suara geledek dan petir terasa turut menambah sedih hatinya.Sekarang ia merasa bingung. Apa yang harus ia lakukan. Ke duanya sama-sama berat. Apakah ia harus menuruti Bapaknya, atau meneruskan keinginannya menikahi Puspita. Hatinya sedang berkecamuk. Yang jelas, dalam relung hatinya ia mau mendapatkan kedua-duanya. Dalam hati ia berandai:" Andai aku bisa mendapat keduanya". Tetapi fakta memaksa dia harus memilih.

SERIAL "WANITA MUSLIMAH TELADAN" Bag: I

* PROLOG:


Dalam tulisan “Serial Wanita Muslimah Teladan” ini akan dikupas tentang wanita-wanita muslimah hebat sepanjang masa. Mereka dikatakan hebat karena, di samping menjadi wanita shalihah, mereka juga mempunyai kontribusi(sumbangsih) besar dalam dakwah islamiyah. Tak hanya itu, mereka juga sukses dalam menjalankan tugas sebagai pendidik anak-anaknya. Mereka ini diibaratkan sebagai pilar dalam menentukan jatuh bangunya generasi suatu komunitas. Karena itulah tidak berlebihan jika kelangkaan mereka merupakan kehancuran bagi suatu generasi.



Bag I: “KHADIJAH” Wanita Agung Sang Teladan.

Sajian perdana pertama kali ini ialah tentang wanita hebat yang pertama kali masuk Islam; pertama kali membenarkan risalah nabi -ketika seluruh penduduk Makkah kala itu mendustakan beliau-; pertama kali melaksanakan shalat bersama Nabi; kekayaannya disumbangkan untuk perjuangan dakwah Islam; seorang istri yang selalu menjadi pelipur lara ketika Nabi dilanda gulana; menjadi penentram jiwa di kala susah; menjadi penyejuk hati di saat ujian kian bertubi.


I. Nasab dan Profil:

Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil `Uzzah bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiah. Nama ibunya ialah, Fathimah binti Zaa`idah al-Aamiriyah; Khadijah adalah Ibu dari anak-anak Rasulullah shallahu`alaihi wasallam; wanita yang pertama kali membenarkan dan beriman padanya sebelum siapapun; wanita yang menenangkan kegelisahan hatinya dengan mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal; Ia termasuk wanita sempurna menyamai laki-laki; bijaksana(rasionil), mulia, terjaga kehormatanya; termasuk wanita penduduk surga; Nabi selalu memuji dan mengutamakanya dari istri-istri lainya; bahkan melebihkanya dari lainya sampai-sampai Aisyah berkomentar, “Aku tidak pernah cemburu pada wanita seperti kecemburuanku pada Khadijah karena Nabi sering menyebutnya”(Hr. Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

Sebelum menikah dengan Rasulullah di masa Jahiliyah ia sudah pernah menikah. Suami pertama Khadijah ialah Abu Haalah bin Zuraara at-Tamimi[1], kemudian sepeninggalnya, beliau dinikahi `Atiiq bin `Aabid bin Abdillah bin Amru bin Makhzum. Setelah itu Khadijah tidak menikah lagi meski banyak yang melamarnya hingga kemudian bertemu Rasulullah dan tertarik padanya. Ia dinikahi Rasulullah, waktu itu ia berumur 40 tahun sedang Rasulullah 25 tahun jadi jarak antara keduanya ialah 15 tahun.

Khadijah adalah seorang janda kaya raya. Suatu ketika ia menawarkan pada Nabi untuk menjajakan daganganya ke Syam bersama maulanya, Maisarah. Sekembalinya dari Syam, beliau mendapat untung besar, kemudian Khadija melamarnya dan disetujui Rasulullah . Waktu itu Rasul memberi mahar 20 ekor[2] unta muuda. Jubair bin Muth`im meriwayatkan bahwa `Amru bin Asad, paman Khadijah menikahkannya dengan Nabi Saw. bapaknya mati sebelum perang Fijar[3] . Rasul menikahinya ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah mempunyai anak sebagai berikut: Qaasim, Thayyib(abdullah), Thahir, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fatimah.

Mengapa Rasulullah menikahi Khadijah, padahal waktu itu usia Khadijah 15 tahun lebih tua daripadanya? Jawabanya ialah: “Pernikahan antara Rasulullah dengan Khadijah merupakan kehendak langsung Allah ta`ala dalam (rangka) persiapan ilahiyah untuk risalah Muhammad s.a.w. Sesungguhnya laki-laki normal berusia 25 tahun tidak mungkin menikahi wanita janda berusia jauh diatasnya yang memungkinkan ialah menikah dengan perempuan yang lebih muda dari usianya, tetapi di sini Allah menghendaki lain dan menciptakan kondisi dimana beliau bisa menikahi Khadijah. (Diantara rahasianya ialah)Rasulullah lebih membutuhkan wanita yang matang untuk meneguhkannya dalam mengemban amanat risalah, ini jauh berbeda jika yang dinikahi ialah wanita muda yang belum matang besar kemungkinan akan menambah kegalauan beliau[4]”.

Dalam buku “Fiqhus Siirah”, Muhammad al-Ghazali berkomentar, “Khadijah adalah contoh yang bagus bagi wanita yang (ingin) menyempurnakan kehidupan orang besar. Para pengemban risalah memiliki hati yang sedemikian peka(sensitif); banyak mengalami tipu daya dari realita yang hendak dirubah; menanggung beban berat jihad yang amat besar dalam rangka untuk jalan kebaikan yang ingin diraihnya. (Karena itulah) mereka sangat butuh pada seorang wanita yang mampu menguatkan(meneguhkan) kehidupan mereka secara khusus dengan keramahan(kelemahlembutan) dan hiburan, di samping itu juga pengertian dan bantuan. Sedang Khadijah adalah seorang wanita yang terdepan dalam masalah ini dimana dia memiliki perangai tersebut, Ia juga punya pengaruh yang baik dalam kehidupan Muhammad S.a.w”[5].



II. Alqaab(Julukan-Julukan) Khadijah.

1. At-Thaahirah[6](Yang Suci).

2. Sayyidah Nisaa` al-Quraiys[7](Penghulu Wanita Qurays).

3. Ummul Mu`minin[8](Ibunya kaum muslimin).

4. Sayyidatun Nisaa`il `Aalamiin[9](Penghulu Wanita Dunia).


III. Keutamaan-Keutamaan Khadijah binti Khuwailid:



Diantara keistimewaanya secara global ialah: Wanita yang pertama kali menjadi istri Nabi; Melahirkan anak untuk Rasulullah; Tidak pernah dimadu semasa hidupnya; Hartanya diinfakkan untuk perjuangan Islam; Rasulullah pernah menjadi karyawan bisnis dagangnya; Allah pernah menyuruh Nabi memberi kabar gembira pada Khadijah bahwa ia akan dibangunkan rumah(istana) dari mutiara di surga, tidak akan mendengar kebisingan suara dan tidak akan penat(Hr. Bukhari, Muslim).

Adapun secara rinci ialah sebagai berikut[10]:

1. Memiliki nasab yang paling utama dan mulia diantara wanita Quraiys lain pada jamanya.

2. Menjadi istri pertama Rasullah Saw. sedang waktu itu dia janda.

3. Orang yang pertama kali beriman dan masuk Islam[11].

4. Mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril[12].

5. Rasulullah tidak menikahi siapapun semasa hidupnya dan Rasulullah menyuapi Khadijah dengan anggur dari Surga.

6. Diberi kabar gembira oleh Nabi berupa rumah(istana) di surga[13].

7. Nabi sering sekali memujinya(Hingga suatu ketika Aisyah pernah cemburu padanya).

8. Nabi selalu berbuat baik terhadap famili dan teman-teman Khadijah meski Khadijah telah wafat.

9. Wanita yang paling mulia(utama) diantara wanita-wanita penghuni surga[14].

10. Termasuk dari wanita yang terbaik di dunia[15].



IV. Wafatnya:


Ketika tahun kesepuluh kenabian Khadijah meninggal dunia. Hari itu diabadikan sejarah dengan nama `Aamul Huzni(Tahun Duka Cita). Kata al-huzn setidaknya menggambarkan betapa Rasulullah amat berduka terhadap orang yang menjadi tulang punggung psikisnya; terhadap penyejuk hatinya yang selama ini menemani perjuangan beliau dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Ia wafat sebelum diwajibkannya shalat dan dikebumikan di Hajun(gunung di Makkah tempat pemakaman keluarganya).


V. Pelajaran-Pelajaran:

1. Wanita shalihah ialah wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya(Kita ambil pelajaran ini dari kisah Khadijah yang dijuluki sebagai Wanita Suci sejak mudanya).

2. Wanita shalihah harus bisa menjadi pelipur lara, penenang hati bagi suaminya(pelajaran dari kisah Khadijah ketika menenangkan kegelisahan Nabi setelah menerima wahyu). Hal ini sejalan dengan tujuan nikah yaitu untuk menggapai dan menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.

3. Wanita shalihah ialah wanita yang bisa dijadikan partner dakwah(Pelajaran dari kisah perjuangan Khadijah bersama nabi dalam memperjuangkan Islam).

4. Wanita shalihah itu mandiri dan tidak cengeng(pelajaran dari profesi Khadijah yang menjadi pebisnis dan ketegarannya dalam menemani perjuangan dakwah Nabi).

5. Wanita shalihah adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik(pelajaran ini diambil dari kisah Khadija dimana atas didikanya, semua anaknya masuk Islam semuanya bahkan anaknya yang bernama Fatimah termasuk wanita-wanita terbaik sepanjang masa menurut penuturan Rasulullah Saw).

6. Wanita shalihah teguh pendirian dan sabar dalam menghadapi rintangan dan ujian yang menimpa(Diambil dari kisah Rasul bersama Khadijah, dimana Khadija teguh pendirianya dalam mempercayai kebenaran Islam, meskipun pada realitanya banyak ditimpa halangan dan ujian hingga pada puncaknya ialah ikut mengungsi ke lembah ketika diboikot sama orang-orang Qurays).

7. Diantara kriteria yang dijadikan acuan wanita shalihah dalam memilih calon suaminya ialah sebagai berikut berikut: 1. Jujur 2. Amanat dan 3. Berakhlak mulia 4. Profesional(Diambil dari kisah Khadijah ketika beliau tertarik pada nabi karena kejujuran, amanat dan akhlaknya yang mulia).

8. Diantara indikator wanita shalihah ialah rajin beribadah(Sebagaimana yang dicontohkan Khadijah binti Khuwailid).

9. Wanita shalihah adalah wanita yang ta`at pada suami(Tentu saja dalam hal kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khadijah).

10. Ganjaran bagi wanita shalihah adalah surga(Dalam hadits nabi ditegaskan bahwa Khadijah akan masuk Surga, diantaranya ialah karena beliau adalah wanita yang shalihah).


VI. Referensi:

1. Siyarul A`lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi

2. Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami.

3. Fiqhus Sirah, Muhammad al-Ghazali

4. Fataawan Nisaa`, Sya`rawi

5. Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi

6. Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah, Anjugu.

7. Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal, Ahmad bin Ali al-Maqrezi.

8. Ar-Rahiiqu al-Makhtuum, Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri.

9. miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal.

10. As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi.
_________________________________________________________________________________

[1] . Dari pernikahanya dengan Abu Haalah ini beliau mempunyai putra bernama Hindun(Sumber: Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi, hal: 111).
[2] . Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah(Anjugu, hal:6).- Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal(Ahmad bin Ali al-Maqrezi, Juz:6, hal: 25). –Ar-Rahiiqu al-Makhtuum(Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri, hal: 46). - As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi, juz:1, hal: 83.
[3] . Perang antara Quraisy dan pendukungnya dari suku Kinanah dengan suku Qais `Iilan. Dinamakan Fijar karena perang dilakukan pada bulan Muharram yang berarti menodai kemuliaan bulan Muharram.
[4] . Disarikan dari kitab, Fataawan Nisaa` karya Imam Sya`rawi, hal: 115.
[5] . Muhammad al-Ghazali, Fiqhus Sirah, hal:67, Cet: Daarud Da`wah.
[6]. Ummul mu`miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Karya: Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, hal: 12.
[7] . ibid hal: 13
[8] . ibid, hal: 14
[9] . Ibid, hal: 15
[10] . Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami, hal: 115.
[11] . Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa ketika Rasulullah menyebut/mengingat Khadijah, beliau tidak pernah putus asa(berhenti) memuji dan meminta ampun untuknya. Suatu hari beliau menyebut Khadijah dan membuatku cemburu lantas aku berkata: Engkau telah diberi ganti Allah(yang lebih baik) dari istri yang tua renta( kemudian diganti yang masih muda), mendengar perkataanku beliau marah bukan main, hatiku merasa sedih seraya berkata: Ya Allah jika Engkau hilangkan amarah Rasulullah padaku maka aku tidak akan menyebut kejelekan lagi pada Khadijah, ketika nabi mendengar ucapanku nabi berkata: , ”Apa yang kamu katakan? Ia beriman padaku ketika orang-orang mendustakanku, dan memberi perlindungan padaku ketika orang-orang menolakku, dan aku dianugerahi anak darinya sedang dari kalian tidak” Aisyah berkata: Setelah peristiwa itu Rasulullah pergi dariku selama sebulan(al-Ishaabah: ibnu Hajar al-Asqalani).
[12] . Bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata: (suatu hari) Jibril mendatangi Nabi Saw. lantas berkata, ”itu Khadijah sedang datang membewakan untukmu makanan dan minuman, jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dariku, dan berikan kabar gembira padanya bahwa ia akan mendapat istana di surga dari permata, yang tidak terdengar kebisingan dan tidak capek(Hr. Bukhari, Muslim).
[13] . Ibid.
[14] . Anas meriwayatkan bahwa sebaik-baik wanita di dunia ialah Maryam, Asia, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah. Bahkan menurut riwayat Abdul Barqi dalam kitab al-Istii`aab mengatakan bahwa penghulu para wanita di surga setelah Maryam ialah Fatimah, Khadijah dan istri Firaun, Asia.
[15] . ibid.

Yusuf Kontemporer

Written By Amoe Hirata on Selasa, 17 Januari 2012 | 20.20

          

            Apa yang ada dibenak anda ketika disebut nama “Yusuf”? Mungkin di antara anda ada yang menjawab: Ooo itu nama Nabi. Kemudian kalau saya kembangkan pertanyaan: apa yang paling anda ingat mengenai Nabi Yusuf? Mungkin anda juga akan menjawab: Ooo ketampanannya. Apa ada yang salah dengan jawaban ini? Tentu saja tidak. Memang Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya.  Namun yang menjadi kurang obyektif ialah ketika kita hanya terpaku pada ketampanannya saja. Karena apa gunanya ketampanan jika tak takwa?; apa gunanya kegantengan jika tak taat?;apa gunanya kerupawanan jika tak beriman?. Jika kita mengingat Nabi Yusuf, justru yang utama ialah bukan sekedar ketampanan fisik, namun lebih dari itu bahwa dia juga memiliki ketampanan batin yang patut diteladani. Apa gunanya ketampanan fisik jika tak diiringi dengan ketampanan batin? Bukankah Allah tidak melihat pada bentuk dan jasad kita, tapi melihat pada ketakwaan kita?
            Ketampanan fisik hanya sekedar bentuk wadag lahiriah yang bisa sirna dan tiada, akan tetapi ketampanan batin akan senantiasa bernilai dan abadi meski fisik telah hancur binasa. Dari kisah Nabi Yusuf seharusnya kita bukan saja mengenang ketampanan dan kerupawanannya, kita harus meneladani bagaimana Yusuf kecil yang begitu sabar ketika dicampakkan di sumur hingga dijual ke negeri Kinanah Mesir; bagaimana Yusuf begitu kuat memegang rahasia mimpinya sewaktu kecil; bagaimana Yusuf bisa memiliki keimanan yang tinggi; bagaimana Yusuf lebih memilih penjara daripada melayani rayuan wanita; bagaimana kesyukuran Yusuf ketika mendapat anugerah Allah; bagaiman semangat Yusuf yang begitu tinggi dalam berdakwah meskipun sedang dipenjara; bagaimana ketawadlu`an Yusuf ketika mengatakan bahwa semua yang ia kuasai tentang tafsir mimpi adalah dari Allah; bagaimana keamanahan Yusuf ketika menjadi bendahara kerajaan; dan lebih dari itu semua ialah bagaimana Yusuf mempunyai kebesaran hati dan kelapangan jiwa sehingga mau memaafkan semua saudaranya yang bersekongkol mencampakkan Yusuf.
            Ada dua kata yang bisa mewakili kebesaran Nabi Yusuf: Pertama: Syukur dan Kedua: Sabar. Dengan sifat syukur dia mampu memanfaatkan setiap anugerah Allah untuk ditransformasikan menjadi energi positif yang mampu memacu dan mendorong dirinya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ta`ala. Dengan sifat sabar dia mampu menahan, mampu bertahan dari segenap ujian dan cobaan yang silih berganti. Pada akhirnya sifat syukur dan sabar ini, atas izin Allah ia mampu mendapatkan happy ending(akhir yang manis). Bukankah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam pernah bersabda: (sungguh) mengagumkan keadaan orang mukmin, segala keadaannya itu baik, jika ia mendapat kebaikan maka ia bersyukur, dan jika ditimpa keburukan ia bersabar. Coba perhatikan betapa dahsyatnya sifat sabar dan syukur dalam mengkondisikan dan mengkontrol diri seseorang supaya tetap setabil. Bahkan ibnu Qayyim dalam kita `Uddatu as-Shoobirin mengatakan bahwa syukur dan sabar merupakan bagian paling mendasar dari keimanan. Separuh iman ialah syukur dan separuhnya lagi ialah sabar. Kalau kita cermati betul-betul sifat syukur dan sabar akan kita dapati dari sosok Nabi Yusuf.
            Yusuf sebagai sosok manusia tampan secara fisik memang telah tiada berabad-abad yang lalu tetapi Yusuf sebagai esensi nilai akan senantiasa ada hingga kiamat nanti. Sebagai esensi nilai ia tidak akan musnah karena ada yang meneladani. Orang-orang tampan yang mampu mensyukuri ketampanannya dengan senantiasa berjuang, berkorban, beribadah ikhlas mengharab ridha Allah maka ia telah meneladani Yusuf. Coba buka kembali lembaran emas sejarah kehidupan para sahabat Nabi, akan kita temukan esensi nilai itu. Suatu saat Umar bin Khathab berkata: Yusuf umat ini ialah Jarir bin Abdillah al-Bajli. Kalau kita perhatikan betul-betul pernyataan Umar ini maka akan kita temukan kebenaran faktualnya. Dalam lembaran sejarah emas Jarir bin Abdullah kita temukan bahwa Rasulullah pernah mengatakan bahwa wajah Jarir ada mushatul malaaikah(percikan keindahan malaikat). Ia merupakan sahabat yang tampan dan rupawan. Tak hanya itu, ia juga berjuang, berkorban, dan bersabar. Waktu memerangi penduduk Hamdan matanya terkenah panah namun dia mampu bersabar dan mengharap ridha Allah. Ia juga termasuk sahabat yang pandai dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Ia mampu teguh tegar memegang Islam meski kebanyakan dari sukunya murtad. Maka benarlah kata Umar jika Jarir bin Abdillah adalah Yusuf umat ini. Karena ketampanan yang dimiliki mampu disyukuri dengan amalan-amalan positif, dan mampu memercikkan kesabaran dari hatinya sehangga tabah dalam menghadapi segala cobaan, sampai akhirnya ia meninggal di bumi Syam.
            Sebagaimana Nabi Muhammad, Nabi Yusuf secara fisik memang telah tiada, namun keteladanan mereka berdua akan senantiasa ada menyertai kita jika kita mau meneladaninya. Untuk menjadi Yusuf secara esensial tentunya kesabaran dan kesyukuran harus senantiasa melekat dalam benak kita, karena itu bagian inti dari keimanan. Namun sekali lagi meneladani bukan perkara yang mudah. Perlu usaha ekstra untuk mampu merealisasikan nilai yang dicontohkannya. Kita dapat pelajaran besar bahwa yang terutama bukan ketampanan fisik tapi batin. Kalaupun kita dianugerahkan ketampanan maka itu perlu disyukuri dengan senantiasa berjuang dan berkorban untuk menggapai ridha Allah. Kita tahu betapa Yusuf tidak terlalu mempedulikan ketampanannya tapi ia semangat berjuang dan bersabar. Wal `Aaaqibatu lil Muttaqin(akhir yang baik pasti dimiliki orang –orang bertakwa). Ketampanan yang tak beriring syukur dan sabar adalah ketampanan yang menipu dan menjerumuskan. Meski tak tampan namun beriring sabar dan syukur maka ketampanan batin Yusuf otomatis bisa diteladani. Maukah anda menjadi Yusuf kontemporer?

Buramnya Cita

Written By Amoe Hirata on Jumat, 09 Desember 2011 | 03.24

Dalam silamnya waktu cita terukir
Terlihat besar laksana gunung menjulang
Detik-detik waktu berjalan menuju akhir
Nyatanya Cita menjauh pergi bahkan semakin hilang
Jiwapun terheran dalam tanya dan pikir
Wahai Cita! kemana kau kan bertualang?
Jiwa terasa sepi senyap tatkala engkau menyingkir
Cita bersambut:"Apalah guna singgah dalam terawang"
"Pergi nan jauh tuk kembali lahir"
Begitulah lantunan Cita dalam bayang
Apalah indahmu bila rantaumu buat jiwa terjungkir?
Kedalam samudra penyesalan dan bimbang.
Tanpa jawaban jiwapun menghilir
sembari berujar:"Andai Cita kembali pulang"
Ku kan menyambutnya dengan hangat tampa tabir
Citapun tak bergeming laksana wayang tak berdalang
Buram....buram....buram...., Cita makin meminggir
Jiwa terlihat sayu, pilu ba` redup bintang gemintang
Meraba-raba suratan takdir
Yang terlampir dalam lembaran Sang Maha Penyayang.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan