Latest Post

Balada Cinta Kasturi

Written By Amoe Hirata on Minggu, 18 Maret 2012 | 10.38


            Pagi hari di Heidelberg pepohonan cemara terlihat sayu. Langit sedikit mendung tak bersahabat. Tidak seperti biasanya suhu dingin kota Heidelberg mencapai -0.3 C. Angin begitu kencang. Rasa dingin itu seolah menusuk-nusuk kulit Dino. Meskipun dia sudah memakai jaket, syal(tutup leher) dan tutup kepala  tebal tetap saja dingin itu merasuki kulitnya. Ini sangat wajar karena suhu di desanya berbeda jauh dengan suhu di sini.  Meski demikian tak mengurangi semangatnya untuk pergi pagi-pagi menuju kuliah yang merupakan kebiasan baiknya.
Sudah hampir satu tahun Dino menjalania aktivitas kuliahnya. Dia kuliah di Universitas Heidelberg mengambil jurusan Kedokteran ini tak mengherankan karena memang salah satu universitas di Jerman yang tersohor dalam bidang kedokteranya ialah Universitas Heidelberg.
Sebagai mahasiswa asing dari Indonesia ia tergolhong paling pintar dan prestisius. Penguasaan bahasa Inggris dan Jerman yang begitu memadai membuatnya semakin mudah melahab letelatur bahasa asing. Tidak hanya itu di juga cukup ahli penguasaan Bahasa Arabnya, ini karena sewaktu dirumah dulu Bapaknya sendiri lah yang mengajari secara langsung Bahasa Arab juga penguasaan Kitab Kuning. Bapaknya pernah nyantri di pondok Gontor, maka tak heran meskipun Dino sekolah di SMA Negri kedalaman ilmu agamanya tidak bisa diremehkan.
Banyak mahasiswa-mahasiswa yang minta bimbingan padanya. Waktunya sangat padat. Dihabiskan untuk kegiatan organisasi seperti senat kekeluargaan dan kegiatan lainya. Ia sangat di horrmati dan disukai oleh mahasiswa dan dosen. Meski demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong.
Suatu ketika di perpustakaan kampus ia membaca buku, entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan Puspita Sari. Bagaimana ya kabar Puspita? Dia pasti sudah nikah dan bahagia. Astaghfiullah...kenapa akumasih mikirin dia bukankah dia sudah menjadi milik orang. Dengan segera ia alihkan perhatianya untuk kembali membaca buku. Saat sIbuk membaca buku ia didatangi oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia.
            Kak permisi, maaf kami jika kami menganggu. Kami adalah mahasiswa baru Kedokteran. Kata teman-teman kakak nih orangnya pinter banget dan keren. Siapa saja pasti kenal kakak. Nah kami berencana meminta bimbingan pada kakak. Kira-kira ada waktu ga ya kak?Sebenarnya saya biasa aja kok dik. Ga ada yang istimewa bagi saya. Saya seperti kalian juga. Kalau untuk bimbing sih sebenarnya saya kurang pantas. Tapi gini aja, saya akan berusaha membantu ga usah anggap saya pembimbing anggap saja belajar bersama. Tapi sebelum itu kita kenalan dulu biar lebih akrab.
Terimakasih ya kak. Baik perkenalkan saya Bagas. Yang ini Sharon, Mekar, Arjuna dan yang teakhir itu namanya Wangi Bunga Kasturi. Baik saya juga akan mengenalkan diri. Nama saya Dino al-Kindi. Panggil saja saya Dino. Saya berasal dari desa Jembar Sari di Jawa Timur Indonesia.
Baik, kita kan sudah saling mengenal, sekarang langsung saja kita tentukan kira-kira kapan waktu yang pas untuk belajar bersama. Yang jelas untuk hari Jum'at dan Sabtu saya tidak bisa. Terserah kakak aja deh kami menyesuaikan saja. Kami juga belum ada kesIbukan paten kok selain kuliah. Baik,gimana kalau kita ketemu hari Senin, Selasa dan Rabu Sore. Ya ya...boleh tuh kami setuju. Ya udah kak terima kasih kami mau pamit dulu mau masuk kuliah. Silahkan melanjutkan bacaanya. Sekali lagi terima kasih lho kak. Ok sama-sama dek.
Seperginya mereka Dino sedikit bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa sebenarnya Wangi Bunga Kasturi? Ia kelihatan lain dari pada temen wanita yang lain. Meski ia tidak pakai jilbab tapi bajunya sangat sopan sekali tidak seperti yang lain. Ia juga sangat menjaga perilaku tidak over. Dino semakin penasaran siapa gerangan gadis itu. Wajahnya imut, cantik dan manis, tinggi semampai berambut ikal sebahu. Melihatnya ia jadi ingat lagi sama Puspita.
Astaghfirullah....jagalah hamba-Mu ini ya Allah jauhkanlah daripikiran-pikiran yang tidak-tidak. Berlangsunglah aktivitas belajar bersama itu hingga hampir satu tahun. Secara tidak sadar Wangi Bunga Kasturi selama ini tertarik dan memendam rasa pada Dino. Tapi ia hanya diam, sikapnya yang pemalu dan sangat menjaga diri membuatnya kuat untuk menahan diri. Dino menangkap sinyal-sinyal kea rah situ. Namun dia cuek. Sampai suatu ketika secara tidaksengaja sewaktu ia masuk perpustakaan ada sebuah agenda yang tak bernama melainkan hanya tiga kata saja WBK.
Ia buka lembaran itu untuk mencari identitas pemilik supaya bisa lekas di kembalikan. Sewaktu membuka halaman pertama ia kaget, namanya tertulis di judul tulisan paling depan:" Dino sang Dambaan". Melihat tulisan itu Dino secara tidak sadar tertarik membacanya hingga selesai. Rupanya benar itu adalah agenda Kasturi. Dino baru tahu jika selama ini Kasturi menaruh rasa padanya. Dengan segera ia menutup agenda itu dan segera keluar mengembalikan agenda itu ke Wangi Bunga Kasturi.
Kebetulan Sharon lewat di depan perpus maka dengan segera Dino menitipkan agenda itu pada Sharon. Shar, tolhong berikan buku ini ke Kasturi barusan kakak lihat tertinggal di perpustakaan. Baik kak aku juga mau ketemu dia kok. Terima kasih ya. Ya kak sama-sama.
Kasturi, ni agenda kamu ya? Barusan kak Dino titip buku ini. Hah...kak Dino oh iya aku lupa....aduuuh...gimana ini kalau sampai kak Dino tau dan baca bisa malu sendiri aku. Emangnya kenapa Kasturi? Jadi di agenda ini aku menulis tentang dia karena juju raja Sharon aku suka banget ma dia makanya di agenda ini kutulis tentang dia sebagai sang dambaan. Heee....ya udah ga usah khawatir, kan mendingan kayak gitu biar dia tahu. Siapa tahu kalian berjodoh kan. Haaa....tapi aku malu banget tauu...giman coba kalau dia ga da rasa ma aku kan aku jadi ga enak sendiri dan malu lagian ni yah kita kan bimbingan denganya jadi tambah malu aja kan  kalau aku ketemu nanti.
Kala itu Dino berpikir dengan cukup serius diperpustakaan. Apa sebaiknya sikap yang harus dia ambil. Secara tingkah laku Kasturi tergolhong baik. Apa salahnya jika ia mencoba menjalin hubungan serius dengan Kasturi. Ini supaya terhindar dari perbuatan maksiat dan tidak ingat lagi sama Puspita Sari.
            Akhirnya malam itu juga ia datang kerumah Kasturi untuk melamarnya. Baru ia tahu ternyata Kasturi adalah anak salah satu pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Jerman. Betapa kagetnya Kasturi ketika melihat kedatangan Dino ke rumahnya. Apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai pria pujaanya itu datang kerumahnya. Barulah ia tahu maksud kedatangan Dino. Bergetarlah hati Kasturi ia tidak percaya kalau Dino sedang mau melamarnya.Bagai di alam mimpi ia terbuai dalam imajinasi kebahagiaan yang selama ini ia harapkan.
Belum selesai rasa senangnya terpuaskan, seketika itu lamunananya buyar. Ternyata Bapaknya kurang setuju. Alasanya ialah karena Kasturi masih terlalu muda dan masih kuliah ditambah yang lebih inti karena Dino beragama Islam. Jadi, Dino akan di setujui lamaranya jika Kasturi sudah menyelesaikanstudi S1-nya dan Dino harus masuk agama Kristen.
            Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh Dino, apakah ia akan pertahankan agama dan idealismenya atau akan menyerah pasrah dengan syarat dari orang tua Kasturi. Kita tunggu saja episode selanjutnya.

Bayang-bayang Cinta


           Sore hari di desa Mambang Legi langit begitu cerah, awan dan mega seoalah malu-malu menampakkan dirinya. Sekawanan burung merpati terbang kompak dengan gaya khasnya. Angin semilir menampapakkan rasa persahabatannya. Terlihat hanya kebahagiaan yang tercermin dalam suasana sore itu.
            Sore ini, Aji Kurniawan bersama keluarga akan melamar Puspita Sari.  Aji begitu bahagia mendapat calon istri seperti Puspita. Dari segala sisi sangat pas dengan kriterianya. Ia sangat bersyukur kepada Allah telah menganugerahkannya calon istri yang cantik dan shalihah.
            Sampailah rombongan di rumah pak Ahmad Sunardi. Banyak keluarga dari pihak Bapak Ahmad Sunardi yang turut serta mengiring acara lamaran itu. Di dalam kamarnya Puspita hanya duduk-duduk di depan kaca kamar tidurnya. Tatapanya kosong. Meskipun raga di dalam kamar tapi jiwanya terbang tiggi dalam istana lamunan. Agaknya, bayang-bayang cinta Dino masih tak bisa lepas dari alam pikirnya. Hatinya seakan tak mau melepaskan bayang-bayangnya.
            Melihat Puspita berpagut tangan di pipi, bengong dan menatap kaca, uminya Hani'am segera menegurnya. Puspita! Ada apa toh kok kayak murung gitu? Bukan malah seneng? Kamu tidak bahagia ya? Oooh tidak ko Mi, Puspita hanya merasa sedikit gugup karena ini merupakan hari pertama aku bertunangan. Hanya itu yang di sampaikan oleh Puspita kepada Uminya. Dalam hatiia membatin:" Astaghfirullah....ampuni hamba-Mu ini ya Allah yang masih belum bisa melupakan Dino, hati ini begitu rapuh, kuatkanlah hamba untuk menghadapi kenyataan ini".
Acara berlangsung dengan lancar. Dalam acara itu Arjuna berjanji akan menikahi Puspita setelah menyelesaikan progam S2-nya di Madinah. Semua pihak dari masing-masing keluarga telah sepakat. Diberikanlah cincin pertunangan itu oleh Ibu Intan Sartika Ibu dari AjiKurniawan.
            Selepas acara pertunangan, diam-diam Puspita berunding dengan abah uminya. Bah...bagaimana kalau sela-sela waktu menunggu mas Aji ini Puspita gunakan untuk ikut tahfidz al-Quran di pondok al-Karimah....pernikahan Puspita kan masih setahun lagi dalam waktu segitu kanal-hamdulillah jika Puspita bisa menghafal seluruh al-Quran. Tanpa banyak bicara pak Ahmad langsung menyetujui ide itu. Dari dulu ia bercita-cita ingin mempunyai anak yang hafal al-Qur'an.
            Di sebrang desa Mambang Legi sekitar dua kilho meter tepatnya di desa Jembar Sari sedang diadakan acara selamatan pelepasan kepergian Dino. Tidak seperti hari-hari yang lalu Dino sekarang nampak lebih ceria. Ia telah membulatkan tekad untuk melanjutkan studinya ke Jerman. Ia sadar bahwa Puspita sudah dilamar orang. Di samping itu yang membuat dia semakin mantap ialah ia teringat pesan mendiang Ibunya:" Nak apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan jika memang itu di takdirkan Allah. Tapi, jika tidak Allah ijinkan maka meskipun kamu kerahkan segenap tenagamu hingga habis kamu tidak akan pernah mendapatkanya".
Sebelum berangkat Dino mengirim pesan kePuspita:" Assalamualaikum...Maafkan aku yang lancang menyapamu....aku hanya mengucapkan selamat atas pertunangan mu semoga kamu bahagia....aku juga pamit kepadamu...Aku mau lanjut studi ke Jerman...doakan semoga jalanku sukses....aku tahu sekarang jarak memisahkan kita...tapi aku hanya percaya pada takdir cinta yang ditetapkan Allah...Bila takdir cinta itu ternyata untukku maka kamu akan menjadi cintaku. Percayalah akan hal itu....Wassalamualaikum.

            Mendapat sms dari Dino Puspita merasa sangat terharuh dan sedih.....ia tidak membalas sms Dino....karena jemari tanganya sudah tidak mampu lagi untuk menuliskan pesan kepadanya...ia tidak tega...betapa malangnya si Dino dia telah kehilangan kedua cintanya yaitu Bapak al-Kindi danPuspita. Dalam hati ia hanya bisa berdoa...sukseskanlah mas Dino ya Rabb....Bilatakdir cintaku adalah bersamanya maka kokohkanlah cinta itu hingga waktu tiba. 

Wow Wow Surga

Written By Amoe Hirata on Rabu, 14 Maret 2012 | 19.28


            Salah satu kata yang bisa menjelaskan tentang kegigihan dan ketegaran sahabat yang begitu luar biasa dalam memperjuangkan Islam ialah, “SURGA”. Kata “surga” yang bahasa al-Qur`annya adalah jannah menjadi magnet yang menarik hati sahabat melakukan  perjuangan yang begitu besar. Tak jarang di banyak kesempatan, Rasulullah memotivasi para sahabatnya dengan kata “surga”. Bahkan secara tegas Rasulullah memberikan rekomendasi dan kesaksian langsung bahwa diantara mereka pasti masuk surga. Misal saja secara kolektif ada istilah al-Asyratu al-Mubassyaruuna bi al-Jannah (sepuluh orang yang diberi kabar gembiri masuk surga). Sepuluh orang itu ialah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin `Auf, Sa`ad bin Abi Waqash, Sa`id bin Zaid dan Abu `Ubaidah bin al-Jarraah. Ada juga yang secar personal seperti: Bilal, Ukaasyah, `Umair bin al-Humaam dan lain sebagainya.
            Begitu dahsyatnya kekuatan kata “surga” hingga membuat orang seperti, Bilal, Ummu Haaritsah, Sumayya, Yasir begitu sabar menghadapi penyiksaan dan kesusahan yang ditimpakan oran-orang kafir. Kata “surga” menjadikan sahabat seperti Umair bin al-Humaam, Umair bin Abi al-Waqash, Saad bin Khaitsamah, dan Haritsah bin Suroqoh seolah memiliki semangat ganda dalam berjuang karena termotivasi. Kata “surga” seakan menjadi surplus keimanan para sahabat hingga membuat mereka tak gentar dalam berjuang.  Bahkan kata “surga” dapat membuat sahabat melakukan hal yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
            Apa salah menginginkan surga? Keinginan demikian tentu sama sekali tak salah. Tapi tetap saja yang dijadikan acuan utama dalam beramal adalah ridha Allah. Karena mereka menginginkan ridha Allah, dan Allah menjanjikan surga maka di sini titik temu antara keinginan mereka mendapatkan ridha Allah dan surga. Bias-bias egoisme pribadi, ambisi-ambisi individu yang superfisial dan meterialistik lebur pada keinginan mereka mendapat ridha Allah. Jadi antara keinginan mendapat surga dengan idealismu untuk berjuang mendapat ridha Allah sama sekali tak bertentangan, karena surga sejatinya sebagai balasan bagi mereka yang berjuang dengan ikhlas menggapai ridha Allah.
            Ketika perang Badar sedang berkecamuk, Rasulullah bersabda: “bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi” Mendengar sabda Rasulullah, Umair bin al-Humaam merasa kagum dan penuh keheranan: “benarkah luasnya surga seperti langit dan bumi?” Rasul menjawab: “ya”. Umair makin kagum penasaran sembari mengucap bakh bakh(ungkapan takjub seperti  wow, aduhai). “Mengapa engkau berkata begitu?” tanya Rasulullah. Umair langsung menjawab: aku berkata begitu karena sangat berharap mendapatkannya” Rasul bersabda: “engkau termasuk penghuninya”. Mendengar kata itu Umair langsung membuang kurma yang ada di tangannya kemudian berkata: jika aku hidup sampai aku memakan kurmaku ini maka itu merupakan kehidupan yang lama(sebagai gambaran akan keinginan yang begitu kuat terhadap surga hingga waktu beberapa detik makan kurma dianggap sangat lama). Tak lama setelah itu ia berjuang di medan laga hingga wafat tercatat sebagai syahid.
            Alangkah indahnya bila kita mendapat jaminan  masuk surga sebagaimana Umair bin al-Humaam dan sahabat-sahabat lainnya. Namun jaminan itu bukanlah diperoleh dengan harga yang murah. Mereka rela sengsara, susah, nelongsho, sakit demi memperjuangkan kebenaran Islam. Dalam bahasa Arab ada ungkapan: al-jazaa` min jinsi al-amal (balasan itu seimbang dengan amal yang dilakukan) artinya semakin besar perjuangan dan pengorbanan maka makin besar balasan yang akan diterima. Apalah artinya kemewahan-kemewahan dunia dibanding dengan surga yang luasnya bak langit dan bumi. Namun sekali lagi itu tak mudah. Semakin kita berkeinginan keras mendapatkan surga, maka semakin kita dituntut berjuang dengan keras dan penuh pengorbanan. Semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula peluang menuju surga. Bila sudah demikian, surgapun kan merindukan kita.

Cinta Tak Kunjung Menjawab

            Di sepertiga malam yang sunyi, beratus-ratus gemintang terlihat indah semburat. Angin sepoi-sepoi. Suasana begitu sepi. Di tengah sepi itu Yang ada hanya suara jangkrik dan kelelawawar yang sedang menikmati buah jambu yang matang. Malam itu, di samping sungai desa Mambang Legi terlihat sorot remang-remang lampu kamar yang sedang  menyala.Tepatnya, di rumah Bapak Kh. Ahmad Sunardi selaku abah dari Puspita Sari.
Ketika itu, Puspita Sari sedang asyik bermunajat menunaikan shalat Tahajjud. Besok adalah hari ke tujuh dimana Dino berjanji akan melamarnya. Perasaanya tidak karuan senangnya. Rasa bahagia dan kengen seolah menyelimuti hatinya. Mungkin ia baru mengalami apa yang namanya cinta. Seharian itu wajahnya cerah dan banyak senyum. Abah dan Uminya sampai merasa heran, ada apa gerangan dengan anak ke tiganya ini kok tingkahnya tidak seperti biasanya.
            Dalam munajatnya itu ia berdoa:" Ya Allah ampunilah hamba yang penuh khilaf dan dosa ini. Aku memohon kepada-Mu ridhailah hubunganku dengan Dino jika itu memang yang terbaik buat kami. Jagalah kami. Lindungi kami dari hal-hal yang buruk. Kami sudah ingin menjalin hubungan yang suci ya Allah agar terhindar dari makshiyat kepada-Mu.  Kabulkan permintanku ya Allah. (Dengan sangat optimis ia menutup doanya dengan Amiiiin).
Pagi sudah menjelang. Tepatnya pukul 09.00 pagi Dino berjanji akan melamar Puspita Sari. Jantung Puspita sari berdegup kencang menunggu datangnya hari penting itu. Sedari pagi ia sudah menyiapkan segalanya. Abah dan Uminya semakin heran karena memang keduanya tidak tahu apa yang bakal terjadi. Puspita sengaja merahasiakannya sebagai kejutan untuk Abi Uminya tercinta.
            Jam menunjukkan pukul 10.00. Dino tidak kunjung datang. Perasaan khawatir dan cemas segera datang menghantui benak Puspita. Ia bingung. Dino tidak bisa di hubungi, hpnya tidak aktif sms juga tidak dibalas. Ia berusaha untuk menghibur dirinya dengan ungkapan:"Sabar....sabar...barangkali mas Dino masih ada acara". Hingga pukul 11.00 nampaknya Dino belum datang juga. Kesabaran baja Puspita semakin terkikis oleh resah dan bimbang yang menjadi-jadi.
            Di tengah kegalauan itu tiba-tiba terdengar dari depan rumahnya suara mobil berbunyi. Segera ia lari menuju ruang tamu melihat siapa yang datang. Barang kali mobil itu adalah Dino dengan pa kal-Kindi. Perasaan itu menjadi buyar ketika yang keluar ternyata bukan Dino. Ketika itu yang datang adalah temanya sendiri yang bernama Shinta Aulia bersama lelaki yang tidak di kenal puspita.
            Diketoklah pintu rumah dengan lembut oleh Shinta(...tok..tok..tok..) “Assalamualaikum..Wa'alaikum salam....hai Sin apa kabar?Baik-baik saja kan?”. “Kok ga ngbari sih kalau mau kesini? Tau gitu kan aku bisa siap-siap bikin jamuan untukmu. Oh ya aku kangen banget lhoh ma kamu soalnya hampir dah sebulan lebih kita ga ketemu. Oh iya ngomong-ngomong kamu lanjut kuliah dimana?”
            “Maaf  deh Sar, ku sengaja bikin kejutan nih, aku baik-baik aja kok, aku juga kangen ma kamu, aku jadi kuliah di UGM ngambil jurusan Komunikasi”. “Oooo...gitu toh....oh iya sampai lupa...mari-mari silahkan duduk(sambut Puspita)”. “Sar, kenalkan ni sepupu saya namanya Aji kurniawan sedang menjalani progam S2 di universitas Madinah”.
            “Sar, abi dan umi kamu ada di rumah ga?”. “Oh ada...emang kenapa Sin?”. “emmm..ga Cuma pingin ngobrol sebentar”. “..ok bentar ya bentar ku panggil mereka sambil ku bikin minuman buat kalian”. “Abi..Umiii....ada tamu nih...temen Puspita pingin ketemu abah dan umi”. Keluarlah keduanya keruang tamu menyambut kedatangan mereka.
            Begini pak maksud kedatangan saya, ingin mengantar sepupu saya ini namanya Aji Kurniawan calon MA di Universitas Madinah.  Ia sekarang lagi liburan, jadi menyempatkan diri untuk pulang. Nah, tujuan kepulanganya ini ingin mencaricalon istri jadi saya tunjukkan kemari, maaf ya pak kalau kurang berkenan.
            Dak usah sungkan-sungkan dek, Bapak malah seneng lho kedatangan tamu, apa lagi jauh-jauh dari Madinah. Bapak sama Ibu sebenarnya setuju-setuju aja apalagi dapat anak shaleh seperti dek Aji. Cuman Bapak harus menanyakan dulu ke Puspita tentang rencana ini. Setahu Bapak sih Puspita belum ada calon.
“Hayoo...lagi ngomongin apa nih kayaknya seru banget....mari-mari silahkan diminum jus mangganya seger banget lho” saji Puspita. “Begini nak kita bisa ngomong sebentar didalam? Ada masalah penting yang mau abah umi bicarakan sama kamu. Baik bah silahkan. Jadi begini, kamu tahu ndak cowok berkopyah di depan tadi? Iya bah itu sepupu Shinta calon S2 Universitas  Madinah. Tujuan dia kemari ingin melamarmu. Dimana menurutmu?. Anaknya baik, tampan dan shalih lhoh, kalau bisa segera jawab.soalnya moment kaya begini sangat langkah. Kamu sendiri kan belum ada calon kan?”.
Puspita merasa sangat bingung mau menjawab apa.Sedang dia sudah terikat janji sama Dino. Disisi lain ia sangat cinta Dino.Masalahnya itu tidak di ketahui oleh abah dan uminya. Dino juga tidak datang-datang. Mau menolak ia tidak tega sama abah uminya karena selama ini keduanya tidak pernah sampai meminta dengan mendesak seperti ini.
Dalam kondisi pelik ini tiba-tiba ia mendapatkan sms dari Dino yang isinya:" Assalamualaikum...Puspita, sebelumya aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang kerumahmu...aku sedang dilanda masalah besar...aku harap kamu tidak kecewa...beri kesempatan tiga hari lagi...aku masih ingin menyelesaikan maslahku ini...wsslm".

Ketika Cinta Harus Memilih

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 Februari 2012 | 13.45

Senja hari itu langit begitu hitam pekat, tertutup kepulan asap yang sudah siap menurunkan air hujan.  Petir dan geledek bergemuruh dengan penuh bisingnya. Dalam kondisi demikian di sudut desa Jembar Sari rumah keluarga Bpk al-Kindi terjadi pertengkaran hebat. Bermula dari musyawarah keluarga hingga akhirnya terjadi konflik.
Dino putra bpk al-Kindi sedang menghadapi posisi sulit. Di senja petang itu ia diminta ketegasan oleh Bapaknya untuk memilih. Dino merasa kebingungan menjawabnya. Dalam hati ia berandai: "Andai aku bisa mendapat keduanya". Dua pilihan rumit itu ialah antara meneruskan studi kuliahnya  ke Jerman dengan menikah dengan Puspita Sari.
            Melanjutkan studi ke Jerman sudah menjadi cita-citanya sejak SMA. Setelah lulus SMA ia mencoba mengikuti tes beasiswa studi ke Jerman. Tak disangka ia lulus tes  dan mendapat nomor urut satu dari dua rIbu siswa tanah air yang mengikuti tes. Ia begitu gembira dan langsung sujud syukur. Mendengar berita itu pak al-Kindi senang bukan main, ia langsung memeluk anak semata wayangnya itu sambil menangis bahagia. Tak lama beberapa hari setelah itu ia mengadakan syukuran atas kelulusannya. Teman-teman SMA nya ia undang semua. Pada momen itu juga ia mau mengenalkan kekasihnya yang bernama Puspita Sari kepada Bapaknya.
            Berlangsunglah acara itu dengan lancar dan meriah. Di saat-saat acara berlangsung    ia memanggil Bapaknya. “Pak, maaf Dino mau berbicara sebentar”. “Oh iya silahkan nak”. “Jadi begini pak kalau Bapak tidak keberatan saya ingin mengenalkan kekasih Dino”. “Apaaaa!!! Astaghfirllah naaak, kekasih katakamu? Kamu pacaran ya? Istighfarrr naak, dari dulu Bapak sudah mengajarimu pelajaran agama kenapa kau melakukan tindakan yang a moral itu?”.
Pertanyaan yang bertubi-tubi itu membuat Dino sedikit takut dan gemetaran. “Eeeem....bukan begitu maksud Dino pak, Dino tidak pacaran Cuma hanya ingin mengenalkan calon istri Dino. Namanya Puspita Sari. Anaknya alim, baik dan shalihah. Meskipun ia sekolah di SMA ia tetap memakai jilbab. Di kelas ia menjadi idaman siswa. Sampai pada suatu ketika setelah kelulusan saya merasa tertarik dan ingin mempunyai hubungan serius denganya. Saya meminta bantuan Lina(Sepupu Dino), untuk menyampaikan niat saya pada Puspita....al-Hamdulillah ia menerima saya”.
“Baik Din, sekarang begini saja, kamu kenalkan saja anak itu pada Bapak. Masalah setuju atau tidak kita musyawarahkan saja nanti sore setelah acara selesai”. Di kenalkanlah Puspita pada Bapak al-Kindi. Tak ada sepatah katapun yang diucapkannya kecuali hanya buraian senyum khasnya.
            Acara sudah selesai. Dengan tergopoh Dino segera mencari Bapaknya. Setelah dicari, ternyata Bapak al-Kindi sedang khusyu di atas ranjang kamarnya memandangi photo mendiang istrinya. Dino merasa haru, ia melihat mata Bapaknya berkaca-kaca, seolah menyimpan kesedihan. “Bapak...kenapa menangis? Kangen sama Ibu ya?”. “Oh tidak kok Din. Bapak hanya teringat washiat mendiang Ibumu, bahwa kamu jangan menikah dulu sebelum mensukseskan studi dan sudah memiliki hidup mapan. Sebenarnya Bapak bukanya tidak setuju, hubungan kamu dengan Puspita, cuman kamu harus melaksanakan washiat Ibumu”.
            “Saya bukannya tidak mau melaksanakan washiat Ibu pak. Masalahnya, saya sudah mengikat hubungan dengan Puspita dan saya berjanji akan segera menikahinya. Ia merupakan gadis langkah yang pernah saya jumpai dan cintai pak. Seumur-umur baru dia yang bisa membuat saya jatuh cinta. Mungkin tindakan saya ini terkesan terburu-buru. Namun, jujur pak saya sungguh mencintainya. Seminggu lagi saya harus segera melamarnya. Kalau tidak, ia akan segera menuruti saran abahnya untuk ikut pondok Tahfidz al-Quran di pondok al-Karimah”.
            “Maaf Din, Bapak tetap tidak setuju. Aku ingin  kamu menuruti washiat Ibumu. Sekarang kamu fokus saja untuk persiapan studi ke Jerman. Kan tinggal satu bulan lagi. Aku tidak mau konsentrasimu pecah. Keputusan Bapak sudah bulat”. Dino diam tak bergeming mendengar jawaban ayahnya. Matanya merah, menahan air mata kesedihan. Dengan lantang ia berbicara:" Apakah Bapak tega jika nanti di Jerman aku terjerumus pada jurang maksiat? Aku ingin menikah dengan dia supaya aku tidak terjerumus pak. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun sama Bapak. Kenapa, di saat aku meminta sesuatu Bapak menolaknya?”. Suara yang keras dan lantang itu ternyata membuat pak al-Kindi tersingung berat. Secara reflek tangan pak al-Kindi menampar pipi Dino. “Jadi hanya karena seorang gadis itu kamu berani berkata lantang? Kenapa kamu jadi berani membantah sama orang tua? Sekali lagi camkan baik-baik, Bapak tidak akan mengubah keputusan, sekarang terserah kamu, pilih terus lanjut studi ke Jerman atau gadis itu? Kalau kamu lebih memilih gadis itu pergi dari rumah ini”.
            Dino duduk lemas mendengar sikap keras ayahnya. Suara geledek dan petir terasa turut menambah sedih hatinya.Sekarang ia merasa bingung. Apa yang harus ia lakukan. Ke duanya sama-sama berat. Apakah ia harus menuruti Bapaknya, atau meneruskan keinginannya menikahi Puspita. Hatinya sedang berkecamuk. Yang jelas, dalam relung hatinya ia mau mendapatkan kedua-duanya. Dalam hati ia berandai:" Andai aku bisa mendapat keduanya". Tetapi fakta memaksa dia harus memilih.

SERIAL "WANITA MUSLIMAH TELADAN" Bag: I

* PROLOG:


Dalam tulisan “Serial Wanita Muslimah Teladan” ini akan dikupas tentang wanita-wanita muslimah hebat sepanjang masa. Mereka dikatakan hebat karena, di samping menjadi wanita shalihah, mereka juga mempunyai kontribusi(sumbangsih) besar dalam dakwah islamiyah. Tak hanya itu, mereka juga sukses dalam menjalankan tugas sebagai pendidik anak-anaknya. Mereka ini diibaratkan sebagai pilar dalam menentukan jatuh bangunya generasi suatu komunitas. Karena itulah tidak berlebihan jika kelangkaan mereka merupakan kehancuran bagi suatu generasi.



Bag I: “KHADIJAH” Wanita Agung Sang Teladan.

Sajian perdana pertama kali ini ialah tentang wanita hebat yang pertama kali masuk Islam; pertama kali membenarkan risalah nabi -ketika seluruh penduduk Makkah kala itu mendustakan beliau-; pertama kali melaksanakan shalat bersama Nabi; kekayaannya disumbangkan untuk perjuangan dakwah Islam; seorang istri yang selalu menjadi pelipur lara ketika Nabi dilanda gulana; menjadi penentram jiwa di kala susah; menjadi penyejuk hati di saat ujian kian bertubi.


I. Nasab dan Profil:

Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil `Uzzah bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiah. Nama ibunya ialah, Fathimah binti Zaa`idah al-Aamiriyah; Khadijah adalah Ibu dari anak-anak Rasulullah shallahu`alaihi wasallam; wanita yang pertama kali membenarkan dan beriman padanya sebelum siapapun; wanita yang menenangkan kegelisahan hatinya dengan mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal; Ia termasuk wanita sempurna menyamai laki-laki; bijaksana(rasionil), mulia, terjaga kehormatanya; termasuk wanita penduduk surga; Nabi selalu memuji dan mengutamakanya dari istri-istri lainya; bahkan melebihkanya dari lainya sampai-sampai Aisyah berkomentar, “Aku tidak pernah cemburu pada wanita seperti kecemburuanku pada Khadijah karena Nabi sering menyebutnya”(Hr. Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

Sebelum menikah dengan Rasulullah di masa Jahiliyah ia sudah pernah menikah. Suami pertama Khadijah ialah Abu Haalah bin Zuraara at-Tamimi[1], kemudian sepeninggalnya, beliau dinikahi `Atiiq bin `Aabid bin Abdillah bin Amru bin Makhzum. Setelah itu Khadijah tidak menikah lagi meski banyak yang melamarnya hingga kemudian bertemu Rasulullah dan tertarik padanya. Ia dinikahi Rasulullah, waktu itu ia berumur 40 tahun sedang Rasulullah 25 tahun jadi jarak antara keduanya ialah 15 tahun.

Khadijah adalah seorang janda kaya raya. Suatu ketika ia menawarkan pada Nabi untuk menjajakan daganganya ke Syam bersama maulanya, Maisarah. Sekembalinya dari Syam, beliau mendapat untung besar, kemudian Khadija melamarnya dan disetujui Rasulullah . Waktu itu Rasul memberi mahar 20 ekor[2] unta muuda. Jubair bin Muth`im meriwayatkan bahwa `Amru bin Asad, paman Khadijah menikahkannya dengan Nabi Saw. bapaknya mati sebelum perang Fijar[3] . Rasul menikahinya ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah mempunyai anak sebagai berikut: Qaasim, Thayyib(abdullah), Thahir, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fatimah.

Mengapa Rasulullah menikahi Khadijah, padahal waktu itu usia Khadijah 15 tahun lebih tua daripadanya? Jawabanya ialah: “Pernikahan antara Rasulullah dengan Khadijah merupakan kehendak langsung Allah ta`ala dalam (rangka) persiapan ilahiyah untuk risalah Muhammad s.a.w. Sesungguhnya laki-laki normal berusia 25 tahun tidak mungkin menikahi wanita janda berusia jauh diatasnya yang memungkinkan ialah menikah dengan perempuan yang lebih muda dari usianya, tetapi di sini Allah menghendaki lain dan menciptakan kondisi dimana beliau bisa menikahi Khadijah. (Diantara rahasianya ialah)Rasulullah lebih membutuhkan wanita yang matang untuk meneguhkannya dalam mengemban amanat risalah, ini jauh berbeda jika yang dinikahi ialah wanita muda yang belum matang besar kemungkinan akan menambah kegalauan beliau[4]”.

Dalam buku “Fiqhus Siirah”, Muhammad al-Ghazali berkomentar, “Khadijah adalah contoh yang bagus bagi wanita yang (ingin) menyempurnakan kehidupan orang besar. Para pengemban risalah memiliki hati yang sedemikian peka(sensitif); banyak mengalami tipu daya dari realita yang hendak dirubah; menanggung beban berat jihad yang amat besar dalam rangka untuk jalan kebaikan yang ingin diraihnya. (Karena itulah) mereka sangat butuh pada seorang wanita yang mampu menguatkan(meneguhkan) kehidupan mereka secara khusus dengan keramahan(kelemahlembutan) dan hiburan, di samping itu juga pengertian dan bantuan. Sedang Khadijah adalah seorang wanita yang terdepan dalam masalah ini dimana dia memiliki perangai tersebut, Ia juga punya pengaruh yang baik dalam kehidupan Muhammad S.a.w”[5].



II. Alqaab(Julukan-Julukan) Khadijah.

1. At-Thaahirah[6](Yang Suci).

2. Sayyidah Nisaa` al-Quraiys[7](Penghulu Wanita Qurays).

3. Ummul Mu`minin[8](Ibunya kaum muslimin).

4. Sayyidatun Nisaa`il `Aalamiin[9](Penghulu Wanita Dunia).


III. Keutamaan-Keutamaan Khadijah binti Khuwailid:



Diantara keistimewaanya secara global ialah: Wanita yang pertama kali menjadi istri Nabi; Melahirkan anak untuk Rasulullah; Tidak pernah dimadu semasa hidupnya; Hartanya diinfakkan untuk perjuangan Islam; Rasulullah pernah menjadi karyawan bisnis dagangnya; Allah pernah menyuruh Nabi memberi kabar gembira pada Khadijah bahwa ia akan dibangunkan rumah(istana) dari mutiara di surga, tidak akan mendengar kebisingan suara dan tidak akan penat(Hr. Bukhari, Muslim).

Adapun secara rinci ialah sebagai berikut[10]:

1. Memiliki nasab yang paling utama dan mulia diantara wanita Quraiys lain pada jamanya.

2. Menjadi istri pertama Rasullah Saw. sedang waktu itu dia janda.

3. Orang yang pertama kali beriman dan masuk Islam[11].

4. Mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril[12].

5. Rasulullah tidak menikahi siapapun semasa hidupnya dan Rasulullah menyuapi Khadijah dengan anggur dari Surga.

6. Diberi kabar gembira oleh Nabi berupa rumah(istana) di surga[13].

7. Nabi sering sekali memujinya(Hingga suatu ketika Aisyah pernah cemburu padanya).

8. Nabi selalu berbuat baik terhadap famili dan teman-teman Khadijah meski Khadijah telah wafat.

9. Wanita yang paling mulia(utama) diantara wanita-wanita penghuni surga[14].

10. Termasuk dari wanita yang terbaik di dunia[15].



IV. Wafatnya:


Ketika tahun kesepuluh kenabian Khadijah meninggal dunia. Hari itu diabadikan sejarah dengan nama `Aamul Huzni(Tahun Duka Cita). Kata al-huzn setidaknya menggambarkan betapa Rasulullah amat berduka terhadap orang yang menjadi tulang punggung psikisnya; terhadap penyejuk hatinya yang selama ini menemani perjuangan beliau dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Ia wafat sebelum diwajibkannya shalat dan dikebumikan di Hajun(gunung di Makkah tempat pemakaman keluarganya).


V. Pelajaran-Pelajaran:

1. Wanita shalihah ialah wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya(Kita ambil pelajaran ini dari kisah Khadijah yang dijuluki sebagai Wanita Suci sejak mudanya).

2. Wanita shalihah harus bisa menjadi pelipur lara, penenang hati bagi suaminya(pelajaran dari kisah Khadijah ketika menenangkan kegelisahan Nabi setelah menerima wahyu). Hal ini sejalan dengan tujuan nikah yaitu untuk menggapai dan menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.

3. Wanita shalihah ialah wanita yang bisa dijadikan partner dakwah(Pelajaran dari kisah perjuangan Khadijah bersama nabi dalam memperjuangkan Islam).

4. Wanita shalihah itu mandiri dan tidak cengeng(pelajaran dari profesi Khadijah yang menjadi pebisnis dan ketegarannya dalam menemani perjuangan dakwah Nabi).

5. Wanita shalihah adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik(pelajaran ini diambil dari kisah Khadija dimana atas didikanya, semua anaknya masuk Islam semuanya bahkan anaknya yang bernama Fatimah termasuk wanita-wanita terbaik sepanjang masa menurut penuturan Rasulullah Saw).

6. Wanita shalihah teguh pendirian dan sabar dalam menghadapi rintangan dan ujian yang menimpa(Diambil dari kisah Rasul bersama Khadijah, dimana Khadija teguh pendirianya dalam mempercayai kebenaran Islam, meskipun pada realitanya banyak ditimpa halangan dan ujian hingga pada puncaknya ialah ikut mengungsi ke lembah ketika diboikot sama orang-orang Qurays).

7. Diantara kriteria yang dijadikan acuan wanita shalihah dalam memilih calon suaminya ialah sebagai berikut berikut: 1. Jujur 2. Amanat dan 3. Berakhlak mulia 4. Profesional(Diambil dari kisah Khadijah ketika beliau tertarik pada nabi karena kejujuran, amanat dan akhlaknya yang mulia).

8. Diantara indikator wanita shalihah ialah rajin beribadah(Sebagaimana yang dicontohkan Khadijah binti Khuwailid).

9. Wanita shalihah adalah wanita yang ta`at pada suami(Tentu saja dalam hal kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khadijah).

10. Ganjaran bagi wanita shalihah adalah surga(Dalam hadits nabi ditegaskan bahwa Khadijah akan masuk Surga, diantaranya ialah karena beliau adalah wanita yang shalihah).


VI. Referensi:

1. Siyarul A`lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi

2. Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami.

3. Fiqhus Sirah, Muhammad al-Ghazali

4. Fataawan Nisaa`, Sya`rawi

5. Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi

6. Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah, Anjugu.

7. Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal, Ahmad bin Ali al-Maqrezi.

8. Ar-Rahiiqu al-Makhtuum, Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri.

9. miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal.

10. As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi.
_________________________________________________________________________________

[1] . Dari pernikahanya dengan Abu Haalah ini beliau mempunyai putra bernama Hindun(Sumber: Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi, hal: 111).
[2] . Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah(Anjugu, hal:6).- Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal(Ahmad bin Ali al-Maqrezi, Juz:6, hal: 25). –Ar-Rahiiqu al-Makhtuum(Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri, hal: 46). - As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi, juz:1, hal: 83.
[3] . Perang antara Quraisy dan pendukungnya dari suku Kinanah dengan suku Qais `Iilan. Dinamakan Fijar karena perang dilakukan pada bulan Muharram yang berarti menodai kemuliaan bulan Muharram.
[4] . Disarikan dari kitab, Fataawan Nisaa` karya Imam Sya`rawi, hal: 115.
[5] . Muhammad al-Ghazali, Fiqhus Sirah, hal:67, Cet: Daarud Da`wah.
[6]. Ummul mu`miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Karya: Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, hal: 12.
[7] . ibid hal: 13
[8] . ibid, hal: 14
[9] . Ibid, hal: 15
[10] . Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami, hal: 115.
[11] . Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa ketika Rasulullah menyebut/mengingat Khadijah, beliau tidak pernah putus asa(berhenti) memuji dan meminta ampun untuknya. Suatu hari beliau menyebut Khadijah dan membuatku cemburu lantas aku berkata: Engkau telah diberi ganti Allah(yang lebih baik) dari istri yang tua renta( kemudian diganti yang masih muda), mendengar perkataanku beliau marah bukan main, hatiku merasa sedih seraya berkata: Ya Allah jika Engkau hilangkan amarah Rasulullah padaku maka aku tidak akan menyebut kejelekan lagi pada Khadijah, ketika nabi mendengar ucapanku nabi berkata: , ”Apa yang kamu katakan? Ia beriman padaku ketika orang-orang mendustakanku, dan memberi perlindungan padaku ketika orang-orang menolakku, dan aku dianugerahi anak darinya sedang dari kalian tidak” Aisyah berkata: Setelah peristiwa itu Rasulullah pergi dariku selama sebulan(al-Ishaabah: ibnu Hajar al-Asqalani).
[12] . Bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata: (suatu hari) Jibril mendatangi Nabi Saw. lantas berkata, ”itu Khadijah sedang datang membewakan untukmu makanan dan minuman, jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dariku, dan berikan kabar gembira padanya bahwa ia akan mendapat istana di surga dari permata, yang tidak terdengar kebisingan dan tidak capek(Hr. Bukhari, Muslim).
[13] . Ibid.
[14] . Anas meriwayatkan bahwa sebaik-baik wanita di dunia ialah Maryam, Asia, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah. Bahkan menurut riwayat Abdul Barqi dalam kitab al-Istii`aab mengatakan bahwa penghulu para wanita di surga setelah Maryam ialah Fatimah, Khadijah dan istri Firaun, Asia.
[15] . ibid.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan