Latest Post

Nestapa Cinta Penjara Suci

Written By Amoe Hirata on Rabu, 11 Juli 2012 | 17.11

Fajar menyingsing lembut. Panorama disekeliling pondok al-Karimah remang-remang tak terlihat jelas. Dalam hening itu, terdengar suara gaduh hewan-hewan sawah dan lain sebagainya; kokok ayam, suara katak, ringkikan jangkrik. Maklum lhokasi pondok al-Karimah terletak di pedesaan, terlebih di belakangnya terdapat  sawah yang luas. Para santri sudah berjejer rapi sejak jam 03:00 dini hari menunaikan shalat Tahajjud. Suara tilawah ayat-ayat al-Quran terdengar serempak dan syahdu. Biasanya, setelah menunaikan shalat Tahajjud para santriwati menunggu waktu shalat Shubuh dengan membaca al-Quran secara bergantian.
Puspita sari sedang khusyu membaca ayat-ayat  al-Quran bersama teman-temanya. Dalam hati ia merasa bersyukur bisa mengikuti pondok tahfidz di pondok al-Karimah. Ini karena, banyak hal yang ia dapatkan, dari mulai kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, dan sifat-sifat baik lainya. Ditengah kekhusyuan itu terdengarlah kumandang adzan shalat Shubuh. Para santriwati bersiap-siap menunaikan shalat Shubuh berjama`ah. Mereka menunaikan shalat sunnah qabliyah dulu baru setelah itu baru menunaikan shalat Shubuh.
Ba`da shalat Shubuh, sebagaimana biasa, ada siraman rohani yang biasa disebut kultum(kuliah tuju menit). Kali ini diisi oleh ustadza Rahmah Shinta Adi Lesmana Lc, (ustadzah lulusan Mesir yang di samping pakar dalam ilmu diniah, dia juga pakar dalam bidang ilmu kauniah). Pada kesempatan ini, ustadzah Rahmah mengupas tema, ‘Cinta Sejati’. Beliau menandaskan bahwa cinta sejati pada dasarnya hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Bila seorang muslim mencintai sesuatu melebihi kecintaanya terhadap Allah dan rasul-Nya maka ia telah menodai kesejatian cinta. Cinta Allah dan Rasul-Nya adalah diatas segala cinta. Cinta Allah dan Rasulnya merupakan indikasi kesempurnaan iman seorang muslim dan muslimah. Karena itu selayaknya bagi kita untuk selalu menempatkan cinta Allah dan Rasul-Nya diatas segala cinta karena hanya dengan itu kita bisa menemukan kesejatian cinta.
Selepas pemaparan kultum, para santri diberikan kesempatan untuk bertanya kepada ustadzah Rahmah. Dengan cepat dan segera Puspita Sari mengacungkan telunjuknya tak sabar untuk bertanya. Silahkan(kata ustadzah Rahmah). Maaf ustadzah, kalau cinta sejati itu hanya untuk Allah dan Rasul-Nya lalu bagaimana cara kita memposisikan cinta antara lawan jenis dengan cinta sejati itu? Apakah cinta kita yang tulus dan dalam terhadap laki-laki dapat merusak kesejatian cinta? Bagaimana cara kita berinteraksi dengan cinta selain Allah dan Rasul-Nya? Mungkin hanya ini saja uztadzah, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Dengan santun dan senyum lembut ustadzah Rahmah menjawab:" Saya akan menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan satu jawaban saja:"Posisi cinta lawan jenis dengan cinta sejati ialah cinta lawan jenis di letakkan di bawah cinta sejati. Ini bukan berarti ada pertentangan antara cinta sejati dengan cinta lawan jenis. Intinya kualitas dan kuantitas cinta sejati tetap di jadikan acuan cinta. Pada dasarnya cinta selain Allah dan Rasul-Nya harus di dasari oleh semangat cinta sejati karena pada dasarnya jika cinta itu tidak dilandasi oleh semangat ibadah menuju cinta sejati maka kita telah menodai kesejatian cinta. Cara kita berinteraksi dengan selain cinta sejati ialah dengan selalu membangun kesadaran internal bahwa pada dasarnya cinta selain sejati merupakan salah satu serpihan cinta yang di rajut dan dijalin untuk mendapat kesejatian cinta. Bila melebihi kadar tersebut maka akan terjadi ketidak harmonisan interaksi cinta, ini dapat berdampak buruk pada cinta sejati kita.
Bertepuk tanganlah seluruh santri setelah mendengar jawaban ustadzah Rahmah. Puspita merasa senang dan puas atas jawabanya. Ada satu hal yang janggal di benak Puspita; Mengapa sejak ia bertanya sampai selasai di jawab, ustadzah memandangnya terus, dan pandangan ini dirasanya sebagai pandangan yang tak biasa. "Ada apa ya gerangan dengan ustadzah ini?"(Tanya puspita pada diri sendiri). Rupanya memang benar. Setelah acara kultum itu ustadzah Rahmah menemui kepala asramah pesantren. Ia pingin tahu banyak perihal Puspita. Ia mendapat keterangan bahwa disamping cantik, Puspita adalah ahwat yang cerdas dan baik budi pekertinya, hanya dalam waktu satu tahun dia sudah mampu menghafal al-Quran dan menguasai qira`ah sab`ah(model tujuh bacaan masyhur al-Quran), ia juga sangat disenangi dan disayang oleh teman-temannya.
Seteleh mendapat keterangan itu, ustadzah Rahmah Shinta Adi Lesmana segera menemui Puspita Sari. Kebetulan waktu itu Puspita Sari sedang mendapat telfon dari keluarganya di kantor. Akhirnya dengan sabar ustadzah Rahmah menunggunya di masjid. Puspita Sari mrndapat kabar kurang baik. Abahnya mengatakan bahwa Aji Kurniawan memintanya untuk menunda perkawinanya setahun lagi mengingat ia telah gagal mengajukan judul akibat menolhong temanya yang lagi terkena serangan jantung. Tapi Aji sendiri sudah menyerahkan semua keputusan kepada Puspita Sari. Kalau siap menunggu maka hubungan bisa terus berlanjut kalau tidak maka Puspita bebas untuk memutuskan hubungan pertunangan yang tlah terjalin.
Puspita agak kaget mendengarnya. Ia bilang pada abahnya: "Bah, Puspita minta maaf, tolong berikan waktu beberapa hari untuk memutuskanya. Untuk sekarang ini Puspita masih belum bisa mengambil keputusan". "Baiklah ndok kalau memang begitu, mungkin sekian dulu, abah tunggu jawabanmu, abah harap kamu jangan terlalu sedih".
            Selepas menerima telfon dari abahnya, Puspita segera menuju masjid untuk me-muroja`ah(mengulang) hafalanya. Dari kejauhan terlihat ustadzah Rahmah sedang duduk menunggunya. "Puspita sebelumnya saya minta maaf kalau sedikit mengganggu, saya sudah banyak mendengar tentang kamu. Waktu saya sangat sedikit. Makanya saya akan to the point saja. Begini saya sedang mencarikan calon istri untuk keponakan saya, namanya Alyan Hisan; lulusan S2 Universitas Indonesia. Al-hamdulillah secara materi dia sudah mapan. Orangnya juga masih mudah dan shalih, dan ingin segera mencari calon istri. Kira-kira kamu mau tidak menjadi calon istrinya?.

            Puspita merasa bingung. Mana kira-kira yang akan dipilih oleh Puspita? Kalau memilih Aji Kurniawan, dia harus menunggu setahun lagi, ini otomatis akan merusak rencana yang sudah ia rencanakan selama ini. Kalau dia memilih Alyan Hisan memang ia bisah langsung menikah tahun ini. Tapi, ia merasa tidak tega dan kasihan  kepada Aji Kurniawan.

Terompah Surga

Written By Amoe Hirata on Senin, 18 Juni 2012 | 19.32

              Ada banyak hal dalam kehidupan di dunia ini yang dianggap orang sederhana namun memiliki nilai yang sangat berharga. Gejala demikian muncul pada komunitas yang menilai sesuatu itu hanya secara wadag materil. Penilaian demikian tentu sangat relatif dan subyektif. Pada gilirannya pihak yang berkuasalah yang menentukan standart penilaian materil. Misalnya: kulit putih dianggap sebagai kulit terbaik dan yang paling rendah ialah hitam; Yang dihormati dimasyarakat ialah yang kaya dan berkedudukan, sedangkan orang biasa dan miskin tidak dihormati; yang benar ialah pendapat subyektif manusia kaya, pendapat si miskin  dikesampingkan; pendapat orang terkenal diutamakan meski salah daripada orang biasa meski benar. Masih banyak lagi berbagai standar penilaian yang sangat wadag.
            Letak bernilai tidaknya sesuatu bukan semata terbatas pada lahiriah semata akan tetapi juga batiniah. Islam menetapkan standart  bernilainya sesuatu pada kualitas bukan kuantitas; menilai sesuatu bernilai berdasarkan etos kerja, ketakwaan, dan kinerja terbaik, bukan pada kehebohan dan keindahan fisik. Orang dianggap berharga bukan terpaku pada kekayaan, kedudukan, kegantengan, kecantikan, dan berbagai standar lahiriah lainnya, tapi yang dijadikan acuan ialah seberapa baik amal dan kinerjanya, dan seberapa besar ketakwaannya. Walaupun berkedudukan jika tak takwa maka percuma. Meskipun kaya jika tak baik amalnya maka percuma. Meski rupawan tapi jika tak takwa maka tiada gunanya.
            Pada zaman jahiliyah di mana Islam baru tumbuh berkembang, standart penilaian yang sangat wadag dan materil ini sangat mendominasi alam pikir dan idiologi mereka. Misal saja orang-orang kulit hitam dianggap sebagai orang kelas bawah, tak memiliki hak-hak seperti orang kulit putih, lebih dari itu kebanyakan dari mereka dijadikan budak. Hampir tak terdengar-kalau tak boleh dibilang sama sekali tidak- orang-orang kulit hitam yang menempati posisi penting. Mereka selalu dinomerduakan.
            Diantara orang hitam yang tinggal di Arab jahiliyah kala itu ialah Bilal bin Rabah. Sebagaimana yang lain, sebelum masuk Islam ia tak lebih hanya sebagai budak. Melayani dan membantu keperluan tuannya. Tuannya kala itu salah seorang pembesar Qurays bernama Umayyah bin Khalaf. Kehidupan Bilal yang sangat sederhana dan bersahaja di waktu Jahiliyah terhitung sangat biasa dan tak begitu diperhitungkan. Namun ketika cahaya Islam menyinari kegelapan hatinya, seorang Bilal yang dianggap hina ini seolah terlahir kembali. Dalam Islam dia dimuliakan, disetarakan, dihargai dan dihormati. Ia merasakan keteduhan dan kesejukan dari agama yang baru datang ini. Sekali dia dapat petunjuk agung ini, tak akan pernah dilepas meski harus mendapat tantangan berat. Lambat laun keislamannyapun bocor. Ketika tuannya tahu, maka Bilal disiksa sedemikian rupa di tengah terik mentari, ditindihi batu. Bilal tak gentar dan tetap teguh seraya berkata: Ahad Ahad Ahad. Sampai akhirnya Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu `anhu.
            Nabi sangat menghormati Bilal. Ia tidak pernah membeda-bedakan setatus, karena yang terbaik adalah siapa yang paling takwa. Bilal dapat kemulian menjadi muadzin tetapi. Bilal tahu bahwa bakat dan potensinya adalah suara, maka dia berkontribusi melalui segi suara. Lebih dari itu, yang menjadikan Bilal penuh kemulian dan kehormatan ialah: Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wassallam pasca pulang dari perjalanan isra` wa mi`raj, beliau menceritakan bahwa ketika melihat surga ia mendengar suara terompah Bilal. Rasulullahpun penasaran sehingga menanyakan langsung kepada Bilal tentang amalan apa yang membuatnya mendapatkan kepastian masuk surga padahal dia masih hidup di dunia. Dengan sangat sederhana Bilal menjawab: Aku selalu menjaga kesucianku, dan setiap kali aku selesai bersuci aku shalat dua rakaat. Mungkin ini terkesan sederhana. Namun dibalik kesederhanaan ini menyimpan: kekontinyuan, kedawaman, ke-itqannan, dan keistiqamahan dalam beramal. Bukankah amal yang paling dicintai Allah ta`ala ialah meski sedikit tapi dawam dan istiqamah?Terompah Bilalpun mendahuluinya ke surga.

Ratapan Cinta Haramain

Tengah hari di Makkah al-Mukarramah hawa sahara lagi mencapai puncaknya, debu-debu bertebaran di hempas angin. Matahari berada pada titik tengah pas, menyajikan hawa panas yang siap menyengat kulit-kulit manusia. Dari kejauhan terlihat fatamorgana lagi menari-nari bagai penari perut di Mesir. Hawa mencapai 40 derajat celcius. Pada umumnya kebanyakan orang lebih memilih tinggal diam dirumah memanjakan diri dengan sejuknya AC.
Lain halnya dengan Aji Kurniawan. Kondisi yang sangat panas tidak membuatnya surut untuk keluar dari asramah. Hari ini ia ada janji dengan Doktor Pembimbingnya. Kemaren sore lewat hp keduanya telah mengadakan kesepakatan untuk bertemu di masjidil Haram guna membicarakan judul tesis yang akan di ajukan. Doktor itu bernama Aiman Abdul Mannan. Seorong Doktor karismatik yang sangat piawai dalam bidang studi Ilmu Hadist.
Aji sudah merencanakanya dengat sangat matang. Untuk mensiasati agar tidak terlambat ia berangkat setengah jam lebih awal dari perjanjian. Dengan penuh semangat dia memasuki masjidil Haram. Alhamdulillah akhirnya sampai dengan selamat. Belum jua ia mau siap-siap shalat Tahiyyatul Masjid rupanya ia melihat sesosok lelaki tua yang ia kenal sedang duduk ta`zim membaca al-Quran. Tak hanya itu dia juga meneteskan air mata. Hati Aji begitu terenyuh, ternyata lelai tua itu ialah Doktor Pembimbingnya.
Setelah menunaikan shalat Tahiyyatul Masjid Aji segera menghampiri Doktor itu. Asslamu`alaikum ya Duktur. Wa`alaikum salam ya ibni. Maaf, sejak kapan Doktor duduk disini? Bellia menjawab:" Sejak setengah jam yang lalu". MasyaAllah ya duktur.Bukankah janjian kita masih kurang setengah jam lagi?. Kamu benar. Saya memiliki kebiasaan rutin untuk mendatangi perjanjian satu jam lebih dulu. Saya sangat menghormati perjanjian. Sehingga saya selalu datang sebelum waktunya agar bisa melaksanakanya tepat waktu. Nah untuk menunggu biasanya saya gunakan untuk memuroja`ah(mengulang) hafalan al-Quran.
Aji sangat kagum mendengar jawabanya. Bukan main, seorang Doktor yang memiliki kesibukan luar biasa mampu mendatangi perjanjian satu jam lebih dahulu. Sungguh lurbiasa katanya. Aku saja yang masih muda datangnya masih setengah jam sebelum perjanjian. Andai saja banyak orang yang seperti Doktor maka amanah terhadap janji akan menjadi tradisi yang baik. Aji membatin:" Ya Allah anugerahkanlah pada Doktor pembimbingku ini kebaikan dan keberkahan, dan mudahkanlah diriku untuk bisa meneladani kebaikanya".
Berdialoglah kedua orang itu mengenai judul tesis. “Aji, kamu mau mengajukan judul apa?” Duktur bertanya. “Begini ya Syaikh, saya mau mengajukan judul, ‘Relevansi ilmu Hadist dalam metodologi ilmu modern’”. “Aji, saya kira judul yang kamu ajukan cukup bagus. Baiklah aku akan menyetujuinya. Jadi begini, bulan depan saya minta kamu menyerahkan synopsis tesismu ini. Perlu kamu ingat, waktuku sangat terbatas, jika waktu itu kamu tidak bisa datang tepat waktu maka terpaksa kamu harus mengulang tahun depan. Ini karena saya akan segera pergi menuju Inggris selama setahun untuk menjawab permintaan dakwah”.
“Baik syaikh, InsyaAllah saya akan datang tepat waktu”. Di tengah obrolanya terdengar kumandang adzan shalat Dzuhur. Dengan sigap, setelah mengadakan kesepakatan bersama keduanya menjawab adzan dan siap-siap menunaikan shalat. Selepas halat keduanya saling berpamitan untuk undur diri. “Terimakasih banyak ya Duktur atas waktu luangnya”. “Sama-sama nak semoga tesismu berjalan lancar”. “Assalamu`laikum….”. “Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh” sahut Aji.
Sebulan kemudian Aji sudah siap-siap untuk mengajukan sinopsis tesisnya. Ia akan bertemu dengan Doktor Aiman bakda shalat Ashar di masjidil Haram. Ketika ia sudah siap mau berangkat, teman sekamarnya yang bernama Abdur Rahman Siregar jatuh terkapar sakit. Waktu itu, tidak ada seorangpun yang ada di asramah karena sedang menghadiri daurah. Abdur Rahman terkena penyakit serangan jantung. Ia membutuhkan pertolhongan segera. Bila terlambat maka nyawanya mungkin saja tidak terselamatkan.

Perasaan Aji berkecamuk bukan main. Waktu perjanjian tinggal lima belas menit lagi, sedang di depan matanya ada seorang teman yang membutuhkan bantuanya. Bila dia menolhong maka dia akan terlambat bertemu Doktor Pembimbingnya. Bila terlambat maka konsekwensinya dia akan mengulangnya pada tahun depan. Dengan demikian janjinya untuk menikahi Puspita Saripun akan tertunda setahun.  Ia sedang menghadapi posisi sulit antara menolhong teman yang ada di depan mata dengan segera menemui doktor pembimbing menyerahkan sinopsis tesisnya yang bila gagal tentu saja pernikahan dengan Puspita akan gagal.

Tongkat Lintas Akhirat

Written By Amoe Hirata on Kamis, 24 Mei 2012 | 19.31

                Tulisan ini bukan hendak menceritakan  kehebatan dan keajaiban tongkat, meski jika dibandingkan dengan tongkatnya Harry Poter masih hebat tongkat ini. Karena di samping animasi, tongkat Harry Poter dimensinya hanya dunia saja. Adapun tongkat yang mau dicatat pada tulisan ini sebenarnya tongkat yang biasa. Yang menjadikannya luar biasa ialah faktor momentum kontekstual dimana tongkat itu diberi, oleh siapa tongkat itu diberi, untuk siapa tongkat itu diberi, dan sampai sejauh mana dimensi yang dilintasi tongkat. Tongkat ini diberi pasca keberhasilan salah satu sahabat Nabi yang telah berhasil menumbangkan musuh; diberikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam kepada sahabat yang bernama Abdullah bin Unais; dimensi tongkat ini tak hanya terbatas sirna di dunia bersama waktu, bahkan tongkat ini dimendinya lintas akhirat.
            Sahabat mulia bernama Abdullah bin Unais merasa terpanggil untuk membuktikan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Ghirah yang begitu besar membuatnya bergelora untuk berjuang di jalan Allah. Apa lagi salah satu rekan sahabat dari suku `Aus telah berhasil menumbangkan benggolan Yahudi bernama Huyay bin Akhthub. Ketika ada momentum perjuangan untuk menumbangkan serangan suku Hudzail, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Abdullah bin Unais. Titah Rasul padanya ialah menumbangkan pemimpin Hudzail yang bernama Khalid bin Sufyan al-Hudzali. Pasca perang Uhud, suku Hudzail yang dipimpin Khalid bin Sufyan hendak menyerang Madinah. Singkat cerita, Abdullah bin Unais dengan segera melaksanakan titah Rasulullah. Kata Rasul, tandanya kamu ketemu dia ialah ketika bertemu dia kamu akan merasa gemetar ketakutan. Sesampainya di lokasi benar Abdullah bergetar. Kebetulan telah masuk waktu Dzuhur. Sambil berjalan shalat dengan isyarat ia bergerak menuju Hudzail. Ketika selesai terjadi obrolan singkat sampai akhirnya ketika berjalan bersama ada kesempatan mas dimanfaatkan Abdullah bin Unais untuk segera membunuh Khalid bin Sufyan.
            Setelah terbunuh, Khalid bin Unais melapor pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Setelah menyampaikan keberuntungan, Rasulullah masuk rumah seraya membawa tongkatnya untuk diberikan pada Abdullah bin Unais agar disimpan dan dipegang dengan erat. Tanpa bertanya Abdullahpun pergi. Para sahabat menyuruh Abdullah untuk bertanya perihal kenapa Abdullah diberi tongkat Rasulullah. Ketika ditanyakan langsung ke Rasulullah, Beliau menjawab: “Tongkat ini sebagai bukti(tanda) antara aku dan dirimu pada Hari Kebangkitan”. Subhanallah .... betapa beruntungnya Abdullah mendapatkan momentum yang sangat berharga ini. Hanya dia satu-satunya sahabat yang diberi semacam rekomendasi / bukti dengan bentuk tongkat Beliau yang dijadikan bukti pada pertemuan di akhirat kelak bahwa Abdullah bin Unais benar-benar berjuang dijalan Allah.
            Perjuangan yang tulus dan ikhlas akan membawa pada kejayaan abadi; perjuangan yang murni dan jernih hanya untuk Islam mengantarkan pada keberuntungan sejati. Layaknya Abdullah bin Unais, perjuangannya yang luar biasa meski harus kehilangan nyawa, berbuah manis, meski dia mati bukan di medan jihad. Bahkan tongkatpun yang sebenarnya hanya benda biasa, meski punya Rasulullah bisa menyertainya hingga melintasi dimensi akhirat. Adakah tongkat yang diberkahi mempunyai keberuntungan seperti tongkat yang diberikan pada Abdullah bin Unais?( cari saja sampai dapat, mungkin akan sangat sulit bahkan mustahil dicari).
            Bukan tongkat benar yang bikin hebat. Tongkat hanya sebagai simbol rekomandasi kesaksian Rasulullah bahwa Abdullah bin Unais benar-benar pejuang. Abdullah bin Unais telah mampu melampaui kepentingan pribadinya demi kemaslahatan yang lebih luas; ia telah mampu mengontrol hawa nafsu pribadinya, untuk senantiasa peduli dengan kepentingan umat; mampu membuat jarak dengan egoisme pribadi untuk pergi lebih jauh pada kepentingan yang lebih luas dan hakiki. Lantas, bagaimana dengan kita? Apa yang akan kita persembahkan?.

Hingga Cinta Suci Teruji

Written By Amoe Hirata on Kamis, 12 April 2012 | 10.29

            Siang hari di desa Jembar Sari hawa begitu sejuk. Sinar ultraviolet yang di muntahkah Matahari seolah tidak begitu terasa. Ini karena, di samping banyak terdapat pepohonan yang rindang, daerahnya belum tercemari polusi. Konon, desa ini dulu di jadikan tempat wisata oleh kerajaan-kerajaan besar kala itu. Banyak terdapat pemandangan indah. Dari sungai, air terjun hingga gunung. Siapapun yang mendatangi desa tersebut pasti merasa nayaman dan tentram.
Kesejukan yang tertebar di desa itu nampaknya hambar di kediaman pak al-Kindi. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran empat kali lima Dino sedang termangu seorang diri. Sudah hampir tiga hari selain shalat dan makan kerjaanya hanya melamun dan melamun. Ia merasa begitu suntuk. Seolah bumi ini teramat sempit. Sampai sekarang Puspita Sari belum juga membalas sms-nya. Ini memang salahku, coba seandainya aku tidak ngomong ke Bapak pasti ini tidak akan terjadi(gumam Dino).
            Lamunanya sirna ketika ia mendengar telpon rumahnya berdering. Ia amat bersemangat mengangkatnya siapa tahu yang nelpon adalah Puspita Sari.  Ya halho assalamualaikum....ni dari siapa yah? Waalaikumsalam....Mas maaf menganggu apa benar ini kediaman Bapak al-Kindi? Iya betul, ada apa ya bu? Begini mas Bapak al-Kindi sekarang lagi dikamar UGD tadi pagi sekitar jam sembilan beliau pamit pulang dari kantor karena ada keperluan di rumah katanya. Pas di pertengahan jalan mobilnya tertabrak truk. Bapak luka parah. Mas cepat kesini ya.
            Tak terasa air mata Dino menetes dengan begitu banyaknya. Orang tua satu-satunya itu sedang melewati masa-masa krisisnya.Dengan tanpa basa-basi di langsung meluncur ke rumah sakit Bakti Kita.Sesampainya disana, ia langsung menuju kamar UGD rupanya di depan kamar itu pak Sudarsono selaku wakil direktur dan bu Yayuk selaku skretaris sedang menunggu. Paak...buuk...bagaimana kondisi Bapak? Dek....luka Bapak kamu sangat parah...kepalanya bocor..kaki kiri dan tanganya patah. Kita berdoa saja kepada Allah semoga beliau dapat melalui masa kritisnya.
            Setelah menunggu hampir satu jam dokter yang mengoprasi pak al-Kindi mendatangi Pak Sudarsono. Pak mana ya yang anaknya pak al-Kindi?. Oh ini pak, memangnya kenapa? Beliau memanggilnya sekarang juga dikamar UGD. Berlarilah Dino ke kamar itu. Dengan suara lirih dan berat pakal-Kindi berkata kepada Dino. Naak maafkan Bapak. Mungkin nyawa Bapak tidak lama lagi. Aku harap kamu memenuhi washiat Ibu dan Bapakmu untuk tetap melanjutkan studi hingga sukses. Semakin lirih tak terdengar suaranya hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Bapaaaaaaaaaak.....Dino berteriak dengan sekencang-kencangnya. Dia seolah tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Bapak semata wayangnya yang tiga hari kemaren bertengkar dengannya sekarang telah menginggalkannya pergi untuk selama-lamanya. Ia merasa bersalah. Karena tak kuasa menahan kenyataan itu, Dino sampai terjatuh pingsan.
Esok hari Dino siuman. Dia meronta dan bertanya mana Bapak saya...mana Bapak saya?....Dek Bapak sudah pergi, kemaren sore sudah dimakamkan....doakan aja semoga arwahnya diterima di sisi Allah(balas Pak Sudarsono menenangkan Dino).

Di kala kesedihan menguasai dirinya, tiba-tiba hp-nya berbunyi.Ia mendapat sms dari Puspita sari:"Assalamualaikum mas Dino, Dengan rasa sesal yang amat tak terkira aku minta maaf kepadamu, tiga hari yang lalu ketika kamu tidak datang ada seorang calon S2 dari Madinah melamarku. Jujur aku merasa bingung. Dua hari aku masih belum menjawab lamaranya. Karena aku  masih menunggu kedatanganmu. Sampai hari ketiga kamu belum juga datang. Dengan sangat terpaksa dan sulit akhirnya aku menerima lamarannya dengan tetesan air mata mas. Aku tidak ingin menyakiti hati abah dan umi mas. Sekali lagi dari lubuk hatiku yang terdalam aku minta maaf. Wasslamualaikum". 

Usia 70 thn, Wajah 15 thn

Written By Amoe Hirata on Rabu, 11 April 2012 | 19.30

          Salah satu keinginan manusia yang sangat menggiurkan ialah: “keabadian”. Keabadian menggambarkan tentang ketetapan, kelanggengan dan keawetan. Manusia sangat suka dengan yang namanya awet. Awet muda, awet kaya, awet hidup, awet bahagia dan awet-awet lainnya yang mengarah kepada keabadian. Bahkan Adam dan Hawa yang merupakan manusia pertama nenek moyang manusia, salah satu hal yang membuat keduanya tergelincir hingga diturunkan ke bumi karena terlena dengan bujuk rayu iblis. Iblis merayu dan menyatakan pada keduanya bahwa pohon yang dilarang Allah itu sebenarnya malah bisa membuat dia jadi raja dan bisa abadi. Tertipulah keduanya hingga turun ke bumi, menjalankan misinya menjadi khalifah.
            Pada era zaman yang modern saat ini, semangat meterialisme mendukung keinginan mereka yang menginginkan awet dan menarik. Tentu saja hanya sebatas urusan materi. Biasanya iklan-iklan di media acap kali menawarkan berbagai produk yang membuat orang tetap bisa cakep, cantik dan wajahnya terlihat muda. Ketuaan, kelayuan, kekendoran meteial jasad seolah menjadi momok yang membuat mereka mau mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan kemudaan dan kecantikan. Tak tangung-tanggung bahkan ada yang menyediakan jasa oprasi plastik, yang membuat wajah lebih indah dan menarik seperti muda kembali. Bahkan juga ada yang menyediakan jasa oprasi keperawanan. Fenomena dan fakta ini semakin meneguhkan bahwa manusia menginginkan kekekalan.
            Apa salah manusia mempunyai keinginan untuk kekal, awet dan abadi? Tentu saja tidak. Tapi kekekalan tidak hanya sebatas materi. Materi mempunyai batasan waktu yang tak mungkin orang menggapainya. Selama kita di dunia tak mungkin bisa mencapainya. Kita dibatasi waktu, kita punya nyawa dan ajal yang bisa kapan saja dicabut. Kekekalan abadi memang dipersiapkan oleh Allah kelak di akhirat bagi mereka yang benar-benar serius mencari keridhaan Allah. Adapun di dunia yang  fana dan palsu ini keinginan itu belum bisa terwujud. Dunia digambarkan sebagai kesenangan sementara dan menipu; sebagai senda gurau belaka; sebagai perhiasan yang melenakan. Kesemuanya sifat itu menggambarkan kesementaraan . Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa ingin awet, kekal dan abadi adalah wajar dan boleh-boleh saja tetapi bukan di dunia tempatnya.
            Sejarah emas sahabat Nabi memberikan pelajaran berharga mengenai kekekalan ini. Abu Qotadah al-Anshori, sahabat besar yang dijuluki sebagai fursan(kavaleri) terbaik Rasulullah pada perang Ghaabah atau Dzi Qard; dijuluki singa Allah oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatab, memiliki lembaran kisah yang mengagumkan. Dunia baginya hanyalah sementara. Kekekalan abadi hanya di akhirat. Dalam hidupnya ia berjuang sekuat tenaga mengabdikan dirinya dalam perjuangan Islam. Ia tak mau tertipu dengan dunia yang semu; takmau terlena dengan dunia yang fana. Ia begitu mencintai kehidupan yang lebih kekal bersama Rasulullah di akhirat daripada dunia yang sungguh terbatas. Karena itulah ketika Rasulullah meninggal, hati Qotada serasa tersobek-sobek menahan kesedihan kekasih yang sudah kembali pada kekekalan.
            Abu Qatadah hidup dalam perjuang menuju keabadian. Hingga usianya sampai tujuh puluh tahun dia tetap konsisten berjuang, berjihad dengan jiwa dan harta. Di mendapat keuntungan yang besar karena disamping dijuluki sebagai kavaleri terbaik ia juga sering mendapat doa langsung dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam diantara doa yang diabadikan sejarah itu ialah: Ya Allah berkatilah untuknya wajah dan rambutnya. Doa Rasul benar-benar dikabulkan. Abu Qatadah Sang Kavaleri ulung itu ketika meninggal diusianya yang ketujuh puluh tahun meninggalkan bekas wajah yang berbinar dan berseri-seri menggambarkan kebahagiaan.
Imam Ad-Dzahabi dalam kita monumentalnya siyaru A`laam an-Nubalaa menulis didalamnya: “Abu Qatadah meninggal pada usia 70 tahun, sedangkan wajahnya seakan-akan masih 15 tahun”. Subhaanallah bukan hanya keabadian yang telah ia raih menuju keridhaan-Nya, diakhir hidupnyapun wajahnya terlihat sangat muda dan berseri-seri. Ia tak perlu repot dan sibuk merawat wajah dengan biaya yang sedemikian tinggi layaknya kebanyakan orang sekarang yang sibuk merawat wajah supaya awet muda dan terlihat muda abadi. Kekekalan yang dia raih bukan terbatas pada kekekalan wadag materil, ia melampaui semua itu, lebih memilih kehidupan yang lebih hakiki daripada yang fana dan tak abadi. Justru karena kebenaran dan kelurusan dalam mempersepsikan kekekalan yang abadi menuju ridha ilahi, di akhir hidupnya dikarunia wajah yang seolah awet muda hingga 15 tahun. Dengan tetap  fokus pada kekekalan abadi menuju ridha ilahi, kita akan dikaruniai sebagian keawetan yang tidak pernah disangka-sangka. Entah itu wajah yang awet muda; kesalihan keluarga; nama yang kan senantiasa dikenang dan lain sebagainya. Wallahu a`lam bis shawab semoga kita bisa meneladani pelajaran berharga ini.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan