Latest Post

Minta Jabatan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 12 September 2012 | 19.36

             Pada tulisan yang berjudul: ‘Takut Jabatan’, disinggung suatu etika penting berkaitan dengan jabatan. Di antaranya bahwa hubungan seseorang dengan jabatan ialah: diminta bukan meminta, diajukan bukan mengajukan serta dimohon bukan memohon. Kemudian ada peristiwa sejarah yang diabadikan Al-Qur`an ada kisah yang berkaitan dengan orang yang meminta jabatan. Kisah ini berkaitan dengan kisah Nabi Yusuf, yang meminta pada raja mesir kala itu untuk menjadi bendaharawan kerajaan Mesir. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah peristiwa sejarah mengenai Yusuf meminta jabatan dengan hadits-hadits Nabi yang menganjurkan tidak meminta jabatan itu bertentangan? Padahal hadits-haditsnya shahih? Dengan melihat secara sepintas tanpa meneliti dan mencermati terlebih dahulu mungkin orang akan mengatakan ayat dan hadits berkaitan dengan meminta jabatan sangat bertentangan. Namun jika mau jeli dan mau mengumpulkan beberapa hadits dan dengan hati-hati memahami Al-Qur`an sedara komprehensif, maka antara keduanya sama sekali tidak ada pertentangan atau kontradiksi. Ketika Yusuf mengatakan:: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". Yang perlu digarisbawahi dari kata-kata Yusuf ialah kata: pandai menjaga dan lagi berpengetahuan. Dua acuan ini menandakan Yusuf mampu menjabat bendaharawan lantaran dua kualifikasi kompetensi yang dimiliki, karena itu ia minta dijadikan bendaharawan. Lebih luas lagi bahwa Nabi Yusuf mementanya bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk kepentingan rakyat, suasananya juga mengharuskan ada bendaharawan yang mampu mengatasi musibah kemarau panjang dan kelangkaan pangan yang akan dihadapi.
            Dalam sejarah emas sahabat-sahabat Nabi ada dua fenomena peristiwa menarik yang perlu diangkat berkaitan dengan meminta jabatan. Minimal yang mau diangkat pada tulisan ini ialah dua kisah yang sama sekali bertentangan dan disikapi Nabi dengan jawaban yang berbeda. Pertama ialah kisah Abu Dzar Al-Ghifari. Suatu ketika ia meminta jabatan gubernur kepada Nabi, kemudian dijawab: Wahai Abi Dzar engkau adalah orang yang lemah, jabatan itu amanah, jabatan pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang benar-benar menunaikan kewajibannya,(serta mampu) mengemban amanat yang diembannya. Kisah lain dengan tema yang sama dan dengan jawaban berbeda yaitu ketika seorang sahabat yang bernama Ziyad bin al-Harits as-Shuda`i meminta Rasul menjadikan amir(pemimpin)) kaumnya, lalu Rasul membolehkan dan membiarkannya. Ziyad adalah seorang sahabat yang sangat ditaati oleh kaumnya, yaitu kaum Shuda`. Lihat, keduanya sama-sama meminta jabatan tetapi dijawab dengan jawaban yang berbeda. Sepintas memang bertentangan, tetapi bila kita mau lebih teliti dan menganalisa lebih dalam, ada hal yang melandasi jawaban Nabi. Nabi menolak Abu Dzar meminta jabatan karena Abu Dzar adalah orang yang lemah dalam masalah kepemimpinan, bila diteruskan maka malah akan menjadi kerusakan. Rasulpun di akhir hadits secara obyektif juga memberi pengecualian bagi mereka yang mampu mengemban amanah jabatan dengan baik. Sedangkan Ziyad bin Harits mempunya kompetensi tentang kepemimpinan. Ia sangat ditaati oleh kaumnya. Orang yang tidak mempunyai keahlian dan karisma menjadi pemimpin, tidak mungkin ditaati sedemikian rupa oleh kaumnya. Namun ke dua peristiwa itu mengalir pada muara yang sama bahwa keduanya meminta jabatan bukan karena kepentingan pribadi, tetapi kepentingan orang banyak.
            Karena itulah kita harus berhati-hati menyikapi masalah meminta jabatan. Dari sekian banyak orang yang meminta lebih banyak tumbangnya daripada tetap tegarnya. Karena itu juga sangatlah wajar ketika Rasulullah mewanti pada sahabat yang bernama Abdurrahman bin Samurah: Wahai Abdurrahman bin Samurah, kamu jangan meminta jabatan, jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka (beban jabatan akan ditimpakan)padamu, namun jika kamu diberi jabatan tanpa memintanya, maka kamu akan ditolong(Hr. Bukhari dan Muslim). Kita bisa melihat, merasakan, menyimak, mengamati, merenungi fenomena meminta jabatan di desa kita, di kabupaten kita, di provinsi kita hingga negara kita sangatlah menggeliat dan menjamur. Coba lihat hasilnya! Masyarakat, rakyat tambah makmur apa tambah ajur? Kenyataannya malah terpuruk meski memang tidak semuanya seperti itu. Sudahkah mereka siap berlaku seperti Yusuf yang kompeten dan ahli sehingga mampu mengemban amanah?; sudahkah mereka menapaktilas jejak Ziyad bin Harist yang mempunyai kemampuan menggerakkan kaumnya kearah kebaikan?; sudahkah mereka mampu mengedepankan kepentingan umum yang lebih luas daripada kepentingan pribadi, sebagaimana Nabi Yusuf dan Ziyad?; Kemudian sudahkah lingkungan sedemikian mendesak sehingga membuat mereka maju mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin? 
Jawaban itu sangatlah jelas dan tidak perlu dijelaskan karena masing-masing dari kita sudah bisa menjawabnya melalui realita yang ada. Kenyataan yang ada menjelaskan bahwa permintaan jabatan tidak berbanding lurus dengan kemakmuran rakyat, ketika jabatan sudah didapatkan; permintaan jabatan tidak diimbangi dengan motif memprioritaskan kepentingan umum atas kepentingan pribadi ketika jabatan sudah didapat; permintaan jabatan tidak berjalinkelindan dengan kemampuan yang dimiliki. Akibatnya amanah disia-siakan. Ketika amanah disia-siakan, maka merupakan tanda-tanda kehancuran. Ketika Nabi ditanya tentang bagaimana menyianyiakan amanah, Nabi menjawab: jika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran)nya. Dari lembaran sejarah yang dipaparkan di atas, coba dengan jujur kita bertanya pada hati kita: apakah selama hidup, kita  cendrung menjadi orang yang meminta jabatan apa diminta menjabat? Jawaban kita akan mempengarui jalan hidup kita, ketika kita terlibat secara langsung dengan kepentingan orang banyak. Masalahnya apakah kita mampu seperti Nabi Yusuf dan Ziyad ketika meminta jabatan? Kemudian ketika diminta sudahkah kita benar-benar mampu mengemban amanah jabatan? Kalau tidak mending kita zuhud terhadap jabatan, sembari melakukan yang terbaik di tengah kondisi umat manusia yang memperebutkan jabatan. Kerena pada akhirnya jika tak terlaksana dengan baik, hal itu malah akan menjadi kehinaan dan penyesalan kita di akhirat kelak.

Takut Jabatan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 Agustus 2012 | 19.34

               Di tengah hiruk pikuk negara yang penduduknya mengimani idiologi demokrasi, fenomena kompetisi jabatan tidak asing untuk diperbincangkan. Bukan karena menjabat sebagai suatu tanggung jawab besar yang harus diemban, tetapi pada realitanya lebih kepada kompetisi formal struktural dan fungsional yang bisa melonjakkan serta meningkatkan level seseorang agar menjadi lebih terhormat, mulia dan disegani. Di saat tertentu memang untuk meyakinkan orang, biasanya digunakan berbagai cara yang persuasif-inovatif dengan mengusung tema besar mengenai kepentingan orang banyak, mengenai isu-isu sosial, sebagai pijakan suksesi mendapatkan jabatan. Jabatan kebanyakan sudah ditanggalkan dari ruh tanggung jawab; sudah diceraikan dari spirit masuliyah(responsibilitas); sudah digugurkan dari rahim tanggung jawab. Kalau kita mengenal istilah dunia dan akhirat, maka jabatan secara umum sudah begitu sangat mendunia dan dijauhkan dari kepentingan akhirat; jabatan sudah sedemekian mengental dengan orientasi duniawi hingga unsur ukhrawinya luluh mencair meninggalkannya. Implikasi riil dari fenomena ini jelas akan semakin mendikotomi manusia dari integritasnya sebagai manusia yang secara transendental memiliki hubungan yang apik denga Sang Penciptanya. Jabatan dalam fenomena ini tentu saja sangat meredusir subtansi manusia. Manusia yang berorientasi jabatan, kebanyakan sudah begitu luntur kemanusiaannya. Ia bukan lagi sebagai manusia seutuhnya. Dalam menilai orang biasanya dengan standar fungsional-struktural dari jabatan yang sedang dijalani. Orang akan dihormati jika memiliki jabatan tinggi. Orang yang jabatannya rendah sama sekali tak diperhitungkan meski kemanusiannya lebih natural, utuh dan orisinil daripada yang punya jabatan tinggi.
            Dari paradigma hukum Islam, jabatan memang tidak dilarang, asal sesuai dengan prosedur syari`at. Tapi masalahnya kemudian ialah bahwa secara etis sebagaimana yang diwejangkan Nabi, bahwa hubungan atau korelasi antara manusia dengan jabatan itu seyogianya ‘diminta’ bukan ‘meminta’; ‘diajukan’ bukan ‘mengajukan’; ‘dicalonkan’ bukan ‘mencalonkan’; ‘diangkat’ bukan ‘mengangkat’. Suatu saat Rasul bersabada yang intinya: “Barangsiapa meminta jabatan, maka akan diserahkan (bebannya) pada dirinya sendiri, sedangkan orang yang diminta menjabat akan ditolong oleh Allah. Lihat perbedaan fundamental dari dua kata tersebut. Allah akan menolong orang yang diminta menjabat dan membiarkan orang yang meminta jabatan menanggung beban jabatan tanpa pertolongan-Nya. Mekanisme demikian memang kurang subur di tanah demokrasi. Ini hanya bernilai mitos bagi kebanyakan orang. Semua mekanisme untuk memperoleh jabatan memang mengarah pada ‘me’ daripada ‘di’. Sebenarnya meski secara teknis iklim demokrasi mengaharuskan demikian, di sisi lain ada sela-sela yang secara kualitatif-subtansial bisa diakomodir untuk menghasilkan output yang positif baik untuk individu maupun sosial. Namun sekali lagi usaha inipun sudah sedemikian langkah dan biasanya tumbuh-berkembang pada manusia-manusia yang secara sosio-kultural termarjinalkan dari berbagai pernak-pernik fungsional jabatan. Kondisi ini secara sadar maupun tidak sadar, memang dimeriahkan dengan kecanggihan media yang dimiliki oleh pihak-pihak yang multi kepentingan individual. Sehingga karena saking terbiasanya, atmosfir kompetisi jabatan semacam tadi sudah bukan hal yang tabu, tetapi sudah menjadi hal yang layak untuk diperlombakan, dan dikompetisikan demi meraih keuntungan pribadi.
            Berkaitan dengan tema: “Takut Jabatan”, ada baiknya kita segarkan kembali ingatan kita dengan sejarah emas sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Pernahkah anda mendengar atau ingatkah pada sosok yang bernama Miqdad bin `Amru? Beliau adalah sahabat yang pemberani, komandan pasukan berkuda di perang Badar, dermawan, penuh hikmah, sangat cinta Nabi, antusias dalam berjihad dan sangat anti pada kedzaliman. Mengenai kemuliaan dan sepakterjangnya dalanm dunia perjuangan dan perjuangan tidak perlu diragukan lagi. Banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga yang dia alami bersama Rasulullah. Salah satu pengalamannya bersama Rasulullah yang berkaitan dengan jabatan ialah bahwa suatu ketika Rasulullah menjadikannya sebagai wali(gubernur), ia mendapatkan jabatan gubernur dari Rasulullah. Ketika sudah menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai gubernur, Rasulullah bertanya padanya: Apa yang kamu dapati dari jabatan gubernur(kepemimpinan)? Miqdad menjawab: Wahai Rasulallah, (ketika aku menjabat) aku mennyangka(menganggap)  bahwa semua manusia adalah sebagai pelayan atau budakku. Demi Allah, aku tidak akan menjabat apapun selama aku masih hidup. Dalam kitab rijal haular rasul kisah Miqdad mengenai jabatan yang senada dengan cerita diatas digambarkan demikian: Pada suatu hari ia diangkat oleh Rasulullah sebagai amir disuatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu  menjadi amir?” Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya: “Anda telah menjadikan daku menganggap diri diatas semua manusia sedang mereka semua dibawahku….Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya.
            Miqdad bukan berarti tak kapabel dan kompeten dalam menanggung jabatan yang diamanahkan padanya. Kita mengetahui bahwa dia bisa diandalkan. Ia sama sekali tak meminta jabatan, tapi diminta. Namun pengalaman pribadinya dalam menjalankan roda kepemimpinan jabatan yang ditanggungnya memercikkan suatu hikmah yang luar biasa, sehingga bernilai filosofis dan penuh hikmah. Bahwa jabatan cendrung menggiring seseorang untuk memandang manusia lain lebih rendah dari dirinya; lebih cendrung mendorong seseorang memandang manusia lain sebagai pelayan, budak dan anak buahnya. Kesadaran itu membuatnya berkomitmen untuk takut jabatan semasa hidupnya. Coba banyangkan, ini ketika jabatan dipegang oleh orang amanah dan sanggup menanggung serta bukan meminta jabatan tapi diminta, mengalami pengalaman semacam ini. Lalu bagaimana dengan atmosfir demokrasi yang melahirkan sistem-sistem yang membuat orang harus meminta jabatan padahal kadang-kadang bahkan sangat banyak sekali yang kemampuanya tidak paralel dengan jabatan yang diemban. Apakah bukan malah membuat sengsara orang lain dan hanya mementingkan kepentingan pribadinya? Jawabanya ada pada pengalaman dan relung hati anda.

Pertaruhan Cinta

Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Agustus 2012 | 17.13

Malam hari kota Heidelberg sedang dibanjiri hujan salju. Musim dingin nampaknya tak kunjung usai. Kondisi demikian biasanya membikin kebanyakan orang males keluar rumah. Mereka lebih suka menghangatkan diri didalam rumah sambil menikmati kopi susu dan minuman hangat lainya. Tak jauh dari kondisi dingin salju itu, Dino terlihat bersikap dingin dan cemberut seakan ada sesuatu masalah besar yang sedang menimpanya. Sepulang kuliah, tidak seperti biasanya ia langsung pergi menuju rumah sewaanya.  Biasanya sepulang kuliah ia mampir dulu ke perpustakaan kampus.
            Ia betul-betul terlihat bingung. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan posisi sulit. Belum lama lamaranya ditolak oleh orangtua Wangi Bunga Kasturi, karena ia bersikukuh untuk bepegang teguh pada agamanya dan ingin segera menikahi Kasturi. Ternyata tidak sampai disitu, tadi pagi salah satu dosen wanitanya bernama Diana Lhorenza juga sedang memberikan pilihan sulit pada Dino. Dia merupakan doktor utama penguji skripsinya. Diam-diam dosen itu menyukai Dino. Dino diberi pilihan kalau mau lulus dia harus rela bercinta dengan dosennya. Kalu tidak ia terancam tidak lulus.
Dino masih termenung seorang diri. Ia disIbukkan oleh pilihan sulit. Antara lulus S1 tapi bercinta dengan dosen yang tidak ia cintai itu, atau ia memilih tidak lulus tapi idealisme yang ia bangun selama ini akan gagal dengan sia-sia belaka. Rasa pusing semakin membebaninya. Disaat seperti itu ia ingat Bapaknya pernah berpesan:” Nak, railah segala sesuatu dengan  cara yang jujur dan tidak mengorbankan prinsip, bila engkau dihadapkan dengan pilihan sulit tetaplah berpegang pada kejujuran dan memegang prinsip, jangan sampai hanya karena idealisme engkau rela tidak jujur dan mengorbankan prinsip”.
Ingatan itu seakan datang sebagai solusi. Ia datang pada saat yang tepat. Hatinya sekarang sudah sangat tenang. Dia mantap akan memilih pilihan yang kedua yaitu rela tidak lulus demi mempertahankan kejujuran dan prinsipnya. Ia rela tidak lulus S1 jika harus mengorbankan prinsip nila yang telah ia pegang selama ini.
Memang benar-benar terjadi. Sewaktu Dino menyampaikan pilihan kedua dosenya tiba-tiba naik pitam dan mengancam tidak akan meluluskanya. Dengan sikap tabah dan tenang Dino menimpali:” Lakukanlah apa saja yang anda inginkan, bagi saya kejujuran dan prinsip itu lebih utama dari hanya sekedar kelulusan, saya heran di negara yang bebas ini masih ada pemaksaan-pemaksaan kehendak”.
            Melihat Dino yang begitu kuat memegang prinsip itu Diana Lhorenza tidak berdaya. Karena merasa kalah dan malu ia benar-benar akan tidak meluluskan Dino. Dalam hati kecilnya diam-diam ternyata takjub dan iba melihat ketabahan dan kekuatan Dino dalam memegang prinsip namun dia tetap bersikeras untuk tidak meluluskan Dino.
Pasca kegagalan studi yg dialaminya ia memutuskan untuk keluar dari kampus dan belajar secara otodidak sambil mengembangkan teori-teori yang diperolehnya selama belajar dikampus. Tak hanya itu ia rajin manjalin komunikasi dengan dokter-dokter ternama di kota itu hingga ia mendapat pengalaman yang luar biasa.Ketika Dino sedang asyik membaca buku ia mendapatkan sms dari pamanya; Ibnu Sina:” Dino bagaimana kabarmu? Kapan kamu balik ketanah air? Paman dan keluarga sangat kangen sama kamu, Kamu bilang kuliah disana tinggal dua bulan lagi, paman harap kalau sudah selesai kamu segera pulang karena perusahaan sedang membutuhkanmu, ada berita yang mungkin cukup bagus bagi kamu, Puspita sari denger-denger tidak jadi nikah dengan Aji yang lulusan Madinah, barang kali ini adalah kesempatan bagimu untuk segera melamarnya kembali sebelum dilamar orang, paman tahu kau masih mencintainya”.
Sms itu membuat Dino agak sedikit kaget. Gadis cinta pertamanya sampai saat ini ternyata masih belum menikah. Yang jelas dia akan mendapat peluang besar jika dia segera pulang dan melamarnya. Tapi ia agak ragu karena dengan pulang tanpa membawa ijazah seolah telah mengecewakan pihak keluarga dan merasa bohong kepada Puspita karena ternyata studinya gagal. Lagi-lagi ia bingung seolah berada dalam pertaruhan cinta. Kalau ia tidak pulang kesempatan akan lenyap. Kalau pulang dengan tanpa membawa ijazah dia akan mengecewakan keluarga dan merasa membohongi puspita.
Ia belum bisa menjawab. Ia hanya menulis puisi:

Ketika benih-benih cinta tumbuh indah memesona
Menghiasi taman-taman jiwa yang bersemai sayang
Ku sambut bunga cinta dengan aroma kasih
Yang ku tebar melalui wangi janji setia
Tak kusangka keindahan itu diterpa badai
Hingga bunga itu tak dapat ku jamah dan kucium wanginya
Aku tak patah arang meski patah hati
Ku terus  pergi jauh  lalui rambu-rambu cinta
Hingga tanpa sadar bunga cinta itu kembali tumbuh mekar
Kalbu merasa gunda
Apakah aku harus memetik bunga cinta yang sama
Jiwa sedang menghadapi dilema

Dalam pertaruhan cinta

Tercukil Tapi Tak Tercuil

Written By Amoe Hirata on Rabu, 11 Juli 2012 | 19.33

                 Bayangkan jika kita sudah menemukan orang yang kita sayangi. Bayangkan jika kita menemukan orang yang kita cintai. Sungguh, hati akan berbunga. Keharumannya semerbak menawan hati. Kegersangan jiwa yang selama ini menandus kering, sontak menjadi subur makmur oleh tanaman cinta yang begitu menggoda. Bila benih cinta sudah bersemi kasih dan sayang maka segala hal akan dikorbankan untuk menjaga dan merawat keberadaannya. Sedemikian dahsyat pengaruh cinta bagi seseorang hingga untuk memperjuangkan dan menjaganya akan mengorbankan apa saja walau harus nyawa.
            Adalah Qotadah bin Nu`man saudara dari Abu Sa`id al-Khudri benar-benar telah menemukan cintanya. Ia menemukan sosok yang dapat mengisi kekosongan hatinya; yang dapat menyejukkan kegersangan hatinya; yang dapat menentramkan kegalaun jiwanya. Betapa tidak kalau yang dicintai itu ialah: Rasulullah Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Setelah berada pada rimba jahiliah yang kelam, akhirnya ia menemukan sorot cahaya yang terang benderang menyinari kegelapan sikap dan laku yang selama ini dijalani. Begitu ia menemukan cahaya petunjuk yang terang itu dia tak akan pernah melepaskannya. Ia rela mati untuk memperjuangkan petunjuk yang ia dapatkan.
            Kehidupannya diisi dengan perjuangan-perjuangan yang mengagumkan. Berjuang dengan sekuat tenaga dengan harta dan jiwanya untuk kepentingan Islam. Rasulullah pernah berdoa untuknya: Ya Allah pakaikan padanya keindahan.  Kata-kata ini beliau sebut bertepatan dengan perang Uhud yang hampir saja membut Qotadah bin Nu`man kehilangan sebelah matanya. Matanya terkena busur panah hingga keluar bagai tercukil. Hampir saja para sahabat memotongnya, namun mereka mengadukan masalah ini kepada Rasulullah. Rasulullah tidak mengiyakan saran mereka, Beliau malah mengembalikan mata ke tempat semula dan melumurkan padanya ludah, berkat izin Allah Qotadah bin Nu`man sembuh seketika. Pada kondisi demikianlah akhirnya beliau berdoa: Ya Allah, pakaikan padanya keindahan.
            Walau matanya seakan keluar tercungkil, namun semangat membara untuk memperjuangkan Islam dan cintanya pada Allah dan Rasulnya tak pernah pupus dan padam; tak pernah tercuil sedikitput oleh harapan-harapan kerdil. Ia sungguh-sungguh cinta pada Rasulullah sehingga Ia tak eman meski pengelihatanya akan hilang. Cinta yang besar ini ternyata membuatnya beruntung. Bukan hanya matanya yang kembali normal, tapi ia merasa semakin cinta pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Ketika Rasululla wafat menuju keharibaan-Nya hatinya seolah tercabik-cabik, tak kuasa menahan kesadihan yang begitu dalam. Namun dia bersyukur meski beliau telah tiada tetap ada pegangan berupa Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa menyinari dan mencahayai titian hidupnya menuju jalan yang mustaqim. Cinta bukanlah sekedar mengobral janji dengan kata-kata indah; bukan sekedar romantisme yang garing tanpa bukti, tapi cinti itu perlu dibuktikan dengan perjuangan dan pengorbanan. Semakin besar cinta menggelora dalam dada, semakin besar perjuangan yang harus dibuktikan, hingga pada akhirnya, ketika perjuangan sudah begitu sangat besar, maka rasa manis akan kita rasakan. Cintapun dengan suka cita berkata: Kemari ikut aku, kau sungguh pantas mendapat cinta sejatinya, kini aku sungguh percaya. Semoga Allah senantiasa meridhai dan menjagamu wahai Qotadah bin Nu`man di peristirahatan sementara menuju keridaan ilahi.

Nestapa Cinta Penjara Suci

Fajar menyingsing lembut. Panorama disekeliling pondok al-Karimah remang-remang tak terlihat jelas. Dalam hening itu, terdengar suara gaduh hewan-hewan sawah dan lain sebagainya; kokok ayam, suara katak, ringkikan jangkrik. Maklum lhokasi pondok al-Karimah terletak di pedesaan, terlebih di belakangnya terdapat  sawah yang luas. Para santri sudah berjejer rapi sejak jam 03:00 dini hari menunaikan shalat Tahajjud. Suara tilawah ayat-ayat al-Quran terdengar serempak dan syahdu. Biasanya, setelah menunaikan shalat Tahajjud para santriwati menunggu waktu shalat Shubuh dengan membaca al-Quran secara bergantian.
Puspita sari sedang khusyu membaca ayat-ayat  al-Quran bersama teman-temanya. Dalam hati ia merasa bersyukur bisa mengikuti pondok tahfidz di pondok al-Karimah. Ini karena, banyak hal yang ia dapatkan, dari mulai kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, dan sifat-sifat baik lainya. Ditengah kekhusyuan itu terdengarlah kumandang adzan shalat Shubuh. Para santriwati bersiap-siap menunaikan shalat Shubuh berjama`ah. Mereka menunaikan shalat sunnah qabliyah dulu baru setelah itu baru menunaikan shalat Shubuh.
Ba`da shalat Shubuh, sebagaimana biasa, ada siraman rohani yang biasa disebut kultum(kuliah tuju menit). Kali ini diisi oleh ustadza Rahmah Shinta Adi Lesmana Lc, (ustadzah lulusan Mesir yang di samping pakar dalam ilmu diniah, dia juga pakar dalam bidang ilmu kauniah). Pada kesempatan ini, ustadzah Rahmah mengupas tema, ‘Cinta Sejati’. Beliau menandaskan bahwa cinta sejati pada dasarnya hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Bila seorang muslim mencintai sesuatu melebihi kecintaanya terhadap Allah dan rasul-Nya maka ia telah menodai kesejatian cinta. Cinta Allah dan Rasul-Nya adalah diatas segala cinta. Cinta Allah dan Rasulnya merupakan indikasi kesempurnaan iman seorang muslim dan muslimah. Karena itu selayaknya bagi kita untuk selalu menempatkan cinta Allah dan Rasul-Nya diatas segala cinta karena hanya dengan itu kita bisa menemukan kesejatian cinta.
Selepas pemaparan kultum, para santri diberikan kesempatan untuk bertanya kepada ustadzah Rahmah. Dengan cepat dan segera Puspita Sari mengacungkan telunjuknya tak sabar untuk bertanya. Silahkan(kata ustadzah Rahmah). Maaf ustadzah, kalau cinta sejati itu hanya untuk Allah dan Rasul-Nya lalu bagaimana cara kita memposisikan cinta antara lawan jenis dengan cinta sejati itu? Apakah cinta kita yang tulus dan dalam terhadap laki-laki dapat merusak kesejatian cinta? Bagaimana cara kita berinteraksi dengan cinta selain Allah dan Rasul-Nya? Mungkin hanya ini saja uztadzah, kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Dengan santun dan senyum lembut ustadzah Rahmah menjawab:" Saya akan menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan satu jawaban saja:"Posisi cinta lawan jenis dengan cinta sejati ialah cinta lawan jenis di letakkan di bawah cinta sejati. Ini bukan berarti ada pertentangan antara cinta sejati dengan cinta lawan jenis. Intinya kualitas dan kuantitas cinta sejati tetap di jadikan acuan cinta. Pada dasarnya cinta selain Allah dan Rasul-Nya harus di dasari oleh semangat cinta sejati karena pada dasarnya jika cinta itu tidak dilandasi oleh semangat ibadah menuju cinta sejati maka kita telah menodai kesejatian cinta. Cara kita berinteraksi dengan selain cinta sejati ialah dengan selalu membangun kesadaran internal bahwa pada dasarnya cinta selain sejati merupakan salah satu serpihan cinta yang di rajut dan dijalin untuk mendapat kesejatian cinta. Bila melebihi kadar tersebut maka akan terjadi ketidak harmonisan interaksi cinta, ini dapat berdampak buruk pada cinta sejati kita.
Bertepuk tanganlah seluruh santri setelah mendengar jawaban ustadzah Rahmah. Puspita merasa senang dan puas atas jawabanya. Ada satu hal yang janggal di benak Puspita; Mengapa sejak ia bertanya sampai selasai di jawab, ustadzah memandangnya terus, dan pandangan ini dirasanya sebagai pandangan yang tak biasa. "Ada apa ya gerangan dengan ustadzah ini?"(Tanya puspita pada diri sendiri). Rupanya memang benar. Setelah acara kultum itu ustadzah Rahmah menemui kepala asramah pesantren. Ia pingin tahu banyak perihal Puspita. Ia mendapat keterangan bahwa disamping cantik, Puspita adalah ahwat yang cerdas dan baik budi pekertinya, hanya dalam waktu satu tahun dia sudah mampu menghafal al-Quran dan menguasai qira`ah sab`ah(model tujuh bacaan masyhur al-Quran), ia juga sangat disenangi dan disayang oleh teman-temannya.
Seteleh mendapat keterangan itu, ustadzah Rahmah Shinta Adi Lesmana segera menemui Puspita Sari. Kebetulan waktu itu Puspita Sari sedang mendapat telfon dari keluarganya di kantor. Akhirnya dengan sabar ustadzah Rahmah menunggunya di masjid. Puspita Sari mrndapat kabar kurang baik. Abahnya mengatakan bahwa Aji Kurniawan memintanya untuk menunda perkawinanya setahun lagi mengingat ia telah gagal mengajukan judul akibat menolhong temanya yang lagi terkena serangan jantung. Tapi Aji sendiri sudah menyerahkan semua keputusan kepada Puspita Sari. Kalau siap menunggu maka hubungan bisa terus berlanjut kalau tidak maka Puspita bebas untuk memutuskan hubungan pertunangan yang tlah terjalin.
Puspita agak kaget mendengarnya. Ia bilang pada abahnya: "Bah, Puspita minta maaf, tolong berikan waktu beberapa hari untuk memutuskanya. Untuk sekarang ini Puspita masih belum bisa mengambil keputusan". "Baiklah ndok kalau memang begitu, mungkin sekian dulu, abah tunggu jawabanmu, abah harap kamu jangan terlalu sedih".
            Selepas menerima telfon dari abahnya, Puspita segera menuju masjid untuk me-muroja`ah(mengulang) hafalanya. Dari kejauhan terlihat ustadzah Rahmah sedang duduk menunggunya. "Puspita sebelumnya saya minta maaf kalau sedikit mengganggu, saya sudah banyak mendengar tentang kamu. Waktu saya sangat sedikit. Makanya saya akan to the point saja. Begini saya sedang mencarikan calon istri untuk keponakan saya, namanya Alyan Hisan; lulusan S2 Universitas Indonesia. Al-hamdulillah secara materi dia sudah mapan. Orangnya juga masih mudah dan shalih, dan ingin segera mencari calon istri. Kira-kira kamu mau tidak menjadi calon istrinya?.

            Puspita merasa bingung. Mana kira-kira yang akan dipilih oleh Puspita? Kalau memilih Aji Kurniawan, dia harus menunggu setahun lagi, ini otomatis akan merusak rencana yang sudah ia rencanakan selama ini. Kalau dia memilih Alyan Hisan memang ia bisah langsung menikah tahun ini. Tapi, ia merasa tidak tega dan kasihan  kepada Aji Kurniawan.

Terompah Surga

Written By Amoe Hirata on Senin, 18 Juni 2012 | 19.32

              Ada banyak hal dalam kehidupan di dunia ini yang dianggap orang sederhana namun memiliki nilai yang sangat berharga. Gejala demikian muncul pada komunitas yang menilai sesuatu itu hanya secara wadag materil. Penilaian demikian tentu sangat relatif dan subyektif. Pada gilirannya pihak yang berkuasalah yang menentukan standart penilaian materil. Misalnya: kulit putih dianggap sebagai kulit terbaik dan yang paling rendah ialah hitam; Yang dihormati dimasyarakat ialah yang kaya dan berkedudukan, sedangkan orang biasa dan miskin tidak dihormati; yang benar ialah pendapat subyektif manusia kaya, pendapat si miskin  dikesampingkan; pendapat orang terkenal diutamakan meski salah daripada orang biasa meski benar. Masih banyak lagi berbagai standar penilaian yang sangat wadag.
            Letak bernilai tidaknya sesuatu bukan semata terbatas pada lahiriah semata akan tetapi juga batiniah. Islam menetapkan standart  bernilainya sesuatu pada kualitas bukan kuantitas; menilai sesuatu bernilai berdasarkan etos kerja, ketakwaan, dan kinerja terbaik, bukan pada kehebohan dan keindahan fisik. Orang dianggap berharga bukan terpaku pada kekayaan, kedudukan, kegantengan, kecantikan, dan berbagai standar lahiriah lainnya, tapi yang dijadikan acuan ialah seberapa baik amal dan kinerjanya, dan seberapa besar ketakwaannya. Walaupun berkedudukan jika tak takwa maka percuma. Meskipun kaya jika tak baik amalnya maka percuma. Meski rupawan tapi jika tak takwa maka tiada gunanya.
            Pada zaman jahiliyah di mana Islam baru tumbuh berkembang, standart penilaian yang sangat wadag dan materil ini sangat mendominasi alam pikir dan idiologi mereka. Misal saja orang-orang kulit hitam dianggap sebagai orang kelas bawah, tak memiliki hak-hak seperti orang kulit putih, lebih dari itu kebanyakan dari mereka dijadikan budak. Hampir tak terdengar-kalau tak boleh dibilang sama sekali tidak- orang-orang kulit hitam yang menempati posisi penting. Mereka selalu dinomerduakan.
            Diantara orang hitam yang tinggal di Arab jahiliyah kala itu ialah Bilal bin Rabah. Sebagaimana yang lain, sebelum masuk Islam ia tak lebih hanya sebagai budak. Melayani dan membantu keperluan tuannya. Tuannya kala itu salah seorang pembesar Qurays bernama Umayyah bin Khalaf. Kehidupan Bilal yang sangat sederhana dan bersahaja di waktu Jahiliyah terhitung sangat biasa dan tak begitu diperhitungkan. Namun ketika cahaya Islam menyinari kegelapan hatinya, seorang Bilal yang dianggap hina ini seolah terlahir kembali. Dalam Islam dia dimuliakan, disetarakan, dihargai dan dihormati. Ia merasakan keteduhan dan kesejukan dari agama yang baru datang ini. Sekali dia dapat petunjuk agung ini, tak akan pernah dilepas meski harus mendapat tantangan berat. Lambat laun keislamannyapun bocor. Ketika tuannya tahu, maka Bilal disiksa sedemikian rupa di tengah terik mentari, ditindihi batu. Bilal tak gentar dan tetap teguh seraya berkata: Ahad Ahad Ahad. Sampai akhirnya Bilal dibebaskan oleh Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu `anhu.
            Nabi sangat menghormati Bilal. Ia tidak pernah membeda-bedakan setatus, karena yang terbaik adalah siapa yang paling takwa. Bilal dapat kemulian menjadi muadzin tetapi. Bilal tahu bahwa bakat dan potensinya adalah suara, maka dia berkontribusi melalui segi suara. Lebih dari itu, yang menjadikan Bilal penuh kemulian dan kehormatan ialah: Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wassallam pasca pulang dari perjalanan isra` wa mi`raj, beliau menceritakan bahwa ketika melihat surga ia mendengar suara terompah Bilal. Rasulullahpun penasaran sehingga menanyakan langsung kepada Bilal tentang amalan apa yang membuatnya mendapatkan kepastian masuk surga padahal dia masih hidup di dunia. Dengan sangat sederhana Bilal menjawab: Aku selalu menjaga kesucianku, dan setiap kali aku selesai bersuci aku shalat dua rakaat. Mungkin ini terkesan sederhana. Namun dibalik kesederhanaan ini menyimpan: kekontinyuan, kedawaman, ke-itqannan, dan keistiqamahan dalam beramal. Bukankah amal yang paling dicintai Allah ta`ala ialah meski sedikit tapi dawam dan istiqamah?Terompah Bilalpun mendahuluinya ke surga.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan