Latest Post

Ranjau Cinta

Written By Amoe Hirata on Kamis, 21 Februari 2013 | 17.30


          Sore hari di Masjid Baitul Arqom lantunan syahdu ayat-ayat al-Qur`an begitu menggema. Langit yang begitu ceria serta angin yang menghembus halus turut serta membuat suasana tambah ceria dan penuh sukacita. Anak-anak terlihat padu dan khusyu` belajar membaca al-Qur`an. Dari raut wajah mereka terpancar aura cahaya kejujuran. Hati-hati yang masih belum terjamah dosa. Jiwa mereka masih bersih dari berbagai macam khilaf dan dosa. Mereka ditemani oleh dua orang ustadzah cantik dan berwibawa. Yang satu bernama Fariha Kaila Ahzana, dan  yang satu lagi –yang sudah tak asing lagi bagi warga perumahan  Taman Asri- yaitu Ustadza Puspita Sari(Istri dari Dino al-Kindi).
            Keduanya dikenal sebagai guru yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Semangat dakwah dari keduanya tak perlu diragukan lagi. Merupakan keberuntungan yang tak terkira bagi warga perumahan Taman Asri dianugerahi dua orang ustadzah yang hafal al-Qur`an serta berilmu luas. Dulu sebelum adanya kedua ustadza Kaila dan Puspita, warga perumahan jarang sekali terlihat ke masjid. Rata-rata beragama Islam, namun Islamnya hanya sebatas KTP. Kehadiran kedua ustadzah pada awalnya meresahkan hati mereka, karena mereka sudah terbiasa beragama hanya sekadar simbolis. Lebih dari itu mereka merasa susah kalau harus menjalankan Islam yang kâffah(secara menyeluruh). Dengan ketabahan hati dan semangat yang tiada henti dari kedua ustadzah tadi, mereka pun terketuk pintu hatinya. Hati yang dulunya tandus kering, kini telah menjadi basah dan sejuk oleh petunjuk ilahi.
            Tak seperti biasanya, sore ini Kaila terlihat sedih. Sejak awal mulai mengajar, Puspita Sari memperhatikan aura wajah yang sedikit aneh dari diri Kaila. Ia seakan menahan kepedihan, padahal Kaila yang ia kenal selalu terlihat riang gembira. Apa yang Puspita lihat sore ini berkaitan dengan Kaila, begitu membuat hatinya dipenuhi tanda tanya. Bukan hanya Puspita yang merasa aneh dengan kondisi Kaila. Para murid TPQ yang biasanya selalu terhibur setiap kali diajar Kaila merasa tegang. Sesekali memang Kaila berusaha mengurai senyum dan mencairkan kekakuannya, namun ia tak berhasil mencairkan suasana. Sampai-sampai ada salah satu murid yang bertanya: “Maaf Ustadzah, sampean lagi sakit ya?”. “Tidak anak-anak, ustadza baik-baik saja,” dengan datar ia menjawabnya.
            Karena penasaran dengan sikap Kailah yang agak aneh, sepulang ngajar Kaila diajak ke rumah Puspita. Puspita yakin Kaila sedang dilanda masalah serius. Sesampainya di rumah Puspita, dengan agak menahan kesedihan, akhirnya ia mencurahkan kesedihan hatinya. “Mbak, jujur aku merasa sedih dan malu. Sebenarnya aku juga tidak kuat untuk menceritakan masalah keluargaku. Tapi di lain sisi aku ingin mencurahkannya kepada orang yang aku percayai, supaya kesedihan di hati ini bisa sedikit terobati,” tutur Kaila memulai. “Iya Kaila, mbak tau kamu lagi sedih. Curahkan saja kesedihanmu, sebagai sesama saudari semuslim, aku akan berusaha membantu jika memang aku mampu, kalau aku tidak mampu, nanti aku minta bantuan kepada suamiku,” sambut Puspita Sari sembari menenangkan hati Kaila.
            “Sebagai anak perempuan, aku sangat sedih mbak. Sampean kenal ayahku `kan? Beliau tanpa sepengetahuan kami telah menikah lagi. Sebenarnya yang membuat kami sedih bukan terutama pada masalah nikah. Poligami sebaaimana yang kami ketahui memang dibolehkan asalkan bisa adil. Lha ayahku mbak, untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja masih tersendat-sendat kok malah menikah lagi. Ibuku sangat benci dipoligami, meski dia tau kalau itu halal. Ibuku adalah tipe wanita setia. Baginya menikah hanya sekali dalam seumur hidup. Ia begitu menjaga erat cinta, meski terkadang caranya menjaga cinta bukan dengan bahasa lembut. Sekarang hatinya terluka begitu dalam. Ketika ditanya kenapa ayah menikah lagi, dengan enteng dia menjawab: “Aku ingin mencari istri yang bisa memberiku modal untuk berbisnis. Aku sudah tidak kuat hidup seperti ini”.
            Dua jam lebih Kaila bercerita mengenai masalah yang sedang menimpanya. Keharmonisan keluarga yang sudah seperempat abad terjalin, kini terancam hancur. Hati ibunya dipenuhi dilema. Ia punya prinsip: “Aku tidak mau di madu. Lebih baik aku diceriai, daripada aku dimadu”. Di sisi lain, ia juga masih cinta dan sayang pada suaminya. Kesedihan bertambah meningkat ketika terjadi perubahan yang sangat besar pada sikap ayahnya. Sudah beberapa bulan ia jarang ke rumah. Kaila, ibu beserta adik-adiknya merasa ayahnya sudah berubah. Perhatiannya tercurah kepada istri barunya. Rasa sesal selalu menghinggapi sanubari ibunya: “Kenapa aku dulu mau nikah dengan Mas Sufyan, padahal aku dulu sudah ada yang melamar. Kalau tau akan seperti ini jadinya, aku tak kan mau menikah dengannya” begitulah ia berbicara ketika puncak kesedihan tak bisa tertahankan.
            Sekarang ibunya semakin kurus. Dandanannya semakin tak terurus. Ia sudah jarang sekali makan. Nafsu makannya seolah dikalahkan oleh rasa sakitnya. Hari-harinya dipenuhi dengan lamunan. Banyang-bayang masa lalu dengan suaminya –meski tak selalu bahagia- begitu menyibukkan akal dan hatinya. Malam hari tidak bisa tidur. Pagi hari pikiran melayang kemana-mana ketika sedang sendiri. Mendengar penjelasan Kaila, seketika itu Puspita tak kuasa menahan air mata. Apa yang diceritakan oleh Kaila mengingatkannya kepada pamannya yang hobi nikah. Pamannya mempunyai empat istri. Puspita sebenarnya juga tidak mempermasalahkan hukum poligami, tapi yang dipermasalahkan ialah sikap dan perilaku pamannya yang tidak bisa adil. Jelas-jelas sudah tidak bisa menafkahi lahir dan batin, kok berani-beraninya menambah istri sampai empat. Akibatnya jelas, keluarganya berantakan dan tidak harmonis.
            “Kaila, untuk saat ini aku belum bisa membantu secara maksimal. Sejauh yang bisa kubantu, saat ini ialah membesarkan hatimu. Aku punya paman yang lebih parah dari ayahmu. Dulunya bibiku ga bisa menerima perlakuan seperti itu. Sampai-sampai badannya sangat kurus akibat sering memikirkan paman. Dari pengalaman bibiku mau belajar. Ia sadar bahwa mau diratapi bagaimanapun, semua telah terjadi. Akhirnya dia fokus kepada anak-anak dan cucunya. Dia sebenarnya berada dalam dilema juga seperti ibumu. Di satu sisi dia ga mau dimadu, di sisi lain ia juga tidak mau bercerai, karena masih sayang pada paman. Akhirnya apa? Ia biarkan saja pamanku apa adanya. Akhirnya lambat laun perasaan sedih dan sumpek sedikit demi sedikit bisa terkikis,” ungkap Puspita pada Kaila.
            “Terima kasih mbak atas pencerahannya. Sebagai seorang perempuan aku ga bisa langsung lupa mbak. Terlebih aku malu dengan warga sekitar. Aku bersama adik-adikku `kan dididik dipondok, dan meski bukan ustadz ayahku sangat peduli dalam pendidikan keagamaan. Nah yang membuatku malu ialah, kenapa dia yang mengerti agama bahkan menyekolahkan anaknya dalam pondok pesantren, malah tidak bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Aku merasa malu, karena sekarang ayahku jadi bahan pergunjiangan dan menjadi buah bibir warga. Secara umum mereka berkomentar sinis: ‘Lha ya, wong ngerti agama kok kaya` gitu. Mendingan yang ga ngerti agama’. Aku merasa cinta ibu terpelosok pada ranjau derita. Dulu ia mengiri hubungan cinta dengan ayah akan baik-baik saja sampai mati, nyatanya cinta terciderai dengan adanya orang lain, layaknya ranjau yang siap mencelakakan dan menghancurkan orang yang terperangkap di dalamna” komentar Kaila sambil mengusap air matanya.
            “Sekarang begini ya dik, betapapun kesedihan meliputi hati keluargamu. Kamu harus tetap terlihat tegar. Ibu dan adik-adikmu sekarang butuh orang yang bisa membesarkan hatinya. Kesedihan itu bukan untuk disuburkan dengan kesedihan-kesedihan. Kesedihan perlu ditawarkan dengan kegembiraan. Caranya supaya tidak tambah parah ya seperti tadi, setiap kali kamu bertemu ibumu pasanglah wajah gembira, beri dia semangat, yakinkan bahwa dia tidak sendiri, kamu beserta adikmu akan kompak menjalankan hidup dengan penuh keyakinan untuk menyongsong masa depan yang cemerlang. Jangan lupa banyak-banyak berdo`a kepada-Nya. Kamu jangan larut dalam kesedihan. Sebenarnya aku juga ingin memberitahumu sesuatu, tapi aku rasa belum tepat untuk diomongkan saat ini” timpal Puspita.
            Tiba-tiba Kaila menjadi penasaran mendengar kata-kata terakhir dari Puspita: “Mbak sampean ngomong saja ga papa. Jangan bikin Kaila penasarang, pleas pleas ya kak sampaikan saja yah,” pinta kaila dengan wajah memohon. “Begini Kaila, usiamu `kan sudah dua puluh tahun. Kamu sudah hafal al-Qur`an. Ilmumu juga lumayan luas, kenapa kamu tidak menyempurnakan agamamu” sahut Puspita. “Maksud mbak gimana nih? Nikah maksud mbak? Kayaknya belum kepikir sampai ke situ mbak. Apalagi sekarang ibu lagi ditimpa masalah, aku tidak bisa bahagia ketika ibuku sedang merasakan kesedihan” komentar Kaila. “Anak dari kiai pondokku sedang mencari pasangan hidup. Dia menginginkan istri yang shalihah dan hafal al-Qur`an. Usianya sekitar 27 tahun. Kehidupannya juga sudah mapan. Barangkali siapa tahu Allah melapangkan jalan untuk membantu beban orang tuamu. Anaknya sholih banget Kaila. Dia walaupun anak kiai yang kaya dan terkenal, tapi perilakunya sangat sederhana dan begitu berwibawa. Namun sekali lagi aku tidak maksa, semua keputusan berada di tanganmu” jawab Puspita.

            Setelah satu jam berbicara dengan Puspita, akhirnya tibalah saatnya Kaila undur diri. Ia mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada puspita yang membesarkan hatinya, dan mau meluangkan waktu untuk mendengarkan curahan hatinya. Di sepanjang perjalanan, dia kepikiran dengan tawaran Puspita. Sudah layakkah dirinya menikah? Dirinya sekarang diliputi kebingungan. Di satu sisi ia begitu tidak tega dengan kesedihan yang dialami ibunya, di sisi lain hatinya terketuk –sebagai seorang perempuan yang sudah baligh- untuk menyempurnakan separuh agamanya. Apa lagi yang diberitahukan Puspita adalah laki-laki sholih dan mapan. Keshalihan adalah sebaik-baik bekal bagi terbinanya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah(tenang, cinta dan sayang). Dan salah satu yang membuat keluarga menjadi kokoh ialah kemapanan materi. Siapa yang tidak menginginkan laki-laki mapan secara materi?. Hatinya begitu berkecamuk. Semalaman ia tak mengantuk. Tak lupa ia memohon petunjuk, kepada Allah agar ditunjukkan jalan terbaik, untuk diri dan keluarganya. Ia tak mau terjebak dalam ranjau cinta sebagaimana ibunya.

3-Kamu

Written By Amoe Hirata on Rabu, 20 Februari 2013 | 18.26

Kamu diri
Menuruti nafsu, ambisi

Kamu sosial
Peduli masyarakat global, komunal

Kamu ideal
Mampu memadukan diri dan sosial

Akan Setia

Written By Amoe Hirata on Minggu, 20 Januari 2013 | 01.30

Angin malam berhembus mesrah
Membelai halus, temani
Kesunyian yang tlah lama menjelma
Pada goresan kata
Yang sarat  kan makna

Ia begitu tak peduli
Meski bunga-bunga sayang mengerang
Ia begitu tak menghirau
Meski daun-daun kasih merintih
Yang ia tahu hanya keyakinan

Bahwa ia akan setia
Menggapai impian
Meraih kenyataan
Yang tlah lama tercita
Dalam relung kalbu

Singgasana Rahman Berguncang

Written By Amoe Hirata on Senin, 10 Desember 2012 | 20.40

  
                    Allah subhaanahu wata`ala menurut penjelasan Al-Qur`an bersemayam di atas Arsy. Imam Malik ketika ditanya mengenai bersemayam: “Bersemayam maknanya maklum, tata caranya majhul, sedangkan menanyakannya adalah bid`ah”. Arys (Singgasana) sana Allah yang begitu dahsyat dan besar itu menurut penuturan hadits disangga oleh 8 Malaikat yang antara daun telingan dan lehernya saja berjarak tujuh ratus tahun. Itu baru jarak antara dan telinga dan lehernya, bagaimana kalau bentuknya secara seutuhnya, sungguh tak terkira. Itu baru penyangganya, bagaimana dengan Arys-Nya? Sungguh dahsyat dan tak terbayang. Yang terpenting dalam masalah ini  ialah kita wajib mengimaninya karena ini urusan ghaib. Kita tak dituntut untuk mengetahui secara detail, yang perlu kita ketahui ialah sebatas yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Karena meski kita tidak tahu tentang masalah ini sebenarnya tidak membahayakan atau memberi manfaat signifikan buat kita. Intinya, yang ingin ditekankan sebagai pembuka untuk tulisan ini ialah bahwa Arys(Singgasana) Allah begitu dahsyat dan luar biasa. Tidak bisa diungkap dan diterka dengan kata-kata; tidak bisa digambarkan oleh benak kita. Ini sangat jelas sekali. Kalau Tuhan kita adalah Maha Yang Luar Biasa, tempat bersemayamnya pasti luar biasa juga.
                          Singgasana yang begitu besar dan dahsyat ini dalam lembaran sejarah manusia pernah berguncang. Haah....Berguncang? Mungkin anda kaget atau sama sekali tak percaya mendengarnya. Itu juga hanya terjadi pada zaman Nabi Muhammad, berkaitan dengan kisah sahabat beliau yang begitu mulia. Ada apa gerangan sampai-sampai Arsyu Ar-Rahman berguncang? Kenapa ini sampai terjadi? dan apa kaitannya dengan Sa`ad bin Mu`adz? Bila kita mau menyempatkan diri untuk membaca sejarah emas sahabat Nabi Muhammad, kita akan menemukan jawabannya. Sa`ad bin Mu`adz adalah sahabat yang berasal dari kabilah `Aus. Sebelum masuk Islam, Ia adalah merupakan pembesar kabilah `Aus. Ia masuk Islam di tangan Mush`ab bin `Umair. Kehidupanya pasca masuk Islam diisi dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Banyak yang masuk Islam melalui perantaranya. Sewaktu terjadi perang Badar, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat. Dalam sekilas dialog itu Sa`ad bin Mu`adz dengan lantang mengatakan lakukan wahai Rasulullah, apa yang engkau kehendaki, Demi Allah kalau kau memerintahkan kami menyusuri sungai ini maka kami pasti menaatinya. Di kesempatan yang lain tidak kalah besar pengorbanan dan perjuanganya seperti ketika mengeksekusi sekutunya dari Yahudi bani Quraidha karena menyelisihi piagam Madinah. Bayangkan! usia keislamannya sampai dia meninggal baru 6 tahun. Tapi kenerja dan aksinya dalam memperjuangkan Islam sungguh besar dan luar biasa. Seolah kisah ini mengisyaratkan bahwa manusia bernilai bukan karena berapa lama ia hidup, tapi seberapa besar manfaat dan kontribusinya walaupun berusia pendek. Karena yang mengabadikannya ialah karya; yang membuatnya dikenang karena jasa-jasanya. Sa`ad meninggal pasca mengurusi masalah penghianatan Yahudi bani Quraidhah.
            Ketika Sa`ad bin Mu`adz  meninggal, kalimat yang disampaikan Rasulullah ialah: Arys Rahman berguncang karena kematian Sa`ad bin Mu`adz. Tak hanya itu kesaksian sahabat-sahabat yang lain mengatakan bahwa jenazahnya sangat ringan sekali tidak seperti jenazah lainnya. Lalu Nabi menjelaskan bahwa para malaikat turun ke bumi turut serta membantu mengangkat jenazahnya. Bayangkan, Arys berguncang dan malaikat turut serta mengantarkan jenazahnya. Kita mungkin akan bilang wow. Kebanyakan orang hanya terperangah dan takjub hanya pada hasil. Kebanyakan orang mengagumi orang besar, menakjubi pahlawan hanya karena hasilnya. Dengan sangat sederhani mereka menilai dengan penilaian se-simple itu. Padahal jalan menuju keberhasilan dan kesuksesan itu bukan jalan yang gampang. Mereka melalui berbagai rintangan dan halangan. Mereka berjuang di jalan sunyi. Mereka berjuang di kala orang-orang lain beristirahat dengan tenang. Mereka rela tak tidur ketika orang lain pada nyeyak tertidur. Dengan demikian, seharusnya ketika menilai orang besar yang pertama ialah sejauh mana kita bisa manapaktilasi jejak mereka; sejauh mana kita bisa meneladani mereka. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: Berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian(Bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian). Bagaimana kita akan menuai hasil jika tidak ada perjuangan. Begitu juga ketika kita menyikapi kisah Sa`ad bin Mu`adz, yang terutama bukan berguncangnya singgasana Rahman kerenanya atau karena malaikat turut serta mengangkat jenazahnya, tapi yang utama ialah bahwa Sa`ad bin Mu`adz adalah pejuang sejati. Ia mulia karena kontribusi yang dipersembahkannya; ia mulia karena dalam rentetan perjuangannya ia bisa mengendalikan egonya untuk senantiasa ikhlas karena-Nya.
            Menurut Al-Qur`an manusia dikatakan mulia karena amal terbaiknya yang terangkum dalam kata: “TAQWA”. Jadi penilaian wadag materil sama sekali bukan menjadi poros acuan. Bila kita mampu mengendalikan dan mengontrol diri kita dengan mengerahkan potensi kita dalam bingkai karya dan perjuangan maka kemuliaan akan menyertai, meski bukan itu tujuan utama kita. Rasulullah memberi kualifikasi kualitatif berupa: Manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Demikian juga kita memandang kisah Sa`ad bin Mu`adz ini. Kita tak terperangah dan tercengang hanya karena singgasana Tuhan berguncang atau karena jasadnya diangkat malaikat. Yang harus dilakukan ialah sejauh mana kita bisa meneladani dan menapaktilasi jejaknya. Dengan senantiasi memancangkan spirit ini pada benak kita, maka keridaan dan kemuliaan otomatis menyertai asalkan dikerjakan dengan ikhlas. Dengan spirit dan motiv ini nantinya kita akan lulus menjadi insan muttaqin(manusia bertakwa). Akhir yang baik pasti akan didapatkan oleh mereka yang bertakwa.

Syahid bin Syahid

Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 November 2012 | 20.38

              Menjadi orang baik itu bagus, tapi menjadikan orang lain ikut baik, itu lebih bagus. Menjadi shalih itu bagus, tapi menjadi mushlih(membuat perbaikan sosial) itu lebih bagus. Kaidah fiqhiyah mengajarkan kita nilai penting berupa: al-Khairu al-muta`addi khairun min al-qaashir(Kebaikan yang berdampak sosial lebih baik dari pada kebaikan individual). Kebaikan seharusnya tak hanya dinikmati oleh individu, ia harus mengimbas pada ranah sosial. Alangkah indahnya jika kebaikan itu merata baik itu pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Karena itulah ada ungkapan: Jangan hanya menjadi shalih secara pribadi, jadilah shalih secara sosial. Kenyataan ini mengingatkan kita pada mutiara hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berupa: Khairu an-Naasi, `anfa`uhum li an-Naasi (manusia terbaik ialah yang manfaat sosial kemanusiannya paling banyak). Inilah yang menjelaskan rahasia penting kenapa para pahlawan itu terasa masih hidup di tengah-tengah kita, karena kontribusi kebaikan yang ditinggalkan mereka begitu besar ketimbang kesalahan dan kekhilafan mereka. Ini juga yang menjelaskan pada kita mengapa orang bisa diberi gelar sebagai pahlawan.
            Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam selalu menginginkan kebaikan kepada umatnya. Beliau tak mau kebaikan hanya berhenti pada dirinya. Beliau menginginkan semua umat manusia mendapatkan kebaikan. Keteladanan beliau ini sangat membuat sahabat-sahabatnya terkesan. Di antara mereka yang terkesan ialah salah seorang dari suku Daus, namanya at-Thufail bin `Amru ad-Dausi. Ketika Thufail mengunjungi Makkah, para gembong kafir Qurays berusaha menghalang-halanginya berinteraksi dengan Nabi. Disampaikanlah padanya isu-isu negatif tentang Nabi. Dikatakan bahwa Nabi sangat berbahaya. Kata-katanya laksana sihir yang mampu membuat masyarakat terpecah belah. Thufail tidak boleh dekat-dekat Nabi, supaya tak terpengaruh dengan ucapannya. Namun suatu ketika takdir Allah mempertemukannya dengan Nabi. Dari kejauhan Thufail mendengar bacaan Nabi. Ia berusaha menutup telinganya sesuai dengan saran orang kafir Qurays. Tetap saja dia bisa mendengar suara Nabi. Akhirnya ia membuat keputusan: Buat apa aku sumpal telingaku, aku ini kan penyair, kalau kata-katanya baik maka akan aku ikuti, tapi jaka jelek maka akan aku campakkan. Ketika telinga dibuka, tiba-tiba ia mendengar kata-kata yang sungguh mengesankan, sampai akhirnya ia datangi Rasulullah hingga masuk Islam.
            Yang menarik dan patut dijadikan tauladan ialah Thufail bin `Amru ad-Dausi tak mau kebaikan yang ia dapatkan berupa petunjuk Islam  hanya dinikmati sendiri. Ia meminta doa pada Rasulullah agar semua sukunya diberi petunjuk. Sepulang dari Makkah, ia mulai berdakwah mengajak keluarganya lebih dahulu. Bapaknya diajak hingga rela masuk Islam. Istrinya dan anaknyapun diajak sampai akhirnya masuk Islam. Dengan semangat yang begitu luar biasa ini nantinya membuat suku daus sebagaimana doa Nabi, bisa memeluk Islam dan bertemu Rasulullah pada perang Khaibar. Tak hanya itu. Perjuangan dakwahnya yang begitu luar biasa mengantarkan dirinya pada kesyahidan. Kesyahidan yang bukan hanya terbatas pada diri pribadi, namun anak kesayangannya yang bernama `Amru bin Thufail ad-Dausipun turut mendapat kesyahidan. Takdir syahid keduanya diabadikan sejarah dalam pertempuran Yamamah dan Yarmuk. Mungkin sangat gampang kita menjumpai sahabat yang syahid di jalan Allah. Namun, menemukan sahabat yang memiliki keluarga yang juga syahid itu sangat jarang. Ia sebagai kepala keluarga, bukan saja mampu mentransfer kebaikan yang ia dapat dari Islam pada dirinya untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, lebih dari itu ia mampu mentransfer kebaikan pada keluarga hingga sukunya. Pantaslah jika ia dijuluki sebagai, “Dzu an-Nuur” yaitu yang memiliki cahaya. Ya, cahayanya mampu menyinari kegelapan-kegelapan jahiliah yang ada pada lingkungannya. Pantas pula jika keduanya dijuluki, “as-Syahid bin as-Syahid”. Ia lulus mengamalkan ayat: quu anfusakum wa ahlikum naaran(peliharalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka). Kepahlawan model demikian merupakan kepahlawan di atas kepahlawanan.
            Kebaikan yang ditularkan secara sosial akan membentuk energi yang begitu besar. Energi yang begitu besar ini pada gilirannya akan mampu membuat perubahan-perubahan sosial. Namun jika kebaikan itu mandeg, berhenti pada diri sendiri maka tidak akan mempunyai dampak perubahan. Kebaikan semacam ini akan terbawa arus kejelekan yang dominan. Kebaikan semacam ini tak mampu mewarnai, malah diwarnai. Kebaikan semacam ini laksan air yang menggenang. Semakin lama air menggenang, akan menimbulkan bau tak sedap. Maka jangan heran kalau ada kasus dimana kebaikan malah berdampak negatif secara sosial. Ini bisa timbul ketika orang merasa baik secara pribadi, kemudian acuh tak acuh dengan kepentingan sosial. Waktunya kerja bakti sosial, ia malah mengaji di Mushallah; waktu ada orang membutuhkan bantuan, ia malah asyik bermunajat pada Tuhan. Dengan demikian, kebaikan harus dialirkan, supaya tetap segar dan mampu memberikan manfaat sosial. 

Cinta di Kelam Senja

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 10 November 2012 | 17.24


          Mentari sore semakin tenggelam menyenja, menuju kelam malam. Menyajikan keindahan panorama sunset yang begitu memesona jiwa. Bulan sabit sudah mulai menampakkan wajahnya. Beberapa hari lagi akan memancarkan keindahan purnamanya. Angin begitu semilir memasuki mobil Aji yang jendelanya lagi terbuka. Sederetan lampu di jalan raya mulai hidup membentuk garis horisontal yang sangat indah. Bersamaan dengan itu, terdengar kumandang adzan yang begitu merdu dan menawan jiwa. Oooh betapa senangnya perasaan Aji Kurniawan, akhirnya ia bisa kembali ke negeri tercinta, setelah menyelesaikan studinya di Madinah. Tulisan yang diajukannya dulu yang berjudul: “Relevansi Ilmu Hadits dalam Metodologi Ilmu Modern” telah diujikan, dan dapat meraih nilai mumtaz `ala syarfil `ula(Summa Cumloud). Betapa bahagianya ia, cita-citanya selama ini untuk merampungkan studi S-2nya di tanah tempat tinggal Nabi. Meskipun ia harus melaluinya dengan berbagaimacam halangan dan rintangan, hingga pernikahannya dengan Puspita Sari gagal, akibat pilihan yang sangat rumit dan dilematik. Namun dalam dasar sanubarinya ia selalu percaya, bahwa Allah pasti menganugerahkan padanya jodoh yang shalihah, yang mampu menjadi penenang hatinya. Ia sangat yakin bahwa selama manusia betul-betul baik dan berusaha dengan baik untuk mencari jodoh, maka Allah akan memudahkan jalannya.
            Aji begitu hanyut dalam rasa syukur selama di mobil. Di sela-sela ia melamun, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara Pak Hermawan selaku supirnya: “Mas, sudah waktunya buka, monggo di minum airnya, O ya tadi bapak sama ibu minta maaf soalnya tidak bisa menjemput mas di Juanda soalnya sedang melayat teman dekatnya yang meninggal”. “O ndak papa Pak, aku sama sekali tak meragukan Bapak sama Ibu, kalau mereka tak bisa menjemput, pasti ada urusan mendadak. Jangan lupa Pak, entar mampir dulu ke rumah Shinta Aulia, aku sudah kangen mau ketemu dia, sekalian ketemu om dan tante”. “Ok...beres mas, kita akan meluncur ke sana, semoga saja ndak macet”. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya Aji sampai di rumah Shinta Aulia. Dipencetlah bel yang ada di depan rumahnya. Beberapa saat setelah itu pembantunya keluar.  “Maaf ini siapa ya? Ada keperluan apa dan mau nyari siapa?”. “ Bik Sanipah ni gimana, masak lupa sama Aji”. “Lho...ternyata sampean toh, maklum mas bibi sudah tua, matanya kurang awas, jujur aku panggling lho sama sampean, tambah bersih, tambah ganteng aja, hehehe, monggo-monggo, kebetulan di rumah ada Shinta sama tantemu.
            “Bi siapa yang ngebel tadi?”(tanya Shinta). “Anu mbak, mas Aji baru datang dari Madinah, mampir ke sini dulu”. “Hah....yang bener bik, awas yah tuh anak pulang ga ngomong-ngomong, tau gitu `kan tak jemput ma suamiku, anak itu sukanya bikin surprise(kejutan) aja. Maa...ada Aji Maa(Panggil Santi ke mamanya yang bernama: Wulandari). “Lho masak ndok, kok aku gak dikasih kabar sama pamanmu, katanya masih kurang beberapa bulan lagi”(sahut bu Wulan). “Assalamu`alaikum tante and Si Bawel Shinta heeee”. “Wa`alaikumussalam. Ih kamu Ji, kebiasaan kalau pulang ga ngasih tau. Aku tuh sebenarnya dari dulu pingin jemput kamu di Juanda, eh kamunya sukanya pulang ga ngomong-ngomong”Ujar Shinta. “Gimana le kabarmu baik-baik saja kan, tante, om sama Shinta kangen banget sama kamu, sudah sekitar 3 tahunan kita tak ketemu, kamu juga jarang ngasih kabar sih, coba kamu punya FB atau paling tidak twitter kan nanti bisa hubungan”. “Hee...maaf sebelumnya ya tante, maaf juga ya Si Bawel, bukannya aku ndak mau ngasih tahu kalian, aku sebenarnya juga kangen banget sama kalian, cuman aku pikir lebih mengesankan kalau ini aku rahasiakan sebagai surprise”.
“Ayo le silahkan duduk dulu, kamu mau minum apa”. “Minum air saja tante”. “Hee...Mas Aji, ngomong-ngomong gimani nih hubungannya ma temenku Puspita, masih nyambung nih....hee?”. “Sudah ga nyambung lagi Sin, waktu itu pas aku di Madinah, aku dihadapkan dua pilihan yang sama-sama berat, antara idealisme melanjutkan studi S2 dengan menikahi Puspita. Gimana ga berat coba, aku waktu itu kan sebenarnya sudah mau lulus, tapi ada masalah yang harus ku selesaikan sehingga aku gagal ketemu dosen pembimbingku, akhirnya pernikahanku dengan Puspita gagal, soalnya aku menundanya untuk menyelesaikan studi lebih dulu, sedangkan keluarganya begitu mendesak, akhirnya ya hubungan kami kandas di tengah jalan”. “Emm gi tu toh, aku turut prihatin mas”. “Sin mana anakmu yang agak sipit itu, hee, mana Alvino?” “Dia ma papanya main ke rumah nenek, aku ndak ikut soalnya agak kurang enak badan. Alvino sekarang tambah imut, gemuk dan lucu lho mas, pokoknya nanti kalau mas lihat pasti gemes, dia sekarang baru masuk TK”.
“Ini minumannya Ji, monggo ayo diminum. Kamu dah punya calon ya? Kapan kamu nikah? Studi sudah selesai, usia juga sudah 25 tahun, nunggu apalagi Ji?”. “Hee..masih belum tante, soalnya aku sempat gagal, aku pikir aku fokus studi dulu, dan al-hamdulillah sekarang sudah kelar”. “Mas, kalau emang belum, aku punya calon buat mas. Namanya Aisyah Dwi Artanti. Ia lulusan pondok tahfidh di Jawa Barat. Masalah kecantikan, ndak kalah lho sama Puspita, ia juga sudah hafal Al-Qur`an, kebetulan dia sudah lulus dan siap untuk menikah”. “Tunggu-tunggu, kayaknya aku tau anak itu, bukannya itu adik kelasmu dulu yang terkenal baik, cantik dan pinter waktu di SMP?”. “Iya Mas, habis SMP dia mondok di pondok tahfidz”. “ Kalau anak itu insyaAllah aku mau Sin. Sebenarnya meski ga cantik-cantik amat aku juga mau asalkan shalihah. Kalau ternyata ada yang baik, cantik, pintar dan hafal AL-Qur`an, maka itu benar-benar anugerah, hee”. “Ok kalau pean mau entar anaknya tak hubungin. Buruan lho entar kedahuluan orang, hee, nyesel slho kalau kedahuluan”.

Setelah satu jam lebih berada di rumah tante Wulan dan Shinta, akhirnya Aji pamit pulang, sembari memberikan oleh-oleh pada mereka. Sesampainya di rumah ia sudah ditunggu oleh sanak keluarganya. Kedatangan Aji disambut dengan begitu hangat. Selang beberapa jam kemudian setelah sanak-keluarganya sudah pulang, ayah dan ibunya baru datang dari melayat. Ketika melihat wajah Aji, ibunya tak kuasa membendung air matanya, anak lelakinya sudah pulang ke kampung halaman, sekarang ia sudah tumbuh dewasa, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Ayahnya pun merangkulnya penuh haru. Setelah melepas kangen dan bercerita banyak hal, menjelang tidur Ayah Aji memanggil Aji ke ruang tamu bersama dengan ibunya. Sesampainya di ruang tamu, ayahnya berkata: “Nak, ayah pingin ngomong serius sama kamu, Bapak `kan tadi habis melayat sahabat bapak, Nah sebelum meninggal dulu ia pernah ngomong sama Ayah, Kalau bisa ia ingin menjodohkan anak terakhirnya yang bernama Sabrina Cinta As-Syifa. Anaknya lulusan kedokteran lho le, meski ia ga pernah mondok, tapi keluarganya itu sangat menjaga rambu-rambu agama. Anaknya di samping cantik berjilbab, juga taat lho sama orang tua. Mungkin ini terlalu tergesah-gesah, tapi saya pikir biar ga lupa wasiat ini langsung tak sampaikan saja padamu, mau tidaknya kamu yang menentukan, tapi Ayah dan Ibu sangat berharap kamu mau menerimanya, aku menerimanya bukan karena kekayaannya, aku sama ibumu tau betul kalau dia itu anak yang baik, lagian kamu kan belum ada calon”. Mendengar pernyataan Ayahnya, Aji bergumam dalam hatinya: “Wah gimana nih, aku sudah terlanjur ngomong ke Shinta kalau menerima tawarannya dijodohkan dengan Aisyah, sedangkan Sabrina juga anak yang baik, jadi bingung aku, mau nolak juga ndak tega sama Ayah dan Ibu. Aku harus bagaimana ya?”.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan