Latest Post
Prahara Cinta
Written By Amoe Hirata on Rabu, 13 Maret 2013 | 17.28
Di sepertiga malam yang sunyi, Aji
menyimpuhkan kaki bermunajat ke hadirat Allah Swt. Setelah menunaikan shalat
tahajud, ia mulai membuka mushaf al-Qur`an sembari melantunkannya dalam suasana
hening. Dengan tatapan yang teduh, sembari tepekur merenungi ayat-ayat
Al-Qur`an Ia berusaha menyimpan rapat-rapat suasana hatinya. Dirinya merasa
bingung bukan main. Hatinya berkecamuk laksana lautan digoyang angin membentuk pusaran
gelombang. Gelombang ‘pilihan rumit’ begitu menderu menggalaukan pikiran dan
hatinya. Di hadapannya ada pilihan pelik: memilih cinta Aisyah Dwi Artanti atau
Sabrina Cinta As-Syifa? Bagaimana tidak berat, keshalihan dari keduanya sudah
tak diragukan lagi. Masing-masing dari keduanya juga memiliki keunggulan dan
kelebihan masing-masing. Aisyah Dwi Artanti di samping shalihah, ia adalah
akhwat yang baru lulus dari pondok tahfidz al-Qur`an, dan al-hamdulillah ia
juga telah menamatkan hafalan al-Qur`an. Sejak dahulu Aji mengidam sosok
pendamping hidup yang shalihah dan penghafal al-Qur`an. Sedangkan Sabrina Cinta
As-Syifa merupakan anak dari sahabat bapaknya yang dulu pernah diceritakan ke
Aji, bahwa papa dari Sabrina menginginkan perjodohan antara Sabrina dan Aji.
Sabrina di samping cantik, kalem, cerdas, lulusan kedokteran –bahkan sudah
praktik- ia juga termasuk cewek yang sangat menjaga aurat. Dan yang pasti,
Sabrina merupaka tipikal cewek yang sangat taat pada orang tua. Sewaktu masih
kuliah di Madinah, ia memang pernah mengidamkan sosok dokter sebagai pasangan
untuk melengkapi perjuangan dakwah.
Malam itu keresahan hati Aji belum
juga reda. Keraguan semakin menjadi-jadi. Besok adalah hari penentuan
keputusan. Aisyah apa Sabrina? Begitu kurang-lebih suara hatinya yang tak
kunjung diam. Padahal ia sudah mengiyakan Shinta Aulia untuk mendatangi rumah
Aisyah. Ia juga tak pernah menolak permintaan ayah dan ibunya ketika ditawari
Sabrina. Benar-benar membingungkan. Ia pun memutuskan untuk shalat istikharah.
Di saat-saat seperti ini, jangan sampai ia dikuasai oleh nafsu. Bagaimanapun
juga ia harus hati-hati dalam memilih calon ibu dari anak-anaknya. Ia tahu
betul bahwa memilih calon istri yang tepat merupakan gambaran masa depannya. Laksana bahtera yang
mengarungi samudera, maka seorang calon suami harus berhati-hati dalam
menentukan calon pendampingnya. Bila salah pilih, maka penderitaan akan selalu
mengiring pelayarannya, menuju pulau impian. Istri tak shalihah ibarat duri
dalam daging. Bayangkan ketika menyusuri samudera dengan bahtera, di luar ada
ombak bergulung-gulung, diri sendiri sibuk mengemudikannya, sedang istri tak
mau mendukung, selalu membuat resah dan bingung, bahkan begitu menyakitkan
bagai duri dalam daging, oh alangkah sengsaranya jika salah pilih. Ia pun
beristikharah dengan penuh khusyu`. Setelah itu ia berbaring sebentar untuk
menunggu shalat shubuh.
*********
Pagi hari di samping rumah, Aisyah
terlihat sumringah. Dari kejauhan ia terlihat asyik duduk di samping kolam
ikan. Tatapannya syahdu, bibirnya terlihat selalu bergerak melantunkan dzikir.
Ia bergumam dalam hati: “Alangkah indahnya sepasang ikan emas itu. Hidupnya
terlihat rukun, disertai banyak anak yang begitu indah mirip seperti kedua
orang tuanya. Heemm bagaimana ya nanti kalau aku berumahtangga? Apakah akan
sebahagia itu. Berjuang bersama mas Aji. Saling mendukung. Saling mengingatkan.
Bercengkrama penuh bahagia, dan memiliki banyak anak yang akan dipersiapkan
untuk menjadi mujahid-mujahid pejuang agama. Oh betapa Indahnya, membangun
bahtera rumahtangga bahagia. Mempunyai suami yang shalih, bertanggungjawab, penyayang,
dan pejuang merupakan idamanku sejak dulu” tak terasa ia hanyut dalam lamunan
sampai akhirnya lamunannya buyar lantaran dipanggil ibunya.
“Aisyah.......Aisyah....Aisyah” panggil ibunya. “Astaghfirullah...ternyata
aku terlena dalam lamunan orang yang belum halal untukku. Maafkan aku ya
Allah”gumam hatinya. “Iya bu, Aisyah sedang di samping kolam. Ibu tidak usah
kesini, biar Aisyah saja yang ke situ”. “Baik nak, kamu kesini sebantar ibu ada
perlu”. “Iya bu saya ke situ sekarang” jawab Aisya disertai senyum khasnya yang
beriring lesung pipi.
“Aisyah, tolong kamu pergi ke dapur
membantu bibi. Ibu mau pergi ke pasar untuk membelikan bumbu-bumbu dan
keperluan-keperluan lain yang belum lengkap untuk acara lamaran nanti sore”
pinta ibunya. “Iya bu dengan senang hati akan saya bantu bibi di dapur” jawab
Aisyah. Sejurus kemudian, dengan lekas ia pergi ke dapur membantu bibi Salimah.
Bibi Salimah adalah pembantu rumah yang sudah Aisyah anggap seperti bibinya
sendiri. Bibi Salimah mulai bekerja sejak Aisyah baru dilahirkan yaitu sekitar
duapuluh tahun silam. Keduanya begitu akrab. Bibi Salimah sangat tau betul
karakter Aisyah. Bahkan ketika Aisyah lagi bersedih, ia selalu dijadikan
sebagai tumpahan curhatnya. Bagi bibi Salimah, Aisyah sudah seperti anaknya
sendiri, ia begitu menyayanginya. Ini sangat beralasan, bertahun-tahun ia belum
dikaruniai anak, Aisyah ba` anaknya sendiri. “Assalamu`alaikum bi” sapa Aisyah
dengan senyum merekah pada bibi Salimah. “Eh, Chacha - panggilan khas Aisyah -
, sini nak bantu bibi. Tak terasa ya sekarang usiamu sudah genap duapuluh
tahun. Tapi bagi bibi kamu masih imut-imut dan masih lucu seperti waktu kecil
dulu, hehehe. Ingat ga ketika kamu dulu ngambek gara-gara ndak dibelikan boneka
sama ayahmu? Kamu mendatangi bibi sambil memohon dan memelas dengan bahasa yang
belum begitu jelas agar bibi bisa membujuk ayahmu. Karena bibi berhasil
membujuk ayahmu, akhirnya kamu menjuluki bibi sebagai “bibi peri” hehehe, ingat
itu kamu sangat lucu sekali dan manja” ucap bibi Salimah mengingatkan.
“Hehe...ah bibi, kalau aku ingat itu jadi malu rasanya. Sekarang `kan Chacha
sudah tumbuh dewasa. Lihat Chacha sekarang sudah lebih tinggi dari bibi.
Menurut bibi Chcaha masih manja ya?”. “Hehehe, Cha, gayamu masih seperti yang
dulu. Kamu tambah cantik dan manis, seperti anak peri di tv tv. Cuma kamu masih
terlihat manja. Tak terasa ya, nanti sore kamu akan dikhitbah(dilamar). Jujur
bibi sebenarnya belum siap ditinggal kamu”. “Bi, jangan gitu dong, Chacha jadi
terharu. Nanti Chacha janji, insyaallah akan selalu saya sempatkan berkunjung
kerumah sebulan sekali”. “Baik nak, bibi pegang janjimu. Ayo sini cepat bantu
bibi bikin kue”. “Siap bibi peri, anak peri akan mengerahkan segenap
bantuannya, hehehe” sahut Chacha.
********
Wajah Sabrina terlihat sayu. Tatapannya
kosong. Matanya berkaca-kaca. Beberapa hari yang lalu ia terlihat begitu
gembira meluap asa ketika tahu kalau akan dilamar oleh Aji, anak sahabat
papanya yang lulusan universitas Madinah. Namun sekarang ia bersedih. Harapan
pernikahannya seolah buyar seketika. Baru saja ia mendapat kabar tak baik dari
mamanya. Keluarga Bapak Yuda Karisma, tadi pagi ke rumah. Intinya, mereka
memohon maaf sebesar-besarnya kalau ternyata lamaran tidak jadi. Mereka juga
merasa sangat bersalah dengan keputusan yang mendadak ini. Mereka mengira, dulu
ketika Sabrina ditawarkan ke Aji, mereka anggap Aji setuju lantaran tak
berkomentar apa-apa melainkan senyuman. Kemarin baru mereka tahu kalau Aji
sudah punya calon yang akan dilamar. Aji memang pada waktu itu dirundung bingung.
Ia sudah terlanjur berjanji ke Shinta untuk melamar Aisyah, di sisi lain ia
juga seolah mengiyakan tawaran ayahnya. Sehingga ia berada pada posisi sulit,
meskipun memang menurut penuturan Aji keduanya merupakan wanita idaman Aji.
Namun bagaimanapun juga Aji harus tetap memilih. Dalam istikharahnya kemarin,
Aji diberi tanda-tanda melalui mimpi bahwa yang nampak ialah gadis berjilbab
pembawa al-Qur`an. Akhirnya ia mantap kalau yang dimaksud adalah Aisyah, karena
Aisyah lah yang memang hafal al-Qur`an. Mama Sabrina pun menyadari dan tak
memaksakan kehendak. Bagaimanapun juga jodoh sudah ditentukan sama Yang Di
Atas. Manusia hanya bisa berusaha, sedang takdir berada di tangan Tuhan. Ketika
berita itu disampaikan pada Sabrina, karuan aja ia langsung sedih.
Beberapa
hari kemarin sewaktu ia mendengar profil dan fhoto Aji, ia seolah jatuh cinta
pada pandangan pertama. Ia sangat mengidamkan sosok laki-laki shalih yang mempu
mengayomi dan menjaga dirinya. Hati kecilnya begitu yakin, bahwa sosok
impiannya berada pada pribadi Aji. Melihat anaknya yang dirundung gulana,
dengan sigap ibunya menasehati: “Nak, jangan terlalu larut dalam kesedihan.
Jodoh itu berada di tangan Tuhan. Kamu tentunya masih ingat kata-kata papa yang
disadur dari al-Qur`an. ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik
bagimu; boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu’. Mungkin
kamu benci dengan keputusan Aji, ibu juga menyadarinya, tapi kamu perlu ingat,
barangkali di balik kebencianmu, Allah akan menyiapkan calon imam yang lebih
baik daripada Aji, untukmu, tentunya jika kamu mampu melewati semua ini dengan
sabar dan hanya berharap padanya” nasihat mamanya mendinginkan suasana hati.
Lambat laun Sabrina sadar juga. Ia tak boleh larut dalam kesedihan. Buat apa
bersedih terhadap sesuatu yang tak mungkin diraih. Ia harus tetap optimis. “Terima
kasih ma. Mama selalu pandai dari dulu dalam mendamaikan hatiku” tukas Sabrina.
“Sekarang tenangkan dirimu. Perbanyak memohon pada-Nya. Tenang aja mama punya
sahabat, yang anaknya tak kalah baik dengan Aji meskipun bukan lulusan Arab.
Kapan-kapan kalau kondisi hatimu sudah benar-benar membaik, nanti akan mama
kenalkan. Ingatnya ya nak, sekaran kamu jangan sedih lagi. Fokuslah pada
pekerjaanmu. Yang lalu biarlah berlalu. Tataplah masa depan yang cemerlan”
pungkas mama Sabrina.
*******
Di kediaman Aisyah, ba`da ashar
persiapan sudah sempurna. Meski tak terlalu mewah, tetapi suguhan yang
disajikan juga tak murah. Semua keluarga diundang untuk menyambut kedatangan
tamu agung. Sebentar lagi, putri meraka akan dilamar oleh laki-laki shalih
lulusan Madinah. Buraian senyum menghiasi bibir mereka. Kebahagian terlihat
jelas dari muka mereka. Hati Aisyah berdegup kencang, ia larut dalam
bayang-bayang cinta yang sebentar lagi datang. Bagai di alam mimpi, ia
mencubit-cubit pipinya, seakan tak percaya kalau sebentar lagi ia akan dilamar
oleh calon imam yang ia cintai. Ia berdo`a dala hati: “Ya Allah Ya Rahman Ya
Rahim, tautkanlah hati-hati kami dengan ikatan cinta sejati. Cinta yang dibina
karena cinta kepada-Mu. Cinta yang dibangun berdasarkan ketaatan pada-Mu. Cinta
yang tak kan lekang oleh waktu. Anugerahkan kami cinta sejati, yang selalu
membuat kami sadar akan cinta-Mu”.
Jam menunjukkan pukul 16.00 Wib.
Rombongan yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga. Beberapa sanak
keluarga yang ditugasi menyambut kedatangan rombongan keluarga Aji sudah siap
menyambutnya dengan suka-cita. Anak-anak kecil juga tak kalah semangat untuk
turut menyalami para tamu yang baru datang. Sambutan sore ini dari keluarga
Aisyah begitu hangat dan bersahabat. Diajaklah keluarga Aji memasuki rumah
Aisyah. “Assalamu`alaikum” rombongan bapak Yuda Karisma mulai menyapa keluarga
Aisyah dengan senyuman. Keluarga Aisyah pun berdiri menyambut keluarga bapak
Yuda Karisma. Ketika dua keluarga besar sama-sama bertatap muka, sesuatu yang
tak diinginkan pun terjadi. Dengan tanpa bisa mengontrol diri, ibu Aisyah yang
bernama Marta Anjani Mustika langsung menampar wajah bapak Yuda Karisma.
Kegaduhan pun terjadi. Orang-orang pada bingung bertanya-tanya dalam hati. “Oh,
ternyata kamu di sini. Akhirnya Allah mempertemukan kita juga. Masih tidak
puaskah kau membohongiku seperti dulu. Tidak, aku tak mau tertipu untuk yang
kedua kalinya. Kita batalkan saja lamaran ini. Aku tak mau mendapat besan
penipu” ungkap Marta dengan luapan amarah.
Dengan segera ayah Aisyah, Hamdani
Syahbani menenenangkan istrinya. “Bu, kendalikan emosimu. Malu banyak orang di
sini. Memangnya ada apa kok kamu tiba-tiba bersikap seperti itu? Tanya Hamdani
keheranan. “ Ayah, kamu masih ingat kan ceritaku dulu sebelum aku menjadi
istrimu? Aku dulu pernah dijanjikan oleh seorang laki-laki -yang aku cintai-
untuk dinikahi. Ia sudah datang melamarku. Ia berjanji menikahiku. Lalu pas
acara pernikahan, tiba-tiba ia tak datang dengan alasan yang sampai sekarang
aku tak tahu. Keluargaku dibikin malu dengan peristiwa itu. Hatiku seakan remuk
berkeping-keping saat itu. Itulah laki-laki yang aku ceritakan dulu padamu,
Mahesa Muhammad. Meskipun namanya diganti Yuda Karisma, tapi aku tak akan lupa
dengan ciri bekas luka yang ada di dagunya. Sudah kita batalkan aja, ga ada
acara lamaran hari ini” dengan penuh emosi yang belum juga redam ibu Aisyah
membuat suasana sore hari itu semakin gaduh.
Ibu Aji, Sekar Ayu Wulandari merasa
tidak terima dengan kejadian ini. Dengan segera ia menarik tangan suaminya dan
mengajak rombongan Aji beserta keluarga pulang segera. Ia berkata pada Aji:
“Ini yang kamu bilang keluarga agamis dan taat beragama? Beginakah cara orang
yang taat beragama menyambut tamu? Begitukah Islam mengajarkan? Aku sudah lama
tahu cerita tentang Marta dari ayahmu, tapi aku menyadari kekhilafannya. Tapi
yang tidak bisa aku terima, kenapa masalah ini diselesaikan dengan cara yang
tak begitu sopan seperti ini. Mengapa ayahmu tak diberi kesempatan untuk
menjelaskan? Martabatku sebagai manusia seolah-olah diinjak oleh Marta
gara-gara perilakunya tadi. Ayo kita pulang ga usah ada lamaran. Aku tak sudi
menjadi besannya” ungkap Sekar sambil marah. Batallah lamaran pada sore hari
itu. Suasana yang sebelumnya hangat dan penuh bahagia, tiba-tiba berubah
menjadi dingin dan penuh amarah. Sebenarnya ayah Aisyah berusaha menahan
keluarga Aji untuk membicarakan masalah ini dengan baik, tapi seperti pepatah:
ibarat nasi sudah menjadi bubur. Segala upaya menjadi percuma. Akhirnya
keluarga Aji pulang dengan tangan hampa.
*******
Malam hari Aisyah mengurung diri di
kamar bibi Salimah. Ia sangat sedih bukan main. Hatinya dipenuhi rasa malu,
sedih, marah, resah yang begitu besar. Ia tak percaya, kalau ternyata hari
kebahagiaan yang dimimpikan hanya seperti fatamorgana di padang pasir. Cinta
yang bersemi dalam hatinya seakan gugur layu dihempas prahara. Cintanya diterpa
prahara. Hati dan pikirannya serasa sakit tak terhingga. “Bi, kenapa aku diuji
dengan ujian seberat ini? Setahuku ibu adalah sosok yang sangat ramah,
berakhlak mulia, dan selama ini belum pernah aku melihatnya seperti ini.
Seberat-berat masalah, aku tak pernah melihat dia kehilangan kontrol. Kalaupun
itu berkaitan dengan masa lalunya yang kelam, kenapa dikait-kaitkan dengan
anak. Bukankah tak ada manusia yang tak pernah salah? Kenapa ibu tak
memaafkannya” tanya Aisyah sesenggukan. “Nak, kamu harus memahami ibumu. Luka
yang dialami ibumu dulu memang begitu dalam. Ia pernah dikhianati oleh seorang
yang ia cintai. Tanpa dinyana sama sekali, ternyata orang yang mengkhianati
cintanya adalah bapaknya Aji. Kalau saja ibumu tahu kalau bapaknya Aji itu
adalah Mahesa Muhammad, pasti sejak awal tidak akan direstui” jawab bibi
Salimah.
********
Di kamar atas tempat istirahat ayah
dan ibu Aisyah suasananya lenggang. Tak seperti biasanya kondisinya begitu sunyi. Marta masih terlihat
bermuram durja. Perlahan-lahan, suaminya pun berusaha menenangkan hatinya.
“Dik, aku tahu kamu pernah mengalami masa-masa pahit dengan Mahesa. Aku pun
kalau jadi kamu juga akan marah sejadi-jadinya kalau diperlakukan seperti itu.
Tapi kamu harus ingat, Islam selalu mengajarkan untuk memaafkan kesalahan
orang. Allah saya Maha Pemaaf. Kenapa kita sebagai manusia tak bisa memaafkan
kesalahan orang lain. Kenapa kamu tidak memberinya kesempatan untuk
menjelaskan? Ayolah dik, bukalah hatimu. Kamu apa tidak kasihan dengan Aisyah.
Secara sadar atau tidak kita telah menghancurkan kebahagiannya. Bagaimanapun
juga, anak `kan tidak ikut-ikut dengan kesalahan ayahnya. Aku lihat Aji adalah
anak yang berbakti dan shalih. Keduanya pun juga saling mencintai. Kamu masih
ingat `kan hadits Rasulullah yang berbunyi: ‘Jika datang kepada kalian
seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia.
Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar’?.
Kalau kita salah mengambil keputusan, maka dampak negatif akan menimpa putri
kita. Menurut saranku, kamu selesaikan masalahmu dengan ayahnya Aji dengan
baik-baik, nanti aku temani. Kemudian lamaran anak, kita teruskan lagi” saran
Hamdani Syahbani. “Iya mas, sebenarnya aku juga sangat menyesal melakukan
perbuatan tadi. Setan menguasai diriku, aku merasa diperbudak nafsu dan amarah.
Besok kita segara menyelesaikan masalah ini. Kita pergi ke rumah Aji Kurniawan”
balas Marta dengan penuh kesungguhan. “Baiklah. Sekarang kita istirahat dulu”
ajak Hamdani.
********
Kondisi di rumah Aji pun tak kalah
suram. Perasaan malu, kecewa, mangkel, marah bercampuraduk jadi satu. Ia tak
pernah mengira hubungannya akan berakhir menjadi seperti itu. Sempat terlintas
dalam benaknya pertanyaan: “apakah tanda yang diberikan Allah lewat mimpi itu
salah, apau aku yang salah memahaminya?”. Di ruang tamu mereka berkumpul
membicarakan masalah yang terjadi dengan sisa-sisa amarah. “Pokoknya aku tidak
setuju mas. Aku tau sampean itu memang pernah melakukan salah. Mas juga pernah
menjelaskannya panjang lebar kepadaku. Dan aku sudah memakluminya.
Bertahun-tahun aku juga melihat kesungguhanmu mencari Marta untuk minta maaf,
tapi tak juga bisa ditemukan. Ternyata tanpa dinyana kita dipertemukan
dengannya dalam momen seperti ini. Kamu tak sempat menjelaskan, malah
dipermalukan di depan umum seperti itu. Benar-benar bukan akhlak islami.
Sebagai wanita aku sudah tak mau meneruskan hubungan anak kita dengan Aisyah”
ungkap Sekar. “Tolong tenangkan hatimu, apapun pendapatmu aku setuju. Tapi
urusan pribadiku harus tetap diselesaikan dengan cara sebaik-baiknya. Untuk
Aji, aku pikir kamu sudah dewas dan bisa menentukan sikap. Kamu jangan putus
asa karena putus cinta. Barangkali Aisyah bukan jodohmu. Kalau kamu mau nanti
aku sama ibu ke rumah Sabrina memintanya untuk menjadi istrimu” balas Yuda
Karisma. “Kepada-Nya lah aku berserah yah. Begitu berat cobaan yang menimpaku.
Berkali-kali aku gagal menjalin hubungan. Semoga setelah ini, aku dipertemukan
dengan kekasih yang benar-benar sejati” tanggapan Aji menimpali ayahnya.
*******
Kabar gagalnya lamaran Aji lambat
laun terdengar oleh keluarga Sabrina. Namun apa daya, ternyata Sabrina sudah
menerima lamaran Muhammad Syahdu Al-Hiqni, anak sahabat mamanya yang berkerja
sebagai pengacara profesional. Ingin rasanya Sabrina kembali menerima Aji,
namun janji sudah kadung dibuat dengan Syahdu. Ibunya pun sudah bilang ke
keluarga bapak Yuda, bahwa tak mungkin Sabrina menerima tawaran Aji Kurniawan,
karena Sabrina sudah dilamar orang. Cinta Aji pun ditimpa prahara. Benih-benih
harapan yang selama ini tumbuh, semakin melayu. Ia serba bingung. Kalau kembali
ke Aisyah, ibunya pasti tak setuju.Sabrina pun sudah dilamar orang. Beberapa
hari ia merenung tepekur. Berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan. Berserah dan
meminta kepada-Nya, barangkali selama ini ada yang salah dengan dirinya.
Hampir-hampir ia putus asa dengan yang namanya cinta. Hanya saja, keimanan tak
pernah mengijinkan seorang mukmin putus asa. Ia ingat betul bahwa hanya
orang-orang yang tak beragama yang putus asa dengan rahmat Tuhan. Bagaimanapun
juga ia harus tetap bertahan. Mengaduh hanya kepada-Nya. Allah pasti akan
mempertemukan jodoh untuknya. Peristiwa ini ia torehkan dalam bait-bait puisi:
Ketika hati sudah
yakin
Bahwa cinta kan
terjalin
Tak dinyana
Cinta ditimpa prahara
Hati kaya menjadi
miskin
Jalan mudah menjadi
labirin
Apa benar cinta
Jika berakhir duka
Tapi iman membuatku
yakin
Bahwa Tuhan kan
prihatin
Pada hamba yang tak
putus asa
Yang hanya pada-Nya
ia meminta
[Bagaimana
kelanjutan kisah cinta Aji. Apakah nantinya ia akan berjodoh dengan Aisyah apa
Sabrina? Atau malah akan berjodoh dengan gadis lain yang lebih shalihah. Kita
tunggu saja kisah selanjutnya].
Kesenjangan
Written By Amoe Hirata on Selasa, 12 Maret 2013 | 01.30
Bujang!
Kau lihat gedung tinggi menjulang
Jangan tertipu dengan kemegahan itu
Nyatanya pada sekeliling
Banyak manusia tak berpunya
Akan kau jumpai kesenjangan yg begitu tajam
Yang satu dengan enak makan ayam
Yang lain hanya bisa makan bayam
Siapa yg kan peduli dengan nasib mereka
Orang berpunya tlah mengabaikanya
Semoga itu kamu
Ku yakin itu
Kau lihat gedung tinggi menjulang
Jangan tertipu dengan kemegahan itu
Nyatanya pada sekeliling
Banyak manusia tak berpunya
Akan kau jumpai kesenjangan yg begitu tajam
Yang satu dengan enak makan ayam
Yang lain hanya bisa makan bayam
Siapa yg kan peduli dengan nasib mereka
Orang berpunya tlah mengabaikanya
Semoga itu kamu
Ku yakin itu
Ranjau Cinta
Written By Amoe Hirata on Kamis, 21 Februari 2013 | 17.30
Keduanya dikenal sebagai guru yang
mempunyai etos kerja yang tinggi. Semangat dakwah dari keduanya tak perlu
diragukan lagi. Merupakan keberuntungan yang tak terkira bagi warga perumahan
Taman Asri dianugerahi dua orang ustadzah yang hafal al-Qur`an serta berilmu
luas. Dulu sebelum adanya kedua ustadza Kaila dan Puspita, warga perumahan
jarang sekali terlihat ke masjid. Rata-rata beragama Islam, namun Islamnya
hanya sebatas KTP. Kehadiran kedua ustadzah pada awalnya meresahkan hati
mereka, karena mereka sudah terbiasa beragama hanya sekadar simbolis. Lebih
dari itu mereka merasa susah kalau harus menjalankan Islam yang kâffah(secara
menyeluruh). Dengan ketabahan hati dan semangat yang tiada henti dari kedua
ustadzah tadi, mereka pun terketuk pintu hatinya. Hati yang dulunya tandus
kering, kini telah menjadi basah dan sejuk oleh petunjuk ilahi.
Tak seperti biasanya, sore ini Kaila
terlihat sedih. Sejak awal mulai mengajar, Puspita Sari memperhatikan aura
wajah yang sedikit aneh dari diri Kaila. Ia seakan menahan kepedihan, padahal
Kaila yang ia kenal selalu terlihat riang gembira. Apa yang Puspita lihat sore
ini berkaitan dengan Kaila, begitu membuat hatinya dipenuhi tanda tanya. Bukan
hanya Puspita yang merasa aneh dengan kondisi Kaila. Para murid TPQ yang biasanya
selalu terhibur setiap kali diajar Kaila merasa tegang. Sesekali memang Kaila
berusaha mengurai senyum dan mencairkan kekakuannya, namun ia tak berhasil
mencairkan suasana. Sampai-sampai ada salah satu murid yang bertanya: “Maaf
Ustadzah, sampean lagi sakit ya?”. “Tidak anak-anak, ustadza baik-baik
saja,” dengan datar ia menjawabnya.
Karena penasaran dengan sikap Kailah
yang agak aneh, sepulang ngajar Kaila diajak ke rumah Puspita. Puspita yakin
Kaila sedang dilanda masalah serius. Sesampainya di rumah Puspita, dengan agak
menahan kesedihan, akhirnya ia mencurahkan kesedihan hatinya. “Mbak, jujur aku
merasa sedih dan malu. Sebenarnya aku juga tidak kuat untuk menceritakan
masalah keluargaku. Tapi di lain sisi aku ingin mencurahkannya kepada orang
yang aku percayai, supaya kesedihan di hati ini bisa sedikit terobati,” tutur
Kaila memulai. “Iya Kaila, mbak tau kamu lagi sedih. Curahkan saja kesedihanmu,
sebagai sesama saudari semuslim, aku akan berusaha membantu jika memang aku
mampu, kalau aku tidak mampu, nanti aku minta bantuan kepada suamiku,” sambut
Puspita Sari sembari menenangkan hati Kaila.
“Sebagai anak perempuan, aku sangat
sedih mbak. Sampean kenal ayahku `kan? Beliau tanpa sepengetahuan kami telah
menikah lagi. Sebenarnya yang membuat kami sedih bukan terutama pada masalah
nikah. Poligami sebaaimana yang kami ketahui memang dibolehkan asalkan bisa
adil. Lha ayahku mbak, untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja masih
tersendat-sendat kok malah menikah lagi. Ibuku sangat benci dipoligami, meski
dia tau kalau itu halal. Ibuku adalah tipe wanita setia. Baginya menikah hanya
sekali dalam seumur hidup. Ia begitu menjaga erat cinta, meski terkadang
caranya menjaga cinta bukan dengan bahasa lembut. Sekarang hatinya terluka
begitu dalam. Ketika ditanya kenapa ayah menikah lagi, dengan enteng dia
menjawab: “Aku ingin mencari istri yang bisa memberiku modal untuk berbisnis.
Aku sudah tidak kuat hidup seperti ini”.
Dua jam lebih Kaila bercerita
mengenai masalah yang sedang menimpanya. Keharmonisan keluarga yang sudah
seperempat abad terjalin, kini terancam hancur. Hati ibunya dipenuhi dilema. Ia
punya prinsip: “Aku tidak mau di madu. Lebih baik aku diceriai, daripada aku
dimadu”. Di sisi lain, ia juga masih cinta dan sayang pada suaminya. Kesedihan
bertambah meningkat ketika terjadi perubahan yang sangat besar pada sikap
ayahnya. Sudah beberapa bulan ia jarang ke rumah. Kaila, ibu beserta
adik-adiknya merasa ayahnya sudah berubah. Perhatiannya tercurah kepada istri
barunya. Rasa sesal selalu menghinggapi sanubari ibunya: “Kenapa aku dulu mau
nikah dengan Mas Sufyan, padahal aku dulu sudah ada yang melamar. Kalau tau
akan seperti ini jadinya, aku tak kan mau menikah dengannya” begitulah ia
berbicara ketika puncak kesedihan tak bisa tertahankan.
Sekarang ibunya semakin kurus.
Dandanannya semakin tak terurus. Ia sudah jarang sekali makan. Nafsu makannya
seolah dikalahkan oleh rasa sakitnya. Hari-harinya dipenuhi dengan lamunan.
Banyang-bayang masa lalu dengan suaminya –meski tak selalu bahagia- begitu
menyibukkan akal dan hatinya. Malam hari tidak bisa tidur. Pagi hari pikiran
melayang kemana-mana ketika sedang sendiri. Mendengar penjelasan Kaila,
seketika itu Puspita tak kuasa menahan air mata. Apa yang diceritakan oleh
Kaila mengingatkannya kepada pamannya yang hobi nikah. Pamannya mempunyai empat
istri. Puspita sebenarnya juga tidak mempermasalahkan hukum poligami, tapi yang
dipermasalahkan ialah sikap dan perilaku pamannya yang tidak bisa adil.
Jelas-jelas sudah tidak bisa menafkahi lahir dan batin, kok berani-beraninya
menambah istri sampai empat. Akibatnya jelas, keluarganya berantakan dan tidak
harmonis.
“Kaila, untuk saat ini aku belum
bisa membantu secara maksimal. Sejauh yang bisa kubantu, saat ini ialah
membesarkan hatimu. Aku punya paman yang lebih parah dari ayahmu. Dulunya
bibiku ga bisa menerima perlakuan seperti itu. Sampai-sampai badannya sangat
kurus akibat sering memikirkan paman. Dari pengalaman bibiku mau belajar. Ia
sadar bahwa mau diratapi bagaimanapun, semua telah terjadi. Akhirnya dia fokus
kepada anak-anak dan cucunya. Dia sebenarnya berada dalam dilema juga seperti
ibumu. Di satu sisi dia ga mau dimadu, di sisi lain ia juga tidak mau bercerai,
karena masih sayang pada paman. Akhirnya apa? Ia biarkan saja pamanku apa
adanya. Akhirnya lambat laun perasaan sedih dan sumpek sedikit demi sedikit
bisa terkikis,” ungkap Puspita pada Kaila.
“Terima kasih mbak atas
pencerahannya. Sebagai seorang perempuan aku ga bisa langsung lupa mbak.
Terlebih aku malu dengan warga sekitar. Aku bersama adik-adikku `kan dididik
dipondok, dan meski bukan ustadz ayahku sangat peduli dalam pendidikan
keagamaan. Nah yang membuatku malu ialah, kenapa dia yang mengerti agama bahkan
menyekolahkan anaknya dalam pondok pesantren, malah tidak bisa memberi contoh
yang baik bagi anak-anaknya. Aku merasa malu, karena sekarang ayahku jadi bahan
pergunjiangan dan menjadi buah bibir warga. Secara umum mereka berkomentar
sinis: ‘Lha ya, wong ngerti agama kok kaya` gitu. Mendingan yang
ga ngerti agama’. Aku merasa cinta ibu terpelosok pada ranjau derita. Dulu ia
mengiri hubungan cinta dengan ayah akan baik-baik saja sampai mati, nyatanya
cinta terciderai dengan adanya orang lain, layaknya ranjau yang siap
mencelakakan dan menghancurkan orang yang terperangkap di dalamna” komentar
Kaila sambil mengusap air matanya.
“Sekarang begini ya dik, betapapun
kesedihan meliputi hati keluargamu. Kamu harus tetap terlihat tegar. Ibu dan
adik-adikmu sekarang butuh orang yang bisa membesarkan hatinya. Kesedihan itu
bukan untuk disuburkan dengan kesedihan-kesedihan. Kesedihan perlu ditawarkan
dengan kegembiraan. Caranya supaya tidak tambah parah ya seperti tadi, setiap
kali kamu bertemu ibumu pasanglah wajah gembira, beri dia semangat, yakinkan
bahwa dia tidak sendiri, kamu beserta adikmu akan kompak menjalankan hidup
dengan penuh keyakinan untuk menyongsong masa depan yang cemerlang. Jangan lupa
banyak-banyak berdo`a kepada-Nya. Kamu jangan larut dalam kesedihan. Sebenarnya
aku juga ingin memberitahumu sesuatu, tapi aku rasa belum tepat untuk
diomongkan saat ini” timpal Puspita.
Tiba-tiba Kaila menjadi penasaran
mendengar kata-kata terakhir dari Puspita: “Mbak sampean ngomong saja ga papa.
Jangan bikin Kaila penasarang, pleas pleas ya kak sampaikan saja yah,”
pinta kaila dengan wajah memohon. “Begini Kaila, usiamu `kan sudah dua puluh
tahun. Kamu sudah hafal al-Qur`an. Ilmumu juga lumayan luas, kenapa kamu tidak
menyempurnakan agamamu” sahut Puspita. “Maksud mbak gimana nih? Nikah maksud
mbak? Kayaknya belum kepikir sampai ke situ mbak. Apalagi sekarang ibu lagi
ditimpa masalah, aku tidak bisa bahagia ketika ibuku sedang merasakan
kesedihan” komentar Kaila. “Anak dari kiai pondokku sedang mencari pasangan
hidup. Dia menginginkan istri yang shalihah dan hafal al-Qur`an. Usianya
sekitar 27 tahun. Kehidupannya juga sudah mapan. Barangkali siapa tahu Allah
melapangkan jalan untuk membantu beban orang tuamu. Anaknya sholih banget
Kaila. Dia walaupun anak kiai yang kaya dan terkenal, tapi perilakunya sangat
sederhana dan begitu berwibawa. Namun sekali lagi aku tidak maksa, semua
keputusan berada di tanganmu” jawab Puspita.
Setelah satu jam berbicara dengan
Puspita, akhirnya tibalah saatnya Kaila undur diri. Ia mengucapkan
banyak-banyak terimakasih kepada puspita yang membesarkan hatinya, dan mau
meluangkan waktu untuk mendengarkan curahan hatinya. Di sepanjang perjalanan,
dia kepikiran dengan tawaran Puspita. Sudah layakkah dirinya menikah? Dirinya
sekarang diliputi kebingungan. Di satu sisi ia begitu tidak tega dengan
kesedihan yang dialami ibunya, di sisi lain hatinya terketuk –sebagai seorang
perempuan yang sudah baligh- untuk menyempurnakan separuh agamanya. Apa lagi
yang diberitahukan Puspita adalah laki-laki sholih dan mapan. Keshalihan adalah
sebaik-baik bekal bagi terbinanya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah(tenang,
cinta dan sayang). Dan salah satu yang membuat keluarga menjadi kokoh ialah
kemapanan materi. Siapa yang tidak menginginkan laki-laki mapan secara materi?.
Hatinya begitu berkecamuk. Semalaman ia tak mengantuk. Tak lupa ia memohon
petunjuk, kepada Allah agar ditunjukkan jalan terbaik, untuk diri dan
keluarganya. Ia tak mau terjebak dalam ranjau cinta sebagaimana ibunya.
Akan Setia
Written By Amoe Hirata on Minggu, 20 Januari 2013 | 01.30
Angin malam berhembus mesrah
Membelai halus, temani
Kesunyian yang tlah lama menjelma
Pada goresan kata
Yang sarat kan makna
Ia begitu tak peduli
Meski bunga-bunga sayang mengerang
Ia begitu tak menghirau
Meski daun-daun kasih merintih
Yang ia tahu hanya keyakinan
Bahwa ia akan setia
Menggapai impian
Meraih kenyataan
Yang tlah lama tercita
Dalam relung kalbu
Membelai halus, temani
Kesunyian yang tlah lama menjelma
Pada goresan kata
Yang sarat kan makna
Ia begitu tak peduli
Meski bunga-bunga sayang mengerang
Ia begitu tak menghirau
Meski daun-daun kasih merintih
Yang ia tahu hanya keyakinan
Bahwa ia akan setia
Menggapai impian
Meraih kenyataan
Yang tlah lama tercita
Dalam relung kalbu





