Latest Post

Ramadhan dan Pembinaan Umat

Written By Amoe Hirata on Rabu, 23 Juli 2014 | 05.17

            Di antara faktor yang paling determinan untuk membina umat ialah Ramadhan. Umat Islam tidak boleh menyia-nyiakan faktor yang sangat besar ini. Di samping itu juga harus menggunakan momen Ramadhan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil yang baik. Umat Islam sangat butuh dibina kembali dengan pembinaan yang komplit sesuai dengan syariat Allah, supaya kendalinya atas seluruh umat bisa kembali digapai. Umat Islam adalah umat yang berhak memimpin dunia.


PERAN RAMADHAN DALAM PEMBINAAN UMAT

أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، إنه من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
أما بعد:

Selamat datang semuanya pada pertemuan yang penuh berkah ini. Saya memohon pada Allah ta`ala semoga menjadikan pertemuan ini masuk dalam timbangan kebaikan kita semua. Adapun sesudahnya.
Sebagaimana anda ketahui, kita sebagai umat Islam hidup dalam saat-saat bahagia, karena kita mendekati peristiwa yang mulia; peristiwa yang membuat umat Islam dipenuhi kebaikan, keberkahan dan rahmat’ peristiwa yang ditunggu-tunggu baik oleh anak  kecil maupu orang besar, laki-laki maupun perempuan, kaya maupun miskin. Allah menaburkan rasa cinta terhadapnya pada hati kaum mukmin, hingga anak kecil pun (mencantainya). Kita menanti Bulan Ramadhan. Kita tahu sampai sejauh mana anak-anak begitu menyukai kedatangan Ramadhan, meskipun mereka masih belum mengenal puasa, shalat malam, pahala dan kebaikan. Kita melihat orang-orang pada menantikan munculnya hilal betapa bahagianya hati ketika kita tahu Ramadhan besok akan datang.
Saudara sekalian, Ramadhan adalah bulan yang sangat agung dalam timbangan Islam. Mari kita melihat penggambaran Rasulullah berkaitan dengan bulan ini. Imam Ahmad dan Nasa`i meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata: Ketika Ramadhan datang, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Telah datang pada kalian bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan puasa(pada bulan ini)”.
Ada beberapa peristiwa besar yang terjadi pada bulan ini sebagaimana yang pernah dikabarkan Rasulullah Saw. tentang perubahan-perubahan alam yang begitu mencengangkan:
Pertama: Pintu-pintu surga dibuka
Kedua  : Pintu-pintu neraka ditutup
Ketiga  : Setan-setan dibelenggu
          Jadi, Ramadhan adalah momen untuk beramal baik, masuk surga, dibebaskan dari neraka, dan menang atas setan-setan. Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dari Allah. Orang mukmin kembali kepada Tuhannya, serta menghancurkan setiap yang dibangun iblis dan para pengikutnya pada bulan-bulan yang panjang. Ramadhan merupakan hadiah dari Allah yang Maha Penyayang. Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan hal ini: “Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan kebaikannya maka ia adalah orang yang rugi”. Menurut pendapat saya kita tak usah menentukan malam lailatul qodar dengan delapan puluh tiga tahun sebagaimana yang dikatakan kebanyakan orang. Masalah ini masuk dalam takdir (ukuran) Allah. Masalah ini sebenarnya untuk mengagungkan dan memuliakan. Orang yang diberi taufik mendapat kebaikan malam lailatul qodar adalah orang yang telah diberi taufiq oleh Allah. Tidak semua orang yang akan mendapati lailatul qodar, dan tidak semua orang akan mengeksploitasinya.
            Jadi, orang yang sukses diberi taufik Allah adalah orang yang mengerahkan segenap tenaga untuk mendapatkan malam lailatul qodar: adalah orang yang benar-benar rindu padanya; adalah orang yang sebelum Ramadhan menghitung berapa hari lagi Ramadhan akan datang; adalah orang yang ketika bulan Ramadhan takut Ramadhan berakhir, ia memiliki persiapan yang besar untuk (menyambut) bulan agung ini. Kita memohon kepada Allah ta`ala supaya kita semua diperjumpakan kembali dengan Ramadhan, serta diberi taufiq di dalamnya untuk beramal shalih, dan semoga Allah menganugerahkan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka pada kita.
            Pembahasan Ramadhan kali ini bukan pembahasan sebagaimana biasanya. Saya tidak akan membahas tentang hukum-hukum, keutamaan-keutamaan, dan adab-adab yang berkaitan dengan Ramadhan. Pada kesempatan ini saya akan berbicara tentang peran Ramadhan dalam membina umat Islam. Pembicaraan saya hari ini dari hati, saya memohon semoga akan juga sampai ke hati.
            Saudara-saudara sekalian, umat Islam merupakan istana yang besar dan megah. Pembinaan umat secara umum memang merupakan perkara yang berat dan susah. Apa yang tergambar pada benak saudara sekalian jika kita mau membina (membangun) sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia: (kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.[Qs. Ali Imran: 110]. Apa yang anda bayangkan jika kita hendak membina umat sebaga umay yang akan menjadi saksi, umat yang pertengahan: (dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu)[Qs. Al-Baqarah: 143]. Pembinaan(pembangunan) yang besar ini memerlukan usaha besar, pemikiran mendalam, dan kemampuan yang besar. Pembinaan ini juga membutuhkan fondasi yang kuat untuk menyangga bangunan besar yang ada di atasnya. Setiapa apartemen yang besar membutuhkan fondasi yang kuat. Dalam syariat Islam, Allah menjelaskan pada kita segala sesuatu. Menjelaskan pada kita bagaiman cara (membuat) fondasi yang kuat untuk istana yang besar ini, istana Islam.
            Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Ra. Ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima perkara –inilah dia beberapa fondasi yang lima-: bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan’. Diantara kelima fondasi pokok itu ialah: puasa di bulan Ramadhan. Perkara ini adalah perkara yang sangat penting.
            Islam adalah agama yang sangat luas. Agama yang mencakup segenap masalah kehidupan. Mencakup masalah akidah, shalat, puasa, haji, umrah, zakat, sedekah, i`tikaf, shalat malam, ilmu pengetahuan yang beraneka ragam, keutamaan-keutamaan yang agung, jual-beli, transaksi perdagangan, pertanian, produksi, perang, perjanjian-perjanjian, hukum, legislasi, makanan, minuman, pernikahan, keluarga, dan pendidikan. Pintu-pintu Islam begitu sangat luas. Ia adalah agama yang komperehensif, sempurna dan paripurna. Akan tettapi di sekian banyak pintu yang besar ini Allah memilih hanya lima hal yang dijadikan sebagai fondasi Islam, sebagai dasar dari istana yang besar ini, Islam. Diantara fondasi itu ialah Ramadhan.
            Jadi, masalah Ramadhan bukan sekadar berkaitan dengan bulan bagus yang membuat kaum muslimin bahagia beberapa waktu dan sedih ketika berakhir, kemudian menanti kembali pada tahun berikutnya. Sama sekali bukan sekadar itu. Ramadhan merupakan perkara pembinaan umat. Bulan Ramadhan merupakan fondasi dasar diantara beberapa fondasi untuk menyangga Islam. Bayangkan jika fondasi tidak ada, kira-kira apa yang akan terjadi? (pasti) bangunan akan roboh semuanya. Fondasi satu saja bisa membuat bangunan roboh apalagi sama sekali tidak ada fondasi.
            Jadi, masalah ini adalah masalah yang sangat penting. Jika kita ingin membangun bangunan yang kuat dan kokoh maka fondasinya harus kuat. Karena itulah, dari situ hendaknya puasa Ramadhan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya agar dapat menyangga istana Islam yang begitu besar dan megah. Dengan tekad dan pikiran ini, pada titik tolak ini kita ingin memasuki Ramadhan. Setelah Ramadhan usai kita menjadi layak untuk menyangga beban istana yang besar dan amanah yang besar. Ini bukan sekadar perkara puasa. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan pembinaan umat, atau katakan sebagai: pembinaan(pembangunan) umat terbaik.
            Bagaimana Ramadhan membina umat Islam? Supaya kita bisa memahami perkara ini secara mendasar, maka kita (harus) kembali pada penggalan sejarah yang indah. Kapan diwajibkan puasa Ramadhan atas orang muslim? Ketika kita mengamati kembali poin ini, kita akan tahu bagaimana Ramadhan membina umat muslim. Ramadhan diwajibkan atas orang muslim pada tahun kedua bulan Sya`ban, tepatnya tahu kedua Hijriah.

BEBERAPA INDIKASI(PETUNJUK) SEBELUM DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN SERTA PERANNYA DALAM PEMBINAAN UMAT.

            Ketika saya membaca kembali semua peristiwa yang terjadi pada bulan Sya`ban tahun kedua Hijriah, saya menemukan pada bulan ini terjadi beberapa peristiwa besar yang terjadi pada perjalanan sejarah umat Islam. Saya ingat setidaknya da empat perkara dalam kajian sirah nabawiyah, yang merupakan perkara yang sangat penting, dan semuanya terjadi pada bulan Sya`ban tahun kedua Hijiyah. Diantara perkara-perkara itu ialah sebagai berikut:
Pertama           : Diwajibkan puasa bulan Ramadhan. Masalah inilah yang sedang kita bahas pada pertemuan ini.
Kedua              : Diwajibkan zakat. Zakat diwajibkan sejak di Makkah, tapi tanpa ada ketentuan nisab dan hukum-hukum yang beranekaragam berkaitan dengannya. Maka pada bulan Sya`ban tahu kedua adalah masa penentuannya.
Ketiga              : Diwajibkan perang atas orang muslim setelah mereka hanya diperbolehkan. Allah berfirman: dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(Qs. Al-Baqarah: 190), ayat ini turun pada bulan Sya`ban.
Kempat            : Pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka`bah pada pertengahan bulan Sya`ban tahun kedua Hijriyah.
            Peristiwa-peristiwa tersebut sangat penting, dan semuanya terjadi pada satu bulan yaitu pada bulan Sya`ban tahun kedua Hijriyah. Kenapa? Karena pada bulan Ramadhan tahu kedua Hijriah akan terjadi perkara yang sangat penting yang membutuhkan banyak persiapan dan pendidikan. Akan terjadi pertempuran Badar Kubro pada tanggal 17 Ramadhan tahu ke-2 Hijriyah. Jadi, empat perkara ini untuk menyiapkan pasukan pejuang (mujahid) yang akan memasuki perang penentuan. Empat perkara ini disyariatkan untuk membina umat pejuang, yaitu umat yang diharapkan menang atas segala umat lain; umat yang memimpin umat lain bukan umat yang dipimpin; umat yang mengendalikan umat lain, bukan umat yang dikendalikan.
           
RAMADHAN DAN PEMBERSIHAN(PENYELEKSIAN) BARISAN MUSLIM

            Diantara perkara yang berkaitan dengan Ramadhan sebagai bulan penyiapan dan pembinaan umat, kira-kira apa yang akan diajarkan Ramadhan untuk menyiapkan tentara pejuang (mujahid) atau untuk menyiapkan umat pejuang, atau umat pionir? Ramadhan menurut gambaran saya akan melakukan tida hal: tanqiyah(pembersihan, seleksi), tamayyuz(pembedaan) dan tarbiyah(pendidikan), apa yang dimaksud dengan ungkapan ini?
            Pertama: Ramadhan dan pembersihan(penyeleksian) barisan muslim. Ramadhan akan melakukan pembersihan pada barisan kaum muslimin. Ramadhan akan melenyapkan kotoran0kotoran dari barisan kaum muslimin. Banyak sekali orang bernamakan nama islami dan terhitung sebagai umat Islam tetapi ia tidak membawa semangat dari nama Islam itu; banyak orang yang berislam  baik dengan senang hari maupun terpaksa, atau dilahirkan dalam kondisi muslim sedangkan mereka sebenarnya tidak mempunyai pilihan atau keinginan sama sekali terhada Islam. Sesuatu (biasanya) dalam kondisi damai dan sejahtra terkadang tidak begitu sangat jelas, tapi ketika dalam perjuangan dan peperangan atau bertemu musuh, maka barisan harus kokoh. Tidak akan tegar di medan jihad kecuali dengan keimanan yang sejati. Harus ada penyeleksian muslim shalih untuk tetap tegar dalam berjihad; harus diseleksi muslim yang shalih untuk berpartisipasi pada pertempuran Badar Kubro, dan juga untuk menyeleksi orang-orang shalih untuk menghadapi yang serupa dengan Badar Kubro.
Semua (bisa) berkata: “Aku seorang muslim yang tegar atau teguh”. Tapi dimana orang-orang yang benar sungguh-sungguh? Dan dimana orang-orang yang berbohong? Harus ada ujia-coba terlebih dahulu. Ramadhan merupakan ujian yang penting yang akan terjadi di sela-selanya dan sesudahnya pembersihan barisan muslim dari kotoran-kotoran yang membuat gagal dalam ujian. Orang yang akan teguh pada bulan Ramadhan insyaallah akan teguh juga di bulan lainnya. Supaya ujian benar-benar menguji, maka ujian harus susah. Kira-kira apa susahnya Ramadhan? Susahnya Ramadhan dikembalikan pada beberpa perkara: Bahwasany puasa diwajibkan, sedangkan tabiat manusia cendrung menjauhi sesuatu yang wajib dan beban-beban. Ramadhan juga susah karena sebulan penuh, udzur(kelonggaran alasan) di dalamnya sangat terbatas, dan anda tidak mempunyai alternatif lain kecuali dengan udzur syar`i.
            Kadang Ramadhan datang ketika musim panas, kadang datang pada saat anda sibuk bekerja, kadang datang di saat sibuk-sibuknya anda. Sebulan penuh yang bersambung, terbatas, tidak bisa digantikan oleh bulan sebalumnya atau sesudahnya. Ramadhan juga sulit karena keluar dari kebiasaan. Syahwat makan, minum dan jima` merupakan syahwat yang sudah tertanam pada diri setiap manusia. Pada bulan Ramadhan akan keluar samasekali dari kebiasaan. Anda akan lapar, haus dan payah, tapi anda harus sabar. Lebih susah dari itu anda harus puasa secara sungguh-sungguh sebagaimana yang diinginkan Allah. Bahkan Ramadhan bukan sekadar masalah makan, minum dan syahwat saja, tapi masalahnya lebih besar dari semua itu. Contohnya sebagaiman riwayat Bukhari dari Abu Hurairah Ra. Berkata: Rasulullah Saw. bersabda: barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan amalan dusta, maka Allah tidak butuh pada puasanya. Ada juga riwayat lain yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ahmad: barangsiapa yang tidak meninggalakan perkataan dusta dan amalan yang berkaitan dengannya dan kebodohan-(menjahili manusia)-maka Allah tidak butuh pada puasanya.
            Jadi, anda harus bahwa si bulan Ramadhan anda akan diuji dengan ujian yang berat. Jika lulus maka anda layak mengemban amanah untuk membina umat, sedangkan jika anda gagal maka anda tidak mendapatkan tempat sama sekali di istana yang besar. Todak masauk akal bagi individu muslim mukminyang masuk dalam ujian besar seperti ujian Ramadhan menghabiskan waktunya yang panjang di depan televisi, misalnya atau untuk mengisi teka-teki silang di koran dan majalah, atau bahkan dalam hal makan dan minum yang halal pada waktu berbuka. Tidak masuk akal seorang muslim yang bijaksana  menghabiskan waktunya yang panjang untuk bermain kartu dan tabel dan yang semisalnya dengan alasan untuk menghibur diri. Tidak masuk akal orang yang berpuasa pergi bekerja terlambat dan keluar cepat-cepat, dan menghabiskan siangnya dengan tidur disebabkan karena puasa.
            Ketahuilah wahai saudaraku semuslim! Ramadhan adalah ujian untuk menyeleksi barisan  kaum muslimin. Siapakah yang mengujimu? Yang mengujimu adalah Allah azza wajalla: dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan(Qs. Az-Zumar: 67). Ramadhan merupakan ujian yang sangat dalam. Setiap saat dan detik ada penilaian Tuhan atau koreksi Tuhan terhadap pelaksanaan amalan dalam Ramadhan. Kira-kira berapa persen anda mengambil ujian di bulan Ramadhan?Jika anda benar-benar merasa bahwa Allah mengawasi apa ujian Ramadhan, apa yang akan anda lakukan di bulan Ramadhan?
            Jadi, Tuhan kita menyeleksi barisan mukminyang tegar dan kokoh pada bulan Ramadhan. Awas jangan sampai menjadi orang terusir (tereleminasi) atau orang yang dipenuhi kotoran-kotoran. Ramadhan merupakan kesempatan besar untuk menetapkan eksistensi; momen yang besar untuk pembinaan umat Islam. Mungkin ada orang yang akan bertanya kepada saya: “anda bilang ‘ umat Islam’? apakah saya yang akan membuat perbedaan dengan membina umat Islam?” saya jawab: Ya wahai saudaraku, kamu yang akan membuat perbedaan. Meskipun umat adalah kata yang besar akan tetapi ia merupakan kumpulan dari individu. Umat adalah saya, anda, saudaraku, saudaramu, anakku dan anakmu, saudariku dan saudarimu, anak perempuanku dan anak perempuanmu, inilah dia umat. Sesudah itu jika disana tidak ada kepentingan bagi umat, maka hendaknya hal itu penting bagi anda pribadi: tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,(Qs. Al-Muddatsir: 38).
            Jadi perkara pertama yang kita ketahui tentang Ramadhan ialah bahwa ia adalah bulan ujian yang dalam dimana Allah mengawasi seluruh perbuatan hamba, lalu menyeleksi orang-orang shali dan mengeleminasi orang-orang yang rusak. Dengan demikian terjadi penyeleksian untuk barisan umat Islam. Yaitu umat yang dibina di atas unsur fondasi yang baik akan menjadi umat yang kuat insyaallah. Inilah sarana pertama dari sekian sarana Ramadhan untuk membina umat: menyeleksi barisan muslim.

RAMADHAN DAN TAMAYYUZ (RASA BERBEDA DENGAN YANG LAINNYA)

            Sarana kedua dari sekian sarana Ramadhan untuk pembinaan umat Islam ialah tamayyuz(rasa berbeda dan unggul dari umat lainnya). Pada batas cukup bagus kaum muslimin merasa berbeda (tamayyuz) dari umat yang lain dan mereka juga cukup bagus dalam hal identitas keislamannya. Pada tahun pertama di Madinah, umat Islam berpuasa pada hari as-syura bersama dengan orang Yahudi, pada waktu itu juga diwajibkan atas orang Islam. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra. Is berkata: Sewaktu Nabi datang (ke Madinah)  beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa as-syura. Lalu Nabi bertanya: “(puasa) apa ini?” Mereka menjawab: “(puasa) hari baik dimana Musa dan bani Israil diselamatkan dari musuhnya, lalu Musa berpuasa”. Lalu Rasulullah Saw. berkata: “ Aku lebih berhak pada Musa daripada kalian”. Lalu dia berpuasa dan menyuruh (sahabat) berpuasa. Maka ketika diwajibkan (puasa) di bulan Ramadhan, Nabi bersabda: “Siapa yang hendap puasa –yaitu puasa as-syura- maka puasa dan yang tidak menghendaki tidak perlu puasa”.
            Sekarang setelah diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan umat Islam akan berbeda dengan umat lainnya. Mereka akan puasa khusus satu bulan. Sudah pasti umat akan merasa terhormat dengan perbedaan ini; disamping itu pada tahun kedua bulan Sya`ban  kiblat umat Islam akan dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka`bah sebagai tamayyuz(perbedaan) baru. Satu kiblat bagi setiap muslim. Tidak ada yang berhak kecuali orang Islam. Perasaan tamayyuz(berbeda, unggul) dengan identitas keislaman merupakan alat yang niscaya diantara sekian banyak alat kemenangan dan tamkin(penguasaan). Umat yang merasa mengikuti umat lain adalah umat yang tak akan memimpin dan mengendalikan.Umat yang terbiasa mengikuti dan meniru  gaya umat lain serta mengikuti tradisi, dan akidah mereka adalah umat yang tidak berhak bangkit, adalah umat yang bobrok (jatuh). Adapun umat Islam yang sesungguhnya adalah umat yang berbeda dan memiliki identitas sendiri, memiliki gaya yang khas, mempunyai ciri khusus yang orisinil, dan memiliki ciri tertentu. Demikianlah sesungguhnya Ramadhan membuat orang musli berbeda dengan umat lain. Ini membuat cita-cita tinggi, memperkuat tekad dan memantapkan hati. Jadi ini merupakan sarana kedua dari sarana-sarana Ramadhan untuk membina umat Islam: tamayyuz(merasa berbeda) dari umat lainnya.

RAMADHAN DAN TARBIYAH(PENDIDIKAN).

v  Pendidikan memenuhi secara total perintah Allah. Ketaatan total terhadap perintah Allah ta`ala.
v  Pendidikan mengekang dan mengendalikan syahwat.
v  Pendidikan mengendalikan syaraf ketika marah dan mampu meredam amarah.
v  Pendidikan infaq di jalan Allah ta`ala.
v  Pendidikan persatuan dan persaudaraan dan keharmonisan hubungan diantara muslim.
v  Pendidikan kepedulian sosial (turut merasakan sakit dan permasalahan muslim yang lain).
v  Pendidikan taqwa.

NASIHAT-NASIHAT ADA BULAN RAMADHAN SERTA PENJELASAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBINAAN UMAT ISLAM.

v  Menjaga rukun, syarat, kewajiban dan sunnah-sunnah shalat.
v  Perhatian terhadap al-Qur`an serta banyak membacanya di saat Ramadhan
v  Antusian dalam melaksanakan shalat malam (Tarawih)
v  Banyak bersedekah.
v  Berdekat (bergaul) diantara orang muslim
v  Menjaga lisan
v  Hati-hati dalam menonton televisi.
v  Berdakwah pada Allah ta`ala.
v  I`tikaf pada sepeluh terakhi pada bulan Ramadhan.

v  Taubat dari segala dosa dan maksiat.

Al-Qohhâr

Written By Amoe Hirata on Selasa, 22 Juli 2014 | 19.09

Kau titahkan
Segalanya
Dengan kuat perkasa
Tiada yang mampu
Menolak ketentuan-Mu

Ya al-Qohhâr
Atas titah pasti-Mu
Jadikan aku terdepan
Untuk tunduk mengabdi

Kepada-Mu

Kalah-Menang LEGOWO

Written By Amoe Hirata on Senin, 21 Juli 2014 | 21.28


            “Cak! Jujur aku ga terima. Masak aku sudah menghitung-hitung dan memverifikasi suara di setiap TPS yang memenangkan Prabowo, kok sekarang yang menang malah Jokowi. Ga terima aku. Pasti ini ada kecurangan. Pasti ada konspirasi. Pasti ada persengkokolan.” Suara Markoden melampiaskan curhatnya pada Sarikhuluk. “Den, kendalikan amarahmu. Dari awal `kan aku sudah memberi nasehat ke kamu. Jangan sampai masalah pemilu –meski menurutmu besar- memenuhi segenap ruang batin dan pikiranmu. Kamu ini muslim. Mestinya tidak dijadikan kerdil dan hina hanya untuk memikirkan masalah ‘teater lima tahunan’ ini. Aku mengerti Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, jujur dan berwibawa, tapi cara kamu memprotes seperti tadi malah akan berbuah negatif, baik bagi kamu maupun rekanmu. Masalah kecurangan `kan bisa ditempuh dengan jalur hukum. Kalaupun jalur hukum tak bisa ditempuh ya jangan kecil hati. Tugasmu sudah cukup bekerja sejujur-jujurnya, semaksimal kemampuan, dan sebagus mungkin. Kalau ternyata hasilnya tak sesuai, ingat kita di dunia ini –sebagai orang beriman- tidak akan dibiarkan begitu saja. Kalau benar memang pihak Jokowi curang, maka kecurangan tidak akan bertahan lama. Kamu juga harus bisa proporsional dalam berfikir. Tidak mesti setiap yang kita bela pasti steril dari kekeliruan dan kekhilafan. Kedua calon harus ditakar dengan timbangan yang seobyektif mungkin.” Komentar Sarikhuluk menasehati.
            “Aku bicara bukan sekadar bicara Cak. Aku punya data dan siap mempertanggungjawabkannya. Sampai detik ini aku ga habis fikir kok bisa-bisanya mereka melakukan keculasan itu.” Tambah Markoden membela diri. “Rupanya kamu belum paham betul maksudku. Begini dengar baik-baik. Kehidupan ini sangat luas Den. Jangan sampai mudah percaya atau mudah tidak percaya. Setiap fenomena yang kamu lihat dan alami perlu difikirkan dan dianalisa. Jangan gampang kagetan! Jangan mudah kaguman! Belajarlah pada sejarah politik dari masa kemerdekaan hingga sekarang. Selama ini politik yang dipentaskan oleh politikus tidak selamanya berbanding lurus dengan kandungan batin aslinya. Bukan berarti aku tahu batin mereka lho ya. Lha gimana, kamu tahu sendiri betapa selama ini demokrasi hanya dijadikan slogan indah untuk mendongkrak citra di mata orang banyak. Rakyat dijadikan sebagai korban penipuan halus. Dalam politik -menurut pengamatanku hingga detik ini- tidak ada kata-kata yang disampaikan berdiri apa adanya sesua dengan makana yang terkandung di dalamnya. Mungkin kedepan tidak kita jumpai korupsi-korupsi model transparan seperti di era-era sebelumnya, tapi akan ada korupsi yang in-trasparan dimana caranya ialah dengan mengamandemen undang-undang serta sistem yang bisa melegalkan mereka berkorupsi. Indonesia ini negara kaya raya Den. Omong kosong kalau setiap kejadian dalam negeri ini tak dimonitori oleh pihak asing.” Tambah Sarikhuluk mengingatkan.
            “Terus aku sekarang harus gimana cak?” tanya Markoden. “Sekarang fokuslah kepada diri sendiri dan keluarga. Bekerjalah sebaik-baiknya untuk masa depanmu dan masa depan mereka baik di dunia maupun akhirat. Siapapun yang jadi sudah bisa dipastikan tak akan mengenalmu. Kamu ‘LEGOWO’ saja. Jangan tergantung pada negara! Kamu punya Tuhan. Gantungkanlah segala usahamu pada Tuhan. Kerusakan yang terjadi di Indonesia ini sudah sangat susah –kalau tidak boleh dikatakan mustahil- untuk diatasi. Kalaupun yang menang adalah Prabowo, juga tidak sertamerta akan berubah seratus persen. Masalah negara ini begitu besar dan kompleks Den. Karena begitu besar dan kompleksnya masalah di Indonesia ini, maka sejatinya dibutuhkan orang-orang yang besar sekaligus sebanding dengan beban yang diemban. Orang yang sejatinya ga mampu terus kemudian bilang mampu – ingat betul-betul kata-kataku!- pasti akan jatuh sendiri meski tak dijatuhkan. Sejak awal kamu `kan mengikuti keduanya berjanji dan merasa bisa mengatasi masalah yang begitu ruet dalam negeri. Yang dibutuhkan oleh rakyat bukanlah janji-janji, tapi kinerja; yang dibutuhkan rakyat itu bukan kata-kata indah, tapi kontribusi nyata. Sama saja ga waras menurutku, kalau ada orang yang dengan pedenya merasa mampu mengatasi masalah Indonesia, wong mengurusi masalah pribadi dak keluarga saja belum sepenuhnya bisa. Apalagi yang suka ‘embo jabatan’ (nambah jabatan padahal belum tuntas memimpin) jatuh sendiri. Jangan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Cerdaskan diri dan keluarga. Jadilah orang bermanfaat, ajak orang berbuat sebaik-baiknya untuk selalu menjadi baik. Jangan lagi mudah tertipu. LEGOWO saja karena: LEk GOro podo karo mangan moWO.” Tutup Sarikhuluk.

            

Memburu Malam Kemuliaan


DI SEPULUH akhir bulan Ramadhan biasanya kaum muslimin berbondong-bondong ke masjid untuk menjalankan ibadah i`tikaf(berdiam di masjid melaksanakan amalan tertentu). Salah satu motif yang bisa dibaca melalui nash-nash al-Quran dan al-Hadist ialah mencari Malam Kemuliaan yang bernilai seribu bulan. Malam itu biasa disebut lailatul qadr. Bagi siapa saja yang mendapatkan malam kemuliaan itu maka dosa-dosanya akan diampuni dan akan mendapat pahala yang amat besar disisi Allah.

Para pencari 'Malam Kemuliaan' itu diibaratkan sebagai 'Pemburu'. Objek yang diburu ialah: Lailatul Qadar(malam yang lebih baik dari seribu bulan). Alat Pemburuanya ialah: I`tikaf. Tempat Pemburuanya ialah: Masjid. Sekarang, yang perlu dipertanyakan ialah, apakah kalau semua unsur sudah terpenuhi dari Pemburu, objek yang diburu, Tempat pemburuan dan alat pemburuan, maka secara otomatis akan mendapatkan 'Malam Kemuliaan'?  Tentu saja tidak. Memang ke empat unsur di atas sangat inti tapi masih memerlukan bantuan penunjang lainya seperti; Ikhlas, persiapan matang, antusias tinggi, keyakinan kuat, khusyu` dan fokus.

Banyak dijumpai kesalahkaprahan dalam masalah ini. Ada yang terlalu percaya diri  hingga yakin bahwa setelah i`tikaf pasti mendapatkan Lailatul Qadar. Padahal persiapan kurang matang, dan hanya berfokus pada pahala. Lailatul Qadar adalah anugerah agung yang hanya dihadiahkan Allah kepada hamba-hambanya yang antusias, ikhlas, khusyu`dan sudah mendapatkan rekomendasi takwa. Tak ada satupun yang tahu siapa yang akan mendapatkannya melainkan yang diberitahu langsung oleh Allah sendiri. Bentuknya sangat abstrak. Kita bisa melihat orang mendapatkanya melalui indikasi-indikasi positif yang dipancarkanya setelah puasa Ramadhan usai. Jika ia semakin baik dan terus membaik maka insyaAllah ia mendapatkanya.

Lebih jauh kita mempertanyakan. Apakah Lailatul Qadar yang  menjadi objek yang diburu itu merupakan tujuan disyariatkan puasa Ramadhan? Tentu saja tidak. Tujuan puasa itu secara eksplisit ialah mencetak insan-insan bertaqwa. Jadi Lailatul Qadar  hanya semacam stimulus untuk menggiatkan kembali etos amalan ibadah hamba menuju tujuan inti yaitu taqwa. Bukan berarti kita tidak boleh mengharap pahala. Setiap pahala hanya dipandang sebagai sarana bukan tujuan.

Seandainya Malam Kemuliaan itu tidak kita dapatkan apakah kita akan berhenti beribadah? Pasti kita menjawab tidak. Karena tujuan diciptakan manusia ialah untuk beribadah kepada Allah. Diganjar atau tidak itu urusan Allah. Tugas kita hanya melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Yang jelas, Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan orang-orang yang berbuat baik.

Cara pandang kita mengenai 'Malam Kemuliaan'(Lailatul Qadar) sangat berpengaruh pada sikap dan tingkah laku kita selanjutnya. Pemburuan 'Malam Kemulian' harus senantiasa diiringi dengan kesadaran tujuan inti yaitu taqwa. Bila tidak pemburuanya akan bernilai sia-sia. Kesalahpahaman ini hanya akan melahirkan 'insan-insan pragmatis' yang kan selalu terjauhkan dari tujuan  subtansial.

Pada intinya pemburuan Malam Kemuliaan adalah proses efektif dan kondusif yang membantu seseorang untuk memperoleh derajat taqwa. Bila taqwa telah didapat maka akan tercipta hubungan harmonis antara Allah, manusia dan alam. Keharmonisan dan keserasian hubungan itu memang hanya akan didapat oleh insan Muttaqin(Orang-orang bertaqwa). Semoga pemburuan Malam Kemulian ini dapat mengantar kita ke derajat taqwa.     
 [by Mahmud Budi Setiawan on Wednesday, September 1, 2010 at 9:16am]   

Ramadhan Always

            Suatu saat Rasulullah shallallâhu `alaihi wasallam menaiki mimbar.  Tanpa diduga sebelumnya oleh para sahabat, tiba-tiba beliau mengucapkan kata, ‘âmîn, âmîn, âmîn’.
          Mendengar ucapan itu, seketika seluruh sahabat yang hadir dalam masjid heran lantas ada yang langsung bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, anda sedang mengamini apa?”. Rasulullah pun menjawab: “Baru saja Jibril mendatangiku seraya berkata, ‘Wahai Muhammad! Rugilah orang (ketika) kamu disebut di sisinya lalu ia tidak bershalawat padamu. Katakanlah ‘âmîn’!. Aku pun berkata: ‘âmîn’. Lalu ia melanjutkan, ‘Rugilah orang (yang mendapat kesempatan) menjumpai bulan Ramadhan, tapi tidak diampuni. Katakanlah ‘âmîn’!. Aku pun berkata: ‘âmîn’. Kemudian ia menambahkan, ‘Rugilah orang yang masih mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya (hidup), tapi tidak membuatnya masuk surga. Katakanlah ‘âmîn’!. Aku pun menjawab ‘âmîn’(Hr. Turmudzi dan Ahmad).
                   Berkaitan dengan berakhirnya bulan Ramadhan, pada hadits tersebut ada kata-kata Jibril yang perlu dicermati dengan baik, yaitu: “Rugilah orang yang menjumpai bulan Ramadhan, sedangkan dosanya tak terampuni”. Kata-kata Jibril ini, bisa dijadikan sebagai evaluasi bagi siapa saja yang telah keluar dari bulan suci Ramadhan: apakah termasuk bagian dari orang yang beruntung atau merugi? Para sahabat begitu sedih ketika Ramadhan telah berakhir. Meraka takut masuk dalam kategori orang merugi yang amalnya tak diterima dan dosanya tak terampuni. Mereka pun tetap istiqamah baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Mereka memiliki kebiasaan menarik. Enam bulan sebelum Ramadhan, mereka gunakan untuk mempersiapkan diri sembari berdoa agar diperjumpakan dengan Ramadhan, sedangkan enam bulan setelahnya mereka gunakan untuk berdoa agar amalan di bulan Ramadhan diterima sembari tetap beramal. Ini sebagai gambaran seolah-olah bagi mereka sepanjang tahun adalah Ramadhan.
            Salah satu tanda yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai rugi tidaknya orang yang keluar dari Ramadhan ialah: ‘keistiqamahan dalam beramal’. Mengenai beratnya istiqamah, Rasulullah pun pernah berkata: “surat Hud telah membuatku beruban”. Ini sangat beralasan karena diantara kandungan dari surat Hud ialah perintah agar selalu menjaga istiqamah(Q.s. Hud: 112). Dalam surat Al-Fatihah pun kita setiap hari berkali-kali melantunkan ayat: ihdinâs shirôthol mustaqîm(tunjukilah kami jalan yang larus/jalan orang yang istiqamah). Ini semakin menegaskan bahwa istiqamah adalah bukan perkara yang mudah dan perlu diusahakan secara serius dan terus-menerus.
           Jangan sampai kita termasuk dalam perumpamaan ayat Al-Qur`an tentang seorang wanita pemintal kain yang mengurai benang setelah dipintal dengan kuat menjadi kain(Qs. An-Nahl: 92), sebagai suatu gambaran bagi siapa yang rajin melakukan amal lalu kemudian tiba-tiba berhenti lantaran tak bisa istiqamah. Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu ditanyakan pada diri kita ialah: “Mampukah kita menjaga keistiqamahan setelah bulan Ramadhan? Lalu bagaimana cara menjaganya?”. Untuk menjawabnya, kita perlu membaca kembali sejarah emas Nabi Muhammad shallallâhu `alaihi wasallam, para sahabat, serta ulama salaf yang meneladani beliau. Dari kisah mereka kita akan mendapat pelajaran berharga yang bisa dijadikan sebagai pengingat di kala kita lalai.
             Dari sejarah sahabat kita menemukan salah satu rahasia menarik yang menjelaskan kenapa mereka tetap bisa istiqamah beramal di luar bulan Ramadhan, salah satunya ialah mereka mengamalkan betul hadits Nabi shallallâhu `alaihi wasallam: “Bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling dawam(tetap dan berkesinambungan) meskipun sedikit”(Hr. Bukhari, Muslim). Mereka beramal bukan dengan secara drastis. Mereka menunaikan amalan dengan cara bertahap dan dimulai dari yang ringan-ringan dahulu.  Mereka mempunyai prinsip, tidak akan menambah amal sebelum bisa mendawami(menetapi) amal yang ringan dan sedikit sebagaimana hadits tersebut.
            Hal ini sangat kontras dengan cara yang dilakukan oleh kebanyakan orang mada masa kini yang melakukan amal tidak melalui tahapan-tahapan terlebih dahulu. Ramadhan seakan-akan menjadi momen terbaik untuk ‘melampiaskan’ amal sebanyak-banyaknya. Maka tidak heran kita banyak menjumpai fenomena yang ironis seperti: masjid penuh, banyak berinfaq, shalat malam, dan mengaji Al-Qur`an hanya ketika Ramadhan. Fenomena-fenomena tersebut terjadi karena amalan yang dilakukan tidak secara bertahap dan  juga tidak dimulai dari yang termudah. Suatu saat Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya agama ini sangat kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan kelembutan”(Hr. Turmudzi). Maksud hadits ini ialah agar kita beramal secara bertahap dan dimulai dari yang ringan dahulu supaya tidak cepat bosan.
            Para al-salafu al-shôlih(ulama shalih terdahulu) juga tidak pernah membeda-bedakan amalan baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Meskipun di bulan Ramadhan mereka semakin intens dalam beribadah, namun di luar Ramadhan mereka tetap bisa istiqamah menjalankannya. Suatu ketika ada seorang dari kalangan ulama salaf yang menjual budak perempuannya. Ketika bulan Ramadhan sudah menjelang, (budak perempuan yang sudah dijual itu) melihat tuan barunya sedang bersiap-siap (mengumpulkan) makanan dan lain sebagainya. Kemudian budak perempuan itu bertanya pada tuan barunya perihal yang sedang ia lihat. Tuannya menjawab: “Kami sedang siap-siap untuk berpuasa Ramadhan”. Budak perempuan itu lantas berkomentar: “Kalian hanya berpuasa ketika bulan ramadhan. dulu aku berada bersama tuan yang semua waktunya adalah ramadhan(maksudnya, tuannya yang dulu tetap berpuasa meski di luar bulan Ramadhan). (Sekarang) kembalikanlah aku kepada mereka,”(Asrôru al-Muhibbîn fi Ramadhôn, Hal: 364).
          Kisah ini menggambarkan secara jelas bahwa mereka tak membeda-bedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya. Dengan demikian, untuk menjaga keistiqamahan amal setelah Ramadhan bisa ditempuh dengan cara-cara yang dipraktikan para sahabat dan al-salafu al-shôlih(ulama shalih terdahulu) yaitu: Beramal secara bertahap, dimulai dari yang ringan, dan memperbaiki persepsi diri bahwa Ramadhan bukan satu-satunya bulan untuk mengoptimalkan amal kebaikan; Ramadhan justru dijadikan sebagai waktu untuk menempa dan mendidik diri supaya tetap sukses beramal di bulan-bulan selanjutnya hingga Ramadhan kembali.

Aroma Kerinduan Ramadhon

Written By Amoe Hirata on Kamis, 03 Juli 2014 | 13.48

            Bulan kemenangan kembali datang membentang; bulan ampunan kembali tiba menyapa; bulan rahmat kembali hadir menghampiri. Setiap mukmin sejati pasti merindukan kedatangannya. Bagaimana tidak, bulan yang secara khusus dipilih oleh Allah sebagai bulan terbaik yang di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan(Qs. Al-Qodar: 3); bulan yang di dalamnya setiap ganjaran dilipatgandakan sedemikian rupa melebihi bulan pada umumnya(Hr. Ibnu Majah); bulan yang di dalamnya dibuka pintu surga dan ditutup pintu neraka(Hr. Bukhari, Muslim); bulan yang di didalamnya para setan dibelenggu(Hr. Bukhari, Muslim). Ramadhan seolah menjadi magnet yang mampu menarik hati orang mukmin untuk selalu menyambut kedatangannya; Ramadhan seakan menyimpan ‘aroma harum kerinduan’ yang membuat setiap orang beriman kangen akan keharumannya. Karena itulah, tidak mengherankan -pada umumnya pada masyarakat kita- jika Ramadhan datang, masjid yang sebelumnya hanya berisi satu saf, tiba-tiba menjadi penuh; orang yang biasanya jarang berinfak tiba-tiba berinfak; orang yang biasanya jarang mengaji, tiba-tiba ramai-ramai mengkhatamkan al-Qur`an; orang yang biasanya tak pernah shalat malam, tiba-tiba mengikuti shalat Tarawih.
            Perubahan-perubahan secara drastis seperti itu di satu sisi patut disyukuri dan didukung, namun di sisi lain kita perlu memaknai kembali berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, supaya kita tidak terjatuh pada ibadah-ibadah formal yang kering dari nilai spiritualitas lantaran hanya dilakukan ketika Ramadhan saja; agar kita tak menjadikan Ramadhan layaknya ‘pasar kaget’ yang sifatnya sementara dan tak berlangsung lama; supaya kita tak terjebak pada ‘kapitalisasi pahala’, yang membuat fokus kita pada pahala lebih besar daripada Allah ta`âla. Selama ini Ramadhan dimaknai hanya sebagai bulan suci dan mulia yang patut disambut dan dimuliakan kedatangannya dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Karena begitu besarnya pahala, ampunan, dan rahmat yang ditaburkan Allah ta`ala pada bulan ini, banyak orang yang meresponnya sebagai momen yang tepat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, meminta ampunan sebesar-besarnya, memohon rahmat seluas-luasnya. Akibatnya, Ramadhan seolah-olah dijadikan sebagai ‘pabrik pahala’, sehingga yang keluar darinya pasti meraup pahala sebesar-besarnya; Ramadhan seakan-akan dijadikan sebagai ‘pabrik ampunan’ yang membuat orang terlepas dari segala dosa selepas darinya; Ramadhan dijadikan sebagai ‘samudra rahmat’ yang membuat orang-orang pada umumnya menyangka setelah keluar darinya akan menjadi ‘kaya rahmat’.
            Apa ada yang salah dengan makna Ramadhan selama ini, sehingga kita perlu memaknainya kembali? Sebenarnya, makna yang berkembang selama ini di masyarakat secara umum tidak ada salahnya sama sekali. Hanya saja, makna yang selama ini dipahami berakibat negatif pada sikap orang pada umumnya dalam memperlakukan Ramadhan. Banyak sekali yang salah kaprah dalam memahaminya, sehingga Ramadhan dijadikan semacam ‘bulan pelampiasan’ baik untuk shalat, puasa, sedekah dan ibadah lainnya, tentunya untuk meraih keuntungan pahala sebanyak-banyaknya, syukur-syukur segala dosa diampuni sehingga ketika keluar dari Ramadhan kondisinya bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Meski pada dasarnya kita dibolehkan mencari pahala, rahmat, dan ampunan sebanyak-banyaknya, tetapi kita juga harus tetap ingat bahwa fokus ibadah kita tetap pada Allah, dan yang namanya ibadah tidak hanya khusus pada bulan Ramadhan. Ramadhan bermakna bulan yang dipilih oleh Allah untuk menempa dan menguji setiap orang beriman untuk menjadi orang bertakwa kapan pun dan dimana pun berada. Makna ini memberikan kita pengertian lebih bahwa Ramadhan mengandung nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran untuk dijadikan kesadaran mendasar pada hati tiap-tiap orang beriman untuk selalu menjaganya di setiap waktu dan tempat.
            Bila kita mau menelusuri kembali sejarah emas Nabi Muhammad beserta sahabatnya, maka kita akan menemukan kenyataan menarik mengenai penyikapan mereka terhadap bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan di bulan Ramadhan, tetap terjaga di bulan-bulan lainnya. Mereka paham betul bahwa Ramadhan merupakan momen tepat untuk beramal dan berkarya untuk ditularkan pada bulan-bulan selanjutnya. Ketika Ramadhan telah pergi, mereka berdoa agar diperjumpakan kembali dengan Ramadhan. Tak sedikit dari mereka yang sejak jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Mereka paham betul bahwa ibadah dalam bulan Ramadhan dimaksudkan untuh melatih diri agar bertakwa, sedangkan takwa adalah sebaik-baik bekal yang harus terus diupayakan oleh orang beriman baik dalam bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Maka tak berlebihan jika ada riwayat yang menyatakan: Sekiranya para hamba Allah mengetahui (apa yang terkandung) pada Ramadhan, maka pasti setiap umat akan mengharap setiap hari dijadikan sebagai Ramadhan(R. Abu Ya`la, Ibnu Huzaimah). Ya dengan memperbaiki makna Ramadhan, maka tidak akan kita jumpai lagi orang yang rajin ibadah hanya pada bulan Ramadhan, karena Ramadhan sudah dijadikan kesadaran mendasar dalam jiwa, sehingga setiap bulan selalu diisi dengan amal sebagaimana Ramadhan.


Sumengko, Rabu 2 Juli 2014/22:03
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan