Ketika masih di Mesir(November 28, 2010 at 8:39pm), aku teringat pada seorang kakek tua renta duduk tenang bersila di serambi masjid al-Azhar. Setiap kali orang lalu lalang di depannya, ia sapa dengan senyuman dan aura wajah persahabatan. Tak hanya itu, ia juga membawa roti `is dan tho`miyah yang sengaja dibagikan selepas shalat Dzuhur bagi siapa saja yang menghendaki. Pertama kali aku melihatnya mungkin kurang begitu menarik perhatian. Lama-lama kuperhatikan dari bilik jendela kayu, ada kesan haru dan simpati. Betapa keikhlasan dan kedermawanannya sanggup mengalahkan rasa sakit yang dideritanya. Sewaktu berdiri ia sempoyongan berusaha mencari sandaran. Betapa aura keikhlasan terpancar dari wajahnya. Meski sakit ia tidak menjerit. Meski susah ia tidak marah. Benar-benar kakek teladan.
Latest Post
Kontroversi "Al-Fatihah Cinta" Ala Dol Shomad
“Kang Surip! semenjak kedatangan
anak nyeleneh dan aneh itu - alias Dol Shomad- ke kampung kita, kampung kita hampir tak luput dari masalah.
Selalu aja ada masalah.” crocos cak surip sekenanya. “Emang dia nglakuin
masalah apa lagi?” tanya mas Condro. “Gini mas Condro, masak al-Fatekah, ayat
yang keramat itu ditafsirin lain dari biasanya malah diembel-embeli cinta
segala.”tambah cak Surip. “Emang gimana bunyinya?” tanya mas Condro. “Begini
Bunyinya:
Aku
berlindung pada Allah dari cinta yang buta lagi melenakan
Aku mulai
cintaku dengan rasa kasih dan sayang
Segala puji
bagi Allah yang telah menganugerahkan pada seantero alam
cinta yang
tulus
Sehingga aku
bisa menyayangi dan mengasihi
Hingga hari
pembalasan
Hanya pada
satu gadis kukan setia, dan hanya dia pelipur laraku
Tunjukkanlah
padaku ya Tuhanku cinta yang sejati
Yaitu cinta
yang lahir dari rahim orang-orang yang tlah kau anugerahkan kesejatian cinta,
bukan cintannya orang-orang yang mengagunggkan cinta palsu, lagi menipu.
Kabulkanlah
wahai Sang Pecinta.” jawab Cak Surip.
“Wah, wah bahaya anak ini, bisa
sesat tuh semua orang yang baca tafsirannya. Kita samperin aja dia, bila perlu
kita massa aja biar jera tu anak” kata mas Condro.
(tiba-tiba datang sekelompok
orang mendatangi rumah Dol Shomad. Shomad pun ber-husnudzan mungkin saja
mereka mau bershilaturrahim) tau-taunya, mereka menghujat, mencela, mencerca
bahkan mengafirkan Shomad karena membuat penasfsiran baru mengenai surat
al-Fatehah. Setelah mereka puas menghujat, Shomad menjawab:
"Saudara-saudara, bapak-bapak, ibu-ibu, adhek-adhek sekalian dan semua
yang ada di sini, denger baik-baik ya, Shomad bukan menafsirkan al-Fatekah
dengan embel cinta, tapi menulis tulisan cinta meniru gaya al-Fatehah, apa itu
salah, kafir, sesat? kalau begini sesat berarti banyak sekali dong ulama-ulama turos
yang sesat lantaran meniru gaya al-Qur`an dalam sya`irnya yang biasa dikenal
dengan iqtibās?
makanya kalau denger berita jangan asal terima sebelum dicek kebenarannya,
jangan asal percaya sama mas Condro dan cak Surip, meski tampang mereka berdua ngalim
dan nyoleh tapi hatinya busuk[jawab Shomad nyerocos tak hentinya],
akhirnya dengan rasa malu sekerumunan orang itu bubar, sedangkan cak Surip dan
Mas Condro hanya bisa geleng-geleng kepala sembari berujar: "Kalah lagi
kita ma tu anak, 2:0".
Memohon Perlindungan
Ya Allah Ya Tuhan kami,
sehebat-hebat kami, di hadapan-Mu kami lemah tak berarti.
Karena lemah, hanya pada-Mu kami
pasrah.
Ya Allah Ya Tuhan kami, sekuat-kuat
kami, di hadapan-Mu kami hina tak bernilai.
Lantaran hina, hanya karena-Mu kami
bermakna.
Kami berlindung pada-Mu, dari
godaan setan terkutuk, yang sepanjang hari tak pernah duduk, mengelincirkan
kami dari petunjuk.
Lindungilah kami, ketika membaca
al-Qur`an, agar terhindar dari, segala macam godaan.
Lindungilah kami, ketika
beribadah, agar terhindar dari, riya` dan sum`ah.
Lindungilah kami, dari dunia,
yang merenggut taqwa.
Kepada
siapa lagi kami berlindung, jika Engkau
tak mendukung.
Bimbinglah kami, menjadi orang-orang beruntung.
Membangun Basis Maritim Kuat
Peradaban –sebagaimana yang dinyatakan oleh
Pemikir Besar Muslim berkebangsaan Al-Jazair, Malik bin Nabi- memiliki tiga unsur penting
yaitu: Tanah, waktu, dan manusia. Karena itulah untuk membangun peradaban
gemilang, ketiga unsur itu harus dipenuhi. Tanah (bumi) adalah tempat untuk
membangun peradaban, waktu adalah bagian penting yang merupakan masa
terbentangnya proses pembentukan peradaban, sedangkan manusia adalah sebagai ‘aktor
peradaban’ atau ‘subyek peradaban’. Dalam sejarah Islam misalnya, ketiga unsur
itu terpenuhi ketika peradabannya berada pada puncak kejayaan. Dari ketiga
unsur itu, pada tulisan ini akan dipaparkan lebih khusus mengenai unsur
tanah(bumi) bagi terciptanya peradaban. Kalau kita berbicara unsur tersebut,
maka bukan berarti wilayah peradaban hanya di daratan, namun juga laut sebagai
bagian dari unsurnya. Dalam sejarah Islam basis kekuatan darat sejak zaman
Rasul sudah dibina dengan sangat baik, namun kekuatan maritim baru bisa
dibangun sejak masa Utsman bin Affan. Siapakah tokoh yang mencetuskan ide
pembangunan kekuatan maritim?
Tokoh tersebut bernama
Mu`awiyah bin Sufyan, yang membuat keputusan fenomenal untuk perang melalui
jalur laut. Ialah pertama kali yang mengusulkan untuk mendirikan armada
angkatan laut. Ia berencana untuk bertempur dengan tentara Romawi yang telah berabad-abad
menguasai Laut Tengah (Mediterania). Karena selama ini dengan sangat leluasa
orang Bizantium Romawi melakukan kejahatan di laut, namun tidak ada yang bisa
mengatasinya. Pada zaman Umar –meskipun telah melibatkan Amru bin Ash untuk
membujuknya- ide ini ditolak mentah-mentah selama kepemimpinannya . Pada
zaman Utsman, ide ini juga disampaikan padanya. Akhirnya diterima, namun beliau
memerintahkan agar tidak memaksa siapapun untuk mengikuti angkatan ini, kecuali
yang mau saja. Dimulailah pembangunan kekuatan maritim oleh Mu`awiyah. Kapal
diperbanyak, tentara disiapkan sedemikian rupa untuk siap-siap melakukan
ekspedisi militer perdana menuju Cyprus yang mengikut Bizantium Romawi.
Diangkatlah Abdullah bin
Qais sebagai panglima perang yang dilengkapi dengan pasukan yang diiringi
sahabat seperti Abu Dardā`,
Abu Dzar al-Ghifāri, Ubādah bin Shāmit, dan
masuk dalam rombongan juga, Ummu Harām binti Milhān (istri Ubādah bin Shāmit). Mulailah mereka bergerak menuju Cyprus, dan terwujudlah apa yang
sudah lama diprediksi oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam
yang disampaikan pada Ummu Harām
yang intinya akan ada dari umatku yang berperang di jalan Allah ta`āla melalui jalur laut. Kemudian Ummu Harām, memohon agar dijadikan bagian dari rombongan tersebut. Terjadilah
apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Dimulailah
pertempuran laut. Pada akhirnya, Cyprus bisa ditaklukkan. Ekspedisi militer perdana
dalam bidang maritim ini menuai kesuksesan gemilang, yang diikuti oleh
kemenangan-kemenangan berikutnya seperti pertempuran Dzātu al-Shawāri dan lain sebagainya.
Dengan penguasaan
wilayah maritim ini, kelak peradaban Islam bisa terjaga keseimbangannya dengan
baik. Bukan saja menguasai bidang darat tapi juga laut. Sebagai contoh dari
mereka yang berperan besar dalam bidang maritim ialah Thariq bin Ziyad, Musa
bin Nushair (yang menyebrangi lautan untuk membebaskan Andalusia), Khairuddi
Barbarossa (yang dituduh oleh kalangan Barat sebagai ‘Bajak Laut’ pada abad-16).
Padahal dia menjadi pengaman laut. Ide cemerlang Mu`awiyah ini merupakan
tonggak dari terbangunnya peradaban besar Islam. Apa yang dilakukan oleh Mu`awiyah
sebenarnya bukan saja terfokus pada pentingnya kekuatan militer laut, lebih
dari itu ialah bahwa dalam sebuah peradaban, yang dikelolah bukan hanya
daratan, tapi juga lautan. Bukankah wilayah laut lebih luas dari wilayah darat?
Orang yang bisa mengelolah laut dengan sebaik-baiknya maka dialah nanti yang
akan menjadi peradaban besar. Nusantara dulu menonjol kekuasaannya karena menguasai dunia maritim,
lalu menjadi mundur ketika fokusnya berubah hanya pada sektor agraris. Karena
itulah –sekali lagi- bila peradaban mau bangkit, maka kedua sektor itu harus
dibangun sebaik-baiknya, sebagai unsur penting dari peradaban. Wallahu a`lam
bi al-Shawāb.
Mengenang Sang Teladan
Written By Amoe Hirata on Jumat, 02 Januari 2015 | 14.34
Manu pergi menjalankan aktifitas rutinnya menjadi penggembala kambing. Supaya tidak sepi ia mengenang kembali sosok Nabi Muhammad yang sewaktu kecil sama-sama berprofesi sebagai penggembala kambing. Ia mencoba membuat nyanyian rindu untuk mengenang Sang Teladan Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam:
Hati ini berpijar terang
Ketika mengingat dirimu
Jiwa ini berkilau cahaya
Ketika mengenang dirimu
Muhammad ......
Nabiku...
Muhammad.....
Rasulku...
Sang teladan
Menjadi panutan
Abadikan cinta ini
Hingga di taman FIRDAUSI
Kekalkan rindu ini
Hingga di taman SURGAWI





