Latest Post

Kakek Teladan di Masjid Al-Azhar

Written By Amoe Hirata on Senin, 05 Januari 2015 | 22.27

Ketika masih di Mesir(November 28, 2010 at 8:39pm), aku teringat pada seorang kakek tua renta duduk tenang bersila di serambi masjid al-Azhar. Setiap kali orang lalu lalang di depannya, ia sapa dengan senyuman dan aura wajah persahabatan. Tak hanya itu, ia juga membawa roti `is dan tho`miyah yang sengaja dibagikan selepas shalat Dzuhur bagi siapa saja yang menghendaki. Pertama kali aku melihatnya mungkin kurang begitu menarik perhatian. Lama-lama kuperhatikan dari bilik jendela kayu, ada kesan haru dan simpati. Betapa keikhlasan dan kedermawanannya sanggup mengalahkan rasa sakit yang dideritanya. Sewaktu berdiri ia sempoyongan berusaha mencari sandaran. Betapa aura keikhlasan terpancar dari wajahnya. Meski sakit ia tidak menjerit. Meski susah ia tidak marah. Benar-benar kakek teladan. 

Kontroversi "Al-Fatihah Cinta" Ala Dol Shomad

“Kang Surip! semenjak kedatangan anak nyeleneh dan aneh itu - alias Dol Shomad- ke kampung kita,  kampung kita hampir tak luput dari masalah. Selalu aja ada masalah.” crocos cak surip sekenanya. “Emang dia nglakuin masalah apa lagi?” tanya mas Condro. “Gini mas Condro, masak al-Fatekah, ayat yang keramat itu ditafsirin lain dari biasanya malah diembel-embeli cinta segala.”tambah cak Surip. “Emang gimana bunyinya?” tanya mas Condro. “Begini Bunyinya:
Aku berlindung pada Allah dari cinta yang buta lagi melenakan
Aku mulai cintaku dengan rasa kasih dan sayang
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan pada seantero alam
cinta yang tulus
Sehingga aku bisa menyayangi dan mengasihi
Hingga hari pembalasan
Hanya pada satu gadis kukan setia, dan hanya dia pelipur laraku
Tunjukkanlah padaku ya Tuhanku cinta yang sejati
Yaitu cinta yang lahir dari rahim orang-orang yang tlah kau anugerahkan kesejatian cinta, bukan cintannya orang-orang yang mengagunggkan cinta palsu, lagi menipu.
Kabulkanlah wahai Sang Pecinta.” jawab Cak Surip.
“Wah, wah bahaya anak ini, bisa sesat tuh semua orang yang baca tafsirannya. Kita samperin aja dia, bila perlu kita massa aja biar jera tu anak” kata mas Condro.

(tiba-tiba datang sekelompok orang mendatangi rumah Dol Shomad. Shomad pun ber-husnudzan mungkin saja mereka mau bershilaturrahim) tau-taunya, mereka menghujat, mencela, mencerca bahkan mengafirkan Shomad karena membuat penasfsiran baru mengenai surat al-Fatehah. Setelah mereka puas menghujat, Shomad menjawab: "Saudara-saudara, bapak-bapak, ibu-ibu, adhek-adhek sekalian dan semua yang ada di sini, denger baik-baik ya, Shomad bukan menafsirkan al-Fatekah dengan embel cinta, tapi menulis tulisan cinta meniru gaya al-Fatehah, apa itu salah, kafir, sesat? kalau begini sesat berarti banyak sekali dong ulama-ulama turos yang sesat lantaran meniru gaya al-Qur`an dalam sya`irnya yang biasa dikenal dengan iqtibās? makanya kalau denger berita jangan asal terima sebelum dicek kebenarannya, jangan asal percaya sama mas Condro dan cak Surip, meski tampang mereka berdua ngalim dan nyoleh tapi hatinya busuk[jawab Shomad nyerocos tak hentinya], akhirnya dengan rasa malu sekerumunan orang itu bubar, sedangkan cak Surip dan Mas Condro hanya bisa geleng-geleng kepala sembari berujar: "Kalah lagi kita ma tu anak, 2:0".

Memohon Perlindungan

Ya Allah Ya Tuhan kami, sehebat-hebat kami, di hadapan-Mu kami lemah tak berarti.
Karena lemah, hanya pada-Mu kami pasrah.
Ya Allah Ya Tuhan kami, sekuat-kuat kami, di hadapan-Mu kami hina tak bernilai.
Lantaran hina, hanya karena-Mu kami bermakna.
Kami berlindung pada-Mu, dari godaan setan terkutuk, yang sepanjang hari tak pernah duduk, mengelincirkan kami dari petunjuk.
Lindungilah kami, ketika membaca al-Qur`an, agar terhindar dari, segala macam godaan.
Lindungilah kami, ketika beribadah, agar terhindar dari, riya` dan sum`ah.
Lindungilah kami, dari dunia, yang merenggut taqwa.
Kepada siapa lagi kami berlindung, jika  Engkau tak mendukung.
Bimbinglah kami, menjadi orang-orang beruntung.

Membangun Basis Maritim Kuat

Peradaban –sebagaimana yang dinyatakan oleh Pemikir Besar Muslim berkebangsaan Al-Jazair, Malik bin Nabi- memiliki tiga unsur penting yaitu: Tanah, waktu, dan manusia. Karena itulah untuk membangun peradaban gemilang, ketiga unsur itu harus dipenuhi. Tanah (bumi) adalah tempat untuk membangun peradaban, waktu adalah bagian penting yang merupakan masa terbentangnya proses pembentukan peradaban, sedangkan manusia adalah sebagai ‘aktor peradaban’ atau ‘subyek peradaban’. Dalam sejarah Islam misalnya, ketiga unsur itu terpenuhi ketika peradabannya berada pada puncak kejayaan. Dari ketiga unsur itu, pada tulisan ini akan dipaparkan lebih khusus mengenai unsur tanah(bumi) bagi terciptanya peradaban. Kalau kita berbicara unsur tersebut, maka bukan berarti wilayah peradaban hanya di daratan, namun juga laut sebagai bagian dari unsurnya. Dalam sejarah Islam basis kekuatan darat sejak zaman Rasul sudah dibina dengan sangat baik, namun kekuatan maritim baru bisa dibangun sejak masa Utsman bin Affan. Siapakah tokoh yang mencetuskan ide pembangunan kekuatan maritim?
            Tokoh tersebut bernama Mu`awiyah bin Sufyan, yang membuat keputusan fenomenal untuk perang melalui jalur laut. Ialah pertama kali yang mengusulkan untuk mendirikan armada angkatan laut. Ia berencana untuk bertempur dengan tentara Romawi yang telah berabad-abad menguasai Laut Tengah (Mediterania). Karena selama ini dengan sangat leluasa orang Bizantium Romawi melakukan kejahatan di laut, namun tidak ada yang bisa mengatasinya. Pada zaman Umar –meskipun telah melibatkan Amru bin Ash untuk membujuknya- ide ini ditolak mentah-mentah selama kepemimpinannya . Pada zaman Utsman, ide ini juga disampaikan padanya. Akhirnya diterima, namun beliau memerintahkan agar tidak memaksa siapapun untuk mengikuti angkatan ini, kecuali yang mau saja. Dimulailah pembangunan kekuatan maritim oleh Mu`awiyah. Kapal diperbanyak, tentara disiapkan sedemikian rupa untuk siap-siap melakukan ekspedisi militer perdana menuju Cyprus yang mengikut Bizantium Romawi.
            Diangkatlah Abdullah bin Qais sebagai panglima perang yang dilengkapi dengan pasukan yang diiringi sahabat seperti Abu Dardā`, Abu Dzar al-Ghifāri, Ubādah bin Shāmit, dan masuk dalam rombongan juga, Ummu Harām binti Milhān (istri Ubādah bin Shāmit). Mulailah mereka bergerak menuju Cyprus, dan terwujudlah apa yang sudah lama diprediksi oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam yang disampaikan pada Ummu Harām yang intinya akan ada dari umatku yang berperang di jalan Allah ta`āla melalui jalur laut. Kemudian Ummu Harām, memohon agar dijadikan bagian dari rombongan tersebut. Terjadilah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Dimulailah pertempuran laut. Pada akhirnya, Cyprus bisa ditaklukkan. Ekspedisi militer perdana dalam bidang maritim ini menuai kesuksesan gemilang, yang diikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya seperti pertempuran Dzātu al-Shawāri dan lain sebagainya.
            Dengan penguasaan wilayah maritim ini, kelak peradaban Islam bisa terjaga keseimbangannya dengan baik. Bukan saja menguasai bidang darat tapi juga laut. Sebagai contoh dari mereka yang berperan besar dalam bidang maritim ialah Thariq bin Ziyad, Musa bin Nushair (yang menyebrangi lautan untuk membebaskan Andalusia), Khairuddi Barbarossa (yang dituduh oleh kalangan Barat sebagai ‘Bajak Laut’ pada abad-16). Padahal dia menjadi pengaman laut. Ide cemerlang Mu`awiyah ini merupakan tonggak dari terbangunnya peradaban besar Islam. Apa yang dilakukan oleh Mu`awiyah sebenarnya bukan saja terfokus pada pentingnya kekuatan militer laut, lebih dari itu ialah bahwa dalam sebuah peradaban, yang dikelolah bukan hanya daratan, tapi juga lautan. Bukankah wilayah laut lebih luas dari wilayah darat? Orang yang bisa mengelolah laut dengan sebaik-baiknya maka dialah nanti yang akan menjadi peradaban besar. Nusantara dulu menonjol  kekuasaannya karena menguasai dunia maritim, lalu menjadi mundur ketika fokusnya berubah hanya pada sektor agraris. Karena itulah –sekali lagi- bila peradaban mau bangkit, maka kedua sektor itu harus dibangun sebaik-baiknya, sebagai unsur penting dari peradaban. Wallahu a`lam bi al-Shawāb. 

Mengenang Sang Teladan

Written By Amoe Hirata on Jumat, 02 Januari 2015 | 14.34

Manu pergi menjalankan aktifitas rutinnya menjadi penggembala kambing. Supaya tidak sepi ia mengenang kembali sosok Nabi Muhammad yang sewaktu kecil sama-sama berprofesi sebagai penggembala kambing. Ia mencoba membuat nyanyian rindu untuk mengenang Sang Teladan Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam:


Hati ini berpijar terang
Ketika mengingat dirimu

Jiwa ini berkilau cahaya
Ketika mengenang dirimu

Muhammad ......
Nabiku...

Muhammad.....
Rasulku...

Sang teladan
Menjadi panutan

Abadikan cinta ini
Hingga di taman FIRDAUSI

Kekalkan rindu ini
Hingga di taman SURGAWI

Menjemput 'Momentum Kemenangan'

Kemenangan selalu meminta pengorbanan yang luar biasa dari penginginnya. Kemenangan selalu dilatari oleh keberhasilan ‘pengingin kemenangan’ dalam melampaui nafsu sesaatnya. Ia memiliki pandangan jauh ke depan melebihi orang-orang pada zamannya. Antusias, ambisi, kekuatan, kecerdasan, pengalaman, kecepatan, ilmu dan kepribadian ‘pengingin kemenangan' begitu menonjol dan malampaui orang-orang di sekelilingnya. Lebih jauh dari itu kalau ditilik secara mendalam, ternyata di balik suksesnya para ‘pengingin kemenangan’ bukan semata terletak pada ambisi besarnya untuk meraih kemenangan, tapi karena ia bisa mempertemukan antara kelebihan yang dimiliki dengan takdir kemenangannya yang disebut ‘momentum kemenangan’. ‘Momentum Kemenangan’ merupakan saat di mana ‘pengingin kemenangan’ mampu mengawinkan segenap potensi yang dimiliki dengan takdi Tuhan. Ia sudah habis-habisan mengerahkan segenap potensinya untuk menemukan ‘momentum kemenangan’. Yang diperlukan oleh mereka ialah semangat pembelajaran tida henti. Belajar sedemekian rupa tanpa mengenal lelah dan lesuh. Sedapat mungkin ia membuat warna dalam hidupnya supaya tidak dililit oleh kondisi futur yang dapat merusak ‘selera kemenangan’.

‘Pengingin Kemenangan” begitu memiliki power(kekuatan) ekstra; speed(kecepatan) prima dalam bertindak dan mengambil keputusan; memiliki timing(ketepatan waktu dan akurasi yang tepat). Ketiga hal tadi oleh para ‘pengingin kemenangan’ dipadukan sedemekian indah, cantik dan sungguh-sungguh hingga menjumpai titik klimaks dari ‘momentum kemenangan’. Ini berlaku bagi orang muslim maupun non muslim. Hanya yang membedakan antara muslim dan non muslim ialah bahwa kalau muslim, kemenangan hanyalah sarana untuk menuju tujuan yang lebih hakiki dan abadi berupa keridhaan Allah di dunia dan Akhirat, tapi kalau non muslim kemenangan merupakan tujuan utama dan dibolehkan dengan cara apa saja. Di antara ‘pengingin kemenangan’ terbaik yang pernah dimiliki umat Islam ialah Sultan Mehmed II (Muhammad al-Fatih) yang mampu menjemput bisyarah (kabar gembira) Nabi untuk memenangkan Konstantinopel yang menjadi fokus para pemimpin Islam berabad-abad. Dengan potensi yang luar biasa itu, serta niat yang pas, akhirnya ia menemukan momentum kemenangannya menuju ridha Tuhannya. Umat Islam sekarang ini berada pada titik nadhir kelangkaan pemimpin sekaliber Mehmed al-Fatih. Kapan kiranya umat Islam menjemput momentum kemenangan lagi? Jawabannya pada diri anda masing-masing.

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan