Latest Post

Ikhlas Bagi Anda, Halal Bagi Kami

Written By Amoe Hirata on Kamis, 05 Februari 2015 | 16.49

            Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, saatnya Sarikhuluk berangkat menuju Pulau Garam, Madura. Ia mendapat kabar bahwa salah satu gurunya – yang bernama Imron Khozinudin -  sedang sakit. Ia ke Pulau Garam pergi sendiri dan lebih memilih untuk naik bus. Bagi Sarikhuluk, naik bus merupakan  suatu pengalaman yang tidak biasa. Ia bisa melihat langsung bagaimana sifat-sifat dasar manusia ketika di bus. Daripada melihat beberapa caleg yang terpampang di baliho-baliho, Ia lebih suka melakukakan ‘wisata hati’ di bus sembari mempelajari watak-watak manusia. Begitulah Sarikhuluk. Setiap kali bepergian Ia tak mau menyia-nyiakan sedetik pun apa yang dialaminya. Banyak sekali yang Ia alami di bus. Ia pernah dicopet, dimarahin orang, diajak berkelahi, berseteru dengan kondiktur, membantu ibu-ibu yang tiba-tiba pingsan, menggantikan supir yang mendadak sakit, mengantar wanita yang sedang darurat ingin melahirkan, sesekali Ia juga pernah mengamen ketika sedang kehabisan uang, dan masih banyak lagi pengalaman yang begitu memberikan pelajaran berharga baginya. Ia sangat menikmati perjalanan selama di bus. Di bus Ia mendapatkan pelajaran berharga, yang bisa jadi tidak akan pernah Ia dapatkan di bangku-bangku sekolah dan kuliah, meski sudah bertahun-tahun.
            Selama perjalanan di bus, ada satu hal yang kali ini menarik perhatiannya. Dari pertama kali berangkat hingga sampai tujuan, Ia sangat menikmati lagu-lagu yang dibawakan para pengamen. Yang terutama sebenarnya bukan karena suaranya-karena tak semua suara pengamen merdu, ada juga yang fales-, tapi biasanya lagu-lagu yang dibawakan itu bernuansa kemanusiaan, keserdehanaan, kritik sosial, . Lebih dari itu, selama di bus – ketika berangkat saja - ada sekitar 5 pengamen yang bergonta-ganti mengais rizki di bus yang Sarikhuluk tumpangi. Ada kalimat yang benar-benar Sarikhuluk amati betul-betul, yang biasanya kerap kali diucapkan oleh setiap pengamen baik sebelum atau sesudah menyanyikan lagu yaitu: “Ikhlas bagi anda, halal bagi kami”. Siapa saja yang pernah naik bus, terutama di Indonesia, pasti tak asing dengan para pengamen yang mengucamkan kalimat itu. Bagi Sarikhuluk, kalimat itu jangan sampai hanya menjadi ‘angin lewat’. Ia harus bisa menguak makna, menyibak pelajaran yang tersimpan di dalamnya. Ia harus mampu menyelaminya, bukan hanya pada tataran makna yang dangkal, tetapi juga nuansa, semangat, keadaan yang dialami pengamen ketika mengeluarkan kata-kata itu. Inilah yang membedakan Sarikhuluk dengan penumpang-penumpang bus lainnya. Ia menganggap, setiap peristiwa yang dialami di bus merupakan ‘kado Tuhan’ untuk memberi pelajaran berharga baginya.
            Ia berusaha merenungi kalimat: “Ikhlas Bagi Anda, Halal Bagi Kami”. Kalau dicermati, kandungan maknanya begitu dalam. Kalimat itu menggambarkan perpaduan antara akhlak dan hukum; menggambarkan ‘pengawinan’ antara ‘kesadaran hukum’ dengan ‘kesadaran akhlak’; menggambarkan tentang penyatuan antara ‘tata hukum’ yang bersifat materil, dengan ‘tata krama’ yang bersifat non-materil. Akhlak diwakili dengan kata, ‘ikhlas’, sedangkan hukum diwakili dengan kata, ‘halal’. Walaupun tak menjamin bahwa setiap mereka pasti mengerti dan melakukan apa yang dikatakan, tapi paling tidak bagi Sarikhuluk mereka lebih jujur dalam mengamalkan kalimat itu, dibandingkan dengan pejabat-pejabat pemerintah yang koar-koar tentang hukum; dibanding dengan ustadz-ustadz di TV yang rajin menyerukan akhlak. Di Indonesia ini, yang ditegakkan baru supremasi hukum, sedangkan akhlak tak pernah menjadi supremasi. Makanya Sarikhuluk tak heran jika hukum di Indonesia ini gampang diperjualbelikan, lantaran ‘kesadaran hukum’ tidak berbanding lurus dengan ‘kesadaran akhlak’. Para pengamen ngerti betul bahwa sesulit apapun keadaan yang dialami, tetap harus dibangun kesadaran dalam batin untuk tetap taat hukum berupa: mencari rizki harus dengan cara yang halal, jangan sampai mendzalimi orang lain, jangan sampai meniru para pejabat yang menghalalkan segala cara untuk mengais rizki. Hukum saja tak cukup, supaya lebih bermakna suatu pemberian, maka Ia mengingatkan pada para penumpang untuk ‘sadar akhlak’ bahwa ‘ikhlas’ adalah kata kunci yang menjadikan pemberian tak terhenti pada makna wadag, jasmani tetapi lebih dari itu akan menjadikannya bermakna rohani, ukhrowi.
            Kalimat yang diucapkan setiap pengamen sebagaimana yang Sarikhuluk dengar sebenarnya juga bisa dijadikan kritik sosial. Mereka saja yang dianggap remeh, hina, marjinal, dan dipandang sebelah mata, berusaha sedemikian rupa untuk ‘taat hukum’ yang dibuat (hukumnya juga bukan sekadar hukum buatan manusia tetapi hukum buatan Tuan), dan ‘menjunjung tinggi nilai akhlak’, apalagi para pemimpin, para pejabat negara, yang notabene lebih terpelajar, berpendidikan, dan terpandang. Tetapi sekali lagi, kenyataan berkata lain. Terdapat kesenjangan yang sangat tajam diantara mereka. Apa yang terjadi di negeri tercinta ini malah sebaliknya. Betapa banyak orang yang mengerti hukum tapi tak mengindahkan dan tak sadar hukum. Hukum hanya ditegakkan jika menyangkut orang lain, tetapi ketika hukum mengenai pribadi dan keluarganya, maka hukum menjadi lunak. Betapa banyak orang yang paham nilai akhlak, tetapi akhlak hanya terbatas pada taraf teori dan tak benar-benar menjadi kesadaran diri pada masing-masing figur yang notabene dianggap sebagai tokoh yang mengerti betul tentang akhlak. Melihat fakta yang demikian memilukan, Sarikhuluk menjadi semakin prihatin sekaligus tertawa lucu. Ia sangat prihatin karena bila hukum sudah tak ditaati, lalu apakah bisa dijamin mengenai keamanan rakyat, padahal salah satu kebutuhan pokok rakyat ialah terwujudnya stabilitas keamanan. Apalah arti kesejahteraan jika tak beriring rasa aman sentausa. Ia sangat prihatin jika nilai akhlak ditanggalkan dari batin manusia, maka akan hilang ‘kontrol-kontrol batin’ sebagai penunjang dari ‘kontrol lahir’(berupa hukum). Kalau keduanya sudah tak ditegakkan maka apa yang diharapkan dari negara. Ia juga merasa sangat lucu melihat kondisi ini. Sampai-sampai saking lucunya sampai dia membayangkan bagaimana jika seandainya para pejabat yang ngamen, kira-kira apa yang akan di katakan sebelum dan sesudah ngamen. Sarikhuluk berusaha mengarangnya, dan hasilnya seperti ini: “Melas bagi anda, royal bagi kami”. Artinya: rakyat semakin susah dan melas karena hartanya dikeruk oleh ‘pengamen-pengamen negara’, ketika harta sudah didapat maka, difoya-foyakan dan diroyal-royalkan untuk kepentingan pribadi. Beginilah jika hukum diceraikan dari akhlak, atau keduanya dihilangkan dari kesadaran batin manusia.
(Tanpa sadar ternyata karena asyik merenung, Sarikhuluk kebablasan karena sebenarnya yang Ia tuju ialah Pamekasan, tapi ternyata dia sudah sampai Kali Anget, Sumenep. Haduuuuh, .... balik poleh ta` iyeh.... peseh poleh).

Sumengko, Rabu 5 Maret 2014, 06: 18.

أتباع عقائد لا أتباع أفراد

Written By Amoe Hirata on Rabu, 04 Februari 2015 | 12.43

لقد جُبِل الإنسان على حبّ من لديه العظمة والرفعة. وقد مثّل القرآن عظمة الشخض بالملأ. سمي الملأ ملأً لأنه يملئون عيون الناس بالعجب والفخر. الرجل العظيم أحبُّ إلى الناس من الرجل العادي بل الحقير. حينما ننظر إلى واقع الحياة نجد مدى اهتمام الناس بقولهم وفعلهم حتى أنهم اقتدوا وتأسوا بهم. لكن من العسف الشديد حبُ الناس إلى رجل عظيم الشأن منوط بحياته لا بالقِيم التى عمل واعتقد بها. الشخص العظيم لا يزال مُتبعا مادام حيّاً. أما إذا مات ورحل إلى الرفيق الأعلى أسقطوا فى أيديهم وانكسرت همتهم. والسر فى ذلك كله أن الإنسان مثل ما سبق جبل على حب شخص عظيم.

لما أشيع أن الرسول عليه الصلاة والسلام مات فى غزوة أُحُد, انكسرت همة من الصاحبة وأسقطوا فى أيديهم ويئست عن نصرة الله. لقد عاتب الله تعالى من انكسرت همتهم وأسقط في أيديهم. فموت الرسول  عليه الصلاة ة السلام فى نظر بعضهم بصدد الهزيمة الشديدة. نعم حبهم للرسول فى غاية الأعلى, لكن انكسارهم فى مثل هذا الظروف شيئ قبيح. لو قدر الله مثلاً أن رسول الله مات فى تلك الآونة فليس من حق الصحابة أن ينهاروأ ويتخاذلوا بل عليهم بالثبات والجهاد حتى فازوا بالشهادة أو النصر. إن مهمة محمد عليه الصلاة والسلام مقصورة على تبليغ الدعوة ليخرج الناس من الظلمات إلى النور. فإذا بلّغ رسالته ومات, فهل يجوز لمن اهتدي بهديه يعود إلى ضلالاته؟.
لقد قال تبارك وتعالى فى مُحْكَم التنزيل: "وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل  أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين[آل عمران: 144]". فإذا مات محمد عليه الصلاة والسلام ظلت الصلة الكبرى بالله الذى لا يموت. بعد سرد البيان السالف نخرج الدرس فى غاية الأهمية ألا وهو: نحن المسلمون أتباع عقائد لا أتباع أفراد، نحن أتباع مبادئ لا أتباع أشخاص. فالرسول صلَّى الله عليه وآله وسلم ترك لنا دستورين عظيمين اذا تمسكنا بهما لن نضل أبدا وهما: كتاب الله وسنته العطرة. فى الحقيقة قد توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم لكنه ترك لنا القيم الأبدية. فالفوز والفلاح باتباع المبادئ لا الأسخاص وباتباع العقائد لا الأفراد. فالله أعلم بالصواب.

Generasi Pengamal, bukan Pengomel

Written By Amoe Hirata on Selasa, 03 Februari 2015 | 20.17

          Menjadi mulia merupakan impian banyak orang, sedangkan menjadi hina merupakan momok banyak orang. Namun dalam mempersepsikan kemuliaan masing-masing orang berbeda-beda pendapat. Kemuliaan didefinisikan menurut idiologi atau world view (pandangan hidup) yang mendominasi alam pikirnya. Orang beridiologi kapitalis materialistis akan memandang bahwa orang dikatakan mulia ialah yang memiliki fisik yang indah, memiliki harta banyak, kedudukan tinggi dan berbagai atribut penilaian materil lainnya. Adapun Islam sebagai agama kamil(sempurna) dan mutakaamil(paripurna) memandang bahwa kemulian itu bukan terutama terletak pada materi tapi pada kontribusi; terutama pada amal bukan omel; terutama pada kerja, bukan sekedar kata; terutama pada karya bukan sekedar retorika; terutama pada takwa bukan pada harta ataupu tahta. Maka generasi yang ingin dibentuk Islam ialah generasi yang pengamal bukan pengomel, pekerja bukan pengata, pejuang bukan pemberang. Allah menyatakan: Yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya(Al-Mulk: 2). Pada kesempatan lain Allah berfirman: sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertakwa(Al-Hujurat: 13). Jadi sekali lagi standar kemulian bukan terutama pada kuantitas materil tapi pada kulitas maknawi berupa ketakwaan.
            Coba kita menyusuri sejarah emas sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Pernahkah anda mendengar sahabat yang bernama Julaibib yang berasal dari kaum Anshar. Mungkin anda sekalian merasa asing dan hampir-hampir tak mengenalnya. Julaibib adalah sahabat mulia yang syahid dan dapat kemuliaan pernyataan dari  Nabi: Julaibib (bagian) dariku dan aku bagian darinya. Bayangkan bila anda hidup semasa Nabi dan diberi pernyataan dan ungkapan semacam itu. Anda tentu merasa syukur dan gembira. Lebih dari itu mungkin anda membayangkan, kenyataan bahwa Julaibib mendapat kemulian semacam itu berbanding lurus dengan bentuk fisiknya. Kesan pertama ketika anda melihatnya hanya dari ukuran fisik mungkin anda tidak akan bersimpati atau bahkan lari. Gambaran fisiknya: wajahnya sangat jelek dan berbadan pendek. Tidak ada satupun yang menarik dari fisiknya. Bahkan ketika Rasulullah menawarkannya nikah pada orang lain banyak sekali yang menolaknya, meski pada akhirnya ada yang mau, namun sekali lagi bukan karena keindahan fisik. Pernah juga ia menyatakan pada Rasulullah sewaktu ditawari nikah: kalau begitu engkau akan mendapatiku tidak akan laku. Rasulullah membesarkan hatinya dengan ungkapan: hanya saja engkau di mata Allah bukanlah orang yang tak laku. Julaibib secara realistis mengakui dan tahu diri, mana mungkin ada wanita yang mau sama dirinya, hingga menilai dirinya sebagai barang tak laku. Namun Rasulullah memberi pelajaran penting padanya bahwa yang menjadikan orang bernilai dan laku itu bukan karena fisik tapi kinerja. Pada akhirnya, Julaibib mendapatkan takdir kemuliaannya dan syahid di jalan Allah. Itu semua karena amal dan kontribusi tulusnya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam.

            Kenyataan lain yang senada dengan yang di atas ialah: bahwa Bilal bin Rabbah meski hitam dan jelek namun karena konsistensi dan kedawaman amalnya, ia mendapat kemulian berupa suara terompahnya sudah terdengar di surga meski pada waktu itu dia masih di dunia; bahwa ibnu Mas`ud yang memiliki fisik kecil dan pincang mendapat kesaksian Nabi: kaki ibnu Mas`ud bila ditimbang lebih berat ketimbang gunung Uhud; bahwa Zaid bin Haritsah yang memiliki fisik kurang menarik namun karena kerja dan amalnya beliau mendapat kemulian menjadi hibbu an-nabi(kesayangan Nabi); bahwa `Amru bin al-Jamuh meski pincang dan tua renta tak menghalanginya mandapat kemulian syahid di pertempuran Uhud. Kesemuanya memberikan arti penting pada kita bahwa generasi yang dibentuk dan dikader oleh Rasulullah ialah generasi yang berbingkai takwa. Mereka lebih mengutamakan amalan terbaik ketimbang sibuk terhadap urusan materil dan fisik. Mereka lebih mengutamakan kinerja dan kontribusi daripada sekedar retorika. Mereka lebih mengutamakan penilaian hakiki Tuhan daripada penilaian relatif orang. Dengan demikian sangatlah layak dan pantas ketika Rasulullah menyatakan: sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Karena yang dibangun Rasul bukanlah genarasi yang banyak omong tapi banyak berjuang; banyak amal bukan banyak omel. Dengan demikian orang yang pingin melahirkan generasi seperti mereka, sudah barang tentu harus menapaktilasi jejak dan meneladani mereka.

            Bagi siapa saja yang merasa mulia hanya sebatas kemuliaan fisik berupa harta, tahta, dan rupa, ketahuilah semua itu bakal sirna dan tiada. Ukuran kemuliaan secara materi akan lenyap seiring dengan bergulirnya roda waktu kehidupan. Maka dari itu semua itu bukan yang utama meski kita butuh juga dalam perjuangan. Kuncinya bukan terpaku dan berhenti pada materi dan fisik. Lebih dari itu bagaimana kita mampu mentransformasikan materi bernilai rohani. Materi dipergunakan sedemikian rupa untuk perjuang menuju ridha Allah ta`ala. Sebagaimana Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdur Rahman bin `Auf dan sahabat-sahabat lainnya. Mereka bernilai bukan semata karena fisik,  harta dan kedudukan yang mereka miliki. Mereka bernilai dan mulia karena mampu mengubahnya menjadi kontribusi ketaatan dan ketakwaan. Maka jangan heran jika orang yang secara fisik tidak begitu menarik, mampu mengungguli kemulian orang yang fisiknya menarik. Sekali lagi yang dapat menjelaskan rahasia di balik semua itu ialah: TAQWA. Dari kata “taqwa” ini kita menemukan konsep Nabi dalam membina sahabat-sahabatnya. Dengan konsep “taqwa” Rasulullah mampu melahirkan generasi yang mampui menciptikan kontribusi besar, bukan hanya untuk sesamanya tetapi kontribusi yang melampaui sekalian alam. Bahkan melampaui batas ruang dan waktu. Mereka adalah generasi yang dibina dan dibesarkan bukan karena banyak omel tapi banyak amal.

Akhwat Gawat Darurat

Shalihah kau bergaya
Di hati ba` srigala

Shalihah kau berdandan
Di hati ba` setan

Hati dan laku 
Tak pernah menyatu

Badan dan batin
Tak pernah terjalin

Selintas orang memandang
Terdecak penuh kagum

Sekilas orang melihat
Terkesima penuh haru


Tetapi.....
Bangkai kan tercium baunya
Meski dibungkus rapi

Tetapi....
Kedok kan terbuka
Meski ditutup rapi

Pada Dustur, Bukan Figur.

Written By Amoe Hirata on Minggu, 01 Februari 2015 | 19.52

Tema tentang cinta sahabat terhadap Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam merupakan tema yang tiada habisnya. Selalu ada sisi-sisi yang menarik dan indah dari lembaran cinta mereka terhadap Rasulullah shallallahu `alaihi wassallam. Kecintaan mereka terhadap Beliau sungguh luar biasa tiada tara. Mereka rela untuk susah, sedih, payah, sengsara, melarat, bahkan walaupun harus kehilangan satu-satunya nyawa. 
Bagaimana tidak, Nabi Muhammad adalah manusia teragung; makhluk terbaik yang memiliki kebesaran tiada tara; manusia pilihan yang diberi mandat Tuhan untuk menebarkan cinta bagi seantero alam. Rasa cinta yang berefek rela kehilangan nyawa menggambarkan betapa besarnya obyek yang dicintai. Mereka benar-benar tulus dan jujur pada rasa cinta mereka. Bukan hanya mendapat cinta yang diinginkan, tapi mendapatkan cinta yang benar dan tepat bagi kehidupan mereka. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: tidak (sempurna) keimanan di antara kalian, hingga aku lebih dicintai daripada anak, orang tua dan semua manusia. Mereka telah lulus dalam masalah cinta sehingga layak mendapatkan balik cinta kasih beliau. Bukan hanya di dunia yang fana tapi juga kelak di surga untuk selamanya.
            Namun, sebesar apapun cinta mereka terhadap Nabi, sedahsyat apapun sayang mereka kepada Rasul, sejatinya Rasul juga manusia biasa yang akan meninggal dunia. Karena itu, beliau meninggalkan dustur, prinsip nilai yang begitu luar biasa untuk dijadikan sistem ketika Beliau telah tiada. Karena Islam sebagai agama menyimpan dua daya tarik. Daya tarik pertama ialah kebenaran sejati yang konstan berupa nilai yang terkandung dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Daya tarik kedua ialah individu muslim sebagai pengejawantah kebenaran sejati yang bersifat temporal dan dinamis. Karena sifat figur muslim yang sementara dan temporal, maka kita dilarang terlalu bergantung pada figur. Bergantung pada meteri akan tiada jika materi sudah hancur binasa. Sedang bergantung pada prinsip nilai yang abadi dan hakiki akan senantiasa relevan sepanjang masa.
            Pada banyak kesempatan, Rasulullah melarang sahabat mengkultuskan individunya. Karena pada dasarnya, kecintaan yang berlebihan dan tak didasari nilai kebenaran hingga melahirkan kultus akan berdampak negatif baik bagi individu maupun perjuangan secara kolektif. Berkaitan dengan ini, ada peristiwa yang sangat berharga dan penting untuk dijadikan i`tibar. Kisah ini disadur dari sirah nabawiyah (kisah nabi) yang menceritakan kekalahan kaum muslimin pada perang Uhud. Ketika tersebar kabar miring bahwa Rasulullah telah meninggal dunia, beberapa sahabat tak kuasa menahan kenyataan ini hingga kocar-kacir, lari pontang-panting dari barisan jihad yang sebelumnya sangat kokoh dan teguh. Di antara mereka yang tetap tegar dan teguh membela Rasulullah ialah Abu Bakar, Umar, Ali dan sahabat besar lainnya. 
             Pada peristiwa besar ini, Allah menegur kaum muslimin bahwa perjuangan ini seharusnya tetap berjalan mesti figur Rasul telah tiada. Rasul hanyalah manusia biasa, yang tidak akan abadi di dunia. Ia terbatas usia dan waktu. Yang diutamakan ialah dusturnya, bukan kefigurannya; yang diprioritaskan ialah contohnya bukan ketokohannya. Dakwah akan senantiasa berjalan karena mempunyai pesona kebenaran abadi berupa al-Qur`an dan as-Sunnah. Meskipun pada batas tertentu kita diperkanankan untuk menghargai, menyayangi dan mencintainya, namun semua rasa ini tak boleh menggelapkan hati hingga jika beliau meninggal lantas ajarannya juga ditinggal.
            Organisasi apapun namanya, instansi apapun namanya, perkumpulan apapun namanya,  kalau acuan strategi dan visi misinya hanya terpaku pada figur dan tokoh maka dijamin tak akan berusia panjang. Militansi dan komitmennya sepanjang figur dan tokoh masih hidup. Adapun ketika telah tiada maka sedikit demi sedikit akan hancur berantakan. Bukan berarti cinta pada tokoh dan figur itu terlarang, tetapi kecintaan yang berlebihan dan tak berdasar malah akan berdampak negatif baik bagi individu maupun komunitas. Abu Bakar sedih bukan main ketika Rasulullah meninggal, sahabat yang lainpun demikian, hingga terdengar suara rintihan yang seolah tak percaya bahwa beliau telah pergi. Sahabat sekaliber Umar bin Khathab juga tak percaya kalau Nabi sudah meninggal, hingga dibacakan oleh Abu Bakar surat Ali Imran ayat 144. Bahwa Rasul manusia biasa dan akan mengalami kematian sebagaimana Rasul-rasul yang lain. 
            Seolah Abu Bakar ingin menegaskan bahwa Rasul memang telah tiada, namun ajarannya akan senantiasa ada. Jangan terpaku pada figur, terpakulah pada dustur abadi yang telah diwasiatkan Rasul ketika haji wada`: aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika berpegang teguh pada keduanya niscaya tak akan sesat selama-lamanya yakni: Kitab Allah dan Sunnahku. Prinsip-prinsip nilai yang abadi itu akan selalu menemani kita. Tiada kata henti dalam perjuangan ini, meski tokoh dan figur silih berganti. Kecintaan yang tinggi pada figur tidak boleh melunturkan komitmen kita pada dustur. Karena dustur ilahi tak kan pernah luntur.


Kiai Leres, Lurus & Laris

           Tidak  terasa, perjalanan Sarikhuluk  dalam melakukan pemberdayaan umat sudah berjalan empat puluh tahun tiga bulan sepuluh hari. Dia sendiri sebenarnya tidak pernah berhitung, bahkan tidak peduli dengan angka-angka keterlibatannya pada ranah sosial. Penghitungnya justru sahabat-sahabat terdekatnya yang kerap kali menemani dia dalam setiap perjalanannya. Sebagai contoh, Markoden(nama lengkapnya Umar Khozinudin). Setiap kali Sarikhuluk keluar, ia selalu menghitung dan mencatatnya. Bahkan kali ini, ia sudah mencatat sekitar sembilan ribu lima puluh kali pertemuan. Merupakan angka fenomenal yang menunjukkan betapa pedulinya Sarikhuluk dalam ranah sosial. Itu pun yang secara resmi, yang tidak tercatat pun masih banyak sekali.
Pada kesempatan ini, Sarikhuluk –yang ditemani Markoden- diundang sahabat lamanya,  Mat Leman Cah(nama aslinya: Muhammad Sulaiman Syah). Ia diundang untuk mengisi di padepokan akademis yang dirintis untuk mencetak kader-kader calon kiai yang memiliki ilmu multidimensional, kredibilitas tinggi, penguasaan agama yang mumpuni, peduli sosial, bermental baja, punya daya juang tinggi, dan yang sangat penting ialah mampun menjadi sirājan munīran(lentera yang menerangi) atau pemberi solusi di tengah krisis yang sedang dihadapi umat. Penempaan kader kiai ini disingkat sebagai PK2S(Padepokan Kaderisasi Kiai Sakti). Sebuah padepokan yang membidani calon-calon kiai yang bukan hanya mengurusi agama dalam pengertian sempit dan sekularistik, tapi mengurusnya secara komprehensif dan integral.
Sarikhuluk didapuk sebagai pembicara terkait tema, ‘Kepribadian Kiai Tangguh’. Tema ini diangkat agar para calon kiai memiliki wawasan ke-kiaian dan mampu menjalani program ini dengan antusias, sabar, dan efektif, sehingga ketika keluar, mereka mampu membuat perubahan positif baik bagi keluarga, masyarakat, bangsa hingga negaranya. Sarikhuluk pun memulai presentasinya: “ Adek-adek sekalian, keberdirian saya di sini jangan dianggap sebagai penceramah, ulama, ustadz, atau sejenisnya, karena saya belum pantas mendapatkan label yang ‘suci’ seperti itu. Sejauh yang saya bisa, hanya berusaha untuk senantiasa belajar dan memperbaiki kelemahan-kelemahan diri. Karena itu, bisa jadi anda sekalian nanti ada yang lebih tahu dari saya. Karena itu, sekali lagi kita di sini sebenarnya sama-sama belajar”.
“Saya tidak ingin banyak bicara, hanya ada beberapa kata yang tidak sampai menghabiskan waktu sepuluh menit. Ada tiga kepribadian kiai yang perlu kita ketahui bersama, sebagai dasar pijak untuk menjadi kia. Pertama, ‘Kiai Leres’(yaitu kiai yang menjadikan kebenaran sebagai pijakan hidup dan filosofinya). Kedua, ‘Kiai Lurus’(yaitu kiai yang menjadikan sifat istiqāmah sebagai bahan dasar kinerjanya. Ketiga, ‘Kiai Laris’(yaitu kiai yang berorientasi dagang, ia beraktivitas supaya mendapat keuntungan pribadi. Mereka ini biasanya memiliki retorika yang bagus dan dikagumi orang pada umumnya, meskipun ilmu tentang kebenaran, bahkan sifat istiqāmah tak harus menjadi unsur utama bagi sepak terjangnya). Ketiganya bukan untuk dipisah-pisah, karena bisa dirangkai dan diambil positifnya. Kalian di sini didik supaya memiliki ilmu tentang kebenaran, mampu menjalani dan mengamalkan secara pribadi dan sosial, sekaligus mampu menyampaikannya dengan keindahan sehingga bisa diterima banyak orang”.
“Kata kunci ‘Kiai Leres’ adalah kiai yang mendasari hidupnya dengan ilmu kebenaran sejati, yang diistilahkan al-Qur`an dengan kata al-haq. Hidupnya selalu di garda depan dalam mengusung kebenaran. Ia sangat hati-hati terhadap kesalahan. Baginya, yang namanaya kesalahan, kekhilafan, dan pelanggaran apa pun jenisnya, baik sedikit maupun banyak adalah tetap kesalahan yang harus ditinggalkan. Sedangkan ‘Kiai Lurus’, kata kuncinya ialah kontinuitas dan keistiqamahan. Memiliki daya tahan tinggi dalam menapaki terjalnya rona perjuangan. Ia tak gampang kecil hati, selalu tegar menghadapi masalah. Adapun, ‘Kiai Laris’, kata kuncinya ialah mampu menarik simpati publik dengan kelebihan estetika yang dimilikinya. ‘Kia Laris’ akan menjadi negatif jika hanya dibiarkan sampai di situ, tanpa didukung dengan ‘Kiai Leres’ dan ‘Kiai Lurus’. Karena ujian terbesar ‘Kiai Laris’ ialah dunia yang setiap saat bisa menawan hatinya. Maka tak heran, banyak kiai laris –lantaran kelebihan retorika dan keindahan yang dimiliki- namun tidak mampu mempertahankan kebenaran dan keistiqamahan di jalan perjuangan. Sehingga yang dicari bukan lagi perjuangan, tapi keuntungan”.
“Anda sekalian sebagai calon kiai, harus mengupayakan secara sungguh-sungguh ketiganya di dalam diri. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Bagaimana mungkin bisa bertahan pada ke-leresan(kebenaran) jika tidak mempunyai ke-lurusan(keistiqamahan)? Bagaimana mungkin kebenaran dan ketahanan untuk mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran bisa terlaksana dengan baik, jika tidak disampaikan dengan keindahan dan penuh hikmah sehingga menimbulkan daya tarik yang membuat kebenaran menjadi laris. Jujur, tugas anda ke depan begitu berat. Kiai(atau apa pun namanya) yang ada di era kontemporer sekarang ini lebih banyak mempunyai kepribadian ‘laris’ daripada ‘leres’ dan ‘lurus’. Di media –kebanyakan-, yang booming adalah ‘kiai laris’. Maka kalian tidak hanya dituntut untuk mengetahui kebenaran, tapi bagaimana anda bisa menjadikannya menjadi integral dengan jiwa, dijalankan dengan penuh istiqamah, serta disampaikan dengan cara yang menarik”.

“Saya ingatkan! Kalau dari awal niat anda sekalian sudah salah, maka lebih baik berhenti saja sejak awal. Amanah ini sungguh berat dan berlintas akhirat. Sangat dibutuhkan kejernihan hati, kemurnian akal, dan ketahanan mental. Karena pada dasarnya amanah besar, hanya mampu diemban oleh mereka yang mempunyai kapasitas dan potensi yang setara dengan besarnya amanah yang diemban. Bila tujuannya salah dan artifisial, maka keberadaan kalian hanya akan menjadi ‘Kiai Leres’ yang mengetahui kebenaran, tapi tak sanggup mengamalkan, atau ‘Kiai Lurus’ yang mampu bertahan dan istiqāmah  dengan landasan ilmu kebenaran yang rapuh, atau ‘Kia Laris’ yang populer di pasaran, layaknya pedagang, sehingga kiai hanya dijadikan sebagai komoditi sosial, bukan perjuangan sosial.  Karena itulah, sekali lagi saya menekankan, jadilah kiai yang leres, lurus dan laris. Ketiganya ibarat paduan orkestrasi yang begitu indah, sehingga mampu menampilkan kebenaran dengan sangat indah dan elegan. Ketiganya bisa kalian temukan pada sosok Nabi Muhammad ṣallallāhu `alaihi wasallam”.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan