Latest Post

“KHADIJAH” Wanita Agung Sang Teladan

Written By Amoe Hirata on Selasa, 03 Maret 2015 | 09.21

Sajian perdana pertama kali ini ialah tentang wanita hebat yang pertama kali masuk Islam; pertama kali membenarkan risalah nabi -ketika seluruh penduduk Makkah kala itu mendustakan beliau-; pertama kali melaksanakan shalat bersama Nabi; kekayaannya disumbangkan untuk perjuangan dakwah Islam; seorang istri yang selalu menjadi pelipur lara   ketika Nabi dilanda gulana; menjadi penentram jiwa di kala susah; menjadi penyejuk hati di saat ujian kian bertubi.

I.                    Nasab dan Profil:

            Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil `Uzzah bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiah. Nama ibunya ialah, Fathimah binti Zaa`idah al-Aamiriyah; Khadijah adalah Ibu dari anak-anak Rasulullah shallahu`alaihi wasallam; wanita yang pertama kali membenarkan dan beriman padanya sebelum siapapun; wanita yang menenangkan kegelisahan hatinya dengan mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal; Ia termasuk wanita sempurna menyamai laki-laki; bijaksana(rasionil), mulia, terjaga kehormatanya; termasuk wanita penduduk surga; Nabi selalu memuji dan mengutamakanya dari istri-istri lainya; bahkan melebihkanya dari lainya sampai-sampai Aisyah berkomentar, “Aku tidak pernah cemburu pada wanita seperti kecemburuanku pada Khadijah karena Nabi sering menyebutnya”(Hr. Bukhari, Muslim dan Turmudzi).
            Sebelum menikah dengan Rasulullah di masa Jahiliyah ia sudah pernah menikah. Suami pertama Khadijah ialah Abu Haalah bin Zuraara at-Tamimi[1], kemudian sepeninggalnya, beliau dinikahi `Atiiq bin `Aabid bin Abdillah bin Amru bin Makhzum. Setelah itu Khadijah tidak menikah lagi meski banyak yang melamarnya hingga kemudian bertemu Rasulullah dan tertarik padanya. Ia dinikahi Rasulullah, waktu itu ia berumur 40 tahun sedang Rasulullah 25 tahun jadi jarak antara keduanya ialah 15 tahun.
            Khadijah adalah seorang janda kaya raya. Suatu ketika ia menawarkan pada Nabi untuk menjajakan daganganya ke Syam bersama maulanya, Maisarah. Sekembalinya dari Syam, beliau mendapat untung besar, kemudian Khadija melamarnya dan disetujui Rasulullah . Waktu itu Rasul memberi mahar 20 ekor[2] unta muuda. Jubair bin Muth`im meriwayatkan bahwa `Amru bin Asad, paman Khadijah menikahkannya dengan Nabi Saw. bapaknya mati sebelum perang Fijar[3] . Rasul menikahinya ketika berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah mempunyai anak sebagai berikut: Qaasim, Thayyib(abdullah), Thahir, Ruqayyah, Ummi Kultsum, Zainab dan Fatimah.
            Mengapa Rasulullah menikahi Khadijah, padahal waktu itu usia Khadijah 15 tahun lebih tua daripadanya? Jawabanya ialah: “Pernikahan antara Rasulullah dengan Khadijah merupakan kehendak langsung Allah ta`ala dalam (rangka) persiapan ilahiyah untuk risalah Muhammad s.a.w. Sesungguhnya laki-laki normal berusia 25 tahun tidak mungkin menikahi wanita janda berusia jauh diatasnya yang memungkinkan ialah menikah dengan perempuan yang lebih muda dari usianya, tetapi di sini Allah menghendaki lain dan menciptakan kondisi dimana beliau bisa menikahi Khadijah. (Diantara rahasianya ialah)Rasulullah lebih membutuhkan wanita yang matang untuk meneguhkannya dalam mengemban amanat risalah, ini jauh berbeda jika yang dinikahi ialah wanita muda yang belum matang besar kemungkinan akan menambah kegalauan beliau[4]”.
            Dalam buku “Fiqhus Siirah”, Muhammad al-Ghazali berkomentar, “Khadijah adalah contoh yang bagus bagi wanita yang (ingin) menyempurnakan kehidupan orang besar. Para pengemban risalah memiliki hati yang sedemikian peka(sensitif); banyak mengalami tipu daya dari realita yang hendak dirubah; menanggung beban berat jihad yang amat besar dalam rangka untuk jalan kebaikan yang ingin diraihnya. (Karena itulah) mereka sangat butuh pada seorang wanita  yang mampu menguatkan(meneguhkan)  kehidupan mereka secara khusus dengan keramahan(kelemahlembutan) dan hiburan, di samping itu juga pengertian dan bantuan. Sedang Khadijah adalah seorang wanita yang terdepan dalam masalah ini dimana dia memiliki perangai tersebut, Ia juga punya pengaruh yang baik dalam kehidupan Muhammad S.a.w[5].

II.                Alqaab(Julukan-Julukan) Khadijah.

1.      At-Thaahirah[6](Yang Suci).
2.      Sayyidah Nisaa` al-Quraiys[7](Penghulu Wanita Qurays).
3.      Ummul Mu`minin[8](Ibunya kaum muslimin).
4.      Sayyidatun Nisaa`il `Aalamiin[9](Penghulu Wanita Dunia).
           
III.             Keutamaan-Keutamaan Khadijah binti Khuwailid:

Diantara keistimewaanya secara global ialah: Wanita yang pertama kali menjadi istri Nabi; Melahirkan anak untuk Rasulullah; Tidak pernah dimadu semasa hidupnya; Hartanya diinfakkan untuk perjuangan Islam; Rasulullah pernah menjadi karyawan bisnis dagangnya; Allah pernah menyuruh Nabi memberi kabar gembira pada Khadijah bahwa ia akan dibangunkan rumah(istana) dari mutiara di surga, tidak akan mendengar kebisingan suara dan tidak akan penat(Hr. Bukhari, Muslim).



Adapun secara rinci ialah sebagai berikut[10]:

1.              Memiliki nasab yang paling utama dan mulia diantara wanita Quraiys lain pada jamanya.
2.              Menjadi istri pertama Rasullah Saw. sedang waktu itu dia janda.
3.              Orang yang pertama kali beriman dan masuk Islam[11].
4.              Mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril[12].
5.              Rasulullah tidak menikahi siapapun semasa hidupnya dan Rasulullah menyuapi        Khadijah dengan anggur dari Surga.
6.              Diberi kabar gembira oleh Nabi berupa rumah(istana) di surga[13].
7.              Nabi sering sekali memujinya(Hingga suatu ketika Aisyah pernah cemburu                      padanya).
8.              Nabi selalu berbuat baik terhadap famili dan teman-teman Khadijah meski                Khadijah telah wafat.
9.              Wanita yang paling mulia(utama) diantara wanita-wanita penghuni surga[14].
10.          Termasuk dari wanita yang terbaik di dunia[15].

IV.             Wafatnya:

Ketika tahun kesepuluh kenabian Khadijah meninggal dunia. Hari itu diabadikan sejarah dengan nama `Aamul Huzni(Tahun Duka Cita). Kata al-huzn setidaknya menggambarkan betapa Rasulullah amat berduka terhadap orang yang menjadi tulang punggung psikisnya; terhadap penyejuk hatinya yang selama ini menemani perjuangan beliau dalam mengarungi terjalnya medan dakwah. Ia wafat sebelum diwajibkannya shalat dan dikebumikan di Hajun(gunung di Makkah tempat pemakaman keluarganya).

V.                Pelajaran-Pelajaran:

1.      Wanita shalihah ialah wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan dirinya(Kita ambil pelajaran ini dari kisah Khadijah yang dijuluki sebagai Wanita Suci sejak mudanya).
2.      Wanita shalihah harus bisa menjadi pelipur lara, penenang hati bagi suaminya(pelajaran dari kisah Khadijah ketika menenangkan kegelisahan Nabi setelah menerima wahyu). Hal ini sejalan dengan tujuan nikah yaitu untuk menggapai dan menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.
3.      Wanita shalihah ialah wanita yang bisa dijadikan partner dakwah(Pelajaran dari kisah perjuangan Khadijah bersama nabi dalam memperjuangkan Islam).
4.      Wanita shalihah itu mandiri dan tidak cengeng(pelajaran dari profesi Khadijah yang menjadi pebisnis dan ketegarannya dalam menemani perjuangan dakwah Nabi).
5.      Wanita shalihah adalah wanita yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik(pelajaran ini diambil dari kisah Khadija dimana atas didikanya, semua anaknya masuk Islam semuanya bahkan anaknya yang bernama Fatimah termasuk wanita-wanita terbaik sepanjang masa menurut penuturan Rasulullah Saw).
6.      Wanita shalihah teguh pendirian dan sabar dalam menghadapi rintangan dan ujian yang menimpa(Diambil dari kisah Rasul bersama Khadijah, dimana Khadija teguh pendirianya dalam mempercayai kebenaran Islam, meskipun pada realitanya banyak ditimpa halangan dan ujian hingga pada puncaknya ialah ikut mengungsi ke lembah ketika diboikot sama orang-orang Qurays).
7.      Diantara kriteria yang dijadikan acuan wanita shalihah  dalam memilih calon suaminya ialah sebagai berikut berikut: 1. Jujur 2. Amanat dan 3. Berakhlak mulia 4. Profesional(Diambil dari kisah Khadijah ketika beliau tertarik pada nabi karena kejujuran, amanat dan akhlaknya yang mulia).
8.      Diantara indikator wanita shalihah ialah rajin beribadah(Sebagaimana yang dicontohkan Khadijah binti Khuwailid).
9.      Wanita shalihah adalah wanita yang ta`at pada suami(Tentu saja dalam hal kebaikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Khadijah).
10.  Ganjaran bagi wanita shalihah adalah surga(Dalam hadits nabi ditegaskan bahwa Khadijah akan masuk Surga, diantaranya ialah karena beliau adalah wanita yang shalihah).

VI.             Referensi:
1.      Siyarul A`lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi
2.      Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami.
3.      Fiqhus Sirah, Muhammad al-Ghazali
4.      Fataawan Nisaa`, Sya`rawi
5.      Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi
6.      Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah, Anjugu.
7.      Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal, Ahmad bin Ali al-Maqrezi.
8.      Ar-Rahiiqu al-Makhtuum, Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri.
9.      miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal.
As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi.


[1] . Dari pernikahanya dengan Abu Haalah ini beliau mempunyai putra bernama Hindun(Sumber: Khadijah Ummul Mu`minin karya : as-Sayyid Abdul Hamid az-Zahrawi, hal: 111).
[2] . Arwa`ul Qiyam al-Hadhaariyah fi Sirati Kharil Bariyah(Anjugu, hal:6).- Imtaa`ul Asmaa` bima linnabiyyi minal ahwaal(Ahmad bin Ali al-Maqrezi, Juz:6, hal: 25). –Ar-Rahiiqu al-Makhtuum(Shafiyurrahmaan al-Mubarakfuri, hal: 46). - As-Sirah an-Nabawiyah `ardhu Waqaa`i wa Tahlili Ahdaats Durusun wa `Ibar, Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi, juz:1, hal: 83.

[3] . Perang antara Quraisy dan pendukungnya dari suku Kinanah dengan suku Qais `Iilan. Dinamakan Fijar karena perang dilakukan pada bulan Muharram yang berarti menodai kemuliaan bulan Muharram.
[4] . Disarikan dari kitab, Fataawan Nisaa`  karya Imam Sya`rawi, hal: 115.
[5] . Muhammad al-Ghazali, Fiqhus Sirah, hal:67, Cet: Daarud Da`wah.
[6]Ummul mu`miniin Khadijah binti Khuwailid al-Matsalul A`la linisaail `Aalamiin, Karya: Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, hal: 12.
[7] .  ibid hal: 13
[8] . ibid, hal: 14
[9] . Ibid, hal: 15
[10] . Subulul Huda war Rasyad fi Sirati Khairil `Ibaad karya Muhammad bin Yusuf As-Shaalihi as-Syaami, hal: 115.
[11] . Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa ketika Rasulullah menyebut/mengingat Khadijah, beliau tidak pernah putus asa(berhenti) memuji dan meminta ampun untuknya. Suatu hari beliau menyebut Khadijah dan membuatku cemburu lantas aku berkata: Engkau telah diberi ganti Allah(yang lebih baik) dari istri yang tua renta( kemudian diganti yang masih muda), mendengar perkataanku beliau marah bukan main, hatiku merasa sedih seraya berkata: Ya Allah jika Engkau hilangkan amarah Rasulullah padaku maka aku tidak akan menyebut kejelekan lagi pada Khadijah, ketika nabi mendengar ucapanku nabi berkata: , ”Apa yang kamu katakan? Ia beriman padaku ketika orang-orang mendustakanku, dan memberi perlindungan padaku ketika orang-orang menolakku, dan aku dianugerahi anak darinya sedang dari kalian tidak” Aisyah berkata: Setelah peristiwa itu Rasulullah pergi dariku selama sebulan(al-Ishaabah: ibnu Hajar al-Asqalani).
[12] . Bersumber dari Abu Hurairah, ia berkata: (suatu hari) Jibril mendatangi Nabi Saw. lantas berkata, ”itu Khadijah sedang datang membewakan untukmu makanan dan minuman, jika ia datang maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dariku, dan berikan kabar gembira padanya bahwa ia akan mendapat istana di surga dari permata, yang tidak terdengar kebisingan dan tidak capek(Hr. Bukhari, Muslim).
[13] . Ibid.
[14] . Anas meriwayatkan bahwa sebaik-baik wanita di dunia ialah Maryam, Asia, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah. Bahkan menurut riwayat Abdul Barqi dalam kitab al-Istii`aab mengatakan bahwa penghulu para wanita di surga setelah Maryam ialah Fatimah, Khadijah dan istri Firaun, Asia.
[15] . ibid.

Bunga di Taman Surga

Hati ini terasa sejuk
Bersama orang-orang yang mendapat petunjuk

Jiwa ini terasa nikmat
Bersama orang-orang yang taat

Ya Allah, Ya Tuhan kami
Izinkan kami di sini

Hingga kembali bersemi Indah
Saat kuncup mekar menjadi bunga

Rasul pun bersabda:
"Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgah dan nikmati apa yang di dalamnya." para sahabat pun bertanya:  "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan taman surga?". Rasul menjawab: "lingkaran(perkumpulan) zikir".(Hr. Turmudzi).

Nasihat Untuk Para Penguasa

Written By Amoe Hirata on Senin, 02 Maret 2015 | 08.01

Ayat Kajian: Q.s. Ali Imran: 26-27

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (27)
Arti Mufradat(Kosa Kata):
تُؤْتِي الْمُلْكَEngkau memberi kerajaan:
وَتَنْزِعُ الْمُلْكَDan Engkau cabut kerajaan:
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُDan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki:
وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُDan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki:
بِيَدِكَ الْخَيرDi tangan Engkaulah segala kebajikan:
تُولِجُ Memasukkan:
تُخْرِجُMengeluarkan:
بِغَيْرِ حِسَابٍTanpa Perhitungan(batas):
Arti Ayat:

Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu(26) Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)(27)".


Sababu al-Nuzūl(Sebab Turunnya):

أَخْرَجَ ابْنُ أَبِيْ حَاتِمِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ : ذُكَرَ لَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم سَأَلَ رَبَّهُ أَنْ يَجْعَلَ مُلْكَ الرُّوْمِ وَفَارِس فِي أُمَّتِهِ فَأَنْزَلَ اللهُ : { قل اللهم مالك الملك } آية

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bersumber dari Qatādah, ia berkata: (telah) disebutkan kepada kita bahwa Rasulullah shallallāhu `alaihi wasallam meminta kepada Tuhannya supaya kerajaan Romawi dan Persia dalam (kekuasaan) umatnya. Lalu Allah ta`ala menurunkan: {Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan”}.
قَالَ ابْنُ عبَّاسٍ وأنسُ بن مَالكٍ: لَمَّا فَتَحَ رسْولُ الله - صلى الله عليه وسلم - مكةَ وَوَعَدَ أُمتَهُ مُلْكَ فَارس والرومِ، قالتْ المنافِقون واليهودُ: هيهاتَ هيهاتَ، مِنْ أَيْنَ لِمحمد ملك فارس والروم هُمْ أعزّ وأمنع من ذلك، ألم يكفِ محمدًا مكةَ والمدينةَ حَتَّى طَمعَ في ملكِ فارس والروم؟! فَأَنْزلَ الله تعالى هذِهِ الآيةَ.

Ibnu Abbas dan Anas bin Malik berkata: Ketika Rasulullah shallallāhu `alaihi wasallam membebaskan kota Mekah, dan menjanjikan pada umatnya kerajaan Persia dan Romawi, berkatalah orang-orang munafik dan yahudi: “Jauh sekali, jauh sekali. Dari mana Muhammad (bisa) memiliki kerajaan Persia dan Romawi? (padahal) mereka (Romawi dan Persia) lebih muliah dan lebih kuat dari itu, tidakkah cukup bagi Muhammad Mekah dan Madinah sampai berambisi pada kerajaan Persian dan Romawi?” . Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Tafsir Ayat:

Setelah orang munafik dan Yahudi meremehkan janji Rasulullah shallallāhu `alaihi wasallam  terkait masalah jatuhnya dua kekuasaan besar (Romawi dan Persia) di tangan kaum muslimin, turunlah ayat, ‘Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Pada sepenggal ayat awal dari surat Ali Imran ayat dua puluh enam ini, umat Islam diingatkan –melalui Nabi Muhammad shallallāhu `alaihi wasallam- agar tidak berkecil hati. Setiap muslim harus berdoa dan menanamkan keyakinan di dalam benaknya bahwa ia memiliki Tuhan Yang Maha Memiliki Kerajaan. Kerajaan besar apa pun dimuka bumi ini pada dasarnya berada di dalam kuasa-Nya; kekuasaan besar apa pun di jagat raya ini, sejatinya dikendalikan oleh Allah subhānahu wata`āla.  Dengan menanamkan keyakinan seperti ini, maka setiap individu muslim akan merasa tenang di mana pun  dan kapan pun ia berada. Ketika berada dalam posisi yang sedang berkuasa, ia jalankan kekuasaannya dengan adil dan sebaik-baiknya karena ia sadar bahwa kekuasaan yang dimiliki adalah amanah dari Allah ta`ala yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.  Kesadaran semacam ini akan membuatnya hati-hati dalam menjalankan kekuasaannya. Ketika menjadi pihak yang dikuasai, ia jalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Kalau pun penguasa berbuat zalim kepadanya, maka dia tetap tenang, karena ada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Merajai. Penguasa yang dzalim akan dibalas dengan kezaliman. Kedzaliman hanya akan mengantarkan pada kegelapan akhirat. Rasulullah bersabda: “Takutlah kalian kepada kedzaliman, karena sesungguhnya kedzaliman (akan menyebabkan) kegelapan di akhirat kelak”(Hr. Muslim dan Ahmad).

Namun yang perlu diingat disini ialah kekuasaan apa pun bentuknya harus diiringi dengan basis iman dan amal shalih. Sebab, menurut ayat al-Qur`an dan bukti sejarah, sepanjang umat Islam beriman dan beramal shalih maka kekuasaan pun akan diraih. Allah berfirman: “dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”(Qs. An-Nur: 55). Adapun jika kezaliman, kemaksiatan, dan kelaliman yang menjadi basisnya, maka kekuasaan pun akan terenggut darinya. Di sepanjang sejarah kita bisa melihat, di antara sebab tumbangnya kekuasaan umat Islam ialah ketika kedzaliman dan kemaksiatan merajalela. Ketika mereka banyak yang dzalim, maka dijadikanlah pemimpin yang dzalim di antara merika, sehingga pada akhirnya akan mengantarkan kepada kehancuran.  Allah ta`ala berfirman: “dan Demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali(teman, penguasa) bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”(Qs. Al-An`am: 129). Hal ini selaras dengan sebuah atsar yang disebutkan Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhāju al-Sunnah:
كَمَا تَكُوْنُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
Kalian akan dipimpin sebagaimana kondisi kalian”. Maksudnya, jika umat Islam dzalim, maka mereka akan dipimpin oleh pemimpin yang dzalim juga.


Kemudian setelah menyadari bahwa kerajaan dan kekuasaan sejati hanyalah milik Allah, pada lanjutan ayat dijelaskan beberapa penegasan kekuasaan-Nya, ‘Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki’. Di sini dengan sangat jelas dikatakan bahwa Allah sangat mampu memberikan kerajaan atau kekuasaan kepada orang yang dikehendaki, atau mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendaki. Di sepanjang sejarah kehidupan manusia, dengan sangat mudah Allah memberi kekuasaan dan mencabut kekuasaan dari seseorang. Ada banyak contoh dalam al-Qur`an terkait dengan raja-raja atau penguasa yang adil dan dzalim. Sepanjang penguasa itu adil dan menjalankan kekuasaannya dengan benar, maka kesejahteraanlah yang akan didapatnya. Jika sebaliknya, maka akhir yang buruk akan didapatnya. Kita bisa melihat pada sosok Thālut(yang mampu mengalahkan Jālut), Dzulkarnain, Nabi Daud dan Sulaiman yang adil dalam menjalankan kekuasaannya sehingga kesejahteraan pun melimpah. Sebaliknya, kita bisa melihat sosok Fir`aun, Jalut, Qārun, Namrud, Ashābu al-Ukhdūd(penguasa Yahudi di Najran yang dengan kekuasaannya memaksa orang-orang Nasrani taat untuk murtad dari agamanya dengan cara menggali parit sebagai ancaman bagi mereka yang membangkang) Abraha, Abu Jahal beserta pemuka kaum kafir Qurays lainnya yang pada akhirnya kekuasaannya dicabut akibat kedzaliman yang mereka jalankan tidak hanya itu, mereka pun akan dihinakan.  Dengan menyadari hakikat ini, para penguasa setidaknya mawas diri agar tidak termasuk bagian dari mereka yang dicabut kekuasaannya lantaran kedzaliman dan ketidakadilan.

Kesadaran semacam ini sangatlah penting karena, ‘di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala kebajikan dan kendali ada di tangan Allah. Siapa pun yang menyalahi garis-garis yang telah ditetapkan-Nya, pada akhirnya akan celaka. Ia berkuasa atas segala sesuatu, maka sungguh sangat ironis jika penguasa merasa bangga dan sombong dengan kekuasaannya. Para penguasa hendaknya mengerti bahwa kekuasaan yang diperoleh hanyalah sementara, karena itu ia tidak boleh sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaannya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata: telah bersabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Allah melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Allah ambil dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong?”(Hr. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah). Hadits ini dengan sangat tegas menerangkan bahwa Allah lah yang Maha Raja diraja, kelak di hari kiamat, para penguasa yang sombong dan sewenang-wenang akan dipanggil. Mereka tidak bisa menjawabnya. Bagaimana mungkin bisa menjawab kalau tidak diberi izin oleh Allah ta`ala. Ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan mereka dimuka bumi ketika berkuasa adalah tindakan ceroboh dan tidak benar. Bagaimana mungkin mereka merasa percaya diri terhadap kekuasaan yang bersifat sementara di hadapam kekuasaan Allah yang bersifat abadi.

Pada ayat selanjutnya menjelaskan tentang salah satu bukti yang menunjukkan bahwasanya Allah Maha Merajai dan Menguasai: “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Beredarnya malam dan siang merupakan kenyataan sehari-hari yang tidak bisa dipungkiri oleh semua manusia. Andai saja Allah menciptakan siang saja sepanjang masa, atau sebaliknya, maka akan terjadi kerusakan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang artinya: “Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka Apakah kamu tidak mendengar?(71)Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?(72)"(Q.s. Al-Qashas: 71-72). Dengan sangat dahsyat kekuasaan Allah berupa memasukkan malam kedalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam. Namun bukti ini kebanyakan tidak diperhatikan oleh manusia. Terkhusus bagi para penguasa hendaknya sadar bahwa, sebagaimana berubahnya siang dan malam, demikian juga kekuasaannya akan berubah setiap saat. Kekuasaan bukan untuk bangga-banggaan, bukan untuk gengsi-gengsian, kekuasaan sifatnya sementara. Bisa jadi sekarang kekuasaannya sangat terang dan jaya, kemudian nanti akan redup dan tumbang. Setiap penguasa yang menyadari ini, tidak akan menggunakan kekuasaan dengan sesuka hatinya.

Tak hanya itu. Di antara bukti bahwa Allah adalah Maha Memiliki Kerajaan ialah: “Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". Fenomena hidup dan mati juga tidak asing bagi semua manusia. Dengan kata: “Kun fa yakūn” Allah sangat mampu merubah kematian menjadi kehidupan, merubah kehidupan menjadi kematian. Ia juga mampu memberikan rezeki kepada siapa saja yang Ia kehendaki tanpa batas. Bukti-bukti yang sangat besar ini, seharusnya bisa menyadarkan setiap penguasa agar berhati-hati dalam menjalankan kekuasaannya. Kalau dalam hal yang manusia anggap besar seperti: bergulirnya siang dan malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mati dari yang hidup, memberi rezeki tanpa batas kepada yang dikehendaki, yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, maka terlebih dalam hal kekuasaan, Allah sangat mampu memberi atau mencabutnya kapan pun Dia mau. Dengan demikian merupakan sebuah keniscayaan bagi para penguasa agar senantiasa menjalankan kekuasaannya secara benar, bijaksana, dan adil.

Bila sebaliknya, penguasa tidak adil dan suka menipu rakyat maka balasannya jelas yaitu, neraka. Sebagaimana sabda Nabi:
أَيُّمَا رَاعٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً، فَغَشَّهَا، فَهُوَ فِي النَّارِ
Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka”. Di hadits lain juga disebutkan bahwa:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat  kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga(Hr. Bukhari dan Muslim). Pada akhirnya, sebagai rakyat kita tentu sangat mengharapkan pemimpin, penguasa yang adil. Pemimpin yang adil bisa engantar kepada kesejahteraan dan kemakmuran, sedangkan pemimpin yang dzalim hanya akan membuat sengsara. Akhirnya, di samping kita berdoa dengan kedua ayat dari surat Ali Imran tadi, kita juga berdoa dengan doa yang disabdakan Nabi shallahu `alaihi wasallam:
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ. رواه مسلم.
Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia” (Diriwayatkan oleh Muslim). Kita berharap semoga para pemimpin dan penguasa ke depan bisa menjalankan amanahnya dengan adil, sehingga bisa mensejahterakan rakyat.

Pelajaran:

1.      Perhatian dan bimbingan untuk Nabi dan umatnya agar senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah kepada mereka
2.      Keutamaan dan anjuran berdoa dengan kedua ayat tersebut
3.      Allah mengabulkan permintaan Rasul-Nya, dan Rasul pun mewujudkan janjinya pada umatnya
4.      Yakin dan optimis terhadap kemutlakan kuasa Allah. Rasa yakin dan optimis ini membuat orang tenang dalam menghadapi penguasa apa pun
5.      Kekuasaan, kepemimpinan atau apa pun namanya adalah amanah dari Allah. Tidak boleh disalah gunakan. Bila tidak dijalankan dengan baik, maka sewaktu-waktu Allah bisa mencabutnya
6.      Kekuasaan bila dijalankan dengan baik dapat memuliakan diri, jika diselewengkan akan membuat diri hina, baik di dunia maupun akhirat
7.      Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu
8.      Di antara bukti kekuasaan Allah ialah memasukkan malam dan siang
9.      Di antara bukti kekuasaan Allah ialah menciptakan kehidupan dan kematian
10.  Rezeki Allah tanpa batas terhadap orang yang dikehendaki-Nya

Sumber Bacaan:

1.      Asbābu al-Nuzūl, Karya: Abu al-Hasan `Ali bin Ahmad al-Naisāburi dan Lubābu al-Nuqūl fi al-Asbābi al-Nuzūl, Karya: Imam Suyūthi
2.      Tafsīr al-Qur`ān al-`Adhīm, Karya: Imam Ibnu Katsir
3.      Aisaru al-Tafāsir li Kalāmi al-`Aliyyi al-Kabīr, Karya: Syaikh Abu Bakar Jābir al-Jazāiri
4.      Jāmi` Shahīh Bukhāri, Karya: Imam Bukhari
5.      Jāmi` Shahīh Muslim, Karya: Imam Muslim
6.      Musnad Ahmad, Karya: Imam Ahmad
7.      Tafsīr al-Sya`rāwi, Karya: Syaikh Mutawalli Sya`rawi
8.      Taisīr al-Karīm al-Rahmān fi Tafsīri Kalāmi al-Mannān, Karya: Abdul Rahman bin Nashir bin al-Sa`adi
9.      Sunan Abi Daud, Karya: Imam Abu Daud

10.  Sunan Ibnu Mājah, Karya: Imam Ibnu Majah
      [Diterbitkan Majalah al-Muslimun Bangil. Edisi: November 2014].

NGULAMAK

Dalam pendopo al-Ikhlas, Sarikhuluk mengingatkan para teman-temannya yang akan pergi 'memburu' para Yai, untuk ber-mulazamah(menetap atau menempel) belajar keilmuan di seluruh nusantara. Nasihatnya ringkas, namun bernas dan tegas:

"Matinya ulama adalah tragedi besar kemanusiaan. Ulama mati, tanda ilmu tercerabut dari bumi. Bila ilmu tercerabut, maka hirarki dan estafeta keilmuan para nabi pun terputus. Yang menjadi dominan kemudian, adalah orang-orang jahil. Pembawaannya meyakinkan, sedangkan sejatinya menyesatkan. Atas nama ulama mereka berbicara, diam-diam dalam hatinya tersimpan rekayasa besar untuk mewujudkan KEPENTINGAN. Inilah saat di mana ulama hanya menjadi simbol, sedangkan ilmu menjadi tumbal. Bila kaderisasi timbul dari atmosfir seperti ini, maka kita perlu curiga -minimal kritis- terhadap kondisi yang ada. Jangan-jangan kita adalah hanya perpanjangan tangan dari sebuah KEPENTINGAN dari orang-orang yang MERASA ULAMA."


Menggapai Haji Mabrur

Written By Amoe Hirata on Minggu, 01 Maret 2015 | 07.57

Ayat Kajian   : Al-Hajj (26-30)

وَإِذْ بَوَّأْنا لِإِبْراهِيمَ مَكانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (26) وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28) ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (29) ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (30)
Arti Mufrodat           :
بَوَّأْنا                 :Kami telah menempatkan
رِجَالًا              :Dengan berjalan kaki
ضَامِرٍ             : Unta kurus
فَجٍّ عَمِيقٍ         :Penjuru (tempat) yang jauh
الْبَائِسَ            :Yang sengsara
تَفَثَهُمْ             : Kotoran (yang melekat pada badan) mereka
الْبَيْتِ الْعَتِيقِ      : Rumah yang klasik(tua)
حُرُمَاتِ اللَّهِ       : (apa-apa) yang terhormat di sisi Allah
الرِّجْسَ            : Kotoran
قَوْلَ الزُّورِ         : Perkataan dusta
Arti Ayat        :

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud(26). dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh(27). Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir(28). Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)(29). Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan telah Dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta(30).

Sababun Nuzul          :

رَوَى الطَّبَرِيُّ مِنْ طَرِيق عُمَرَ بْن ذَرٍّ قَالَ : قَالَ مُجَاهِد كَانُوا لَا يَرْكَبُونَ فَأَنْزَلَ اللَّه ( يَأْتُوك رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ ) فَأَمَرَهُمْ بِالزَّادِ وَرَخَّصَ لَهُمْ فِي الرُّكُوب وَالْمَتْجَر .
Ibnu Jarir at-Thobari meriwayatkan dari jalur Umar bin Dzar, bersumber dari Mujahid, ia berkata: “(Dahulu) mereka tidak berkendara(ketika berangkat menunaikan haji), lalu Allah menurunkan ayat(niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki) lalu Ia memerintahkan mereka (membawa) bekal, dan meringankan mereka (dalam urusan) kendaraan dan perdagangan.


Tafsir Ayat    :

Berbicara mengenai masalah haji, pasti tak terlepas dari sosok penting yaitu Nabi Ibrahim A.s. beserta keluarganya(Hajar dan Ismail). Beliaulah yang disebut dalam al-Qur`an ketika membicarakan sejarah haji. Perjalanan kisahnya dengan Hajar dan Isma`il merupakan gambaran yang luar biasa tentang nilai perjuangan dan pengorbanan. Pada Surat al-Hajj ayat dua puluh enam ini, Allah mengingatkan pada Nabi Muhammad SAW.(beserta umatnya) peristiwa penting mengenai sejarah Ibrahim terkait masalah Baitullah(Ka`bah): “dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud”. Di sini ada pesan yang sangat penting untuk dijaga -ketika Ibrahim diamanahi Baitullah-, Pertama: Larangan berbuat syirik(menyekutukan Allah), Kedua: Mensucikan Baitullah bagi orang-orang yang thawaf, yang beribadah, ruku` dan sujud.

Kemusyrikan adalah pantangan ibadah. Bagi yang beribadah tetapi berlandaskan kesyirikan, pasti akan merusak amal dan akan menjadi orang yang rugi. Allah berfirman: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi(Az-Zumar: 65). Supaya tidak syirik, maka dalam beribadah setiap hamba harus ikhlas(lihat Surat Al-Bayyinah: 5). Disamping larangan syirik, Ibrahim juga diperintah untuk mensucikan Baitullah(Ka`bah). Dalam tafsirnya, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksudkan ‘perintah mensucikan’ pada ayat ini ialah: “membersihkan Baitullah dari berhala”. Ini berarti larangan syirik kepada Allah ta`ala -ketika beribadah- tidak akan berjalan dengan baik jika tempat ibadah masih diliputi oleh berhala, atau hal-hal yang dapat menimbulkan kesyirikan. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana mungkin orang tua melarang anaknya berkata kotor, kalau di lingkungan keluarganya sendiri tidak bersih dari kata-kata kotor. Pelarangan terhadap sesuatu, harus diiringan dengan pembersihan segala sebab yang bisa membuatnya dilanggar.

Setelah larangan berbuat syirik dan perintah membersihkan Baitullah dari berhala, Nabi Ibrahim diperintah: “dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. Nabi Ibrahim pun, menaatinya walau bisa jadi pada nalarnya ada pertanyaan, ‘bagaimana mungkin akan datang orang untuk menunaikan haji dari segenap penjuru (tempat) yang jauh, ke bumi yang tandus dan kering ini?’. Sebagai Nabi, perintah Allah segera ia taati, dan ia selalu berusaha berbakti. Ia pun berdakwah dan menyampaikan perintah haji. Lihat hasil dari ketaatan tanpa sarat, sebagaimana yang dijalankan Ibrahim! Beliau sebagai hamba-Nya hanya mampu menjalankan perintah dengan sebaik-baiknya, adapun hasilnya Allah ta`ala yang menentukannya. Berabad-abad setelahnya hingga sekarang  telah terbukti. Baitullah dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia. Pada masa sekarang empat juta lebih pada tiap tahunnya, Baitullah dikunjungi oleh orang-orang yang menunaikan haji. Belum lagi tambahan orang-orang yang datang di luar waktu haji, untuk umrah. Ketaatan membuahkan hasil mencengangkan, yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Lantas untuk apa sebenarnya haji? Allah ta`ala berfirman: Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” yaitu manfaat yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Manfaat dunia bisa dilihat dari bisnis dan perdagangan yang dihalalkan ketika di Baitullah. Manfaat akhirat bisa dilihat dari rangkaian ibadah yang ditunaikan ketika haji dalam rangka memenuhi menggapai keridhaan Allah ta`ala. Tidak hanya itu diantara tujuan lain ialah: “dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” yaitu pada hari Tasyriq(11,12 dan 13 Dzul Hijjah). Pada dasarnya ibadah apapun jenisnya mengandung fungsi yang sama, yaitu mengingat Allah ta`ala. Dalam ayat ini untuk mengingat: rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak” untuk disembelih. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. Di sini kepedulian muslim terhadap bidang sosial benar-benar diasah. Salah satu makna yang mendalam dari ibadah haji ialah peduli terhadap nasib orang-orang yang sengsara dan fakir. Kenikmatan yang dianugerahkan Allah, tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi dibagikan juga untung orang-orang yang membutuhkan.

Ada beberapa amalan lagi yang perlu diperhatikan. Allah berfirman: “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka” yaitu berupa memangkas rambut, melempar jumrah, memotong kuku dan amalan lainnya untuk menyempurnakan manasik(ibadah) haji. Bagi yang telah bernadzar maka: “hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka” untuk memenuhi kewajiban merekan “dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)” sebagai kewajiban dalam ibadah haji. Pada dasarnya, semua amalan ini adalah untuk mendidik setiap muslim yang haji, untuk disiplin terhadap perintah-Nya, dan menjunjung tinggi nilai sebuah ketaatan. Maka dari itu, merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap orang yang haji, jauh-jauh hari sebelumnya harus menata niat dan bersungguh-sungguh untuk menegakkan kedisiplinan dan ketaatan. Tanpa itu, tidak mungkin akan mendapatkan haji yang mabrur. Betapa banyak orang yang haji yang salah niat, sehingga tak ada bedanya dengan orang yang sedang bertamasya. Berhaji laksana liburan, sedang nilai inti dari ajaran haji, tidak pernah dicapai.

Lalu pada ayat selanjutnya Allah ta`ala berkomentar pada orang yang menunaikan perintah-Nya dengan baik: “Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah” yaitu menjalankan dan menghormati dengan baik manasik(ibadah) haji. Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Amalan yang dilakukan dengan sebaik-baiknya –setelah ikhlas-, pasti akan menghasilkan hasil yang baik. Kemudian masih terkait dengan masalah ibadah haji Allah berfirman:dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya” artinya selama haji dibolehkan memakan sembelihan binatang ternak. Yang dilarang hanya beberapa makanan yang ditetapkan al-Qur`an seperti yang terdapat dalam Surat al-Maidah, ayat ketiga. Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan ketika berhaji ialah firman Allah ta`ala: “ Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. Jadi orang yang berhaji harus menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan kemusyrikan, kemaksiatan, dan perkataan-perkataan dusta. Ini bukan berarti setelah haji boleh melakukan perbuatan itu, tapi ini merupakan sebuah penekanan agar bagi orang yang haji harus mawas diri dan menjaganya agar tidak termasuk dari bagian orang yang dusta.

Dari beberapa ayat yang telah ditafsirkan tadi perlu kiranya diperhatikan dengan baik bagi orang yang belum, sedang, dan sudah haji. Melalui sejarah setiap muslim diingatkan dengan perjuangan Ibrahim beserta keluarganya dalam menjaga dan memperjuangakan dakwah Islam, khususnya dalam hali ini terkait masalah haji. Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan ialah: haji itu harus dilandasi ikhlas kepada Allah. Niat yang benar dan baik harus mengawali amal. Nabi Muhammad bersabda:
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan ) tergantung niatnya ). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan”(Hr. Bukhari dan Muslim).

Merupakan sebuah ironi jika seorang muslim terjerembab pada jurang kesyirikan. Meski ikhlas merupakan sesuatu yang sangat mendasar, kita tidak akan bisa menjalankan haji dengan baik, sebelum kita mencontoh manasik haji Rasulullah:
خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ (رواه البيهقي).
Hendaknya kalian ambil dariku (cara) manasik(ibadah haji) kalian”(Hr. Baihaqi). Ini artinya, disamping ikhlas, haji harus sesuai dengan contoh Rasulullah SAW. Penting juga diingat bahwa meskipun dalam ibadah haji ada beberapan manfaat dunia maupun akhirat, orang yang haji harus tetap disiplin dan mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah. Ibadah haji bukan sekadar, ritual berupa kunjungan ke Baitullah saja, tapi di dalamnya ada nilai-nilai berharga, seperti ketaatan, kepedulian sosial dan lain sebagainya.

Yang terakhir ialah menjagai diri dari perkataan dusta. Banyak sekali orang yang telah berhaji namun pada hakikatnya masih belum haji, ini karena masih tidak bisa menjaga ucapan dari perkataan-perkataan dusta dan kotor. Orang yang bisa menjaganya, maka ketika pulang akan dibersihkan dari dosa, layaknya bayi yang baru dilahirkan:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barangsiapa berhaji krn Allah lalu tdk berbuat keji dan kefasikan niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti di hari ketika dilahirkan oleh ibu”(Hr. Bukhari). Orang yang seperti ini sejatinya adalah orang yang memperoleh haji mabrur(suatu kondisi ketika setelah haji menjadi lebih baik dari sebelumnya). Ketika Rasulullah SAW. ditanya mengenai amalan yang paling utama, diantara jawaban Rasulullah ialah: “Haji mabrur”(Hr. Bukhari). Namun sangat disayangkan jika pada akhirnya haji hanya dijadikan untuk mengisi libur(yaitu suatu kondisi jika orang berhaji tapi tidak menjaga kesucian dan kedisiplinan sehingga hajinya tak berpengaruh positif pada dirinya sehingga kondisinya sama seperti sedia kala). Semoga kita dihindarkan dari perilaku negatif itu. Wallahu a`lam bi al-Showab.



Pelajaran-pelajaran  :

1.      Pentingnya mengingat sejarah Ibrahim untuk dijadikan sebagai pelajaran. Ini tercermin dari kata ‘idz’ yang berarti ingatlah. Karena salah satu fungsi sejarah ialah untuk dijadikan peringatan dan pelajaran.
2.      Mengikhlaskan niat sebelum haji
3.      Wajib memuliakan dan menyucikan Baitullah dari segala hal yang bisa mengganggu orang yang beribadah berupa kesyirikan, kemasksiatan dan segala macam dosa serta berbagai macam kotoran.
4.      Boleh berdagang ketika haji.
5.      Larangan menyekutukan Allah ta`ala.
6.      Wajib bersyukur dan mengingat Allah ta`ala.
7.      Boleh memakan daging kurban
8.      Wajib mencukur rambut setelah melempar jumrah.
9.      Wajib menunaikan nadzar syar`i(yang dibolehkan menurut syari`at Islam)
10.  Larangan berkata dusta.

Sumber Bacaan         :
1.      Ibn Katsir, Abu Fida, Tafsīru al-Qur`ānu al-`Ādhīmu, Penerbit: Dāru Thayyibah li al-Nasyri wa al-Tauzī`(Cet:  Kedua, 1999).
2.      Sya`rawi, Mutawalli, Tafsīru al-Sya`rōwi, Penerbit: Akhbāru al-Yaum (1991)
3.      al-Himshi, Muhammad Muhsin, Mufrodātu al-Qur`ān Tafsīr wa Bayān `Ala Mushafi al-Tajwīd, Penerbit: Muassasatu al-Īmān(Cet: Pertama, 1991)
4.      Fathu al-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqolâni
5.      Suyuthi, Imam, Lubâbu al-Nuqûl Fi Asbâbi al-Nuzûl.
6.      Jâbir al-Jazâiri, Abu Bakar, Aisar al-Tafâsîr
7.      Baihaqi, Imam, Sunan Baihaqi.
8.      Nashir bin Sa`adi, Abdurrahman, Taisīr al-Karīm Rahmān fi Tafsīri Kalāmi al-Mannān, Penerbit: Muassasah al-Risālah(Cet: Pertama, 2000)
9.      Bukhari, Imam, Jāmi` al-Shōhih al-Bukhōri
10.  Muslim, Imam, Jāmi` al-Shōhih Muslim


 [Diterbitkan Majalah Al-Muslimun. Edisi: Oktober 2014].
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan