Latest Post

`AZĪZUN `ALĪM

Written By Amoe Hirata on Senin, 04 Mei 2015 | 04.47

Kata `azizun berasal dari akar kata `izzun yang berarti kemuliaan, tidak terkalahkah, sangat unik, langkah dan gagah. Kata `aziz biasa diartikan Maha Gagah. Tapi sejatinya bahasa indonesia tidak mampu mewakili kata `aziz karena keluasan maknanya. Namun pada intinya kata `aziz menggambarkan penguasa yang punya kendali penuh, memiliki kekuasaan absolut. Mampu memberi sanksi dan ketegasan kepada siapa saja yang melanggar batas-batas yang dibuat-Nya.

Kata `aliimun(Maha Mengetahui) dalam Al-Qur`an diletakkan di depan dan di belakang, tergantung dari kata yang dipasangkan. `alimun berasal dari akar kata `ilmun artinya ilmu. Sebenarnya kurang pas kalau `alimun diartikan dengan Maha Mengetahui. Karena pengetahuan dan ilmu memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Pengetahuan secara mudah bisa didapatkan oleh semua orang asal indranya berfungsi dengan baik dan mau menerimanya, sedangkan ilmu merupakan hasil dari kumpulan pengetahuan yang sudah diteliti sedemikian rupa sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih dalam dan mendasar.


Ketika kedua sifat ini digabung menjadi satu maka pelajaran berharga bagi manusia ialah bagi siapa saja yang memiliki kendali, ketegasan, kegagahan yang penuh maka harus diiringi dengan ilmu yang memadai. Tanpai dasar ilmu kekuatan, kegagahan akan berjalan tidak seimbang. Pemimpin yang suka memanfaatkan dan menggunakan otoritasnya tanpa dasar ilmu maka dapat merusak kepemimpinannya. Kepemimpinan tanpa ilmu rawan dikuasai oleh hawa nafsu.

Perdebatan Subur, Kebenaran Kabur

Written By Amoe Hirata on Minggu, 03 Mei 2015 | 05.29

             
          Hati Sarikhuluk benar-benar dirundung pilu. Setiap kali melihat kondisi masyarakat di sekitarnya yang suka berdebat, suka adu unggul, suka mencari-cari kesalahan, suka menyalah-nyalahkan, semakin membuat pikiran dan hatinya mengharubiru. Apalagi ketika menonton acara-acara di televisi, kebanyakan isinya semakin membuatnya tak bisa tidur, alih-alih malah membuatnya semakin melantur. Di sisi lain ‘pesta demokrasi’ rakyat sebentar lagi akan digelar; keraguan dan kepiluan di hatinya semakin menjalar.
           Kebanyakan orang pada saat-saat yang ‘dianggap penting’ ini, mempromosikan kebenaran sendiri-sendiri, yang benar adalah diri sendiri, sedang yang lain kebenarannya menjadi basi. Yang sayang rakyat ialah partainya sendiri, sedang partai lain dianggap ‘pengeruk harta rakyat’ untuk kepentingan pribadi. Perdebatan ini sudah bukan lagi masalah individu, bahkan sudah menjadi karakter bangsa yang tak kunjung maju. Perdebatan ini sudah menggejala di tiap dimensi kehidupan, bahkan para jin dan setan pun mungkin ikut berpartisipasi menyemarakkan perdebatan yang semakin subur. Negara diperdebatkan, agama diperdebatkan, kesehatan diperdebatkan, pendidikan diperdebatkan, lembaga sosial diperdebatkan. Seolah-olah yang eksis ialah perdebatan itu sendiri, sedang kebenaran sejati disembunyikan pada ‘semak-semak belukar zaman’. Perdebatan semakin subur, kebenaran menjadi kabur.
            Di saat imajinasi Sarikhuluk terbang menembus ruang dan waktu, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara pengamen yang sedang bernyanyi dengan suara paraunya. Ia langsung tersadar dari imajinasinya, kemudian menyimak dengan baik lagu yang dinyanyikannya. Barangkali dengan mendengar lagu dari pengamen tersebut, hatinya akan menjadi lembut, syukur-syukur hatinya menjadi terhibur. Teks nyanyian pengamen yang kemudian namanya dikenal sebagai, ‘Sarwono’ itu sebagai berikut:

Indonesia negara kaya
Kaya alam, kaya orang dan budaya
Namun sayang
Oh sungguh sayang
Alam kaya
Kesejahteraan tak merata
Kebanyakan pemimpin merasa hebat
Kerjaannya suka berdebat
Janji-janji selalu diumbar
Kenyataan banyak rakyat yang lapar

            Belum lagi Sarwono menyelesaikan lagunya, tiba-tiba Sarikhuluk memintanya berhenti: “Sudah-sudah mas lagunya, maaf ini uangnya!”. Pengamen tersebut, sambil senyum-senyum menyatakan, “suwon(terima kasih) pak” langsung pergi. Kepiluan Sarikhuluk semakin bertambah parah. Ternyata apa yang dialaminya sudah menjadi rahasia umum, bahkan menjadi nyanyian para pengamen jalanan. Maunya mendengar supaya terhibur, malah hati serasa disambar guntur. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sawah, bercengkrama dengan alam. Yang ia rasakan dari alam selalu ketenangan. Setiap kali melihat alam, hatinya selalu sejuk. Alam selalu mengingatkan padanya tentang Tuhan. Alam selalu menginspirasi dirinya untuk tidak merasa susah dengan segala masalah yang menimpa.
               Alam mengajarkan padanya: “bahwa manusia lebih besar dari masalah, maka jangan sampai manusia kalah dengan masalah. Masalah itu untuk dikhalifahi, bukan untuk diperdebatkan. Belajarlah pada kesitiaan Alam terhadap titah Tuhan, titah Tuhan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dipatuhi dan diamalkan”. Seketika itu juga Sarikhuluk jadi ingat ayat ketika ngaji di surau dulu: Wa kâna al-Insânu aktsara syain jadala (dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah)Q.s. Al-Kahfi: 54. Bacaan itu akhirnya menjadi dzikirnya seharian penuh. Biar hatinya tidak pilu lagi. Biar dia tidak sedih dengan orang yang banyak debat. Karena memang sudah menjadi watak. Yang penting jangan sampai ia terpengaruh. Daripada membuat debat semakin subur, kemudian kebenaran menjadi kabur, lebih baik beramal dan berbuat jujur, kemudian kebenaran pun akan menjadi jelas dan teranjur. Ketika kebenaran dijunjung tinggi, dan tak berhenti pada debat, maka Tuhan pun tak ‘segan’ mencurahkan rahmat.

Sumengko, 11 Maret 2014, 11: 25

SAMĪ`UN QORĪBUN

Kata sami`un(Maha Mendengar) dalam Al-Qur`an selalu terletak di depan. Sedangkan pasangan kata ini bermacam-macam di antaranya: bashirun dan qaribun. Pembahasan kali ini ialah tentang pasangan sami`un dan `aliimun. Pendengaran selalu didahulukan daripada indra lainnya, ini mengisyaratkan betapa pentingnya pendengaran dan fungsinya bagi manusia. Pertama kali indra manusia yang bekerja ketika baru dilahirkan ialah indra pendengaran. Indra pendengaran (melalui telinga) merupakan satu-satunya indra eksternal manusia yang masih beoperasi, bekerja dan berfungsi dengan baik ketika sedang tidur. Kalau dikembangkan ke ranah lebih jauh. Mendengarkan erat kaitannya dengan seni suara. Suara yang indah akan didengar oleh telinga kemudian masuk hati. Berdakwah dengan memakai metode seni suara indah yang melibatkan indra pendengaran akan lebih efektif daripada sekadar ceramah-ceramah agama kering yang melibatkan telinga tapi tidak memiliki karakter keindahan, sehingga untuk sampai ke hati masih melalui proses didengar, dipikirkan baru kemudian di hati. Pertama kali manusia mendapat pengajaran dan pelajaran melalui telinga. Manusia dituntun sedemikian rupa untuk mengucapkan nama sesuatu melalui fungsi telinga sebagai perantara pendengaran. Bila indra pendengaran tidak berfungsi sejak kecil maka secara otomatis manusia akan bisu. Ini menunjukkan bahwa pendengaran merupakan unsur inti untuk pendidikan. Ranah lain dalam dunia politik, sosial, agama, kepemimpinan sangat membutuhkan sarana pendengaran. Frekuensi dan volume pendengaran harus lebih ditingkatkan jika mau mendapat kesuksesan. Kepemimpinan akan sukses jika banyak mendengarkan aspirasi yang dipimpin, demikian juga berbagai aspek kehidupan lainnya.
              Kata , ‘qarib’ berarti sangat dekat. Ia berasal dari akar kata Arab: qof, ro dan ba` yang artinya dekat. Bila digabungkan dengan kata sami` maka kita akan menemukan relavansi demikian: Mendengar itu memang diutamakan tapi juga harus didukung dengan kekariban. Meski kita mendengar aspirasi orang tapi kalau kita tidak punya kedekatan, baik kedekatan secara fisik maupun non fisik maka sebagai pemimpin atau apa saja kita akan kurang mendapat simpati dari orang lain. Mendengar dan mendekat itu sangat membantu kesuksesan seseorang dalam berkomunikasa. Kekariban menggambarkan perhatian dan kesungguhan. Dengan mendengar dan mendekat kita akan dihormati daripada sekadar mendengar tapi tidak dekat.

Titik Temu:

              Titik temu dari ketiga pasangan kata sami`un dari al-asma` al-Husna ialah ketiganya merupakan sifat yang sangat menunjang sifat sami`un. Ilmu, pengelihatan dan kedekatan merupakan faktor fundamental yang mempengaruhi pribadi seseorang. Orang yang biasa mendengar, menyimak orang lain berdasarkan ilmu, survai secara langsung(melihat), dan berusaha lebih karib(dekat) maka akan meraih kesuksesan. Ini bisa diterapkan dalam segenap aspek kehidupan.

Pendidikan Lahir Batin

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 02 Mei 2015 | 05.32

           
             Lama tak muncul di Media Massa, Sarikhuluk sudah beberapa minggu berusaha membuat jarak serius dengan hiruk-pikuk media. Selama ini Ia terjun langsung ke dunia sosial yang sama sekali tak disorot media. Ada jarak yang serius antara apa yang diungkap media, dengan realita yang ada. Sehingga membuat jarak yang tepat dengan media merupakan hal yang niscaya bagi Sarikhuluk, untuk menjernihkan pikiran dan hati sehingga mendapat penilaian yang akurat dan tepat dalam menyikapi fenomena yang ada. 
          Ketika sedang memberi makan ayam, Ia kedatangan tamu –yang sebenarnya salah satu teman akrabnya yang berprofesi sebagai guru- namanya Aiman Abdul Ghani. Hampir lima tahun Sarikhuluk tak berjumpa dengannya.  Feeling Sarikhuluk merasa ada sesuatu penting yang akan disampaikan sahabatnya mengenai dunia pendidikan. “Semoga kabar baik yang akan disampaikan sahabatku ini” harapan Sarikhuluk dalam hatinya.
            Monggo monggo monggo silahkan duduk Gan” tutur Sarikhuluk mempersilahkan. “Oh ngge Prof. Ndak usah repot-repot hehehe(Sarikhuluk oleh Aiman Abdul Ghani dijuluki Prof, meski tak pernah mengenyam bangku sekolah karena kepiawaiannya dalam menganalisa fenomena sosial, sekaligus pintar dalam mencari solusi permasalahan)” sahut Aiman Abdul Ghani. “Halah kamu ini ada-ada aja pakai manggil aku Prof, wong orang ga jelas kayak gini. Oh ya lama ya kita ga berjumpa, nampaknya ada kabar baik nih yang bakal kamu beritahu?” tanya Sarikhuluk melanjutkan obrolan.
                     “Gini Cak, sebenarnya aku kesini bukan mau memberi kabar gembira, tapi sebaliknya aku mau curhat sekaligus mencari solusi pada sampean, aku yakin pean bisa membantuku” jawab Aiman. “Ealah ternyata tebakanku salah, hehehe, baru kali ini tebakanku meleset, sebab biasanya kamu selalu membawa berita baik. Oke sekarang tenangkan pikiran, jernihkan hati kemudian silahkan cerita yang ingin kamu ceritakan” ucap Sarikhuluk mempersilahkan Aiman bercerita.
            “Aku kemarin keluar dari dunia pendidikan” Aiman membuka cerita. “Lho lho lho opo maksudnya?” Tanya Sarikhuluk penasaran(sebab bagi Sarikhuluk pendidikan itu bukan hanya dalam lembaga formal sekolah dan lain sebagainya, tapi kehidupan dan alam merupakan lembaga pendidikan juga meskipun non-formal. “Maksudku aku keluar dari sekolah, aku ga mau ngajar lagi di situ. Aku kecewa banget. Masa` gara-gara persoalan sepele, aku dimarahin sekeras-kerasnya, dihadapan forum rapat lagi, ah martabatku sebagai guru seolah terinjak-injak. Yang lebih menyakitkan lagi, dengan ungkapan yang kasar, aku dituduh tak serius mengajar, dan hanya mengejar urusan duniawi belaka. Keikhlasan dan kesabaran yang aku jaga bertahun-tahun ini seolah hilang gara-gara ungkapan Pemimpin Rapat itu” lanjut Aiman dengan semangat menggebu.
                     “Kendalikan emosimu, kamu cerita masih belum lengkap, coba cerita dengan lengkap. Siapa yang memarahimu? Kenapa dimarahi?” tanya Sarikhuluk sembari menenangkan. “Ya Mr. Wagiman itu, pemilik sekolah yang semena-mena. Masalahnya gara-gara anak-anak shalat diluar area sekolah. Anak-anak kan diwajibkan shalat di dalam sekolah, tapi mau shalat gimana coba, wong airnya saja sedikit, itupun kotor, ya akhirnya aku ajak saja shalat di masjid di luar sekolah” jawab Aiman.
            “Sebenarnya Gan, permasalahan itu masih sederhana dan bisa diselesaikan, asal kedua belah pihak mau menginsafi dan memahami akar permasalahan. Aku melihat Mr. Wagiman sudah dirundung banyak masalah sehingga apa yang menimpamu sebagai pelampiasan untuk mengeluarkan masalah-masalah pribadi yang kian menumpuk. Apalagi karakternya memang sangat emosional, jadi dalam sudut pandang ini, sangat wajar jika Ia marah seperti itu. Tapi  di sisi lain, memang karena tak bisa mengontrol emosi, apa yang diucapkan Wagiman, memang sangat melukai hati siapa saja yang mendengarnya, aku saja secara pribadi mangkel juga kalau diomongi seperti itu. Sekarang gini ya Gan, kamu keluar atau tidak, itu hakmu. Tapi yang perlu kamu pikirkan lebih dalam ialah jangan sampai kamu keluar hanya karena marah atau tak terima atas perlakuan dari Mr. Wagiman, karena kamu ngajar, kamu mendidik itu kan bukan demi atau karena Mr. Wagiman, di sana masih ada para siswa yang kamu pertimbangkan, di sana juga ada rekan-rekan guru yang masih membutuhkanmu. Jadi kalaupun kamu harus keluar, usahakan dengan pemikiran matang dan dewasa” nasihat Sarikhuluk.
            “Aku sakit sebenarnya bukan hanya karena omongan Mr. Wagiman yang sungguh menyayat hati, aku juga merasa bahwa pendidikan di sekolahku sudah tidak sehat lagi. Yang dibesarkan hanya yang penting lulus, sistem tak terurus; yang diutamakan yang penting berjalan, meski pendidikan tak berkembang. Yang penting dari pendidikan bukan lagi pada hal-hal yang lebih subtansial, tetapi hanya berkutat pada hal-hal formal. Slogan dan idealismenya begitu tinggi namun hanya pada tataran formal. Sadar entah tidak di dunia lembaga pendidikan sekarang ini, kita sudah dididik bermental pencuri. Kebocoran bantuan, kebocoran dana BOS, kebocoran bantuan anak miskin dan kebocoran soal ujian, didalangi oleh pelaku lembaga pendidikan itu sendiri, sudah merupakan bukti nyata pencetakan anak didik bermental korup dan pengecut. Padahal motto sekolah sangatlah bagus yaitu Berakhlak Mulia dan Terdepan dalam Berprestasi. Apa itu bukan kebohongan namanya Cak؟” lanjut Aiman.
            “Gan, kalau memang benar apa yang kamu ceritakan padaku, aku juga setuju kalau kamu memilih keluar dari situ. Hanya saja, saranku, jangan sampai karena masalah itu, kamu menjeneralisirnya sehingga kamu tak mau lagi mengajar di lembaga formal. Tak semua lembaga seperti itu. Masih ada lembaga-lembaga formal yang masih tulus dan jujur. Kemudian kalau apa yang kamu ceritakan tadi fakta, maka tidak usah kamu sebarkan kemana-mana, bagaimanapun juga aib manusia bukan untuk diumbar. Jangan sampai rasa bencimu membuatmu tak adil dalam bersikap. Rajinlah mencari kebaikan orang lain, dan carilah sebanyak-banyaknya kejelekan diri sendiri, agar kamu bisa berendah hati dan mencintai manusia. Manusia selama masih hidup ada peluang untuk berubah, jadi kalau benci jangan terlalu, kalau cinta juga jangn terlalu” lanjut Sarikhuluk menasihati.
            Astaghfirullah ...... Aku baru sadar cak, kalau yang menggerakkanku adalah emosi, terimakasih banyak atas nasihat dan sarannya. Bagaimanapun juga dunia pendidikan memang sangat berat dan susah. Bagi pendidik yang dibutuhkan memang bukan sekadar kata-kata ideal, tetapi suritauladan yang baik sehingga para siswa tidak nakal. Kita mendidik diri sendiri saja susah, apalagi mendidik anak orang. Tapi mengenai keputusanku untuk keluar sudah bulat Cak. Sebagaimana nasihat sampean, aku akan mencari sekolah yang menurutku lebih baik, tanpa harus kujelek-jelekkan sekolah tempat aku ngajar. Kalau belum menemukan sekolah yang tepat, aku akan mengembangkan bisnisku saja, sembari tetap mendidik meskipun bukan di lembaga formal. Daripada batin terus tertekan, lebih baik keluar sekalian” sambung Aiman.
                   “Oke kalau itu memang keputusanmu. Jangan sampai kamu kalah dengan masalah. Kamu lebih besar dari masalah, masalah ada untuk mematangkan dan mendewasakan, kalau kamu menyerah, maka sama saja kamu merendahkan martabatmu sebagai manusia. Mengenai pendidikan saat ini, sebagaimana yang aku tahu sendiri di lapangan, memang cendrung mendidik para siswa sebatas urusan lahir saja atau hal yang nampak saja. Misalkan anak sekolah itu kebanyakan bukan karena kemauan sendiri, tapi karena kemauan orang tua yang mengharuskan anaknya menjadi seperti yang dimauinya, tentu saja supaya mendapat hal-hal yang sifatnya lahiriah berupa harta, kekayaan dan lain sebagainya. Meskipun lahiriah penting, tapi kalau pendidikan hanya difokuskan disitu maka akan mengalami kerusakan. Bagamanapun juga unsur batin juga harus tetap digarap, karena masalah pendidikan batin, terkait dengan pendidikan karakter dan akhlak, merupakan faktor penting untuk mengontrol pendidikan secara lahir. Kalau batinnya bagus, mencari yang lahir pun tak akan khawatir karena pasti akan ada kontrol batin. Demikianlah sejatinya pendidikan. Pendidikan lahir dan batin” pungkas Sarikhuluk. Setelah beberapa jam ngobrol, akhirnya Aiman pamit pulang dengan hati yang lapang dan tak bimbang.

SAMĪ`UN BASHĪRUN

Kata sami`un(Maha Mendengar) dalam Al-Qur`an selalu terletak di depan. Sedangkan pasangan kata ini bermacam-macam di antaranya: bashirun dan qaribun. Pembahasan kali ini ialah tentang pasangan sami`un dan `aliimun. Pendengaran selalu didahulukan daripada indra lainnya, ini mengisyaratkan betapa pentingnya pendengaran dan fungsinya bagi manusia. Pertama kali indra manusia yang bekerja ketika baru dilahirkan ialah indra pendengaran. Indra pendengaran (melalui telinga) merupakan satu-satunya indra eksternal manusia yang masih beoperasi, bekerja dan berfungsi dengan baik ketika sedang tidur. Kalau dikembangkan ke ranah lebih jauh. Mendengarkan erat kaitannya dengan seni suara. Suara yang indah akan didengar oleh telinga kemudian masuk hati. Berdakwah dengan memakai metode seni suara indah yang melibatkan indra pendengaran akan lebih efektif daripada sekadar ceramah-ceramah agama kering yang melibatkan telinga tapi tidak memiliki karakter keindahan, sehingga untuk sampai ke hati masih melalui proses didengar, dipikirkan baru kemudian di hati. Pertama kali manusia mendapat pengajaran dan pelajaran melalui telinga. Manusia dituntun sedemikian rupa untuk mengucapkan nama sesuatu melalui fungsi telinga sebagai perantara pendengaran. Bila indra pendengaran tidak berfungsi sejak kecil maka secara otomatis manusia akan bisu. Ini menunjukkan bahwa pendengaran merupakan unsur inti untuk pendidikan. Ranah lain dalam dunia politik, sosial, agama, kepemimpinan sangat membutuhkan sarana pendengaran. Frekuensi dan volume pendengaran harus lebih ditingkatkan jika mau mendapat kesuksesan. Kepemimpinan akan sukses jika banyak mendengarkan aspirasi yang dipimpin, demikian juga berbagai aspek kehidupan lainnya.

             Kata bashirun(Maha Melihat) berasal dari kata bashar yang berarti pengelihatan. Secara posisi bashirun selalu berada setelah sami`un. Ia tidak pernah berada di depan. Ini mengisyaratkan pada kita skala prioritas bahwa mendengar didahulukan terlebih dahulu baru kemudian dikuatkan dan didukung dengan melihat. Orang yang mendengar barangkali relatif terpengaruh dengan penuturan orang yang berbicara padanya. Namun dengan melihat secara langsung, maka akan tambah memperjelas korelasi antara yang disampaikan dengan kenyataan yang terjadi. Bila kita kaitkan dengan kepemimpinan dalam bidang apapun, maka pemimpin harus banyak mendengar dari yang dipimpin. Mendengar aspirasi, mendengar keluahan, kendengar aduan dan lain sebagainya, namun juka harus dicek dengan melihat secara langsung di lapangan. Dalam uangkapan Arab ada istilah: laisa ma`al `aini aina(Melihat secara langsung tidak perlu bertanya: dimana?[karena melihat itu lebih jelas daripada diceritakan]). Dalam aspek pendidikan kita menjumpai bahwa belajar ilmu dengan cara mendengar(dengan guru) lebih diprioritaskan dengan belajar secara melihat(membaca, otodidak).

SAMĪ`UN `ALĪMUN

Written By Amoe Hirata on Jumat, 01 Mei 2015 | 04.01

Kata sami`un(Maha Mendengar) dalam Al-Qur`an selalu terletak di depan. Sedangkan pasangan kata ini bermacam-macam di antaranya: bashirun dan qaribun. Pembahasan kali ini ialah tentang pasangan sami`un dan `aliimun. Pendengaran selalu didahulukan daripada indra lainnya, ini mengisyaratkan betapa pentingnya pendengaran dan fungsinya bagi manusia. Pertama kali indra manusia yang bekerja ketika baru dilahirkan ialah indra pendengaran. Indra pendengaran (melalui telinga) merupakan satu-satunya indra eksternal manusia yang masih beoperasi, bekerja dan berfungsi dengan baik ketika sedang tidur. Kalau dikembangkan ke ranah lebih jauh. Mendengarkan erat kaitannya dengan seni suara. Suara yang indah akan didengar oleh telinga kemudian masuk hati. Berdakwah dengan memakai metode seni suara indah yang melibatkan indra pendengaran akan lebih efektif daripada sekadar ceramah-ceramah agama kering yang melibatkan telinga tapi tidak memiliki karakter keindahan, sehingga untuk sampai ke hati masih melalui proses didengar, dipikirkan baru kemudian di hati. Pertama kali manusia mendapat pengajaran dan pelajaran melalui telinga. Manusia dituntun sedemikian rupa untuk mengucapkan nama sesuatu melalui fungsi telinga sebagai perantara pendengaran. Bila indra pendengaran tidak berfungsi sejak kecil maka secara otomatis manusia akan bisu. Ini menunjukkan bahwa pendengaran merupakan unsur inti untuk pendidikan. Ranah lain dalam dunia politik, sosial, agama, kepemimpinan sangat membutuhkan sarana pendengaran. Frekuensi dan volume pendengaran harus lebih ditingkatkan jika mau mendapat kesuksesan. Kepemimpinan akan sukses jika banyak mendengarkan aspirasi yang dipimpin, demikian juga berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kata `aliimun(Maha Mengetahui) dalam Al-Qur`an diletakkan di depan dan di belakang, tergantung dari kata yang dipasangkan. `alimun berasal dari akar kata `ilmun artinya ilmu. Sebenarnya kurang pas kalau `alimun diartikan dengan Maha Mengetahui. Karena pengetahuan dan ilmu memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Pengetahuan secara mudah bisa didapatkan oleh semua orang asal indranya berfungsi dengan baik dan mau menerimanya, sedangkan ilmu merupakan hasil dari kumpulan pengetahuan yang sudah diteliti sedemikian rupa sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih dalam dan mendasar. Ketika kata sami`un dipasangkan dengan kata `aliimun ini ‘seolah-olah’ mengisyaratkan pada manusia bahwa mendengar saja itu meski sangat penting tapi itu belum cukup. Mendengar saja tanpa didasari dengan ilmu maka akan menimbulkan masalah. Misal saja kita mungkin merasa simpati setelah mendengar penuturan orang yang begitu memukau, namun pada saat yang sama kita juga bisa tertipu olehnya kalau kita tidak mempunyai dasar ilmu. Ilmu mengharuskan kita meneliti terlebih dahulu terhadap apa yang kita dengar. Pendengaran secara sederhana hanya memberi manusia pengetahuan. Dengan disandingkan dengan kata ilmu maka pendengaran akan lebih aman dan tidak dipengaruhi oleh unsur lain karena diproses sedemikian rupa dengan ilmu. Manusia memang dianjurkan banyak mendengarkan, tapi banyak mendengar juga harus diimbangi dengan daya kritis dan penelitian berupa ilmu. Perpaduan keduanya adalah perpaduan yang sangat apik dan perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Penggabungan dua kata ini juga mengisyaratkan bahwa ilmu yang utama didapatkan melalui metode talakki(mendengar langsung dari guru) baru kemudian diteliti sedemikian rupa melalui metode ilmiah. Wallahu a`lam bis shawaab.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan