Latest Post

Peran Wanita dalam Sirah Nabawiah

Written By Amoe Hirata on Minggu, 03 Januari 2016 | 08.52


          Sebelum kedatangan Islam, wanita hampir tak memiliki peran. Keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Abu al-Hasan al-Nadawi, ulama kenamaan asal India, dalam buku masyhurnya Mādza Khasira al-`Ālāma binkhiṭāti al-Muslimīn(h. 55) menggambarkan kondisi wanita di masa memilukan itu: “Pada masyarakat jahiliah perempuan rentan (mendapat perlakuan) tak adil dan zalim, hak-haknya dirampas, hartanya diambil, tak mendapat warisan, setelah talak atau ditinggal mati suaminya mereka dihalangi menikah dengan lelaki yang disukai, serta dijadikan sebagai warisan sebagaimana barang atau hewan.”
            Saat Islam datang, kegelapan yang menyelimuti wanita menjadi sirna. Mereka seakan terlahir kembali. Hak-haknya dipenuhi, keberadaannya diperhitungkan, bahkan memiliki peran-peran yang tidak kecil. Pada tulisan ini akan dibahas peran wanita dalam sirah nabawiah.
            Ada dua fase penting yang menjadi latar untuk menjelaskan peran mereka di masa nabi. Pertama, Fase Mekah. Kedua, Fase Madinah. Bila ditinjau dari sirah nabawiah, pada kedua fase tersebut, wanita sangat berperan aktif. Berikut ini –tanpa bermaksud membatasi- ada beberapa contoh wanita yang akan diangkat:

Fase Makkah

            Pada fase Mekah beberapa wanita yang bisa dijadikan contoh adalah: Pertama, Khadijah binti Khuwailid: di samping sebagai wanita pertama yang masuk Islam, ia juga memainkan peran penting sebagai istri shalihah yang mampu menjadi pendukung(materi maupun rohani), penentram jiwa, penenang hati, mitra dialog asyik, serta pendidik hebat bagi anak-anak nabi. Kehidupannya adalah contoh ideal bagi setiap Muslimah yang berperan sebagai seorang istri.
            Kedua, Samiyyah : Ibunda Ammar bin Yasir memerankan peran penting sebagai wanita mujahidah pertama yang dengan ketabahan, kesabaran, dan keyakinannya mengantarkannya pada kemulian syahid. Ia adalah wanita Muslim pertama yang mati fi sabilillah. Darinya Muslimah bisa belajar kemulian wanita bukan berada pada kedudukan dan harta, tetapi pada seberapa tabah memperjuangkan keimanan.
            Ketiga, Asma binti Abu Bakar, Dzun Nithaqaini: Berperan penting dalam suksesi hijrah nabi. Ia adalah sosok wanita tangguh. Dalam kondisi hamil tua, menempuh jarak perjalanan sekitar delapan kilo dari Mekah sampai gua Tsur, mendaki gunung, bolak-balik sendirian selama tiga hari berturut-turut untuk mengantarkan bekal makan dan minum, penjaga rahasia, serta menyampaikan kabar terkini terkait perkembangan Mekah. Sosok sepertinya sangat layak untuk diteladani.
            Keempat, Istri `Amir bin Rabi`ah: Di samping ikut hijrah ke Habasyah, ia juga memiliki firasat kuat tentang keislaman Umar bin Khattab yang waktu itu masih kafir.  Kelima, Ummu Salamah dan Ruqayyah binti Muhammad shallallahu `alaihi wasallam: dengan kesabaran tinggi ia mampu berperan baik dalam hijrah ke Habasyah. Dengan begitu telaten dan sabar mereka mampu menjadi teladan bagi setiap Muslimah yang menghendaki kemulian.
            Tak hanya itu, Keenam, Fathimah binti Khattab: Wanita tabah dan pemberani, saudara Umar yang mempu mempertahankan keimanannya. Ia berperan besar dalam mengajak suami serta saudaranya dalam memeluk Islam. Sebagai wanita ia pemberani dan gigih dalam perjuangan.

Fase Madinah

            Fase Madinah juga tak sepi dari peran wanita. Sebagai contoh: Pertama, Aisyah binti Abu Bakar: Di samping sebagai seorang istri ia juga berperan aktif dalam bidang kelimuan. Hafalan yang begitu kuat memungkinkannya menceritakan peristiwa yang ia alami sejak di Mekah hingga ihwal rasulullallah shallallahu `alaihi wasallam. Hadits yang diriwayatkan begitu banyak(2210 hadits. Baca: Taisir Musalah al-Hadits, 107), pemahaman terkait fikih begitu mendalam, kemampuanya dalam memahami, menganalisa, dan mengambil faidah dari teks al-Qur`an dan Hadits begitu tinggi.
            Kedua, Pada perang Khandaq mereka menyiapkan makanan bagi para sahabat yang sedang menggali parit. Umayyah binti Shalat menceritakan bahwa ada perempuan muda dari bani Ghifar yang turut serta dalam perang Khaibar, ia bertugas mengobati luka dan memberi bantuan sesuai kadar kemampuan.
            Ketiga, Ummu `Imarah Nasibah binti Ka`ab al-Maziniyah: Saat darurat berpartisipasi dalam medan jihad perang. Dalam perang Uhud ia turut berperang melindungi Rasulullah. Ia bertugas memberi minum para mujahid, bahkan sempat berperang. Dhimrah bin Sa`id –cucu Nasibah- pernah menghitung lukanya sekitar dua belas atau tiga belas luka tusukan(Sirah Nabawiah, Muhammad Shallabi).
            Keempat, Ummu Salamah: Pasca perjanjian Hudaibiah berperan penting dalam memberikan pendapatnya kepada nabi terkait para sahabat yang tak segera menjalankan titah nabi. Di sini wanita juga berperan sebagai pihak yang bisa diajak musyawarah dengan suami untuk memecahkan masalah.
            Kelima, Ibu Zaid bin Tsabit: Berperan aktif dalam pendidikan anak. Zaid yang ditolak berpartisipasi dalam perang, dibesarkan hatinya oleh ibunya, bahkan dididik sedemikian rupa hingga Zaid dalam sejarah tercatat sebagai Pencatat dan Ahli Al-Qur`an.
            Keenam, ada riwayat dari Bukhari dan Muslim yang menjelaskan adanya seorang wanita (ada yang berpendapat: Ummu Sulaim, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar di Fath al-bari) yang mengusulkan agar ada bagi wanita waktu khusus untuk ta`lim.  Para istri nabi pun berperan efektif dalam menjelaskan ihwal internal nabi yang perlu diketahui oleh umat. Mereka berperan aktif dalam pemberdayaan wanita.
            Bila dirangkum, beberapa peran wanita dalam sirah nabawiah ialah: sebagai istri shalihah, penyokong dakwah, pendidik bagi anak-anaknnya, jihad di medan laga sesuai dengan bidang yang dikuasai, mitra musyawarah suami, dan pemberdayaan wanita sesuai dengan kodratnya. Demikianlah salah satu gambaran penting mengenai peran wanita di sirah nabawiah. Semoga setiap wanita Muslimah, mampu meneladani peran mereka.
            Sebagai penutup perlu kiranya dibaca kembali hadits nabi: “Wanita adalah saudara kandung laki-laki.”(Hr. Abu Daud, Tirmidzi). Mereka sama-sama memiliki peluang sama dalam berperan aktif mengaktualisasikan ketaatan pada Allah sesuai dengan kodrat masing-masing. Lantas apa peran kita?

YAHUDI: Perspektif Sirah Nabawiah

Written By Amoe Hirata on Jumat, 01 Januari 2016 | 20.22

            Pada tulisan ini akan dibahas: Yahudi Perspektif Sirah Nabawiah. Tujuannya jelas, yaitu: menampilkan karakter Yahudi dalam sirah nabawiyah secara adil, agar Muslim mampu mendapat pelajaran yang diambil.
            Sebelumnya perlu ditegaskan, yang dimaksud Yahudi di sini adalah secara kolektif, bukan individu. Sebab secara individual, ada juga dari kalangan mereka yang adil, obyektif, dan masuk Islam seperti: Abdullah bin Salam(nama aslinya Hushain, dari bani Qainuqa`), Tsa`labah bin As`ad, Usaid bin Sa`iyyah, Asad bin `Ubaid, Shafiyah binti Huyay bin Ahthub, Yamin bin `Amru, Abu Sa`ad bin Wahab dan lainnya.
            Sejak di Makkah, ada banyak ayat-ayat yang turun mengenai moyang Yahudi, yang disebut Bani Israil. Di samping sisi positif seperti: pengikut Nabi Musa `alaihis salam, ahli kitab, kaum terpilih, dan sabar. Ada juga sisi negatif yang diungkap seperti: beradab jelek kepada nabinya, membangkang terhadap perintah Allah, mengakali syari`at, berselisih setelah tahu ilmu, kufur ni`mat, materialistis, penyembah lembu.
            Ayat-ayat Makkiah yang membicarakan tentang bani Israil, setidaknya bisa dijadikan bekal oleh nabi dan sahabatnya untuk berinteraksi dengan Yahudi.
            Sebelum Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, Yahudi sudah menancapkan kaki(ada setidaknya tiga kabilah Yahudi: Qainuqa`, Nadhir dan Quraidhah). Perang Bu`ats yang melibatkan dua kabilah Aus dan Khazraj didukuni olehnya.
            Meskipun ketiga klan Qainuqa`, Nadhir dan Quraidha sama-sama Yahudi, namun mereka tak bersatu. Al-Qur`an membahasakannya: “Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”(Qs. Al-Hasyr: 14).
            Sejarah membuktikan, ketika terjadi peperangan antara kabilah Aus dan Khazraj, ketiga kelompok Yahudi tak menyatu. Bani Quraidha mendukung suku Aus. Sedangkan Bani Qainuqa` dan Nadhir mendukung suku Khazraj. Ini membuktikan salah satu karakter mereka: “Terlihat bersama, tapi tak satu jiwa.”
            Berita tentang kedatangan nabi akhir zaman juga dijadikan tameng untuk menakut-nakuti suku Aus dan Khazraj. Padahal, saat nabi benar-benar datang(dan tanda-tandanya sudah tercatat jelas di kitab Taurat), mereka malah berpaling muka dan berlepas diri. Al-Qur`an mengabadikan peristiwa ini dalam, Al-Baqarah: 89. Karena itu mereka dengki. Kedengkian ini pada gilirannya menjadikan mereka sangat memusuhi Islam(baca, Al-Maidah: 82).
            Ibunda Mu`minin, Shafiyah bin Huyay bin Akhthub pernah menceritakan percakapan antara ayahnya(Huyay) dan pamannya(Abu Yasih bin Akhthub). Sekembali keduanya dari rasulullah, paman bertanya, “Apakah dia orangnya(yang menjadi Rasul sebagaimana penjelasan Taurat)?”. “Ya.” Jawabnya. “Apakah kau sudah memeriksanya dengan saksama?” tanya Yasir kembali. “Ya.” “Lalu bagaimana sikap dirimu padanya?” “Memusuhinya, selama aku hidup.” Ini adalah salah satu contoh kecil bagaimana orang Yahudi memusuhi Islam.
            Orang-orang Yahudi menguasai pasar Madinah. Semua dijalankan dengan sistem ribawai(baca: An-Nisa, 161). Hal ini tentu saja membuat mereka semakin mencengkramkan kekuasaannya secara finansial-ekonomi. Di sisi lain, mencekik kebutuhan rakyat kecil.
            Barang dagangan mereka di antaranya kain(pencelup kain), persenjataan, perkakas dan bijana. Maka tak mengherankan jika mereka sebagai penguasa mode, penyulut peperangan dan produsen alat-alat penting yang mau tidak mau penduduk Madinah membutuhkan mereka.
            Dengan demikian, sebelum hijrah ke Madinah, ada beberapa karakter penting yang bisa diketahui dari Yahudi(secara kolektif): mengadu domba, licik, dengki, menguasai melalui bidang ekonomi melalui sistem ribawi, dan memanfaatkan kebenaran untuk kepentingan pribadi.
            Setelah nabi hijrah, ternyata mereka tidak mengimaninya. Orang yang dulu rajin mereka beritakan kepada penduduk Madinah, tidak dipercaya. Ketika nabi membuat piagam Madinah, mereka sepakat secara lahir, tapi hati mungkir.
            Kedengkian timbul di hati mereka karena nabi yang digadang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Di sisi lain, kedatangannya mengancam kepentingan mereka secara politis(di mana nabi menjadi penguasa), sosia-kultural(mereka tak lagi disegani), dan finansial(dibuatnya pasar tandingan untuk mengatasi sistem pasar ribawi).
            Dengan demikian, satu-satunya jalan yang bisa meraka lakukan adalah menjalankan karakter: munafik. Di luar terlihat mendukung, sedang di dalam sangat ingin menelikung. Maka tidak heran jika di kemudian hari terjadi konspirasi-konspirasi.
            Usaha untuk memecah belah umat juga terus bergulir. Syas bin Qais seorang Yahudi senior –melalui pesuruh-, berusaha memprovokasi kabilah Aus dan Khazraj untuk berperang. Mereka diingatkan kembali tragedi perang Bu`ats. Untung saja nabi segera menanganinya.
            Piagam Madinah pertama kali diciderai oleh orang Yahudi saat mereka(dari kalangan Yahudi Qainuqa`) menistakan Muslimah di pasar. Tindakan konyol yang didukung oleh kelompok mereka ini pada akhirnya membuat mereka terusir dari Madinah(Syawal, 2 H). Dengan demikian, mereka adalah kaum yang suka menyalahi janji.
            Pada tahun 4 hijriah, rekan mereka dari Bani Nadhir berulah. Secara lahir mereka mau membantu nabi membayar tebusan orang Muslim yang salah bunuh. Tapi, diam-diam ada rencana pembunuhan nabi. Mereka pun dikepung dan berakhir dengan penyerahan diri dan pengusiran.
            Yang penting dicatat pada peristiwa ini, ciri khas orang Yahudi adalah: bersekongkol dengan orang munafik(mereka berani melawan ketika mendapat sokongan dari Abdullah bin Ubay), konspirator ulung(upaya pembunuhan nabi secara tersembunyi), pengecut(baca: Al-Hasyr, 13 dan Al-Baqarah, 96. Mereka hanya berani berlindung di balik benteng yang kokoh, padahal mereka kaya dan memiliki senjata lengkap di banding orang Muslim), kikir dan materialistik(ketika pergi ada yang menghancurkan rumahnya sendiri supaya tak dimiliki Muslim, bahkan pintu, jendela, pilar-pilar kayu dan atap rumah ikut dibawa pergi saking kikirnya).
            Pasca perang Ahzab(5 H) pun –rekan mereka Yahudi dari klan Quraidhah- mengikuti jejaknya. Mereka berskongngkol dengan orang kafir dan munafik menelikung rasulullah dari belakang(Piagam Madinah yang dilanggar ialah: “Tidak boleh memberi suaka politik pada Qurays dan orang yang mendukungnya.”) Pada akhirnya, mereka menyerah dan menjadi manusia hina. Sa`ad bin Mu`adz yang ditunjuk nabi sebagai hakim memutuskan: laki-laki dibunuh, perempuan dan anak-anak di tawan, dan harta dibagikan.
            Dengan demikian kekuatan Yahudi di Madinah sudah berakhir seiring dengan dieksekusinya lelaki bani Quraidhah yang telah berkhianat. Namun, ada satu lagi kekuatan Yahudi yang masih bercokol di Khaibar. Mereka –seperti rekan-rakan Yahudi lain memiliki karakter yang sama- sehingga harus ditindak tegas.
            Mengingat Khaibar(60/80 Mil utara Madinah) sebagai markas paling kuat Yahudi untuk makar, propaganda militer, pemicu peperangan, dan biang perselisihan, maka pada tahun ketujuh hijriah rasul memutuskan perang dengan mereka.
            Yahudi Khaibar yang terlindungi dengan delapan benteng(Na`im, Sha`b, Zubair, Ubay, Nizar, Qamush, Wathih, Salalim), akhirnya bisa dikalahkan. Orang Yahudi pun terusir, kecuali yang masuk Islam, atau yang bekerja sama dengan Islam melalui bidang pertanian.
            Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Yahudi secara kolektif dalam sirah nabawiah memiliki karakter: pemecah belah, dengki, sangat memusuhi Islam, penguasa pasar dengan sistem ribawi, secara eksternal terlihat menyatu padahal secara internal bagai musuh, menggunakan kebenaran untuk kepentingan pribadi, penghianat, konspirator ulung, ketika lemah menjadi munafik, ketika kuat berbuat sewenang-wenang, semuanya sangat mirip dengan karakter orang munafik. Wallahu a`lam bi al-Shawab.

Memasuki Gerbong Akhir Zaman

            SELAMAT datang di gerbong akhir zaman. Akan tersaji di hadapan anda berbagai sajian fitnah yang mencekam.
Pagi beriman, sore kehilangan. Amanah disia-siakan, khianat menjadi rebutan. Tanda-tanda kiamat satu per satu mengalir deras bagai air bah dipenuhi sampah.
Dalam gerbong anda akan melihat, umat Islam mayoritas, tapi tak berkualitas. Banyak, tapi tak kuasa bertindak. Mereka terpecah belah, diperebutkan musuh dalam meja hidangan dunia yang penuh fitnah. Mereka terjangkit virus mematikan: cinta dunia dan takut mati.
            Ketika masuk, pilihan anda hanya ada dua: mengikuti arus, atau melawannya.
Dengan mengikuti arus, berarti akan menikmati segala macam keindahan dunia semu, menunggu kedatangan dajjal sang penipu. Air kebenaran disulap menjadi api berkobar, sedang api kebatilan disulap menjadi air segar. Kebenaran bukan lagi berasal dari nilai sejati, tapia nafsu yang berapi-api.
Dengan melawan arus, maka anda akan dianggap ghuraba(asing, sinting, nyeleneh, jadul, ga gaul dan seterusnya). Anda akan terseok-seok oleh debur ombak besar kebatilan. Kebenaran serasa bara api. Tapi ingat, anda akan mendapat jaminan keberuntungan dari Tuhan. Fa thuba lil ghuraba`.
            Siapa pun pasti akan memasuki gerbong. Siapkan betul-betul diri anda, sebelum memasukinya. Bila salah langka, maka anda akan sengsara. Bila benar langkah, maka anda akan bahagia.
Miliki kaca mata iman, untuk mendeteksi kemaksiatan. Siapkan cermin takwa, untuk melihat amal-amal yang membuat celaka. Taburi hati anda dengan keikhlasan amal, maka setiap ranjau-ranjau setan yang ditanam di dalamnya, pasti kan terpental. Jadikan al-Qur`an dan Sunnah sebagai kompas menuju kebahagiaan sejati,  menggapai ridha Allah Yang Maha Suci.      

Peran Media dalam Sirah Nabawiah

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 12 Desember 2015 | 20.19

           Perkembangan media yang demikian pesat, pada galibnya cendrung dibuat memecah belah umat. Mereka di-bully sedemikian rupa oleh pihak yang memusuhinya; bahkan, sesama Muslim pun -lantaran beda paham-, sering memanfaatkan kecanggihannya  untuk saling mengklaim sesat.
            Bagaimana sebenarnya peran media di zaman Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, sehingga sebagai Muslim kita bisa berkontribusi positif  untuk umat? Tulisan ini akan mencoba menguraikannya berdasar sirah nabawiah.
            Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, salah satu media yang paling berpengaruh di masyarakat ialah: sya`ir. Bahkan, beliau memiliki pakar dalam bidang ini, seperti: Abdullah bin Rawahah, Ka`ab bin Malik dan Hassan bin Tsabit.
            Dalam sirah nabawiah, media sya`ir digunakan umat Islam untuk: Pertama, pendorong semangat umat. Ketika menggali parit –sebagai persiapan perang Ahzab(5 H)-, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam mendendangkan sya`ir: “Ya Allah tidak ada kehidupan[sejati], melainkan kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Dalam kondisi lapar, panas seperti itu, sya`ir yang disenandungkan beliau mempu membangkitkan semangat sahabat.
Kedua, menampilkan izzah umat. Saat Fath Makkah, di saf depan Abdullah bin Rawahah menyenandungkan sya`ir di hadapan para kafir Qurays. Terbukti, izzah umat menjadi terangkat.
            Ketiga, membela agama Islam. Ketika umat Islam dijelek-jelekkan oleh penyair kafir Qurays –pada pertempuran Badar dan Uhud- seperti: Hubairah bin Abi Wahab, Abdullah bin Za`bari, dan Dhirar bin al-Khattab. Dengan sigap Abdullah bin Rawahah, Ka`ab bin Malik dan Hasan bin Tsabit berdiri di garda depan membela Islam dan meluruskan anggapan miring mereka.
            Keempat, sebagai sarana perekat umat. Ketika Islam disudutkan dengan berbagai fitnah melalui media sya`ir, para penya`ir nabi bukan saja meluruskan, tapi merekankan umat supaya tak berpecah belah akibat pengaruh mereka.
            Kelima, untuk menjawab syubhat buatan musuh. Propaganda kafir melalui syubhat-syubhat yang dibuat untuk menghancurkan citra Islam dan Muslim, mampu dijawab dengan baik dengan media sya`ir yang dikuasai.
            Jadi, media pada zaman nabi digunakan untuk hal yang positif. Ia digunakan untuk pendorong semangat, menunjukkan izzah, membela agama Islam, perekat umat, dan meluruskan syubhat.
            Sebaliknya -pada zaman itu, bahkan sepanjang zaman-, orang kafir menggunakan media untuk hiburan, memecah belah, memfitnah, menjelek-jelekkan, bahkan menghancurkan yang haq. Mereka menggunakan media untuk hal-hal negatif.
            Masalahnya sekarang, media yang ada, sudah berperan (digunakan secara) efektif untuk menebar hal-hal positif sebagaimana di zaman nabi? Masing-masing dari umat Islam, seyogyanya mengevaluasi diri di tengah godaan media yang semakin canggih, dan rawan diselewengkan.

Wallahu a`lam bi al-Shawab.

Enam Sifat Pembentuk Muslim Hebat

Written By Amoe Hirata on Kamis, 03 Desember 2015 | 04.59

            Mungkin ada yang bertanya: mengapa al-Qur`an diturunkan di jazirah Arab? Jawaban intinya: Hanya Allah yang tahu. Tapi, sejauh yang kita bisa adalah mencoba menggali hikmah di dalamnya.
Salah satu hikmah yang bisa ditulis di sini ialah: di Arab ada enam sifat hebat yang melekat pada diri mereka. Siapa saja yang memiliki sifat itu –tentunya atas izin Allah-, pasti akan menjadi Muslim hebat.
Pertama, jujur. Kejujuran adalah sikap yang melekat pada orang Arab. Menurut tradisi mereka –pada zaman jahiliah- berbohong adalah aib besar. Maka pantas Abu Sufyan(saat kafir) tatkala dimintai keterangan oleh Raja Heraclius tentang Muhammad, dia tak mampu berbohong sedikit pun. Pasca Islam, Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang mendapatkan gelar resmi kejujuran dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.
Kedua, dermawan. Kedermawanan bagian mendasar dari sifat mereka. Walau tak punya, mereka akan memberikan sesuatu sebisa mereka. Misalkan ada satu unta, mereka tak akan segan menyembelihnya untuk menghormati tamu. Jangan heran jika sahabat sekaliber Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin `Auf, saat masuk Islam begitu dermawan karena memang sudah menjadi karakter.
Ketiga, berani. Lingkungan yang sangat keras, membentuk keberanian. Jangan kaget jika mereka sangat biasa berperang, lantaran keberanian yang menjadi bawaan. Ketika menjadi Pejuang Muslim, lihat bagaimana Khalid bin Walid ra ketika perang, ia maju terlebih dahulu sebelum prajurit.  Bayangkan bagaimana Barra` bin Malik yang sengaja dilemparkan oleh prajurit Muslim ke benteng musuh di perang Yamamah. Dengan keberaniannya ia dilempar masuk, dan berusaha membuka gerbang musuh. Padahal di dalamnya ada empat puluh ribu orang murtad, yang melindungi Musailamah al-kaddzab.
Keempat, izzah. Sudah tertanam dalam mereka sifat izzah(terhormat). Bagi mereka, daripada hidup enak tapi hina, lebih baik hidup miskin tapi terhormat. Lihat bagaimana izzahnya Rib`i bin Amir ketika menyampaikan pesan ke Rustum. Meski baju sangat sederhana(bahkan tak layak), ia merasa terhormat, dan tak menunduk-nunduk di hadapan Rustum. Malah dengan mantap menyampaikan pesan pembebasan umat.
Kelima, sabar. Kekuatan sabar ini didukung oleh lingkungan yang keras. Sehingga, kesabaran sudah menjadi sifat melekat. Mereka yang ikut serta berjihad menumbangkan Persia, adalah para penyabar dan bergaya hidup bersahaja. Dalam al-Qur`an orang-orang yang sabarlah yang diizinkan Allah mendapat kemenangan. Bagaimana pasukan Raja Thalut yang sedikit tapi sabar mampu mengalahkan pasukan Jalut.
Keenam, tahan banting. Maksudnya, daya tahan mereka terhadap beban sangatlah dahsyat. Beban kelaparan, kehausan dan lain sebagainya sudah biasa dialami. Bagi yang ingin mengetahui ketahanan mereka terhadap beban, lihatlah kepada kaum Muslim selama 13 tahun di Makkah. Mereka yang tak berasal dari orang terpandang, disakiti sedemikian rupa oleh orang Musyrik. Semua itu tak membuatnya murtad. Lihat juga bagaimana ketika para sahabat menggali parit di Perang Ahzab. Mereka mampu menjalaninya –setelah pertolongan Allah- karena mereka tahan banting.
Bagi setiap Muslim, yang hendak membentuk Muslim hebat, maka keenam sifat itu wajib diupayakan sebagai tujuan pembinaan. Generasi yang jujur, dermawan, berani, terhormat, sabar dan tahan banting –sebagaimana sahabat nabi- adalah generasi hebat yang mampu membuat kejutan berskala peradaban.

Dengarkan ucapan tegas dari salah satu generasi hebat, Rib`i: “Kami adalah kaum yang diutus Allah untuk membebaskan hamba dari pengabdian makhluk menuju pengabdian Khalik.” Ia tujukan kata-kata itu kepada Panglima Persia, Rustum dengan mantap, tanpa rasa takut. Padahal, Persia ketika itu berjumlah sekitar dua juta, sedang Muslim Arab hanya puluhan ribu. Tapi lihat hasilnya, dalam jangka 13 tahun pasca wafatnya Rasulullah, imperium Persia jatuh ke tangan Muslim hebat. Kapan kehebatan itu berulang?

Penggembala Tersesat

Written By Amoe Hirata on Rabu, 02 Desember 2015 | 09.41

                 “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan sebagai penggembala domba.”(Hr. Bukhari, Ibnu Majah, dan Baihaqi). Sebelum diutus menjadi nabi, setiap dari mereka ditempa menjadi pemimpin dengan cara menggembala domba.
            Dalam kidung Sunan Kalijaga, ada lagu yang berjudul, “Lir Ilir”. Salah satu bait lagunya demikian: Cah angon, cah angon. Sebagai gambaran serupa tentang idiom kepemimpinan.
            Nabi Muhammad sendiri, sejak usia tiga tahun di lembah Bani Sa`ad, dan ketika berusia sepuluh tahun(membantu ekonomi Abu Thalab), sudah menjadi penggembala domba penduduk Makkah.
            Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa penggembala dianalogikan sebagai pemimpin. Lalu, mengapa dipilih domba secara khusus?
            Al-Hafidz Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan: “Hikmah diilhaminya para nabi menggembala kambing sebelum diutus menjadi nabi karena(supaya mereka pengalaman sebelum mengurus umat), jika mereka bisa bersabar dalam menggembala, mengumpulkan setelah berpencar di tempat penggembalaan, memindahnya dari satu tempat ke tempat lain, menjaganya dari musuh seperti binatang buas dan pencuri, mengetahui perbedaan karakter dan kebiasaan berpencarnya meski lemah, dan butuhnya kambing pada penjagaan.”
“Dengan demikian mereka terbiasa sabar atas kondisi umat, mengetahui karakter dan tingkatan akalnya, lalu menindak dengan tegas yang keras kepala, bersikap lembut dengan orang lemah, dan menjaganya dengan baik. Dengan terbiasa menggembala sejak dini, maka akan memudahkan beban mereka. Karena telah terbiasa dengan bertahap menggembala kambing.”
            “Secara khusus, kambing dipilih karena (beberapa alasan): sebagai hewan yang paling lemah dibanding lainnya, lebih banyak tercerai berai daripada unta dan sapi(karena unta dan sapi mudah dikontrol dengan tali sebagaimana adat yang biasa terjadi). Meski kambing sangat mudah terpencar-pencar, namun paling cepat patuh dari pada selainnya.”(Fath al-Barai, Ibnu Hajar, 7/99).
            Sebagai catatan penting, gembalaan di sini adalah ghanam(domba, kibas), bukan kambing. Biasanya kibas digembala dengan jumlah banyak. Hanya orang-orang yang sabar, ulet, tekun, dan lebut yang mampu menggembalanya.
            Sekiranya para pemimpin dipilih berdasarkan kualifikasi pengalamannya sejak kecil dalam hal menggembala, maka tak akan sukar dalam memimpin rakyat. Sayangnya, sekarang yang menjadi acuan sebagai pemimpin adalah uang, popularalitas media, kemitraan dan hal wadak lain, meski sejatinya tak memenuhi syarat sebagai pemimpin.
            Maka jangan heran jika terjadi kekacauan di sana-sini. Yang sebenarnya penggembala ternyata butuh digembala, sedangkan yang digembala merasa sebagai penggembala. Penggembala mengembek, domba pun menyabda. Pemimpin seperti ini, tak ubahnya sebagai PENGGEMBALA TERSESAT.

Wallahu a`lam.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan