Pertama kali bertatap muka dengan sosok
karismatik ini, saat menjadi peserta PKU (Program Kaderisasi Ulama) Gontor
2014/2015. Waktu itu beliau menekankan pentingnya mengetahui positioning kita
dalam gerakan dakwah. Sadar posisi akan membantu para dai mendakwahkan Islam
secara tepat dan proporsional sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Latest Post
Buka Mata, Buka Hati
Written By Amoe Hirata on Selasa, 31 Januari 2017 | 18.05
SETIAP kajian tadabbur Kamis pagi di AQL Islamic Center Tebet, ada sosok
inspiratif yang selalu datang menjajakan dagangan kerupuknya. Aku tidak tahu
persis nama, asal, keluarga, dan kediamannya, karena yang penting adalah
pelajaran yang bisa diambil darinya. Hanya ciri fisik yang bisa diketahui;
seorang yang tidak bisa melihat, membawa tongkat, dan payung yang di bawahnya
diletakkan kerupuk-kerupuk yang siap dijual.
Setiap kali berdagang
selalu laris. Entah apa sebabnya. Di antara yang membuat salut ialah dengan
kondisinya seperti itu, dia mau tetap bekerja. Berdiri di atas kaki sendiri,
tidak meminta-minta ke orang lain. Ia tetap berusahan sebisanya dengan dagangan
ala kadarnya.
Kafillah
SُETIAP ibu pada dasarnya ingin melahirkan bayinya secara normal. Namun apa daya jika sudah berusaha secara
maksimal, tapi tetap saja harus caesar. Kecewa pasti, tapi keimanan kepada
takdir, membuat kekecewaan menjadi pelajaran. Lahirlah seorang bayi perempuan
secara caesar pada 23 Januari 2017 jam 00.10.
Relativisme dan Relatipis-tipisme Kebenaran Agama
Written By Amoe Hirata on Jumat, 06 Januari 2017 | 11.29
DI sebuah pengajian, ada orang yang dengan mantap
mengatakan, "Kita tidak boleh merasa benar sendiri. Kebenaran itu relatif.
Masing-masing mengandung kebenaran. Bedakan antara tafsir al-Qur`an dengan
al-Qur`an. Yang berhak menilai adalah Tuhan. Jangan merasa paling benar. Sesama
murid jangan saling mengisi rapot," dan masih banyak lagi yang lainnya.
4 Problem dan 4 Solusi
Written By Amoe Hirata on Kamis, 15 Desember 2016 | 14.42
Setiap orang pasti pernah
mengalami takut, bersedih, ditipu daya orang, dan (terlalu cinta) dunia.
Berikut ini ada empat solusi dari al-Qur`an sebagaimana yang disampaikan oleh Imam
Ja’far al-Shadiq, seorang Ahli Bait yang sangat paham dengan rahasia-rahasia
al-Qur`an.
Beliau mengatakan, “Aku
heran kepada orang yang takut,” ini adalah problem yang pertama. Solusinya, “sedang dia tidak berlindung dengan firman
Allah subhanahu wata’ala:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ
ٱلۡوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik
Pelindung" (QS. Ali Imran [3]: 173).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ
مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ
“Maka mereka kembali
dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat
bencana apa-apa,” (QS. Ali Imran [3]: 174).”
“Aku juga heran kepada orang yang
berduka [bersedih],” ini problem yang kedua. Solusinya, “sedang ia tidak
berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala berikut:
لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ
أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain
Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang
zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ
وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Maka Kami telah
memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah
Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiya [21]: 88).”
“Aku juga heran dengan orang yang ditipu daya,” problem
yang ketiga. Solusinya, “sedang ia tidak
berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى
ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir
[40]: 44).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَئَِّاتِ
مَا مَكَرُواْۖ
“Maka Allah
memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka,” (QS. Ghafir [40]: 45).
“Aku juga heran dengan orang yang mencari dunia dan perhiasannya,” problem
yang keempat. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu
wata’ala:
مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا
قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
“Maasyaallaah, laa quwwata illaa
billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi [18]: 39).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن
يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ
“Maka mudah-mudahan
Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini).”
(QS. Al-Kahfi [18]: 40).”
Menangis di Persidangan
Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 Desember 2016 | 19.24
SYA'BI meriwayatkan, "Aku pernah menyaksikan Syuraih [dalam satu persidangan]. Ia didatangi oleh seorang wanita yang berseteru dengan seorang lelaki. Kedua matanya pun berlinang air mata. Aku pun berkata kepada [Syuraih], "Wahai Abu Umayyah! Saya kira wanita malang ini terdzalimi'. Syuraih pun menjawab, "Waha Sya'bi, sesungguhnya saudara-saudara yusuf juga menangis (QS. Yusuf [12]: 16) [padahal mereka berbohong]." (Akhbar al-Qudhaat: II/221).
عَن الشعبي قال: شهدت شريحاً وجاءته امرأة تخاصم رجلاً فأرسلت عينيها فبكت فقلت: يا أبا أمية ما أظن هذه البائسة إِلَّا مظلومة؛ فقال: يا شعبي: إن إخوة يوسف: جَاؤُواْ أَبَاهُمْ عِشَاء يَبْكُونَ[يوسف:16[
أخبار القضاة (2/ 221(
Pelajaran:
1. Nangis di persidangan tidak menunjukkan kebenaran
2. Di persidangan butuh bukti bukan baper
3. Yang nangis di persidangan "kayak" cewek
4. Yakin benar harus tegar, bukan perasaan diumbar
5. Hakim yang tidak baperan, tidak akan terpengaruh dengan sebuah "drama" tangisan
Wallahu a'lam






