Latest Post

Sang Guru Ngaji

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 Februari 2017 | 12.29

                        Pertama kali bertatap muka dengan sosok karismatik ini, saat menjadi peserta PKU (Program Kaderisasi Ulama) Gontor 2014/2015. Waktu itu beliau menekankan pentingnya mengetahui positioning kita dalam gerakan dakwah. Sadar posisi akan membantu para dai mendakwahkan Islam secara tepat dan proporsional sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Buka Mata, Buka Hati

Written By Amoe Hirata on Selasa, 31 Januari 2017 | 18.05

SETIAP kajian tadabbur Kamis pagi di AQL Islamic Center Tebet, ada sosok inspiratif yang selalu datang menjajakan dagangan kerupuknya. Aku tidak tahu persis nama, asal, keluarga, dan kediamannya, karena yang penting adalah pelajaran yang bisa diambil darinya. Hanya ciri fisik yang bisa diketahui; seorang yang tidak bisa melihat, membawa tongkat, dan payung yang di bawahnya diletakkan kerupuk-kerupuk yang siap dijual.
            Setiap kali berdagang selalu laris. Entah apa sebabnya. Di antara yang membuat salut ialah dengan kondisinya seperti itu, dia mau tetap bekerja. Berdiri di atas kaki sendiri, tidak meminta-minta ke orang lain. Ia tetap berusahan sebisanya dengan dagangan ala kadarnya.

Kafillah

            SُETIAP ibu pada dasarnya ingin melahirkan bayinya secara normal. Namun apa daya jika sudah berusaha secara maksimal, tapi tetap saja harus caesar. Kecewa pasti, tapi keimanan kepada takdir, membuat kekecewaan menjadi pelajaran. Lahirlah seorang bayi perempuan secara caesar pada 23 Januari 2017 jam 00.10.

Relativisme dan Relatipis-tipisme Kebenaran Agama

Written By Amoe Hirata on Jumat, 06 Januari 2017 | 11.29

DI sebuah pengajian, ada orang yang dengan mantap mengatakan, "Kita tidak boleh merasa benar sendiri. Kebenaran itu relatif. Masing-masing mengandung kebenaran. Bedakan antara tafsir al-Qur`an dengan al-Qur`an. Yang berhak menilai adalah Tuhan. Jangan merasa paling benar. Sesama murid jangan saling mengisi rapot," dan masih banyak lagi yang lainnya.

4 Problem dan 4 Solusi

Written By Amoe Hirata on Kamis, 15 Desember 2016 | 14.42

           
Setiap orang pasti pernah mengalami takut, bersedih, ditipu daya orang, dan (terlalu cinta) dunia. Berikut ini ada empat solusi dari al-Qur`an sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ja’far al-Shadiq, seorang Ahli Bait yang sangat paham dengan rahasia-rahasia al-Qur`an.
            Beliau mengatakan, “Aku heran kepada orang yang takut,” ini adalah problem yang pertama. Solusinya,  “sedang dia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (QS. Ali Imran [3]: 173).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, (QS. Ali Imran [3]: 174).”
            “Aku juga heran kepada orang yang berduka [bersedih],” ini problem yang kedua. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala berikut:
لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiya [21]: 88).”
            “Aku juga heran dengan orang yang ditipu daya,” problem yang ketiga. Solusinya,  “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ
Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir [40]: 44).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ
Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka,” (QS. Ghafir [40]: 45).
“Aku juga heran dengan orang yang mencari dunia dan perhiasannya,” problem yang keempat. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi [18]: 39).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ
Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini).” (QS. Al-Kahfi [18]: 40).”

Menangis di Persidangan

Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 Desember 2016 | 19.24

SYA'BI meriwayatkan, "Aku pernah menyaksikan Syuraih [dalam satu persidangan]. Ia didatangi oleh seorang wanita yang berseteru dengan seorang lelaki. Kedua matanya pun berlinang air mata. Aku pun berkata kepada [Syuraih], "Wahai Abu Umayyah! Saya kira wanita malang ini terdzalimi'. Syuraih pun menjawab, "Waha Sya'bi, sesungguhnya saudara-saudara yusuf juga menangis (QS. Yusuf [12]: 16) [padahal mereka berbohong]." (Akhbar al-Qudhaat: II/221).

عَن الشعبي قال: شهدت شريحاً وجاءته امرأة تخاصم رجلاً فأرسلت عينيها فبكت فقلت: يا أبا أمية ما أظن هذه البائسة إِلَّا مظلومة؛ فقال: يا شعبي: إن إخوة يوسف: جَاؤُواْ أَبَاهُمْ عِشَاء يَبْكُونَ[يوسف:16[
أخبار القضاة (2/ 221(
Pelajaran:

1. Nangis di persidangan tidak menunjukkan kebenaran
2. Di persidangan butuh bukti bukan baper
3. Yang nangis di persidangan "kayak" cewek
4. Yakin benar harus tegar, bukan perasaan diumbar
5. Hakim yang tidak baperan, tidak akan terpengaruh dengan sebuah "drama" tangisan

Wallahu a'lam
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan