Latest Post

Sang Singa Mimbar; Penolak Komunisme Menyebar

Written By Amoe Hirata on Senin, 06 Februari 2017 | 11.13

DI kalangan Partai Masyumi, beliau dikenal dengan julukan “Singa Mimbar”. Gelar ini sangat beralasan karena ulama ini mempunyai kecakapan  yang baik dalam beretorika. Sangat fasih dalam berkhutbah. Tak hanya itu, ayah dari Endang Syaifuddin Anshary ini juga dikenal sebagai penulis produktif dan tajam. Hasil buah penanya sudah tertuang di dalam 23 judul buku. Belum lagi tulisan-tulisan lain yang tersebar di berbagai majalah dan surat kabar.

Peran Kebangsaan Ulama

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 Februari 2017 | 20.19

KH. Salim sedang menjalankan peran kebangsaan menjadi diplomat Indonesia
            Saya mencoba membayangkan, jika peran ulama pra kemerdekaan hanya berkutat masalah pendidikan, berkecipung pada wacana akademik saja, berkiprah pada ranah transfer ilmu semata, agaknya tidak mungkin kemerdekaan bisa terealisasi.

Sang Guru Ngaji

                        Pertama kali bertatap muka dengan sosok karismatik ini, saat menjadi peserta PKU (Program Kaderisasi Ulama) Gontor 2014/2015. Waktu itu beliau menekankan pentingnya mengetahui positioning kita dalam gerakan dakwah. Sadar posisi akan membantu para dai mendakwahkan Islam secara tepat dan proporsional sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Buka Mata, Buka Hati

Written By Amoe Hirata on Selasa, 31 Januari 2017 | 18.05

SETIAP kajian tadabbur Kamis pagi di AQL Islamic Center Tebet, ada sosok inspiratif yang selalu datang menjajakan dagangan kerupuknya. Aku tidak tahu persis nama, asal, keluarga, dan kediamannya, karena yang penting adalah pelajaran yang bisa diambil darinya. Hanya ciri fisik yang bisa diketahui; seorang yang tidak bisa melihat, membawa tongkat, dan payung yang di bawahnya diletakkan kerupuk-kerupuk yang siap dijual.
            Setiap kali berdagang selalu laris. Entah apa sebabnya. Di antara yang membuat salut ialah dengan kondisinya seperti itu, dia mau tetap bekerja. Berdiri di atas kaki sendiri, tidak meminta-minta ke orang lain. Ia tetap berusahan sebisanya dengan dagangan ala kadarnya.

Kafillah

            SُETIAP ibu pada dasarnya ingin melahirkan bayinya secara normal. Namun apa daya jika sudah berusaha secara maksimal, tapi tetap saja harus caesar. Kecewa pasti, tapi keimanan kepada takdir, membuat kekecewaan menjadi pelajaran. Lahirlah seorang bayi perempuan secara caesar pada 23 Januari 2017 jam 00.10.

Relativisme dan Relatipis-tipisme Kebenaran Agama

Written By Amoe Hirata on Jumat, 06 Januari 2017 | 11.29

DI sebuah pengajian, ada orang yang dengan mantap mengatakan, "Kita tidak boleh merasa benar sendiri. Kebenaran itu relatif. Masing-masing mengandung kebenaran. Bedakan antara tafsir al-Qur`an dengan al-Qur`an. Yang berhak menilai adalah Tuhan. Jangan merasa paling benar. Sesama murid jangan saling mengisi rapot," dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan