“Cak!” panggil Paino kepada Sarikhuluk, “aku habis baca di bukunya Prof. Naquib Al-Attas, katanya dalam buku ‘Historical Fact and Fiction’ (2011) bahwa pada zaman Rasulullah masih hidup, beliau sudah mengenal wilayah nusantara. Ini berdasarkan ditemukannya ‘Hikayat Raja Pasai’ yang mana di situ ada perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat-sahabatnya agar berdakwah ke negeri yang bernama Samudra.”
Latest Post
Rasulullah Pernah Menyuruh Sahabatnya Berdakwah di Nusantara?
Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Oktober 2018 | 06.13
Perbanyaklah Membaca Biografi Orang-Orang Besar!
Written By Amoe Hirata on Sabtu, 06 Oktober 2018 | 06.10
Pilihan Politik Boleh Beda, Asalkan Persatuan Tetap Terjaga
Written By Amoe Hirata on Minggu, 30 September 2018 | 07.00

Suaramuslim.net – Budayawan Betawi, Ridwan Sa’idi, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 18 September 2018, menyampaikan statement menarik. Beliau menggambarkan Pilpres 2019 ke depan laksana pertandingan. Maka, harapan beliau, pertandingan ini semoga menjadi pertandingan menarik, mengurangi atau tidak mengeluarkan kata-kata kotor selama pertandingan. Intinya, pelajaran yang diambil dari pesan Babe Ridwan, tidak masalah berbeda dalam pilihan politik. Tapi, dalam berpolitik silakan bermain yang cantik; tak saling hina dan caci maki. Karena, kata-kata kotor, tuturnya, hanya akan merusak gelombang udara, mempengaruhi diri sendiri dan rezeki pun akan jauh.
Belajar Pada Natsir dalam Menyikapi Perbedaan Prinsip Berpolitik
Written By Amoe Hirata on Jumat, 21 September 2018 | 06.16
Dalam buku “Syukur tiada akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama” (2011: 556), disebutkan bahwa Jakob Oetama, wartawan senior pendiri Kompas, begitu kagum kepada sosok Natsir. Salah satu yang membuatnya kagum kepada tokoh muslim yang gaya hidupnya bersahaja ini adalah kecakapannya dalam menyikapi perbedaan.
Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa
Written By Amoe Hirata on Selasa, 28 Agustus 2018 | 10.00
ULAMA di negeri ini, dari masa ke masa, kebanyakan lebih sering dijadikan alat oleh penguasa untuk mewujudkan ambisinya. Kala butuh, ulama dirangkul; ketika hajat sudah terpenuhi, mereka “didengkul”. Ini tak terkecuali, sejak penjajah bercokol, hingga era digital. Ulama menjadi kawan ketika diperlukan dan menjadi lawan saat ambisi telah terealisasikan.




