Latest Post

Budaya Ngrumpi

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 04 September 2010 | 10.47

Thursday, July 1, 2010 at 12:58am
Me/Nge-Rumpi, sebuah kata yang sudah familiar dan dinikmati oleh banyak orang, baik miskin-kaya, tua-muda, kecil-besar, pria-wanita dan lain sebagainya. Medianya sangat mudah tidak terlalu mengeluarkan banyak tenaga dan uang. Themanyapun tidak kaku, sangat fleksibel disesuaikan dengan kondisi isu yang lagi hangat.

Kebanyakan orang mengandrunginya. Ini mungkin karena disamping mudah, ia juga tidak terikat dengan aturan baku yang membuat tidak leluasa dan kaku. Hanya dengan bermodalkan mulut dan kuping, orang sudah bisa ikut serta dalam kegiatan ini.

Pada mulanya , ngrumpi lahir dari satu realitas dimana manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dari realitas ini, pada giliranya memunculkan adanya interaksi sosial. Sudah maklum bahwa dalam berinteraksi membutuhkan seperangkat media. Salah satu media interaksi yang sangat umum dan mudah ialah interaksi verbal(lisan). Orang bisa dimana saja melakukanya. Di sekolah, pasar, mall, tempat kerja dan lain sebagainya. Dikemudian hari secara sadar atau tidak lambat laun media verbal ini menjadi semacam tradisi bahkan budaya sosial yang disebut dengan "Ngrumpi".

Tidak di ketahui secara pasti kapan budaya ini muncul. Yang jelas, seiring dengan perkembang-biakan manusiayang dibekali dengan media lisan secara sengaja atau tidak sudah berpotensi melahirkan budaya ngrumpi.

Yang menarik untuk dicermati budaya ini ada yang menjadikanya sebagai komoditi sosial, sampai ada yang mamasukkanya pada program acara televisi, seperti "ngrumpi di Mall", Ini mengindikasikan betapa ngrumpi sangat menarik hingga dapat menghasilkan komodoti ekonomi.

Ngrumpi biasanya dikonotasikan pada omongan yang tidak begitu serius dan cendrung negatif. Sebagai budaya, ngrumpi merupakan refleksi dari keinginan seseorang yang ingin di anggap pada komunitas sosial dan biasanya untuk memuaskan kebutuhan psikologis yang disalurkan melaluinya. Ada juga yang menginginkan sebatas pengetahuan baik negatif ataupun positif untuk membantu melancarkan rencananya.

Masalahnya sekarang, apa?kapan?siapa?kenapa?Untuk apa?bagaimana?manfaat ngrumpi dalam interaksi sosial?, hal ini masih perlu didiskusikan.

Bila Prinsip Merintang Cinta

Sore hari, dalam kesunyian, Bintang terlihat pilu, duduk sendirian di pelataran rumah kosnya. Wajahnya menggambarkan kesedihan, tatapanya kosong seolah menyimpan penderitaan yang teramat dalam.

Dalam kesendirian itu tiba-tiba salah satu teman karibnya “Anton” , mengagetinya dari belakang, seraya berteriak:”wei! Ngapain aja lo disini sendirian, ngelamun cewek yah? Di putus? Atau ape? Dengan tergesah dan kaget bintang segera bangkit dan menyambut Anton dengan senyuman yang berbalut kesedihan.

Gini Ton, --oya tapi kamu harus janji ya, jangan bilang ma sapa-sapa--. “Oke bos” tukas Anton. Aku sedang sedih banget Ton, aku kan suka ma Bunga dia juga suka ma aku, tapi karena ada perbedaan prinsip pribadi, akhirnya dengan sangat terpaksa kami memutuskan hubungan.

Emang prinsip pribadi dia apa Tang?(Tanya Anton). Pertama dia anak kiai besar, bapaknya itu pingin punya menantu yang anaknya kiai juga. Lah aku kan cuman anaknya orang biasa-biasa aja bukan keturunan kiai. Kedua: Bunga anak tarbiah, nah dalam kode etik tarbiah ada semacam anjuran, anak tarbiyah seyogyanya dapat anak tarbiyah juga, sedang aku ini ga masuk yang begituan. Ketiga:Bunga ga bisa keluar dari rumahnya, karena dia kan kader bapaknya yang mengasuh pondok pesantren, dengan demikian siapapun yang mau menikahinya harus tinggal bersamanya, kalo ga, siap-siap aja di tolak ma abahnya.

Nah aku ini juga punya tanggungan suruh megang yayasan dan masjid warisan nenek ku, nenek selalu berwasiat: “ Tang, kalau kamu dah menyelesaikan skolahmu, dan menikah, kamu harus tinggal disini ga boleh tinggal di luar, kalau punya istri ajak tinggal disini kalo ga mau cari yang lain aja.

Gitu Ton, berat banget kan! Coba kalau kamu jadi aku pasti pusing juga. Terlalu banyak hal yang bertentangan, tapi hati ini sudah terlanjur cinta berat. Setelah putus berhari-hari aku sedih, sumpek, kepikiran sampei saking ga tahanya aku nangis, aku juga ga tau k sampe begini mungkin aja ini karena cinta pertamaku.

Tang, gue turut terharu denger cerita lo. Gue ga terlalu banyak bisa ngebantu lo, cuman saran gue, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan dan derita sebab kalo lo ngikutin nafsu lo, entar kaga bisa bedain mana yang benar dan yang terbaik buat lo karena lo terlalu tenggelam dalam samudra cinta, ujung-ujungnya ngikuti hawa nafsu deh. Jangan lo kotori kesucian cinta lo dengan membabi buta memperturutkan hawa nafsu, pakailah nalar logis lo, jangan terlalu terseret perasaan.

Ton! kamu berbakat sekali ya jadi penasehat ulung, secara teori akupun tahu itu, tapi masalahnya ga segampang itu, aku dah berusaha untuk melupakan, menjauhinya tapi bayang-bayangnya selalu menyertai kesendirianku.

Berarti lo kurang sungguh-sungguh Tang, kalo pingin bener-bener lupa buang, hapus apapun kenangan bersama dia entah itu pemberian, photo surat dan lain sebagainya dan yang terutama ni ya jangan ngubungi atau balas sms dia untuk sementara waktu biar dapat ngurangi dan ngelupain rasa sedih lo. Oh ya Tang, Bunga sendiri gimana? Ya itu tadi Ton dia sebenarnya suka juga ma aku tapi dia tidak bisa meneruskan hubungan karena dengan meneruskan berarti dia mengorbankan abahnya, dia ga bisa ngelakuin itu.

Obrolan belum selesai, tiba-tiba Bagas(teman dekat Bintang) datang, Wei gi pada ngobrolin apa sih? Gabung dong…please…kali aja aku bisa Bantu..Ok..ok silahkan tapi janji jangan cerita ke siapa-siapa yah dan kamu harus bisa Bantu aku nyelesein masalahku ini(jawab Bintang). Sip dah rebes coy…kau bisa percayai aku….hehehe….

Jadi gini Gas, Bintang gi sedih ne ceritanya, bis putus ma calon istrinye..(saut Anton)…lo kok bisa Ton emang da masalah apa? Masak orang sekeren Bintang ga diterima?....(Tanya Bagas). Bukan begitu bro si Bintang ma Bunga mah sebenernye sama-sama suka, cuman ya gitu ada beberapa prinsip yang menghalangi cinta kasih mereka berdua. Emang apaan Tang? Ada beberapa alasan yang menghalangi hubungan ku ma Bunga Gas, diantaranya: “ Pertama dia anak kiai besar, bapaknya itu pingin punya menantu yang anaknya kiai juga. Lah aku kan cuman anaknya orang biasa-biasa aja bukan keturunan kiai. Kedua: Bunga anak tarbiah, nah dalam kode etik tarbiah ada semacam anjuran, anak tarbiyah seyogyanya dapat anak tarbiyah juga, sedang aku ini ga masuk yang begituan. Ketiga:Bunga ga bisa keluar dari rumahnya, karena dia kan kader bapaknya yang mengasuh pondok pesantren, dengan demikian siapapun yang mau menikahinya harus tinggal bersamanya, kalo ga, siap-siap aja di tolak ma abahnya“.

Oooo…jadi gitu toh…Menurutku ya, tetep aja kalian lanjutin hubungan masalah prinsip-prinsip itu sebenarnya bisa kalian siasati…asal kan kalian sama-sama cinta…kalo dah sama-sama suka sebenarnya kamu ga usah kuatir..jangan mudah putus asa dong Tang….masak ente kalah sebelum bertanding…Cinta kan butuh bukti dan perjuangan kata orang-orang hehhee…ente seharusnya nunjukin pada Bunga bahwa ente bener-bener cinta ma dia dan benar-benar serius..terkadang cewek mutusin hubungan itu sekedar ngetes sejauh mana kadar cinta cowoknya padanya..makanya saranku ente tetep berjuang yakinkan dia, cewek tu ya butuh kepastian….

Masalah bapaknya kiai sih itu bisa kamu atur dengan cara ketemu ma abahnya langsung bicaralah dengan baik-baik tunjukkan bahwah kamu punya nilai lebih dan patut diperhitungkan meskipun kamu bukan anak kiai…ke dua masalah tarbiyah atau tidak ku pikir itu tak jadi soal asal si Bunga mau..wong kamu meski ga ikut ikut tarbiya ga kalah baik kok ma mereka yang ikutan tarbiyah yang penting takwanya Tang…terus masalah ga mau diajak ikut ke rumahmu tak pikir juga ga masalah…sebagai jalan tengah sekalian aja bikin rumah yang jauh dari kedua Camer(calon mertua) yang pentingkan kalian bisa ngejalanin tugas Bantu-bantu mereka…bereskan…

Kuncinya cinta Tang, selama cinta itu tulus , prinsip-prinsip pribadi itu tak kan merintang…Tapi kalau dia masih nolak berarti cinta kalian perlu diragukan…jangan-jangan cinta kalian palsu…makanya bro tetep semangat yah..jangan pernah putus asa…(saran Bagas)……Nah ini neh baru konkrit Ton….(kata Bintang) molai sekarang aku kan coba lagi ya moga aja bisa nembus…kalo ga ya di coba lagi dico balagi sampei aku capek sendiri hehehhe….Thanks banget ya temen baek ku Anton and Bagas….terus terang aku sekarang menjadi bergairah kembali…dan agak sedikit terobati..
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bersambung………………

Bila Manusia sok Merampas Hak Tuhan

Bambang merasa sedih. Berbulan-bulan dia tidak keluar rumah. Semua orang yang ia kenal melaknatnya. Tidak ada yang merasa simpati, kasihan atau berusaha menolongnya. Di mata orang dia telah melakukan tindakan yang melampaui batas. Berbagai macam kejahatan telah ia lakukan. Dari mencuri, membunuh, menipu hingga memperkosa. Ada kaidah-kaidah sosial yang seolah sudah baku mengatakan:" Seorang kalau sudah di kenal jahat selamanya ia akan jahat, walau ia mau berubah".

Begitulah nasib Bambang. Ia sudah di cap oleh masyarakat. Tindakan sebaik apapun yang ia lakukan akan diremehkan dan pasti disalah artikan. Sebenarnya hari ini sudah beritikad baik kepada masyarakat untuk minta maaf. Ia amat menyesal terhadap kejahatann-kejahatan pernah ia lakukan. Untuk membuktikan kesungguhanya ia mendatangi setiap rumah warga untuk minta maaf. Tapi tak disangka tidak ada seorangpun yang memaafkanya. Ia malah di ludahi, di caci, diremehkan, diusir bahkan sampai ada yang bilang:" hei penjahat kamu pasti masuki neraka, kejahatanmu tak kan terampuni".

Dengan sangat menyesal ia menangis sejadi-jadinya. Dalam hati kecilnya ia berujar:" Tiadakah pintu taubat bagiku? memang telah melakukan banyak kejahatan dan sulit untuk di maafkan,tapi mengapa mereka sudah menngclaim aku masuk neraka dan tidak bakal di ampuni dosanya? kalau memang aku tidak bisa taubat lebih baik sekalian menjadi penjahat sejati biar tidak nanggung-nanggung, lagi pula tindakan baik apapun yang kan kulakukan pasti sia-sia adanya".

Diusapnya air mata yang bercucuran. Kali ini, dia berencana mengebom warga masyarakat yang telah mencampakanya. Ia sudah naik pitam, segera ia bergegas merakit bahan bom. Rupanya dari ia mulai menangis sampai mau merencanakan niat buruknya, ternyata ada seorang laki-laki paruh baya sedang memperhatikanya. Didekatilah Bambang dengan sangat hati-hati. Mas boleh saya ngobrol-ngobrol dengan km?(sapa lelaki paruh baya), siapa kamu? ngapain ikut campur urusan orang? mau menghina aku juga tah?(saut Bambanng). Dengan tenang laki-laki itu malah mengeluarkan rokok. Mas ngerokok ya? mari sama-sama ngerokok sambil bicarain masalah anda dengan tenang.

Hati bambang tersentuh. Kali ini dia menyambut lelaki itu dengan ramah dan sopan. "bapak ini siapa, kok saya lihat sangat baik ga seperti warga-warga yang sok tau dan kmpret itu?". "Sebelumnya saya minta maaf ya mas, secara kebetulan saya tadi melihat kamu nangis dan putus asa, sampai mau berencana mengebom, saya merasa ada yang tidak beres, makanya saya ingin membantu kamu sejauh saya bisa".

(Sambil ngerokok, Bambang dan lelaki tua itu melanjutkan obrolanya)oya ngomong-ngomong bapak ni siapa? kok saya ga pernah jumpa bapak?(tanya Bambang). " Perkenalkan, nama saya Mustajab, saya ini sebatangkara yang hoby merantau"(jawab nya). Gini pak saya ini dah dikenal sebagai penjahat kelas kakap, nah tadi siang saya berniat baik tuk bertaubat dan minta maaf kepada mereka, ga taunya mereka malah meremehkan, menghina dan meludahi saya bahkan sampai da yang mengklaim saya masuk neraka dan ga bakal di terima taubatnya, sontak saya jengkel dan putus asa dan sekalian saja menjadi jahat".

Maaf ya mas, saya tidak akan banyak omong, saya hanya akan mengutip hadis nabi:" Allah berfirman: Wahai anak manusia! selama kamu berdoa dan mengharap padaku niscaya aku kan mengampuni apapun yang pernah kamu lakukan, aku tidak peduli. Wahai anak manusia! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit kemudian kamu minta ampun kepadaku aku kan mengampunimu. Wahai anak manusia! jika engkau datang kepadau dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkaui bertemu denganku(mati) sedang kamu tidak menyekutukanku dengan apapun maka akan aku beri ampunan sepenuh bumi juga(Hr: Turmudzi).

Intinya mas, kamu masih punya kesempatan taubat asal sungguh-sungguh. Jangan percaya dengan omonan mereka. Mereka berbicara seperti itu berdasar kebencian dan kekecewaan terhadap anda. Dosa apapun akan di ampuni kecuali syririk. Orang yang mencap kamu tidak akan pernah diampuni dan akan masuk neraka seolah sedang menyamai tuhan. Padahal, Tuhan saja mengampuni dosa-dosa kok malah mereka yang setatusnya hamba tmenetapkan tidak akan di ampuni. Mereka kayak mau ngerampas hak Tuhan saja.

Apa jadinya jika manusia sok ngerampas hak Tuhan sedang itu dibawah kuasa Tuhan? Bukankah itu menantang Tuhan namanya? Saya sarankan kamu pindah dari tempat ini, dan cari tempat yang baru bertaubatlah dengan taubat yang sejati. Tebus dosa-dosa mu dengan amal kebajikan yang sebanyak-banyaknya. InsyaAllah Tuhan kan mengampunimu.(saran pak Mustajab).

Saya ucapkan terima kasih banyak ya pak, mungkin kalau saja bapak tidak menegur saya, sudah saya bom warga kampung saya(sahut Bambang). Sama-sama mas, berterimakasihlah pada Allah yang masih membimbingmu yang mungkin melalui saya, jangan berterima kasih pada saya. sebenarnya saya ni ga tahu banyak tentang masalah agama, cuman dulu saya pernah mendengar seoarang guru ngaji ngomong demikian, makanya saya amalkan walaupun yang saya tahu hanya itu(Ucap pak Mustajab).
Okelah mas saya pamit dulu, mudah-mudahan kapan-kapan kita bisa ketemu lag(pamit pak Mustajab).
Ok pak makasih banyak ya sampai jumpa lagi(ujar Bambang).




Penutup: Tiada manusia yang tidak pernah bersalah. Karena salah sudah menjadi tabiat manusia. Masalahnya ialah sejauh mana ia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Pintu Taubat kan senantiasa terbuka. Orang yang mengatakan tidak ada pintu taubat seolah dia merampas hak-hak Tuhan. Kejahatan terkadang muncul karena seseorang tidak lagi mengapresiasi orang yang jahat untuk bertaubat, malah mencap dan tidak memberikan kesempatan untuk menebus kesalahan. Padahal, Tuhan maha pengampun kenapa mahluknya menjadi tidak pemaaf.

Bila Korupsi Dianggap Kerjasama Sosial

“.Dasar ga tau di untung. Dasar sialan. Dasar kurang ajar”. Berbagai cacian dan makian bertubi-tubi disematkan pada si mamat. “Mimpi apa ya semalam?”(ujar mamat)kok tiba-tiba masyarakat marah-marah ke aku, padahal aku bukan teroris, bukan perampok, bukan pembuat rusuh. Lagi kumat paling. Maklum masyarakat sini terkadang suka berlaku aneh-aneh. Kadang-kadang marah tiba-tiba tanpa sebab. Ngamuk-ngamuk sesuka hati. Apa mereka kenak kelaianan jiwa ya?. Tapi terlihat normal-normal aja tuh.

Tapi tunggu dulu, oh iya aku baru ingat seminggu yang lalu, aku sedang ngadain penelitian tentang korupsi di desaku dari tingkat lurah sampai Rt dan Rw. Sebanyak tiga ribu angket ku sebar kepada jajaran pengurus dan warga dan hasil akhir nya menyatakan bahwa mereka terbebas dari korupsi. Melihat hasil itu Mamat tertegun heran. Masalahnya selama ini praktik koropsi sudah menyebar luas baik pada jajaran pengurus desa hingga masyarakat luas. Lah kok hasil angket menyatakan warga dan pengurus bersih dari korupsi

Setelah diselidiki secara sakasama dan cermat, rupanya masyarakat mempunyai pengertian tersendiri mengenai korupsi. Korupsi bagi mereka itu teranggap jika hanya di lakukan oleh pengurus atau pejabat saja tanpa melibatkan masyarakat. Jika masing-masing saling dapat dan manfaat maka itu tak di angga korupsi. Jadi praktik-praktik korupsi yang selama ini tersebar luas dianggap sebagai kerja sama sosial. Tak ada warga yang memberontak, tak ada yang menuntut, semua diam-diam saja karena pada realitanya mereka juga menikmati.

Nah si mamat ini orangnya reaktif dan revolusioner. Dia ga mau ada praktik korupsi di desanya. Baginya korupsi membuat mental warga semakin bebal dan merusak tatanan masyarakat. Bila korupsi di biarkan maka tak lama lagi desanya akan rusak.

Sebagai luapan sikap reaktifnya, si Mamat menyewa pertunjukan wayang yang di satting sebagai kritik terhadap praktik korupsi dalam desanya. Pertunjukan itu sengaja di adakan bertepatan dengan acara memperingati HUT Republik Indonesia. Mamat mengundang kepala desa beserta pengurusnya dan warga desanya. Seperti di rencanakan, acara itu di hadiri oleh kepala desa beserta warganya. Tempat penuh dan sesak sampai-sampai ada yang berdiri.

Di mulailah pertunjukan wayang. Dalam menyikapi pertunjukan itu ada yang geram, marah, muak dan merasa tersindir. Ada juga yang sadar dan mengapresiasi. Namun sembilan puluh persen warga naik pitam, sampai-sampai ada yang langsung pulang sebelum acara selesai, ada yang melempar sandal kearah pertunjukan. Puncaknya, kepala desa dan masyarakat mencari si mamat dan mau menghakiminya. Setelah di cari-cari ternyata ga ketemu-ketemu. Akhirnya hanya umapatan dan luapan rasa marah. Mamat bersembunyi di atas pohon beringin sambil mengamati mereka marah-marah.

Dalam hati mamat bergumam:” Ya semoga masyarakat segera sadar, bahwa mereka berada pada tatanan korup”. “Aku sadar usahaku ini kurang efektif. Paling tidak cukup manjur untuk menyadarkan mereka. Karena untuk mengubah secara drastis dirasa sangat sulit”. “Sistem dan tatanan sudah sedemikian korup, jangan-jangan aku, kamu, dia, mereka, kalian dan kita secara sadar atau tidak sedang membantu praktik korupsi”. “Yo mboh lah”( tukas Mamat).

Benarkah kita merdeka.

Benarkah kita merdeka….
Sepenuh jiwa dan raga…..
Sejatinya, tidak demikian adanya….
Tepatnya, menuju penjajahan berikutnya….

Budaya kita terjajah….
Ideologi kita terjajah…..
Sebut berbagai lini dari hidup kita…
Disitu kita kan menemukan penjajah…

Penjajahan yang tidak kentara….
Begitu halus hingga sulit di terka…
Sampai kesulitan untuk membeda….
Kita hanya merasakan sengsara…..

Korban tidak individu saja…..
Menyebar kesegenap lapisan bangsa…
Keluarga, masyarakat, negara hingga agama…
Kita terinjak-injak, tapi sekali lagi tidak merasa….

Malah bersenang-senang dalam euforia…
Tertidur pulas dengan mimpi sementara….
Bilakah kita terjaga…..
Dari penjajahan yang sudah lama merajalela…..

Arti Kebersamaan


Mungkin bagi sementara orang kata”kebersamaan” terdengar akrab dan familier. Kemudian, sudah berapa jauhkah mereka mengetahui arti, esensi daripada kata “kebersamaan”? apa itu hanya sekedar simbol, slogan, jargon atau apa? Atau memiliki signifikansi dan urgensitas tersendiri dalam melancarkan roda kedinamisan suatu organisasi? Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan diatas, penulis merasa perlu membahas tema arti “kebersamaan”.

“Kebersamaan” berarti :”perihal bersama”. Sedang “bersama” sendiri berarti:”Berbareng, serentak, semua, sekalian dan seiring dengan,,,.(baca: Kamus Besar Bahasa Indonesia)” Jadi kebersamaan berarti :”sebuah kondisi yang sengaja di ciptakan secara berbarengan untuk menghasilkan sikap serentak yang dilakukan oleh semua individu agar memperoleh sekalian tujuan/harapan seiring dengan visi dan misi yang ingin dicapai”. Sedangkan esensi “kebersamaan” ialah berkumpulnya individu dalam suatu kondisi apapun untuk meraih tujuan tertentu”.

Kebersamaan laksana kertas putih yang tak bertuliskan apapun. Jadi, yang menentukan baik tidaknya “kebersamaan” ialah sang penulis yang dalam hal ini, bila diterjemahkan dalam suatu organisasi yaitu:” ketua/pengurus dan sinergi dari anggota”. Ketua/pengurus dan anggota mempunyai peran besar dalam membingkai kebersamaan dan menciptakan muaranya, apakah positif atau negatif.

Masalahnya sekarang ialah “kebersamaan” yang masih samar ini mau dibawa kemana? Apa dibawah kearah positif atau negatif? Jawaban yang paling memungkinkan ialah positif. Namun, apa bentuk riil dari positif itu sendiri? Karena saya yakin masing-masing mempunyai pengertian sendiri tentang positif. Maka dalam hal ini subjektifitas mempunyai andil besar dalam menerjemahkan positif. Dengan demikian perlu dikerahkan usaha yang luarbiasa dan sungguh-sungguh untuk mengetahui arah positif dari kebersamaan yang di ciptakan.

Kebersamaan yang diharapkan ialah kebersamaan yang di kerahkan kearah positif dimana mampu mengarah pada kerja-kerja yang kreatif, aktif dan produktif yang mampu menjaga dinamika organisasi.

Kebersamaan yang tidak diharapkan ialah kebersamaan semu, formalitas dan palsu yang meskipun ada sejatinya tiada, yang kelihatan bersama tetapi hatinya berbeda-beda. Kebersamaan demikian hanya akan menghambat daya kreatif, produktif dan kedinamisan organisasi.

Kebersamaan merupakan bagian fundamental dalam persatuan. Tanpa kebersamaan, persatuan tak akan terealisasikan. Walaupun kebersamaan tidak selalu menunjukkan pada persatuan. Karena pada kenyataanya ada yang bersama tapi tidak menyatu.

Kebersamaan bukan berarti mengharuskan kita selalu bersama setiap waktu sehingga mengurangi hak-hak privasi kita. Kebersamaan dan hak privasi memiliki porsinya tersendiri.

Kebersamaan tidak menafikan/menghilangkan perbedaan, karena perbedaan merupakan fitrah sekaligus penentu bagi kedinamisan, kreatifitas dan keharmonisan manusia. Masalahnya sekarang ialah tinggal pada hal apa saja kita boleh berbeda? Dan pada hal apa saja kita tidak boleh berbeda? Kalau hal-hal itu bisa di mengerti maka kebersamaan dan perbedaan tidak perlu di pertentangkan lagi.

Kebersamaan tak selalu berbentuk fisik tapi juga perlu kebersamaan maknawi. Artinya, walaupun secara jasmani berpisah namun rasa kebersamaan dalam jiwa masih ada dengan selalu menjaga komunikasi sosial yang intensif dan harmonis.

Filosofi “kebersamaan” mengacu pada “keterbatasan”. Karena manusia mahluk yang terbatas, maka untuk mengatasi keterbatasan harus dilakukan usaha bersama. Dari sisi ini kita mengetahui betapa pentingnya kebersamaan.

Sekarang mari kita lihat, sejauh ini “kebersamaan” dalam tubuh kifayah sudah tercipta dengan bagus apa tidak? Lalu, jika sudah tercipta, kearah mana kebersamaan selama ini terarah? Kalau positif, apa wujud riil dalam dunia nyata? Apakah “kebersamaan” di Kifayah sudah sangat signifikan sehingga efektifitas organisasi berjalan dengan baik dan bermanfaat? Atau jangan-jangan “kebersamaan” hanya sekedar buah bibir saja yang tak mempunyai wujud nyata? Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut saya serahkan kepada para pembaca yang budiman sebagai bahan evaluasi bersama.

Organisasi Kifayah milik kita bersama. Untuk mensukseskanya perlu kebersamaan kita. Kebersamaan sejati bukan palsu, yang mampu mengubah keterbatasan-keterbatasan kita menjadi tenaga positif yang di arahkan kearah positif untuk menghasilkan hal-hal positif yang semuanya terbingkai dalam tema “KEBERSAMAAN. Akhirnya, semoga ketua Kifayah baik sekarang maupun yang akan datang beserta jajaran pengurus dan anggota mampu menunjukkan secara konkrit kebersamaan Kifayah. Amiin Ya Rabbal `Alaminn.

Wallahu `Alam Bis Shawab.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan