Latest Post

Ratapan Cinta Haramain

Written By Amoe Hirata on Senin, 18 Juni 2012 | 17.09

Tengah hari di Makkah al-Mukarramah hawa sahara lagi mencapai puncaknya, debu-debu bertebaran di hempas angin. Matahari berada pada titik tengah pas, menyajikan hawa panas yang siap menyengat kulit-kulit manusia. Dari kejauhan terlihat fatamorgana lagi menari-nari bagai penari perut di Mesir. Hawa mencapai 40 derajat celcius. Pada umumnya kebanyakan orang lebih memilih tinggal diam dirumah memanjakan diri dengan sejuknya AC.
Lain halnya dengan Aji Kurniawan. Kondisi yang sangat panas tidak membuatnya surut untuk keluar dari asramah. Hari ini ia ada janji dengan Doktor Pembimbingnya. Kemaren sore lewat hp keduanya telah mengadakan kesepakatan untuk bertemu di masjidil Haram guna membicarakan judul tesis yang akan di ajukan. Doktor itu bernama Aiman Abdul Mannan. Seorong Doktor karismatik yang sangat piawai dalam bidang studi Ilmu Hadist.
Aji sudah merencanakanya dengat sangat matang. Untuk mensiasati agar tidak terlambat ia berangkat setengah jam lebih awal dari perjanjian. Dengan penuh semangat dia memasuki masjidil Haram. Alhamdulillah akhirnya sampai dengan selamat. Belum jua ia mau siap-siap shalat Tahiyyatul Masjid rupanya ia melihat sesosok lelaki tua yang ia kenal sedang duduk ta`zim membaca al-Quran. Tak hanya itu dia juga meneteskan air mata. Hati Aji begitu terenyuh, ternyata lelai tua itu ialah Doktor Pembimbingnya.
Setelah menunaikan shalat Tahiyyatul Masjid Aji segera menghampiri Doktor itu. Asslamu`alaikum ya Duktur. Wa`alaikum salam ya ibni. Maaf, sejak kapan Doktor duduk disini? Bellia menjawab:" Sejak setengah jam yang lalu". MasyaAllah ya duktur.Bukankah janjian kita masih kurang setengah jam lagi?. Kamu benar. Saya memiliki kebiasaan rutin untuk mendatangi perjanjian satu jam lebih dulu. Saya sangat menghormati perjanjian. Sehingga saya selalu datang sebelum waktunya agar bisa melaksanakanya tepat waktu. Nah untuk menunggu biasanya saya gunakan untuk memuroja`ah(mengulang) hafalan al-Quran.
Aji sangat kagum mendengar jawabanya. Bukan main, seorang Doktor yang memiliki kesibukan luar biasa mampu mendatangi perjanjian satu jam lebih dahulu. Sungguh lurbiasa katanya. Aku saja yang masih muda datangnya masih setengah jam sebelum perjanjian. Andai saja banyak orang yang seperti Doktor maka amanah terhadap janji akan menjadi tradisi yang baik. Aji membatin:" Ya Allah anugerahkanlah pada Doktor pembimbingku ini kebaikan dan keberkahan, dan mudahkanlah diriku untuk bisa meneladani kebaikanya".
Berdialoglah kedua orang itu mengenai judul tesis. “Aji, kamu mau mengajukan judul apa?” Duktur bertanya. “Begini ya Syaikh, saya mau mengajukan judul, ‘Relevansi ilmu Hadist dalam metodologi ilmu modern’”. “Aji, saya kira judul yang kamu ajukan cukup bagus. Baiklah aku akan menyetujuinya. Jadi begini, bulan depan saya minta kamu menyerahkan synopsis tesismu ini. Perlu kamu ingat, waktuku sangat terbatas, jika waktu itu kamu tidak bisa datang tepat waktu maka terpaksa kamu harus mengulang tahun depan. Ini karena saya akan segera pergi menuju Inggris selama setahun untuk menjawab permintaan dakwah”.
“Baik syaikh, InsyaAllah saya akan datang tepat waktu”. Di tengah obrolanya terdengar kumandang adzan shalat Dzuhur. Dengan sigap, setelah mengadakan kesepakatan bersama keduanya menjawab adzan dan siap-siap menunaikan shalat. Selepas halat keduanya saling berpamitan untuk undur diri. “Terimakasih banyak ya Duktur atas waktu luangnya”. “Sama-sama nak semoga tesismu berjalan lancar”. “Assalamu`laikum….”. “Wa`alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh” sahut Aji.
Sebulan kemudian Aji sudah siap-siap untuk mengajukan sinopsis tesisnya. Ia akan bertemu dengan Doktor Aiman bakda shalat Ashar di masjidil Haram. Ketika ia sudah siap mau berangkat, teman sekamarnya yang bernama Abdur Rahman Siregar jatuh terkapar sakit. Waktu itu, tidak ada seorangpun yang ada di asramah karena sedang menghadiri daurah. Abdur Rahman terkena penyakit serangan jantung. Ia membutuhkan pertolhongan segera. Bila terlambat maka nyawanya mungkin saja tidak terselamatkan.

Perasaan Aji berkecamuk bukan main. Waktu perjanjian tinggal lima belas menit lagi, sedang di depan matanya ada seorang teman yang membutuhkan bantuanya. Bila dia menolhong maka dia akan terlambat bertemu Doktor Pembimbingnya. Bila terlambat maka konsekwensinya dia akan mengulangnya pada tahun depan. Dengan demikian janjinya untuk menikahi Puspita Saripun akan tertunda setahun.  Ia sedang menghadapi posisi sulit antara menolhong teman yang ada di depan mata dengan segera menemui doktor pembimbing menyerahkan sinopsis tesisnya yang bila gagal tentu saja pernikahan dengan Puspita akan gagal.

Tongkat Lintas Akhirat

Written By Amoe Hirata on Kamis, 24 Mei 2012 | 19.31

                Tulisan ini bukan hendak menceritakan  kehebatan dan keajaiban tongkat, meski jika dibandingkan dengan tongkatnya Harry Poter masih hebat tongkat ini. Karena di samping animasi, tongkat Harry Poter dimensinya hanya dunia saja. Adapun tongkat yang mau dicatat pada tulisan ini sebenarnya tongkat yang biasa. Yang menjadikannya luar biasa ialah faktor momentum kontekstual dimana tongkat itu diberi, oleh siapa tongkat itu diberi, untuk siapa tongkat itu diberi, dan sampai sejauh mana dimensi yang dilintasi tongkat. Tongkat ini diberi pasca keberhasilan salah satu sahabat Nabi yang telah berhasil menumbangkan musuh; diberikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam kepada sahabat yang bernama Abdullah bin Unais; dimensi tongkat ini tak hanya terbatas sirna di dunia bersama waktu, bahkan tongkat ini dimendinya lintas akhirat.
            Sahabat mulia bernama Abdullah bin Unais merasa terpanggil untuk membuktikan rasa cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Ghirah yang begitu besar membuatnya bergelora untuk berjuang di jalan Allah. Apa lagi salah satu rekan sahabat dari suku `Aus telah berhasil menumbangkan benggolan Yahudi bernama Huyay bin Akhthub. Ketika ada momentum perjuangan untuk menumbangkan serangan suku Hudzail, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Abdullah bin Unais. Titah Rasul padanya ialah menumbangkan pemimpin Hudzail yang bernama Khalid bin Sufyan al-Hudzali. Pasca perang Uhud, suku Hudzail yang dipimpin Khalid bin Sufyan hendak menyerang Madinah. Singkat cerita, Abdullah bin Unais dengan segera melaksanakan titah Rasulullah. Kata Rasul, tandanya kamu ketemu dia ialah ketika bertemu dia kamu akan merasa gemetar ketakutan. Sesampainya di lokasi benar Abdullah bergetar. Kebetulan telah masuk waktu Dzuhur. Sambil berjalan shalat dengan isyarat ia bergerak menuju Hudzail. Ketika selesai terjadi obrolan singkat sampai akhirnya ketika berjalan bersama ada kesempatan mas dimanfaatkan Abdullah bin Unais untuk segera membunuh Khalid bin Sufyan.
            Setelah terbunuh, Khalid bin Unais melapor pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Setelah menyampaikan keberuntungan, Rasulullah masuk rumah seraya membawa tongkatnya untuk diberikan pada Abdullah bin Unais agar disimpan dan dipegang dengan erat. Tanpa bertanya Abdullahpun pergi. Para sahabat menyuruh Abdullah untuk bertanya perihal kenapa Abdullah diberi tongkat Rasulullah. Ketika ditanyakan langsung ke Rasulullah, Beliau menjawab: “Tongkat ini sebagai bukti(tanda) antara aku dan dirimu pada Hari Kebangkitan”. Subhanallah .... betapa beruntungnya Abdullah mendapatkan momentum yang sangat berharga ini. Hanya dia satu-satunya sahabat yang diberi semacam rekomendasi / bukti dengan bentuk tongkat Beliau yang dijadikan bukti pada pertemuan di akhirat kelak bahwa Abdullah bin Unais benar-benar berjuang dijalan Allah.
            Perjuangan yang tulus dan ikhlas akan membawa pada kejayaan abadi; perjuangan yang murni dan jernih hanya untuk Islam mengantarkan pada keberuntungan sejati. Layaknya Abdullah bin Unais, perjuangannya yang luar biasa meski harus kehilangan nyawa, berbuah manis, meski dia mati bukan di medan jihad. Bahkan tongkatpun yang sebenarnya hanya benda biasa, meski punya Rasulullah bisa menyertainya hingga melintasi dimensi akhirat. Adakah tongkat yang diberkahi mempunyai keberuntungan seperti tongkat yang diberikan pada Abdullah bin Unais?( cari saja sampai dapat, mungkin akan sangat sulit bahkan mustahil dicari).
            Bukan tongkat benar yang bikin hebat. Tongkat hanya sebagai simbol rekomandasi kesaksian Rasulullah bahwa Abdullah bin Unais benar-benar pejuang. Abdullah bin Unais telah mampu melampaui kepentingan pribadinya demi kemaslahatan yang lebih luas; ia telah mampu mengontrol hawa nafsu pribadinya, untuk senantiasa peduli dengan kepentingan umat; mampu membuat jarak dengan egoisme pribadi untuk pergi lebih jauh pada kepentingan yang lebih luas dan hakiki. Lantas, bagaimana dengan kita? Apa yang akan kita persembahkan?.

Hingga Cinta Suci Teruji

Written By Amoe Hirata on Kamis, 12 April 2012 | 10.29

            Siang hari di desa Jembar Sari hawa begitu sejuk. Sinar ultraviolet yang di muntahkah Matahari seolah tidak begitu terasa. Ini karena, di samping banyak terdapat pepohonan yang rindang, daerahnya belum tercemari polusi. Konon, desa ini dulu di jadikan tempat wisata oleh kerajaan-kerajaan besar kala itu. Banyak terdapat pemandangan indah. Dari sungai, air terjun hingga gunung. Siapapun yang mendatangi desa tersebut pasti merasa nayaman dan tentram.
Kesejukan yang tertebar di desa itu nampaknya hambar di kediaman pak al-Kindi. Di dalam kamar tidurnya yang berukuran empat kali lima Dino sedang termangu seorang diri. Sudah hampir tiga hari selain shalat dan makan kerjaanya hanya melamun dan melamun. Ia merasa begitu suntuk. Seolah bumi ini teramat sempit. Sampai sekarang Puspita Sari belum juga membalas sms-nya. Ini memang salahku, coba seandainya aku tidak ngomong ke Bapak pasti ini tidak akan terjadi(gumam Dino).
            Lamunanya sirna ketika ia mendengar telpon rumahnya berdering. Ia amat bersemangat mengangkatnya siapa tahu yang nelpon adalah Puspita Sari.  Ya halho assalamualaikum....ni dari siapa yah? Waalaikumsalam....Mas maaf menganggu apa benar ini kediaman Bapak al-Kindi? Iya betul, ada apa ya bu? Begini mas Bapak al-Kindi sekarang lagi dikamar UGD tadi pagi sekitar jam sembilan beliau pamit pulang dari kantor karena ada keperluan di rumah katanya. Pas di pertengahan jalan mobilnya tertabrak truk. Bapak luka parah. Mas cepat kesini ya.
            Tak terasa air mata Dino menetes dengan begitu banyaknya. Orang tua satu-satunya itu sedang melewati masa-masa krisisnya.Dengan tanpa basa-basi di langsung meluncur ke rumah sakit Bakti Kita.Sesampainya disana, ia langsung menuju kamar UGD rupanya di depan kamar itu pak Sudarsono selaku wakil direktur dan bu Yayuk selaku skretaris sedang menunggu. Paak...buuk...bagaimana kondisi Bapak? Dek....luka Bapak kamu sangat parah...kepalanya bocor..kaki kiri dan tanganya patah. Kita berdoa saja kepada Allah semoga beliau dapat melalui masa kritisnya.
            Setelah menunggu hampir satu jam dokter yang mengoprasi pak al-Kindi mendatangi Pak Sudarsono. Pak mana ya yang anaknya pak al-Kindi?. Oh ini pak, memangnya kenapa? Beliau memanggilnya sekarang juga dikamar UGD. Berlarilah Dino ke kamar itu. Dengan suara lirih dan berat pakal-Kindi berkata kepada Dino. Naak maafkan Bapak. Mungkin nyawa Bapak tidak lama lagi. Aku harap kamu memenuhi washiat Ibu dan Bapakmu untuk tetap melanjutkan studi hingga sukses. Semakin lirih tak terdengar suaranya hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Bapaaaaaaaaaak.....Dino berteriak dengan sekencang-kencangnya. Dia seolah tidak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang. Bapak semata wayangnya yang tiga hari kemaren bertengkar dengannya sekarang telah menginggalkannya pergi untuk selama-lamanya. Ia merasa bersalah. Karena tak kuasa menahan kenyataan itu, Dino sampai terjatuh pingsan.
Esok hari Dino siuman. Dia meronta dan bertanya mana Bapak saya...mana Bapak saya?....Dek Bapak sudah pergi, kemaren sore sudah dimakamkan....doakan aja semoga arwahnya diterima di sisi Allah(balas Pak Sudarsono menenangkan Dino).

Di kala kesedihan menguasai dirinya, tiba-tiba hp-nya berbunyi.Ia mendapat sms dari Puspita sari:"Assalamualaikum mas Dino, Dengan rasa sesal yang amat tak terkira aku minta maaf kepadamu, tiga hari yang lalu ketika kamu tidak datang ada seorang calon S2 dari Madinah melamarku. Jujur aku merasa bingung. Dua hari aku masih belum menjawab lamaranya. Karena aku  masih menunggu kedatanganmu. Sampai hari ketiga kamu belum juga datang. Dengan sangat terpaksa dan sulit akhirnya aku menerima lamarannya dengan tetesan air mata mas. Aku tidak ingin menyakiti hati abah dan umi mas. Sekali lagi dari lubuk hatiku yang terdalam aku minta maaf. Wasslamualaikum". 

Usia 70 thn, Wajah 15 thn

Written By Amoe Hirata on Rabu, 11 April 2012 | 19.30

          Salah satu keinginan manusia yang sangat menggiurkan ialah: “keabadian”. Keabadian menggambarkan tentang ketetapan, kelanggengan dan keawetan. Manusia sangat suka dengan yang namanya awet. Awet muda, awet kaya, awet hidup, awet bahagia dan awet-awet lainnya yang mengarah kepada keabadian. Bahkan Adam dan Hawa yang merupakan manusia pertama nenek moyang manusia, salah satu hal yang membuat keduanya tergelincir hingga diturunkan ke bumi karena terlena dengan bujuk rayu iblis. Iblis merayu dan menyatakan pada keduanya bahwa pohon yang dilarang Allah itu sebenarnya malah bisa membuat dia jadi raja dan bisa abadi. Tertipulah keduanya hingga turun ke bumi, menjalankan misinya menjadi khalifah.
            Pada era zaman yang modern saat ini, semangat meterialisme mendukung keinginan mereka yang menginginkan awet dan menarik. Tentu saja hanya sebatas urusan materi. Biasanya iklan-iklan di media acap kali menawarkan berbagai produk yang membuat orang tetap bisa cakep, cantik dan wajahnya terlihat muda. Ketuaan, kelayuan, kekendoran meteial jasad seolah menjadi momok yang membuat mereka mau mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan kemudaan dan kecantikan. Tak tangung-tanggung bahkan ada yang menyediakan jasa oprasi plastik, yang membuat wajah lebih indah dan menarik seperti muda kembali. Bahkan juga ada yang menyediakan jasa oprasi keperawanan. Fenomena dan fakta ini semakin meneguhkan bahwa manusia menginginkan kekekalan.
            Apa salah manusia mempunyai keinginan untuk kekal, awet dan abadi? Tentu saja tidak. Tapi kekekalan tidak hanya sebatas materi. Materi mempunyai batasan waktu yang tak mungkin orang menggapainya. Selama kita di dunia tak mungkin bisa mencapainya. Kita dibatasi waktu, kita punya nyawa dan ajal yang bisa kapan saja dicabut. Kekekalan abadi memang dipersiapkan oleh Allah kelak di akhirat bagi mereka yang benar-benar serius mencari keridhaan Allah. Adapun di dunia yang  fana dan palsu ini keinginan itu belum bisa terwujud. Dunia digambarkan sebagai kesenangan sementara dan menipu; sebagai senda gurau belaka; sebagai perhiasan yang melenakan. Kesemuanya sifat itu menggambarkan kesementaraan . Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa ingin awet, kekal dan abadi adalah wajar dan boleh-boleh saja tetapi bukan di dunia tempatnya.
            Sejarah emas sahabat Nabi memberikan pelajaran berharga mengenai kekekalan ini. Abu Qotadah al-Anshori, sahabat besar yang dijuluki sebagai fursan(kavaleri) terbaik Rasulullah pada perang Ghaabah atau Dzi Qard; dijuluki singa Allah oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatab, memiliki lembaran kisah yang mengagumkan. Dunia baginya hanyalah sementara. Kekekalan abadi hanya di akhirat. Dalam hidupnya ia berjuang sekuat tenaga mengabdikan dirinya dalam perjuangan Islam. Ia tak mau tertipu dengan dunia yang semu; takmau terlena dengan dunia yang fana. Ia begitu mencintai kehidupan yang lebih kekal bersama Rasulullah di akhirat daripada dunia yang sungguh terbatas. Karena itulah ketika Rasulullah meninggal, hati Qotada serasa tersobek-sobek menahan kesedihan kekasih yang sudah kembali pada kekekalan.
            Abu Qatadah hidup dalam perjuang menuju keabadian. Hingga usianya sampai tujuh puluh tahun dia tetap konsisten berjuang, berjihad dengan jiwa dan harta. Di mendapat keuntungan yang besar karena disamping dijuluki sebagai kavaleri terbaik ia juga sering mendapat doa langsung dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam diantara doa yang diabadikan sejarah itu ialah: Ya Allah berkatilah untuknya wajah dan rambutnya. Doa Rasul benar-benar dikabulkan. Abu Qatadah Sang Kavaleri ulung itu ketika meninggal diusianya yang ketujuh puluh tahun meninggalkan bekas wajah yang berbinar dan berseri-seri menggambarkan kebahagiaan.
Imam Ad-Dzahabi dalam kita monumentalnya siyaru A`laam an-Nubalaa menulis didalamnya: “Abu Qatadah meninggal pada usia 70 tahun, sedangkan wajahnya seakan-akan masih 15 tahun”. Subhaanallah bukan hanya keabadian yang telah ia raih menuju keridhaan-Nya, diakhir hidupnyapun wajahnya terlihat sangat muda dan berseri-seri. Ia tak perlu repot dan sibuk merawat wajah dengan biaya yang sedemikian tinggi layaknya kebanyakan orang sekarang yang sibuk merawat wajah supaya awet muda dan terlihat muda abadi. Kekekalan yang dia raih bukan terbatas pada kekekalan wadag materil, ia melampaui semua itu, lebih memilih kehidupan yang lebih hakiki daripada yang fana dan tak abadi. Justru karena kebenaran dan kelurusan dalam mempersepsikan kekekalan yang abadi menuju ridha ilahi, di akhir hidupnya dikarunia wajah yang seolah awet muda hingga 15 tahun. Dengan tetap  fokus pada kekekalan abadi menuju ridha ilahi, kita akan dikaruniai sebagian keawetan yang tidak pernah disangka-sangka. Entah itu wajah yang awet muda; kesalihan keluarga; nama yang kan senantiasa dikenang dan lain sebagainya. Wallahu a`lam bis shawab semoga kita bisa meneladani pelajaran berharga ini.

Seutas Tali Cinta Terikat Dua Hati

Written By Amoe Hirata on Rabu, 28 Maret 2012 | 17.27


          Ba`da shubuh, cahaya fajar mulai padhang bersinar. Menyinari tetumbuhuhan alam yang selalu bertasbih pada Tuhan semesta alam. Pepohonan tak hentinya menaburkan oksigen, sebagai wujud kepatuhannya pada Yang Maha Kuasa. Bunga-bunga mawar yang ada di pelataran rumah mulai memekarkan kuncupnya. Hawa pagi begitu menyejukkan hati. Badan terasa bugar segar. Suasana hati terasa gembira meluap asa. Para petani sudah mulai bergegas menuju hamparan sawah. Sekawanan burung emprit melambai-lambai di udara mencari makan untuk anak-anaknya. Embun pagi menyelimuti rerumputan yang sedang tumbuh menghijau. Ikan-ikan hias di kolam terlihat riang penuh senang  mengepakkan sirip indahnya. Kicauan merdu burung kenari begitu mengalun lembut membuat hati menari-nari hanyut dalam keindahan suaranya. “Betapa besar karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hambanya. Namun banyak sekali hamba-hamba-Nya yang mengingkarinya”. Gumam Aisyah Dwi Artanti di taman samping rumahnya. 
                  Ia sedang asyik me-muraja`ah(mengulang) hafalan dan mentadabburi(merenungi) ayat-ayat Al-Qur`an. Waktu itu yang ia tadabburi ialah ayat dari surat Ar-Rahman yang berbunyi: fabiayyi alaai Rabbikuma tukadzdzibaan(dan dari karunia Rabmu yang mana lagi kamu mendustakan). Ia larut dalam suasana perenungan yang dalam. Betapa ia telah dianugerahi Allah nikmat begitu besar, dan merasa belum maksimal dalam mensyukuri nikmat yang tak terbatas itu. Ia sudah hafal Al-Qur`an. Kedepan ia pastinya akan mendapat cobaan yang berat, karena perjalanan ahli Al-Qur`an dalam meniti shirath mustaqim tidaklah mudah. Ia selalu berusaha memaksimalkan sifat sabar dan syukur supaya bisa tegar dalam menghadapi setiap cobaan.
            Dalam kondisi demikian, HP-nya berdering. Ia letakkan mushaf warna cokelat mudanya di tempat duduk samping taman. Setelah dilihat, ternyata ia mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Ia angkat saja: “Halo assalamu`alaikum, afwan ini dengan siapa ya, ada keperluan apa?”.  “Wa`alaikumussalam, ini Shinta Aulia. Apa benar ini Aisyah”. “ Subahanallah, mbak Shinta toh, apa kabar mbaak, pean tau nomer ana dari siapa, kok tau kalo ana sudah lulus dan baru pulang?”. “Aku tau dari intan dek. Katanya dia adek kelas adek ya di pondok tahfidz?”. “Ooo Intan toh .... ternyata takdir Allah mempertemukan kita dalam kondisi seperti ini”. “Apa kabar kamu sekarang? Lagi sibuk apa? Kapan nih nyusul mbak”. “Al-Hamdulillah baik mbak, untuk sementara ga terlalu sibuk, hanya kegiatan muraja`ah saja, nyusul apa mbak maksudnya?”. 
        “Nikah maksudku...heee”. “Emm..gimana toh mbak ini saja baru lulus...belum terpikir mbak...tapi kalau ada yang pas memang saya sudah siap secara lahir batin”. “O ya alamat rumahmu masih tetap seperti yang dulu?”. “Ooo sudah pindah mbak, di jalan Kebun Indah”. “Wah pantesan kok setiap aku lewat ke rumahmu yang lama kok sepi-sepi saja, pernah sih ada keluarga gitu, tapi asing, ga ada yang ku kenal”. “Itu omku mbak..heee”. “Aisyah entar sore ada waktu ga? Aku mau shilaturrahim ke rumahmu”. “O ada-ada mbak monggo, ana insyaAllah ndak ke mana-mana”. “Oke...insya`allah ba`da ashar aku kerumahmu dengan seseorang”. “Silahkan mbak, kalau boleh tau sama siapa ya mbak”. “Entar kamu akan tau sendiri. Udah dulu ya dek, aku harus nganterin Alvino sekolah. Maaf lho kalau ganggu waktu adek. Assalamua`laikum”. “Ya mbak...sama-sama, tak tunggu di rumah lho ya, wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”.

                                                                      ******

            Di kediaman Sabrina terlihat masih dipenuhi nuansa berkabung. Mamanya masih belum bisa percaya bahwa orang yang selama ini menemani susah-senang hidupnya, kini telah pergi meninggalkannya; orang yang selama ini menjadi imam dalam bahtera rumah tangganya, telah pergi jauh darinya. Allah telah menjemputnya menuju kehidupan yang lebih abadi. Di kompleks perumahan Gunung Sari, suaminya dikenal sebagai orang yang supel dan peduli sosial. Pantas ketika suaminya meninggal, banyak sekali yang mengantarkan jenazahnya. “Ma, aku tau ini sangatlah sulit bagi kita, tapi jika menangis terus, mungkin papa bukan malah bahagia, sejauh yang bisa kita bisa sekarang ialah mendoakan yang terbaik untuknya”. “Iya Sabrina, mama selalu mendoakan yang terbaik untuk papamu, cuman hati ini tak kuasa menahan tangis setiap ingat kenangan bersamanya, suatu saat kamu akan mengerti betapa perihnya kehilangan orang yang sangat kita cintai”.
           “Iya ma, aku sebenarnya sangat susah dan sedih ditinggal oleh beliau, tapi kurasa yang terbaik sekarang ialah mengikhlaskan dan berdoa yang terbaik untuknya. O ya ma katanya kemarin mama mau memberitahu wasiat papa yang harus disampaikan padaku? Kalau mama berkenan, apa washiat papa ke aku?”. “Gini Sabrina, kamu kan sudah lulus kuliahnya, sudah dapat pekerjaan tetap, mama rasa kamu sudah waktunya untuk menikah, nah washiat papamu itu berkaitan dengan pernikahan. Papamu jauh sebelum meninggal mau menjodohkan kamu dengan anak sahabatnya. Kamu tahu kan sama om Yuda Karisma? Nah itu sahabat papamu. Ia punya anak yang baru lulus S2 dari universitas Madinah. Anaknya penurut, pintar, dan baik hati lho”. “Aku ikut kata mama sama papa saja deh, yang jelas pilihan mama dan papa insyaallah yang terbaik buat Sabrina. Dari dulu Sabrina punya mimpi mempunyai suami shalih. Kalau takdir cintaku memang bersama dirinya aku akan siap menemaninya dalam mengarungi samudera kehidupan dengan behtera rumah tangga”.


                                                                       *****

            Di sore hari bulan Ramadhan, Aji sedang khusyu` membaca Al-Qur`an di ruang perpustakaan rumahnya. Beberapa saat setelah membaca Al-Qur`an, ia mencoba merenung sejenak, menentukan jawaban yang harus ia pilih. Ini merupakan pilihan sulit baginya. Saat itu ia mencoba melukiaskan suasana hatinya dengan menulis puisi:


Seutas tali cinta

Menjulur panjang

Menjalin kasih dan sayang

Ketika ku mencoba

Mengikat, dengan hati yang datang

Berupa jelita yang menyejuk  hati

Hati lain datang mengurai

Ikatan cinta yang kan terjalin

Ke siapa tali cinta ini harus ku jalin

Sedang hati ini

Berada di antara dua hati


            Belum lama setelah ia menulis puisi, ia mendapat telepon dari Shinta Aulia. “Assalamu`alaikum....Mas Aji, ini aku Shinta”. “Iya Sin, aku tau ini suara Shinta”. “Aku sekarang sedang berada di rumaAisyah Mas, aku sudah memberi pendahuluan mengenai maksudku menjodohkan mas dengan dia. Al-Hamdulillah Aisyah belum ada yang meminang. Kabar baiknya, ia juga siap untuk serius menikah. Setelah aku sampaikan baik-baik mengenai ketertarikan Mas dengan Aisyah, al-hamdulillah disambut dengan hangat. Insyallah mereka setuju semua. Aku lihat Aisyah tersipu malu. Cuman gini mas, untuk mengetahui keseriusan  mas, keluarga Aisyah pingin mas datang ke rumah Aisyah dengan keluarga mas, kalau bisa secepatnya. Gitu saja dulu ya mas, sampai jumpa lagi. Wassalamualaikum”. 
                 “O ya Sin entar tak kabari, wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Mendapat telpon dari Shinta makin membuat Aji semakin bingung. Shinta sudah datang ke rumah Aisyah, dan menginginkan Aji segera ke rumah Aisyah untuk memastikan. Sedangkan orang tua Aji sama sekali belum tahu kalau Aji tertarik dengan Aisyah. Padahal ke dua orang tua Aji yakin bahwa Aji menerima pertunagannya dengan Sabrina. Apa yang akan dilakukan Aji?

                                                                               *********

Balada Cinta Kasturi

Written By Amoe Hirata on Minggu, 18 Maret 2012 | 10.38


            Pagi hari di Heidelberg pepohonan cemara terlihat sayu. Langit sedikit mendung tak bersahabat. Tidak seperti biasanya suhu dingin kota Heidelberg mencapai -0.3 C. Angin begitu kencang. Rasa dingin itu seolah menusuk-nusuk kulit Dino. Meskipun dia sudah memakai jaket, syal(tutup leher) dan tutup kepala  tebal tetap saja dingin itu merasuki kulitnya. Ini sangat wajar karena suhu di desanya berbeda jauh dengan suhu di sini.  Meski demikian tak mengurangi semangatnya untuk pergi pagi-pagi menuju kuliah yang merupakan kebiasan baiknya.
Sudah hampir satu tahun Dino menjalania aktivitas kuliahnya. Dia kuliah di Universitas Heidelberg mengambil jurusan Kedokteran ini tak mengherankan karena memang salah satu universitas di Jerman yang tersohor dalam bidang kedokteranya ialah Universitas Heidelberg.
Sebagai mahasiswa asing dari Indonesia ia tergolhong paling pintar dan prestisius. Penguasaan bahasa Inggris dan Jerman yang begitu memadai membuatnya semakin mudah melahab letelatur bahasa asing. Tidak hanya itu di juga cukup ahli penguasaan Bahasa Arabnya, ini karena sewaktu dirumah dulu Bapaknya sendiri lah yang mengajari secara langsung Bahasa Arab juga penguasaan Kitab Kuning. Bapaknya pernah nyantri di pondok Gontor, maka tak heran meskipun Dino sekolah di SMA Negri kedalaman ilmu agamanya tidak bisa diremehkan.
Banyak mahasiswa-mahasiswa yang minta bimbingan padanya. Waktunya sangat padat. Dihabiskan untuk kegiatan organisasi seperti senat kekeluargaan dan kegiatan lainya. Ia sangat di horrmati dan disukai oleh mahasiswa dan dosen. Meski demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong.
Suatu ketika di perpustakaan kampus ia membaca buku, entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan Puspita Sari. Bagaimana ya kabar Puspita? Dia pasti sudah nikah dan bahagia. Astaghfiullah...kenapa akumasih mikirin dia bukankah dia sudah menjadi milik orang. Dengan segera ia alihkan perhatianya untuk kembali membaca buku. Saat sIbuk membaca buku ia didatangi oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Indonesia.
            Kak permisi, maaf kami jika kami menganggu. Kami adalah mahasiswa baru Kedokteran. Kata teman-teman kakak nih orangnya pinter banget dan keren. Siapa saja pasti kenal kakak. Nah kami berencana meminta bimbingan pada kakak. Kira-kira ada waktu ga ya kak?Sebenarnya saya biasa aja kok dik. Ga ada yang istimewa bagi saya. Saya seperti kalian juga. Kalau untuk bimbing sih sebenarnya saya kurang pantas. Tapi gini aja, saya akan berusaha membantu ga usah anggap saya pembimbing anggap saja belajar bersama. Tapi sebelum itu kita kenalan dulu biar lebih akrab.
Terimakasih ya kak. Baik perkenalkan saya Bagas. Yang ini Sharon, Mekar, Arjuna dan yang teakhir itu namanya Wangi Bunga Kasturi. Baik saya juga akan mengenalkan diri. Nama saya Dino al-Kindi. Panggil saja saya Dino. Saya berasal dari desa Jembar Sari di Jawa Timur Indonesia.
Baik, kita kan sudah saling mengenal, sekarang langsung saja kita tentukan kira-kira kapan waktu yang pas untuk belajar bersama. Yang jelas untuk hari Jum'at dan Sabtu saya tidak bisa. Terserah kakak aja deh kami menyesuaikan saja. Kami juga belum ada kesIbukan paten kok selain kuliah. Baik,gimana kalau kita ketemu hari Senin, Selasa dan Rabu Sore. Ya ya...boleh tuh kami setuju. Ya udah kak terima kasih kami mau pamit dulu mau masuk kuliah. Silahkan melanjutkan bacaanya. Sekali lagi terima kasih lho kak. Ok sama-sama dek.
Seperginya mereka Dino sedikit bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa sebenarnya Wangi Bunga Kasturi? Ia kelihatan lain dari pada temen wanita yang lain. Meski ia tidak pakai jilbab tapi bajunya sangat sopan sekali tidak seperti yang lain. Ia juga sangat menjaga perilaku tidak over. Dino semakin penasaran siapa gerangan gadis itu. Wajahnya imut, cantik dan manis, tinggi semampai berambut ikal sebahu. Melihatnya ia jadi ingat lagi sama Puspita.
Astaghfirullah....jagalah hamba-Mu ini ya Allah jauhkanlah daripikiran-pikiran yang tidak-tidak. Berlangsunglah aktivitas belajar bersama itu hingga hampir satu tahun. Secara tidak sadar Wangi Bunga Kasturi selama ini tertarik dan memendam rasa pada Dino. Tapi ia hanya diam, sikapnya yang pemalu dan sangat menjaga diri membuatnya kuat untuk menahan diri. Dino menangkap sinyal-sinyal kea rah situ. Namun dia cuek. Sampai suatu ketika secara tidaksengaja sewaktu ia masuk perpustakaan ada sebuah agenda yang tak bernama melainkan hanya tiga kata saja WBK.
Ia buka lembaran itu untuk mencari identitas pemilik supaya bisa lekas di kembalikan. Sewaktu membuka halaman pertama ia kaget, namanya tertulis di judul tulisan paling depan:" Dino sang Dambaan". Melihat tulisan itu Dino secara tidak sadar tertarik membacanya hingga selesai. Rupanya benar itu adalah agenda Kasturi. Dino baru tahu jika selama ini Kasturi menaruh rasa padanya. Dengan segera ia menutup agenda itu dan segera keluar mengembalikan agenda itu ke Wangi Bunga Kasturi.
Kebetulan Sharon lewat di depan perpus maka dengan segera Dino menitipkan agenda itu pada Sharon. Shar, tolhong berikan buku ini ke Kasturi barusan kakak lihat tertinggal di perpustakaan. Baik kak aku juga mau ketemu dia kok. Terima kasih ya. Ya kak sama-sama.
Kasturi, ni agenda kamu ya? Barusan kak Dino titip buku ini. Hah...kak Dino oh iya aku lupa....aduuuh...gimana ini kalau sampai kak Dino tau dan baca bisa malu sendiri aku. Emangnya kenapa Kasturi? Jadi di agenda ini aku menulis tentang dia karena juju raja Sharon aku suka banget ma dia makanya di agenda ini kutulis tentang dia sebagai sang dambaan. Heee....ya udah ga usah khawatir, kan mendingan kayak gitu biar dia tahu. Siapa tahu kalian berjodoh kan. Haaa....tapi aku malu banget tauu...giman coba kalau dia ga da rasa ma aku kan aku jadi ga enak sendiri dan malu lagian ni yah kita kan bimbingan denganya jadi tambah malu aja kan  kalau aku ketemu nanti.
Kala itu Dino berpikir dengan cukup serius diperpustakaan. Apa sebaiknya sikap yang harus dia ambil. Secara tingkah laku Kasturi tergolhong baik. Apa salahnya jika ia mencoba menjalin hubungan serius dengan Kasturi. Ini supaya terhindar dari perbuatan maksiat dan tidak ingat lagi sama Puspita Sari.
            Akhirnya malam itu juga ia datang kerumah Kasturi untuk melamarnya. Baru ia tahu ternyata Kasturi adalah anak salah satu pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Jerman. Betapa kagetnya Kasturi ketika melihat kedatangan Dino ke rumahnya. Apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai pria pujaanya itu datang kerumahnya. Barulah ia tahu maksud kedatangan Dino. Bergetarlah hati Kasturi ia tidak percaya kalau Dino sedang mau melamarnya.Bagai di alam mimpi ia terbuai dalam imajinasi kebahagiaan yang selama ini ia harapkan.
Belum selesai rasa senangnya terpuaskan, seketika itu lamunananya buyar. Ternyata Bapaknya kurang setuju. Alasanya ialah karena Kasturi masih terlalu muda dan masih kuliah ditambah yang lebih inti karena Dino beragama Islam. Jadi, Dino akan di setujui lamaranya jika Kasturi sudah menyelesaikanstudi S1-nya dan Dino harus masuk agama Kristen.
            Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh Dino, apakah ia akan pertahankan agama dan idealismenya atau akan menyerah pasrah dengan syarat dari orang tua Kasturi. Kita tunggu saja episode selanjutnya.
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan