Latest Post

‘Tak Sempat Shalat’, Tapi Sukses Akhirat

Written By Amoe Hirata on Rabu, 24 Oktober 2012 | 19.37

              Allah subhanahu wata`ala menciptakan kematian dan kehidupan pada dasarnya –sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Mulk ayat: 2- ialah untuk menguji siapakah di antara kita yang paling baik amalnya. Ayat ini dengan jelas menekankan bahwa yang dijadikan patokan ialah ahsanu `amalan(amalan terbaik) bukan aktsaru amalan(amalan terbanyak). Yang menjadi tolak ukur dari sukses tidaknya seseorang dalam rangka ujian ketika diberi kematian dan kehidupan ialah baiknya amal. Amal yang baik menyangkut dua hal: Pertama: dilakukan dengan ikhlas. Kedua: dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya. Dengan demikian, sebanyak apapun amalan seseorang namun tidak memenuhi standar kebaikan maka tidak akan bernilai apa-apa. Adapun orang yang amalnya sangat minim dan sedikit tetapi kualitas amalannya sangat baik memenuhi standar syar`i, maka amalan yang sedikit ini bisa memudahkannya menuju kebahagiaan di Akhirat berupa  surga. Tentu saja yang tahu betul siapa yang benar-benar terbaik amalnya hanyalah Allah subhanahu wata`ala. Namun agama datang sebagai petunjuk yang memberitahukan standar-standar pada manusia mengenai baik tidaknya amalan. Sehingga dengan upaya yang serius dan sungguh-sungguh, selama berjalan pada standar syari`ah maka peluang untuk mendapat kemuliaan akan lebih besar daripada sekadar banyak amal namun tidak berangkat dari dasar syari`at yang benar, sebagaimana petunjuk Allah dan Rasulnya. Intinya ‘kebaikan amal’ merupakan prioritas dan penentu sukses tidaknya seseorang dalam beramal. Amal yang banyak tidak akan membantu jika tidak didasari dengan standar syar`i. Bayangkan jika amalan banyak sekaligus didasari dengan standar kebaikan syr`i, maka ini merupakan semacam jalan lebar yang bisa memudahkannya menuju akhirat.
            Dalam lembaran sejarah emas sahabat Nabi, ada peristiwa unik yang menunjukkan bahwa letak bernilainya amalan itu ialah bukan pada banyaknya tapi pada kandungan kebaikannya, meskipun sedikit. Dalam kitab Sirah Nabawiyahnya yang berjudul, “as-Sirah an-Nabawiyah, `Ardhu Waqaai` wa tahlilu Ahdats”, Ali Muhammad Muhammad Shalabi menceritakan: ada sahabat yang hanya bermodal syahadat tulus kemudian ia berjihad hingga gugur syahid. Padahal ia belum sempat shalat apalagi melaksanakan rukun Islam yang lainnya. Amalannya terhitung sangat sedikit dan minim bila dibandingkan dengan sahabat-sahabat lain yang sudah masuh Islam. Namun lihat capaian yang diraihnya ia mendapatkan surga. Sahabat itu ialah Al-Ushairim. Nama aslinya `Amru bin Tsabit bin Waqasy. Ia berasal dari suku `Aus, dari bani Asyhal. Ketika Sa`ad bin Muadz masuk Islam beserta suku `Aus lainnya, Ushairim belum mau menerima Islam karena masih ragu. Hatinya belum bisa menerima petunjuk Islam. Namun Allah akan menunjuki siapa saja yang dikehendakinya. Ketika terjadi perang Uhud, ia bertanya pada Rasul dimanakah Sa`ad bin Mu`adz? Dimanakah teman satu sukuku? Nabi menjawab: Mereka menuju Uhud. Ketika itu ia sudah merasa mantap hatinya untuk menerima petunjuk Islam sehingga, seketika itu juga ia menyatakan keislamannya pada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam kemudian setelah itu ia mengambil tombak, pedang miliknya dan menaiki kuda lalu bergabung dengan sahabat-sahabat yang lain. Ketika ia berada di sekeliling para sahabat, ia diusir: menjauhlah dari kami! Ushairimpun menimpali: Aku telah beriman. Kemudian ia turut berperang hingga mengalami luka parah.
            Ketika teman-temannya dari bani Asyhal, mencari korban dari para sahabat yang terbunuh di perang Uhud, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan jasad Ushairim yang terluka parah tapi masih hidup: Ini Ushairim, kenapai ia datang ke sini, bukankah sewaktu kita tinggal perang ia masih kafir? Lalu mereka menanyakan langsung pada Ushairim, apakah ia turut berpartisipasi perang karena fanatisme kesukuan atau karena senang terhadap Islam? Ushairim menjawab: Bahkan aku senang (masuk) Islam, aku beriman pada Allah dan Rasul-Nya, aku masuk Islam, kemudian aku bergabung dengan Rasulullah ikut perang, kemudian aku mengalami luka parah, jika aku meninggal maka semua hartaku untuk Muhammad, (silahkan) dipergunakan sekehendak hatinya”. Kemudian ia meninggal. Ketika dilaporkan kepada Rasulullah, Rasulpun berkomentar: innahu min ahlil jannah(ia termasuk dari penghuni surga). Padahal ia belum sempat shalat sama sekali. Di kesempatan lain Rasulullah bersabda: `amila qolilan waujiro(amalnya sedikit tapi mendapat ganjaran(yang besar). Bahkan Abu Hurairah bertanya pada orang-orang, ceritakan padaku siapakah sahabat yang masuk surga padahal belum pernah shalat? Ketika mereka tidak tahu, akhirnya meminta jawaban ke Abu Hurairah. Abu Hurairah menjawab: ia adalah Ushairim bin Abdil Asyhal. Ushairim dengan amalnya yang sedikit mampu menjemput momen terbaik atas izin Allah. Kejadian yang dialaminya mengajarkan kita nilai penting berupa: letak berharga tidaknya sebuah amalan ialah pada kebaikan yang terkandung di dalamnya, dalam artian sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Walau amalan terhitung sedikit, tetapi diposisikan pada standar semacam itu akan bernilai dahsyat. Pada pandangan orang banyak memang amalannya terhitung sedikit, namun yang membuat amalan itu berharga dan bernilai dahsyat ialah karena ketulusan, keikhlasan, dan kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah. Sedikit tapi berkualitas saja sudah bernilai dahsyat, apalagi jika kita melakukan amalan banyak tapi berkualitas, Allah subhanahu wata`ala pasti akan mencucurkan rahmat-Nya. Kesempatan untuk itu, sebenarnya sangat terbuka lebar jika kita menghendakinya. Kesuksesan kita terletak pada seberapa cepat kita berubah, serta sepandai apa kita menjemput momentum yang diberikan Allah subhanahu wata`ala pada kita. Faidza faraghta fanshab, wa ila Rabbika farghab(jika ada waktu senggang maka gunakan lah untuk amal kebaikan, dan hanya kepada Rab kamulah kamu berharap).

            

Takdir Cinta

Written By Amoe Hirata on Jumat, 19 Oktober 2012 | 17.20


          Pagi begitu cerah. Hawa begitu terasa nyaman. Pancaran enerji positif terasa menyelimuti desa Jembar Sari. Wajah-wajah optimis dari para pekerja yang ada di persawahan semakin membuat pemandangan menjadi indah. Pagi itu, tak seperti biasa desa Jembar Sari terlihat ramai. Dari mulut ke mulut tersiar kabar kedatangan Dinondari Jerman. Rupanya mereka penasaran dan tidak sabar menunggu kedatangan Dino. Dahulu, di desanya Dino dikenal sebagai pemuda yang baik hati, supel dan dermawan. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, Ia tidakn pernah menyombongkan diri.
            Di pelataran rumah Dino, desa Jembar Sari, terlihat ada beberapa prang yang sIbuk masang terop. Keluarga mau menyambut kedatangan Dino dengan meriah. Sudah empat tahun lebih mereka tidak bertemu Dino. Pastinya, perasaan kangen sangat kuat menguasai hati mereka.
            Segenap persiapan sudah sedemikian matangnya. Ibnu Sina(paman Dino) sedang mengawasi para pekerja persiapan penyambutan. Kemudian segera meluncur ke bandara Juanda untuk menjemput Dino. Diperkirakan Dino sampai sana pukul sepuluh pagi.

                                                                     *****
            Dari kejauhan, di ponpes al-Karimah nampak ramai. Banyak mobil dan motor yang diparkir. Rupanya para wali santriwati sedang menjemput anak-anak mereka yang akan libur sekolah. Rencananya lIbur dua minggu. Kh. Ahmad Sudardi dan Hani`am segera menjemput puterinya. Ketika bertemu, mereka berdua tak kuasa menahan tangis bahagia. Segeralah keduanya berpelukan dengannya. Bagaimana tidak, anak semata wayangnya ini ternyata sudah hafal al-Qur`an tiga puluh juz.
            Setelah berpamitan dengan para asatidz/dzah, Puspita dan orang tuanya segera mengendarai mobil menuju rumah. Katanya, di rumah Puspita sudah dimasakin masakan vaforitnya yaitu Bergedel dan sayur sop. Di tengah perjalanan, tiba-tiba abahnya bertanya: “Ndhok! Gimana kabar Aji? Apa kamu sudah mengambil keputusan? Kalau memang sudah putus, Abah dan Umi sudah punya calon buat kamu, namanya Alyan Hisan”.
            Puspita kaget. Dalam hati ia berujar: “Lho kok bisa kebetulan begini ya, padahal aku belum ngasih tahu ke mereka”. Baru diketahui kemudian, bahwa orang tua Puspita dan orang tua Alyan adalah sahabat dekat yang sudah lama ga ketemu. Ketika ketemu pada acara reoni sekolah mereka berbincang-bincang hingga sampai pada pembicaraan perjodohan antara anak mereka.
            Belum hilang rasa kaget padi diri Puspita tiba-tiba HP-nya berdering tanda sms masuk. Bunyi sms itu demikian: ”Assalamu`alaikum Sar, gimana kabarmu? Semoga kamu selalu baik, ini Aku, Dino. Aku baru pulang dari Jerman, Kusempatkan untuk pulang, karena aku mendengar berita bahwa kamu ga jadi nikah sama Aji, Aku mau tanyak, apa masih ada kesempatan bagiku untuk menikahi dirimu? Bls gpl, Dino”.

                                                                 *****

            Sesampainya di rumah, Dino disambut begitu meriah oleh keluarga dan masyarakat desanya. Mereka secara bergantian menyalami dan merangkul Dino. Ada satu cewek yang terlihat malu-malu sedang bersamaan dengan seorang Bapak paruh baya. Ternyata, cewek itu adalah Devi Angelina, anak dari Bapak Sudarsono yang baru selesai kuliah dari Perancis. Penampilanya anggun, wajah cantik, oval, kulit kuning langsat, dan tingginya seratus enam delapan. Sebelum meninggal, Pak al-Kindi berwashiat pada pak Sudarsono agar menikahkan puterinya dengan anaknya.
            Setelah menyalami tamu yang hadir, Dino beranjak kearah Bapak Sudarsono. Dan Ia dikenalkan dengan puterinya yang bernama Devi Angelina. Dino belum tahu kalau Devi adalah cewek yang bakal dijodohkan dengannya.

                                                                    *****

            Di kediaman Puspita Sari terlihat ada beberapa mobil yang diparkir di depan rumahnya. Tamu yang datang adalah keluarga Alyan Hisan. Bapak Vano Setiabudi dan Ibu Wulan Safitri beserta rombongan keluarga mau melamar Puspita Sari untuk anaknya yang bernama Alyan Hisan.
            Semakin bingung saja diri Puspita. Dia dihadapkan pada posisi sulit. Cinta pertamanya meu melamar dia. Sedangkan di depan matanya sekarang ada juga yang siap melamarnya. Ia segera memasuki kamar. Berpikir dan merenung kira-kira mana yang harus Dia pilih. Bagaimanapu sulitnya Ia harus dengan cepat memilih meskipun ada pihak-pihak yang mungkin dikecewakan dengan keputusannya itu.

                                                                  *****

            Setelah debat alot dengan pamannya, akhirnya Ia memutuskan untuk menolak perjodohan yang diwasiatkan Bpk Al-Kindi. Meski ini berat, Ia harus memutuskan, karena Ia sudah sms ke Puspita untuk melamar dirinya. Akhirnya, kedua belah pihak tidak bisa apa-apa. Bagaimanapun juga memang pernikahan tidak bisa dipaksakan. Dengan segera Dino mengajak pamannya untuk pergi ke rumah Puspita Sari. Dino tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Belum selesai beres-beres rumah akhirnya pak ibnu Sina segera bergegas untuk menuju ke rumah Puspita. Tak ketinggalan pula di samping keluarga, Pak Sudarsono dan Devipun ikut. Devi penasaran, cewek kayak apa sih yang bisa sampai memincut Dino.
                                                                    *****
            Abah dan Umi Puspita heran bukan main. Seumur-umur anak semata wayangnya itu tidak pernah mengucap kata “tidak” pada kedua orang tuanya. Setiap kali disuruh ia tidak komentar dan langsung dikerjakan. Tapi kali ini Puspita dengan tegas menolak lamaran Alyan Hisan. Memang ini sulit Bah, tapi aku harus ngomong sekarang mumpung belum terlambat. Sebelum Alyan Hisan sudah ada yang mau melamarku. Namanya, Dino. Abah pasti tahu anaknya. Dia adalah cinta pertamaku. Puspita harap abah bisa meridhainya.

                                                                    *****

            Dalam perjalanan menuju rumah Puspita, Dino merasa bimbang dan kuatir, sampai saat ini Puspita belum menjawab sms-nya. Ia ga tahu pasti apa penyebabnya. Tapi Dia tetap meneruskan niat awalnya.
            Ketika mau sampai di rumah Puspita, dari jauh Dino melihat ada banyak mobil di rumah Puspita. Sebelum ke rumah Puspita, Ia bertanya dahulu pada orang yang lewat disekitar jalan itu: “Maaf bu, Ada apa ya di rumah Puspita kok ramai-ramai?” Ibu menjawab: ”Ooooo...Anu dek Puspita mau dilamar oleh Alyan Hisan; putera bpk Vano yang kaya itu lho mas”.
            Mendengar jawaban itu, Dino merasa lemas tak berdaya. Ternyata Dia sudah terlambat. Usahanya yang sedemikian besar seolah sia-sia. Sekarang terjawab sudah mengapa Puspita Sari tidak menjawab sms-nya. Ini merupakan ujian sangat berat bagi Dino. Kabar yang sedemikian indah dan membuat dia pulang ke Indonesia hanya terasa seperti fatamorgana. Memang terlihat menjanjikan hal-hal yang indah, bagus namun itu hanyalah ilusi.
                                                                      *****


Bukan Cinta Biasa

Written By Amoe Hirata on Kamis, 13 September 2012 | 17.16

            Panorama dhuha begitu indah. Hawa begitu sejuk memanjakan .Embun pagi bening menyelimuti rerumputan dan tetumbuhan. Sungai-sungai mengalir sedang dan bening. Ikan-ikan di sungai begitu serentak berenang ba` sedang pentas dalam kontes renang. Kumbang-kumbang nampak cantik bergairah menghinggapi bunga-bunga mawar yang sedang mekar di taman pesantren al-Karimah.
            Pagi ini, Puspita Sari sedang menunaikan shalat Dhuha dan istikharah. Begitu khusyuknya Ia shalat seolah tiada segala. Dia bukan main bingungnya. Menghadapi dua pilihan yang begitu sulit. Belum lagi terlaksana pernikahannya dengan Aji, ternyata ada lagi yang mau menikahinya. Sebenarnya Dia tidak akan bingung jika Aji akan menepati janjinya untuk nikah tahun ini. Berhubung studi Aji agak tersendat akibat tesis yang belum terselesaikan, maka Aji menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Puspita.
            Bagaimana tidak bingung dan sedih. Ia merasa sudah mengalami beberapa kegagalan untuk menuju mahligai rumah tangga bahagia. Untungnya Dia adalah wanita yang shalihah, sehingga apapun ujian yang menimpa akan dihadapi dengan hati yang lapang dan sabar. Ia ingat sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wassallam : “Begitu mengagumkan kondisi orang mukmin. Segala kondisi (yang dialami) itu baik baginya. Dan itu tidak dimiliki seorangpun kecuali mukmin. Jika Ia mendapatkan kebahagiaan bersyukur (dan itu) adalah lebih baik baginya. Dan jika Ia ditimpa kesusahan Ia bersabar (dan itu) lebih baik baginya(Hr. Muslim).
            Dalam doa yang ia lantunkan Ia memohon: “ Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini. Tunjukkanlah yang terbaik bagi hamba. Bila memang Aji Kurniawan itu jodohku, maka permudahlah jalannya dan jika Alyan Hisan yang terbaik maka gampangkanlah. Aku berserah diri pada-Mu. Aku ingin membina mahligai rumah tangga bahagia. Aku ingin membina rumah tangga yang yang selalu mengingat-Mu. Yang kuingin bukan cinta biasa. Aku ingin cinta sejati menuju-Mu. Allahumma taqabbal du`aa`. Amiin.
                                                               *****
            Di bandara Berlin, terlihat begitu ramai. Para calon penmpang terlihat berbaris rapi menunggu giliran chak in. Para petugas keamanan dengan penuh semangat mengecek satu persatu koper calon penumpang untuk jaga-jaga biar tidak ada tindakan kriminal.
            Dengan agak tergopoh, Dino beserta rombongan segera cepat-cepat menuju bandara. Ini karena, jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul lima sore dimajukan menjadi pukul tiga sore. Setelah dikonfirmasikan ternyata ada kesalahan teknis jadwal penerbangan. Waktu itu Ia diantar sama Bagas, Sharon, Arjuna, Kasturi beserta dosen dan koleganya.
            Karena kemajuan jadwal inilah akhirnya persiapan Dino mengemasi barang-barang tidak efektif. Banyak sekali barang yang tidak terbawa. Ia hanya membawa yang penting-penting saja. Sebelum berangkat Ia berpamitan pada teman-teman satu persatu. Kemudian Ia meminta salah satu dosenya yang bernama Muhammad Wahed( sebelumnya bernama Friedrhic Ballach) untuk meminta doa pamitan. Dengan segera Ia berdoa: “Ya Allah, Mudahkanlah perjalanan Dino. Anugerahkanlah keselamatan. Kabulkanlah permohonannya untuk menggapai cinta sejati karena yang ia inginkan bukan cinta biasa. Pertemukan Dia dengan Puspita dalam mahligai rumah tangga jika memang itu menuju pada cinta sejati-Mu”.
                                                                         *****
            Gema takbir memenuhi masjidil Haram. Beribu-ribu orang berpakaian ihram sedang melaksanakan ibadah haji. Lantunan dzikir terlantun semarak. Wajah ceria penuh cinta tergambar pada wajah-wajah mereka.
            Pada tahun ini, Aji berazam menunaikan ibadah haji. Dari dahulu Ia ingin melaksanakan ibadah haji. Nah, baru kali ini Ia bisa melaksanakan haji. Betapa senang dan syukurnya ia bertepatan dengan itu judul tesisnya diterima.
            Di bawah naungan Ka`bah, Aji melaksanakan thawaf. Selesai thawaf Ia berdoa: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Waduud. Bimbinglah selalu aku pada kesejatian cinta-Mu. Aku tak mau jatuh pada cinta terlarang yang dibangun berdasar maksiat pada-Mu. Aku ingin cinta fitri. Bukan cinta biasa. Bila Puspita Sari itu jodohku yang dapat mengantarkanku pada cinta sejati-Mu, maka pertemukanlah Aku dengannya dalam jalinan cinta”.

                                                                   *****

            Suara merdu terlantun syahdu. Dihiasi dengan bacaan mulia al-Qur`an. Di serambi masjid al-Hikmah, Alyan Hisan lagi asyik membaca mentadaburi al-Qur`an. Pada waktu itu yang dibaca: wahai Tuhanku anugerahkanlah padaku dari isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam dari orang-orang bertakwa”(al-Furqan: 74).

            Dalam batin Ia bergumam: “Mudah-mudahan Allah menganugerahiku isteri shalihah dan keturunan penyejuk hati dan menjadi penghulu orang-orang bertakwa. Semoga cinta itu adalah Puspita. Yang mengantarkanku pada kesejatian cinta. Bukan cinta biasa  tak bermakna yang malah menjauhkanku dari Maha Pecinta”.

Minta Jabatan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 12 September 2012 | 19.36

             Pada tulisan yang berjudul: ‘Takut Jabatan’, disinggung suatu etika penting berkaitan dengan jabatan. Di antaranya bahwa hubungan seseorang dengan jabatan ialah: diminta bukan meminta, diajukan bukan mengajukan serta dimohon bukan memohon. Kemudian ada peristiwa sejarah yang diabadikan Al-Qur`an ada kisah yang berkaitan dengan orang yang meminta jabatan. Kisah ini berkaitan dengan kisah Nabi Yusuf, yang meminta pada raja mesir kala itu untuk menjadi bendaharawan kerajaan Mesir. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah peristiwa sejarah mengenai Yusuf meminta jabatan dengan hadits-hadits Nabi yang menganjurkan tidak meminta jabatan itu bertentangan? Padahal hadits-haditsnya shahih? Dengan melihat secara sepintas tanpa meneliti dan mencermati terlebih dahulu mungkin orang akan mengatakan ayat dan hadits berkaitan dengan meminta jabatan sangat bertentangan. Namun jika mau jeli dan mau mengumpulkan beberapa hadits dan dengan hati-hati memahami Al-Qur`an sedara komprehensif, maka antara keduanya sama sekali tidak ada pertentangan atau kontradiksi. Ketika Yusuf mengatakan:: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". Yang perlu digarisbawahi dari kata-kata Yusuf ialah kata: pandai menjaga dan lagi berpengetahuan. Dua acuan ini menandakan Yusuf mampu menjabat bendaharawan lantaran dua kualifikasi kompetensi yang dimiliki, karena itu ia minta dijadikan bendaharawan. Lebih luas lagi bahwa Nabi Yusuf mementanya bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk kepentingan rakyat, suasananya juga mengharuskan ada bendaharawan yang mampu mengatasi musibah kemarau panjang dan kelangkaan pangan yang akan dihadapi.
            Dalam sejarah emas sahabat-sahabat Nabi ada dua fenomena peristiwa menarik yang perlu diangkat berkaitan dengan meminta jabatan. Minimal yang mau diangkat pada tulisan ini ialah dua kisah yang sama sekali bertentangan dan disikapi Nabi dengan jawaban yang berbeda. Pertama ialah kisah Abu Dzar Al-Ghifari. Suatu ketika ia meminta jabatan gubernur kepada Nabi, kemudian dijawab: Wahai Abi Dzar engkau adalah orang yang lemah, jabatan itu amanah, jabatan pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang benar-benar menunaikan kewajibannya,(serta mampu) mengemban amanat yang diembannya. Kisah lain dengan tema yang sama dan dengan jawaban berbeda yaitu ketika seorang sahabat yang bernama Ziyad bin al-Harits as-Shuda`i meminta Rasul menjadikan amir(pemimpin)) kaumnya, lalu Rasul membolehkan dan membiarkannya. Ziyad adalah seorang sahabat yang sangat ditaati oleh kaumnya, yaitu kaum Shuda`. Lihat, keduanya sama-sama meminta jabatan tetapi dijawab dengan jawaban yang berbeda. Sepintas memang bertentangan, tetapi bila kita mau lebih teliti dan menganalisa lebih dalam, ada hal yang melandasi jawaban Nabi. Nabi menolak Abu Dzar meminta jabatan karena Abu Dzar adalah orang yang lemah dalam masalah kepemimpinan, bila diteruskan maka malah akan menjadi kerusakan. Rasulpun di akhir hadits secara obyektif juga memberi pengecualian bagi mereka yang mampu mengemban amanah jabatan dengan baik. Sedangkan Ziyad bin Harits mempunya kompetensi tentang kepemimpinan. Ia sangat ditaati oleh kaumnya. Orang yang tidak mempunyai keahlian dan karisma menjadi pemimpin, tidak mungkin ditaati sedemikian rupa oleh kaumnya. Namun ke dua peristiwa itu mengalir pada muara yang sama bahwa keduanya meminta jabatan bukan karena kepentingan pribadi, tetapi kepentingan orang banyak.
            Karena itulah kita harus berhati-hati menyikapi masalah meminta jabatan. Dari sekian banyak orang yang meminta lebih banyak tumbangnya daripada tetap tegarnya. Karena itu juga sangatlah wajar ketika Rasulullah mewanti pada sahabat yang bernama Abdurrahman bin Samurah: Wahai Abdurrahman bin Samurah, kamu jangan meminta jabatan, jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka (beban jabatan akan ditimpakan)padamu, namun jika kamu diberi jabatan tanpa memintanya, maka kamu akan ditolong(Hr. Bukhari dan Muslim). Kita bisa melihat, merasakan, menyimak, mengamati, merenungi fenomena meminta jabatan di desa kita, di kabupaten kita, di provinsi kita hingga negara kita sangatlah menggeliat dan menjamur. Coba lihat hasilnya! Masyarakat, rakyat tambah makmur apa tambah ajur? Kenyataannya malah terpuruk meski memang tidak semuanya seperti itu. Sudahkah mereka siap berlaku seperti Yusuf yang kompeten dan ahli sehingga mampu mengemban amanah?; sudahkah mereka menapaktilas jejak Ziyad bin Harist yang mempunyai kemampuan menggerakkan kaumnya kearah kebaikan?; sudahkah mereka mampu mengedepankan kepentingan umum yang lebih luas daripada kepentingan pribadi, sebagaimana Nabi Yusuf dan Ziyad?; Kemudian sudahkah lingkungan sedemikian mendesak sehingga membuat mereka maju mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin? 
Jawaban itu sangatlah jelas dan tidak perlu dijelaskan karena masing-masing dari kita sudah bisa menjawabnya melalui realita yang ada. Kenyataan yang ada menjelaskan bahwa permintaan jabatan tidak berbanding lurus dengan kemakmuran rakyat, ketika jabatan sudah didapatkan; permintaan jabatan tidak diimbangi dengan motif memprioritaskan kepentingan umum atas kepentingan pribadi ketika jabatan sudah didapat; permintaan jabatan tidak berjalinkelindan dengan kemampuan yang dimiliki. Akibatnya amanah disia-siakan. Ketika amanah disia-siakan, maka merupakan tanda-tanda kehancuran. Ketika Nabi ditanya tentang bagaimana menyianyiakan amanah, Nabi menjawab: jika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran)nya. Dari lembaran sejarah yang dipaparkan di atas, coba dengan jujur kita bertanya pada hati kita: apakah selama hidup, kita  cendrung menjadi orang yang meminta jabatan apa diminta menjabat? Jawaban kita akan mempengarui jalan hidup kita, ketika kita terlibat secara langsung dengan kepentingan orang banyak. Masalahnya apakah kita mampu seperti Nabi Yusuf dan Ziyad ketika meminta jabatan? Kemudian ketika diminta sudahkah kita benar-benar mampu mengemban amanah jabatan? Kalau tidak mending kita zuhud terhadap jabatan, sembari melakukan yang terbaik di tengah kondisi umat manusia yang memperebutkan jabatan. Kerena pada akhirnya jika tak terlaksana dengan baik, hal itu malah akan menjadi kehinaan dan penyesalan kita di akhirat kelak.

Takut Jabatan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 15 Agustus 2012 | 19.34

               Di tengah hiruk pikuk negara yang penduduknya mengimani idiologi demokrasi, fenomena kompetisi jabatan tidak asing untuk diperbincangkan. Bukan karena menjabat sebagai suatu tanggung jawab besar yang harus diemban, tetapi pada realitanya lebih kepada kompetisi formal struktural dan fungsional yang bisa melonjakkan serta meningkatkan level seseorang agar menjadi lebih terhormat, mulia dan disegani. Di saat tertentu memang untuk meyakinkan orang, biasanya digunakan berbagai cara yang persuasif-inovatif dengan mengusung tema besar mengenai kepentingan orang banyak, mengenai isu-isu sosial, sebagai pijakan suksesi mendapatkan jabatan. Jabatan kebanyakan sudah ditanggalkan dari ruh tanggung jawab; sudah diceraikan dari spirit masuliyah(responsibilitas); sudah digugurkan dari rahim tanggung jawab. Kalau kita mengenal istilah dunia dan akhirat, maka jabatan secara umum sudah begitu sangat mendunia dan dijauhkan dari kepentingan akhirat; jabatan sudah sedemekian mengental dengan orientasi duniawi hingga unsur ukhrawinya luluh mencair meninggalkannya. Implikasi riil dari fenomena ini jelas akan semakin mendikotomi manusia dari integritasnya sebagai manusia yang secara transendental memiliki hubungan yang apik denga Sang Penciptanya. Jabatan dalam fenomena ini tentu saja sangat meredusir subtansi manusia. Manusia yang berorientasi jabatan, kebanyakan sudah begitu luntur kemanusiaannya. Ia bukan lagi sebagai manusia seutuhnya. Dalam menilai orang biasanya dengan standar fungsional-struktural dari jabatan yang sedang dijalani. Orang akan dihormati jika memiliki jabatan tinggi. Orang yang jabatannya rendah sama sekali tak diperhitungkan meski kemanusiannya lebih natural, utuh dan orisinil daripada yang punya jabatan tinggi.
            Dari paradigma hukum Islam, jabatan memang tidak dilarang, asal sesuai dengan prosedur syari`at. Tapi masalahnya kemudian ialah bahwa secara etis sebagaimana yang diwejangkan Nabi, bahwa hubungan atau korelasi antara manusia dengan jabatan itu seyogianya ‘diminta’ bukan ‘meminta’; ‘diajukan’ bukan ‘mengajukan’; ‘dicalonkan’ bukan ‘mencalonkan’; ‘diangkat’ bukan ‘mengangkat’. Suatu saat Rasul bersabada yang intinya: “Barangsiapa meminta jabatan, maka akan diserahkan (bebannya) pada dirinya sendiri, sedangkan orang yang diminta menjabat akan ditolong oleh Allah. Lihat perbedaan fundamental dari dua kata tersebut. Allah akan menolong orang yang diminta menjabat dan membiarkan orang yang meminta jabatan menanggung beban jabatan tanpa pertolongan-Nya. Mekanisme demikian memang kurang subur di tanah demokrasi. Ini hanya bernilai mitos bagi kebanyakan orang. Semua mekanisme untuk memperoleh jabatan memang mengarah pada ‘me’ daripada ‘di’. Sebenarnya meski secara teknis iklim demokrasi mengaharuskan demikian, di sisi lain ada sela-sela yang secara kualitatif-subtansial bisa diakomodir untuk menghasilkan output yang positif baik untuk individu maupun sosial. Namun sekali lagi usaha inipun sudah sedemikian langkah dan biasanya tumbuh-berkembang pada manusia-manusia yang secara sosio-kultural termarjinalkan dari berbagai pernak-pernik fungsional jabatan. Kondisi ini secara sadar maupun tidak sadar, memang dimeriahkan dengan kecanggihan media yang dimiliki oleh pihak-pihak yang multi kepentingan individual. Sehingga karena saking terbiasanya, atmosfir kompetisi jabatan semacam tadi sudah bukan hal yang tabu, tetapi sudah menjadi hal yang layak untuk diperlombakan, dan dikompetisikan demi meraih keuntungan pribadi.
            Berkaitan dengan tema: “Takut Jabatan”, ada baiknya kita segarkan kembali ingatan kita dengan sejarah emas sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Pernahkah anda mendengar atau ingatkah pada sosok yang bernama Miqdad bin `Amru? Beliau adalah sahabat yang pemberani, komandan pasukan berkuda di perang Badar, dermawan, penuh hikmah, sangat cinta Nabi, antusias dalam berjihad dan sangat anti pada kedzaliman. Mengenai kemuliaan dan sepakterjangnya dalanm dunia perjuangan dan perjuangan tidak perlu diragukan lagi. Banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga yang dia alami bersama Rasulullah. Salah satu pengalamannya bersama Rasulullah yang berkaitan dengan jabatan ialah bahwa suatu ketika Rasulullah menjadikannya sebagai wali(gubernur), ia mendapatkan jabatan gubernur dari Rasulullah. Ketika sudah menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai gubernur, Rasulullah bertanya padanya: Apa yang kamu dapati dari jabatan gubernur(kepemimpinan)? Miqdad menjawab: Wahai Rasulallah, (ketika aku menjabat) aku mennyangka(menganggap)  bahwa semua manusia adalah sebagai pelayan atau budakku. Demi Allah, aku tidak akan menjabat apapun selama aku masih hidup. Dalam kitab rijal haular rasul kisah Miqdad mengenai jabatan yang senada dengan cerita diatas digambarkan demikian: Pada suatu hari ia diangkat oleh Rasulullah sebagai amir disuatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu  menjadi amir?” Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya: “Anda telah menjadikan daku menganggap diri diatas semua manusia sedang mereka semua dibawahku….Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya.
            Miqdad bukan berarti tak kapabel dan kompeten dalam menanggung jabatan yang diamanahkan padanya. Kita mengetahui bahwa dia bisa diandalkan. Ia sama sekali tak meminta jabatan, tapi diminta. Namun pengalaman pribadinya dalam menjalankan roda kepemimpinan jabatan yang ditanggungnya memercikkan suatu hikmah yang luar biasa, sehingga bernilai filosofis dan penuh hikmah. Bahwa jabatan cendrung menggiring seseorang untuk memandang manusia lain lebih rendah dari dirinya; lebih cendrung mendorong seseorang memandang manusia lain sebagai pelayan, budak dan anak buahnya. Kesadaran itu membuatnya berkomitmen untuk takut jabatan semasa hidupnya. Coba banyangkan, ini ketika jabatan dipegang oleh orang amanah dan sanggup menanggung serta bukan meminta jabatan tapi diminta, mengalami pengalaman semacam ini. Lalu bagaimana dengan atmosfir demokrasi yang melahirkan sistem-sistem yang membuat orang harus meminta jabatan padahal kadang-kadang bahkan sangat banyak sekali yang kemampuanya tidak paralel dengan jabatan yang diemban. Apakah bukan malah membuat sengsara orang lain dan hanya mementingkan kepentingan pribadinya? Jawabanya ada pada pengalaman dan relung hati anda.

Pertaruhan Cinta

Written By Amoe Hirata on Rabu, 08 Agustus 2012 | 17.13

Malam hari kota Heidelberg sedang dibanjiri hujan salju. Musim dingin nampaknya tak kunjung usai. Kondisi demikian biasanya membikin kebanyakan orang males keluar rumah. Mereka lebih suka menghangatkan diri didalam rumah sambil menikmati kopi susu dan minuman hangat lainya. Tak jauh dari kondisi dingin salju itu, Dino terlihat bersikap dingin dan cemberut seakan ada sesuatu masalah besar yang sedang menimpanya. Sepulang kuliah, tidak seperti biasanya ia langsung pergi menuju rumah sewaanya.  Biasanya sepulang kuliah ia mampir dulu ke perpustakaan kampus.
            Ia betul-betul terlihat bingung. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan posisi sulit. Belum lama lamaranya ditolak oleh orangtua Wangi Bunga Kasturi, karena ia bersikukuh untuk bepegang teguh pada agamanya dan ingin segera menikahi Kasturi. Ternyata tidak sampai disitu, tadi pagi salah satu dosen wanitanya bernama Diana Lhorenza juga sedang memberikan pilihan sulit pada Dino. Dia merupakan doktor utama penguji skripsinya. Diam-diam dosen itu menyukai Dino. Dino diberi pilihan kalau mau lulus dia harus rela bercinta dengan dosennya. Kalu tidak ia terancam tidak lulus.
Dino masih termenung seorang diri. Ia disIbukkan oleh pilihan sulit. Antara lulus S1 tapi bercinta dengan dosen yang tidak ia cintai itu, atau ia memilih tidak lulus tapi idealisme yang ia bangun selama ini akan gagal dengan sia-sia belaka. Rasa pusing semakin membebaninya. Disaat seperti itu ia ingat Bapaknya pernah berpesan:” Nak, railah segala sesuatu dengan  cara yang jujur dan tidak mengorbankan prinsip, bila engkau dihadapkan dengan pilihan sulit tetaplah berpegang pada kejujuran dan memegang prinsip, jangan sampai hanya karena idealisme engkau rela tidak jujur dan mengorbankan prinsip”.
Ingatan itu seakan datang sebagai solusi. Ia datang pada saat yang tepat. Hatinya sekarang sudah sangat tenang. Dia mantap akan memilih pilihan yang kedua yaitu rela tidak lulus demi mempertahankan kejujuran dan prinsipnya. Ia rela tidak lulus S1 jika harus mengorbankan prinsip nila yang telah ia pegang selama ini.
Memang benar-benar terjadi. Sewaktu Dino menyampaikan pilihan kedua dosenya tiba-tiba naik pitam dan mengancam tidak akan meluluskanya. Dengan sikap tabah dan tenang Dino menimpali:” Lakukanlah apa saja yang anda inginkan, bagi saya kejujuran dan prinsip itu lebih utama dari hanya sekedar kelulusan, saya heran di negara yang bebas ini masih ada pemaksaan-pemaksaan kehendak”.
            Melihat Dino yang begitu kuat memegang prinsip itu Diana Lhorenza tidak berdaya. Karena merasa kalah dan malu ia benar-benar akan tidak meluluskan Dino. Dalam hati kecilnya diam-diam ternyata takjub dan iba melihat ketabahan dan kekuatan Dino dalam memegang prinsip namun dia tetap bersikeras untuk tidak meluluskan Dino.
Pasca kegagalan studi yg dialaminya ia memutuskan untuk keluar dari kampus dan belajar secara otodidak sambil mengembangkan teori-teori yang diperolehnya selama belajar dikampus. Tak hanya itu ia rajin manjalin komunikasi dengan dokter-dokter ternama di kota itu hingga ia mendapat pengalaman yang luar biasa.Ketika Dino sedang asyik membaca buku ia mendapatkan sms dari pamanya; Ibnu Sina:” Dino bagaimana kabarmu? Kapan kamu balik ketanah air? Paman dan keluarga sangat kangen sama kamu, Kamu bilang kuliah disana tinggal dua bulan lagi, paman harap kalau sudah selesai kamu segera pulang karena perusahaan sedang membutuhkanmu, ada berita yang mungkin cukup bagus bagi kamu, Puspita sari denger-denger tidak jadi nikah dengan Aji yang lulusan Madinah, barang kali ini adalah kesempatan bagimu untuk segera melamarnya kembali sebelum dilamar orang, paman tahu kau masih mencintainya”.
Sms itu membuat Dino agak sedikit kaget. Gadis cinta pertamanya sampai saat ini ternyata masih belum menikah. Yang jelas dia akan mendapat peluang besar jika dia segera pulang dan melamarnya. Tapi ia agak ragu karena dengan pulang tanpa membawa ijazah seolah telah mengecewakan pihak keluarga dan merasa bohong kepada Puspita karena ternyata studinya gagal. Lagi-lagi ia bingung seolah berada dalam pertaruhan cinta. Kalau ia tidak pulang kesempatan akan lenyap. Kalau pulang dengan tanpa membawa ijazah dia akan mengecewakan keluarga dan merasa membohongi puspita.
Ia belum bisa menjawab. Ia hanya menulis puisi:

Ketika benih-benih cinta tumbuh indah memesona
Menghiasi taman-taman jiwa yang bersemai sayang
Ku sambut bunga cinta dengan aroma kasih
Yang ku tebar melalui wangi janji setia
Tak kusangka keindahan itu diterpa badai
Hingga bunga itu tak dapat ku jamah dan kucium wanginya
Aku tak patah arang meski patah hati
Ku terus  pergi jauh  lalui rambu-rambu cinta
Hingga tanpa sadar bunga cinta itu kembali tumbuh mekar
Kalbu merasa gunda
Apakah aku harus memetik bunga cinta yang sama
Jiwa sedang menghadapi dilema

Dalam pertaruhan cinta
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan