Latest Post

Dosa Jariyah Kian Laris, Amal Jariyah Kian Tipis

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 21 Juni 2014 | 20.02


            Sungguh tragis. Indonesia yang katanya penduduknya mayoritas beragama Islam, tapi perilaku penduduknya kebanyakan masih kontras dengan nilai-nilai agama yang dipeluk; penduduknya kebanyakan masih mengabaikan nilai-nilai agama yang dianut. Pada realita yang berkembang saat ini, kita sering – bahkan sudah terbiasa - disajikan fenomena-fenomena yang kontradiktif. Kita bisa menemukan ustadz yang penipu, kiai yang menghamili santri,  mentri agama yang korup, pemimpin partai Islam yang korup, orangtua yang mencabuli anaknya sendiri, dana infak dan sedekah yang disalahgunakan, ukhuwah islamiyah yang centangperenang, dan lain sebagainya. Kita akan bertanya-tanya kenapa fenomena itu bisa terjadi di tengah masyarakat yang penduduknya terkenal beragama dan sangat sedikit yang atheis. Apakah agamanya yang salah atau pemeluknya? Pada dasarnya tidak ada agama –kalau memang benar-benar agama dari Allah- yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kejelekan, namun pada faktanya pemeluknya lah yang biasanya mencemarkan nilai-nilai agama yang dianut. Jadi keluhuran nilai agama tidak sebangun dengan keluhuran laku pemeluknya; kebaikan nilai agama tidak berbanding lurus dengan kebaikan pemeluknya.
            Bila diamati secara mendalam, fenomena tersebut terjadi karena semakin larisnya dosa jariyah di kalangan umat Islam. Ditambah lagi, kesadaran untuk meningkatkan amal dan sedekah jariyah semakin menipis. Yang dimaksud dengan dosa jariyah ialah dosa yang terus mengalir meski penduduknya telah meninggal. Sedangkan sedekah jariyah ialah sedekah yang pahalanya senantiasa mengalir meski pelakunya telah meninggal. Untuk yang pertama landasan normatifnya ialah sabda Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi wasallam: “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim). Jadi setiapa pelopor, pionir amal kejelekan mereka akan mendapatkan dosa jariyah. Hadits lain menyetakan: “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim). Yang mengajak pada kesesatan juga akan mendapatkan dosa jariyah.
Adapun yang berkaitan dengan sedekah dan amal jariyah ialah hadits: ‘Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i, Turmudzi, dan yang lainnya. Hadis ini dishahihkan Al-Albani). Dengan hadits lain yang menjadi pasangan dari hadits dosa jariyah di atas, yang artinya sebagai berikut: “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka”(HR. Muslim). Hadits ini dengan tegas mengatakan bahwa pelopor atau perintis amal baik maka akan mendapat pahala yang dari amal baiknya dan orang yang menirunya tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. Hadits lain menyatakan: “Siapa yang mengajak pada petunjuk, dia mendapat pahala, seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun”(HR. Muslim). Yang mengajak kepada petunjuk juga akan mendapatkan pahala jariyah(tak terputus dan tak dikurangi sedikitpun).
Sekarang mungkin secara kuantitas memang umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, tapi secara kualitas pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam sangatlah minoritas. Banyak sekali dijumpai pelopor-pelopor kebiasan buruk, contoh saja membuat trend pakaian yang menyalahi Islam(jilbab gaul, kudung gaul dan lain sebagainya), menyebarkan pornografi dan pornoaksi, menyontohkan kejelekan di depan orang banyak supaya ditiru. Banyak juga yang mengajak orang menuju kesesatan. Ajaran agama menjadi tontonan, sedang tontonan menjadi tuntunan. Sudah tidak merasah risih dengan maksiat, asalkan diri merasa nikmat. Coba bandingkan dengan orang yang bersedekah dan beramal jariyah banyak mana dengan orang yang melakukan dosa jariyah? Bahkan diantara sekian banyak orang yang beramal dan bersedekah jariyah pun kadang-kadang masih gugur amal dan sedekahnya dikarenakan ketidakikhlasan. Ini sebuah gambaran nyata dari suatu kondisi ketika keburukan mendominasi kebaikan; ketika kebaikan dikalahkan keburukan. Dosa jariyah kian laris, amal jariyah kian tipis. Bila sudah sampai pada tahap ini siap-siap saja menunggu teguran, peringatan atau bahkan siksa dari-Nya.

Manajemen Bakul Klepon


            Sepulang dari acara diskusi yang membahas tentang, ‘peluang dakwah di jagad media’, Sarikhuluk mendapatkan oleh-oleh menarik yang bisa diceritakan kepada teman-teman kampungnya di rumah. Ia sampai rumah ba`da Isya` dan langsung bergabung dengan Paijo, Paimen, Parman dan Paidi. “Arek-arek, tadi pas aku di seminar tentang ‘peluang dakwah di jagad media’ ada pernyataan menarik yang perlu aku bagikan pada kalian. Syukur-syukur nanti bisa dielaborasi dengan kondisi riil di kampung kita” dengan mantap Sarikhuluk memulai pembicaraan. “emang apa pernyataan menariknya?” tanya Paijo penasaran. “Di sela-sela pembicaraan, narasumber –wartawan senior Gatra( Harry Muhammad)- menyatakan tentang: Manajemen Bakul Klepon” jawab Sarikhuluk. “Kalau kata ‘manajemen’ aku mengerti, kata ‘klepon’ pun aku juga mengerti. Tapi apa Luk maksud dari ‘manajemen bakul klepon’” tanya Paimen keheranan. “Manajemen Bakul Klepon, adalah istilah yang didapat oleh narasumber dari salah satu bakul klepon yang ia kenal. Bakul klepon mempunyai manajemen seperti ini: bangun dini hari, kerja sendiri, kalau sudah jadi nanti dijual sendiri. Menjualnya harus sampai habis dan cepat, karena klepon merupakan kue yang ada taburan kelapa yang membuat tak tahan lama. Jika sampai malam tidak laku-laku, maka klepon akan mambu(busuk) tak layak dikonsumsi. Ini artinya: rugi waktu, rugi tenaga, dan rugi usaha. Suatu gambaran manajemen yang dikerjakan secara perorangan tanpa melibatkan orang lain. Manfaatnya kalaupun ada sangat terbatas tak sampai meluas, tapi resikonya kalau gagal dijual, pasti rugi waktu, tenaga dan usaha. Jadi, istilah ‘manajemen bakul klepon’ adalah manajemen yang dilakukan oleh individu tanpa melibatkan peran orang lain, sekup manfaatnya sangat terbatas dan kecil, dengan risiko kerugian yang tak kecil. Begitu kira-kira inti dari ‘manajemen bakul klepon’.
            “Lha kaitannya dengan ‘peluang dakwah di jagad media’ apa Luk?” tanya Paidi. “O iya sampai lupa. Istilah itu diangkat oleh narasumber untuk menganalogikan orang-orang yang suka menulis di blogg internet. Ia nulis sendiri, dibaca sendiri, diamati sendiri, manfaatnya sangat sedikit, terbatas hanya untuk diri sendiri dan orang tertentu saja yang tahu bloggnya. Ia merasa puas dengan sekadar menulis dan menikmatinya sendiri. Sehingga manfaat tulisan yang ia buat tidak meluas ke berbagai lapisan masyarakat. Karena tulisannya hanya dinikmati sendiri, lama-lama tulisan pun akan dilupakan dan tak bisa dimanfaatkan ibarat klepon yang mambu(sudah busuk). Penulis semacam ini  sangat menyia-nyiakan bakat, dan manfaat. Seharusnya bakatnya bisa dipertajam dengan menulis di media-media cetak untuk berdakwah yang sekaligus bernilai manfaat sosial, tetapi malah merasa cukup dengan hanya menulis di blogg saja. Demikian kaitannya dengan ‘peluang dakwah di jagad media’” jawab Sarikhuluk. “Ealah Luk, gitu toh maksudnya. Kalau aku boleh mengelaborasi, istilah itu sebenarnya juga sangat relevan dengan kondisi kepala desa di kampung kita” sahut Paimen. “Maksudmu apa Men?” tanya Paijo. “Apa kamu tidak melihat gaya kepemimpinan Kepala Desa kita, Satuman? Dia itu sudah bertahun-tahun jadi kepala desa, tapi manfaat untuk masyarakat desa sangat kecil. Memang dia secara formal menjadi Kepala Desa, tetapi ia samasekali tak mempunyai kemampuan leadership yang cakap. Sehingga apa-apa dikerjakan sendiri, diatur sendiri, digagalkan sendiri. Siapa saja pengurus yang tak nurut pasti akan dipecat. Akhirnya para pengurus desa membiarkannya melakukan tindakan semaunya sendiri, yang penting tidak merusak kepentingan mereka. Dia semakin kaya, tapi masyarakat semakin sengsara. Merupakan gaya kepemimpinan semi-otoriter yang kadar manfaatnya sangat sedikit. Diri merasa hebat, padahal masyarakan tambah melarat.” Sahut Parman menjelaskan.
            “Kalau itu yang dimaksud ya bukan saja mencakup masalah dunia kepenulisan dan kepala desa saja. Secara subtansi, makna dari istilah ‘manajemen bakul klepon’ bisa merambat ke ranah manajemen apapun. Bisa manajemen pendidikan, kesehatan, sosial, instansi agama, perusahaan, media massa dan apapun saja yang membutuhkan manajemen. Contoh konkrit misalkan dalam dunia pendidikan; betapa banyak Kepala Sekolah yang menjadi kepala sekolah yang individualis. Dia memimpin dengan gaya semaunya sendiri. Semua dikerjakan sendiri, Bila ada yang protes pasti akan dimarah-marahin. Demikian dalam ranah kesehatan. Dokter dengan semena-mena mengharuskan pasien untuk mengonsumsi obat dengan kemauannya sendiri tak melihat pada dosis-dosis yang seharusnya. Demikian juga dalam ranah perusahaan dimana manajer memberlakukan manajemen yang egoistis, sehingga membuat para pekerja sengsara dengan pekerjaannya. Media massa pun bisa terkena istilah tersebut ketika media massa yang harus netral menjadi tidak netral. Media massa dijadikan alat untuk meluluskan kepentingan pihat tertentu, tanpa mempertimbangakan manfaat sosial dan normo-hukum. Yang menguntungkan diri –meski salah- terus didukung, sedang yang merugikan diri –meski benar- pasti dipasung. Sekarang ini adalah masa dimana ‘manajeman bakul klepon’ menggejala di mana-mana. Kebanyakan orang sudah menjadi individualistik, egoistik dan memperjuangankan kepentingan golongan tertentu. Meskipun secara normatif-sosial, slogan-slogan yang disampaikan untuk kepentingan orang banyak, tapi pada kenyataannya hak sosial diinjak-injak. Berjuang untuk diri sendiri, mencari bahan-bahan untuk perjuangan diri, yang ditujukan untuk kepentingan sendiri. Aduh kalau yang semacam ini memang sudah banyak kita jumpai di negara kita.” Tambah Paijo.
            “Oke sekarang gini, kata kunci dari istilah ‘manajemen bakul klepon’ `kan tadi sudah dielaborasi dengan realita yang ada. Nah sekarang yang penting kita pikirkan ialah apakah kita sebagai individu sudah steril dengan istilah itu? Jangan sampai kita itu hanya pandai mengungkap dan mengkritisi masalah, sedangkan diri sendiri melakukannya dan tak bisa mencari solusi. Diantara istilah berikut sebenarnya kita masuk yang mana: problem spiker(pembicara masalah), problem maker(pembuat masalah), atau problem solver(pemecah masalah)? Setelah kita diskusi nanti harus ada tindaklanjutnya atau followup-nya. Mungkin di desa kita banyak sekali fenomena seperti itu, tapi yang terlebih penting ialah kita introspeksi diri dulu, apakah kita masuk kategori itu apa tidak. Kalau memang sudah bersih, tentunya harus disikapi dengan sikap sebaik-baiknya. Banyak sekali orang tak mau berubah dari kesalahannya gara-gara disikapi dengan cara yang salah. Orang bersalah itu sebenarnya tak membutuhkan banyak petuah, tapi teladan yang bisa menarik hatinya. Ia sendiri sebenarnya tahu kalau salah, tetapi ia juga memerlukan dorongan keteladanan dari luar dirinya agar bisa bangkit dari kesalahannya. Forum diskusi di pendopo Al-Ikhlas ini sebenarnya aku buat untuk mangatalisatori perubahan-perubahan sosial dengan cara sebaik-baiknya melalui diskusi yang bebas, mencerahkan dan mencerdaskan. Kita juga bukan saja berhenti pada ranah diskusi saja, tetapi juga bergerak dalam bidang sosial-kemasyarakatan. Aku berusaha memfasilitasi –meski dengan fasilitas skadarnya- setiap apa saja dan siapa saja yang mau berubah menjadi lebih baik dan mau bermanfaat dengan manfaat seluas-luasnya. Berkaca pada semangat islam yang ‘rahmatan lil `âlamin(rahmat bagi sekalian alam)’, maka seharusnya kita berusaha selalu di garda depan dalam mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya” demikian Sarikhuluk memuncaki diskusi.

Investasi Kezaliman

Written By Amoe Hirata on Jumat, 20 Juni 2014 | 20.30


            “Cak! aku ini sudah menjadi karyawan bertahun-tahun, aku juga sudah bekerja dengan keras, aku berusaha disiplin, tapi yang membuatku heran gajiku tak naik-naik. Jangankan naik, wong kadang-kadang telat sampai berbulan-bulan. Kalau aku perhatikan, bosku bukannya tak punya uang, tapi ya gitu ada saja alasan kepada seluruh karyawan jika sudah waktunya gajian. Aku ini melarat cak. Anakku lima, semua masih sekolah dan perlu biaya, lha mau dibayar pakai apa kalau gajiku telat-telat gini? Yang membuatku mangkel (marah) ialah kalau yang meminta uang adalah orang terdekatnya, atau yang masih ada pertalian kerabat dengannya, dengan ringan tangan ia pasti dengan mudah memberikan uang. Adapun yang tak disukai, dilirik saja tidak apalagi diberi kesejahteraan? Wes tah kalau seperti ini terus lebih baik aku keluar saja” demikian keluhan Pak Shodiqun (seorang karyawan di pabrik Nuansa Indah Adi Permata – salah satu perusahaan mebel-) kepada Sarikhuluk. Sarikhuluk yang mendengar brondongan keluhan, dengan santai menenangkan pak Shodiqun: “Monggo diminum dulu teh hangatnya! Tenangkan pikiran. Jernihkan hati. Jangan sampai hati sampean dikuasai kebencian sehingga merusak kebaikan yang sampean lakukan selama ini. Dalam Islam kita diajari untuk tabayyun( mengklarifikasi, memverifikasi, mengecek, meneliti) kebenaran berita terlebih dahulu ketika mendengar berita dari orang atau mengalami sesuatu yang belum begitu jelas masalahnya. Terkadang yang dirasakan orang, itu tak lebih dari prasangka buruk yang menghinggapi dirinya, sehingga mengurangi obyektivitasnya dalam menilai sesuatu. Jadi pertama yang ingin aku ingatkan, jangan sampai anda menetapkan sesuatu yang belum anda ketahui informasinya secara utuh”.
            “Cak! Apa yang ku bicarakan tadi itu benar-benar aku alami. Selama ini `kan njenengan tahu kalau kebohongan itu adalah pantangan ku, jadi mana mungkin aku bertindak gegabah dengan menuduh seseorang tanpa bukti. Yang mendapat perlakuan seperti itu bukan hanya aku saja cak. Iman, Ma`mun, Slamet, Handoko dan Sujatmiko juga mendapat perlakuan yang sama, gara-gara terlalu mengkritisi kinerja dan menejemen perusahaan yang kurang begitu transparan” cerocos Shodiqun dengan mantap membela diri. “Bukannya aku meragukan keamanahanmu Diq, sebagai sesama muslim aku hanya berusaha memagari setiap langkah, omongan dan perbuatan kita dengan ‘pagar husnudzan(prasangka baik)’ supaya bisa menyikapi masalah dengan penyikapan yang obyektif, orisinil dan terbebas dari kebencian dan ketidakadilan. Kalau kamu menghadapi kezaliman dengan cara-cara yang zalim pula, lalu apa bedanya kamu dengan dia? Jadi tolong niat ditata! Usahakan niatmu itu untuk kebaikan bersama, untuk keadilan bersama. Jangan sampai hanya mementingkan kepentingan sendiri, karena seperti pengakuanmu tadi, orang yang diperlakukan sepertimu itu banyak” saran Sarikhuluk. “Astaghfirullah.... ya cak semoga niat saya ini baik dan tulus untuk kepentingan bersama. Terus gini cak, aku juga mau tanya bagaimana pandangan Rasulullah berkaitan dengan apa yang aku alami saat ini?” jawab Shodiqun sambil menanyakan sesuatu.
            “Saranku tetap seperti pertama. Kamu klarifikasi dulu kebenaran beritanya dengan cara menjalin komunikasi yang baik dengan bosmu. Kemudian kalau masalah pandangan Rasulullah mengenai kepegawaian, paling tidak ada beberapa hadits yang pernah aku hafal. Pertama: “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan". (HR. Baihaqi). Ada juga yang semakna dengan itu: “Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR.Ibnu Majah dan Imam Thabrani). Bayangkan! Bagaimana kasih sayang Rasulullah Shallalahu `alaihi wasallam kepada para pekerja. Beliau dengan keteladanan luar biasa kepada umatnya, mengharuskan setiap orang yang mempekerjakan orang untuk segera memberi upah sebelum keringatnya kering. Ini menggambarkan perhatian yang serius dan segera. Keringat belum kering berarti pekerjaan belum selesai, atau pekerja baru menyelesaikan tugasnya, dengan lekas harus diberi gajinya. Tapi kamu bisa menilai sendiri, pada kenyataannya apakah setiap pengusaha muslim mampu meneladani perintah Rasul tadi? Betapa banyak hak-hak pekerja yang tidak ditunaikan? Aku pikir masih banyak sekali yang menzalimi para buruh dan karyawan. Bahkan aku sering melihat sendiri.” Sambil jeda sebentar, Sarikhuluk meminum kopi hangat di sampingnya.
            “Hadits kedua yang pernah aku hafal artinya begini: ‘Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw. bahwa beliau bersabda: “Allah telah berfirman: “Ada tiga jenis manusia dimana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat. Pertama, adalah orang yang membuat komitmen akan memberi atas nama-Ku (bersumpah dengan nama-Ku), kemudian ia tidak memenuhinya. Kedua, orang yang menjual seorang manusia bebas (bukan budak), lalu memakan uangnya. Ketiga, adalah orang yang menyewa seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya’ (HR. Bukhari). Perhatikan kategori terakhir dari hadits yang aku bacakan baru saja! Diantara manusia yang kelak di akhirat akan dimusuhi oleh Allah, ialah mereka yang menyewa seorang upahan (pegawai, pesuruh, karyawan), menyuruhnya bekerja secara maksimal tetapi tidak membayar upahnya. Orang yang dimusuhi oleh Allah jelas-jelas tak akan mencium bau surga, apalagi dimasukkan ke dalamnya. Coba kamu bayangkan ketika di akhirat kelak kamu dimusuhi, dicueki Allah, bagaimana kira-kira rasanya? Inilah akibatnya jika hak-hak karyawan, pekerja, pesuruh tak dipenuhi dengan baik. Itulah beberapa hadits yang aku ingat. Kalau kamu menjumpai orang seperti itu berarti orang itu seperti berinvestasi kezaliman untuk kesengsaraannya kelak di akhirat” lanjut Sarikhuluk.
            “Lalu aku sekarang harus bagaimana cak?” tanya Shodiqun. “Usahakan dulu komunikasi yang baik dengan bosmu. Kalau ternyata masih buntu dan bosmu sewenang-wenang, maka mau tidak mau kamu harus memilih diantara dua keputusan: antara sabar dengan kondisi yang ada, disambi usaha lain sembari senantiasa berdoa kepada Allah, atau kamu keluar sekalian memilih tempat yang lebih layak dan adil. Tapi kamu juga harus ingat, semangat untuk menuntut hak harus berbanding lurus dengan semangat untuk menunaikan kewajiban. Aku dengar temanmu yang bernama Sujatmiko sukanya menuntut hak, tapi kewajibannya terabaikan, kalau seperti itu namanya kurang ajar. Wong kerjanya tak disiplin tapi hak ingin dipenuhi” nasihat Sarikhuluk. “Terus ada lagi ga cak pesan-pesan sebelum aku pergi?” tanya Shodiqun. “Dengar dan ingat baik-baik kata-kataku. Orang yang mencari keuntungan dengan menzalami orang lain, sama saja seperti orang yang menghancurkan masa depannya. Mungkin orang itu terlihat sehat-sehat saja dengan kekayaannya yang ada, tapi ada waktu dimana ia akan terjatuh. Hanya Allah yang tahu kapan ia akan jatuh. Dalam istilah al-Qur`an, orang yang dibiarkan sukses dengan kezalimannya tanpa teguran berupa cobaan atau ujian, maka namanya istidrâj(dibumbung, digugu, dibiarkan, dicuekin) hingga ketika ia terlena dengan nikmat yang melimpah, pada akhirnya Allah akan menimpakan kesengsaraan padanya. Kamu tenang saja menghadapi orang seperti itu. Investasi kezaliman yang sedang ia jalankan sejatinya malah menguntungkanmu. Ia rela berinvestasi untuk kebahagiaan sementara demi kesengsaraan abadi. Sedangkan kamu -kalau bersabar-, berarti rela menderita demi kebahagiaan sejati di akhirat. Ingatlah, kesudahan yang buruk akan dialami oleh mereka yang suka ‘investasi kezaliman’. Karena kesuksesan mereka diraih berdasarkan merenggut hak-hak orang. Semoga aku, kamu, dia, mereka dan siapa saja terhindar dari perbuatan buruk seperti itu. Wallahu a`lam bisshawab” pungkas Sarikhuluk.

Salam Ajaib


            Mendapat jawaban salam dari ayah, itu biasa. Mendapat jawaban salam dari ibu, itu wajar. Mendapat jawaban salam dari sahabat, itu lumrah. Bahkan mendapat jawaban salam dari kekasih pun sangatlah biasa, demikian juga ketika mendapat jawaban salam dari sesama manusia, itu juga termasuk biasa karena masuk dalam lingkup manusia. Yang luar biasa ialah ketika kita mendapat jawaban salam dari makhluk yang bukan manusia. Kita tidak bisa berinteraksi dengan mereka, kita juga terkadang tak bisa melihat mereka, tetapi ketika menyampaikan salam, langsung mendapat jawaban dari mereka. Mereka bisa berupa tumbuh-tumbuhan, bebatuan, jin bahkan mungkin malaikat. Kalau ada orang yang menyampaikan salam kepada salah satu diantara mereka, maka salam yang disampaikan adalah salam ajaib. Mengapa ajaib? Ajaib karena sebagai manusia -yang memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi dengan makhluk selainnya- tentunya tak akan mengerti dan mampu menyampaikannya dengan bahasa yang mereka mengerti karena bahasa manusia itu berbeda dengan bahasa makhluk selainnya. Di sepanjang sejarah yang bisa berkomunikasi dengan mereka ialah Nabi Sulaiman `alaihissalam. Karena itulah, jika ada diantara manusia yang menyampaikan salam kepada salah satu diantara mereka, kemudian mereka menjawabnya dan manusia itu mengerti maka salam yang ia sampaikan merupakan salam ajaib, dahsyat dan sungguh mencenganggkan.
            Mungkin diantara kita ada yang menyangkal: “ya kalau hanya salam kepada makhluk halus, para dukun pun terlalu mampu untuk berinteraksi dengan mereka. Komunikasi mereka dengan jin kan sudah sangat biasa. Bagi para dukun mungkin sudah tak teranggap aneh dan ajaib”. Sebelumnya saya ingatkan terlebih dahulu bahwa salam yang dimaksud dalam tulisan ini ialah salam islami, yaitu: ‘assalamu`alaikum warahmaullâhi wabarakâtuh’. Artinya, salam yang dipergunakan hanya oleh mereka yang terikat dengan ikatan iman; salam yang disampaikan hanya oleh mereka yang tertaut dengan ikatan keislaman. Karena dalam masalah salam, Islam sudah mengaturnya secara tersendiri. Salam islami hanya bisa disampaikan kepada sesama muslim. Bahkan ketika ada sahabat yang bertanya pada Nabi, tentang hukum menjawab salam orang non-muslim maka kata beliau cukup dengan: ‘wa`alaikum’. Ini berarti tidak dijawab sesuai dengan jawaban salam semestinya. Jadi salam islami adalah salam spesial dan khusus bagi mereka yang mempunyai ikatan keimanan dan keislaman. Dengan demikian, kalau kita mengatakan salam ajaib, berarti jawaban salam yang didapat dari jin muslim, malaikat atau bahkan Allah ta`ala. Pertanyaannya ialah: mungkinkah kita mendapat jawaban salam dari mereka? Dengan keterbatasan yang kita miliki, baik dalam hal komunikasi maupun interaksi? Bisakah diberi contoh dalam sejarah yang menunjukkan peristiwa itu?
            Mendapat salam dari jin muslim, malaikat, bahkan Allah sangat mungkin terjadi meskipun kita dibatasi oleh ketidakmampuan dalam berkomunikasi, tapi dengan perantara orang lain. Dalam sejarah lembaran emas sejarah sahabat Nabi ada sahabat yang mampu menyampaikan salam kepada malaikat dan Allah, dan ia mendapatkan jawaban langsung dari keduanya. Sahabat yang pertama ialah Abdullah bin `Amru bin al-Ash, sedangkan yang kedua ialah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid. Abdullah bin `Amru bin al-`Ash meriwayatkan:  suatu hari aku berada bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di rumahnya. Lalu Rasulullah bertanya padaku: “Apa kamu tahu siapa yang sedang bersama kita di rumah ini?”, aku pun balik bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?”, belia menjawab: “(yang bersama kita ialah) Jibril `alaihissalam”, lalu aku berkata: “Assalamu`alaika ya Jibrilu warahmatullâhi”, lalu Rasulullah berkata: Sesungguhnya ia (Jibril) telah menjawab salammu”(Hr. Thabrani). Sedangkan riwayat berkaitan dengan Khadijah ialah sebagai berikut: "Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah, ia datang dengan membawa sebuah bejana dan wadah yang berisikan lauk-makanan serta minuman. Maka, jika ia telah sampai kepadamu, sampaikanlah kepadanya salam dari Tuhannya dan dari ku, dan beritahukanlah kepadanya sebuah kabar gembira berupa sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari kayu yang di dalamnya menyenangkan, dan tidak ada kepayahan serta kesusahan.” (Hadits Riwayat Bukhari).
            Demikianlah yang dimaksud dengan salam ajaib. Sebagai muslim tentunya berkaitan dengan masalah ‘salam ajaib’, yang menjadi pertanyaan mendasar bukanlah: “mungkinkah kita mendapatkannya? Kalau mungkin bagaimana caranya, wong Nabi sudah tiada, lalu dengan perantara siapa kita akan menyampaikan salam kepada mereka?”, sama sekali bukan karena seumur hidup mereka sedari awal juga tidak berambisi –bahkan tak terlintas dalam benaknya- mendapat ‘salam ajaib’. Justru yang harus menjadi pertanyaan mendasar sebagai seorang muslim ialah: “Kenapa Abdullah bin `Amru bin al-`Ash dan Khadijah binti Khuwailid bisa mendapatkan kemuliaan seperti itu? Apa saja kontribusi mereka berdua dalam Islam sehingga mendapat keagungan seperti itu?”. Bila kita menilik sejarah mereka berdua maka akan kita dapati bahwa keduanya adalah pejuang dalam Islam. Abdullah bin `Amru bin al-`Ash adalah diantara para sahabat yang banyak mencatat hadits, ia juga zuhud, ahli ibadah, dan gemar berjihad. Demikian pula Khadijah, hari-harinya bersama Rasulullah diisi dengan perjuangan tiada kira. Ia membantu perjuangan suaminya sebagai Nabi, hingga hartanya ludes di jalan Allah. Sebagai istri ia bukan saja turut berpartisipasi dalam perjuangan, tapi ia juga mampu menjalankan perannya sebagai istri shalihah yang menentramkan hati suami di kala gundah; menghibur suami ketika dirundung pilu; menjadi pelipur lara di kala duka. Kalau kita ringkas sepakterjang keduanya ialah dalam dua kata, yaitu keikhlasan dan perjuangan. Dengan keikhlasan dan perjuangan, mereka mampu menjadi manusia muslim yang mendapat kemulian dan keagungan dari Allah ta`ala. Sebagai manusia biasa, siapa yang tak senang jika mendapat salam dari malaikat dan Allah. Tapi pertanyaannya sudahkah kita memiliki keikhlasan seperti mereka berdua? Dan apa kontribusi kita dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam? Jawabannya ada dalam benak anda masing-masing.


Sumengko, Jum`at 20 Juni 2014/09:46

Cinta Pribadi Menuju Cinta Sejati

Written By Amoe Hirata on Kamis, 19 Juni 2014 | 10.03


Dengan iman dan amal shalih
Kisah cintanya dimulai
Mendapat suami yang shalih
Perjalanan cinta dititi

Pernah berhijrah
Sebanyak dua kali
Demi melaksana titah
Tuhan yang diimani

Ketika tahun ketiga hijriah
Suami tercinta meninggal pergi
Ia memang sedih, namun pasrah
Pada takdir Tuhan yang Maha Memberi

Kemana ia mengarah
Pasca ditinggal suami
Ia hanya bisa berserah
Pada yang Maha Suci

Pada tahun keempat hijriah
Takdir menghampiri
Cintanya dijawab Allah
Dengan cinta sejati

Menjadi istri rasulullah
Adala hkebahagiaan tak terperi
Wahai Bunda Ummu Salamah
Radhiyallahu `anki

Semoga wanita muslim terarah

Pada teladan-mu yang penuh arti

Dolly Dholâli Dholâlunâ

Written By Amoe Hirata on Rabu, 18 Juni 2014 | 20.22


            Sejak pagi rumah Sarikhuluk terlihat sepi. Suasana begitu lenggang. Tak ada kabar tak ada berita, tiba-tiba ia menghilang. Hari ini (Rabu, 18 Juni 2014) adalah hari bertepatan dengan penutupan wisma Dolly, yang merupakan tempat pelacuran terbesar di Asia Tenggara. Sebenarnya hari ini Sarikhuluk banyak kedatangan tamu. Ketiadaannya membuat orang-orang pada bertanya: “Mengapa Sarikhuluk menghilang di saat kita membutuhkan pencerahan?”. Tiba-tiba ada yang teriak memanggil dari arah samping dekat pendopo Al-Ikhlas, ‘Hai, kesini semuanya. Di Mading Al-Ikhlash ada tulisan yang ditinggal Sarikhuluk’. Akhirnya secara serentak mereka berbondong-bondong mendekati mading Al-Ikhlash. Tulisan itu hanya berbentuk sajak yang isinya membuat orang-orang semakin bingung:

Dolly Dholâli Dholâlunâ
By: Muhammad Sarikhuluk

Saat wisma Dolly ditutup
Pro dan kontra semakin hidup
Yang pro senang dan bangga
Surabaya bersih dari dosa
Yang kontra geram tak rela
Mata pencaharian terenggut paksa

Dolly Dholâli Dholâlunâ
Masalah Dolly tak sekadar norma
Hukum yang dipaksa
Tanpa solusi diupaya
Yang ada hanya sengsara
Masalah menebar kemana-mana

Dolly Dholâli Dholâlunâ
Urusannya ialah jual-beli wanita
Yang terjerumus dengan aneka
Masalah yang menerpa
Kenapa Cuma Surabaya
Di Indonesia berjuta-juta

Dolly Dholâli Dholâlunâ
Kemana ahli agama
Kemana para penguasa
Di saat awal Dolly dibuka?
Banyak yang mencela
Diam-diam hati suka cita

Dolly Dholâli Dholâlunâ
Ditutup oleh bu Risma
Teladan baik setiap wanita
Yang menjadi wali kota
Kemana para pria?
Dolly sudah bertahun-tahun ada

Dolly Dholâli Dholâlunâ
Kalau benar memang durjana
Kita sesat bersama
Diterpa gelap gulita
Yang buta tiada kira
Buta mata, buta hati, buta agama

            Setelah mereka membaca sajak Sarikhuluk, secara umum mereka bisa memahami maksud Sarikhuluk. Hanya saja, yang membuat mereka bingung ialah kata-kata, ‘Dolly Dholâli Dholâlunâ’. Mereka sama sekali tak mengerti maksudnya. Di antara mereka ada yang bertekad menunggu Sarikhuluk untuk menanyakan maknanya. Setelah lama menunggu, akhirnya Sarikhuluk datang juga. Ia datang di pertengahan malam. Saat Sarikhuluk datang ia agak kaget karena di Pendopo Al-Ikhlash ada orang-orang kumpul-kumpul. Sebagian tertidur pulas. Sebagian lagi masih bangun ngobrol-ngobrol. Perjumpaan mereka dengan Sarikhuluk pada akhirnya terpenuhi juga. Dengan sangat sederhana Sarikhuluk berkometar: “Aku sangat setuju kalau Wisma Dolly ditutup. Tapi aku berharap titik tolak dari penutupan itu bukan sekadar normatif belaka, tanpa dicari solusi yang setepat-tepatnya. Sebenarnya `kan di negeri ini masalah pelacuran –dalam pengertian denotatif- bukan saja  berada di wisma Dolly saja. Di Indonesia tempat seperti itu sangat banyak. Apalagi pelacuran-pelacuran dengan makna konotatif(spt: pelacuran jabatan, pelacuran kekuasaan, pelacuran agama, pelacuran pendidikan, pelacuran dll), begitu luas jangkauan dimensinya. Niat yang baik harus didukung dengan penanganan yang baik. Arti dari statemen Dolly Dholâli Dholâlunâ ialah bahwa urusan Dolly bukan sekadar urusan tersesatnya para pelacur yang selama ini menjalani dosa, tapi di waktu yang sama, sebenarnya itu juga kesesatanku, kesesatan kita bersama(diri desa hingga negara) yang selama ini diam saja. Kalau ada upaya baik untuk menutup, kita memang harus mendukung, asalkan disertai solusi yang tak tanggung-tanggung” demikian penuturan Sarikhuluk.






 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan