Latest Post

Kado Gerhana

Written By Amoe Hirata on Rabu, 09 Maret 2016 | 16.19

Bagaimana jika
Kelam gerhana mendinding dunia
Selamanya
Gundah gulana kan menyelimut raga

Bagaimana jika
Gulita gerhana menutupi semesta
Selamanya
Duka cita kan meresah jiwa

Jangan dipikir
Bahwa gerhana sekedar
Peristiwa alam biasa

Jangan dianggap
Bahwa gerhana sekedar
Kejadian dunia lumrah

Di balik peristiwa gerhana
Terdapat peringatan
Tersimpan pelajaran
Terkandung nasihat

Kalau cahaya redup
Bisa apa kita?

Kalau cahaya sirna?
Mau apa kita?

Bukankah aktifitas kita
Beriring cahaya?
Bukankah kegiatan kita
Bersanding cahaya?

Bila tak peduli pada
Peringatan-Nya
Jiwa kan tiada

Bila tak merisau akan
Pelajaran-Nya
Nurani kan mati

Bila tak peduli pada
Nasihat-Nya
Sukma kan musnah

Apa harus menunggu hancur total
Lantas kita tersadar
Dari mimpi dunia

Urgensi Iman kepada Allah dan Hari Akhir


A.     Ayat Tadabbur :(QS. Al-Baqarah: 126)
{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 126]
B.     Arti Ayat:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Rabbku(swt), jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Akhir. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafir pun Aku berikesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.
C.     Analisis            :Kata “إِذْ” mengandung arti kata perintah: “ingatlah”(Muhammad) ketika. Kalau kaitannya dengan pembaca, maka seolah-olah pembaca mendapat perintah langsung dari Allah, “INGATLAH KETIKA!”. Sebuah metode penting yang diajarkan al-Qur`an kepada pembacanya agar rajin menggali hikmah sejarah. Apa lagi, sepertiga al-Qur`an berisi kisah-kisah. Dalam konteks ayat ini, kita disuruh untuk mengambil hikmah dari Nabi Ibrahim `alaihis salam bagaimana dia berdoa.
Menggali hikmah sejarah pun bukan asal-asalan. Disini yang diperintahkan untuk digali ialah kisah manusia pilihan, Nabi Ibrahim. Karena itulah, kita bisa menggali hikmah sejarah dari kisah-kisah yang bermutu, bukan kisah-kisah palsu yang hanya berorientasi hiburan.
Doa yang dipanjatkan Ibrahim, menunjukkan bahwa beliau selalu ‘melibatkan’ Allah dalam menjalankan visi-misinya. Setiap aktivitas yang dilakukan, tak pernah lepas dari muraqabatullahi(merasa diawasi Allah). Di samping itu, ini menunjukkan tauhid Ibrahim benar-benar hanif. Ini berarti, sebelum anda berdoa, pastikan bahwa tauhid anda sudah benar, sebab salah satu penghalang terkabulnya doa ialah tauhidnya tidak murni kepada Allah(tercampur dengan kesyirikan).
Ibrahim `alaihis salam dalam ayat ini juga mengajarkan seni berdo`a pada kita agar bisa cepat diterima. Seni yang beliau ajarkan ada dua: Pertama, menggunakan nama Allah yang tepat sesuai dengan yang akan diminta(dalam hal ini menggunakan Rabb). Kedua, permintaannya bukan untuk kepentingan pribadi. Beliau tidak egois dalam berdoa. Ia meminta untuk kepentingan umum(skala negara). Lebih dari itu, doa Ibrahim –dalam keterangan ayat lain- bukan hanya bukan hanya ditujukan untuk orang di masanya saja, tapi juga untuk generasi-generasi setelahnya.
Doa Ibrahim benar-benar dikabulkan. Negeri Mekah adalah negeri aman dan sejahtera. Banyak sekali yang berkunjung ke sana baik untuk umrah maupun haji. Menariknya, buah-buahan apa saja bisa ditemukan di sana.
Yang diminta Ibrahim adalah keamanan dan kesejahteraan negara, karena negara memang  memiliki fungsi besar dalam mengamankan dan mensejahterakan rakyat. Sedangkan negeri yang diminta di sini bukan sembarang negeri,  negerinya jelas yaitu, Mekah yang di dalamnya ada Baitullah(sebagai tempat menjalankan ritual ibadah haji, dan silaturrahim antar umat Islam di penjuru dunia). Seolah-olah tersirat dari permintaan ini: negeri yang hubungan dengan Allah sangat bagus, maka sangat besar peluang untuk mendapat keamanan dan kesejahteraan. Jadi Mekah(tempat Baitullah) bisa dijadikan cermin, bagi siapa saja yang menginginkan keamanan dan kesejahteraan suatu negeri.
______________________________________________________________________________
Kalau pada ayat sebelumnya(125) sudah dikatakan, "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman." Lalu apa gunanya Ibrahim meminta keamanan lagi pada Allah pada ayat ini(126)? Jawabannya: Jika kamu melihat orang meminta sesuatu yang sudah ada, maka ketahuilah tujuan ia melakukan itu ialah agar yang ada tetap kekal bersamanya. Bahasa simpelnya: Ya Allah jadikanlah negeri ini (Mekah) SELALU/SENANTIASA/TERUS AMAN hingga hari kiamat.
Syahidnya(penguatnya), An-Nisa: 136. Allah memanggil orang-orang beriman, kemudian memerintahkan mereka beriman. Jadi maksudnya, Allah memerintahkan mereka kontinu, mendawami, istiqamah, pada keimanan mereka. Jadi, SETIAP PERMINTAAN PADA SESUATU YANG SUDAH ADA, BERARTI MERUPAKAN PERMINTAAN AGAR YANG ADA TERUS MENERUS ADA.[Tafsir al-Sya`rawi, 1/581]
______________________________________________________________________________
Dalam doanya, Ibrahim menggunakan kata Rabb, bukan Allah. Karena yang dia meminta keamanan dan rezeki. Di antara fungsi Rab, sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Qurays, ayat: 4, ialah memberikan rasa aman, dan memberi manusia makan agar terhindar dari rasa lapar. Kalau kata ‘Allah’, kaitannya Allah sebagai Zat yang disembah. Zat Yang Berhak untuk diibadahi.
Untuk menciptakan negeri yang aman sentausa, dan (penduduknya)berlimpah rezeki, maka syaratnya dua: Iman pada Allah dan iman pada Hari Akhir. Iman pada Allah melahirkan rasa aman, sedangkan iman pada Hari Akhir(Orang yang hidupnya berorientasi akhirat) memicu kelancaran rezeki.
Permintaan Ibrahim ada dua: Pertama, meminta Mekah yang sebelumnya adalah tempat tandus, dan tak ditumbuhi tanaman(tak dikenal) dijadikan sebagai balad(negeri, negara, yang dikenal). Dan tak cukup hanya di situ, tapi juga aman. Percuma menjadi negeri yang sudah dikenal, tapi tanpa rasa aman. Makanya, keamanan adalah salah satu elemen penting dalam negara. Kedua, bila rasa aman sudah didapat, maka secara otomatis permintaan ketiga berupa rezeki(kesejahteraan) akan terpenuhi.
Orang tidak akan memikirkan kesejahteraan, sebelum tercipta rasa aman. Uniknya, rezeki yang diminta Ibrahim disini adalah “tsamarat”(buah-buahan). Kita ketahui bahwa buah-buahan bukanlah kebutuhan primer. Ini artinya, kalau kebutuhan skunder saja beliau minta, berarti sudah mencakup kebutuhan primer. Artinya, seakan-akan Ibrahim meminta kepada Allah agar di samping negeri yang aman, ia juga menginginkan agar Allah menjadikannya negeri sejahtera, sehingga kebutuhan primer dan skunder, bahkan tersiernya bisa terpenuhi, sebuah idealisme doa yang luar biasa yang dicontohkan Ibrahim kepada umat manusia.
Bersamaan dengan itu, Allah juga mengingatkan bahwa rezeki yang diberikan, bukan hanya untuk orang beriman. Karena sebagai Rabb, -sebagai contoh- Allah tidak pernah membeda-bedakan cahaya matahari yang menyinari bumi, baik untuk orang beriman maupun kafir. Tapi, yang membedakannya ialah pada skalanya. Karena orang kafir tidak berorientasi akhirat, maka sebanyak apa pun rezeki yang dikaruniakan Allah padanya di dunia(sesukses apa pun kehidupan mereka di dunia), maka itu hanya bernilai mata`un qalil(kenikmatan yang sedikit, sebentar, dan sementara) karena pada hakikatnya dunia adalah sementara.
Ketika di akhirat, mereka sudah tidak bisa apa-apa. Tidak memiliki pilihan lain. Di dunia mendapat kenikmatan sementara, sedang di akhirat mendapatkan penderitaan tiada kira. Mereka akan pendapat sejelek-jelek tempat kembali.
Inilah yang membedakan orang beriman  dengan orang kafir. Orang beriman, menganggap dunia itu sementara, tetapi bukan berarti mengabaikannya. Ia menjadikan dunia sebagai ladang amal yang diorientasikan untuk kepentingan akhirat. Sedangkan orang kafir, menjadikan kenikmatan dunia yang sementara sebagai tujuan hidup, padahal sejatinya akan mendapatkan siksa di akhirat selama-lamanya. Orang beriman berpikirnya visioner, dan luas. Sedangkan orang kafir berpikirnya, stagnan dan sempit.
______________________________________________________________________________
            Syekh Sa`di dalam tafsirnya menjelaskan perbedaan orang beriman dan orang kafir dalam memanfaatkan rezeki yang dikaruniai Allah. Orang Muslim, memanfaatkan rezeki sebagai penolong agar mempermudah dirinya dalam beribadah kepada Allah, sampai pindah ke surga. Sedangkan orang kafir, hanya menikmatiny sementara, dan dipaksa masuk neraka dalam kondisi tak suka.(Taisir Karim al-Rahman,  1/66).

A.     Pelajaran-pelajaran Praktis:
1.      Galilah hikmah dari sejarah orang-orang sukses(dunia-akhirat)
2.      Libatkan Allah dalam setiap aktivitasmu, salah satunya adalah  dengan berdoa
3.      Sebelum berdoa, upayakan tauhidmu benar-benar bersih, agar doa terkabul
4.      Berdoa untuk kepentingan umum, lebih besar peluang terkabulnya dari pada berdoa hanya untuk kepentingan pribadi
5.      Pilihlah nama Allah yang tepat sesuai dengan permohonanmu
6.      Rasa aman dan kesejahteraan adalah unsur penting yang melandasi tegaknya negara. Bila rasa aman tidak tegak, kesejahteraan pun tak mungkin terwujud.
7.      Negara aman dan sejahtera tidak bisa dipisahkan dengan iman pada Allah dan orientasi akhirat
8.      Tancapkan iman pada Allah di dalam hatimu saat mengarungi kehidupan dunia(libatkan Dia dalam segenap aktivitas kebaikanmu), dan berorientasi akhirat, insyaallah akan selamat dunia-akhirat.
9.      Sebagaimana orang beriman, orang kafir pun mendapatkan rezeki. Cuma bedanya, rezeki orang kafir sifatnya adalah kesenangan sementara. Sedangkan rezeki orang beriman, itu bukan hanya di dunia, tapi juga berdimensi akhirat.
10.  Negeri aman sentausa dan sejahtera yang berorientasi akhirat bukan dibangun berdasarkan mimpi-mimpi yang tak bisa direalisir. Perlu adanya kerja keras(dan cerdas/ usaha maksimal), planning matang, memiliki visi-misi yang jelas laiknya Ibrahim, dan yang paling utama adalah ‘melibatkan’ Allah.

JANGAN TERMAKAN ISU

Written By Amoe Hirata on Selasa, 23 Februari 2016 | 17.34

            Judul ini lahir dari tadabbur Surah Yusuf, ayat 30-15. Kisah Nabi Yusuf AS, ini  senantiasa relevan diangkat, khususnya di tengah pengaruh media masa yang sedimikian dahsyat(seperti: membuat, mengolah dan menebarkan isu). Maka dari itu, mari kita singgah sejenak, mentadabburi al-Qur`an. Mudah-mudahan, setelah membacanya, kita bisa tercerahkan.

{وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (30) فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ (31) قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ (32) قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ (33) فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (34) ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ} (35)} [يوسف: 30 - 35]

30. Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata"
31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia"
32. Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina"
33. Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh"
34. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
35. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu

Catatan:
Setiap ISU –biasanya- lahir dari PERISTIWA. Pada ayat ini, PERISTIWA yang terjadi adalah: Nabi Yusuf  AS yang dibujuk istri Aziz untuk berbuat serong. Realitanya jelas, bahwa Yusuf sama sekali tidak salah, dia hanya menjadi korban dari nafsu istri Aziz.
Setelah ada PERISTIWA, lahirlah ISU di masyarakat. Nah, dari kisah ini, karakter ISU memiliki beberapa ciri. Pertama, tidak menguak fakta sebagaimana aslinya, dan cendrung parsial. Lihat saja, berita yang tersebar ialah, “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.
Mereka para cewek –yang suka gosip-, ketika mendapat berita perserongan istri pejabat kerajaan, langsung melahapnya, tanpa tabayyun(klarifikasi), malah dibesar-besarkan agle yang menghebohkan publik, yaitu: perselingkuhan.
Kedua, yang diangkat hanya yang bisa punya daya jual khalayak(heboh, bikin penasaran, enak dijadikan bahan gosip, dan membuat orang kepo). Isu tentang perselingkuhan istri pejabat, memang sangat potensial untuk dijadikan konsumsi publik sebagaimana kisah istri Aziz. Ketiga, selalu mengandung unsur negatif. Lihat, bagaimana mereka mengisukan istri Aziz. Hanya sisi jeleknya yang disampaikan.
Istri Aziz pun naik pitam. Dia termakan isu. Rupanya, harga dirinya sebagai istri pejabat menjadi anjlok, gara-gara isu tak sedap. Akhirnya, untuk membuktikan dirinya tidak sepenuhnya bersalah, dia membikin makar(tipu-daya, muslihat, konspirasi, kongkalikong dll). Diundanglah para penyebar isu, ‘Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan),
Tibalah saatnya istri Aziz menjalankan makarnya: “kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia".
Lihat bagaimana ekspresi para pembuat isu, ketika mereka mengalami sendiri. Akhirnya mereka juga terkena batunya. Beginilah nasib orang penyebar isu. Mereka hanya mampu menyebarkan isu, menikmati kesengsaraan orang, pandai menilai kesalahan orang tapi tak cukup bijak dalam melihat diri sendiri. Demikian pula yang termakan isu. Karena merasa dilukai(dengan pemberitaan yang buruk), akhirnya lahirlah dendam.
Dendam ini melahirkan keinginan negatif yang menyeret orang lain mengalami hal negatif seperti yang dialaminya. Lihat bagaimana senangnya istri Aziz ketika para penebar isu mengalami apa yang dialaminya, “Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.
            ISU, PENEBAR ISU, PEMBALAS ISU adalah tiga bersaudara yang sama berbahaya. Maka untuk selamat dari pusaran ketiganya, kita harus meneladani Nabi Yusuf As. Beliau sukses dalam melewati cobaan berat ini. Tidak sebagaimana orang kebanyakan yang suka menyebar isu, dan termakan isu, beliau malah tidak menghiraukan isu.
            Menghadapi kompleksitas isu yang menjerat dirinya dan istri Aziz, yang beliau lakukan pertama kali adalah memohon pertolongan Allah, ‘Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” Sebuah gambaran nyata bahwa Yusuf melibatkan Allah dalam setiap permasalahan, sekaligus tidak termakan isu. Memilih masuk penjara tapi terhormat, dari pada hidup mewah tapi menjadi hina karena melanggar batas agama.
            Ketika Nabi Yusuf AS, tak termakan isu, dan lebih memegang teguh nilai-nilai agamanya, akhirnya dia diselamatkan dari makar, niat jahat para penebar isu, “Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Di penjara dia sudah merasa aman, dan bisa menebarkan dakwah kebaikan. Ternyata, kesabaran dan keteguhannya dalam memegang prinsip, di kemudian hari dia diangkat mendadi Bendaharawan Mesir.
Begitulah sikap, dan akibat positif yang diterima Yusuf AS. Lain halnya dengan penebar isu, dan pembalas isu, mereka sudah kepalang tanggung, mereka ingin biang keladi dienyahkan agar mereka terbebas dari jeratan hukum kerajaan dan sosial. Akhirnya timbulah ide buruk untuk memenjarakan Yusuf AS, “Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” Mereka pikir dengan memenjarakan Yusuf akan membuat Yusuf sengsara sebagaimana yang mereka rasakan. Energi negatif yang mereka tebarkan, tak ada efeknya sama sekali pada orang yang tak termakan isu. Justru dengan masuk penjara, Yusuf AS, diproteksi Allah SWT dari gelimang isu yang berbahaya bagi dirinya.

PELAJARAN:
  1. Jangan mudah termakan isu, karena di dunia informasi seperti sekarang yang didukung dengan media yang serba canggih, sangat mudah untuk membuat isu. Kalau kita gampang ikut dan tidak selektif, maka kita akan masuk pada arus mereka
  2. Kalau ada isu jangan lekas percaya, dan usahakan tabayyun (klarifikasi) terlebih dadulu
  3. Kalaupun benar terjadi, maka jangan ikut-ikut menyebarkannya, karena menebarkan aib dalam agama tidak dibenarkan
  4. Kalau anda difitnah dengan isu tak sedap, jangan reaktif terhadapnya dengan membalasnya kembali, karena jika  keburukan dibalas dengan keburukan, maka akan semakin buruk, dan apa bedanya anda dengan mereka
  5. Teladani Nabi Yusuf AS dalam menghadapi ISU. Saat mendengar isu tak sedap, dia segera memohon pertolongan Allah, mendekatkan diri pada-Nya, tidak ikut nimbrung dengan para penebar isu. Beliau yakin betul bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, sehingga ia pasti ditolong dan mereka yang suka menebar membuat dan menebarkan isu, pasti akan merasakan akibatnya. Tinggal menunggu waktu saja
Wallahu a`lam

Tebet, Selasa 23 Februari 2016, [17: 15]

Nasihat Menggentarkan untuk Presiden

Written By Amoe Hirata on Senin, 15 Februari 2016 | 10.17

       Ini adalah kata-kata menggentarkan dari ulama besar kepada presiden. Jarang sekali yang mampu menyampaikan kata-kata haq di hadapan penguasa dzalim. Lain halnya dengan Syekh Mutawalli al-Sya`rawi, dengan sangat berani –pada 1996- pasca selamatnya Mubarak dari upaya pembunuhan berencana di Ethiopia, dia menyampaikan nasihat yang begitu mengguncang jiwa penguasa. Berikut ini kata-kata beliau yang sudah diterjemah dari teks aslinya:
______________________________________________________________________________
            
              Sesungguhnya telinga pemimpin jarang siap sedia (mendengar) lisan rakyat. Barang siapa yang dikaruniai Allah telinga pemimpin, maka sampaikan kata-kata yang bagus kepada rakyatnya, dan mohonkan kepada Allah kebaikan untuk mereka. Dengan ‘doa baik’ pemimpin untuk rakyatnya, Allah akan membuat baik (kondisi) banyak makhluknya.
            Saya meminjam (ungkapan) Mutanabbi yang pernah disampaikan kepada Saif al-Daulah: “Aku tidak mengkhususkanmu pada tempat keselamatan dengan ucapan selamat. Jika engkau selamat, maka semua orang pasti selamat.”
            Wahai Presiden aku berhenti di ambang (pintu) duniaku untuk menyambut ajal Allah. Aku tak akan menutup hidupku dengan kemunafikan, dan tidak akan kutonjolkan keberanianku dengan kenekatan. Tapi akan kusampaikan kata ringkas untuk semua umat baik pemerintah maupun partai, oposisi maupun para pemimpin, serta bangsa, maaf jika aku berbicara negatif.
            Aku ingin sebagian mereka tahu bahwa semua kekuasaan (berada) di tangan Allah. Ia berikan pada siapa saja yang dikehendaki. Maka tidak ada konspirasi untuk mengambilnya, dan tidak ada tipu daya untuk sampai padanya. Sesungguhnya ketika Allah menceritakan dialog Ibrahim dengan Namrud, apa yang dikatakan padanya?
“Atau seperti orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya,” –padahal dia kafir-, Allah berfirman, “Allah memberikan kekuasaan padanya,”(QS. Al-Baqarah: 258).
            Ketika kekuasaan diturunkan Allah, Ia berfirman, “Ia memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki,”(baca: Ali Imran: 26) maka tidak ada konspirasi atas Allah terhadap kekuasaan, dan tidak ada tipu daya terhadap Allah terhadap hukum, karena tidak akan ada seorang pun yang menghukum dalam kekuasaan Allah, melainkan dengan kehendakNya. Jika dia adil, maka sungguh ia telah bermanfaat dengan keadilannya, sedangkan jika dia lalim, dan zalim, maka (Allah) akan menjelekkan serta memburukkan kezaliman dalam jiwa semua orang, lalu mereka membenci semua yang berbuat zalim meskipun bukan seorang hakim.
            Karena itu, aku katakan kepada semua kaum, sesungguhnya kita, al-hamdulillah telah jelas kebenaran kalam Allah pada berbagai peristiwa yang terjadi. Bagaimana kita menafsirkan firman Allah, “Mereka membuat makar, maka Allah membuat makar,”(QS. Al-Anfal: 30) bagaimana kita menafsirkan, “ sesungguhnya mereka membuat tipu daya, sedangkan aku(juga) membuat tipu daya,”(QS. At-Thariq: 15-16) Allah ingin menetapkan sifat qoyyumiyah(pengurusan)nya pada makhluknya.
            Aku sarankan pada siapa saja yang terbesit dalam kepalanya (ingin) menjadi hakim(penguasa), supaya tidak memintanya, tapi harus diminta. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “ Barangsiapa diminta (mengurusi) sesuatu, maka dia akan ditolong, sedangkan orang yang meminta sesuatu, maka akan dibebankan padanya.”(Hr. Bukhari, Muslim)[1]
            Wahai Pak Presiden, kata terakhir yang ingin aku sampaikan padamu –mungkin ini adalah akhir pertemuanku denganmu-, “Jika engkau menghargai kami, maka semoga Allah memberi taufik padamu. Jika kami menghargaimu, maka semoga Allah menolongmu dalam menjalankan beban amanah.”
______________________________________________________________________________
NB. untuk menyaksikan secara langsung nasihat beliau, bisa dilihat di alamat berikut: https://www.youtube.com/watch?v=8ToWQoSX05M


[1] Bunyi haditsnya demikian:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

[L]ogika [G]a [B]ermu[T]u

Written By Amoe Hirata on Minggu, 31 Januari 2016 | 11.54


        Di bumi Sodom, seorang manusia pilihan bertanya –sambil ngingetin- pada penduduknya, “Ngapain kalian ngelakuian perbuatan keji yang ga pernah dilakuin seorang pun sebelum kalian? Laki-laki kok berhubungan sesama laki-laki, kalian bener-bener kelewat batas.”
Coba lihat jawaban kaumnya yang ga mutu, “kalo ga bisa diem, usir aja nih orang dari kampung ini, dia tuh sok suci.” Gini nih kalau orang gagal paham. Diajak diskusi dengan logika yang baik, eh malah bahas permasalahan lain.
[Orang yang ga nyambung itu ada dua kemungkinan: Pertama, memang ga paham omongan orang yang diajak ngobrol. Kedua, tahu tapi ngeyel karena merasa salah, dan mengalihkan ke topik lain. Ga mungkin kaum sodom ga paham, yang mungkin itu paham tapi ngeyel dengan kesalahannya.]
Respons kaum Sodom malah dengan menggunakan cara-cara otoriter, “Kalo ga diem, usir tuh manusia sok suci dari kampung ini.” Artinya apa? Gerakan mereka tuh ga bakal sukses(wong logikanya abruladur) kalau tidak dengan: Pertama, menggunakan cara-cara otoriter karena merasa berkuasa di wilayahnya(makanya gan kaum LGBT sekarang `kan berjuang mendapat otoritas dalam skala negara. Makanya mereka berjuang lewat undang-undang. Karena ga mungkin manusia normal menerimanya, hanya cara otoriter yang bisa menyuseskannya. Sedangkan otoritas tertinggi adalah negara). Kedua, pengalihan isu dengan ngejelekin orang yang mengingatkan(dibilang sok suci lah, ga ngormati HAM lah, sok religius lah dll).
            Ending-nya jelas sob. Orang-orang yang ngingetin dan pendukungnya diselamatkan, karena punya logika sehat dan selamat. Sedangkan yang punya logika ga bermutu dan terbalik, mereka dibalas demikian: Pertama, dihujani batu berapi dari langit(padahal `kan yang namanya hujan biasanya air. Ini mirip dengan logika mereka, wong seharusnya air kok dibilang batu. Seharusnya orang yang menghormati aturan Tuhan yang suci, kok dibilang sok suci). Kedua, tanahnya dibalik. Atas menjadi bawah, bawah menjadi atas(pas banget deh dengan logika mereka yang terbalik. Antara siksa dengan logika benar-benar sama).
            Azab datang tanpa disadari, karena datanganya pas shubuh, Waktu mereka sedang lalai, tidur. Demikian juga kaum LGBT, mereka merasa nyaman dan enak dengan logika terbaliknya, eh tau-tau tanpa disadari ngidap penyakit aneh-aneh, akhirnya menyesal, Tapi sudah ga berguna karena sakit sudah menimpa.
            Terakhir, mas-bro, mbak-bro begitulah melihat LGBT dengan kaca mata Qur`an. Sekarang milih yang mana terserah kamu sih. Kalau kamu ga mau pingin selamat, yang memperbanyak dukungan pada orang yang ngingetin, dan ngelurusin logika terbalik bin ga bermutu. Kalo ga, ya kamu bakal kena arus. Sebab kata nabi, kalo orang ga nahi munkar padahal dia tahu, bakal kena azab juga tuh. Apa jadinya kalau kaum LGBT eksis?

Sumber:
Qs. Al-A`raf: 80-84
Qs. Hud: 77-83
Qs. An-Naml: 54-58
Qs. Al-Hijr: 58-77
Qs. As-Syu`ara: 160-175
Qs. Al-Qamar: 33-40

Anda Termasuk Generasi Terbaik Apa Bukan?

Written By Amoe Hirata on Jumat, 29 Januari 2016 | 16.01


          Dr Adian Husaini dalam khutbahnya di AQL Islamic Center(Jum`at, 29 Januari 2016), menyampaikan tema menarik. Inisiator MIUMI ini menjelaskan tentang: “5 Ciri Generasi Terbaik.”
            Bercermin pada Surah al-Maidah: 54, peneliti INSIST ini menyebutkan ada 5 ciri generasi terbaik. Pertama, mereka mencintai Allah, dan Allah mencintai mereka. Mencintai Allah dengan setulus-tulusnya. Bukti cinta mereka kepada Allah adalah dengan mengikutu RasulNya. Maka tak mengherankan, generasi didikan rasul ini mampu menjadi generasi terbaik karena cinta mereka pada Allah dan Rasulnya sedemikian mendalam.
            Kedua, berkasih sayang antar sesama mu`min. Bereka tidak angkuh, tidak sombong, dan saling mengasihi. Bila terjadi perselisihan masalah ijtihadi di antara mereka, tidak saling mencaci-maki dan saling menjaga persatuan. Mereka mencintai saudaranya, sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
            Ketiga, mempunyai `izzah(keterhormatan) atas orang kafir. Dengan semangat `izzah ini mereka dibimbing rasulullah menjadi umat terbaik. Maka tak mengherankan jika selama delapan abad mereka mampu menegakkan peradaban terbaik.
Dengan `izzah, mereka mempelajari ideologi Yunani dan lain sebagainya untuk di sesuaikan dengan semangat dan cara pandang Islam. Dampaknya jelas, mereka mampu melahirkan ilmu yang disebut islamic science. Uniknya, ilmu sains yang mereka ciptakan, mampu mendekatkan manusia dengan Tuhan. Akan tetapi, ketika sains beralih ke tangan Barat yang sekular, maka sains mala menjadikan manusia jauh dari Tuhan.
Keempat, berjihad di jalan Allah. Mereka berjihad dengan segenap daya dan tenaganya dari berbagai aspeknya. Jihad yang diklafikasikan oleh Ibnu Qayyim dengan: Jihad melawan hawa nafsu, setan, orang kafir dan munafik, serta pelaku-pelaku kedaliman dan kemungkaran. Dengan jihad sesuai batas kemampuan, mereka menjadi umat hebat yang berkontribusi besar bagi peradaban dunia.
Kelima, tidak takut celaan orang yang mencela. Mereka berjuang karea Allah dan Rasulnya. Membangun basis dakwahnya adalah dengan keridhaan Allah. Walaupun dalam perjalanan ada banyak hambatan, dan tantangan mereka bisa tetap tegar. Maka tak mengherankan jika dalam al-Qur`an mereka disebut sebagai sebaik-baik umat.

Di akhir khutbah, Cendikiawan Muslim jebolan ISTAC ini menuturkan, “Kalau kita ingin melahirkan genarasi terbaik, maka kita harus menyiapkan generasi tangguh sebagaimana kelima ciri tadi. Kalau sekarang kita kalah, jangan sampai generasi setelah kita juga kalah.”
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan