Latest Post

Mujahid Via Qalam

Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Agustus 2016 | 14.22

JIHAD via qalam (pena, tulisan) adalah bagian penting yang turut mewarnai dinamika perjuangan Ulama. Di sepanjang sejarah, ada banyak contoh yang membuktikan bahwa mereka adalah seorang mujahid (pejuang) yang sangat intens dalam bidang ini.  Ibnu Jarir At-Thabari misalnya, selain lisan, beliau juga sangat aktif dalam berjihad via tulisan. Hal ini bisa dilihat dari produktivitasnya dalam menulis buku.  Menurut catatan sejarah, bila semua karangannya dikalkulasikan, berjumlah 358 ribu lembar. Ini berarti  dalam sehari ia mampu menulis sebanyak 40 lembar (Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, 43).
Contoh lain yang tidak kalah menarik, Imam Ibnu Jauzi, ulama bermadzah Hanbali ini juga berjihad dalam bidang tulisan. Abdu al-Fattah dalam bukunya menyebutkan bahwa beliau meninggalkan karya sebanyak lima ratus buku (Qīmatu al-Zaman, 56). Bahkan ada yang sangat mengharukan. Syekh Abu Bakar al-Bāqalāni tidak tidur sebelum menulis  35 lembar per-hari (Qīmatu al-Zaman, 86). Ini berarti semangat jihad ulama dalam bidang tulisan tidak diragukan lagi.
Ulama lain seperti Imam al-Gazhali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah, al-Hafidh Ibnu Katsir, Imam al-Dzahabi, Imam al-Suyuthi dan lain sebagainya adalah ulama-ulama yang turut serta meramaikan jagad sejarah jihad umat Islam via tulisan.
Dalam negeri pun, ada banyak  ulama yang berjihad via tulisan. Sebagai contoh - tanpa bermaksud membatasi – misalnya KH. Agus Salim, A. Hassan, M. Natsir dan Buya Hamka. Dalam buku yang berjudul Haji Agus Salim (1884-1954) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, disebutkan bahwa beliau adalah seorang penulis yang kreatif dan produktif. Tulisannya begitu luas cakupannya dan sangat tajam. (Haji Agus Salim [1884-1954] Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Hal: 21).
Ahmad Hassan, seorang ulama yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdebat, ternyata juga menggeluti jihad ini. Menutur penelitan Guillaume Frédéric Pijper dan Tujimah, selain alim dan cerdas, Pendiri Pesantren PERSIS Bangil ini diakui sebagai penulis produktif. (Penelitian tentang agama Islam di Indonesia, 1930-1950, hal: 38). Buku yang berjudul: Soal-Jawab, Tafsir al-Furqan, Islam dan Kebangsaan, Kesopanan Tinggi, ABC Politik, al-Hidayah, Risalah Jum’at, Kitab Tauhid, Adakah Tuhan?,  adalah beberapa contoh karangannya yang mencapai tujuh puluh lebih.
            Mohammad Natsir, yang juga merupakan murid A. Hassan, juga menekuni jihad dalam bidang tulisan. Dalam buku yang berjudul 100 Tahun Mohammad Natsir,  disebutkan bahwa beliau seorang penulis kreatif. Sebagai contoh, di masa penjajahan Belanda, beliau sudah melahirkan karya tulis berbahasa Belanda yang diperhitungkan. Buku yang berjudul Komt tot het Gebed (1931), Mohammad als Proffet (1931), Gouden Regels uit den Quran (1932), dan Het Vasten (1934) beberapa contoh buah tangannya. (100 Tahun Mohammad Natsir, Berdamai dengan Sejarah, hal: 426). Polemik antara dirinya dengan Soekarno via tulisan juga menjadi bukti penting bahwa beliau sangat intens berjihad di medan ini.
            Demikian juga Buya Hamka. Menutut James Roberth Rush, beliau adalah sosok penulis yang cakap, produktif, dan populer. Di akhir tahun 1930-an, karya-karya Hamka sudah bisa didapat di perpustakaan sekolah umum. (A. Suryana Sudrajat, Ulama Pejuang dan Ulama Petualang, hal: 13 dan 14). Karya monumental yang tertoreh dalam jeruji besi seperti Tafsir al-Azhar, adalah salah satu bukti bahwa ulama kharismatik sekaliber beliau juga turut andil dalam berjihad via tulisan.
            Beberapa cerita di atas menunjukkan bahwa jihad via tulisan adalah salah satu bentuk perjuangan jihad ulama muslim di sepanjang sejarah. Dengan menulis, mereka bisa menjaga khazanah keilmuan Islam sekaligus abadi sepanjang masa walau raga sudah bercampur tanah. Ini sesuai dengan peribahasa Latin kuno yang menyatakan, verba volant, scripta manent, yang berarti: apa yang terucap akan berlalu, namun yang tertulis (dibukukan) abadi selamanya.

Menjadi Muslim Kaffah

Written By Amoe Hirata on Senin, 01 Agustus 2016 | 11.33

      Setiap orang mengaku menjadi Muslim. Masalahnya, Muslim bagaimanakah yang dikehendaki oleh Allah Ta`ala? Kajian tafsir berikut akan menjawabnya dengan jelas.
A.    Ayat Kajian               : Al-Baqarah(208)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨ فَإِن زَلَلۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡكُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٠٩
B.     Arti Mufradāt           :
ٱلسِّلۡمِ           : Islam
كَآفَّةٗ            : Keseluruhan
خُطُوَٰتِ        : Langkah-langkah
عَدُوّٞ             : Musuh
مُّبِينٞ            : Nyata
فَإِن زَلَلۡتُم     : Maka jika kalian tergelincir
ٱلۡبَيِّنَٰتُ        : Keterangan atau bukti



C.    Arti Ayat                    :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(208) Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(209)


D.    Sebab Turun             :
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah, ia berkata, ‘Abdullah bin Salam, Tsa`labah, Ibnu Yamin, Asad & Usaid anak Ka`ab, Sa`id bin `Amru, dan Qais bin Zaid –semuanya berasal dari Yahudi- berkata: “Wahai Rasulullah! Hari Sabtu adalah hari agung yang biasa kami hormati. Biarkan kami mengagungkannya! Sesungguhnya Taurat adalah Kitab Allah, maka perkenankan kami berdiri(membacanya) di malam hari.” Lalu turunlah ayat ini(Al-Baqarah: 208).

E.     Tafsir              :
Ayat ini dimulai dengan ‘panggilan kasih sayang’ dari ar-Rahmān, “Hai orang-orang yang beriman,”. Terkait ayat yang diawali dengan ungkapan ini, Abdullah bin Mas`ud berkomentar, ‘Jika kamu mendengar Allah berfirman: {Ya ayyuhalladzīna Āmanu}, maka dengarkan dengan baik, karena (sesudahnya pasti) ada kebaikan yang diperintah, atau kejelekan yang dilarang.’
Siapa saja yang mengaku beriman, maka perhatikan dengan sungguh-sungguh perintah atau larangan pada ayat ini. Di sini ada satu perintah dan satu larangan. Perintahnya, ‘masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,”. Masuk Islam itu harus menyeluruh, tak boleh sepotong-sepotong.
Sebagaimana sebab turunnya ayat ini, para sahabat yang sebelumnya beragama Yahudi, masih ingin meminta pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam agar dibiarkan  mengagungkan ritual keagamaan di hari Sabtu, bahkan membaca kitabnya di malam hari. Namun, ayat ini menolaknya. Berislam harus total, tidak boleh parsial.
Ketika Umar ta`jub dengan kitab Taurat, Rasul marah, dan menyebutnya sebagai mutahawwik(orang bingung). Ini karena, apa yang ada dalam Islam, melalui sumbernya al-Qur`an sudah cukup. Tidak perlu mengambil lagi dari kitab-kitab lainnya. Cukuplah Islam dilaksanakan secara kaffah.
Suatu saat Mutsannah bin al-Haritsah(sesepuh suku Syaiban) memberi penawaran menarik pada Rasulullah. Ia dan sukunya mau membela, mengikutinya asal di kawasan Arab saja. Rasul pun dengan tegas dan penuh adab menolak, sembari berujar: “Sesungguhnya agama Allah[Islam] ta`ala tidak akan ditolong oleh-Nya, melainkan orang yang (mau memperjuangakan) segenap sisinya,”(al-Sirah al-Nabawiyah wa akhbaru al-Khulafa, Ibnu Hibban, 1/101).
Peristiwa itu mengajarkan pelajaran penting: jika mengaku mengikuti nabi, memperjuangkan Islam, maka harus pada segenap sisinya.
Mengambilnya sepotong-sepotong hanya akan membuat Islam jadi rancu. Akibatnya, persatuan umat sulit terwujud. Umat lain pun dengan mudah mengadu domba umat Islam.
Kemudian, yang dilarang dalam ayat ini ialah, ‘dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan,’. Imam Qatadah dan Sadyu –sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya-, menyatakan: “Yang dimaksud dengan langkah-langkah setan ialah setiap (perbuatan) maksiat terhadap Allah ta`ala.” 
Dinamika yang terjadi pada kisah Adam, Hawa dan Iblis adalah contoh riil bagaimana moyangnya setan(Iblis), membuat langkah-langkah yang menggelincirkan Adam dari ketaatan menuju kemaksiatan.
Langkah Iblis sangat halus, lembut, licin, dan strategis. Adam dan Hawa dirayu, dibujuk, diyakinkan bahwa pohon yang dilarang malah membuatnya kekal dan menjadi raja. Di sini yang dirusak Iblis bukan perintah Allah, tapi maksud dari perintahNya. Sebegitu halusnya sehingga Adam dan Hawa pun terjatuh pada kemaksiatan. Dewasa ini-bahkan sejak dulu-, cara-cara atau langkah-langkah Iblis itu ternyata banyak diikuti oleh orang-orang liberal.
Apa hubungan antara perintah berislam secara total dengan larangan mengikuti langkah setan? Yang gampang dimengerti ialah: Berislam secara total itu tak gampang. Di sana ada aral merintang buatan setan. Maka, usaha untuk menjalankan Islam secara total, harus diiringi kesadaran mendalam tentang langkah-langkah setan yang setiap saat bisa menggelincirkan jika tak hati-hati.
Suatu saat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam –sebagaimana riwayat Hakim dan Ahmad- membuat garis lurus, dan garis miring di samping kanan dan kirinya. Garis lurus itu dikatakan sebagai jalan Allah(Islam). Sedangkan garis miring di sampingnya adalah jalan setan. Maka dengan tegas Allah berfirman: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”(Qs. Al-An`am: 153).
Ayat ini dipungkasi dengan penegasan dariNya, “Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Terkait ayat ini, Syaikh al-Maraghi menerangkan: “Yaitu janganlah kalian mengikuti jalannya setan dalam upaya menyesatkan dan membisiki manusia berbuat kejelekan dan kekejian. Ia adalah musuh bagi kalian yang jelas permusuhannya. Setan merupakan penumbuh lintasan pikiran yang jelek, dan pendorong orang melakukan tindak kriminal serta dosa.”
Mungkin terbesit pertanyaan di benak pembaca, ‘Bukankah setan adalah mahluk ghaib yang tak bisa diindra, lalu mengapa dikatakan sebagai musuh yang nyata?’. Ternyata, yang dimaksud dengan musuh yang nyata –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir- ialah: nyata permusuhannya. Maksudnya, sejak awal Iblis, saitan dan manusia sudah dijadikan sebagai musuh.
Karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal.”(Qs. Fathir: 6).
Setelah terang posisi setan adalah musuh nyata, ayat selanjutnya menjelaskan: “Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Baqarah: 209).
Syaikh Sa`adi menjelaskan: “Pada ayat ini ada ancaman dan peringatan keras yang dapat menghindarkan diri dari ketergelinciran(kesalahan). Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana, bisa memaksa orang yang bermaksiat dengan kekuatanNya serta menyiksa pendosa berdasarkan hikmahNya. Di antara bentuk kebijaksanaannya ialah menyiksa orang yang berbuat maksiat dan pendosa.
Jika sudah berusaha -tanpa ada unsur kesengajaan-, tapi tetap tergelincir layaknya Nabi Adam dan Hawa, maka cara yang paling tepat adalah segera bertaubat laiknya keduanya dengan doa: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(Qs. Al-A`rāf: 23).
Wallahu a`lam bi al-Shawāb

F.     Pelajaran        :

1.      Wajib menerima Islam secara utuh
2.       Dilarang menjalankan ajaran Islam secara parsial
3.      Setiap (orang) yang menghalalkan sesuatu yang haram, serta meninggalkan kewajiban adalah pengikut setan
4.      Haram mengikuti langkah-langkah setan
5.      Perlu mengetahui dan waspada terhadap langkah-langkah setan
6.      Setan adalah musuh yang nyata
7.      Kesalahan yang disengaja(lantaran sudah tahu bukti jelas) akan mengakibatkan siksa
8.      Penjelasan tentang kekuatan dan kebijaksanaan Allah

G.    Rujukan         :
1.      Lubābu al-Nuqūl, As-Suyuthi
2.      Tafsīr al-Qur`ān al-`Aẓīm, Ibnu Katsir
3.      Tafsīr al-Marāghi,
4.      Aisar al-Tafāsir, Abu Bakar Jabir al-jazairi
5.      Taisīr al-Karīm al-Rahmān, Sa`adi
6.      Tafsīr wa Bayān Mufradāti al-Qur`ān, Muhammad Hasan al-Himshi
7.      al-Sīrah al-Nabawiyah wa Akhbāru al-Khulafā, Ibnu Hibban
8.      Mustadrak, Hakim dan Musnad, Ahmad bin Mushtafa al-Maraghi
[Pernah terbit di Majalah: Al-Muslimun, Bangil].

Kudeta Umar bin Hafshun

Written By Amoe Hirata on Sabtu, 23 Juli 2016 | 17.18

                 KUDETA. Di sepanjang sejarah selalu ada momentumnya. Adakalanya sukses, seringkali juga gagal. Dalam sejarah Islam pun, fenomena ini kerap terjadi dan memakan korban tidak sedikit. Kudeta di Turki baru-baru ini adalah bagian dari perulangan sejarah tentang kudeta. Tulisan berikut akan mengupas salah satu kudeta yang terjadi di masa Islam Andalusia. Kudeta yang dilakukan oleh Umar bin Hafshun (240-306H/855-919M).
             Umar bin Hafshun berasal dari kalangan muslim muwalladin (penduduk asli Andalusia). Huruf 'wau' dan 'nun' di akhir namanya adalah sebagai tanda bahwa dia adalah orang Andalusia asli (Qishshatu al-Andalus min al-Fathi ilâ al-Suqût, 182)
Umar bin Hafshun adalah orang yang dikenal sebagai tukang begal dari penduduk asli Andalusia. Dia memiliki fanatisme kuat terhadap ras keturunan. Bersamanya ada 40 orang pengikut.
Kebaradaannya semakin berbahaya tatkala kebanyakan umat Islam di Andalusia ketika itu mulai gandrung kepada dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah.
Pada tahun 267 Umar bin Hafshun menentang kekuasaan penguasa Andalusia, Muhammad bin Abdurrahman di tepian Rayya. Ketika Muhammad mengirim pasukan untuk menumpasnya, ternyata pasukan yang dipimpin Umar menang sehingga membuatnya semakin kuat dan dikenal (al-Kâmil fî al-Târikh, 6/390).
Kekuatannya bertambah pesat hingga ia menguasai semua wilayah Timur Andalusia.  Sebenarnya, dulunya dia beragama Islam. Hanya saja, demi memperkuat hegemoninya, di akhir masa kekuasaannya dia melakukan hal yang tidak akan terulang dalam sejarah Andalusia kecuali sedikit, ia murtad dari Islam dan mengganti agamanya menjadi orang Nashrani pada tahun 286 H. Ini berarti, setelah 22 tahun dari usahanya untuk mengkudeta sebagai muslim, kemudian ia murtad menjadi Nashrani. Bahkan dia mengubah namanya menjadi Samuel.
Lebih dari itu, dalam catatan sejarah, ia juga tak malu-malu meminta bantuan dari negeri Nashrani di Andalusia Utara.
Motif pengkudetaan ini: sepertinya dia ingin mengambil pengokohan kekuasaan dari kerajaan Lion Utara. Karena itu, ia akhirnya berubah menjadi Nashrani, akhirnya ditinggalkan oleh sebagian pengikutnya yang muslim. Tapi, pada akhirnya ia mendapatkan dukungan dari Raja Lion.
Kondisi ini begitu menguntungkan bagi Raja Lion karena pada waktu itu rakyatnya lagi lesuh perjuangannya. Dengan adanya Umar bin Hafshun ini, Raja Lion semakin berani melakukan penyerangan di batas-batas wilayah Islam.
Serbuan dimulai dari arah utara, sedangkan Umar bin Hafshun (Samuel) memulainya dari selatan. Ini mirip seperti yang dilakukan oleh Yahudi dan Amerika bersama John Garang de Mabior (1945-2005) seorang pemberontak di Sudan Selatan. Tujuan mereka jelas: menyuplai senjata kepada John Garang, menyiapkan planning, kebutuhan logistik, dan perbekalan lainnya dengan harapan bisa menghancurkan Sudan dari dalam.
Kalau Sudan disibukkan dengan konflik internal, maka akibatnya jelas yaitu akan melemahkan kekuatan internalnya. Pada gilirannya, kekuatan Islam bisa diberangus dari negeri Sudan bahkan sampai negeri Afrika Tengah.
Ini adalah cara klasik. Apa yang dilakukan Umar bin Hafshun bin Hafshun di Andalusia merupakan cara yang relatif sama. Orang-orang Nashrani menghasutnya agar pindah agama, sampai akhirnya ia murtad menjadi Nashrani dan mengubah namanya menjadi Samuel, untuk meruntuhkan Andalusia dari dalam.
Ternyata, kejadian serupa juga terjadi di zaman Rasulullah SAW.  Dimana ketika kaum kafir Qurays menyurati Abdullah bin Ubay bin Salul di Madinah (al-Rahîq al-Makhtûm, 175), mereka memprovokasinya untuk memerangi Rasulullah SAW, bahkan mengusir beliau dari Madinah, dan lain sebaginya.
Kudeta yang yang dilakukan oleh Umar bin Hafshun adalah di antara yang terkenal yang pernah terjadi di Andalusia Selatan. Ia membentuk semacam negara kecil di wilayah Andalusia, dan menguasai banyak benteng, bahkan benteng   ʼIstiǧǧa/Écija dan Ǧayyān/Jaén yang merupakan salah satu benteng terkuat di Andalusia secara mutlak. Granada pun akhirnya menjadi bagian kekuasaan Umar bin Hafshun. Ia pun membut ibu kota baru bagi negara kekuasaanya dengan nama Bobastro  di wilayah Selatan Andalusia di samping Al-Maria (ألمارية) di tepi pantai Laut Tengah.    
Tidak hanya dari kalangan Nashrani, Umar bin Hafshun juga didukung oleh Daulah Fathimiah/Ubaidillah. Negara yang baru berkembang ini, memasok kebutuhan logistik dan senjata kepada Samuel melalui jalur selat Gibraltar dari arah selatan. Ini tentu saja dimaksudkan untuk menyerang khilafah Umawiah yang sunni di Cordova. Dia juga dibantu oleh pengkudeta lain di Sevilla yaitu Ibnu Hajjaj ketika menyerang Cordova.
Kudeta yang dilakukan Samuel, pada akhirnya ada yang berusaha menggagalkannya. Setelah 2 bulan dilantik menjadi Khalifah, Abdurrahman An-Nashir membuat kebijakan strategis yaitu menumpas Umar bin Hafshun. Akhirnya ia bisa mengambil alih kembali kota ʼIstiǧǧa/Écija yang merupakan di antara benteng terkuat di Andalusia ketika itu.
Abdurrahman Nashir memimpin ekspedisi ini sendiri. Selama tiga bulan lamanya(Sya`ban, Ramadhan, Syawwal) pada tahun 300 H, ia bisa mengambil kembali Kota Ǧayyān/Jaén. Tak hanya itu, ia bahkan bisa mengambil kembali 70 benteng yang dikuasai Umar bin Hafshun.
Ada tiga kekuatan besar yang dihadapi Abdurrahman bin Nashir kala itu. Pertama, Umar bin Hafshun. Kedua, keturunan pemberontak Ibnu Hajjaj di Sevilla. Ketiga, kerajaan Nashrani dari utara Andalusia. Yang dilumpuhkan pertama kali pada tahun 301 H adalah Sevilla, dan ia berhasil merebutnya kembali. Baru kemudian setelah itu menumpas Umar bin Hafshun.
Karena penyokong dari Barat(Sevilla) bisa dilumpuhkan, akhirnya bantuan dari Barat otomatis tidak ada. Dengan demikian Abdurrahman An-Nashir bisa merebut Randa, Sidonia, dan Carmona. Ini semua merupakan kota di kawasan Selatan Andalusia.  Tak hanya itu, ia juga bahkan bisa meransek dan menguasai wilayah selatan, Gibraltar sehingga bisa memutus bantuan dari dari Daulah Fathimiyah dan Daulah Nashrani(karena mereka membantunya dari utara melalui samudra Atlantik kemudian ke selat Gibraltar, lalu Laut Tengah. Dengan demikian, segala bentuk bantuan dari berbagai Arah kepada Umar bin Hafshun bisa diputus.
Pada akhirnya Umar bin Hafshun meminta gencatan senjata dengan syarat Abdurrahman memberikan 162 benteng kepadanya, dan ia pun menyepakatinya.
Semangat jihad Abdurrahman An-Nashir ini pada akhirnya mendapat kemenangan gemilang pada ekspedisi tahun 304 H. Sepulangnya dari Cordova, akhirnya Zaragosta bergabung dengannya tanpa ada peperangan. Lebih dari itu, pada tahun 306 H, ada kejutan lain yaitu kematian Samuel bin Hafshun dalam kondisi murtad, pada usia 66 tahun.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh Abdurrahman An-Nashir dengan menghimpun seluruh wilayah tenggara ke dalam kekuasaannya. Ia pun memberi kesempatan bagi penduduk yang murtad ke Nashrani selama 3 hari, jika kembali ke Islam maka akan diterima menjadi tentaranya, jika tidak maka diekskusi. Di antara mereka adalah putri Samuel bin Hafshun yang dibunuh karena mendorong orang agar tidak meninggal agama Nashrani.
Di antara pelajaran yang bisa diambil dari kisah Samuel bin Hafshun ialah:
Pertama, kudeta terjadi ketika kondisi umat sangat lemah: di sana sini terjadi perpecahan, terlalu cinta dunia, dan terjadi krisis kepemimpinan.
Kedua, tabiat atau karakter pengkudeta penguasa Islam resmi, biasanya akan tidak segan melakukan segala cara demi mensukseskan keinginan: termasuk berkonspirasi dengan negara musuh Islam.
Ketiga, kudeta selalu memakan korban yang tidak sedikit.
Keempat, kudeta adalah di antara cara efektif yang diprovokasikan musuh Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Kelima, kudeta kepada pemimpin sah -kalau pun berhasil- pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama. Kalau tidak jatuh hina, atau mati sengsara.
Keenam, untuk mengatasi kudeta, dibutuhkan pemimpin karismatik, mencintai dan dicintai rakyat, adail dan pemberani.

5 Bekal Pra Ramadhan

Written By Amoe Hirata on Rabu, 01 Juni 2016 | 17.37

RAMADHAN sebentar lagi hadir di tengah-tengah kita, bekal apa kiranya yang mampu membuat setiap Muslim berhasil dalam menjalani Ramadhan. Tulisan ini akan menjelaskan lima bekal yang harus dipersiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan agar meraih kesuksesan di dalamnya.
            Sebelum mengurai 5 bekal menyambut Ramadhan, terlebih dahulu dijelaskan bahwa ide ini terinspirasi dari sirah nabawiah mengenai empat syari`at yang diwajibkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dan sahabatnya pada tahun kedua hijriah yang bertepatan dengan bulan Sya`ban.
            Pada tanggal 2 Sya`ban, Rasulullah mendapatkan empat syari`at dari Allah. Pertama, pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka`bah, Mekkah. Kedua, kewajiban puasa Ramadhan. Ketiga, kewajiban zakat. Keempat, kewajiban jihad dalam arti perang secara fisik(Muhammad al-Khudhari, Nûr al-Yaqîn fî Sîrati Sayyidi al-Mursalîn, 96).
            Dari keempat hal tersebut, paling tidak ada 5 bekal yang harus dipersiapkan oleh setiap Muslim sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Pertama, bekal iman dan ikhlas. Peristiwa perubahan arah kiblat di bulan Sya`ban ini sebenarnya ujian berat bagi keimanan dan keikhlasan kaum Muslimin kala itu. Pasalnya, tanpa keduanya dalam menjalankan syari`at Allah, maka mereka tidak akan kuat menghadapi gunjingan Yahudi yang menganggap Nabi Muhammad tak punya pendirian akibat perubahan kiblat ini. Pada akhirnya mereka lulus menghadapi  ujian keimanan dan keikhlasan ini, dan tentunya berdampak positif bagi Ramadhan yang akan mereka lalui.
Bagaimana pun juga Ramadhan memang membutuhkan keimanan dan keikhlasan ekstra. Orang yang menjalankan ibadah Ramadhan hanya karena pamrih kepada manusia, maka tidak mendapatkan apa-apa selain apa yang dipamrihinya. Karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah ketika Ramadhan sangat mewanti-wanti pentingnya keimanan dan keikhlasan. Sebagai contoh misalnya dalam ibadah qiyamul lail  di bulan Ramadhan beliau mengingatkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu `alahi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramdhan dengan penuh keimana dan hanya mengharap(ikhlas) padaNya, maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”(HR. Bukhari, Muslim).
Kedua, bekal loyalitas. Di sisi lain, sejatinya, perintah perubahan kiblat pada bulan Sya`ban itu mengajarkan pelajaran berharga pada sahabat akan pentingnya loyalitas kepada Allah. Ketika Allah sudah memerintahkan sesuatu, maka tidak ada reserve di dalamnya. Persis seperti gambaran firman Allah:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS. Al-Ahzab[33]: 36). Orang yang memasuki Ramadhan tanpa bekal loyalitas yang tinggi, maka akan sangat berat dalam menjalaninya.
            Ketiga, bekal spiritual. Sebulan sebelum kedatangan syari`at di bulan Ramadhan, para sahabat sudah diberi tahu terlebih dahulu kewajiban puasa Ramadhan. Pemberitahuan ini tentunya akan memberi waktu bagi mereka untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama dalam hal spiritualitas.
            Puasa pada prinsipnya adalah mengandung subtansi pengendalian diri, dan ini erat kaitannya dengan spiritualitas seseorang. Orang yang memiliki spiritualitas bagus sebelum menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, maka ketika memasukinya akan dengan mudah melaksanakan ibadah di dalamnya.
            Nabi Muhammad sendiri dalam salah satu riwayat dikatakan, pada bulan Sya`ban beliau sangat rajin berpuasa. Aisyah bercerita:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ  وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim). Dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Sya`ban, spiritual belia terjaga dengan baik, sehingga ketika Ramadhan datang, tidak akan mengalami kesulitan.
            Keempat, bekal finansial. Bekal finansial ini terinspirasi dari peristiwa kewajiban zakat yang disampaikan Allah pertama kali di bulan Sya`ban. Kita tentu sudah maklum, zakat membutuhkan finansial. Lebih dari itu, amalan-amalan lain di bulan Ramdhan seperti sedekah, sahur, buka, dan memberi buka puasa kepada orang-orang berpuasa tentu membutuhkan persiapan finansial yang memadai. Bekal finansial yang cukup tentu saja akan menunjang kesuksesan amal di bulan Ramadhan.
            Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat dermawan. Kedermawanan kebanyakan membutuhkan finansial. Maka tidak mengherankan jika, kedermawanan beliau sangat bertambah ketika di bulan Ramdhan. Ibnu Abbas menceritakan:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.”(HR. Bukhari, Muslim).
            Kelima, bekal fisik optimal. Di bulan Sya`ban tahun 2 Hijriah itu, jihad dalam pengertian perang sudah diwajibkan. Jihad perang tentu saja membutuhkan kekuatan fisik yang optimal. Setelah ada kewajiban jihad ini, pada tanggal 17 Ramadhan mereka mendapat kemenangan di perang Badar Kubra dengan sangat gemilang. Bisa dibayangkan –tentunya setelah bantuan Allah- bagaiamana persiapan fisik mereka sebelum Ramadhan, sehingga dalam Ramadhan pun mereka tetap kuat melakukan jihad.
Mungkin sekarang kita bukan dalam kondisi perang, namun persiapan fisik juga tak bisa diabaikan sebelum Ramadhan tiba. Masalahnya, amalan di bulan Ramadhan seperti puasa, qiyamul lail dan lain sebagainya, membutuhkan semangat jihad dan fisik prima. Jika tidak, mana mungkin bisa menunaikannya secara maksimal, padahal Ramdhan hanya datang satu tahun sekali.

            Sebagai kesimpulan akhir, dari peristiwa  sirah nabawiah pada 2 Sya`ban, tahun 2 Hijriah, ada 5 bekal yang harus disiapkan bagi orang yang ingin sukses menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Pertama, iman dan ikhlas. Kedua, loyalitas. Ketiga, spiritual. Keempat, finansial. Kelima, fisik yang optimal. Semoga kesuksesan bisa kita raih, di bulan suci. Wallahu a`lam. [Dipubis di: http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2016/05/10/94517/5-bekal-pra-ramadhan.html]

Nambah Istri Apa Nambah Anak?

Written By Amoe Hirata on Selasa, 24 Mei 2016 | 15.55

Ada seorang suami ingin menambah anak. Namun sayangnya si istri, enggan menurutinya. Dengan bahasa yang halus, tapi juga mengena sasaran si suami pun memberi pertanyaan kepada istrinya, "Adek, kamu mau aku NAMBAH istri atau kamu Nambah anak?" Istrinya pun menyerah, "Nambah anak saja deh." Jawabnya dengan cukup kecut.

JILBAB: Sepucuk Surat Cinta dari Sang Rahman

AKU dapati setiap wanita berhijab yang menutupi dadanya dengan kain kudung, terlihat begitu cantik. Kali ini aku heran pada diriku? Aku kira memakai kain di atas kepala terlebih lagi dengan jilbab yang besar akan sangat menyiksa si pemakai, tapi kali ini pengelihatanku seakan dapat melihat binar-binar cahaya dari wajah setiap wanita berjilbab. Mereka nampak anggun daripada kebanyakan wanita yang menggunakan pakaian minimalis. Mereka terlihat bersahaja dan berhati terbuka daripada wanita metropolis dengan pakaian modis tapi tipis.
Aku tidak berhenti memandanginya,
“Ada yang aneh dengan diriku?” aku terperanjat, merasa tak enak hati karena telah memandangi wanita berjilbab biru tua di hadapanku ini dengan seksama hingga membuatnya merasa risih mungkin.
“Eehm, enggak ka!”
“Ada yang mau kamu tanyakan dek?” Tanyanya
Aku sempat terdiam. Dalam batin ku ingin bertanya memang! Pikiranku pun mulai merangkai kata yang pas. Namun lidah serasa enggan bergoyang!
“Kenapa kita harus pake jilbab?!” aku melontarkan pertanyaan begitu saja, dengan nada bicara sedatar mungkin.
“Karena Allah.” Jawabnya mantap. Singkat dan tegas
“Aku tahu sich! Allah mewajibkan perempuan untuk menutup aurat tapi apa gak cukup tertutup saja? Maksudku aku berpakaian sopan, tidak berlebihan dan tidak seksi githu! Aku pun bersikap baik dan rajin beribadah walau pun ada kalanya sangat malas, terus untuk apa aku berjilbab?”
Sejenak Ka Iren memilih diam! Kaka kelas waktu aku SMP ini menatapku lamat-lamat.
“Walaupun Allah memerintahkan kita untuk beribadah, bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Semua manfaat ibadah yang kita lakukan itu akan kembali kepada kita. Bismillah… Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Kata-kata yang ia maksudkan untuk menjawab setiap pertanyaanku, serasa menyentuh hatiku dan membuatku hanya diam seperti paku. Tidak ada satu kata pun yang terlupa dari pembicaraan yang hanya singkat dan menggantung itu. Sungguh sangat disayangkan! Mungkin waktunya tidak tepat saat Ka Iren mengharuskan pamit dengan amat menyesal dan meninggalkanku dengan kegalauan sangat!. Bahkan satu pertanyaanku belum dijawabnya dengan sempurna! Namun aku tidak merasa tersesat, setelah kuselami aku sadar bahwa sebenarnya mungkin ini sebuah lentera yang dapat menuntunku pada cahaya di atas cahaya.
Aku membuka lemari pakianku, hanya ada 2 blus lengan panjang, bekas 2 lebaran lalu yang hanya dipakai saat shalat ied. Sampai saat ini, aku masih saja berfikir; apa aku harus pakai jilbab?  Pertanyaan itu terus saja merajai kelapaku, ditengah kegelisahan ini aku mengutarakan niat ku pada bapakku, “Nanti kamu susah cari kerja! POKOK-nya kamu gak boleh pake jilbab!” pengutaraan itu dipatahkannya mentah – mentah! Dan membuatku tidak berdaya dengan penolakan itu.
Masih belum berhenti, tidak ingin menyerah walau pun aku sudah mulai lelah mencari sebuah hidayah. Entah mengapa aku punya keyakinan bahwa hidayah itu terkadang harus diperjuangkan! Bukan sekedar pemberian Tuhan. Karena sekali lagi hidup adalah perjuangan dan meraih jannah- Nya harus dengan terus berjuang!
Akhirnya hujan turun di penghujung bulan September. Aku masih saja sama seperti kemarin. Aku berdiri di depan jendela kamar dengan memandang derasnya hujan yang mengguyur Jakarta sejak sore tadi. Sayup-sayup aku mendengar suara adzan berkumandang di tengah geliat melodi rintik hujan dan sahutan petir saling menyambar. Waktunya shalat isya. Dan tidak seperti biasanya aku begitu bersemangat menyegerakan shalat isya. Aku mengambil wudhu. Air yang membasahi bagian-bagian tertentu tubuhku jatuh pasrah, tetes demi tetesnya seperti keikhlasanku yang menyerahkan segalanya untuk ku tukar dengan sebuah hidayah.
Aku bertakbir! Allahuakbar mengangkat tangan dan sungguh-sungguh menghayati apa yang aku lakukan! Shalatku, ibadah dan matiku hanya untuk Allah Ta’alla. Seusai shalat, tanpa ku sadari butiran bening air mataku membentuk aliran sungai di pipi. Ada sesuatu yang sungguh tak ku mengerti, sesuatu yang seakan membuncah! Aku masih duduk tergeletak di atas sajadah panjang membentang!
Pandanganku tiba-tiba terpatri pada sebuah al-Qur`an di atas lemari kaca yang telah lama tak pernah ku buka bahkan hanya sekedar memandangnya. Al-Qur’an besar dan telah lusuh itu seakan menarikku untuk meraihnya. Benar saja ku ikuti apa kata hati! Sebelum ku buka al-Quran berdebu itu, aku memohon pada satu-satunya Tuhanku, “Ya allah, aku tahu aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa! Tapi aku yakin Kau maha kuasa dan Kau amat mengasihi diriku yang lemah dan hina ini. Aku memohon petunjukMu, aku meminta hidayahMu, Tunjukan aku wahai Tuhanku,, Aku mohon… Aku amat memohon….”
Dengan mengucap, “Bismillah,” ku buka al-Qur’an itu, ku buka dengan sembarang namun penuh keyakinan bahwa Allah Maha Penyayang dan segala petunjuk ada di TanganNya.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakan perhiasannya(auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,,, SURAT AN- NUR AYAT 31, aku sungguh tidak tahu…
Air mataku berderai tanpa bisa ku bendung! “Inikah jawabanMu Tuhan,..? Inikah surat cintaMu untuk ku?… ALLAH……aku terisak sampai rasanya tak mampu berucap. Gemetar tubuhku, aku bahkan bisa merasakan keringat dingin membasahi tubuhku, setangah gugup aku terus saja masih menangis! Mungkin mengalahi tangisan hujan pada malam itu! Tangisku bahkan tak mampu mengeluarkan suara erangan ataupun suara-suara lain. Tangis ku diam! Tangisan yang dalam. Aku mencoba untuk meneruskan ayat yang ku baca..
“Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya…. Hampir-hampir aku mengakhiri bacaanku karena aku sungguh tak mampu menahan lahar kehampaan yang menyeruak keluar diriku dan melegakan diriku dan mengisi kekosongan hati ku dengan cahaya Illahi. “ALLAH…ALLAH…ALLAH.. “ Hanya asmaNya yang mampu ku ucap…
“Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya ( auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra – putra mereka, atau putra – putra suami mereka, atau putra – putra mereka, atau saudara – saudara lak – laki mereka, atau putra – putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islam)mereka, atau hamba sahaya yang memiliki mereka, atau para pelayanan laki – laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak – anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang – orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
Itu jawabaNya, itu surat cintaNya, Bismillah…. ku memantapkan diri dengan berhijab!. Aku yakin Allah bersamaku, Allah di dekatKu – sangat dekat! Bahkan ketidaksetujuan bapak menjadi satu dari berbagai ujian setelahnya yang terus aku perjuangan untuk tetapi istiqomah di jalan yang telah ku pilih.
Keputusanku, menjadi kemarahan besar bagi bapak tapi aku tidak gentar sedikit pun!
Belum lagi masalah pakaian, baju-baju dan bawahan semuanya ku sisihkan! Lemari ku kosong melompong! Hanya ada 2 blus, 2 celana jeans, satu rok panjang yang agak transparan dari lutut ke bawah, satu baju seragam putih panjang dan satu rok abu-abu panjang! Alhamdulillah, aku masih bisa pergi ke sekolah dengan seragam putih abu-abu yang biasa dipakai setiap jum’at.
Keputusanku menjadi kehebohan di sekolah, aku merasa seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang pastinya terheran-heran dengan perubahan drastis dari diriku. Heran, ada saja di antara temanku yang menyayangkan keputusanku, dan ada pula yang sama-sama mengucap syukur dan memberikan selamat khususnya para pengurus ROHIS! Dan di hari itu juga aku memutuskan untuk ikut berperan actif bergabung di dalam organisasi ROHIS, mereka menyambut baik niatku, aku merasa organisasi ini wadah yang pas untuk menempa diri dan belajar banyak tentang wawasan keislaman dan akhlak rasulullah SAW agar aku dapat menjadi insan rabbani yang berhati.
Hari Senin sampai Rabu aku terpaksa mengenakan pakaian putih abu-abu. Senin pertama aku yakin pihak sekolah mafhum dan tidak memberikan hukuman padaku dengan alasan mendasar yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa aku belum bisa membeli rok putih panjang.
Aku dipusingkan dengan hari Kamis! Sekolah menuntut, agar setiap siswa di hari itu mengenakan baju batik dan rok hitam. Tak jadi soal baju batikku yang pendek karena aku masih bisa merangkap dengan baju putih panjang sebelumnya, tapi untuk rok hitamnya?
Aku tidak ingin keputusanku ini menjadi masalah baru bagi bapakku, pasalnya keuangan keluarga kami pada saat ini tengah mengalami krisis. Alhamdulillah aku masih punya sedikit tabungan, tapi ternyata jumlahnya masih tidak mencukupi untuk membeli rok hitam yang harganya mungkin berkisar dari 40 – 60 ribu rupiah.
Ada jalan! Allah pasti memberikan kemudahan dan menunjukan kasih sayangNya. Uang di tanganku hanya 25 ribu rupiah aku pergi ke pasar siang itu juga, masuk dari toko satu ke toko seragam lainya, ternyata harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan uang di dompet, malah lumayan 2 kali lipatnya.
Sampai toko yang kelima, harga yang ditawarkan masih terlalu mahal untukku, 50 ribu rupiah, “Ya Allah kurang banget uangnya” aku membatin dalam hati. Aku kalut, besok rok nya sudah harus ku pakai? Kalau tidak aku tidak bisa sekolah! Aku memtuskan untuk kembali ke rumah dulu, berikhtiar lagi tapi tetap tidak mungkin aku meminta uang pada bapak! Sama sekali tidak! Aku masih punya Allah tempat aku meminta, “Ya Allah, yang kutemukan di rumah ini hanya 5 ribu, uang jajanku untuk seminggu kedepan!, tapi tetap aku mengucap syukur padaMu…alhamdulillah” Aku kembali lagi ke pasar! Kali ini aku memasuki toko ke-6, siapa tahu harganya bisa lebih murah! pemilik toko yang seorang perempuan Padang melayaniku dengan sangat ramah,
“Mau beli apa dek?” Tanya nya dengan senyum mengembang
“Rok hitam panjang uni.” jawabku, sepertinya ia senang ku panggil uni sebutan bagi perempuan-perempuan Padang, dan ia menyodorkanku rok hitam dengan ukuran yang ternyata terlalu kebesaran untukku, kemudian ia melihat dengan seksama tubuhku, memperkirakan nomor berapa yang pas di pinggangku. Aku menjajal rok kedua yang ia berikan dan yang ini pas.
“Berapa Uni?”
“45 saja!”
“20 uni?” tawarku. Setahu ku dalam ilmu penawaran, kita harus menawar dari setangah harga yang diinginkan si penjual di awal penawaran.
“Tidak bisa. lah..” ucapnya. Melihat wajah uni yang masih memajang senyum merekah itu, aku pikir masih ada harapan untuk menawar lebih murah lagi.
Aku berkata dengan seolah-olah berat aku menjawabnya,
“ 25 yaa, Uni!”
“Tidak bisa dek, ya sudah kalau untuk ade 40 saja lah. Itu sudah harga pas!”
“Tidak bisa 30 saja uni!” Dia hanya menggeleng,
Ya Allah, uangku masih kurang. Tapi ini sudah toko yang paling murah dari toko sebelumnya yang aku masuki. Dengan sangat berat hati, rasanya lemas, aku tidak punya uang lagi. Tapi itu sudah harga pas yang sudah ia tawarkan, aku tahu itu memang harga yang paling murah dibandingkan toko lainnya, tidak cukup tega aku menawar lebih murah lagi. Aku mengembalikan rok nya yang sedari penawaran tadi berada di tanganku, dan dengan suara parau aku mengucap lirih,
“Yaudah deh, nanti saya kemari lagi! Insya’allah” Gontai aku melangkah, sedangankan uni nya hanya bisa menatap sedikit kecewa barang daganganya belum berhasil ia jual.
Sudah kesekian toko di pasar ini ku singgahi tapi rasanya aku harus berusaha lebih keras lagi! Aku pun pulang dulu ke rumah siapa tahu, aku bisa menemukan uang ku yang terkadang suka lupa ku simpan di mana?
“Alhamdulillah,,,” aku mengucup syukur lagi yang tak terhingga, aku menemukan uang 5 ribu di tas kecil yang biasa ku pakai saat pergi-pergian. Ini benar-benar berkat pertolongan Allah, uang ku telah terkumpul 35 ribu rupiah, ditoko terakhir masih kurang 5 ribu, tapi aku masih bisa mencari di toko lainnya, masih ada kok. “Bismillah, bantu aku ya Allah”
Rupanya, toko seragam di pasar ini sudah ku jajali semua. Bagaimana ini? Dan aku hanya terus berjalan jadi seperti orang linglung setengah cape bolak-balik rumah pasar yang jaraknya lumayan membuat sekali jalan berkucuran keringat!
Aku terus saja berkata dalam hati, ALLAH….ALLAH…sampai akhirnya aku engeh! Perjalananku ini terus bergerak ke toko terakhir milik uni yang menawarkan harga di bawah yang lainnya, aku pun mencoba kembali masuk. Aku kaget! Uni langsung menyambutku dengan memegang rok hitam yang tadi aku jajal dan dengan setengah berteriak berkata padaku,
“Dek, ini. 35 ribu saja. Itung-itung neng jadi pelanggan di sini, jadi sebagai permulaan saya kasih diskon dahsyat.!”
“Alhamdulillah…” aku sungguh tak menyangka. Aku senang bukan kepalang, dengan masih setengah tidak percaya aku berkata pada si uni
“Bener nie Uni??!”
Uni menjawabnya dengan senyuman selebar daun kelor. Aku yakin Allah bersama setiap hamba-hambaNya yang yakin akan kuasa dan kebesaranNya. Maha suci Allah dengan segala rahmanNya…
Kekhawatiran bapak tidak terbukti! Dengan kesungguhan dan keyakinan akan kasih sayangNya, aku dapat melewati setiap fase masa SMKku dengan gemilang, menyenangkan dan sangat berarti. Kini aku bangga menjadi seorang muslimah yang insya’allah istiqomah selalu sampai berhasil masuk ke jannahNya.
Saat ini, Selain tengah menyelesaikan pendidikan strata satu jurusan Kependidikan Islam, aku juga bekerja di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta Timur. Alasan penolakan bapak takut aku tidak mendapatkan pekerjaan yang layak terjawab sudah! Malah dengan aku berhijab aku mendapatkan banyak hal yang tidak bisa aku dapatkan jikalau aku tidak menutup auratku, mahkota ku.
Yakin akan kekuasaanNya! bahwa selalu yang terbaik yang Ia berikan pada setiap hambaNya. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika tidak ia sendiri yang mau merubahnya karena setiap hal dalam kehidupan adalah perjuangan!. Teruslah berjuang, tancapkan keyakinan dalam dada, pegang kuat-kuat janjiNya, Berdiri di atas agama Islam dengan membawa panji muslimah sejati yang tidak akan mundur dari medan tempur kehidupan dengan segala coba dan segala uji.
[By: Mesti Farah].
 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan