Apa yang ada dibenak anda ketika disebut nama “Yusuf”? Mungkin di antara anda ada yang menjawab: Ooo itu nama Nabi. Kemudian kalau saya kembangkan pertanyaan: apa yang paling anda ingat mengenai Nabi Yusuf? Mungkin anda juga akan menjawab: Ooo ketampanannya. Apa ada yang salah dengan jawaban ini? Tentu saja tidak. Memang Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya. Namun yang menjadi kurang obyektif ialah ketika kita hanya terpaku pada ketampanannya saja. Karena apa gunanya ketampanan jika tak takwa?; apa gunanya kegantengan jika tak taat?;apa gunanya kerupawanan jika tak beriman?. Jika kita mengingat Nabi Yusuf, justru yang utama ialah bukan sekedar ketampanan fisik, namun lebih dari itu bahwa dia juga memiliki ketampanan batin yang patut diteladani. Apa gunanya ketampanan fisik jika tak diiringi dengan ketampanan batin? Bukankah Allah tidak melihat pada bentuk dan jasad kita, tapi melihat pada ketakwaan kita?
Yusuf Kontemporer
Written By Amoe Hirata on Selasa, 17 Januari 2012 | 20.20
Apa yang ada dibenak anda ketika disebut nama “Yusuf”? Mungkin di antara anda ada yang menjawab: Ooo itu nama Nabi. Kemudian kalau saya kembangkan pertanyaan: apa yang paling anda ingat mengenai Nabi Yusuf? Mungkin anda juga akan menjawab: Ooo ketampanannya. Apa ada yang salah dengan jawaban ini? Tentu saja tidak. Memang Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya. Namun yang menjadi kurang obyektif ialah ketika kita hanya terpaku pada ketampanannya saja. Karena apa gunanya ketampanan jika tak takwa?; apa gunanya kegantengan jika tak taat?;apa gunanya kerupawanan jika tak beriman?. Jika kita mengingat Nabi Yusuf, justru yang utama ialah bukan sekedar ketampanan fisik, namun lebih dari itu bahwa dia juga memiliki ketampanan batin yang patut diteladani. Apa gunanya ketampanan fisik jika tak diiringi dengan ketampanan batin? Bukankah Allah tidak melihat pada bentuk dan jasad kita, tapi melihat pada ketakwaan kita?
Ketampanan
fisik hanya sekedar bentuk wadag lahiriah yang bisa sirna dan tiada, akan
tetapi ketampanan batin akan senantiasa bernilai dan abadi meski fisik telah
hancur binasa. Dari kisah Nabi Yusuf seharusnya kita bukan saja mengenang
ketampanan dan kerupawanannya, kita harus meneladani bagaimana Yusuf kecil yang
begitu sabar ketika dicampakkan di sumur hingga dijual ke negeri Kinanah Mesir;
bagaimana Yusuf begitu kuat memegang rahasia mimpinya sewaktu kecil; bagaimana
Yusuf bisa memiliki keimanan yang tinggi; bagaimana Yusuf lebih memilih penjara
daripada melayani rayuan wanita; bagaimana kesyukuran Yusuf ketika mendapat
anugerah Allah; bagaiman semangat Yusuf yang begitu tinggi dalam berdakwah
meskipun sedang dipenjara; bagaimana ketawadlu`an Yusuf ketika mengatakan bahwa
semua yang ia kuasai tentang tafsir mimpi adalah dari Allah; bagaimana
keamanahan Yusuf ketika menjadi bendahara kerajaan; dan lebih dari itu semua
ialah bagaimana Yusuf mempunyai kebesaran hati dan kelapangan jiwa sehingga mau
memaafkan semua saudaranya yang bersekongkol mencampakkan Yusuf.
Ada
dua kata yang bisa mewakili kebesaran Nabi Yusuf: Pertama: Syukur dan Kedua:
Sabar. Dengan sifat syukur dia mampu memanfaatkan setiap anugerah Allah untuk
ditransformasikan menjadi energi positif yang mampu memacu dan mendorong
dirinya untuk senantiasa beribadah kepada Allah ta`ala. Dengan sifat
sabar dia mampu menahan, mampu bertahan dari segenap ujian dan cobaan yang
silih berganti. Pada akhirnya sifat syukur dan sabar ini, atas izin Allah ia
mampu mendapatkan happy ending(akhir yang manis). Bukankah Nabi Muhammad
shallallahu `alaihi wasallam pernah bersabda: (sungguh) mengagumkan
keadaan orang mukmin, segala keadaannya itu baik, jika ia mendapat kebaikan
maka ia bersyukur, dan jika ditimpa keburukan ia bersabar. Coba perhatikan
betapa dahsyatnya sifat sabar dan syukur dalam mengkondisikan dan mengkontrol
diri seseorang supaya tetap setabil. Bahkan ibnu Qayyim dalam kita `Uddatu
as-Shoobirin mengatakan bahwa syukur dan sabar merupakan bagian paling
mendasar dari keimanan. Separuh iman ialah syukur dan separuhnya lagi ialah sabar.
Kalau kita cermati betul-betul sifat syukur dan sabar akan kita dapati dari
sosok Nabi Yusuf.
Yusuf
sebagai sosok manusia tampan secara fisik memang telah tiada berabad-abad yang
lalu tetapi Yusuf sebagai esensi nilai akan senantiasa ada hingga kiamat nanti.
Sebagai esensi nilai ia tidak akan musnah karena ada yang meneladani. Orang-orang
tampan yang mampu mensyukuri ketampanannya dengan senantiasa berjuang,
berkorban, beribadah ikhlas mengharab ridha Allah maka ia telah meneladani
Yusuf. Coba buka kembali lembaran emas sejarah kehidupan para sahabat Nabi,
akan kita temukan esensi nilai itu. Suatu saat Umar bin Khathab berkata: Yusuf
umat ini ialah Jarir bin Abdillah al-Bajli. Kalau kita perhatikan
betul-betul pernyataan Umar ini maka akan kita temukan kebenaran faktualnya.
Dalam lembaran sejarah emas Jarir bin Abdullah kita temukan bahwa Rasulullah
pernah mengatakan bahwa wajah Jarir ada mushatul malaaikah(percikan
keindahan malaikat). Ia merupakan sahabat yang tampan dan rupawan. Tak hanya
itu, ia juga berjuang, berkorban, dan bersabar. Waktu memerangi penduduk Hamdan
matanya terkenah panah namun dia mampu bersabar dan mengharap ridha Allah. Ia
juga termasuk sahabat yang pandai dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Ia
mampu teguh tegar memegang Islam meski kebanyakan dari sukunya murtad. Maka
benarlah kata Umar jika Jarir bin Abdillah adalah Yusuf umat ini. Karena
ketampanan yang dimiliki mampu disyukuri dengan amalan-amalan positif, dan
mampu memercikkan kesabaran dari hatinya sehangga tabah dalam menghadapi segala
cobaan, sampai akhirnya ia meninggal di bumi Syam.
Sebagaimana
Nabi Muhammad, Nabi Yusuf secara fisik memang telah tiada, namun keteladanan
mereka berdua akan senantiasa ada menyertai kita jika kita mau meneladaninya.
Untuk menjadi Yusuf secara esensial tentunya kesabaran dan kesyukuran harus
senantiasa melekat dalam benak kita, karena itu bagian inti dari keimanan. Namun
sekali lagi meneladani bukan perkara yang mudah. Perlu usaha ekstra untuk mampu
merealisasikan nilai yang dicontohkannya. Kita dapat pelajaran besar bahwa yang
terutama bukan ketampanan fisik tapi batin. Kalaupun kita dianugerahkan
ketampanan maka itu perlu disyukuri dengan senantiasa berjuang dan berkorban
untuk menggapai ridha Allah. Kita tahu betapa Yusuf tidak terlalu mempedulikan
ketampanannya tapi ia semangat berjuang dan bersabar. Wal `Aaaqibatu lil
Muttaqin(akhir yang baik pasti dimiliki orang –orang bertakwa). Ketampanan
yang tak beriring syukur dan sabar adalah ketampanan yang menipu dan
menjerumuskan. Meski tak tampan namun beriring sabar dan syukur maka ketampanan
batin Yusuf otomatis bisa diteladani. Maukah anda menjadi Yusuf kontemporer?