Tongkat Lintas Akhirat
Written By Amoe Hirata on Kamis, 24 Mei 2012 | 19.31
Tulisan
ini bukan hendak menceritakan kehebatan
dan keajaiban tongkat, meski jika dibandingkan dengan tongkatnya Harry Poter
masih hebat tongkat ini. Karena di samping animasi, tongkat Harry Poter
dimensinya hanya dunia saja. Adapun tongkat yang mau dicatat pada tulisan ini
sebenarnya tongkat yang biasa. Yang menjadikannya luar biasa ialah faktor momentum
kontekstual dimana tongkat itu diberi, oleh siapa tongkat itu diberi, untuk
siapa tongkat itu diberi, dan sampai sejauh mana dimensi yang dilintasi
tongkat. Tongkat ini diberi pasca keberhasilan salah satu sahabat Nabi yang
telah berhasil menumbangkan musuh; diberikan oleh Rasulullah shallallahu
`alaihi wasallam kepada sahabat yang bernama Abdullah bin Unais; dimensi
tongkat ini tak hanya terbatas sirna di dunia bersama waktu, bahkan tongkat ini
dimendinya lintas akhirat.
Sahabat
mulia bernama Abdullah bin Unais merasa terpanggil untuk membuktikan rasa
cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam. Ghirah yang
begitu besar membuatnya bergelora untuk berjuang di jalan Allah. Apa lagi salah
satu rekan sahabat dari suku `Aus telah berhasil menumbangkan benggolan Yahudi
bernama Huyay bin Akhthub. Ketika ada momentum perjuangan untuk menumbangkan
serangan suku Hudzail, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Abdullah
bin Unais. Titah Rasul padanya ialah menumbangkan pemimpin Hudzail yang bernama
Khalid bin Sufyan al-Hudzali. Pasca perang Uhud, suku Hudzail yang dipimpin
Khalid bin Sufyan hendak menyerang Madinah. Singkat cerita, Abdullah bin Unais
dengan segera melaksanakan titah Rasulullah. Kata Rasul, tandanya kamu ketemu
dia ialah ketika bertemu dia kamu akan merasa gemetar ketakutan. Sesampainya di
lokasi benar Abdullah bergetar. Kebetulan telah masuk waktu Dzuhur. Sambil
berjalan shalat dengan isyarat ia bergerak menuju Hudzail. Ketika selesai
terjadi obrolan singkat sampai akhirnya ketika berjalan bersama ada kesempatan
mas dimanfaatkan Abdullah bin Unais untuk segera membunuh Khalid bin Sufyan.
Setelah
terbunuh, Khalid bin Unais melapor pada Rasulullah shallallahu `alaihi
wasallam. Setelah menyampaikan keberuntungan, Rasulullah masuk rumah seraya
membawa tongkatnya untuk diberikan pada Abdullah bin Unais agar disimpan dan
dipegang dengan erat. Tanpa bertanya Abdullahpun pergi. Para sahabat menyuruh
Abdullah untuk bertanya perihal kenapa Abdullah diberi tongkat Rasulullah.
Ketika ditanyakan langsung ke Rasulullah, Beliau menjawab: “Tongkat ini
sebagai bukti(tanda) antara aku dan dirimu pada Hari Kebangkitan”. Subhanallah
.... betapa beruntungnya Abdullah mendapatkan momentum yang sangat berharga
ini. Hanya dia satu-satunya sahabat yang diberi semacam rekomendasi / bukti
dengan bentuk tongkat Beliau yang dijadikan bukti pada pertemuan di akhirat
kelak bahwa Abdullah bin Unais benar-benar berjuang dijalan Allah.
Perjuangan
yang tulus dan ikhlas akan membawa pada kejayaan abadi; perjuangan yang murni
dan jernih hanya untuk Islam mengantarkan pada keberuntungan sejati. Layaknya
Abdullah bin Unais, perjuangannya yang luar biasa meski harus kehilangan nyawa,
berbuah manis, meski dia mati bukan di medan jihad. Bahkan tongkatpun yang
sebenarnya hanya benda biasa, meski punya Rasulullah bisa menyertainya hingga
melintasi dimensi akhirat. Adakah tongkat yang diberkahi mempunyai keberuntungan
seperti tongkat yang diberikan pada Abdullah bin Unais?( cari saja sampai
dapat, mungkin akan sangat sulit bahkan mustahil dicari).
Bukan
tongkat benar yang bikin hebat. Tongkat hanya sebagai simbol rekomandasi
kesaksian Rasulullah bahwa Abdullah bin Unais benar-benar pejuang. Abdullah bin
Unais telah mampu melampaui kepentingan pribadinya demi kemaslahatan yang lebih
luas; ia telah mampu mengontrol hawa nafsu pribadinya, untuk senantiasa peduli
dengan kepentingan umat; mampu membuat jarak dengan egoisme pribadi untuk pergi
lebih jauh pada kepentingan yang lebih luas dan hakiki. Lantas, bagaimana
dengan kita? Apa yang akan kita persembahkan?.