Home » , » Mengarifi Layang-layang, Meniti Hidup Gemilang

Mengarifi Layang-layang, Meniti Hidup Gemilang

Written By Amoe Hirata on Rabu, 12 Maret 2014 | 18.27


Joko, Ardi, Slamet, Sugeng, Paijo dan Sholeh adalah enam sahabat yang berasal dari kampung Sembodo. Keenam sahabat ini sekarang sudah menjadi orang-orang sukses sesuai dengan profesi masing-masing. Joko sukses menjadi pedagang mie ayam dan bakso serta ‘Pekerja Sosial’; Ardi sukses menjadi dosen filsafat; Slamet sukses menjadi Sastrawan; Sugeng sukses menjadi TNI Angkatan Darat; Paijo sukses menjadi Kepala Desa; sedangkan Sholeh, sukses menjadi ustadz. Walau kini mereka rumahnya berjauhan dan menekuni profesi masing-masing, tapi mereka tetap menjalin komunikasi dengan baik, melalui telefon, twetter, facebook, yahoo messenger, bbm, dan alat komunikasi lainnya. Bagi mereka persahabatan tidak ternilai harganya. Persahabatan tak tersekat oleh ruang dan waktu. Persahabatan membuat hidup semakin hidup. Persahabatan membuat warna kehidupan tak terbatas hanya hitam dan putih; selain hitam dan putih masih ada warna kuning, merah, hijau, biru, ungu dan lain sebagainya. Persahabatan mengajarkan nilai penting bahwa manusia tak akan bisa hidup sendiri, sehingga menjalin hubungan sosial yang baik merupakan keniscayaan bagi mereka. Persahabatan yang mereka jalin tak dibatasi oleh sekat-sekat primordial dan superfisial tertentu. Persahabatan yang dibangun berdasarkan cinta-kasih yang universal; persahabatan yang dibina berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan; persahabatan yang didasari dengan ketulusan hati nurani, sehingga meskipun mereka dabatasi ruang dan waktu akan tetapi hati tetap menyatu.
 Ketika anak dari Paijo - yang bernama Panji Prasetyo - menikah, keenam sahabat ini kumpul dan mengadakan reuni kecil-kecilan untuk sharing(berbagi), bernostalgia, lepas kangen, shilaturrahim dan membicarakan perkembangan di desa Sembodo. Setelah acara pernikahan tepatnya jam 10.00 pagi, akhirnya mereka memutuskan untuk kumpul di sungai Pangarten tempat mereka bermain dulu. Sesampainya di lokasi, Paijo membuka obrolan sambil menikmati rokok kretek: “Konco-konco (teman-teman) sungai ini dahulu menjadi saksi bisu persahabatan kita. Tempat kita bermain, bergembira, bercanda, berdiskusi, bertenda di pinggirnya ketika bulan purnama. Hemm, kalau ingat itu kita serasa masih kecil saja. Al-hamdulillah seperti yang kalian lihat, kondisinya masih seperti sedia kala. Aku berusaha melestarikan lingkungan di kampung kita. Kalau diantara kita tidak peduli dengan lingkungan, maka lingkungan juga tak akan mempedulikan kita. Menjaga lingkungan - di samping merupakan tanda keimanan - merupakan kesadaran untuk menjaga sejarah masa silam. Di sini, kita dahulu menghabiskan masa-masa kecil dengan penuh dinamika dan nuansa yang mungkin tidak kita temukan di daerah lain”. “Iya tak terasa sudah 10 tahun aku tak ke sini tapi kondisinya masih asri, bersih dan nyaman” sahut Slamet dengan sungging senyum khasnya. “Sejujurnya aku salut sama kamu Jo, tak rugi lah orang kampung memilihmu menjadi Kepala Desa. Kepala Desa seharusnya dipilih berdasarkan pengetahuan dan kepedulian yang mendalam terhadap lingkungannya. Jika hanya karena duit banyak, maka yang akan diraih juga duit banyak. Aku bersyukur kamu bisa menjalankan amanah dengan baik” tukas Joko. “Ah jangan membesar-besarkan, bagaimanapun juga `kan aku dahulu banyak belajar dari kalian” sanggah Paijo berusaha berendah hati.
“Kita bereuni di sini usahakan jangan hanya sekadar lepas kangen saja. Kalau bisa kita juga harus mengambil kearifan dan hikmah yang bisa membuat tumbuh-berkembangnya kesadaran kita sebagai manusia yang lemah. Manusia itu bukan dipandang dari seberapa banyak hartanya; seberapa kuat fisiknya; seberapa tinggi jabatannya; seberapa besar pengaruhnya, tapi dilihat dari seberapa besar manfaatnya pada lingkungan” usul Sholeh menanggapi percakapan teman-teman. “Aku sangat setuju dengan Sholeh, pertemuan kita ini jangan hanya bernilai kesadaran individu, tapi harus berkembanga ke ranah yang lebih sosial” ucap Ardi memperkuat Sholeh. “Aku pasti setuju dengan usul kalian semua. Karena aku yakin kalau iktikad dan tujuan kalian baik semuanya. Selama ini `kan kita berusaha sebaik mungkin untuk peduli sosial. Bagaimana kalau kita mengenang diantara hal-hal yang kita anggap penting pada masa kecil untuk dicari kearifan dan hikmahnya. Jadi di samping nanti kita mengenang masa lalu, kita juga dapat pelajaran berharga. Bagaimana kalau kita memulainya dengan kelompok kecil kita dahulu yang kita sebut, ‘anak layang-layang’?” usul Sugeng. “Sip aku setuju. Kalau dari ilmu filsafatnya, kita berusaha untuk mengambil nilai filosofis dari layang-layang. Layang-layang meski terlihat sederhana dan biasa tetapi menyimpan makna filosofis yang begitu tinggi” tambah Ardi. “Kalau gitu, begini saja, gimana kalau keenam dari kita secara bergantian mengupas presepsi masing-masing mengenai kandungan hikmah dari layang-layang dengan sudut pandang berbeda dan tentunya juga mengandung hikmah yang kaya? Usul Joko. “Baik teman-teman aku juga sangat setuju. Kalau begitu kalau Pak Dosen Filsafat kita ini yang didapuk menjadi pembicara pertama mengenai layang-layang?” tambah Paijo. Akhirnya mereka pun setuju.
“Oke kalau itu sudah jadi kesepakatan. Bagiku layang-layang ibarat cita-cita. Semakin besar dan tinggi layang-layang maka semakin dibutuhkan benang yang kuat. Benang ibarat tekad dan usaha yang kuat. Kenapa butuh benang yang kuat atau tekad yang kuat? Karena semakin tinggi layang-layang, semakin besar pula angin yang merintang. Hanya yang diikat dengan yang kuat yang mampu eksis dan tercapainya layang-layang. Semakin tinggi cita-cita seseorang maka akan semakin besar ujian dan cobannya. Hanya orang yang bermental baja, bertekad kuat dan berusaha secara berkesinambungan yang mampu menggapainya. Untuk bisa terbang, layang-layang harus diukur secara cermat, teliti dan seimbang. Demikian juga orang yang mau menggapai cita-cita, harus diukur, ditimbang, dipelajari dengan saksama dan serius apakah cita-citanya itu memungkinkan untuk digapai, sesuai dengan potensi diri, dan bermanfaat bagi diri dan orang lain. Cita-cita yang tak terukur, dan tidak didasari pengetahuan mendalam mengenai potensi diri hanya akan mengalami kegagalan. Sebagaimana layang-layang yang tak bisa terbang akibat ketidakseimbangan kerangka yang menjadi dasar layang-layang. Kemudian, sebagaimana layang-layang, yang namanya cita-cita itu harus tinggi. Layang-layang yang ketinggiannya tak mencukupi, maka akan mudah jatuh ke tanah. Memang semakin tinggi angin semakin kencang, tapi justru karena adanya angin (tantangan) itulah layang-layang (cita-cita) bisa terbang(tergapai). Jadi layang-layang mengajarkan nilai filosofis kepada kita bahwa kita hidup harus punya cita-cita; cita-cita harus setinggi-tingginya dan diukur dengan kemampuan diri serta tekad yang kuat. Memang semakin tinggi semakin banyak tantangan, tapi ketika nanti sudah tergapai maka rasanya terlihat indah dan bahagia, seperti layang-layang yang terbang di udara” menurut Ardi dengan mimik serius.
Kemudian giliran Slamet sekarang menjelaskan: “Menurutku, layang-layang itu laksana cinta. Cinta butuh komitmen yang kuat, sebagaimana butuhnya layang-layang pada benang supaya bisa terbang. Komitmen juga bukan sekadar komitmen biasa tetapi komitmen yang panjang dan diiringi kesabaran. Hanya benang yang panjang yang mampu membuat layang-layang terbang tinggi. Namun jangan dikira cinta selalu indah dan nikmat, semakin tinggi dan besar cinta seseorang maka beban ujiannya akan semakin besar juga. Sebagaimana layang-layang besar yang terbang tinggi harus ditautkan dengan benang yang kuat, karena semakin tinggi angin semakin kencang. Karena itu pengetahun akan beban cinta harus benar-benar diperhitungkan sebelum menjalani cinta. Hanya benang yang kuat yang mampu menahan beban. Bila komitmen tak kuat, maka bagaikan benang yang rapuh, tak akan mampu mempertahankan cinta yang utuh dan teguh. Cinta juga butuh pengertian dan pengorbanan. Sebagaimana layang-layang yang ‘bekerjasama’ dan ‘bersinergi’ dengan benang dan angin untuk menciptakan gerak-gerak pengertian dan pengorbanan. Benang dengan kuat menahan (yang berarti sebuah pengorbanan), layang-layang juga pengertian dan sinergi dengan angin sehingga menciptakan gerak-gerak yang indah bersama angin. Cinta tanpa pengertian dan pengorbanan hanyalah seperti fatamorgana kehidupan. Cinta juga membutuhkan ruang lapang dalam hati supaya tidak mudah untuk cemburu buta. Sebagaimana layang-layang yang terbang di udara yang begitu luas. Mungkin sebelum aku akhiri, aku akan sedikit berpuisi:

Cinta itu laksana
Layang-layang
Semakin tinggi terasa
Semakin tinggi komitmen juang
Sebagaimana layangan di udara
Membutuhkan benang

Jadi jangan katakan cinta tanpa komitmen kuat; jangan katakan cinta tanpa pengertian dan pengorbanan; jangan katakan cinta kalau takut rintangan. Yang terakhir, cinta butuh harmoni dan keselarasan. Sebagaimana keselarasan antara rangka layang-layang dan kertas, benang, angin dan udara, semua mengharmoni jadi satu sehingg bisa membuat layang-layang terbang dengan di udara. Cinta harmonislah yang akan bertahan.” Pungkas Slamet dengan seringai khasnya.
            “Menurutku layang-layang ibarat manusia yang dikendalikan Tuhan. Setiap manusia harus menciptakan kesadaran yang mendasar, bahwa setinggi-tinggi jabatan yang ia raih, sebesar-besar harta yang dimiliki, tetap saja semua itu dalam kuasa Tuhan. Bila pengendali layang-layang memutus benang, maka layang-layang akan jatuh dihempas angin. Tak selamanya layang-layang akan terbang. Terkadang jatuh karena tiada angin, kadang jatuh karena tali terputus, dan kadang diturunkan langsung oleh sang pengendali. Ini mengingatkan manusia kesadaran penting akan kematian. Hidup di dunia ini hanya sementara, maka kita tidak boleh terbuai olehnya. Untuk menciptakan keseimbangan dan keteraturan hidup setiap manusia harus sadar bahwa pada akhirnya akan mati. Jadi jangan terbuai oleh kehidupan duniawi. Layang-layang juga mengajarkan pada manusia pentingya persatuan. Tanpa adanya benang, angin, udara, dan pengendali maka layang-layang tak akan bisa terbang. Demikian juga manusia, manusia itu makhluk sosial jadi harus saling bantu membantu, mempererat persatuan dengan yang lainnya. Ia tidak boleh egois. Sifat egois hanya akan menjatuhkan diri. Orang egois akan dijauhi dan tak akan dibantu jika sedang ditimpa masalah. Manusia harus bersatu atau berjamaah supaya menjadi kuat dan hebat” pendapat Sholeh.
            “Kalau aku, karena tak begitu pandai berpendapat, maka aku akan mengutip perkataan Kurniawan Gunadi, berikut kutipannya: ‘Kau tahu, Puteriku sayang. Laki-laki adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki tak akan menjadi apa-apa. Di balik ketinggian (kesuksesan) laki-laki, ada kita (perempuan) dibaliknya. Puteriku, jadilah benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layangmu kelak terbang setinggi-tingginya. Karena setinggi apapun ia terbang, ia selalu terikat olehmu dan bergantung padamu. Jagalah dia agar tidak putus dan hilang arah. Ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi -Kurniawan Gunadi.’. Betapa indah analogi Kurniawan Gunadi yang mana dalam tulisannya mengibaratkan laki-laki sepeti layang-layang, sedang perempuan ba` benang. Sebagus-bagusnya layang-layang, maka ia tak akan bisa terbang tanpa wanita. Laki-laki tanpa perempuan bukanlah apa-apa. Di balik kesuskesan laki-laki besar, selalu tersimpan wanita agung di baliknya. Laki-laki tanpa perempuan akan kehilangan arah dan tujuan” papar Sugeng sebisanya.
            Adapun Joko berpendapat: "Layang-layang ibarat rakyat. Yang kendalinya adalah hukum, keadilan dan kebijaksanaan laksana benang yang kokoh. Sedangkan Presiden dan pemimpinnya ialah pengendali layang-layang. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu meninggikan martabat dan kesejahteraan rakyat. Rakyat harus dijunjung tinggi, bukan dimonopoli dan dieksploitasi; rakyat harus terikat dengan hati pengendali sehingga arahnya searah dan setujuan. Pemimpin hebat adalah pemimpin yang punya kendali yang kuat. Pemimpin bijaksana adalah pemimpin yang benar-benar mengerti dalam memimpin rakyat. Sebagaimana pemain layangan yang tak sembarangan menerbangkan layang-layang, ia harus tau arah angin, ia harus tau musim, ia harus memeriksa kondisi layang-layang dan benang, sehingga layang-layang bisa terbang dengan sukses. Demikian juga pemimpin, pemimpin harus pintar memenej, mengolah, memadukan, mengetahui situasi dan kondisi rakyat sehingga kebijakannya tidak serampangan. Sedangkan tujuan tertinggi pemimpin ialah bagaiman rakyat bisa mendapatkan kehidupan yang adil, sejahtera dan aman sentausa. Pemimpin rela berpanas-panas, berkeringat, berkorban, berjuang demi kesejahteraan rakyat. Sebagai pemain layangan yang tak peduli terik mentari demi terbangnya layang-layang.
            Sedangkan Paijo berseloroh: “Layang-layang itu tidak bisa dilihat dan disimpelkan begitu saja. Sehingga dalam memandangnya, harus diperkaya dengan sudut pandang yang banyak, cara pandang yang variatif dan jarak pandang yang setepat-tepatnya. Menurutku, layang-layang adalah realita kehidupan. Dalam memandang kedidupan, manusia bermacam-macam, tujuannya pun juga bermacam-macam. Ada yang memandangnya sebagai hiburan; ada yang memandangnya sebagai  kesenian; ada yang memandangnya sebagai atau untuk mengisi waktu kosong; ada yang memandangnya sebagai partisipasi sosial untuk pertemanan; ada yang memandangnya sebagai trand dan musiman. Tujuannya pun juga bermacam-macam, ada yang membuat layang-layang untuk hiburan, ada yang bertujuan untuk diadu dengan layang-layang lain sehingga menimbulkan spirit kompetisi yang tentu saja untuk meraih kemenangan. Apapun tujuannya, manusia harus tetap ingat bahwa layang-layang tetaplah mainan; layang-layang adalah wasilah atau sarana untuk menghibur diri, jadi sifatnya sementara. Kalau manusia sampai lupa diri dengan alasan bermain layangan maka ia salah kaprah dalam memahami dan menyikapi layang-layang. Demikian dalam menyikapi realitas kehidupan di dunia. Hidup di dunia ini sementara, dan seperti permainan. Tapi meskipun seperti bermain dan sementara, manusia juga harus serius dalam melakoninya. Dunia adalah jembatan untuk menuju kehidupan yang sejati. Jangan sampai manusia kepincut pada sarana dan melalaikan tujuan. Tujuan hidup bukan untuk mencari kemenangan, tapi bagaimana kita bisa mencari ridha Tuhan, dan berusaha sedapat mungkin untuk selalu bermanfaat bagi makhluk Tuhan”.
[Tak terasa waktu Dzuhur telah tiba. Kumandang adzan telah terdengar. Keenam sahabat ini akhirnya sepakat untuk shalat dan melanjutkannya di lain kesempatan. Maklum, mereka punya kesibukan dan pekerjaan masing-masing. Mereka sepakat akan bertemu bulan depan di ruah Slamet].



Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan