Seutas Tali Cinta Terikat Dua Hati
Written By Amoe Hirata on Rabu, 28 Maret 2012 | 17.27
Ba`da shubuh, cahaya fajar mulai
padhang bersinar. Menyinari tetumbuhuhan alam yang selalu bertasbih pada Tuhan
semesta alam. Pepohonan tak hentinya menaburkan oksigen, sebagai wujud
kepatuhannya pada Yang Maha Kuasa. Bunga-bunga mawar yang ada di pelataran
rumah mulai memekarkan kuncupnya. Hawa pagi begitu menyejukkan hati. Badan
terasa bugar segar. Suasana hati terasa gembira meluap asa. Para petani sudah
mulai bergegas menuju hamparan sawah. Sekawanan burung emprit melambai-lambai di udara mencari makan
untuk anak-anaknya. Embun pagi menyelimuti rerumputan yang sedang tumbuh
menghijau. Ikan-ikan hias di kolam terlihat riang penuh senang
mengepakkan sirip indahnya. Kicauan merdu burung kenari begitu mengalun lembut
membuat hati menari-nari hanyut dalam keindahan suaranya. “Betapa besar karunia
Allah yang diberikan kepada hamba-hambanya. Namun banyak sekali hamba-hamba-Nya
yang mengingkarinya”. Gumam Aisyah Dwi Artanti di taman samping rumahnya.
Ia
sedang asyik me-muraja`ah(mengulang) hafalan dan mentadabburi(merenungi)
ayat-ayat Al-Qur`an. Waktu itu yang ia tadabburi ialah ayat dari surat
Ar-Rahman yang berbunyi: fabiayyi
alaai Rabbikuma tukadzdzibaan(dan dari karunia Rabmu yang mana lagi kamu
mendustakan). Ia larut dalam suasana perenungan yang dalam. Betapa ia telah
dianugerahi Allah nikmat begitu besar, dan merasa belum maksimal dalam
mensyukuri nikmat yang tak terbatas itu. Ia sudah hafal Al-Qur`an. Kedepan ia
pastinya akan mendapat cobaan yang berat, karena perjalanan ahli Al-Qur`an
dalam meniti shirath mustaqim tidaklah mudah. Ia selalu berusaha
memaksimalkan sifat sabar dan syukur supaya bisa tegar dalam menghadapi setiap
cobaan.
Dalam kondisi demikian, HP-nya berdering. Ia letakkan mushaf warna cokelat
mudanya di tempat duduk samping taman. Setelah dilihat, ternyata ia mendapat
telpon dari nomer yang tak dikenal. Ia angkat saja: “Halo assalamu`alaikum,
afwan ini dengan siapa ya, ada keperluan apa?”. “Wa`alaikumussalam, ini
Shinta Aulia. Apa benar ini Aisyah”. “ Subahanallah, mbak Shinta toh, apa kabar
mbaak, pean tau nomer ana dari siapa, kok tau kalo ana sudah lulus dan baru
pulang?”. “Aku tau dari intan dek. Katanya dia adek kelas adek ya di pondok
tahfidz?”. “Ooo Intan toh .... ternyata takdir Allah mempertemukan kita dalam
kondisi seperti ini”. “Apa kabar kamu sekarang? Lagi sibuk apa? Kapan nih
nyusul mbak”. “Al-Hamdulillah baik mbak, untuk sementara ga terlalu sibuk,
hanya kegiatan muraja`ah saja, nyusul apa mbak maksudnya?”.
“Nikah
maksudku...heee”. “Emm..gimana toh mbak ini saja baru lulus...belum terpikir
mbak...tapi kalau ada yang pas memang saya sudah siap secara lahir batin”. “O
ya alamat rumahmu masih tetap seperti yang dulu?”. “Ooo sudah pindah mbak, di
jalan Kebun Indah”. “Wah pantesan kok setiap aku lewat ke rumahmu yang lama kok
sepi-sepi saja, pernah sih ada keluarga gitu, tapi asing, ga ada yang ku
kenal”. “Itu omku mbak..heee”. “Aisyah entar sore ada waktu ga? Aku mau
shilaturrahim ke rumahmu”. “O ada-ada mbak monggo, ana insyaAllah ndak ke
mana-mana”. “Oke...insya`allah ba`da ashar aku kerumahmu dengan seseorang”.
“Silahkan mbak, kalau boleh tau sama siapa ya mbak”. “Entar kamu akan tau
sendiri. Udah dulu ya dek, aku harus nganterin Alvino sekolah. Maaf lho kalau
ganggu waktu adek. Assalamua`laikum”. “Ya mbak...sama-sama, tak tunggu di rumah
lho ya, wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”.
******
Di kediaman Sabrina terlihat masih dipenuhi nuansa berkabung. Mamanya masih
belum bisa percaya bahwa orang yang selama ini menemani susah-senang hidupnya,
kini telah pergi meninggalkannya; orang yang selama ini menjadi imam dalam
bahtera rumah tangganya, telah pergi jauh darinya. Allah telah menjemputnya
menuju kehidupan yang lebih abadi. Di kompleks perumahan Gunung Sari, suaminya
dikenal sebagai orang yang supel dan peduli sosial. Pantas ketika suaminya
meninggal, banyak sekali yang mengantarkan jenazahnya. “Ma, aku tau ini
sangatlah sulit bagi kita, tapi jika menangis terus, mungkin papa bukan malah
bahagia, sejauh yang bisa kita bisa sekarang ialah mendoakan yang terbaik
untuknya”. “Iya Sabrina, mama selalu mendoakan yang terbaik untuk papamu, cuman
hati ini tak kuasa menahan tangis setiap ingat kenangan bersamanya, suatu saat
kamu akan mengerti betapa perihnya kehilangan orang yang sangat kita cintai”.
“Iya ma, aku sebenarnya sangat susah dan sedih ditinggal oleh beliau, tapi
kurasa yang terbaik sekarang ialah mengikhlaskan dan berdoa yang terbaik
untuknya. O ya ma katanya kemarin mama mau memberitahu wasiat papa yang harus
disampaikan padaku? Kalau mama berkenan, apa washiat papa ke aku?”. “Gini
Sabrina, kamu kan sudah lulus kuliahnya, sudah dapat pekerjaan tetap, mama rasa
kamu sudah waktunya untuk menikah, nah washiat papamu itu berkaitan dengan
pernikahan. Papamu jauh sebelum meninggal mau menjodohkan kamu dengan anak
sahabatnya. Kamu tahu kan sama om Yuda Karisma? Nah itu sahabat papamu. Ia
punya anak yang baru lulus S2 dari universitas Madinah. Anaknya penurut,
pintar, dan baik hati lho”. “Aku ikut kata mama sama papa saja deh, yang jelas
pilihan mama dan papa insyaallah yang terbaik buat Sabrina. Dari dulu Sabrina
punya mimpi mempunyai suami shalih. Kalau takdir cintaku memang bersama dirinya
aku akan siap menemaninya dalam mengarungi samudera kehidupan dengan behtera
rumah tangga”.
*****
Di sore hari bulan Ramadhan, Aji sedang khusyu` membaca Al-Qur`an di ruang
perpustakaan rumahnya. Beberapa saat setelah membaca Al-Qur`an, ia mencoba
merenung sejenak, menentukan jawaban yang harus ia pilih. Ini merupakan pilihan
sulit baginya. Saat itu ia mencoba melukiaskan suasana hatinya dengan menulis
puisi:
Seutas tali cinta
Menjulur panjang
Menjalin kasih dan sayang
Ketika ku mencoba
Mengikat, dengan hati yang datang
Berupa jelita yang menyejuk hati
Hati lain datang mengurai
Ikatan cinta yang kan terjalin
Ke siapa tali cinta ini harus ku jalin
Sedang hati ini
Berada di antara dua hati
Belum lama setelah ia menulis puisi, ia mendapat telepon dari Shinta Aulia.
“Assalamu`alaikum....Mas Aji, ini aku Shinta”. “Iya Sin, aku tau ini suara
Shinta”. “Aku sekarang sedang berada di rumaAisyah Mas, aku sudah memberi
pendahuluan mengenai maksudku menjodohkan mas dengan dia. Al-Hamdulillah Aisyah
belum ada yang meminang. Kabar baiknya, ia juga siap untuk serius menikah.
Setelah aku sampaikan baik-baik mengenai ketertarikan Mas dengan Aisyah, al-hamdulillah disambut dengan hangat. Insyallah mereka
setuju semua. Aku lihat Aisyah tersipu malu. Cuman gini mas, untuk mengetahui
keseriusan mas, keluarga Aisyah pingin mas datang ke rumah Aisyah dengan
keluarga mas, kalau bisa secepatnya. Gitu saja dulu ya mas, sampai jumpa lagi.
Wassalamualaikum”.
“O ya Sin entar tak kabari, wa`alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh”. Mendapat telpon dari Shinta makin membuat Aji semakin
bingung. Shinta sudah datang ke rumah Aisyah, dan menginginkan Aji segera ke
rumah Aisyah untuk memastikan. Sedangkan orang tua Aji sama sekali belum tahu
kalau Aji tertarik dengan Aisyah. Padahal ke dua orang tua Aji yakin bahwa Aji
menerima pertunagannya dengan Sabrina. Apa yang akan dilakukan Aji?
*********
Balada Cinta Kasturi
Written By Amoe Hirata on Minggu, 18 Maret 2012 | 10.38
Pagi
hari di Heidelberg pepohonan cemara terlihat sayu. Langit sedikit mendung tak
bersahabat. Tidak seperti biasanya suhu dingin kota Heidelberg mencapai -0.3 C.
Angin begitu kencang. Rasa dingin itu seolah menusuk-nusuk kulit Dino. Meskipun
dia sudah memakai jaket, syal(tutup leher) dan tutup kepala tebal tetap saja dingin itu merasuki
kulitnya. Ini sangat wajar karena suhu di desanya berbeda jauh dengan suhu di
sini. Meski demikian tak mengurangi
semangatnya untuk pergi pagi-pagi menuju kuliah yang merupakan kebiasan
baiknya.
Sudah
hampir satu tahun Dino menjalania aktivitas kuliahnya. Dia kuliah di
Universitas Heidelberg mengambil jurusan Kedokteran ini tak mengherankan karena
memang salah satu universitas di Jerman yang tersohor dalam bidang kedokteranya
ialah Universitas Heidelberg.
Sebagai
mahasiswa asing dari Indonesia ia tergolhong paling pintar dan prestisius.
Penguasaan bahasa Inggris dan Jerman yang begitu memadai membuatnya semakin
mudah melahab letelatur bahasa asing. Tidak hanya itu di juga cukup ahli
penguasaan Bahasa Arabnya, ini karena sewaktu dirumah dulu Bapaknya sendiri lah
yang mengajari secara langsung Bahasa Arab juga penguasaan Kitab Kuning. Bapaknya
pernah nyantri di pondok Gontor, maka tak heran meskipun Dino sekolah di SMA
Negri kedalaman ilmu agamanya tidak bisa diremehkan.
Banyak
mahasiswa-mahasiswa yang minta bimbingan padanya. Waktunya sangat padat.
Dihabiskan untuk kegiatan organisasi seperti senat kekeluargaan dan kegiatan
lainya. Ia sangat di horrmati dan disukai oleh mahasiswa dan dosen. Meski
demikian ia tetap rendah hati dan tidak sombong.
Suatu
ketika di perpustakaan kampus ia membaca buku, entah mengapa tiba-tiba ia
teringat dengan Puspita Sari. Bagaimana ya kabar Puspita? Dia pasti sudah nikah
dan bahagia. Astaghfiullah...kenapa akumasih mikirin dia bukankah dia sudah
menjadi milik orang. Dengan segera ia alihkan perhatianya untuk kembali membaca
buku. Saat sIbuk membaca buku ia didatangi oleh beberapa mahasiswa dan
mahasiswi dari Indonesia.
Kak
permisi, maaf kami jika kami menganggu. Kami adalah mahasiswa baru Kedokteran.
Kata teman-teman kakak nih orangnya pinter banget dan keren. Siapa saja pasti
kenal kakak. Nah kami berencana meminta bimbingan pada kakak. Kira-kira ada
waktu ga ya kak?Sebenarnya saya biasa aja kok dik. Ga ada yang istimewa bagi
saya. Saya seperti kalian juga. Kalau untuk bimbing sih sebenarnya saya kurang
pantas. Tapi gini aja, saya akan berusaha membantu ga usah anggap saya
pembimbing anggap saja belajar bersama. Tapi sebelum itu kita kenalan dulu biar
lebih akrab.
Terimakasih
ya kak. Baik perkenalkan saya Bagas. Yang ini Sharon, Mekar, Arjuna dan yang
teakhir itu namanya Wangi Bunga Kasturi. Baik saya juga akan mengenalkan diri.
Nama saya Dino al-Kindi. Panggil saja saya Dino. Saya berasal dari desa Jembar
Sari di Jawa Timur Indonesia.
Baik,
kita kan sudah saling mengenal, sekarang langsung saja kita tentukan kira-kira
kapan waktu yang pas untuk belajar bersama. Yang jelas untuk hari Jum'at dan
Sabtu saya tidak bisa. Terserah kakak aja deh kami menyesuaikan saja. Kami juga
belum ada kesIbukan paten kok selain kuliah. Baik,gimana kalau kita ketemu hari
Senin, Selasa dan Rabu Sore. Ya ya...boleh tuh kami setuju. Ya udah kak terima
kasih kami mau pamit dulu mau masuk kuliah. Silahkan melanjutkan bacaanya.
Sekali lagi terima kasih lho kak. Ok sama-sama dek.
Seperginya
mereka Dino sedikit bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa sebenarnya Wangi Bunga
Kasturi? Ia kelihatan lain dari pada temen wanita yang lain. Meski ia tidak
pakai jilbab tapi bajunya sangat sopan sekali tidak seperti yang lain. Ia juga
sangat menjaga perilaku tidak over. Dino semakin penasaran siapa gerangan gadis
itu. Wajahnya imut, cantik dan manis, tinggi semampai berambut ikal sebahu.
Melihatnya ia jadi ingat lagi sama Puspita.
Astaghfirullah....jagalah
hamba-Mu ini ya Allah jauhkanlah daripikiran-pikiran yang tidak-tidak.
Berlangsunglah aktivitas belajar bersama itu hingga hampir satu tahun. Secara
tidak sadar Wangi Bunga Kasturi selama ini tertarik dan memendam rasa pada
Dino. Tapi ia hanya diam, sikapnya yang pemalu dan sangat menjaga diri
membuatnya kuat untuk menahan diri. Dino menangkap sinyal-sinyal kea rah situ.
Namun dia cuek. Sampai suatu ketika secara tidaksengaja sewaktu ia masuk
perpustakaan ada sebuah agenda yang tak bernama melainkan hanya tiga kata saja
WBK.
Ia
buka lembaran itu untuk mencari identitas pemilik supaya bisa lekas di
kembalikan. Sewaktu membuka halaman pertama ia kaget, namanya tertulis di judul
tulisan paling depan:" Dino sang Dambaan". Melihat tulisan itu Dino
secara tidak sadar tertarik membacanya hingga selesai. Rupanya benar itu adalah
agenda Kasturi. Dino baru tahu jika selama ini Kasturi menaruh rasa padanya.
Dengan segera ia menutup agenda itu dan segera keluar mengembalikan agenda itu
ke Wangi Bunga Kasturi.
Kebetulan
Sharon lewat di depan perpus maka dengan segera Dino menitipkan agenda itu pada
Sharon. Shar, tolhong berikan buku ini ke Kasturi barusan kakak lihat
tertinggal di perpustakaan. Baik kak aku juga mau ketemu dia kok. Terima kasih
ya. Ya kak sama-sama.
Kasturi,
ni agenda kamu ya? Barusan kak Dino titip buku ini. Hah...kak Dino oh iya aku
lupa....aduuuh...gimana ini kalau sampai kak Dino tau dan baca bisa malu
sendiri aku. Emangnya kenapa Kasturi? Jadi di agenda ini aku menulis tentang
dia karena juju raja Sharon aku suka banget ma dia makanya di agenda ini
kutulis tentang dia sebagai sang dambaan. Heee....ya udah ga usah khawatir, kan
mendingan kayak gitu biar dia tahu. Siapa tahu kalian berjodoh kan.
Haaa....tapi aku malu banget tauu...giman coba kalau dia ga da rasa ma aku kan
aku jadi ga enak sendiri dan malu lagian ni yah kita kan bimbingan denganya
jadi tambah malu aja kan kalau aku
ketemu nanti.
Kala
itu Dino berpikir dengan cukup serius diperpustakaan. Apa sebaiknya sikap yang
harus dia ambil. Secara tingkah laku Kasturi tergolhong baik. Apa salahnya jika
ia mencoba menjalin hubungan serius dengan Kasturi. Ini supaya terhindar dari
perbuatan maksiat dan tidak ingat lagi sama Puspita Sari.
Akhirnya
malam itu juga ia datang kerumah Kasturi untuk melamarnya. Baru ia tahu
ternyata Kasturi adalah anak salah satu pejabat Kedutaan Besar Indonesia di
Jerman. Betapa kagetnya Kasturi ketika melihat kedatangan Dino ke rumahnya. Apa
sebenarnya yang terjadi sampai-sampai pria pujaanya itu datang kerumahnya.
Barulah ia tahu maksud kedatangan Dino. Bergetarlah hati Kasturi ia tidak
percaya kalau Dino sedang mau melamarnya.Bagai di alam mimpi ia terbuai dalam
imajinasi kebahagiaan yang selama ini ia harapkan.
Belum
selesai rasa senangnya terpuaskan, seketika itu lamunananya buyar. Ternyata Bapaknya
kurang setuju. Alasanya ialah karena Kasturi masih terlalu muda dan masih
kuliah ditambah yang lebih inti karena Dino beragama Islam. Jadi, Dino akan di
setujui lamaranya jika Kasturi sudah menyelesaikanstudi S1-nya dan Dino harus
masuk agama Kristen.
Apa
kira-kira yang akan dilakukan oleh Dino, apakah ia akan pertahankan agama dan
idealismenya atau akan menyerah pasrah dengan syarat dari orang tua Kasturi.
Kita tunggu saja episode selanjutnya.
Bayang-bayang Cinta
Sore
ini, Aji Kurniawan bersama keluarga akan melamar Puspita Sari. Aji begitu bahagia mendapat calon istri
seperti Puspita. Dari segala sisi sangat pas dengan kriterianya. Ia sangat
bersyukur kepada Allah telah menganugerahkannya calon istri yang cantik dan
shalihah.
Sampailah
rombongan di rumah pak Ahmad Sunardi. Banyak keluarga dari pihak Bapak Ahmad
Sunardi yang turut serta mengiring acara lamaran itu. Di dalam kamarnya Puspita
hanya duduk-duduk di depan kaca kamar tidurnya. Tatapanya kosong. Meskipun raga
di dalam kamar tapi jiwanya terbang tiggi dalam istana lamunan. Agaknya,
bayang-bayang cinta Dino masih tak bisa lepas dari alam pikirnya. Hatinya
seakan tak mau melepaskan bayang-bayangnya.
Melihat
Puspita berpagut tangan di pipi, bengong dan menatap kaca, uminya Hani'am
segera menegurnya. Puspita! Ada apa toh kok kayak murung gitu? Bukan malah
seneng? Kamu tidak bahagia ya? Oooh tidak ko Mi, Puspita hanya merasa sedikit
gugup karena ini merupakan hari pertama aku bertunangan. Hanya itu yang di
sampaikan oleh Puspita kepada Uminya. Dalam hatiia membatin:" Astaghfirullah....ampuni
hamba-Mu ini ya Allah yang masih belum bisa melupakan Dino, hati ini begitu
rapuh, kuatkanlah hamba untuk menghadapi kenyataan ini".
Acara
berlangsung dengan lancar. Dalam acara itu Arjuna berjanji akan menikahi
Puspita setelah menyelesaikan progam S2-nya di Madinah. Semua pihak dari
masing-masing keluarga telah sepakat. Diberikanlah cincin pertunangan itu oleh Ibu
Intan Sartika Ibu dari AjiKurniawan.
Selepas
acara pertunangan, diam-diam Puspita berunding dengan abah uminya. Bah...bagaimana
kalau sela-sela waktu menunggu mas Aji ini Puspita gunakan untuk ikut tahfidz
al-Quran di pondok al-Karimah....pernikahan Puspita kan masih setahun lagi
dalam waktu segitu kanal-hamdulillah jika Puspita bisa menghafal seluruh
al-Quran. Tanpa banyak bicara pak Ahmad langsung menyetujui ide itu. Dari dulu
ia bercita-cita ingin mempunyai anak yang hafal al-Qur'an.
Di
sebrang desa Mambang Legi sekitar dua kilho meter tepatnya di desa Jembar Sari
sedang diadakan acara selamatan pelepasan kepergian Dino. Tidak seperti
hari-hari yang lalu Dino sekarang nampak lebih ceria. Ia telah membulatkan
tekad untuk melanjutkan studinya ke Jerman. Ia sadar bahwa Puspita sudah
dilamar orang. Di samping itu yang membuat dia semakin mantap ialah ia teringat
pesan mendiang Ibunya:" Nak apapun yang kamu inginkan akan kamu dapatkan
jika memang itu di takdirkan Allah. Tapi, jika tidak Allah ijinkan maka
meskipun kamu kerahkan segenap tenagamu hingga habis kamu tidak akan pernah
mendapatkanya".
Sebelum
berangkat Dino mengirim pesan kePuspita:" Assalamualaikum...Maafkan aku
yang lancang menyapamu....aku hanya mengucapkan selamat atas pertunangan mu
semoga kamu bahagia....aku juga pamit kepadamu...Aku mau lanjut studi ke
Jerman...doakan semoga jalanku sukses....aku tahu sekarang jarak memisahkan
kita...tapi aku hanya percaya pada takdir cinta yang ditetapkan Allah...Bila
takdir cinta itu ternyata untukku maka kamu akan menjadi cintaku. Percayalah
akan hal itu....Wassalamualaikum.
Mendapat
sms dari Dino Puspita merasa sangat terharuh dan sedih.....ia tidak membalas
sms Dino....karena jemari tanganya sudah tidak mampu lagi untuk menuliskan
pesan kepadanya...ia tidak tega...betapa malangnya si Dino dia telah kehilangan
kedua cintanya yaitu Bapak al-Kindi danPuspita. Dalam hati ia hanya bisa
berdoa...sukseskanlah mas Dino ya Rabb....Bilatakdir cintaku adalah bersamanya
maka kokohkanlah cinta itu hingga waktu tiba.
Wow Wow Surga
Written By Amoe Hirata on Rabu, 14 Maret 2012 | 19.28
Salah satu kata yang bisa menjelaskan tentang kegigihan dan ketegaran sahabat yang begitu luar biasa dalam memperjuangkan Islam ialah, “SURGA”. Kata “surga” yang bahasa al-Qur`annya adalah jannah menjadi magnet yang menarik hati sahabat melakukan perjuangan yang begitu besar. Tak jarang di banyak kesempatan, Rasulullah memotivasi para sahabatnya dengan kata “surga”. Bahkan secara tegas Rasulullah memberikan rekomendasi dan kesaksian langsung bahwa diantara mereka pasti masuk surga. Misal saja secara kolektif ada istilah al-Asyratu al-Mubassyaruuna bi al-Jannah (sepuluh orang yang diberi kabar gembiri masuk surga). Sepuluh orang itu ialah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin `Auf, Sa`ad bin Abi Waqash, Sa`id bin Zaid dan Abu `Ubaidah bin al-Jarraah. Ada juga yang secar personal seperti: Bilal, Ukaasyah, `Umair bin al-Humaam dan lain sebagainya.
Begitu
dahsyatnya kekuatan kata “surga” hingga membuat orang seperti, Bilal, Ummu
Haaritsah, Sumayya, Yasir begitu sabar menghadapi penyiksaan dan kesusahan yang
ditimpakan oran-orang kafir. Kata “surga” menjadikan sahabat seperti Umair bin
al-Humaam, Umair bin Abi al-Waqash, Saad bin Khaitsamah, dan Haritsah bin
Suroqoh seolah memiliki semangat ganda dalam berjuang karena termotivasi. Kata
“surga” seakan menjadi surplus keimanan para sahabat hingga membuat
mereka tak gentar dalam berjuang. Bahkan
kata “surga” dapat membuat sahabat melakukan hal yang tak bisa dilukiskan
dengan kata-kata.
Apa
salah menginginkan surga? Keinginan demikian tentu sama sekali tak salah. Tapi
tetap saja yang dijadikan acuan utama dalam beramal adalah ridha Allah. Karena
mereka menginginkan ridha Allah, dan Allah menjanjikan surga maka di sini titik
temu antara keinginan mereka mendapatkan ridha Allah dan surga. Bias-bias
egoisme pribadi, ambisi-ambisi individu yang superfisial dan meterialistik
lebur pada keinginan mereka mendapat ridha Allah. Jadi antara keinginan
mendapat surga dengan idealismu untuk berjuang mendapat ridha Allah sama sekali
tak bertentangan, karena surga sejatinya sebagai balasan bagi mereka yang
berjuang dengan ikhlas menggapai ridha Allah.
Ketika
perang Badar sedang berkecamuk, Rasulullah bersabda: “bangkitlah kalian
menuju surga yang luasnya seperti langit dan bumi” Mendengar sabda
Rasulullah, Umair bin al-Humaam merasa kagum dan penuh keheranan: “benarkah
luasnya surga seperti langit dan bumi?” Rasul menjawab: “ya”. Umair
makin kagum penasaran sembari mengucap bakh bakh(ungkapan takjub seperti wow, aduhai). “Mengapa engkau
berkata begitu?” tanya Rasulullah. Umair langsung menjawab: aku berkata
begitu karena sangat berharap mendapatkannya” Rasul bersabda: “engkau
termasuk penghuninya”. Mendengar kata itu Umair langsung membuang kurma
yang ada di tangannya kemudian berkata: jika aku hidup sampai aku memakan
kurmaku ini maka itu merupakan kehidupan yang lama(sebagai gambaran akan
keinginan yang begitu kuat terhadap surga hingga waktu beberapa detik makan
kurma dianggap sangat lama). Tak lama setelah itu ia berjuang di medan laga
hingga wafat tercatat sebagai syahid.
Alangkah
indahnya bila kita mendapat jaminan
masuk surga sebagaimana Umair bin al-Humaam dan sahabat-sahabat lainnya.
Namun jaminan itu bukanlah diperoleh dengan harga yang murah. Mereka rela
sengsara, susah, nelongsho, sakit demi memperjuangkan kebenaran Islam.
Dalam bahasa Arab ada ungkapan: al-jazaa` min jinsi al-amal (balasan itu
seimbang dengan amal yang dilakukan) artinya semakin besar perjuangan dan
pengorbanan maka makin besar balasan yang akan diterima. Apalah artinya
kemewahan-kemewahan dunia dibanding dengan surga yang luasnya bak langit dan
bumi. Namun sekali lagi itu tak mudah. Semakin kita berkeinginan keras
mendapatkan surga, maka semakin kita dituntut berjuang dengan keras dan penuh
pengorbanan. Semakin besar pengorbanan yang dilakukan, semakin besar pula
peluang menuju surga. Bila sudah demikian, surgapun kan merindukan kita.
Cinta Tak Kunjung Menjawab
Di
sepertiga malam yang sunyi, beratus-ratus gemintang terlihat indah semburat.
Angin sepoi-sepoi. Suasana begitu sepi. Di tengah sepi itu Yang ada hanya suara
jangkrik dan kelelawawar yang sedang menikmati buah jambu yang matang. Malam
itu, di samping sungai desa Mambang Legi terlihat sorot remang-remang lampu
kamar yang sedang menyala.Tepatnya, di
rumah Bapak Kh. Ahmad Sunardi selaku abah dari Puspita Sari.
Ketika
itu, Puspita Sari sedang asyik bermunajat menunaikan shalat Tahajjud. Besok
adalah hari ke tujuh dimana Dino berjanji akan melamarnya. Perasaanya tidak
karuan senangnya. Rasa bahagia dan kengen seolah menyelimuti hatinya. Mungkin
ia baru mengalami apa yang namanya cinta. Seharian itu wajahnya cerah dan
banyak senyum. Abah dan Uminya sampai merasa heran, ada apa gerangan dengan
anak ke tiganya ini kok tingkahnya tidak seperti biasanya.
Dalam
munajatnya itu ia berdoa:" Ya Allah ampunilah hamba yang penuh khilaf dan
dosa ini. Aku memohon kepada-Mu ridhailah hubunganku dengan Dino jika itu
memang yang terbaik buat kami. Jagalah kami. Lindungi kami dari hal-hal yang
buruk. Kami sudah ingin menjalin hubungan yang suci ya Allah agar terhindar
dari makshiyat kepada-Mu. Kabulkan
permintanku ya Allah. (Dengan sangat optimis ia menutup doanya dengan Amiiiin).
Pagi
sudah menjelang. Tepatnya pukul 09.00 pagi Dino berjanji akan melamar Puspita
Sari. Jantung Puspita sari berdegup kencang menunggu datangnya hari penting
itu. Sedari pagi ia sudah menyiapkan segalanya. Abah dan Uminya semakin heran
karena memang keduanya tidak tahu apa yang bakal terjadi. Puspita sengaja
merahasiakannya sebagai kejutan untuk Abi Uminya tercinta.
Jam
menunjukkan pukul 10.00. Dino tidak kunjung datang. Perasaan khawatir dan cemas
segera datang menghantui benak Puspita. Ia bingung. Dino tidak bisa di hubungi,
hpnya tidak aktif sms juga tidak dibalas. Ia berusaha untuk menghibur dirinya
dengan ungkapan:"Sabar....sabar...barangkali mas Dino masih ada
acara". Hingga pukul 11.00 nampaknya Dino belum datang juga. Kesabaran
baja Puspita semakin terkikis oleh resah dan bimbang yang menjadi-jadi.
Di
tengah kegalauan itu tiba-tiba terdengar dari depan rumahnya suara mobil
berbunyi. Segera ia lari menuju ruang tamu melihat siapa yang datang. Barang
kali mobil itu adalah Dino dengan pa kal-Kindi. Perasaan itu menjadi buyar
ketika yang keluar ternyata bukan Dino. Ketika itu yang datang adalah temanya
sendiri yang bernama Shinta Aulia bersama lelaki yang tidak di kenal puspita.
Diketoklah
pintu rumah dengan lembut oleh Shinta(...tok..tok..tok..) “Assalamualaikum..Wa'alaikum
salam....hai Sin apa kabar?Baik-baik saja kan?”. “Kok ga ngbari sih kalau mau
kesini? Tau gitu kan aku bisa siap-siap bikin jamuan untukmu. Oh ya aku kangen
banget lhoh ma kamu soalnya hampir dah sebulan lebih kita ga ketemu. Oh iya
ngomong-ngomong kamu lanjut kuliah dimana?”
“Maaf
deh Sar, ku sengaja bikin kejutan nih, aku
baik-baik aja kok, aku juga kangen ma kamu, aku jadi kuliah di UGM ngambil
jurusan Komunikasi”. “Oooo...gitu toh....oh iya sampai lupa...mari-mari
silahkan duduk(sambut Puspita)”. “Sar, kenalkan ni sepupu saya namanya Aji
kurniawan sedang menjalani progam S2 di universitas Madinah”.
“Sar,
abi dan umi kamu ada di rumah ga?”. “Oh ada...emang kenapa Sin?”. “emmm..ga
Cuma pingin ngobrol sebentar”. “..ok bentar ya bentar ku panggil mereka sambil
ku bikin minuman buat kalian”. “Abi..Umiii....ada tamu nih...temen Puspita
pingin ketemu abah dan umi”. Keluarlah keduanya keruang tamu menyambut
kedatangan mereka.
Begini
pak maksud kedatangan saya, ingin mengantar sepupu saya ini namanya Aji
Kurniawan calon MA di Universitas Madinah.
Ia sekarang lagi liburan, jadi menyempatkan diri untuk pulang. Nah,
tujuan kepulanganya ini ingin mencaricalon istri jadi saya tunjukkan kemari,
maaf ya pak kalau kurang berkenan.
Dak
usah sungkan-sungkan dek, Bapak malah seneng lho kedatangan tamu, apa lagi
jauh-jauh dari Madinah. Bapak sama Ibu sebenarnya setuju-setuju aja apalagi
dapat anak shaleh seperti dek Aji. Cuman Bapak harus menanyakan dulu ke Puspita
tentang rencana ini. Setahu Bapak sih Puspita belum ada calon.
“Hayoo...lagi
ngomongin apa nih kayaknya seru banget....mari-mari silahkan diminum jus
mangganya seger banget lho” saji Puspita. “Begini nak kita bisa ngomong
sebentar didalam? Ada masalah penting yang mau abah umi bicarakan sama kamu.
Baik bah silahkan. Jadi begini, kamu tahu ndak cowok berkopyah di depan tadi?
Iya bah itu sepupu Shinta calon S2 Universitas
Madinah. Tujuan dia kemari ingin melamarmu. Dimana menurutmu?. Anaknya
baik, tampan dan shalih lhoh, kalau bisa segera jawab.soalnya moment kaya
begini sangat langkah. Kamu sendiri kan belum ada calon kan?”.
Puspita
merasa sangat bingung mau menjawab apa.Sedang dia sudah terikat janji sama
Dino. Disisi lain ia sangat cinta Dino.Masalahnya itu tidak di ketahui oleh
abah dan uminya. Dino juga tidak datang-datang. Mau menolak ia tidak tega sama
abah uminya karena selama ini keduanya tidak pernah sampai meminta dengan
mendesak seperti ini.
Dalam kondisi pelik ini tiba-tiba ia mendapatkan sms
dari Dino yang isinya:" Assalamualaikum...Puspita, sebelumya aku minta
maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk datang kerumahmu...aku sedang
dilanda masalah besar...aku harap kamu tidak kecewa...beri kesempatan tiga hari
lagi...aku masih ingin menyelesaikan maslahku ini...wsslm".