Home » , , » Bumbu Cinta Rumah Tangga

Bumbu Cinta Rumah Tangga

Written By Amoe Hirata on Kamis, 09 Maret 2017 | 04.50

   “Tapi aku tidak bisa masak mba.”
          “Dia nyari istri bukan koki, walaupun Rizal itu termasuk orang yang suka pilih-pilih kalau soal makanan, dia lebih suka makanan rumah, ‘halalan thoyyiban’ katanya. Jarang tuh kulineran sana-sini”
Mia terdiam, lebih tepatnya merengut. Sungguh penyesalan baginya selama ini tidak mencoba belajar memasak. Parahnya, membedakan aneka bumbu dapur seperti lengkoas, jahe, kunir dan yang lainnya pun masih belum bisa ia lakukan, ke dapur saja jarang hanya sekali-kali untuk masak mie instan. Mia jadi teringat sang ibu yang pandai memasak dan senantiasa menyuguhkan makanan yang enak dan sehat untuknya setiap hari namun jika ibu menyuruhnya membantu di dapur Mia selalu punya alasan dengan kesibukannya. Selama ini pun Mia lebih asik kulineran dan hafal tempat makan yang asik, murah dan enak di Jakarta.
            “Kenapa? kamu tidak perlu khawatir Mia, memasak itu sebuah keterampilan yang bisa dipelajari setiap orang. Nanti juga kamu bisa masak.” Kata Mba Sofi. Tetap saja Mia merasa tidak percaya diri. Selain cantik, berpendidikan tinggi, dan dari keluarga baik-baik, tetap saja Mia merasa minus karena tidak bisa memasak. Dan proses taaruf yang dijalaninya saat ini membuatnya khawatir. Sofi adalah perantara taaruf antara Mia dan Rizal, sekaligus kakak iparnya Rizal. Mia kenal baik dengan Sofi, Mia merasa tidak ada apa-apanya. Sofi itu sangat pandai memasak, dia pernah bercerita bahwa ibu mertuanya memiliki sebuah restoran terkenal di Bandung, dan mertuanya adalah ahlinya memasak.
            “Yang terpenting kamu mau belajar memasak karena menurut mba, bisa memasak itu penting! karena itu adalah salah satu cara membahagiakan suami. Masakan yang kita masak dan dimakan oleh suami dan anak-anak kita nanti akan mewakili kasih sayang kita untuk mereka. Gak ada kata terlambat untuk belajar memasak, mulailah dari saat ini. Cobalah masak masakan yang simpel seperti tumisan atau sayur bening,” tutur Sofi, hal ini berdasarkan pengalaman tentunya. Sebelum menikah Sofi juga tidak bisa memasak namun berkat mertua yang sabar mengajarinya dan semangat Sofi untuk mau belajar, saat ini memasak apapun dengan mudah bisa ia lakukan dari masakan Padang, Sunda maupun Manado dan resep-resep lainnya.
            “Mba jadi teringat kisah seorang teman mba. Beliau ditalak suaminya karena tidak pernah memasak.”
            “Astagfirullah, masa sih mba. Hanya karena persoalan masak?” tanya Mia teramat serius sampai dahinya mengkerut.
            “Eh, jangan menyepelekan soal masak-memasak loh Mia. Seperti yang aku katakan sebelumnya memasak itu salah satu cara membahagiakan suami. Seorang istri harus pandai-pandai memanjakan lidah suami dengan masakan-masakannya. Perut yang lapar itu akan memancing kemarahan seseorang, ia akan bertambah sensitif terhadap segala hal. Termasuk suami yang misal; ketika ia pulang kerja setelah lelah seharian di luar rumah tentunya ia butuh kenyamanan, dan itu dimulai dari dalam perutnya. Selain itu dari makanan kita juga menjaganya agar tetap sehat.” Apa yang dikatakan Sofi dibenarkan Mia yang mangut-mangut.
“Kamu tahu Umi Syarifah Fadlun bin Yahya?” Mia mencoba mengingat nama itu, namun ia menggelang kemudian.
“Beliau istri habib Rizieq Shihab sekaligus pemimpin organisasi Mujahidah Pembela Islam (MPI).” Mia membulatkan bibir ‘ooh..’ Sofi melanjutkan,
“Umi syarifah adalah seorang koki handal yang masakannya membuat Habib tidak bisa makan apa pun kecuali masakannya. Bahkan HRS hampir selalu mengikutsertakan istrinya  itu bila ia keluar kota. Pernah suatu kejadian di mana Habib saat itu berada di Kudus, umi tidak ikut. HRS sampai 2 hari nggak bisa makan, akhirnya terbanglah umi ke Kudus, khusus membuat sayur asem Betawi dan tempe goreng kesukaan HRS. Kebanyang kan cinta HRS kepada masakan istrinya, eh maksudnya kepada istrinya umi Syarifah.”
“Sofi, kamu pernah dengar Bu Fatmawati?” tanya Mia. “Iya, mbak. Itu kan istri Presiden RI pertama `kan ya. Emang kenapa dengan beliau kak?” “Beliau itu jago masak. Pak Karno sangat suka dengan masakannya. Dalam buku Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra`i (2008: 5), beliau digambarkan sebagai sosok yang pandai memasak, pintar mengaji, low profile alias tak suka menonjolkan diri, penyabar, dan tidak pernah marah.”
“Tak hanya itu Sof, bahkan putrinya sendiri, Megawati Soekarno Putri (Presien Kelima RI) dalam buku yang sama (2008: 90) mengungkapkan, ‘Kalau Bu Fat masih hidup dan ikut lomba masak mungkin beliau akan menjai pemenangnya!’ Kebayangkan, betapa cintanya Soekarno pada beliau?”
Masyaallah, ternyata memasak itu penting ya mba dalam membina rumah tangga. Selama ini aku berfikir masak itu bisa dilakukan oleh asisten rumah tangga atau dengan mudah kita bisa delevery order untuk pesan makanan maupun kulineran. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Memasak seharusnya menjadi perhatian penting untuk setiap perempuan ya mba, ”
“Betul sekali. Mba sendiri terkadang bisa memasak 3 kali sehari untuk menu yang berbeda di setiap jam makan dan bila suami mba ada di rumah, mba sebisa mungkin menyiapakan cemilan ya walaupun adanya singkong atau gorengan pisang.”
“Oya, kamu tahu Mia ?”
“Memasak itu dapat membuat seorang suami jatuh cinta pada istrinya setiap hari.” Ucap Sofi meyakinkan. Mia tersenyum, mengiyakan.

*** 
Kita tidak akan membicarakan mengenai kewajiban atau bukan kewajiban di mana istri ‘harus’ bisa memasak, ataupun pembagian tugas dalam rumah tangga antara seorang istri yang berada di rumah yang melakukan beberapa pekerjaan seperti memasak, mencuci dan bersih-bersih atau seorang suami yang bertugas di luar rumah mencari nafkah. Kita akan membicarakan tentang cinta, cinta sesungguhnya yang tidak akan pernah berkurang dan akan bertambah setiap harinya. Tentu cinta seorang istri kepada suaminya, cinta yang halal karena Allah SWT. Cinta yang tulus dari dalam hati yang rasanya dapat di kecap oleh lidah, melalui masakan.
Untuk para istri yang suka memasak, hal itu tentu sangat baik sedangkan untuk para istri atau  calon istri yang tidak bisa memasak, cobalah belajar memasak dari sekarang!. Sekali lagi ini bukan persoalan wajib tidaknya seorang istri memasak tetapi ini (memasak) adalah salah satu cara untuk membuat pasangan senantiasa merasakan cinta. Dan untuk perempuan yang memiliki kesibukan di luar rumah, setidaknya sempatkanlah memasak untuk suami dan anak-anaknya sekalipun telah ada khadimah (Pembantu Rumah Tangga) atau saat ini dengan sangat mudah delevery order. Dengan memasak makanan sendiri selain cita rasa, kebersihan dan gizinya terjaga juga akan ada bumbu penyedap yang tidak akan dapat digantikan oleh mecin (MSG) atau masako, rasa itu hanya akan tercipta dari tangan seorang istri/ibu yang memasak untuk keluarganya.
                 Memasaklah dengan cinta, maka apapun makanannya rasanya akan terasa nikmat. Itulah yang mesti dilakukan seorang istri di rumah sekalipun yang bisa ia masak hanyalah masakan sederhana karena kemampuan memasak yang seadanya. Melalui apa yang dimakan suami dari tangan istrinya akan semakin banyak cinta yang bertambah-tambah setiap harinya, dan jatuh cinta tidaklah hanya tercipta sekali, melalui makanan yang di masak seorang istri akan membuat suami jatuh cinta setiap hari. 
(By: Mestifarah)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan