Home » , , , » Tokoh Muslim "Bayaran"

Tokoh Muslim "Bayaran"

Written By Amoe Hirata on Kamis, 02 Maret 2017 | 19.07

        PADA tonggak perjuangan umat Islam, dalam kondisi kuat, kaum munafik tidak pernah absen menginfiltrasi. Salah satu bukti riilnya, termanivestasi pada tokoh-tokoh muslim yang dengan kepentingan pragmatisnya bisa membela siapa saja dan menjual harga diri asal ada honornya. Sikap demikian tentu menjadi ciri khas orang munafik. Al-Ma`idah [5] ayat 52, secara clear (terang) menggambarkan fenomena ini. Mereka rela bergabung dengan orang kafir, asal kepentingan pribadi tidak terganggu dan bisa terpenuhi.

            Tipikal orang seperti ini sebenarnya banyak dijumpai sepanjang sejarah umat Islam. Abdullah bin Ubay, Abdullah bin Saba, Nasiruddin Ath-Thusi, Ibnu ‘Alqami, dan Snouck Hurgronje adalah di antara sederet contoh yang bertalian erat dengan tokoh Islam “bayaran” kasaran-nya munafik ini. Mereka secara lahir Islam, tapi aksi-aksinya sebenarnya menggerus Islam dari dalam.
            Di Indonesia sendiri, pasca mencuatnya kasus penistaan Al-Ma’idah 51 yang dilakukan Basuki Tjahja Poernama di Kepulauan Seribu, umat terbagi menjadi tiga golongan. Ada yang mendukung, menolak, bahkan cuek. Bila diamati, tokoh-tokoh bayaran yang mendukung Ahok, ternyata tidak sedikit. Ironisnya, dukungan itu sebagian lahir dari tokoh-tokoh yang notabene beragama Islam.
            Kisah demikian juga pernah mewarnai dinamika pergerakan umat Islam pra kemerdekaan. Saat Sarekat Islam pimpinan H.O.S. Cokro Aminoto semakin massif pergerakannya, ada banyak muncul penggembosan, baik dari Belanda maupun tokoh-tokoh internal yang berhaluan kiri (seperti: Muso, Sema’un dan Alimin). Di luar itu, ada juga tokoh Islam yang sengaja dibayar oleh Belanda untuk melemahkan pergerakannya.
            Aji Dedi Mulawarman dalam buku Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokro Aminoto (2015: 102, 103), menyebutkan contoh konkret. Sosok bayaran itu bernama Usman Husaini, seorang penasihat honorer alias bayaran Belanda untuk urusan masyarakat Arab. Tokoh keturunan Arab ini sebenarnya adalah mufti Betawi, namun pernyataan-pernyataannya kerap merugikan kegiatan pergerakan Sarekan Islam.
            Dalam tulisan yang berjudil “Minhaj Al-Istiqamah fi Al-Din bi Al-Salamah” misalnya, mengatakan bahwa Islam bukanlah gerakan perlawanan tapi kedamaian. Sehingga, tidak selayaknya umat Islam melakukan gerakan perlawanan seperti Sarekat Islam. Pendapatnya ini tentu sangat menguntungkan Belanda yang sedang menggunakan strategi Devide et Impera untuk menghancurkan Sarekat Islam dari dalam.
            Gerakan Usman Husaini ini ternyata tak hanya cukup pada rana interpretasi saja, dia juga menyebarkan pamflet di seluruh lapisan masyarakat yang menyudutkan SI (Sarekat Islam). SI dan Pak Tjokro dituduh tidak islami sama sekali dalam menjalankan aktivitasnya. Sehuubungan dengan hal ini, lebih lengkapnya, bisa dibaca dalam buku karya Sjafrizal Rambe yang berjudul Sarekat Islam: Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942, halaman: 70, 71.

            Para aktivis dakwah memang harus berhati-hati dari golongan pragmatis seperti ini. Jalan dakwah adalah jalan sunyi keikhlasan, orang yang mengambil kepentingan pragmatis di jalan dakwah, hanya akan mengacaukannya. Karena itulah, seluruh Rasul ketika mendakwahkan risalahnya, sebagaimana Nabi Nuh ‘alahissalam misalnya, salah satu prinsipnya ialah in ajriya illa ‘allallah (QS. Yunus [10] : 72) mereka orang-orang suci yang tidak mencari bayaran, melainkan dari Allah semata. Wallahu a’lam.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan