Home » , , , » Mbah Kasiah in Memoriam

Mbah Kasiah in Memoriam

Written By Amoe Hirata on Senin, 13 Maret 2017 | 12.04


AKU tidak tahu akan mati kapan. Yang jelas aku minta kepada Allah subhanahu wata'ala agar dimatikan dalam kondisi sembahyang, bukan dalam kondisi sakit. Aku tidak mau merepotkan anak-anakku. Aku berharap anak dan cucuku hidup aman, tentram dan rukun,” demikian memori yang pernah aku dengar sendiri pada tahun 2011 saat beliau masih sugeng dan seger waras.



           Takdir berkata lain. Kehendak Allah subhanahu wata’ala melampaui kehendak manusia. Sejak jatuh dari kandang ayam (2012) beliau terbaring sakit hingga tahun 2017. Selama itu pula beliau dirawat anaknya. Makin hari makin lemah, bahkan sebulan terakhir, terlihat sangat kurus. Hanya tulang berbalut daging dengan muka yang menahan sakit.
          Menjelang setengah tiga sore (11 Maret 2017), dengan setia sang putri (Tumini) menunggunya. Beberapa lantunan talqin dibisikkan lirih ke dalam telinga. Suasana begitu hening dan lenggang. Hanya mereka berdua yang sedang berhadapan menanti kepastian Sang Rahman. “Bu, kalau memang ini yang terakhir, semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkannya. Semoga ibu menyusul anak-anak di surga. Maafkanlah aku,” tutur Tumini dalam kecemasan.
          Pukul 14.30, sorot mata sudah padam. Embusan nafasnya habis beriring dengan lantunan talqin. Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Sosok pekerja ikhlas, dermawan, pegiat ibadah, dan progresif ini berpulang ke rahmat Allah subhbanahu wata’ala. Beliaulah Mbah Kasiah. Semoga rahmat Allah senantiasa bercucuran kepadamu.

Kelahiran
Menurut KTP (Kartu Tanda Penduduk) beliau lahir pada tanggal 10 Maret 1937. Tetapi menurut penegasan dari teman sebaya beliau (al-marhum: Wak Pon) kelahiran beliau sekitar tahun 1922, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Arti Sebuah Nama
Namanya Kasiah bin Kasemen (lihat biografi beliau secara lengkap dalam : Kisah Kasih Kasiah ).  Aku berharap bahwa semoga kata “kasiah” berasal dari bahasa Arab, “Khaasyi`ah” atau kalau tidak ya, “Kaasiyah”.
Khaasyi`ah berarti khusyu`, tunduk. Kata khsyu` dan tunduk sangatlah pas dan merupakan kata kunci untuk mengetahui lebih banyak biografi beliau. Pada setiap sikap dan perilaku tersimpan kekhusyu`an dan ketundukan.
Adapun Kaasiyah berarti yang memakai baju. Di setiap jengkal kehidupannya beliau seolah berbajukan nilai dan prinsip yang melatari sikap dan perilakunya. Nilai itu bersumber dari filosofi jawa dan Islam.
Kalau ternyata nama beliau bukan dari bahasa Arab maka juga tidak apa-apa karena yang menjadi titik sentral dari berharga tidaknya seseorang yang utama bukan terletak pada bagus tidaknya namanya tetapi seberapa besar manfaat sosialnya. Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sebagaimana sabda nabi.
Pada waktu itu, yang lebih dekat dan mentradisi ialah ada suatu budaya yang dipakai pada masyarakat Sumengko, dan mungkin juga lainnya bahwa nama anak biasanya dikaitkan dengan nama orang tuanya. Kenapa Kasiah? Karena nama bapaknya ialah Kasemen (berawalan “kas”), sederhananya begitu.

Sang Pejuang Tanpa Pamrih
Kalau aku mengangkat idiom “pejuang” jangan muluk-muluk berpikir bahwa beliau adalah pejuang nasional dan turut serta dalam dinamika perjuangan nasional. Pejuang di sini cakupan wilayah dan teritorialnya hanya pada lingkup keluarga dan masyarakat. Prinsip-prinsip nilai perjuangan terkandung pada beliau. Beliau tegar, sabar, berani, pantang menyerah, dan kuat menahan sakit dan derita demi memegang suatu prinsip.
Tak hanya itu, beliau juga mempunyai visi ke depan yang progresif yang mungkin jarang dimiliki oleh orang sedesanya. Visi itu ialah dia memimpikan punya anak yang terdidik dan bisa punya mushallah sendiri untuk diisi kegiatan pendidikan dan ibadah. Pada masanya keinginan-keinginan itu mungkin dianggap mimpi dan khayalan. Hal ini bisa dilihat dari konteks budaya masyarakat Sumengko yang waktu itu hidup dengan kemelaratan dan kesusahan demi kesusahan. Buta huruf juga hampir merata.
Jadi, untuk memperjuangkan kebutuhan primer berupa sandang pangan saja sudah sedemikian sulitnya kok ini malah mengurusi mushalla dan pendidikan. Terlebih lagi Indonesia kala itu masih belum merdeka, penjajah jelas tidak akan memberi kesempatan pada pribumi untuk menjadi pintar kecuali dari kalangan priyayi (dengan politik etisnya). Itu pun harus tunduk dan mengekor pada mereka.

Ketika Impian Menjadi Kenyataan
Namun pada akhirnya visi yang dia angankan tercapai. Mushalla bisa berdiri yang kemudian dinamakan al-Mahfud. Pendidikan juga berjalan dengan menjual tanahnya untuk progam yayasan yang diasuh oleh Bpk. Miran Ar-Rosyidi, dan cucunya bisa melajutkan tingkat belajarnya sampai keluar negeri. Ini semua berasal dari mimpi yang dibangun berdasarkan semangat yang tinggi dan kerja keras yang berkesinambungan.

Kesabaran dan Ketegaran
Beliau sangat tegar. Bayangkan! hidup sejak kecil dengan kondisi susah dan melarat; rumah berpindah-pindah dan sejak kecil pula dia sudah ditinggal bapaknya, Kasemen karena ikut menjadi prajurit kompeni Belanda. Beliau juga pernah diusir orang dan pernah dizalimi hak-haknya. Bukan gusar dan memaki-maki tapi sabar dan tegar meliputi diri. Ketegaran membuahkan keindahan; kesabaran membuahkan kebahagiaan.
Hidupnya selalu diliputi praktik ketegaran demi ketegaran dalam menghadapi onak dan duri kehidupan. Bila derita sudah sedemikian tinggi memuncak tiada sikap yang lebih utama melainkan, mengadu pada Allah dan senyuman. Ya, senyuman merupakan obat internal psikologis untuk mengatasi kegalauan-kegalauan yang dihadapi manusia dalam menghadapi penderitaan. Dan ini mungkin hanya ada di Indonesia. Orang Indonesia mampu tersenyum dan ketawa dalam kondisi tersusah sekalipun.
Kalau kesulitan hanya dihadapi dengan hati sedih, marah dan mengutuknya maka energi yang dimiliki akan terbuang dengan sia-sia. Namun jika penderitaan itu dihadapi dengan senyuman bahagia maka energi akan terarah pada hal-hal positif dan masalah yang dihadapi akan mudah diselesaikan.
Pekerjaan yang indah dan berbobot ialah jika dikerjakan tanpa pamrih. Itu yang kutemukan pada sosok beliau. Apa pamrih itu dilarang? Apa pamrih itu tabu? Apa pamrih itu aib? Bisa jadi demikian kalau orientasinya hanya untuk pribadai dan bersifat individual. Namun, dari lembaran-lembaran kisahnya menggambarkan sedemikian jelas apa yang ia lakukan bukan semata untuk dirinya sendiri tapi untuk keluarga dan untuk masyarakat.
Tiada pekerjaan yang lebih baik daripada menjadi orang yang bermanfaat bagi sosialnya. Sedangkan manfaat sosial akan semakin terasa jika dilakukan dengan dasar keikhlasan dan ketulusan tanpa pamrih. Pada lembaran riwayat beliau aku menemukan kata, “tanpa pamrih”. Ini merupakan suatu stimulan jiwa yang membuat orang sedemikian tegar menjalankan aktivitas yang sedemikian melelahkan penuh penderitaan.

Sosok yang Tak Pernah Berhenti Belajar
Beliau mungkin memang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Beliau buta huruf. Tidak pernah belajar dalam dunia formal satu pun. Walau demikian, sebenarnya beliau tidak pernah berhenti belajar. Gurunya adalah alam dan kehidupan. Darinya ia mendapat banyak pelajaran yang turut mempengaruhi pola-pikir dan sikap. Dari alam pula beliau semakin mengerti betapa berartinya Tuhan.
Walau sampai ajalnya tiba pun beliau tidak menyadari akan hal itu tapi pancaran-pancaran hikmah yang keluar dari lisannya merupakan hasil dari pembelajaran yang tidak pernah putus.

Mutiara Hikmah
Suatu saat beliau pernah memberi nasihat, “dermawanlah kepada semua manusia!”. Kata-kata ini begitu melekat dalam jiwaku. Berlaku dermawan hanya pada sesama muslim saja sudah sedemikian sulit apa lagi kepada seluruh manusia. Kata-kata itu tidak akan lahir melainkan dari orang yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap sosial. Seakan-akan beliau belajar pada salah satu nama Tuhan yaitu, “Ar-Rahman” Sang Maha Pengasih.
Dalam hal mengasih, Allah tidak pernah membeda-bedakan antaran yang muslim dan bukan muslim. Baik muslim maupun bukan muslim diberi waktu yang sama; oksigen yang sama; angin; bumi; langit yang sama. Yang beda ialah ketika menyangkut urusan sayang. Sifat sayang hanya diberikan pada orang yang beriman padanya dan ini merupakan pantulan dari nama, “Ar-Rahim”.
Pada masa modern ini mungkin banyak orang-orang pintar baik dalam urusan ilmu pengetahuan maupun agama. Tapi coba sesekali membuat penelitian kecil-kecilan untuk mengecek apakah kuantitas kepintaran seseorang berbanding lurus atau seimbangan dengan kuantitas amalan atau bahkan kualitasnya? Realita membuktikan bahwa antara kepintaran dan pengamalan acapkali mengalami kesenjangan yang demikian jauh. Banyak orang pintar tapi kurang pintar beramal.
Adapun beliau - sebagaimana yang aku tahu – tak banyak mengetahui pengetahuan dan ilmu tentang agama, namun apa yang diketahui dan dipahami benar-benar beliau jaga dan di-dawami; ditekuni sedemikian rupa meski dalam kondisi sakit. Hal ini bisa dilihat dari semangat beliau yang sedemikian menggebu dalam beribadah. Beliau tidak pernah absen dari shalat jama`ah dan sunnah rawatib; puasa Senin dan Kamis juga tak pernah tertinggal kecuali sakit keras; shalat Dzuhapun dilakukan dengan sedemikian dawam; dan beliau selalu menghiasi sepertiga malamnya dengan shalat Tahajud.
Sedikit tapi dilakukan secara kontinyu dan dawam merupakan kebaikan yang amat tak ternilai harganya. Aku jadi ingat sabda Rasulullah Saw. , “ Amal yang dicintai oleh Allah ialah yang paling didawami atau ditekuni meski sedikit”. Sekali lagi hal ini aku temukan pada diri beliau.

Pekerja Keras
Salah satu sisi lain dari ruang kepribadian beliau yang belum diungkap ialah, “Kerja Keras”. Hari-harinya diisi dengan etos kerja yang tinggi. Tidak ada toleransai terhadap yang namanya kemalasan. Kemalasan adalah penyakit jiwa yang dapat menggerogoti semangat jiwa. Jika semangat jiwa sudah rapuh maka jembatan keinginan yang menghubungkan antara mimpi dan kenyataan  akan semakin terputus dan tidak akan bersambung.  Dan kalau kita mau jeli melihat biografi-biografi orang-orang besar di dunia maka akan kita dapati bahwa mereka, “pekerja keras”.
Etos kerja yang demikian tinggi ini sudah beliau miliki sejak kecil. Kondisi sulit rupanya turut berperan besar dalam menanamkan nilai kerja keras dalam kehidupan beliau.  Semasa hidup mendiang suaminya beliau sedemikian setia menemani dengan kerja keras. Membantunya bertani; berternak dan kerja-kerja lainnya demi mewujudkan kesuksesan.
Sebenarnya masih banyak sisi-sisi lain dari biografi beliau yang bisa kita baca pada lembaran-lembaran berikutnya. Yang ingin aku tekankan pada catatan ini ialah aku bersyukur mempunyai nenek seperti beliau.
Dari beliau aku belajar banyak hal. Pelajaran yang mungkin tidak akan kujumpai dari sekolah-sekolah formal; pelajaran yang tidak akan kadaluarsa seiring dengan bergulitnya zaman, karena yang beliau ajarkan adalah nilai dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan, itu semua lahir dari semangat dan pengalaman yang ia dapatkan dalam mengarungi kehidupan ini.

Persembahan Puisi
Akhirnya, berikut akan dituliskan beberapa bait puisi untuk beliau sebagai rasa bangga dan terima kasih yang terkira:
Pada setiap putaran                                    
Waktu yang bergulir                                               
Kau isi dengan                                 
Ketegaran                                                    
Ketabahan                                       
Dan kerja keras 
                              
Pada setiap putaran
Waktu yang berjalan Waktu yang berjalan
Kau isi dengan
Keikhlasan
Ketulusan
Dan Pengorbanan

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan