Home » » Nusran Wahid; Gagal Paham Hadits [Bagian: I]

Nusran Wahid; Gagal Paham Hadits [Bagian: I]

Written By Amoe Hirata on Rabu, 12 Oktober 2016 | 07.00

            

ADA argumentasi menarik untuk dikritisi yang dipaparkan Nusran Wahid pada acara ILC (11/10/2016) ketika membela Basuki Cahaya Purnama.  Politisi Golkar yang kerap menimbulkan kontroversi ini menyitir hadits nabi untuk mematahkan pernyataan MUI yang memutuskan Ahok telah menista agama.

            “Ini saya sampaikan dengan kebenaran,” ketusnya sambil melotot kepada perwakilan MUI yang ada di ILC, “untuk membuktikan apa yang saya sampaikan, saya akan mengutip hadits nabi.”
“Nabi pernah mengatakan, “Khairul qurūni qarni, tsummal ladzīna yalūnahum, tsummal ladzīna yalūnahum, tsummal ladzīna yalūnahum, yalūnahum, yalūnahum, yalūnahum.
“Sebaik-baiknya masa, masaku (pada masa nabi Muhammad). Setelah itu, masa sahabat. Setelah itu masa sahabat, Bani Umayyah. Setelah itu masa sahabat, Bani Abbasiyah. Setelah itu, masa ulama, ulama, ulama, ulama, ulama, dan sampai sekarang. Ini adalah makna derajat kebaikan.”
Setelah menyampaikan argumentasi hadits nabi, untuk mematahkan keputusan MUI, Nusran memolesnya dengan data sejarah, “Pada abad Bani Abbasiyah, Khalifah Abbasiyah keenambelas, Sulthan al-Khalifah al-Mu’tadhid Billah pernah mengangkat seorang gubernur, namanya Umar bin Yusuf (seorang kristen taat) menjadi gubernur di al-Anbar, Irak.”
Kemudian ia mulai mempertanyakan, “Apakah waktu itu tidak ada Surah Al-Ma`idah: 51? Pada zaman itu. Apakah pada zaman itu tidak ada ulama-ulama yang menafsirkan al-Ma`idah? Mohon maaf, apakah ulama-ulama pada masa itu kalah saleh, kalah alim dengan ulama-ulama hari ini?” dengan nada tinggi sambil melihat ke sekililing, seolah menantang.
            Ada beberapa catatan yang perlu ditulis di sini. Pertama, secara teks, tidak ada nash hadits yang diawali dengan kata “Khairul quruni qarni,” melainkan riwayat berikut:
عن أبي برزة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم " .
Dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya.” (HR. Bazzar. No: 4508).
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar di dalam Musnad-nya. Memang hadits ini berawalan “Khairul qurūni,” namun: tidak ada tambahan “yalūnahum” sebanyak tiga kali sebagaimana ungkapan Nusran. Di samping itu ada catatan menarik dari al-Bazzar terkait hadits ini:
وهذا الحديث لا نعلم أحدا أسنده إلا مبارك بن فضالة عن الأزرق عن أبي برزة ولا نعلم رواه عن مبارك بن فضالة إلا سلام بن سلم .
Haditt ini tidak kami ketahui seorang pun yang menunjukkan sanadnya, melainkan Mubarak bin Fudhalah dari al-Azraq, dari Abi Barzah. Dan kami tidak menegetahui yang meriwayatkan dari Mubarak bin Fudhalah, melainkan Salam bin Sallam. (Musnad al-Bazzar, 2/149). Dari komentar ini menunjukkan kesahihan hadits dengan redaksi seperti ini masih disanksikan.
            Sedangkan hadits yang semakna kebanyakan berawalan: khairukum qarni, khairu ummati qarni, khairunnās qarni. Ini menunjukkan bahwa Nusran tidak menguasai teks haditsnya.
            Kedua, secara penerjemahan juga bermasalah. Kata “tsummal ladzīna yalūnahum” yang kedua dan ketiga, diartikan sebagai sahabat pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Padahal, kalau merujuk kepada keterangan ulama ahli hadits, yang dimaksud generasi terbaik secara makro pasca nabi secara berurutan ialah generasi sahabat, tābi’īn (pengikut sahabat), dan tābi’ut tābi’īn (pengikut tab’iin). Ini berarti, derajat kebaikan mereka dinilai secara kolektif bukan menunjukkan semua individu mesti baik.
            Al-Hāfidz Ibnu Hajar misalnya dalam kitab Fath al-Bāri menjelaskan:
قَوْلُهُ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ أَيِ الْقَرْنُ الَّذِي بَعْدَهُمْ وَهُمُ التَّابِعُونَ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ وَهُمْ أَتْبَاعُ التَّابِعِينَ
“Kata tsummal ladzina yalunahum [setelah nabi dan sahabat] maknanya generasi tabi’in [pengikut sahabat] kemudian tabi’ut tabi’in [pengikut tabi’in] (Fath al-Bāri, VII/6).
            Imam Nawawi dalam masalah ini juga memberi catatan:
"الصَّحِيحُ أَنَّ قَرْنَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الصَّحَابَةُ ، وَالثَّانِي : التَّابِعُونَ ، وَالثَّالِثُ : تَابِعُوهُمْ" .
“Yang benar mengenai maksud qarni dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ialah: Pertama, sahabat. Kedua, tabi’in (pengikut sahabat). Ketiga, pengikut tabi’in.” (Syarhu al-Nawawi ‘Ala Muslim, XVI/85).
            Sekiranya generasi terbaik itu meliputi semua individu, maka gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul di zaman nabi, juga bisa dikategorikan sebagai generasi terbaik, padahal dia munafik. Ini artinya argumentasi yang disampaikan Nusran sangat lemah ketika mengaitkan hadits derajat kebaikan sahabat dengan kasus sejarah yang tidak mewakili ijma ulama mengenai kepemimpinan kafir. [Bersambung]
Share this article :

2 komentar:

  1. Baca surah At-Taubah ayat 100. Dan orang2 yg mengikuti mereka dengan baik. Nah, apakah Abdullah bin Ubay bin Salul di zaman nabi, mengikuti dengan baik? Kan munafik.

    BalasHapus
  2. Ngeri juga ya narasi pembelaan yusron thd orang kafir yg dia dukung jd pemimpin DKI, padahal bawa aja Ahok jadi pemimpin di Surabaya, Gresik, Madura, atau Kediri atau Jombang, kok ngotot mau DKI

    BalasHapus

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan