Home » » Sang Singa Mimbar; Penolak Komunisme Menyebar

Sang Singa Mimbar; Penolak Komunisme Menyebar

Written By Amoe Hirata on Senin, 06 Februari 2017 | 11.13

DI kalangan Partai Masyumi, beliau dikenal dengan julukan “Singa Mimbar”. Gelar ini sangat beralasan karena ulama ini mempunyai kecakapan  yang baik dalam beretorika. Sangat fasih dalam berkhutbah. Tak hanya itu, ayah dari Endang Syaifuddin Anshary ini juga dikenal sebagai penulis produktif dan tajam. Hasil buah penanya sudah tertuang di dalam 23 judul buku. Belum lagi tulisan-tulisan lain yang tersebar di berbagai majalah dan surat kabar.
            Beliau adalah Muhammad Isa Anshary. Beliau lahir di Maninjau Sumatra Tengah pada 1 Juli 1916. Di usianya yang keenambelas, setelah menyelesaikan studi Islam di Madrasah tempat kelahiran, beliau merantau ke Bandung. Saat di kota kembang ini, beliau berguru kepada Ahmad Hassan dan bergabung secara resmi dengan Jam’iyyah Persis (Persatuan Islam) Bandung. Di kemudian hari beliau diangkat menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (7/12/1949).
                        Sebagai seorang ulama, dia bergerak bukan saja dalam bidang lisan dan tulisan. Beliau juga terjun langsung dalam dunia perpolitikan. Melalui Jam’iyah Persis, beliau pernah mengeluarkan tulisan Manifes Perjuangan Persatuan Islam. Perseteruan sengit dalam dunia politik akibat menentang pandangan penguasa, membuatnya dipenjara oleh pemerintah Soekarno di Madiun 1963.
            Salah satu kontribusi paling menonjol yang membesarkan namanya dalam catatan emas sejarah Indonesia adalah kegigihannya dalam menentang komunisme. Pasca Pemilu 1955 umat Islam menghadap kekuatan komunisme yang bercokol di Indonesia dengan nama PKI (Partai Komunis Indonesia). Ide NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) dan demokrasi terpimpin yang “dipaksakan” Presiden Soekarno kala itu ditentang keras oleh Isa Anshary baik melalui lisan maupun tulisan.
            Pada tahun enam puluhan, pasca pembubaran Masyumi (17 Agustus 1960), kekuatan politik Islam melemah sedangkan PKI semakin berkembang pengaruhnya. Kehadiran PKI di gelanggang politik Indonesia memberi efek yang sangat signifikan baik kecil maupun besar. Sebagai contoh, kebiasaan orang Indonesia memanggil temannya dengan sebutan “Saudara” “Bung” atau “Bapak” diganti mereka dengan panggilan “Kawan” yang terinspirasi dari bahasa Rusia yaitu “toarich”. Alasannya sederhana, karena kata-kata tersebut dianggap warisan kaum borjuis.
            Dengan ketajaman analisisnya, persoalan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh Isa Anshary. Menurut beliau panggilan “Saudara” “Bung” atau “Bapak” merupakan panggilan yang lahir dari sifat dasar dan asli yang mewarnai hidup bangsa Indonesia. Oleh karenanya, panggilan tersebut merupakan kewajaran . Hal ini tentu jauh berbeda dengan dengan dasar kolektivitas ala toarich yang tidak wajar, janggal didengar, dan mengganggu perasaan Orang Indonesia.
            Pada sekup yang lebih besar, Isa Anshary juga mengkritisi virus yang disebarkan komunis di Indonesia. Propaganda mengenai tidak ada pertentangan antara Islam dengan komunisme sehingga muslim bisa bekerja sama dengan PKI. Mereka pun menjastifikasi pandangan sesat itu dengan menyitir pernyataan Iqbal bahwa Islam is Communism with God (Islam adalah komunisme yang bertuhan).
            Pada tanggal 4 Maret 1957 Manifesto Persis di bawah kepemimpinan beliau menyatakan secara tegas bahwa teori dan praktik komunis bukan saja bertentangan dengan semua agama, melainkan juga mengandung permusuhan dan pertentangan dengan akidah yang diajarkan oleh semua agama. Manifesto ini merupakan penolakan Persis terhadap konsepsi Bung Karno yang ingin memasukkan komunis dalam mengendalikan pemerintahan di Indonesia.
            Selain itu Isa Anshary juga mengingatkan bahwa komunis sejatinya menolak Tuhan, wahyu, dan nabi-nabi, bahkan memandang agama sebagai takhayul yang membelenggu otak manusia. Bila komunis nanti memiliki kekuasaan, dikhawatirkan akan menggunakannya sebagai teror kekuasaan terhadap yang tidak sejalan dengan pandangannya. Hal lain yang disebut beliau, tujuan komunis yang jelas adalah memperkenalkan kolonialisme baru, menggantikan imperialisme Barat; semua itu dilakukan dengan berkedok nasionalisme tulen.
            Pada manifesto Persis 1954 sampai dinyatakan bahwa orang yang sudah mengetahui kebatilan komunisme tetapi tetap mengikutinya maka ia telah murtad (keluar) dari Islam dan tidak perlu dimakamkan secara Islam. Pada tahun 1955 sampai ada fatwa khusus yang dikeluarkan A. Hassan di majalah Al-Muslimun bahwa perkawinan antara seorang muslimah dengan seorang anggota komunis tidak sah. Bagi beliau, kerjasama dengan komunis tidak diperbolehkan dalam Islam, karena hanya akan membawa kerusakan terhadap agama.
            Bukti komitmennya dalam menentang komunisme di Indonesia sepanjang tahun 1953 sampai 1958. Di antara bukti riil usahanya adalah dengan menerbitkan majalah Anti Komunis. Artikelnya yang berjudul “Bahaya Merah di Indonesia” adalah salah satu bentuk penentangan beliau terhadap komunisme. Komunisme baginya bertentangan dengan Islam dan nasionalisme Indonesia.
            Jauh sebelum adanya aktivitas Kesatuan Aksi Pelajar dan Mahasiswa (KAMI, KAPPI) yang menuntut dibubarkan PKI pada tahun 1966, bersama Persis beliau telah menyadari bahaya laten komunisme dan menuntut pembubaran PKI sejak tahun 1960. Perjuangan gigih menentang komunisme ini terus dia perjuangakan hingga menghadap Sang Pencipta pada 11 Desember 1969.

(Disarikan dari buku: Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983 dan Yang Dai Yang Politikur; Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis karya Dadan Wildan)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan