Home » » Aroma Kerinduan Ramadhon

Aroma Kerinduan Ramadhon

Written By Amoe Hirata on Kamis, 03 Juli 2014 | 13.48

            Bulan kemenangan kembali datang membentang; bulan ampunan kembali tiba menyapa; bulan rahmat kembali hadir menghampiri. Setiap mukmin sejati pasti merindukan kedatangannya. Bagaimana tidak, bulan yang secara khusus dipilih oleh Allah sebagai bulan terbaik yang di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan(Qs. Al-Qodar: 3); bulan yang di dalamnya setiap ganjaran dilipatgandakan sedemikian rupa melebihi bulan pada umumnya(Hr. Ibnu Majah); bulan yang di dalamnya dibuka pintu surga dan ditutup pintu neraka(Hr. Bukhari, Muslim); bulan yang di didalamnya para setan dibelenggu(Hr. Bukhari, Muslim). Ramadhan seolah menjadi magnet yang mampu menarik hati orang mukmin untuk selalu menyambut kedatangannya; Ramadhan seakan menyimpan ‘aroma harum kerinduan’ yang membuat setiap orang beriman kangen akan keharumannya. Karena itulah, tidak mengherankan -pada umumnya pada masyarakat kita- jika Ramadhan datang, masjid yang sebelumnya hanya berisi satu saf, tiba-tiba menjadi penuh; orang yang biasanya jarang berinfak tiba-tiba berinfak; orang yang biasanya jarang mengaji, tiba-tiba ramai-ramai mengkhatamkan al-Qur`an; orang yang biasanya tak pernah shalat malam, tiba-tiba mengikuti shalat Tarawih.
            Perubahan-perubahan secara drastis seperti itu di satu sisi patut disyukuri dan didukung, namun di sisi lain kita perlu memaknai kembali berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, supaya kita tidak terjatuh pada ibadah-ibadah formal yang kering dari nilai spiritualitas lantaran hanya dilakukan ketika Ramadhan saja; agar kita tak menjadikan Ramadhan layaknya ‘pasar kaget’ yang sifatnya sementara dan tak berlangsung lama; supaya kita tak terjebak pada ‘kapitalisasi pahala’, yang membuat fokus kita pada pahala lebih besar daripada Allah ta`âla. Selama ini Ramadhan dimaknai hanya sebagai bulan suci dan mulia yang patut disambut dan dimuliakan kedatangannya dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Karena begitu besarnya pahala, ampunan, dan rahmat yang ditaburkan Allah ta`ala pada bulan ini, banyak orang yang meresponnya sebagai momen yang tepat untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, meminta ampunan sebesar-besarnya, memohon rahmat seluas-luasnya. Akibatnya, Ramadhan seolah-olah dijadikan sebagai ‘pabrik pahala’, sehingga yang keluar darinya pasti meraup pahala sebesar-besarnya; Ramadhan seakan-akan dijadikan sebagai ‘pabrik ampunan’ yang membuat orang terlepas dari segala dosa selepas darinya; Ramadhan dijadikan sebagai ‘samudra rahmat’ yang membuat orang-orang pada umumnya menyangka setelah keluar darinya akan menjadi ‘kaya rahmat’.
            Apa ada yang salah dengan makna Ramadhan selama ini, sehingga kita perlu memaknainya kembali? Sebenarnya, makna yang berkembang selama ini di masyarakat secara umum tidak ada salahnya sama sekali. Hanya saja, makna yang selama ini dipahami berakibat negatif pada sikap orang pada umumnya dalam memperlakukan Ramadhan. Banyak sekali yang salah kaprah dalam memahaminya, sehingga Ramadhan dijadikan semacam ‘bulan pelampiasan’ baik untuk shalat, puasa, sedekah dan ibadah lainnya, tentunya untuk meraih keuntungan pahala sebanyak-banyaknya, syukur-syukur segala dosa diampuni sehingga ketika keluar dari Ramadhan kondisinya bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan. Meski pada dasarnya kita dibolehkan mencari pahala, rahmat, dan ampunan sebanyak-banyaknya, tetapi kita juga harus tetap ingat bahwa fokus ibadah kita tetap pada Allah, dan yang namanya ibadah tidak hanya khusus pada bulan Ramadhan. Ramadhan bermakna bulan yang dipilih oleh Allah untuk menempa dan menguji setiap orang beriman untuk menjadi orang bertakwa kapan pun dan dimana pun berada. Makna ini memberikan kita pengertian lebih bahwa Ramadhan mengandung nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran untuk dijadikan kesadaran mendasar pada hati tiap-tiap orang beriman untuk selalu menjaganya di setiap waktu dan tempat.
            Bila kita mau menelusuri kembali sejarah emas Nabi Muhammad beserta sahabatnya, maka kita akan menemukan kenyataan menarik mengenai penyikapan mereka terhadap bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan di bulan Ramadhan, tetap terjaga di bulan-bulan lainnya. Mereka paham betul bahwa Ramadhan merupakan momen tepat untuk beramal dan berkarya untuk ditularkan pada bulan-bulan selanjutnya. Ketika Ramadhan telah pergi, mereka berdoa agar diperjumpakan kembali dengan Ramadhan. Tak sedikit dari mereka yang sejak jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Mereka paham betul bahwa ibadah dalam bulan Ramadhan dimaksudkan untuh melatih diri agar bertakwa, sedangkan takwa adalah sebaik-baik bekal yang harus terus diupayakan oleh orang beriman baik dalam bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Maka tak berlebihan jika ada riwayat yang menyatakan: Sekiranya para hamba Allah mengetahui (apa yang terkandung) pada Ramadhan, maka pasti setiap umat akan mengharap setiap hari dijadikan sebagai Ramadhan(R. Abu Ya`la, Ibnu Huzaimah). Ya dengan memperbaiki makna Ramadhan, maka tidak akan kita jumpai lagi orang yang rajin ibadah hanya pada bulan Ramadhan, karena Ramadhan sudah dijadikan kesadaran mendasar dalam jiwa, sehingga setiap bulan selalu diisi dengan amal sebagaimana Ramadhan.


Sumengko, Rabu 2 Juli 2014/22:03
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan