Home » » Kalah-Menang LEGOWO

Kalah-Menang LEGOWO

Written By Amoe Hirata on Senin, 21 Juli 2014 | 21.28


            “Cak! Jujur aku ga terima. Masak aku sudah menghitung-hitung dan memverifikasi suara di setiap TPS yang memenangkan Prabowo, kok sekarang yang menang malah Jokowi. Ga terima aku. Pasti ini ada kecurangan. Pasti ada konspirasi. Pasti ada persengkokolan.” Suara Markoden melampiaskan curhatnya pada Sarikhuluk. “Den, kendalikan amarahmu. Dari awal `kan aku sudah memberi nasehat ke kamu. Jangan sampai masalah pemilu –meski menurutmu besar- memenuhi segenap ruang batin dan pikiranmu. Kamu ini muslim. Mestinya tidak dijadikan kerdil dan hina hanya untuk memikirkan masalah ‘teater lima tahunan’ ini. Aku mengerti Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, jujur dan berwibawa, tapi cara kamu memprotes seperti tadi malah akan berbuah negatif, baik bagi kamu maupun rekanmu. Masalah kecurangan `kan bisa ditempuh dengan jalur hukum. Kalaupun jalur hukum tak bisa ditempuh ya jangan kecil hati. Tugasmu sudah cukup bekerja sejujur-jujurnya, semaksimal kemampuan, dan sebagus mungkin. Kalau ternyata hasilnya tak sesuai, ingat kita di dunia ini –sebagai orang beriman- tidak akan dibiarkan begitu saja. Kalau benar memang pihak Jokowi curang, maka kecurangan tidak akan bertahan lama. Kamu juga harus bisa proporsional dalam berfikir. Tidak mesti setiap yang kita bela pasti steril dari kekeliruan dan kekhilafan. Kedua calon harus ditakar dengan timbangan yang seobyektif mungkin.” Komentar Sarikhuluk menasehati.
            “Aku bicara bukan sekadar bicara Cak. Aku punya data dan siap mempertanggungjawabkannya. Sampai detik ini aku ga habis fikir kok bisa-bisanya mereka melakukan keculasan itu.” Tambah Markoden membela diri. “Rupanya kamu belum paham betul maksudku. Begini dengar baik-baik. Kehidupan ini sangat luas Den. Jangan sampai mudah percaya atau mudah tidak percaya. Setiap fenomena yang kamu lihat dan alami perlu difikirkan dan dianalisa. Jangan gampang kagetan! Jangan mudah kaguman! Belajarlah pada sejarah politik dari masa kemerdekaan hingga sekarang. Selama ini politik yang dipentaskan oleh politikus tidak selamanya berbanding lurus dengan kandungan batin aslinya. Bukan berarti aku tahu batin mereka lho ya. Lha gimana, kamu tahu sendiri betapa selama ini demokrasi hanya dijadikan slogan indah untuk mendongkrak citra di mata orang banyak. Rakyat dijadikan sebagai korban penipuan halus. Dalam politik -menurut pengamatanku hingga detik ini- tidak ada kata-kata yang disampaikan berdiri apa adanya sesua dengan makana yang terkandung di dalamnya. Mungkin kedepan tidak kita jumpai korupsi-korupsi model transparan seperti di era-era sebelumnya, tapi akan ada korupsi yang in-trasparan dimana caranya ialah dengan mengamandemen undang-undang serta sistem yang bisa melegalkan mereka berkorupsi. Indonesia ini negara kaya raya Den. Omong kosong kalau setiap kejadian dalam negeri ini tak dimonitori oleh pihak asing.” Tambah Sarikhuluk mengingatkan.
            “Terus aku sekarang harus gimana cak?” tanya Markoden. “Sekarang fokuslah kepada diri sendiri dan keluarga. Bekerjalah sebaik-baiknya untuk masa depanmu dan masa depan mereka baik di dunia maupun akhirat. Siapapun yang jadi sudah bisa dipastikan tak akan mengenalmu. Kamu ‘LEGOWO’ saja. Jangan tergantung pada negara! Kamu punya Tuhan. Gantungkanlah segala usahamu pada Tuhan. Kerusakan yang terjadi di Indonesia ini sudah sangat susah –kalau tidak boleh dikatakan mustahil- untuk diatasi. Kalaupun yang menang adalah Prabowo, juga tidak sertamerta akan berubah seratus persen. Masalah negara ini begitu besar dan kompleks Den. Karena begitu besar dan kompleksnya masalah di Indonesia ini, maka sejatinya dibutuhkan orang-orang yang besar sekaligus sebanding dengan beban yang diemban. Orang yang sejatinya ga mampu terus kemudian bilang mampu – ingat betul-betul kata-kataku!- pasti akan jatuh sendiri meski tak dijatuhkan. Sejak awal kamu `kan mengikuti keduanya berjanji dan merasa bisa mengatasi masalah yang begitu ruet dalam negeri. Yang dibutuhkan oleh rakyat bukanlah janji-janji, tapi kinerja; yang dibutuhkan rakyat itu bukan kata-kata indah, tapi kontribusi nyata. Sama saja ga waras menurutku, kalau ada orang yang dengan pedenya merasa mampu mengatasi masalah Indonesia, wong mengurusi masalah pribadi dak keluarga saja belum sepenuhnya bisa. Apalagi yang suka ‘embo jabatan’ (nambah jabatan padahal belum tuntas memimpin) jatuh sendiri. Jangan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Cerdaskan diri dan keluarga. Jadilah orang bermanfaat, ajak orang berbuat sebaik-baiknya untuk selalu menjadi baik. Jangan lagi mudah tertipu. LEGOWO saja karena: LEk GOro podo karo mangan moWO.” Tutup Sarikhuluk.

            
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan