Home » » Konstan Beramal di Bulan Syawwâl

Konstan Beramal di Bulan Syawwâl

Written By Amoe Hirata on Senin, 28 Juli 2014 | 18.53

            Bulan Ramadhan baru saja berakhir. Tiba saatnya kita berjumpa dengan bulan Syawwâl. Banyak orang bahagia dan bersukacita menyambut bulan Syawal. Kebahagiaan itu menyebar ke segenap lapisan umat Islam. Berbagai sikap pun bermunculan. Ada yang menyambutnya dengan kembang api, petasan dan semacamnya sebagai wujud perayaan. Ada juga yang sibuk dengan pekerjaan sehingga tak begitu menikmati kesukacitaan bulan `Idul Fitri. Ada juga yang merayakan sukacitanya dalam bentuk kebudayaan, seperti: takbir keliling dan halal bi halal (yang biasa disebut dengan lahir batin). Terlepas dari berbagai macam penyikapan terkait dengan datangnya bulan syawal, jarang sekali ditemui satu sikap yang menunjukkan kesedihan lantaran ditinggal Ramadhan.
Tidak seperti yang terjadi pada masa sahabat dan ulama salaf, yang merasa sedih ketika ditinggal bulan Ramadhan. Bahkan Imam Abu Hamid Al-Ghozali dalam kitab Ihyâ Ulûmiddîn, menyebutkan riwayat dari Wahib bin Al-Warod yang menceritakan: ketika beliau melihat orang yang tertawa ketika hari raya `Idul Fitri, beliau berkomentar: “Kalau memang mereka telah diampuni dosa-dosanya, maka bukan seperti ini perilaku orang yang syukur. Kalau belum diampuni dosa-dosanya, bukan seperti ini perilaku orang yang takut”. Setidaknya riwayat tersebut membuat kita bisa mengontrol diri untuk tidak larut dalam euforia `Idul Fitri. Bahkan  membuat kita termotivasi untuk menyongsong amalan-amalan pada bulan-bulan selanjutnya.
            Khusus pada bulan Syawwâl, ada amalan yang biasa ditunaikan oleh orang-orang Islam setelah merayakan hari raya `Idul Fitri, yaitu: puasa enam hari di bulan Syawwâl. Puasa ini secara normatif terdapat dalam hadits Nabi shalallahu `alaihi wasallam sebagaimana berikut:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ». رواه مسلم
“Barangsiapa puasa (pada bulan)Ramadhan kemudian diikuti (puasa) enam hari pada bulan Syawwâl adalah seperti puasa setahun (penuh)”[Hr. Muslim]. Hadits ini secara jelas menginformasikan ke seganap muslim bahwa siapa saja yang telah berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa Syawwâl, maka seperti puasa setahun penuh. Hadits ini secara umum dipahami sebagai keutamaan puasa pada bulan Syawwâl.
Secara umum kebanyakan orang melihat puasa ini dari segi ganjaran yang begitu luar biasa bagaikan puasa setahun penuh. Apa ada yang salah dengan pemahaman seperti ini? Tentu saja tidak. Memang secara tegas hadits tersebut menyebutkan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawwâl. Tapi dengan terfokus pada pahalah, kadang-kadang orang terlalaikan dengan perkara yang sangat penting dari hadits tersebut, yaitu: kontinuitas amal atau kebersinambungan amal. Padahal jelas-jelas Rasulullah menegaskan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya: amal yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling dawam(rutin, kontinu) meskipun sedikit”.
            Kalau fokus kita sebagai muslim -ketika memahami hadits tersebut- pada kata: ‘Tsumma Atba`ahu(Kemudian diikuti atau diiringi), maka kesadaran kita mengenai kebersinambungan amal semakin terasah dengan baik. Betapapun besarnya pahala puasa di bulan Syawwâl sejatinya mengingatkan kita agar tidak putus dalam beramal. Tidak menjadikan tumpuan amal hanya pada bulan Ramadhan saja. Sehingga kesadaran utama bukan lagi pada pahala, tetapi pada puasa-puasa selanjutnya yang juga disyari`atkan untuk dikerjakan seperti: puasa Senin dan Kamis, puasa Daud, puasa ayyâmu al-bidh(tiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 hijriyah). Artinya apa? Amalan-amalan yang sudah biasa dilakukan di bulan Ramadhan tidak akan terputus hingga datang Ramadhan berikutnya. Kesadaran ini bukan saja berlaku pada amalan puasa saja, kalau dalam Ramadhan orang terbiasa Tarawih, di luar Ramadhan masih ada shalat Malam. Begitu juga dengan amal-amal yang lainnya.
Pemahaman yang benar terhadap hadits tersebut membimbing kita menjadi insan muttaqin sebagaimana tujuan disyari`atkannya berpuasa di bulan Ramadhan. Kata kuncinya sederhana: istiqamah beramal baik dalam dan di luar bulan Ramadhan. Keistiqamahan inilah yang bisa dijadikan sebagai standar bagi sukses tidaknya muslim dalam menunaikan ibadah selama bulan Ramadhan. Memang sederhana, tapi susah terlaksana. Hanya orang-orang yang berbekal taqwa yang mampu tetap kontinu beramal di tengah godaan dunia yang semakin dahsyat. Hidup di dunia hanyalah sementara. Memang ada ruang untuk bersendagurau menikmati dunia. Namun yang penting disadari terkait dengan hakikat dunia ialah porsi untu melampiaskan harus lebih kecil dibanding porsi untuk mengontrol diri. Itulah ajaran puasa.

Wallahu a`lam bis showab.

Suengko, Senin 28 Juli 2014(1 Syawal 1535)/18:40
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan