Home » » Jangan Mendahului Allah

Jangan Mendahului Allah

Written By Amoe Hirata on Senin, 04 Januari 2016 | 13.58


          Di awal tahun 2016 Sarikhuluk baru kelihatan batang hidungnya. Beberapa bulan menjelang akhir tahun 2015, tidak diketahui rimbanya. Hanya Paimen yang sempat diomongi, kalau dia mau nyepi dulu. “Men, arek-arek tak tinggal dulu. Aku rasa warga Jumeneng sudah cukup dewasa dan mandiri.” “Lho, emang mau ke mana Cak?” Tanyanya keheranan. “Nyepi dulu, ada yang perlu dibantu.”
            “Al-hamdulillah Sarikhuluk datang juga akhirnya.” Teriak Paijo saat pertama kali melihatnya datang ke Pendopo al-Ikhlas. Belum sempat duduk nyruput kopi, Sarikhuluk sudah dicurhati Paijo mengenai masalah pribadinya. “Cak, gimana nih, aku gagal total. Aku sudah merencanakan bisnisku. Sudah kutaksir sedemikian rupa keuntungannya. Modalku juga sudah habis. Taunya apa Cak, aku bangkrut. Impian tak menjadi kenyataan, malah bertumpuk beban”
            “Lha piye toh, masa depan kok dipastikan gitu. Itu namanya ndisiki pengeran(mendahului Allah).” Komentar Sarikhuluk.  “Maksudnya apa Cak?” tanyanya mantap. “Yang terjadi di masa depan, baik untung maupun rugi, semua berada di tanganNya. Manusia hanya mampu berusaha, kepastian masa dapan, berada pada Tuhan. Makanya, jangan sekali-kali memastikan sesuatu yang belum pasti, kalau ga mau gigit jari.”
            “Dalam Surah al-Hujurat: 1, ada larangan untuk la tuqaddimu baina yadayillahi wa rasulih(janganlah mendahului Allah dan RasulNya). Konon, ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar dan Umar yang memperdabatkan masalah agama –yang sebenarnya hak prerogatif Allah dan RasulNya-, namun keduanya tetap ngotot dengan pendapatnya masing-masing. Melihat kejadian itu, nabi berkata, ‘Hampir saja kedua sahabat ini binasa.’ Ya, jika keduanya tetap ngotot mendahului Allah dan RasulNya, pasti kebinasaan yang akan dialami.”
            “Jo! Peristiwa asbabun nuzul ayat itu sebanarnya juga relevan digunakan bagi siapa saja yang mendahului Allah dan RasulNya.” “Tunggu Cak, emang mendahului di sini apa? Aku masih kurang ngerti.” “`Kan sudah tak jelaskan. Urusan masa depan adalah rahasia Allah. Yang diperintahkan pada orang beriman adalah evaluasi yang terjadi di masa lalu untuk mempersiapkan diri di masa datang, sebagaimana Al-Hasyr: 18, kapasitas manusia sama sekali bukan memastikan.” “Ooo, nngunu tah Cak.”
            “Aku jadi ingat pesen guruku dulu. Dia pernah menasihatiku, ‘berharap boleh-boleh saja, tapi jangan memastikan dan terlalu berobsesi tinggi. Karena, masa depan adalah misteri, manusia hanya menduga-duga. Jangan pernah mendahului Allah.’ Aku diberi nasihat seperti itu karena ada sebuah kejadian yang ku alami sendiri. Aku pernah jualan daun pisang di pasar. Sebelum berangkat, menurut perkiraanku, dilihat dari musim pembuatan jajan tradisional, orang-orang pasti membutuhkan daun pisang. Kebetulan aku punya banyak pohon pisang di belakang rumahku. Kalau aku hitung-hitung, aku akan mendapat keuntungan besar.  Akhirnya aku potong daunnya. Sesampainya di pasar, aku kaget. Kondisi hujan deras, seharian penuh, sehingga orang yang ke pasar sedikit. Bukan keuntungan yang ku dapat, malah kerugian. Waktu itu aku nesu(jengkel), makanya aku mengadu ke guru, dan mendapat nasihat seperti itu.”
            “Ooo ngunu tah Cak. Suwon lho pituture(nasehatnya). Aku agak tenang sekarang.”
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan