Home » » Keputusan Berskala Peradaban

Keputusan Berskala Peradaban

Written By Amoe Hirata on Selasa, 12 Januari 2016 | 08.00

Dalam hidup ada masa di mana kita dihadapkan pada pilihan dilematis. Pada saat itulah kebijaksanaan dan kejelian manusia diuji. Keputusan yang akan diambil berdasarkan nafsu belaka, atau dengan pemahaman akan potensi, kelebihan, dan kemampuan diri. Pilihan yang rumit inilah –setelah kehendak Tuhan-, yang akan menentukan, apakah keputusan berskala individu, sosial, bahkan peradaban.

Berikut ini, adalah kisah seorang yang berhasil lulus dari pilihan sulit. Keputusan yang ditetapkannya membuatnya memiliki kontribusi berskala peradaban.

Di kalangan Muslim, sosoknya nyaris tak terdengar. Ia dijuluki: ‘Hakim Qurays’, atau ‘Hakim Keluarga Marwan’. Figur berpengaruh ini memiliki nama lengkap Khalid bin Yazid bin Mu`awiyah bin Abi Sufyan.

Pasca kematian ayahnya(Yazid), sebenarnya ia sangat berhak melanjutkan estafeta kekuasaan Daulah Umawi. Anehnya, pemuda keturunan Muawiyah ini justru zuhud kekuasaan. Di samping tak mau berpolemik dengan Marwan bin Hakam, ada orientasi lain yang membuat hatinya terkesan.
Daripada kekuasaan, hatinya lebih tertawan pada studi keilmuan. Keputusannya dinilai menakjubkan. Ini karena: Pertama, melewatkan kesempatan besar sebagai penguasa yang didamba banyak orang. Kedua, memilih studi keilmuan yang kala itu masih asing, bahkan aneh di kalangan Muslim, yaitu: KIMIA.

Ia menyalahi arus kebanyakan orang. Lebih memilih mempelajari ilmu kauni empiris daripada menjadi penguasa legendaris. Ketika itu pun, kajian seputar kimia masih langkah –kalau tak boleh dikatakan belum ada-, bahkan dipandang sebelah mata.
Sebelum Khalid-bahkan sejak imperium romawi-, studi kimia hanya berkutat pada usaha untuk mengubah bahan logam seperti besi dan semacamnya, menjadi barang berharga seperti emas dan perak. Semua dimaksudkan untuk meraup kekayaan.

Mulailah ia keliling bersafar meneliti kajian seputar kimia. Ia mengeluarkan biaya banyak untuk melakukan penelitian ini. Buku kimia karangan romawi yang berada di Alexandria, Mesir, diterjemahkan, kemudian dikirim ke Damaskus untuk dipelajari.

Dari kajiannya ia mulai menyusun dasar-dasar ilmu kimia. Tak cukup di situ, ia juga melakukan eksperimen-eksperimen penting seputarnya. Jerih payahnya membawa hasil. Dari percobaan yang dilakukannya, ia mampu membuat trobosan baru, yaitu: obat kimiawi. Sebelumnya, berbagai bangsa menggunakan obat tradisional berupa rempah-rempah atau herbal.

Tak pelak lagi, ia adalah ilmuan peletak dasar-dasar dan prinsip-prinsip kimiawi dari kalangan Muslim. Beberapa tahun kemudian, eksperimen mencengankan Khalid, dikembangkan oleh Jabir bin Hayyan. Bahkan, disempurnakan menjadi ilmu kimia.

Karangan seputar ilmu kimia pun menyebar luas di berbagai penjuru dunia. Buku-buku Jabir bin Hayyan menjadi tren kajian kimia hingga di Eropa sana. Kajian ini dikenal di dunia sebagai maha karya Jabir.

Jabir tak akan semayshur itu, tanpa meneruskan kajian Khalid bin Yazid, orang yang pertama kali memiliki ide mengadopsi dan mengadapsi ilmu asing dengan pendekatan empiris.

Bersamaan dengan itu, akhirnya budaya penerjemahan ilmu-ilmu asing merebak. Ilmu-ilmu lain seperti fisika, falak, geografi, falak dan berbagai cabangnya tak luput dari proyek penerjemahan.

Dalam bidang kimia, Khalid mengarang lebih dari satu kitab. Keputusan Khalid yang sebelumnya dianggap gila, ternyata di kemudian hari menjadi kontribusi luar biasa dalam studi empiris.
Yang menakjubkan, budaya amanah ilmiah, sudah diterapkan Khalid sejak dini. Secara jujur ia akan menunjukkan sumbernya. Ilmu yang bukan karyanya, tidak dianggap sebagai karyanya. Briliannya, ia mengembangkannya menjadi ilmu yang jauh bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Ilmuan-ilmuan asing baik dari Yunani dan negara lain yang nyaris hilang di belantika peradaban dunia –berkat ulama Islam- menjadi dikenal kembali. Peradaban Islam pun menjadi semakin maju. Mereka bukan hanya saja menguasai ilmu syar`i, tapi juga ilmu kauni.


Sungguh fenomenal keputusan yang diambil oleh Khalid. Ia bukan saja menjadi orang pertama kali yang mengadopsi ilmu asing yang kemudian dikembangkan, dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, tapi keputusan yang ia pilih sejak pertama kali, benar-benar berskala peradaban.


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan