4 Problem dan 4 Solusi
Written By Amoe Hirata on Kamis, 15 Desember 2016 | 14.42
Setiap orang pasti pernah
mengalami takut, bersedih, ditipu daya orang, dan (terlalu cinta) dunia.
Berikut ini ada empat solusi dari al-Qur`an sebagaimana yang disampaikan oleh Imam
Ja’far al-Shadiq, seorang Ahli Bait yang sangat paham dengan rahasia-rahasia
al-Qur`an.
Beliau mengatakan, “Aku
heran kepada orang yang takut,” ini adalah problem yang pertama. Solusinya, “sedang dia tidak berlindung dengan firman
Allah subhanahu wata’ala:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ
ٱلۡوَكِيلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik
Pelindung" (QS. Ali Imran [3]: 173).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ
مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ
“Maka mereka kembali
dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat
bencana apa-apa,” (QS. Ali Imran [3]: 174).”
“Aku juga heran kepada orang yang
berduka [bersedih],” ini problem yang kedua. Solusinya, “sedang ia tidak
berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala berikut:
لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ
أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain
Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang
zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ
وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Maka Kami telah
memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah
Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiya [21]: 88).”
“Aku juga heran dengan orang yang ditipu daya,” problem
yang ketiga. Solusinya, “sedang ia tidak
berlindung dengan firman Allah subhanahu wata’ala:
وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى
ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir
[40]: 44).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَئَِّاتِ
مَا مَكَرُواْۖ
“Maka Allah
memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka,” (QS. Ghafir [40]: 45).
“Aku juga heran dengan orang yang mencari dunia dan perhiasannya,” problem
yang keempat. Solusinya, “sedang ia tidak berlindung dengan firman Allah subhanahu
wata’ala:
مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا
قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ
“Maasyaallaah, laa quwwata illaa
billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi [18]: 39).
“Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman setelah ayat ini:
فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن
يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ
“Maka mudah-mudahan
Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini).”
(QS. Al-Kahfi [18]: 40).”
Menangis di Persidangan
Written By Amoe Hirata on Selasa, 13 Desember 2016 | 19.24
SYA'BI meriwayatkan, "Aku pernah menyaksikan Syuraih [dalam satu persidangan]. Ia didatangi oleh seorang wanita yang berseteru dengan seorang lelaki. Kedua matanya pun berlinang air mata. Aku pun berkata kepada [Syuraih], "Wahai Abu Umayyah! Saya kira wanita malang ini terdzalimi'. Syuraih pun menjawab, "Waha Sya'bi, sesungguhnya saudara-saudara yusuf juga menangis (QS. Yusuf [12]: 16) [padahal mereka berbohong]." (Akhbar al-Qudhaat: II/221).
عَن الشعبي قال: شهدت شريحاً وجاءته امرأة تخاصم رجلاً فأرسلت عينيها فبكت فقلت: يا أبا أمية ما أظن هذه البائسة إِلَّا مظلومة؛ فقال: يا شعبي: إن إخوة يوسف: جَاؤُواْ أَبَاهُمْ عِشَاء يَبْكُونَ[يوسف:16[
أخبار القضاة (2/ 221(
Pelajaran:
1. Nangis di persidangan tidak menunjukkan kebenaran
2. Di persidangan butuh bukti bukan baper
3. Yang nangis di persidangan "kayak" cewek
4. Yakin benar harus tegar, bukan perasaan diumbar
5. Hakim yang tidak baperan, tidak akan terpengaruh dengan sebuah "drama" tangisan
Wallahu a'lam
Terus Ajarkan al-Qur`an, Walau Dunia Tak Lagi Perhatian
Written By Amoe Hirata on Rabu, 23 November 2016 | 10.45
PAGI itu hawa terasa sejuk. Rumput-rumput bermesraan dengan embun pagi. Semilir angin menerpa wajah dengan sangat lembut. Suara burung bersahutan menyambut fajar. Suasananya begitu indah memesona. Asri menentram jiwa. Dalam kondisi demikian, di pelataran rumah, terlihat sepasang suami istri sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Keduanya merupakan guru ngaji kampung yang tergolong aktif. Di tengah asyiknya bercengkrama, tiba-tiba sang istri bertanya, “Mas bagaimana nanti klo anak kita besar dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi?” Sang suami menjawab, “Anak-anak kita sudah ditentukan kadar rezekinya oleh Allah subhanahu wata’ala.”
Mendengar jawaban sang suami, istri pun menimpali, "Bagaimana kalau kita berhenti saja menjadi guru ngaji, kita cari pekerjaan lain agar bisa membantu sekolah anak kita?" Sontak saja sang suami menjawab dengan nada yang agak tinggi, “Apa pun yang terjadi kita akan tetap mengajarkan Al-Qur`an, karena ini adalah pekerjaan terbaik menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku pernah mendengar riwayat, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an serta mengamalkannya.” (HR. Bukhari)
Di sisi lain, Allah subhanahu wata’ala akan memberi yang terbaik untuk kehidupan kita. Seandainya di muka bumi tidak ada seorang pun yang perhatian terhadap al-Qur`an, maka kita berkewajiban mengajarkan al-Qur`an.” Mendengar pemaparan tegas sang suami, istri pun terdiam seketika dan meminta maaf atas kekhilafannya.
Mudah-mudahan dialog sepasang suami istri ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang futur (loyo setelah semangat) dari perjuangan lalu bangkit dan berjuang bersama al-Qur`an. Sebab, banyaknya harta dan honor yang didapatkan oleh seseorang tidak menjamin baiknya generasi atau keturunannya, tapi yang menjadikan dia baik dan mulia adalah ketika dia menekuni setiap pekerjaan yang menurut Allah subhanahu wata’ala baik yang dalam hal ini ialah mempelajari dan mengajarkan al-Qur`an.
Bukankah tujuan manusia diciptakan oleh Allah untuk ibadah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56) dan bukankah ibadah itu adalah bagaimana membuat Allah itu senang? Kalau engkau membiasakan diri bersama al-Qur`an serta membelanya, maka engkau akan disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala. Jika engkau disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala, maka apa pun yang engkau minta, akan diberi oleh-Nya. Jangankan harta, dunia dan isinya akan diberikan sekiranya Dia menghendaki. Oleh karena itu, terus ajarkan al-Qur`an, walau dunia tak lagi perhatian!. Wallahu a’lam. (Tulisan Sahabat: Ihsan Farid)
Cinta di Atas Cinta
Written By Amoe Hirata on Senin, 07 November 2016 | 14.14
PADA suatu malam, di bumi hijrah,
seorang wanita terbangun dari tidurnya. Ia sangat khawatir dan cemas. Baru saja
mimpi buruk menderanya. Dalam mimpi ia melihat, suami yang dicintai selama ini,
tenggelam ke dalam lautan yang sangat dalam. Kondisinya sangat memprihatinkan.
Air mata pun tak terbendung membasahi pipinya. Ada apa gerangan yang akan
terjadi dengan suami tersayang yang sama-sama hijrah dalam ikatan cinta.
Label:
Cermin,
Cerpen,
Hikmah Sejarah,
Mutiara Hikmah,
Mutiara Sejarah
Aksi 411
Written By Amoe Hirata on Sabtu, 05 November 2016 | 13.55
BADRUDIN (biasa dipanggil Brodin) tergopoh-gopoh
mendatangi pendopo Al-Ikhlas. Dari raut wajahnya tersirat keinginan untuk mengkhabarkan
sesuatu. Momennya pas ada Sarikhluluk sedang kumpul dengan para sahabatnya. Padahal
sudah beberapa bulan Sarikhuluk tak diketahui rimbanya. Sesampainya di lokasi,
Brodin pun mulai bercerita, “Cak apa yang aku alami pas ikut demo damai di
Jakarta Jum’at lalu sungguh fenomenal.”
“Fenomenal
piye?” tanya Sarikhuluk. “Ada
beberapa tanda-tanda alam kalau aksi ini diridhai oleh Allah,” ia terus berkata
sambil menggerai rambut panjangnya, “aku sendiri merasakan atmosfirnya Cak,
sungguh dahsyat dan mencengangkan.” “Tunggu dulu, biar penjelasanmu tidak
meluas ke mana-mana dan bisa dimengerti konco-konco (kawan-kawan), maka
jelasin dulu mengenai tanda-tanda alamnya.”
“Pertama,
sebelum demo berlangsung, kondisi di Jakarta Pusat terlihat mendung sekali.
Menurut perkiraan cuaca pun hari itu akan turun hujan. Ndilalah pas aksi
demo damai sudah dimulai sampai malam, bahkan hari berikutnya tidak turun hujan
sama sekali, yang ada hanya mendung,” jawab Brodin dengan mimik meyakinkan.
“Terus
apa lagi?” tanya Paimen. “Kedua, dari angkanya kok ya pas gitu,”
Brodin memulai. “Pas gimana?” tanya Paidi. “Yang didustakan kan Surah al-Maidah
ayat 51, nah kalau kita tambah angka tanggal, bulan dan tahun, mala hasilnya
51. 4+11+20+16= 51,”jawabnya bersemangat.
“Ketiga,
kalau dirangkai angka tanggal dan bulan, ternyata itu menunjukkan kata lillah
dalam bahasa Arab artinya karena Allah. Coba lihat kata berikut: 411 kan mirip
dengan لِلَّهِ. Aku semakin yakin bahwa demo
ini diridhai Allah.” “Masih ada lagi?” tanya Sugimen. “Keempat, ada yang
sempat memotret fenomena lafal Allah baik di atas awan atau dalam kerumunan
massa.”
Sambil menyeruput kopi pahit sejenak kemudian ia
melanjutkan, “Kelima, aku benar-benar merasakan kebangkitan umat.
Bayangkan! Belum pernah ada sepanjang sejarah Indonesia, umat Islam dengan
latar kelompok yang berbeda (ormas, agamis, nasionalis dll), bisa bersama-sama
dalam satu arena perjuangan untuk menggapai misi yang sama, yaitu: berjuang
untuk menegakkan keadilan bagi penista al-Qur`an. Aku pernah mendengar ada
hadits nabi Cak, katanya umat ini tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Apa
lagi jumlahnya ditaksir dari 100 ribu hingga 1 bahkan 2 jutaan.”
“Ilmu othak-athek gathok-mu lumayan juga Den.
Sebelum aku memberi tanggapan, mungkin ada di antara kawan-kawan pendopo
al-Ikhlash yang mau menanggapi?” tanya Sarikhuluk kepada para sahabatnya yang
sedang duduk bareng di Pendopo.
“Untuk menentukan aksi itu diridhai atau tidak menurutku
tak cukup dengan pendekatan seperti itu. Kalau itu dijadikan acuan, maka akan
sangat relatif dan gampang dipatahkan,” ujar Salamudin yang mulai menganalis
bak seorang filsuf, “Pertama, mendung kan ga mesti hujan. Lagi pula yang
menentukan hujan kan bukan ahli perkiraan cuaca. Kedua, penjumblahan 4+11+20+16= 51, akan mudah dibantah dengan
hitungan demikian 4+11+2016= 2031. Itu baru tambahan, apa lagi kalau dikali,
dibagi atau dikurangi, pasti akan ada hasil yang jauh berbeda.”
Setelah
memakan ubi jalar, Salamudin melanjutkan analisisnya, “Ketiga, demikian
juga penggabungan tanggal dan bulan menjadi 411. Siapa yang harus menentukan
seperti itu, kalau dibalik kan jadinya seperti ini 114. Belum lagi kalau
ditambah tahun jadi seperti ini 4112016. Kan jadi melebar. Keempat, memotret
fenomena Allah ini juga sangat relatif, ditinjau dari sudut dan jarak pandang.
Kalau keduanya melihat dari titik berbeda, maka hasilnya pun akan beda.”
“Terakhir,
setahuku untuk menentukan diridhai atau tidak bukan sekadar banyaknya yang
berkumpul. Buat apa banyak berkumpul kalau yang berkumpul berkualitas seperti
buih? Belum lagi riwayat yang kamu bawakan tadi setahuku –waktu masih nyantri
dulu- haditsnya dha’if (lemah). Maka alasan yang kamu sampaikan mengenai
fenomena dahsyat dalam aksi damai 411 itu masih lemah menurutku.”
Paijo
tak mau kalah berkomentar, “Kalau aku tidak mau melihat ke arah itu. Bagiku itu
masih superfisial. Masih dalam tataran kulit, belum menjangkau subtansi isi
permasalahannya. Kan intinya ada: pelaku dan aksi demo damai, penista agama,
dan penistaan al-Qur`an.”
“Demo
adalah akibat, sebabnya adalah penistaan 51 yang dilakukan oleh Pak Bas. Yang
menjadi pikiranku, dibilang aksi damai tapi kok malamnya rusuh. Antar internal
umat pun berselisih paham mengenai kata auliya. Belum lagi Ahok kan
sudah minta maaf. Dalam Islam kan kalau ada orang yang minta maaf, harus
dimaafkan. Nabi saja dulu mencegah malaikat yang akan menghancurkan penduduk
Thaif dengan dua gunung akibat menyakiti nabi. Pada Fath Mekah pun beliau
memaafkan musuh-musuhnya. Dari sisi ini aku melihat ada kejanggalan dalam aksi
“semi-damai” tersebut.”
Mendengar
analisis Paijo, Badrudin pun naik pitam, “Pengamatanmu sungguh lemah dan kurang
data Jo. Kamu tahu ga, kenapa aksi damai jadi rusuh? Itu karena ada yang
memprovokasi dan penyusup. Kalau ga percaya aku membawa bukti videonya, di
dunia maya pun sudah tersebar bukti itu. Terus, mengenai perbedaan paham Surah
Al-Ma`idah 51 yang kata kamu multi tafsir, sangat tidak tepat”
Sambil mengelus dada ia
melanjutkan, “Pertama, ayat 51
adalah bagian dari ayat muhkam artinya jelas dan tidak ada perlu
ditafsir. Kata auliya memang ada berarti teman setia, penolong,
pelindung, sampai pemimpin. Logikanya begini, menjadikan teman setia saja tidak
boleh, apa lagi pemimpin. Kan ada kaidah dalam ilmu tafsir: Yang teranggap
adalah keumuman lafadz, bukan khususnya sebab. Belum lagi MUI sudah
mengeluarkan fatwa bahwa si Pak Bas telah menista agama. Pak Bas pun sebelum
kasus ini telah banyak menyakita umat Islam dengan kepongahan dan
kelancangannya ikut campur membicarakan urusan agama lain.”
“Lagian, kata-kata Pak Bas kan
jelas ‘Dibohongi pakai Al-Ma`idah: 51’ Artinya, baik disisipin kata “pakai”
atau tidak, tetap saja menistakan al-Qur`an. Contoh kecilnya gini Jo: Kamu mau
dilempar batu atau dilempar pakai batu?” “Ya, ga mau lah, sama-sama benjut,”
timpal Paijo. “Makanya, jelas apa yang diungkapkan Pak Bas adalah penistaan.
Kalau dibohongi pakai: yang dihina nabi, ulama, bahkan akhirnya nyerempet Allah
juga. Sedangkan kalau dibohongi saja, maka yang dihina adalah Allah.
Paimen
yang dikenal sok menjadi pengamat politik dalam negeri maupu luar negeri
mengeluarkan statemen menariknya, “Aku melihatnya dengan cara pandang yang
lebih makro,” paparnya dengan gaya pengamat politik andal. “Makra, makro,
guayamu ndol,” timpal Syahidan sambil nyengir kuda. “Aku serius,”
jawab Paimen, “sebenarnya ini ngeri-ngeri sedap untuk dibicarakan, tapi sebagai
jaga-jaga dan wawasan untuk kita, maka pandangan ini perlu aku sampaikan.”
“Pertama,
aksi ini menurutku murni skenario Allah. Tidak mungkin orang yang katanya
jutaan dengan biaya sendiri-sendiri bisa kompak ngumpul jadi satu di Jakarta.
Tidak mungkin partai politik mampu menggerakkan masa sebanyak itu di sepanjang
sejarah. Karena kalau dikalkulasi jumlah biayanya tentu sangat mahal. Kedua,
Pak Bas, Pak Jo dan Nek Me itu konon cuman pion dalam sindikasi penjajahan
asing dan aseng ke Indonesia. Rojo (raja) nya siapa lagi kalau bukan
komunisme dan kapitaliseme. Makanya aku tidak heran mengapa Pak Bas sangat
susah dipidana, walau banyak kasus mendera, ya karena memang bekingnya sangat
kuat, para taipan ada di belakangnya.”
“Aku
denger kabar, setelah sindikasi asing berhasil memecah belah Uni Sovyet,
Balkanisasi, Arab Spring, sekarang yang mau dihancurkan dan dirampok adalah
Indonesia dengan cara mengadu domba umat Islam dan Indonesia. Bangsa Indonesia
boleh hidup di kampung sendiri, tapi yang megang kendali tetap mereka. ”
“Ketiga,
aksi ini semacam –menurutku lo ya- persembahan dari Allah untuk umat Islam
Indonesia secara khusus, dan bangsa Indonesia secara umum, untuk memberi
peringatan bahwa ada musuh yang bermain di balik layar, dan mereka perlu
diperingatan. Sebab, kalau mereka dibiarkan rakus mencaplok kekayaan Indonesia,
maka kehancuranlah yang terjadi,” pungkas Paimen.
“Serem
juga ya kalau mendengar pandangan Paimen,” tukas Kardiman yang sejak tadi asyik
menyimak. “Masih ada lagi apa tidak pandangan-pandangan lain?” tanya Sarikhuluk
kepada para sahabatnya yang waktu itu ada 8 orang. “Gak ada Cak, silakan
sekarang giliran njenengan memberi resume dan pandangan yang bisa
mencerahkan kami,” jawab Paijo mewakili teman yang lain.
“Baiklah.
Untuk menyikapi masalah ini, ada dua cara pandang yang ingin aku tawarkan: Pertama,
pendekatan ‘’ilmu, ‘ain dan haqqul yaqin. Kedua, ulil abshar,
ilmi, nuha, albab dan dzi hijr.” Sarikhuluk mengawali pandangannya
sambil berhenti sebentar menikmati kopi luwak.
“Kalau
didekati dengan cara pandang pertama, maka harus dikalkulasi dan di perjelas
akurasi persoalannya. Mana yang masuk ‘ilmul yaqin, ‘ainal yaqin dan haqqul
yaqin.”
“Kalau
yang menjadi poros gerak umat adalah ’ilmu yaqin (masih dalam tataran
teoritik kelimuan), maka sangat rawan dan sangat susah untuk menyukseskan
perjuangan 411. Masalahnya, yang dominan di sini baru asumsi, subyektivitas,
dan relatifitas pandangan sehingga amat mudah dipatahkan musuh.”
“Sedangkan
jika yang jadi pijakan adalah ‘ainul yaqin (dalam tataran melihat
realitas dengan mata kepala sendiri) maka di sini masih lumayan. Artinya memang
fakta bahwa penistaan itu memang ada. Namun, betapa pun fakta terlihat, maka
tetap terbatas jangkauannya. Perlu ada penelitian yang mendalam.”
“Artinya,
ini pun masih belum cukup. Perlu ada pendekatan terakhir, yaitu: haqqul
yaqin, artinya fakta memang ada, penelitian sudah dilangsungkan secara
saksama, dan memang yang dilakukan Pak Bas benar-benar menista agama. Kalau
sudah demikian, maka perjuangan 411, memang tepat momentumnya. Kalau perjuangan
411 memang sudah maksimal di haqqul yaqin-nya, maka secara pribadi aku
ada saran: bagi yang tidak setuju jangan memperkeruh suasana dengan menggembosi
dan mencela; sedangkan yang setuju tetap luruskan niat dalam perjuangan
serta hati-hati ada yang menunggangi dan memecah belah umat. Kemudian
ingatlah, ini bukan perjuangan puncak, masih dibutuhkan nafas panjang untuk
perjuangan-perjuangan selanjutnya demi keutuhan umat Islam dan bangsa
Indonesia.”
“Pendekatan
kedua lebih subtansial. Pertama, ulil abshar memandang peristiwa 411
hanya dari sisi simbolik dan hitung-hitungan materil-kuantitatif. Apa yang
diceritakan Brodin tadi adalah bagian dari ini. Kedua, ulin nuha, yang
memandang peristiwa dari sisi lebih dalam yaitu mengetahui secara detail sebab
dan akibatnya. Sehingga mampu memetakan persoalan berikut solusi dan
strategi-strateginya.”
“Ketiga,
ulil albab, sudah masuk dalam subtansi permasalahan sebagaimana yang
dikemukakan Paimen. Cuma ketiga cara tersebut harus dikuatkan dengan pendekatan
keempat, yaitu: dzu hijr (batasan-batasan yang jelas sehingga tidak salah
dalam menentukan keputusan). Untuk melihat aksi 411, menurutku KALAU sudah
sampai pada level ketiga dan diperkuat dengan level keempat, aku pikir wajib
untuk didukung. Ini baru langkah pertama perjuangan, masih ada langkah-langkah
selanjutnya yang harus dipersiapkan.”
Quote Hari Bela Al-Qur`an
Written By Amoe Hirata on Jumat, 04 November 2016 | 19.19
Pada Jum’at yg penuh berkah, akan jadi saksi sejarah, bagi siapa saja yg
menista kitab suci. Umat Islam Indonesia, bersama-sama demo damai memprotes
penista.
Melalui Al-Maidah lima satu, Allah akan buat sosok pongah jadi tahu. Akibat
kata-kata tak terjaga, kesombongan hanya mengundang bahaya.
Inilah akibat ketika hati tak beriman, tapi lancang memaknai Quran. Mulutmu
haraimaumu, kata jorok kan menderamu.
Kata-kata jorok, bersumber dari hati berborok, kata bersih bersumber dr
hati jernih . Jangan mempolitisir kitab suci, untuk memenuhi target pilgub DKI.
Allah Maha Tahu, yang sombong pasti berlalu, yang rendah hati pasti melaju.
Para pembela penista tidak terima, junjungannya kan dipidana.
Fitnah-fitnah pun dilancarkan, aksi damai dituduh berbiaya milyaran. Aksi
damai dianggap radikal, penista Quran dibilang normal.
KTP tertulis Islam, tapi bela Quran tak diupayakan. Kemana ghirah yang kau
punya, ketika Quran dinista? Dimana iman
bersemayam, ketika kepada penista kamu bungkam? Tidakkah hati sakit, ketika
kitab sucimu diungkit? Hanya penguasa
bandit, yg suka berkelit.
Silakan minta maaf, karena kami pemaaf, tapi hukum berjalan tetap. Tak ada
yang kebal hukum, yg salah harus dihukum. Hukum harus tegas, tidak tajam ke
bawah tumpul ke atas.
Peristiwa monomental ini, akan menjadi pelajaran bagi siapa saja yg menista
kitab suci.
Ada beberapa pantun yang cocok menggambarkan peristiwa ini: “Buah semangka
buah rambutan, penista agama harus ditahan.” “Pergi ke istana negara jalan kaki, penista
agama harus diadili.”
Banyak yg berusaha menggembosi, aksi damai dengan rasa dengki. Ingatlah! Yg
haq pasti menang, yang bathil pasti terbuang.
Baru satu ayat yang dinista, ratusan ribu umat Islam bisa marah seketika. Menista
satu ayat Quran, bagai membangunkan tidur sang macan.
Inilah akibat dari hati tak beriman, tapi lancang memaknai Quran. Bagaimana
jika, yang dinista adalah semua ayat, maka nasibmu bisa tamat.
Indonesia negeri damai, jangan dibiarkan rusuh hanya karena seorang lalai. Umat
Islam sangat toleran, tapi jika keyakinan mereka diusik, sedikit pun tak kan
dibiarkan.
Ada pantun lagi: “Naik odong-odong di kampung Rambutan, hanya orang tukang
bohong yang suka menistakan.”
Jadikan hari bela quran, sebagai momentum persatuan. Tidak mungkin ratusan
ribu orang datang, kalau hanya karena lembaran uang.
Bagaimana engkau akan selamat di akhirat, ketika Quran dinista tak ada yg
diperbuat? Siapa saja yg menista quran, tak layak jadi
panutan.
Kalau engkau tidak setuju dengan aksi damai, lalu dengan apa kau junjung negeri ini. Hidup
ini pilihan, mau membela Quran atau mendukung penistaan.
Kalau hari ini kamu diam ketika Quran dinista, kedepan akan lebih banyak
meremehkan. Kamu mau hidup mulia membela Quran, atau hidup hina menista Quran?
Jangan sia-siakan, momentum langka membela Quran. Ada pantun: “Menikmati
ketan sambil menenggak teh moci, bagi penista Quran layak dibui.”
Ini adalah saat yang tepat, untuk menjadikan Quran sebagai syafaat. Nyalakan
Quran dalam hatimu, maka kegelapan akan menjauhimu. Quran adalah pembeda:
antara mu’min, fasiq, fajir, munafiq dan kafir. Lalu di mana posisimu? Jika
kelak di akhirat mau dibela Qur`an, maka sekarang belalah Qur`an.
Kami ke sini bukan untuk mencari materi, kami sangat tersinggung jika Qur`an
dinodai. Sangat lucu jika mengaku beragama Islam, tapi ketika Qur`an dinista
hanya diam.
Membela Qur`an ketika dinistakan, adalah bentuk riil tadabbur Qur`an di
lapangan. Jika ingin lebih dekat dengan Qur`an, maka jangan diam ketika Qur`an
dinistakan.
Lupakan Mantan dan Tatap Masa Depan!
Written By Amoe Hirata on Senin, 24 Oktober 2016 | 10.28
“MAY…!” Teriak
Lili. Menggedor – gedor pintu.
“Tante, yakin
May ada di dalam?” Tanya Lili membelalakkan matanya.
“Tuh anak
belum keluar sejak pagi tadi!” Jawab Tante Eni.
“Duh, kamu
bikin Tante takut.” Tante Eni tambah gusar berujung panik.
“Lho? Kok
aku sih Tan,” Protes Lili. Tante Eni diam. Wajahnya berubah
pucat bercampur cemas. Kemudian keduanya kompak menggebuk pintu kamar May.
Petualangan Pela-Pela [Bagian: I]
“
|
BAJILO (Bajing Loncat Cilik) banyak dijumpai di jalur lintas polisi seperti jalur Pantura dan Cikampek yang
menghubungkan antara Jakarta dan kota-kota lain di pulau Jawa,” Sari berlagak,
membaca keras-keras dengan intonasi suara tertata dari koran lampu merah yang
dipegangnya. Memecah kesunyian dalam kediaman yang lain. Tia, Kristin dan Yuke.
Sari meniru pembawa berita, serupa mimik wajah dan gaya, sedikit dibuat-buat tapi
tidak begitu buruk bila dimaksudkan untuk sekedar menghibur, Yuke mendelik ke
arah Sari, tatapan sinis di matanya yang sipit seolah berkata ‘berisik!’.
Mengetuk Pintu Surga Mertua
Written By Amoe Hirata on Jumat, 21 Oktober 2016 | 05.22
“Untung
mertua gue udah mati. Jadi gak ribet deh.” “Istighfar
Re!” Ami menepuk pundak Rere, sedikit mengagetkan dan membuat Rere segera
berujar Astagfirullah.
“Maksud
gue gak sekasar itu. Abis ngedenger ceritanya si Wilda dan mertuanya kaya serem
banget,” Kata Rere membela. Wajah Wilda berubah masam dan Rere segera meminta
maaf sekiranya ucapannya yang keceplosan itu tidak berkenan di hati Wilda.
Pagi
menjelang siang hari ini mereka sedang duduk-duduk santai di pelataran TK. Matahari
menunggu buah hati mereka selesai belajar. Dan sebagaimana ketika ibu-ibu
sedang kumpul ada sajalah yang mereka bicarakan. Dimulai dari Wilda yang
mengeluhkan kondisi dirinya yang selalu diatur oleh sang ibu mertua.
“Tapi
emang bener serem sih, bayangin aja udah 5 tahun gue nikah dari urusan gue
masak apa hari ini buat suami sama anak gue mertua selalu ngatur. Itu baru
urusan dapur belum lagi kalau gue lagi ada masalah sama Mas Pram, Mama mertua
lebih ikut campur lagi dan pastinya lebih ngebela anaknya ketimbang gue.”
Dua Generasi Pembebas Palestina III
Written By Amoe Hirata on Rabu, 19 Oktober 2016 | 11.16
Dr. Majid Al-Kilani mengatakan dalam bukunya (Hakadza
dhahara jīlu shalāhuddin wa hakadza ‘ādat al-Qusd), di
dunia Barat jika orang merasa gagal, maka dia melakukan bunuh diri (istilahnya:
intahara nafsan). Sedangkan dalam tubuh umat Islam, jika merasa gagal tidak
melakukan bunuh diri, tapi membunuh fungsi sosial (istilahnya: intahara
ijtima’iyyan).
Label:
Mutiara Sejarah,
Peradaban Islam,
Sejarah Islam,
wawasan
Dua Generasi Pembebas Palestina II
Written By Amoe Hirata on Senin, 17 Oktober 2016 | 15.00
Label:
Peradaban Islam,
Sejarah Islam,
Sirah Nabawiyah
Dua Generasi Pembebas Palestina I
Hari Ahad, bakda shalat Dzuhur (16/10/2016), aku berkesempatan menghadiri acara yang dihelat SOA (Spirit of Aqsha) mengenai pembebasan Palestina. Kali ini, yang didapuk menjadi presentator adalah Ustadz. Asep Sobari, Lc (Pimpinan Sirah Community Indonesia).
Tema yang diangkat cukup menarik, “Dua Generasi Pembebas Palestina.” Menarik karena, dari judul ini audiens akan dibuat penasaran mengenai karakteristik dari dua generasi yang sama-sama memiliki konsentrasi dalam pembebasan Palestina.
Nusran Wahid; Gagal Paham Hadits [Bagian: II]
Written By Amoe Hirata on Kamis, 13 Oktober 2016 | 14.10
Ketiga, secara pemahaman, ini sangat tidak tepat jika digunakan untuk menafikan
keputusan MUI mengenai penistaan agama. Pasalnya, generasi terbaik memang ada
tiga generasi secara kolektif yaitu pada masa nabi, sahabat, tabi’in dan
tabi’ut tabi’in. Meski demikian, tidak menafikan kebenaran ulama setelahnya
sebagai pewaris para nabi. Dalam hadits diriwayatkan:
إِنَّ العُلَمَاءَ
وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا
إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi
tidak mewariskan dinar atau dirham, yang diwariskan mereka adalah ilmu.”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi). Kalau sekiranya al-Qur`an hanya Allah dan Rasul-Nya
yang mengetahui makna al-Qur’an, maka akan sia-sia hadits ini yang menyatakan
bahwa ulama pewaris para nabi. Justru hadits ini menunjukkan bahwa ulama juga
bisa memahami ayat-ayat al-Qur`an, karena mereka adalah pewaris ilmu para nabi.
Nusran Wahid; Gagal Paham Hadits [Bagian: I]
Written By Amoe Hirata on Rabu, 12 Oktober 2016 | 07.00
ADA argumentasi menarik
untuk dikritisi yang dipaparkan Nusran Wahid pada acara ILC (11/10/2016) ketika
membela Basuki Cahaya Purnama. Politisi
Golkar yang kerap menimbulkan kontroversi ini menyitir hadits nabi untuk mematahkan
pernyataan MUI yang memutuskan Ahok telah menista agama.
5 Tips Menjadi Penulis Andal Ala Al-Qur`an
Written By Amoe Hirata on Rabu, 14 September 2016 | 13.40
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
“1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).
Dari ayat di atas, paling tidak ada lima unsur yang sangat penting dalam dunia kepenulisan ala al-Qur`an: perintah membaca, motif membaca, bacaan, qalam (media penulisan) dan guru.
Pertama, perintah membaca. Kenapa perintah membaca disebutkan lebih banyak dari qalam (pena) ?, menurut pikiran saya karena: orang tidak akan bisa melahirkan tulisan yang baik jika tak rajin membaca. Karenanya, “Perbanyaklah membaca jika ingin menjadi penulis yang bagus!”
Dalam al-Qur’an ada dua kosa kata unik terkait membaca. 1. Qiraah. Kalau dilihat dari akar katanya berasal dari kata qar`u yang berarti mengumpulkan. Jadi, di situ ada proses untuk berpikir. Karena berpikir adalah proses mengumpulkan realitas untuk mendapatkan klonkusi terbaik. Dengan kata lain, fungsi iqra di sini adalah bacaan yang diiringi proses berpikir, nalar intelektual. 2. Tilawah. Berasal dari akar kata tala-yatlu-tilawah-tali, artinya berikut. Artinya, bacaan yang disertai aksi atau amal praktis.
Kedua, motif membaca. Setelah obyek tidak dirinci, motifnya pun disebutkah harus jelas: yaitu karena atau dimulai dengan nama Allah subhanahu wata’ala.
Ternyata, tidak cukup sekadar membaca. Bacaan harus disertai bismi rabbik, dengan nama atau karena Rabb semata. Jadi, membaca harus jelas niatnya dari awal. Orang membaca itu tujuannya hanya karena Allah, bukan karena siapa pun.
Tidak mengherankan jika tulisan-tulisan ulama di masa lampau bisa sampai kepada kita, lantaran motivasi mereka menulis adalah karena Allah subahanahu wata’ala. Bayangkan, Imam Bukhari, untuk menulis hadits shahihnya, harus melakukan shalat 2 rakaat terlebih dahulu supaya menjaga niat daalam penulisan.
Ketiga, obyek bacaan. Uniknya, perintah membaca –sebagaimana surah al-`Alaq- seharusnya ada yang harus dibaca. Tapi pada ayat ini obyek bacaannya tidak disebut. Ini mengindikasikan bahwa sumber bacaan sangatlah luas. Bisa ayat kauniyah (alam) maupun quraniyah (al-Qur`an).
Ada beberapa idiom yang digunakan untuk menjelaskan obyek bacaan. Di ayat lain misalnya disebutkan:
{فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ} [المزمل: 20]
“Bacalah apa yang mudah dari al-Qur`an!” (QS. Al-Muzammil [73] : 20). Obyek qiraah di sini adalah al-Qur`an. Di ayat lain disebtkan:
{اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا} [الإسراء: 14]
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isra [17] : 14). Di ayat ini obyek qiraah adalah kitab. Dikuatkan dengan ayat lain:
{فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ } [الحاقة: 19]
“Adapun orang yang diberikan kitabnya di tangan kanannya, maka ia berkata, “bacalah kitab ini!” (QS. Al-Haqqah [69] : 19). Dari ayat ini, obyek yang dibaca adalah kitab.
Sedangkan tilawah obyek bacaannya bisa berupa ayat-ayat al-Qur`an maupun ayat kauniyah dan diri manusia sendiri. Sebagaimana ayat berikut:
{ سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ} [فصلت: 53]
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS. Al-Fushshilat [41] : 53).
Yang menarik dari kata perintah tilawah dalam al-Qur`an diiringi dengan ungkapan naba (berita besar) dan ada pula yang wahyu. Coba dilihat ayat-ayat berikut: QS. Al-Ma`idah [5]: 27, Al-A'Raf [7] : 175, Yunus [10] : 71, Al-Kahfi [18] : 27 dan QS. Asy-Syu'ara [26] : 69. Artinya, obyek bacaan seharusnya berkualitas, bukan bacaan yang tak bermutu.
Keempat, al-qalam (pena). Adapun pena, adalah simbol bagi alat penulisan. Betapa pun aktivitas membaca, motif dan obyek bacaan sangat penting, ketiganya akan lenyap begitu saja tanpa ada yang mengabadikannya. Dengan qalam (menulis), ide-ide besar yang didapat dari membaca akan ada jejaknya sehingga pesannya bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
Kata qalam dalam al-Qur`an disebut sebanya tiga kali: di Surah Luqman, al-Qalam, dan al-`Alaq. Fungsi pena sendiri, di dalam al-Qur`an dijelaskan:
{ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ} [القلم: 1]
“Nun. Demi qalam dan apa yang ditulis.” (QS. Al-Qalam [68] : 1). Pena adalah simbol untuk alat kepenulisan. Karenanya di ayat lain ada ungkapan kitab mastur yaitu kitab yang tertulis (QS. Ath-Thur [52] : 2).
Di ayat lain ada narasi yang sangat indah diungkapkan al-Qur`an:
{وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [لقمان: 27]
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman [31] : 27). Yang dijelaskan dengan ayat lain yang semakna:
{قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا} [الكهف: 109]
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi [18] : 109). Begitu luasnya kalimat Allah sehingga jika semua hutan di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tintanya, maka akan habas sebelum selesai menuliskannya.
Jadi, qalam atau pena ini adalah inspirasi dari al-Qur`an mengenai pentingnya kepenulisan. Kitab di Lauhil Mahfudh (QS. Al-Buruj [85] : 22), adalah bukti adanya proses kepenulisan. Begitu detailnya catatan yang tersimpan di dalamnya, sampai-sampai al-Qur`an menggambarkan:
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am [6] : 59). Bahkan, Allah subhanahu wata’ala menugaskan malaikat khusus Raqib dan Atid untuk mencatat amalan hambanya (QS. Qaf [50] : 18).
Intinya, menulis butuh media. Alat seperti qalam berfungsi sebagai media untuk menulis, demikian juga misalnya lauh, shuhuf (lembaran-lebaran), dan kertas (QS. Al-An’am [6] : 7) adalah bagian dari media menulis.
Kelima, mu`allim, guru. Fungsi guru adalah mengajarkan kita ilmu agar terhindar dari kesalahan dan mendapat kualitas tulisan yang baik sehingga pesan yang disampaikan bisa sampai kepada pembaca. Tanpa adanya guru pembimbing, besar kemungkinan bacaan dan penulisan seseorang mengalami kesalahan.
Dalam al-Qur’an guru utama adalah Allah subhanahu wata’ala. Allah telah mengajarkan manusia melalui perantara qalam dari yang tidak tahu menjadi tahu (QS. Al-‘Alaq [96] : 4, 5). Allah pulalah yang mengajarkan al-Qur’an dan mengajarkan artikulasinya (QS. Ar-Rahman [55] : 2 dan 4). Bahkan, Nabi Adam pun, sejak awal diajari asma (nama-nama) semuanya (QS. Al-Baqarah [2] : 31).
Allahlah mu’allim sejati. Dari-Nya lahir banyak inspirasi. Adanya Nabi, serta ulama-ulama sepeninggal nabi, serta orang-orang yang ahli di dalam bidanhnya, juga berperan sebagai guru yang bisa mengarahkan dan membimbing bacaan dan kepenulisan sesuai petunjuk Allah subhanahu wata’ala.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan: Jika ingin menjadi penulis muslim yang bagus sesuai petunjuk al-Qur’an, maka: motifnya harus karena Allah subhanahu wata’ala, sering membaca, bacaannya luas dan berkualitas, rajin menulis, dan memiliki guru atau pembimbing. Wallahu a’lam.
Mujahid Via Qalam
Written By Amoe Hirata on Senin, 22 Agustus 2016 | 14.22
JIHAD via qalam (pena, tulisan)
adalah bagian penting yang turut mewarnai dinamika perjuangan Ulama. Di
sepanjang sejarah, ada banyak contoh yang membuktikan bahwa mereka adalah
seorang mujahid (pejuang) yang sangat intens dalam bidang ini. Ibnu Jarir At-Thabari misalnya, selain lisan, beliau
juga sangat aktif dalam berjihad via tulisan. Hal ini bisa dilihat dari
produktivitasnya dalam menulis buku. Menurut
catatan sejarah, bila semua karangannya dikalkulasikan, berjumlah 358 ribu
lembar. Ini berarti dalam sehari ia
mampu menulis sebanyak 40 lembar (Abdu al-Fattah Abu Ghuddah, Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, 43).
Contoh lain yang tidak kalah
menarik, Imam Ibnu Jauzi, ulama bermadzah Hanbali ini juga berjihad dalam
bidang tulisan. Abdu al-Fattah dalam bukunya menyebutkan bahwa beliau meninggalkan
karya sebanyak lima ratus buku (Qīmatu al-Zaman, 56). Bahkan ada yang sangat mengharukan. Syekh Abu
Bakar al-Bāqalāni tidak tidur sebelum menulis 35 lembar per-hari (Qīmatu al-Zaman, 86). Ini berarti semangat jihad ulama dalam
bidang tulisan tidak diragukan lagi.
Ulama lain seperti Imam
al-Gazhali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah,
al-Hafidh Ibnu Katsir, Imam al-Dzahabi, Imam al-Suyuthi dan lain sebagainya
adalah ulama-ulama yang turut serta meramaikan jagad sejarah jihad umat Islam
via tulisan.
Dalam negeri pun, ada banyak ulama yang berjihad via tulisan. Sebagai
contoh - tanpa bermaksud membatasi – misalnya KH. Agus Salim, A. Hassan, M.
Natsir dan Buya Hamka. Dalam buku yang berjudul Haji Agus Salim (1884-1954)
Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme, disebutkan bahwa beliau adalah
seorang penulis yang kreatif dan produktif. Tulisannya begitu luas cakupannya
dan sangat tajam. (Haji Agus Salim [1884-1954] Tentang Perang, Jihad, dan
Pluralisme. Hal: 21).
Ahmad Hassan, seorang ulama
yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdebat, ternyata juga menggeluti
jihad ini. Menutur penelitan Guillaume Frédéric Pijper dan Tujimah, selain alim
dan cerdas, Pendiri Pesantren PERSIS Bangil ini diakui sebagai penulis
produktif. (Penelitian tentang agama Islam di Indonesia, 1930-1950, hal:
38). Buku yang berjudul: Soal-Jawab, Tafsir al-Furqan, Islam dan Kebangsaan,
Kesopanan Tinggi, ABC Politik, al-Hidayah, Risalah Jum’at, Kitab Tauhid, Adakah
Tuhan?, adalah beberapa contoh karangannya
yang mencapai tujuh puluh lebih.
Mohammad
Natsir, yang juga merupakan murid A. Hassan, juga menekuni jihad dalam bidang
tulisan. Dalam buku yang berjudul 100 Tahun Mohammad Natsir, disebutkan bahwa beliau seorang penulis
kreatif. Sebagai contoh, di masa penjajahan Belanda, beliau sudah melahirkan
karya tulis berbahasa Belanda yang diperhitungkan. Buku yang berjudul Komt
tot het Gebed (1931), Mohammad als Proffet (1931), Gouden Regels
uit den Quran (1932), dan Het Vasten (1934) beberapa contoh buah
tangannya. (100 Tahun Mohammad Natsir, Berdamai dengan Sejarah, hal:
426). Polemik antara dirinya dengan Soekarno via tulisan juga menjadi bukti
penting bahwa beliau sangat intens berjihad di medan ini.
Demikian
juga Buya Hamka. Menutut James Roberth Rush, beliau adalah sosok penulis yang
cakap, produktif, dan populer. Di akhir tahun 1930-an, karya-karya Hamka sudah
bisa didapat di perpustakaan sekolah umum. (A. Suryana Sudrajat, Ulama
Pejuang dan Ulama Petualang, hal: 13 dan 14). Karya monumental yang
tertoreh dalam jeruji besi seperti Tafsir al-Azhar, adalah salah satu
bukti bahwa ulama kharismatik sekaliber beliau juga turut andil dalam berjihad
via tulisan.
Beberapa
cerita di atas menunjukkan bahwa jihad via tulisan adalah salah satu bentuk
perjuangan jihad ulama muslim di sepanjang sejarah. Dengan menulis, mereka bisa
menjaga khazanah keilmuan Islam sekaligus abadi sepanjang masa walau raga sudah
bercampur tanah. Ini sesuai dengan peribahasa Latin kuno yang menyatakan, verba
volant, scripta manent, yang berarti: apa yang terucap akan berlalu, namun
yang tertulis (dibukukan) abadi selamanya.
Menjadi Muslim Kaffah
Written By Amoe Hirata on Senin, 01 Agustus 2016 | 11.33
Setiap orang mengaku menjadi Muslim. Masalahnya, Muslim bagaimanakah
yang dikehendaki oleh Allah Ta`ala? Kajian tafsir berikut akan
menjawabnya dengan jelas.
A.
Ayat Kajian : Al-Baqarah(208)
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ
خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨ فَإِن
زَلَلۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡكُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ
عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٠٩
B.
Arti Mufradāt :
ٱلسِّلۡمِ : Islam
كَآفَّةٗ : Keseluruhan
خُطُوَٰتِ : Langkah-langkah
عَدُوّٞ : Musuh
مُّبِينٞ : Nyata
فَإِن
زَلَلۡتُم : Maka jika kalian tergelincir
ٱلۡبَيِّنَٰتُ : Keterangan atau bukti
C.
Arti Ayat :
Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(208) Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti
kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana(209)
D.
Sebab Turun :
Diriwayatkan oleh
Ibnu Jarir dari Ikrimah, ia berkata, ‘Abdullah bin Salam, Tsa`labah, Ibnu
Yamin, Asad & Usaid anak Ka`ab, Sa`id bin `Amru, dan Qais bin Zaid
–semuanya berasal dari Yahudi- berkata: “Wahai Rasulullah! Hari Sabtu adalah
hari agung yang biasa kami hormati. Biarkan kami mengagungkannya! Sesungguhnya
Taurat adalah Kitab Allah, maka perkenankan kami berdiri(membacanya) di malam
hari.” Lalu turunlah ayat ini(Al-Baqarah: 208).
E.
Tafsir :
Ayat ini dimulai
dengan ‘panggilan kasih sayang’ dari ar-Rahmān, “Hai orang-orang yang
beriman,”.
Terkait ayat yang diawali dengan ungkapan ini, Abdullah bin Mas`ud berkomentar,
‘Jika kamu mendengar Allah berfirman: {Ya ayyuhalladzīna Āmanu}, maka dengarkan dengan
baik, karena (sesudahnya pasti) ada kebaikan yang diperintah, atau kejelekan
yang dilarang.’
Siapa
saja yang mengaku beriman, maka perhatikan dengan sungguh-sungguh perintah atau
larangan pada ayat ini. Di sini ada satu perintah dan satu larangan.
Perintahnya, ‘masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,”. Masuk Islam
itu harus menyeluruh, tak boleh sepotong-sepotong.
Sebagaimana
sebab turunnya ayat ini, para sahabat yang sebelumnya beragama Yahudi, masih
ingin meminta pada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam agar
dibiarkan mengagungkan ritual keagamaan
di hari Sabtu, bahkan membaca kitabnya di malam hari. Namun, ayat ini
menolaknya. Berislam harus total, tidak boleh parsial.
Ketika
Umar ta`jub dengan kitab Taurat, Rasul marah, dan menyebutnya sebagai mutahawwik(orang
bingung). Ini karena, apa yang ada dalam Islam, melalui sumbernya al-Qur`an
sudah cukup. Tidak perlu mengambil lagi dari kitab-kitab lainnya. Cukuplah
Islam dilaksanakan secara kaffah.
Suatu saat Mutsannah bin al-Haritsah(sesepuh suku Syaiban) memberi
penawaran menarik pada Rasulullah. Ia dan sukunya mau membela, mengikutinya
asal di kawasan Arab saja. Rasul pun dengan tegas dan penuh adab menolak,
sembari berujar: “Sesungguhnya agama Allah[Islam] ta`ala tidak akan
ditolong oleh-Nya, melainkan orang yang (mau memperjuangakan) segenap sisinya,”(al-Sirah
al-Nabawiyah wa akhbaru al-Khulafa, Ibnu Hibban, 1/101).
Peristiwa itu mengajarkan pelajaran penting: jika mengaku mengikuti
nabi, memperjuangkan Islam, maka harus pada segenap sisinya.
Mengambilnya sepotong-sepotong hanya akan membuat Islam jadi rancu.
Akibatnya, persatuan umat sulit terwujud. Umat lain pun dengan mudah mengadu
domba umat Islam.
Kemudian, yang dilarang dalam ayat ini ialah, ‘dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan,’. Imam Qatadah dan Sadyu
–sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya-, menyatakan: “Yang dimaksud
dengan langkah-langkah setan ialah setiap (perbuatan) maksiat terhadap Allah ta`ala.”
Dinamika yang terjadi pada kisah Adam, Hawa dan Iblis adalah contoh riil
bagaimana moyangnya setan(Iblis), membuat langkah-langkah yang menggelincirkan
Adam dari ketaatan menuju kemaksiatan.
Langkah Iblis sangat halus, lembut, licin, dan strategis. Adam dan Hawa
dirayu, dibujuk, diyakinkan bahwa pohon yang dilarang malah membuatnya kekal
dan menjadi raja. Di sini yang dirusak Iblis bukan perintah Allah, tapi maksud
dari perintahNya. Sebegitu halusnya sehingga Adam dan Hawa pun terjatuh pada
kemaksiatan. Dewasa ini-bahkan sejak dulu-, cara-cara atau langkah-langkah
Iblis itu ternyata banyak diikuti oleh orang-orang liberal.
Apa hubungan antara perintah berislam secara total dengan larangan
mengikuti langkah setan? Yang gampang dimengerti ialah: Berislam secara total
itu tak gampang. Di sana ada aral merintang buatan setan. Maka, usaha untuk
menjalankan Islam secara total, harus diiringi kesadaran mendalam tentang
langkah-langkah setan yang setiap saat bisa menggelincirkan jika tak hati-hati.
Suatu saat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam –sebagaimana
riwayat Hakim dan Ahmad- membuat garis lurus, dan garis miring di samping kanan
dan kirinya. Garis lurus itu dikatakan sebagai jalan Allah(Islam). Sedangkan
garis miring di sampingnya adalah jalan setan. Maka dengan tegas Allah
berfirman: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”(Qs. Al-An`am: 153).
Ayat
ini dipungkasi dengan penegasan dariNya, “Sesungguhnya syaitan itu musuh
yang nyata bagimu.” Terkait ayat ini, Syaikh al-Maraghi menerangkan: “Yaitu
janganlah kalian mengikuti jalannya setan dalam upaya menyesatkan dan membisiki
manusia berbuat kejelekan dan kekejian. Ia adalah musuh bagi kalian yang jelas
permusuhannya. Setan merupakan penumbuh lintasan pikiran yang jelek, dan
pendorong orang melakukan tindak kriminal serta dosa.”
Mungkin
terbesit pertanyaan di benak pembaca, ‘Bukankah setan adalah mahluk ghaib yang
tak bisa diindra, lalu mengapa dikatakan sebagai musuh yang nyata?’. Ternyata,
yang dimaksud dengan musuh yang nyata –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir-
ialah: nyata permusuhannya. Maksudnya, sejak awal Iblis, saitan dan manusia
sudah dijadikan sebagai musuh.
Karena
itu Allah berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka
anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak
golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal.”(Qs.
Fathir: 6).
Setelah
terang posisi setan adalah musuh nyata, ayat selanjutnya menjelaskan: “Tetapi
jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti
kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Al-Baqarah:
209).
Syaikh
Sa`adi menjelaskan: “Pada ayat ini ada ancaman dan peringatan keras yang dapat
menghindarkan diri dari ketergelinciran(kesalahan). Allah Yang Maha Perkasa dan
Bijaksana, bisa memaksa orang yang bermaksiat dengan kekuatanNya serta menyiksa
pendosa berdasarkan hikmahNya. Di antara bentuk kebijaksanaannya ialah menyiksa
orang yang berbuat maksiat dan pendosa.
Jika
sudah berusaha -tanpa ada unsur kesengajaan-, tapi tetap tergelincir layaknya
Nabi Adam dan Hawa, maka cara yang paling tepat adalah segera bertaubat laiknya
keduanya dengan doa: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”(Qs. Al-A`rāf: 23).
Wallahu a`lam bi al-Shawāb
F.
Pelajaran :
1. Wajib menerima Islam
secara utuh
2. Dilarang menjalankan ajaran Islam secara
parsial
3. Setiap (orang) yang
menghalalkan sesuatu yang haram, serta meninggalkan kewajiban adalah pengikut
setan
4. Haram mengikuti langkah-langkah
setan
5. Perlu mengetahui dan
waspada terhadap langkah-langkah setan
6. Setan adalah musuh
yang nyata
7. Kesalahan yang
disengaja(lantaran sudah tahu bukti jelas) akan mengakibatkan siksa
8. Penjelasan tentang
kekuatan dan kebijaksanaan Allah
G.
Rujukan :
1. Lubābu al-Nuqūl, As-Suyuthi
2. Tafsīr al-Qur`ān al-`Aẓīm, Ibnu Katsir
3. Tafsīr al-Marāghi,
4. Aisar al-Tafāsir, Abu Bakar Jabir
al-jazairi
5. Taisīr al-Karīm al-Rahmān, Sa`adi
6. Tafsīr wa Bayān Mufradāti al-Qur`ān, Muhammad Hasan
al-Himshi
7. al-Sīrah al-Nabawiyah
wa Akhbāru al-Khulafā, Ibnu Hibban
8. Mustadrak, Hakim dan Musnad, Ahmad bin Mushtafa al-Maraghi
[Pernah terbit di Majalah: Al-Muslimun, Bangil].