Home » » Pendidikan Profetik

Pendidikan Profetik

Written By Amoe Hirata on Selasa, 23 September 2014 | 14.07

            Ketika peradaban Barat menghegemoni dunia, maka manusia dalam berbagai macam aspeknya (pendidikan, sosial, politik, kesehatan, agama, pemikiran, ideologi) akan terpengaruh dengan Barat, bahkan mengikutinya. Sudah menjadi watak pihak yang dikuasai –sebagaimana pendapat Ibnu Khaldun dalam magnum opusnya (al-Muqaddimah)-akan mengikuti pihak yang dikuasai .  Terkhusus dalam dunia pendidikan dewasa ini, pengaruh Barat tak diragukan lagi telah masuk ke berbagai jenjang pendidikan. Karakter pendidikan ala Barat yang lebih menonjolkan materi daripada rohani secara sadar atau tidak akan membentuk anak didik yang materialistik. Karakter Barat yang mendikotomi, juga melahirkan pendidikan yang dikotomis. Dampak yang paling nampak ialah ketika nilai-nilai agama terceraikan dari dunia pendidikan. Memang banyak anak didik yang pintar, namun pada saat yang sama tidak memiliki akhlak yang mulia. Tak mengherankan jika banyak diantara mereka yang terlibat tawuran, obat-obatan, minum keras, pergaulan bebas dan lain sebagainya, lantaran pendidikan hanya terpaku pada materi dan diceraikan dari nilai-nilai agama.
            Salah satu bentuk pendidikan yang bisa ditawarkan, untuk mengatasi problem tersebut ialah: pendidikan profetik(kenabian). Maksud pendidikan profetik ialah pendidikan ala Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam. Pendidikan profetik mencakup beberapa unsur: tilāwah āyātillāh, al-tazkiyah, ta`līmu al-kitāb wa al-hikmah. Ketika Nabi Ibrahim selesai meninggikan bangunan Ka`bah, salah satu doa belia ialah sebagai berikut: Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana(Qs. Al-Baqarah: 129). Kemudian permohanan Ibrahim pun dikabulkan sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Baqarah: 151, Ali Imran: 164, dan al-Jumu`ah: 2. Namun ada perubahan hirarki. Kalau sebelumnya Nabi Ibrahim meletakkan kata ta`līmu al-kitāb wa al-hikmah sebelum al-tazkiyah, maka pada ketiga ayat ini sebaliknya, kata al-tazkiyah didahulukan dari kata ta`līmu al-kitāb wa al-hikmah.
            Setiap Muslim tentu mengetahui bahwa Nabi Muhammad diutus seabagai rahmat  bagi seluruh alam(Qs. Al-Anbiya: 107), karena itulah pendidikan profetik ala Nabi, juga bersifat universal dan komprehensif meliputi semua manusia. Unsur pendidikan profetik yang pertama ialah: tilāwah āyātillāh(membaca ayat-ayat Allah). Ayat-ayat Allah ada dua macam: Pertama, ayat tanzili yaitu al-Qur`an. Kedua, ayat kauni(yang terhampar di alam). Unsur pendidikan pertama sejak awan berbasis Tuhan. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari Tuhan. Karena manusia tidak bisa melihat secara langsung kepada Tuhan, maka cara yang diajarkan ialah membaca ayat-ayat Tuhan, baik yang tanzili(al-Qur`an) maupun kauni(alam yang terhampar). Ini berarti, pendidikan profetik adalah pendidikan rabbani(bertolak, memulai, dan berorientasi ketuhanan) serta tidak ada dikotomi antara ilmu syar`i dan kauni. Materi pendidikan ada dua yaitu yang berasal dari ayat al-Qur`an dan ayat alam. Diantara nama Allah ialah Rabb, yang berarti Dzat Yang Maha Mendidik, darinyalah sumber ilmu pengetahuan. Ini sesuai dengan ayat yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad ayat 1-5 dari surat al-`Alaq.
            Unsur yang kedua ialah: al-tazkiyah(pembersihan, pengembangan, penyucian jiwa). Setelah jelas orientasi pendidikan dan materinya, maka unsur kedua yang harus terpenuhi ialah al-tazkiyah. Sebelum mengajarkan sesuatu, maka yang mau dididik harus ditazkiyah terlebih dahulu. Penyucian jiwa ini penting dan merupakan piranti keberuntungan. Allah berfirman: Sungguh beruntung orang yang mensucikanya(9) dan sungguh merugi orang yang mengotorinya(Qs. As-Syams: 9-10). Proses ini teramat penting karena, orang yang dididik ketika jiwanya tidak dibersihkan, maka niatnya akan salah. Dalam surah al-`Alaq ayat satu secara tegas dijelaskan bahwa yang namanya belajar itu harus bismi rabbik (karena Allah). Proses ini tidak akan berjalan jika tidak ada penyucian jiwa. Dalam proses tazkiyah ini disamping jiwa manusia dibersihkan, ada usaha untuk mengembangkan yang dididik. Salah satu arti tazkiyah sendiri diantaranya adalah mengembangkan atau menumbuhkan. Pendidika akan bisa mengembangkan dengan baik peserta didiknya jika ia mengetahui potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Dalam proses tazkiyah ini bisa dieksplorasi dan diteliti terkait dengan bakat dan potensi peserta didik.
            Unsur yang ketiga ialah: ta`līmu al-kitāb wa al-hikmah(mengajarkan al-Kitab yaitu al-Qur`an dan hikmah). Setelah proses pensucian jiwa, baru kemudian diajarkanlah materi yang berupa al-Qur`an dan hikmah. Namun perlu diperhatikan di sini pengajaran di sini bukan sekadar pengajaran. Pengajaran di sini harus disertai tauladan yang baik serta bertujuan untuk diamalkan. Karena sejak awal orientasi pendidikan profetik ialah Allah ta`ala, maka apa yang dipelajari harus membuahkan amal dan dalam kerangka ibadah kepada Allah ta`ala. Yang dimaksud Kitab di sini ialah al-Qur`an, sedangkan al-Hikmah oleh kebanyakan mufassir diartikan dengan Sunnah. Bisa juga hikmah diartikan dengan kebijaksanaan atau sesuai hukum Allah. Al-Qur`an dan Sunnah merupakan sistem kehidupan. Karena keduanya merupakan sistem, maka harus dipelajari oleh setiap orang yang mau menggapai sukses dunia-akhirat. Tapi yang perlu diingat betul-betul, bahwa dalam mengajarkan al-Qur`an dan Sunnah, itu harus dengan hikma(kebijaksanaan). Salah satu bentuk kebijaksanaan ialah pengetahuan pendidik yang mendalam terkait potensi, kondisi peserta didik. Di samping itu juga, pengajaran al-Qur`an dan Sunnah, sama sekali tidak menafikan ilmu-ilmu lain yang sering orang sebut sebagai ilmu keduniaan. Selama ilmu itu baik, dan dipergunakan untuk mencari ridha Allah, maka ilmu tersebut bisa disebut ilmu Syar`i.
            Melalui sejarah Nabi Muhammad kita bisa membuktikannya.  Sebelum menjadi Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad adalah orang suci jiwanya. Ia adalah orang yang bersih lahir batin. Meskipun ayat al-Qur`an belum turun, tapi ia tidak pernah berhenti untuk membaca ayat-ayat kauniah. Tiga tahun sebelum diangkat menjadi Nabi, ia fokus mengasingkan diri untuk mencari ketenangan dan kebenaran. Ia sudah sedemikian resah dengan kondisi yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Ketika beliau sudah menjadi Nabi, hal yang utama dilakukan beliau disamping berdakwah menyampaikan ayat-ayat Allah, ialah mentazkiyah para sahabat. Kitika diantara mereka sudah memeluk Islam, maka kegiatan tazkiyah(penyucian diri) itu terus berjalan secara intensif. Yang akan mereka pelajari dan amalkan adalah sistem kehidupan yang diturunkan Allah, maka sudah semestinya, untuk bisa mengerti dan mengamalkannya secara benar harus dimulai dari jiwa yang suci. Seteril dari berbagai kepentingan yang menjauhkan hamba dari Tuhannya. Proses ini terus berjalan dialanjutkan dengan pengajaran al-Qur`an dan Sunnah. Mengenai kondisi sahabat, Ibnu Mas`ud pernah berkata: “Mereka itu adalah sahabat Rasulullah, memiliki hati terbaik, berilmu banyak, dan paling jarang memaksakan diri di luar batas kemampuan”. Dalam proses pendidikan yang berkesinambungan sesuai dengan tahapan-tahapannya tadi, Rasulullah mampu mendidik sebaik-baik generasi.
            Bayangkan tiga puluh tahun sepeninggal Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, sahabat yang dulunya sama sekali tidak diperhitungkan dalam peta penguasa dunia kala itu, kemudian mampu menguasai dunia dengan peradaban yang tinggi. Kekaisaran Romawi dan Persia pun tak mampu mempertahankan kekuasaannya menghadapi umat Islam yang berkembang luar biasa. Dengan ilmu umat Islam mampu membangun peradaban yang tinggi. Ini tidak lain –disamping kehendak Allah- merupakan buah sukses dari pendidikan profetik. Suatu pendidikan yang berorientasi ketuhanan, pendidikan yang berdimensi dunia-akhirat, pendidikan komprehensif yang tak mengenal dikotomi ilmu umum dan ilmu agama, pendidikan yang sangat menekankan suri tauladan yang baik, pendidikan yang bukan sekadar mengajarkan sesuatu, tapi pendidikan yang mampu menggugah kesadaran dan membuahkan amal, pendidikan yang berusaha melahirkan manusia beradab dan berperadaban tinggi. Karena itulah, dalam pendidikan ini pesertanya tidak mengenal usia, sebagaimana Nabi mendidik manusia pada segenap level usianya. Dalam pendidikan profetik tidak ada kata tua dalam hal belajar. Pendidikan profetik selalu berjalan dari kelahiran hingga kematian. Kalau umat Islam mau bangkit dari keterpurukannya, maka pendidikan profetik merupakan sebuah keniscayaan.
     
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Amoe Hirata - All Rights Reserved
Maskolis' Creation Published by Mahmud Budi Setiawan